Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN INDIVIDU

LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS

Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktek Profesi Ners Depertemen

KMB

OLEH

SERGIO SALSINHA

(1906.1490.1272)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS

STIKES WIDYAGAMA HUSADA

MALANG

2020
A. DEFINISI
Apendisitis merupakan suatu kondisi dimana infeksi terjadi di umbai
cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak
kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang
terinfeksi.Sebagai penyakit yang paling sering memerlukan tindakan bedah
kedaruratan, apendisitis merupakan keadaan inflamasi dan obstruksi pada
apendiks vermiformis. Apendiks vermiformis yang disebut pula umbai cacing
atau lebih dikenal dengan nama usus buntu, merupakan kantung kecil yang
buntu dan melekat pada sekum. Apendisitis dapat terjadi pada segala usia
dan megenai laki – laki serta perempuan sama banyak. Akan tetapi pada
usia antara pubertas dan 25 tahun, prevalensi apendisitis lebih tinggi pada
laki – laki. Sejak terdapat kemajuan dalam terapi antibiotik, insidensi dan
angka kematian karena apendisitis mengalami penurunan. Apabila tidak
ditangani dengan benar, penyakit ini hampir selalu berkibat fatal
(Kowalak, 2011).

B. ETIOLOGI
Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesiik tetapi ada
factor prediposisi yaitu:
1. Factor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obststruksi
ini terjadi karena:
a. Hiperplasia dari folikel limfoid ini merupakan penyebab terbanyak.
b. Adanya faekolit dalam lumen appendiks.
c. Adanya benda asing seperti biji-bijian.
d. Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya.
2. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah Ekoli dan
Streptococus.
3. Laki-laki lebih banyak dari wanita. yang terbanyak pada umur 19-20
tahun (remaja dewasa". Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan
limpoid pada masa tersesut.
4. Tergantung pada bentuk apendiks
a. Appendik yang terlalu panjang.
b. Massa appendiks yang pendek.
c. Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
d. Kelainan katup di pangkal appendiks (Nuzulul 2011)

C. TANDA DAN GEJALA


1. Adanya nyeri pada kuadran bawah terasa & umumnya disertai dengan
demam ringan, mual, muntah & hilangnya sebuah nafsu makan.
2. Adanya nyeri tekan local pada titik McBurney apabila dilakukan suatu
tekanan
3. Adanya nyeri tekan lepas.
4. Adanya gangguan konstipasi atau diare.
5. Adanya nyeri lumbal, apabila appendiks melingkar di belakang sekum
6. Adanya nyeri defekasi, apabila appendiks berada dekat rektal.
7. Adanya nyeri kemih, apabila ujung appendiks berada didekat kandung
kemih/urete
8. Pemeriksaan rektal positif apabila ujung appendiks berada di ujung pelvis
9. Adanya tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah
dengan secara paradoksial menyebabkan nyeri kuadran kanan.
10. Jika appendiks sudah ruptur, rasa nyeri menjadi menyebar, disertai
abdomen terjadi akibat ileus paralitik
11. Pada pasien dengan lanjut usia tanda & gejala appendiks sangat
bervariasi. Pasien mungkin tidak mengalami gejala sampai terjadi ruptur
appendiks.

D. KLASIFIKASI
Klasifikasi apendisitis dapat dibagi menjadi lima berdasarkan gejala
dan penyebab. Klasifikasinya yaitu apendisitis akut, apendisitis perforata,
apendisitis rekurens, apendisitis kronik, dan mukokel apendiks (Sjamsuhida
at, 2010).
a. Apendisitis akut terjadi karena peradangan mendadak pada umbai cacing
yangmemberikan tanda setempat. Gejalanya nyeri samar-samar dan
tumpul yang merupakan nyeri viseral didaerah epigastrium disekitar
umbilikus. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ketitik mc Burney,
disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga
merupakan nyeri somatik setempat. Sering disertai mual, muntah dan
nafsu makan berkurang.
b. Apendistis Perforasi adalah pecahnya apendiks yang sudah gangren
yang menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi
peritonitis umum.
c. Apendisitis rekurens dapat didiagnosa jika adanya riwayat serangan nyeri
berulang di perut kanan bawah yang mendorong dilakukannya
apendektomi dan hasil patologi menunjukkan peradangan akut. Kelainan
ini terjadi bila serangan apendisitis akut pertama kali sembuh spontan.
Pada apendisitis rekurens biasanya dilakukan apendektomi karena
penderita sering mengalami serangan akut.
d. Apendisitis kronik dapat menegakkan diagnosa jika ditemukan adanya
riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang kronik
apendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Kriteria mikroskopik
apendisitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan
parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama
dimukosa dan adanya sel inflamasi kronik.
e. Mukokel apendiks adalah dilatasi kistik dari apendiks yang berisi musin
akibat adanya obstruksi kronik pangkal apendiks yang biasanya berupa
jaringan fibrosa. Penderita sering datang dengan keluhan ringan berupa
rasa tidak enak di perut kanan bawah. Kadang teraba massa
memanjangdiregio iliaka kanan.
E. PATHOFISIOLOGI

