Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Pelvic Inflammmatory Disease (PID) atau penyakit radang panggul (PRP)
merupakan kumpulan radang pada saluran genitalia bagian atas. Penyakit ini
disebabkan oleh infeksi bakteri gonorrhea, streptococcus, staphylococcus, bakteri
aerob maupun anaerob. Penyakit ini merupakan penyakit yang umum dan merupakan
komplikasi dari penyakit menular seksual. Kondisi ini dapat menyebabkan kehamilan
ektopik (Tri Wiji Lestari, 2014).
Wanita dapat memiliki gejala PID yang tidak jelas, hingga harus memiliki
kecurigaan tinggi untuk mendiagnosisnya secara dini terhadap proses infeksi.
Semakin dini penetapan diagnosis dan pengobatan, akibatnya akan semakin
berkurang. Wanita yang terinfeksi PID akan mengalami nyeri abdomen bawah yang
berat atau atau ringan (Ana Lusiyana, 2006).
Pemberian informasi bagi wanita sebaiknya menekankan pada kebutuhan
untuk menjalani seluruh pengobatan sesuai jadwal dan menghubungi Tenaga
Kesehatan apabila gejala yang timbul semakin memburuk. (Ana Lusiyana, 2006).

2. Tujuan
a. Untuk mengetahui pengertian Pelvic Inflammatory Disease (PID)
b. Untuk mengetahui klasifikasi Pelvic Inflammatory Disease (PID)
c. Untuk mengetahui penyebab Pelvic Inflammatory Disease (PID)
d. Untuk mengetahui tanda gejala Pelvic Inflammatory Disease (PID)
e. Untuk mengetahui diagnosa Pelvic Inflammatory Disease (PID)
f. Untuk mengetahui komplikasi Pelvic Inflammatory Disease (PID)
g. Untuk mengetahui penanganan Pelvic Inflammatory Disease (PID)
h. Untuk mengetahui pencegahan Pelvic Inflammatory Disease (PID)

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PID

Pelvic Inflamantory Diseases (PID) adalah infeksi dan radang pada genitalia
interna atau bagian atas, meliputi endometritis, salpingitis, dan peritonotis ( Erna,
2015 ).
Pelvic Inflamantory Disease ( PID) adalah infeksi alat kandungan tinggi dari
uterus, tuba, ovarium, parametrium, peritoneum yang tidak berkaitan dengan
pembedahan dan kehamilan. PID mencakup spektrum luas kelainan inflamasi alat
kandungan alat termasuk kombinasi endometritis, salpingitis, abses tuba ovarian dan
peritonitis pelvis. Biasanya mempunyai mobiditas yang tinggi. Batas antara infeksi
rendah dan tinggi ialah ostium uteri internum ( Marmi, 2015 ).
Penyakit Radang Panggul (PRP) adalah suatu peradangan pada tuba falopii
(saluran menghubungkan indung telur dengan rahim) (Nugroho dan Utama, 2014).

B. KLASIFIKASI PID
Menurut Tri Wiji Lestari (2014) klasifikasi PID adalah sebagai berikut :
1. Endometritis
Endometritis adalah peradangan pada endometrium yang biasanya disebabkan
oleh infeksi bakteri pada jaringan. Kondisi ini sering ditemukan setelah seksio
sesarea (SC), partus lama atau pecah ketuban yang lama. Ada dua jenis
endometritis, yaitu endometritis akut dan kronik.
Endometritis akut adalah endometrium yang disebabkan oleh infeksi gonore,
infeksi saat melahirkan, aborsi, dan adanya tindakan didalam uterus. Sedangkan,
endometritis kronik merupakan kasus yang jarang diemukan. Pada pemeriksaan
mikroskopis banyak ditemukan sel limfosit dan plasma.
2. Miometritis
Miometritis adalah radang miometrium yang merupakan lanjutan dari
endometritis. Gejala dan pengobatan sama seperti pada endometritis.

2
3. Parametritis
Parametritis adalah radang dari jaringan longgar di dalam ligamen latum biasanya
unilateral. Penyakit ini dapa disebabkan oleh endometritis, dari robekan serviks
ataupun dari perforasi uterus oleh alat-alat ( seperti sonde, kuret, AKDR ).
4. Salpingitis akut
Salpingitis adalah peradangan di saluran tuba. Infeksi ini paling sering disebabkan
oleh gonococcus, staphylococcus, streptococcus, dan tuberculosis.
5. Pelvioperitonitis ( perimetritis )
Pelvioperitonitis ( perimetritis ) merupakan lanjutan dari salpingooforitis. Dapat
menimbulkan pelekatan alat dalam rongga panggul yang mengakibatkan nyeri dan
ileus serta pembentukan nanah ataupun abses pada rongga Douglas. Infeksi ini
dapat disebabkan oleh GO, sepsis pascapartum dan pasca abortus serta apendisitis.