Appendisitis

Hiperplasi Benda Erosi mukosa Fekalit Sriktur Tumor


folikel limfoid asing apendiks

Obatruksi

Mukosa terbendung

Apendiks teregang

Tekanan intraluminal
Nyeri

Aliran darah terganggu

Ulserasi dan invasi bakteri pada dinding apendiks

Keperitonium Appendisitis Thrombosis vena intramural

Peritonitis Pembedahan operasi


Pembengkakan dan iskemia

Luka insisi
Cemas Terforasi
PK perdarahan

Nyeri
Jalan masuk kuman Resiki infeksi

Defisit self
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium
Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap & C-reactive protein (CRP). Pada
pemeriksaan darah lengkap ditemukan dengan jumlah leukosit antara
10.000-18.000/mm3 (leukositosis) dan neutrofil diatas 75 %, sedangkan
pada CRP ditemukan jumlah serum yg meningkat. CRP ialah salah satu
komponen protein fase akut yg dapat meningkat 4-6 jam setelah terjadi
suatu proses inflamasi, dapat dilihat melalui proses elektroforesis serum
protein. Angka sensitivitas & spesifisitas CRP yakni 80 % dan 90 %.
2. Radiologi
Terdiri dari pemeriksaan USG (ultrasonografi)& CT-scan ( Computed
Tomography Scanning ). Pada pemeriksaan USG ditemukan adanya
bagian memanjang pada tempat yg terjadi sebuah inflamasi pada
appendiks, sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan adanya
bagian yg menyilang dengan fekalith & perluasan dari appendiks yg
mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum. Tingkat akurasi
USG 90 – 94 % dengan angka sensitivitas & spesifisitas mencapai 85%
dan 92%, sedangkan CT-Scan mempunyai tingkat akurasi sekitar 94-
100% dengan sensitivitas & spesifisitas yg tinggi yakni 90 – 100 % dan
96 – 97 %.
3. Analisaurin
Bertujuan untuk menentukan sebuah diagnosa batu ureter &
kemungkinan terjadinya infeksi saluran kemih sebagai akibat dari nyeri
pada perut bawah.
4. Pengukuran enzim hati & tingkat amylase
Membantu menentukan diagnose peradangan,kandungan empedu &
pancreas
5. Serum Beta human ChorionikGonadotropin(B-HCG)
Untuk memeriksa apakah ada kemungkinan hamil
6. Pemeriksaan barium enema
Untuk menentukan lokasi dari sekum.pemeriksaan Brium enema &
Colonoscopy merupakan pemeriksaan awal untuk kemungkinan terjadi
karisoma colon
7. Pemeriksaan fotopolos abdomen
Tidak menunujkan adanya tanda pasif Apendisitis namun memiliki arti
penting dalam membedakan Apendisitis dengan onstruksi usus halus
atau batu ureter kanan