C. PENYEBAB PID
Menurut Taufan (2014) penyebab PID yaitu :
Peradangan biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri chlamydia trachomatis dan
Neisseria gonorrhoeae, dimana bakteri masuk melalui vagina dan bergerak ke rahim
lalu ke tuba falopii.
Penyebab lainnya yang lebih jarang terjadi adalah :
1. Aktinomikosis (infeksi bakteri )
2. Skistosomiasis (infeksi parasit)
3. Tuberkulosis
4. Penyuntikan zat warna pada pemeriksaan rontgen khusus
Faktor resiko terjadinya PID
a. Aktivitas seksual pada masa remaja
b. Berganti ganti pasangan seksual
c. Pernah menderita PID
d. Pernah menderita penyakit menular seksual

D. TANDA DAN GEJALA PID


Menurut Taufan (2014) tanda dan gejala PID yaitu :
Gejala biasanya muncul segera setelah siklus menstruasi. Penderita merasakan nyeri
pada perut bagian bawah yang semakin memburuk dan disertai oleh mual dan
muntah.

3
Biasanya infeksi akan menyumbat tuba falopii. Tuba yang tersumbat bisa
membengkak dan terisi cairan. Sebagai akibatnya bisa terjadi nyeri menahun,
perdarahan menstruasi yang tidak teratur dan kemandulan.
Gejala lainya yang mungkin di temukan pada PID
1. Keluar cairan dari vagina dengan warna,konsistensi dan bau yang abnormal
2. Demam
3. Pendarahan menstruasi yang tidak teratur atau spotting ( bercak bercak kemerahan
di celana dalam)
4. Kram karena menstruasi
5. Nyeri perut bagian bawah ketika melakukan hubungan seksual
6. Pendarah setelah melakukan hubungan seksual
7. Sering berkemih
8. Nafsu makan berkurang

E. DIAGNOSA PID
Menurut Erna (2015) diagnosa PID yaitu :
Diagnosis ditegakan berdasarkan pemeriksaan fisik,
ginekologi,laboratorium,USG,serta mikrobiologi, diagnosis radang panggul
berdasarkan kriteria “infectious Disease Society For Obsetrics and Gynecology”
1. Ketiga gejala klinis
a. Nyeri tekan abdomen,dengan atau tanpa rebound
b. Nyeri pada pemeriksaan goyang serviks (adanya pergerakan pada servik yang
dapat mengakibatkan rasa nyeri)
c. Nyeri adneksa (jaringan yang berada pada sekitar rahim termasuk tuba falopii
dan ovarium)
2. Bersama dengan satu atau lebih tanda di bawah ini
a. Ditemukan bakteri gram negatif diplococcus pada sekret endoserviks
b. Suhu lebih dari 38˚c
c. Leukosit lebih dari 10.000mm
d. Kuldosentesis : plus (+)
e. Abses pelviks dengan pemeriksaan bimanual atau USG
Berdasarkan rekomendasi infection Dis. Radang panggul di bagi menjadi tiga
Derajat I : Radang panggul tanpa penyulit, terbatas pada tuba dan ovarium
dengan atau tanpa pelvioperitonitis

4
Derajat II : Radang panggul dengan penyulit, didapatkan masa atau abses pada
kedua tuba ovarium dengan tanpa pelvioperitonitis
Derajat III : Radang panggul dengan penyebaran di luar organ genetalia
interna , di dapatkan abses tuba ovarial

F. KOMPLIKASI PID
Menurut marmi (2015) komplikasi PID yaitu :
1. Infertilitas
Satu dari 10 wanita dengan PID menjadi infertil. PID dapat menyebabkan jaringan
parut pada tuba falopii. Jaringan perut tersebut dapat menyumbat saluran tuba
falopii dan mencegah sel telur untuk dibuahi
2. Kehamilan ektopik
Jaringan perut yang terbentuk pada PID juga dapat mencegah sebuah sel telur
yang telah dibuahi melanjutkan perjalananya menuju ke uterus sebaliknya sel telur
yang telah di buahi tersebu dapat mulai berumbuh di tuba falopii. Akibatnya tuba
falopii dapat menyebab ruptur dan menyebabkan terjadinya perdarah pada rongga
abdomen (perut) dan pelvic (panggul) yang mengancam jiwa penderitanya.
3. Nyeri pelvis kronis
PID dapat menimbulkan nyeri pelvis yang bertahan lama