G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan yang bias dilakukan pada penderita appendicitis
mencakup penanggulangan konservatif & tindakan operasi :
1. Penanggulangan konservatif
Penanggulangan konservatif terutama diberikan kepada penderita yang
tidak mempunyai akses kepelayanan bedah berupa pemberian terapi
antibiotic pemberian terapi antibiotic berguna untuk mencegah terjadinya
infeksi umumnya pada penderita appendicitis perforasi sebelum
dilaksanankan tindakan operasi dilakukan cairan & elektrolit ,serat
pemberian terapi antibiotic sistemik .
2. Operasi
Apabila dignosa sudah tepat & jelas ditemukan Appendisitis maka
tindakan yang dillakukan ialah operasi untuk membuang appendisitid
(appendektomi).penundaan appendektomi dengan pemberian antibiotic
dapat mengakibatkan adanya abses dan perforasi. Pada abses
Appendisitis dilakukan drainage (mengeluarka nanah).
3. Pencegahan tersier
Tujuan utama dilaksanakan pencegahan tersier yaitu agar dapat
mencegah terjadinya sebuah komplikasi yang lebih berat seperti
komplikasi pada intra-abdomen .Komplikasi utama ialah infeksi luka &
abses intraperitonium. Apabila di perkiraan terjadi perforasi maka
abdomen biasanya dicuci dengan gram fisiologis atau terapi antibiotic
pasca appendektomi di perukan pelaksanaan perawatan insentif &
pemberian antibiotic dengan lama terapi disesuaikan dengan besar
infeksi intra-abdomen.
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Wawancara Dapatkan riwayat kesehatan dengan cermat khususnya
mengenai:
a. Keluhan utama klien akan mendapatkan nyeri
di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Timbul
keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam
kemudian setelah nyeri di pusat atau diepigastrium dirasakan
dalam beberapa waktu lalu.Sifat keluhan nyeridirasakan terus-
menerus dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktuyang
lama.k'eluhan yang menyertai siasanya klien mengeluh rasamual
dan muntah panas.
b. Riwat ayat kesehatan masa lalu siasanya berhubungan dengan
masalah.kesehatan klien sekarang.
c. Diet,kebiasaan makan makanan rendah serat.
d. Kebiasaan eliminasi.
2. Pemeriksaan Fisika.
a. Pemeriksaan fisik keadaan umum klien tampak sakit
ringan,sedang,berat.
b. Sirkulasi:Takikardia.
c. Respirasi:Takipnoe,pernapasan dangkal.
d. Aktifitas/istirahat:malaise.
e. Eliminasi:konstipasi pada awitan awal,diare kadang-kadang.
f. Distensi andomen, nyeri tekan,nyeri lepas,kekakuan penurunan,
atau tidak ada bising usus.
g. Nyeri/kenyamanan,nyeri abdomen sekitar epigastrium dan
umbilicus,yang,meningkatberatdanterlokalisasipadatitik
Mc.Burney,meningkat karena berjalan, bersin, batuk atau napas
dalam. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi
kaki kanan/posisi duduk tegak.
h. Demam bebih dari 38oC.
i. Data psikologis klien nampak gelisah.
j. Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan.
k. Pada pemeriksaan rektal toucher akan terasa benjolan penderita,
merasa nyeri pada daerah prolitomi .
l. Berat badan sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeri akut b/d agen injuri fisik (luka insisi post operas Appenditomi)
b. Resiko infeksi b/d tindakan invasive (insisi post pembedahan)
c. Deficit care b/d nyeri
d. Kekurangan pengetahuan tetang kondisi prognosis dankebutuhan
pengobatan b/d kekurangan informasi

C. RENCANA KEPERAWATAN

NO Diagnosa NOC NIC Rasional


keperawatan
1 Nyeri akut b/d Setelah  Kaji skala nyeri  Berguna dalam
agen injuri fisik
dilakukanasuhan lokasi,karakteristik pengawasan
(luka insisi post
operas penditomi) keperawatan dan laporkan dan keefesian
diharapkan nyeri perubahan nyeri obat,kemajuan
2
berkurang, dengan secara tepat penyembuhan
a
kriteriahasil  Monitor tanda-tanda dan karakteristik
n
Melaporkan d nyeri vital nyeri .
1
berkurang  Pertahankan  Dereksi dini
6
 Klien tampak
- rileks istirahat dengan terhadap
2
 dapat tidur dengan posis semi fowleri perkembangan
4
tepatx  Dorong ambulasi kesehatan
/
 tanda -tanfa vital dini pasien
m
dalami batas  Berikan aktifitas  Menghilangkan
t
normal hiburan tegangan
a
TD @: (systole  Kolaborasi dengan obdomen yang
(
110-130 tim medis lain bertambah
s
mmHg y ,diastole dalam pemberian dengan posisi
70-90s mmHg terapi. terlentang
t
RR : 16-24x/menit  Meningkatkan
1
Suhu 1:36,5-37,5 0c kormonilisasi
0
fungsi organ
-
 Meningkatkan
1
relaksasi
3
.  Menghilangkan
o
nyeri.
l
e

1
2 Resiko infeksi b/d Setelah dilakukan  kaji adanya tanda-  dugaan adanya
tindakan invasive asuhan keperawatan infeksi pada area infeksi
(insisi post diharapkan insisi  Dugaan adanya
pembedahan) resikoinfeksi dapat  Monitor tanda-tanda infeksi spesi,
teratasi dengan vital perhatikan abses,peritonitis
kriteriahasil : demam, menggigil,  Mencegaha
berkeringat, transmisi
 Klien bebas dari perubahan mental. penyakit firus ke
tanda-tanda infeksi  Lakukan teknik orang lain
 Menunjukkan isolasi Untuk infeksi  Mencegah
kemampuan untuk enterik,termasuk meluas dan
mencegah cuci tangan yang membatasi
timbulnya infeksi efektif penyebaran
 Nilai leukosit (4,5-11  Pertahankan teknik organisme
ribu/ul) aseptik ketat pada infektif/kontamin
perawatan luka asi silang
insisi/terbuka,bersik  Menurunkan
an dengan betadine resiko terpajan
 Batasi pengunjung  Terapi ditujuhkan
dan siapkan pada bakteri
kebutuhan anaerob dan
 Kolaborasi dengan hasil anaerob
tim medinlain dalam gran Negatif
pemberian terapi
3 Deficit care b/d Setelsh dilakukan  Memandikan klien  Agar badan
nyeri tindakan keperawatan setiap hari sampe menjadi segar
diharapkan kebersihan klien mampu dan
klien dapat melaksanakan malancarkan
dipertahankan dengan sendiri sampe peredaran
kritria hasil: menggunting kuku, darah dan
dan mencuci rambut menigkatkan
 Klien bebas dari bau sendiri kesehatan
badan  Ganti pakain  Untuk
 Klien tampak bersih yangbkotoe dengan melindungi klien
 ADl Klien dapat yang bersih dari kuman dan
mandiri atau di  Berikan pujian meningkatkan
bantu. kepada klien tentang rasa nyaman
kebersihanya  Agar
 Bimbing keluaega keyrampilan
pasien untuk dapat
memandikan dan diterapkan
menyeka  Klien rasa
 Bersihakan dan atur nyaman dengan
posisi tempat tidur pakain yang
bersih serta
menjaga
terjadinya
infeksi
4 Kekurangan Setelah dilakukan  Kaji ulang  memberikan
pengetahuan tindakan kepetawatan pembatasan informasi
tetang kondisi pengetahuan dapat aktivitas pasca kepada padien
prognosis bertambah dengan operasi untuk
dankebutuhan kiteria hasil :  Anjurkan merencanakan
pengobatan b/d menggunakan kembali rutinitas
kekurangan  menyatakan laktasif / pelembek biasa tanpa
informasi pemahaman proses feses ringan bila menimbulkan
penyakit dan perlu dan hindari masalah
pengobatan enema  membantu
 Berpartisipadi dalam  Diskusi perawatan kemabali ke
program pengobatan insisi,termasuk fungdi usus
mengamati semula
balutan,pembatasa mencegah
n mandi dan kemali ngedann saat
ke dokter untuk devekasi
mengangjat jahitan  ppemahaman
atau pengikat menibgkatkan
 Identifikasi gejjala kerja sama.
yang memerlukan Denngan terapi
evaluasi medik meningkatkan
contoh peningkatan penyembuhan
nyeri  upaya intervensi
edema/eritema luka menurunkan
adanya drainase, resiko
demam komplikadi
lambatnya
penyembuhan
peritonitis.
DAFTAR PUSTAKA

Elizabeth, J, Corwin. (2009). Buku saku Fatofisiologi, EGC, Jakarta.

Johnson, M.,et All, 2012, Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition,
IOWA Initervention Project, Mosby.

Mansjoer, A. (2011). Kapital Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Aesculapius FKUI

Mc Closkey, C.J., Iet all, 2014, Nursing Intervention Classification (NIC) Second
Edition, IOWA Intervention Project, Mosby.

NANDA, 2012, Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi.

Smeltzer, Bare (2012). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & Suddart.
Edisi 8. Volume 2. Jakarta, EGC