G. PENANGANAN PID
Menurut Erna (2015) penanganan PID yaitu :
a. Pengobatan rawat jalan
Pengobatan rawat jalan dilakukan pada PID derajat 1 :
a) Antibiotik
1.Ampisilin 500mg tiap 6 njam selam 7 hari
2. Amoksilin 500mg tiap 8 jam selama 7 hari
3. Doxyocycyline 100mg tiap 12 jam selama 7-10 hari
4. Cylndamycin 300mg tiap 12 jam selama 7-10 hari
b) Analgetik atau antipiretik
1. Paracetamol 500mg/p.o tiap 8 jam
2. Mefenami caccid 500mg/p.o tiap 8 jam
b. Pengobatan Rawat inap ditunjukan untuk penderita PID derajat dua dan tiga.
1. Ampicilin 1g tiap 6 jam selam 5-7 hari

5
2. Gentamicin 80mg tiap 12 jam selama 5-7 hari
3. Metronidazole 1g/supp tiap 12 jam selam 5-7 hari
4. Pemberian cairan parental sesuai kan dengan kebutuhan
5.pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan darah lengkap, LED, protein
reaktif-C, dan pemeriksaan N.gonorrhoeae/C.trachomatis.

H. PENCEGAHAN PID
Menurut Jenny (2014) PID yaitu :
a. Hindari banyak pasangan seksual
b. Gunakan metode penghalang pengendalian kelahiran seperti kondom, diafragma,
dan kontrasepsi lain (Kap serviks dan spons )
c. Hindari menggunakan cara TUD (gerakan naik turun) pada beberapa hubungan
seksual
d. Melakukan pemeriksaan sebelum terjadi penyebaran ke organ reproduksi internal

I. DAMPAK PID PADA KEHAMILAN


Menurut kusuma (2017) dampak PID pada kehamilan
a. Gangguan kesuburan misalnya karena sumbatan pada salah satu saluran telur
b. Sulitnya implantasi zigot
c. Rahim kehilangan elastisitasnya sehingga janin yang dikandung mengalami
gangguan selama perkembangan

I . PERAN BIDAN
1. Sebaiknya Bidan segera melakukan deteksi dini resiko PID seperti melakukan tes darah
untuk menganalisis darah untuk bukti infeksi, melakukan USG untuk melihat organ
reproduksi (ensiklopedia perempuan. com)
2. Melakukan konsultasi dengan dokter untuk diagnosis dan pengobatan yang tepat untuk
kondisi PID gunakan pengobatan rumahan hanya sebagai perawatan tambahan untuk
mengatasi radang panggul (https://sehatly. com)
3. Segera melakukan rujukan ke Rumah Sakit jika terdapat tanda dan gejala PID

6
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pelvic Inflammatory Disease (PID) adalah infeksi dan radang pada genitalia interna
atau bagian atas, meliputi endometritis, salpingitis, dan peritonotis. PID biasanya
disebabkan oleh infeksi bakteri, dimana bakteri masuk melalui vagina dan bergerak ke
rahim lalu ke tuba falopii. Gejala biasanya muncul segera setelah siklus menstruasi.
Penderita merasakan nyeri pada perut bagian bawah yang semakin memburuk dan
disertai oleh mual dan muntah. Terapi dimulai dengan terapi antibiotik, analgetik atau
antipiretik.

B. SARAN
Untuk menghindari penyakit radang panggul yang sering dialami oleh kebanyakan
wanita sebaiknya dimulai terlebih dahulu dari hal yang paling mudah yaitu menjaga
diri termasuk merawat pada daerah yang rawan mikroba termasuk di daerah genetalia
bagian dalam vagina, agar terhindar dari bakteri yang dapat menyebabkan rasa nyeri,
serta harus setia pada satu pasangan dan mulailah menjaga anggota tubuh kita agar
terhindar dari penyakit.

DAFTAR PUSTAKA

7
Lestari, Wiji. 2014. Buku Ajar Kesehatan Reproduksi Berbasis Kompetensi. Jakarta.
EGC
Lusiana, Ana. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta. EGC

Mandang, Jenny. 2016. Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana (KB).

Marmi. 2015. Kesehatan reproduksi. Jakarta. Pustaka Pelajar

Nugroho dan Utama. 2014. Masalah kesehatan reproduksi wanita. Yogyakarta. Nuha

medika

Setiyaningrum, Erna. 2015. Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan

Reproduksi. Jakarta. CV Trans Info Media

www.alodokter.com