Anda di halaman 1dari 26

TUGAS KE-8

PERBANDINGAN RUMAH SEDERHANA DENGAN RUMAH TAHAN GEMPA

Ditulis untuk Menyelesaikan Tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian

Dosen Pengampu :
Drs. Ir. Tamson Simarmata, M.T.

Disusun oleh :

NAMA : AMIRUL ADHA PANGARIBUAN

KELAS : MRKG-7B

NIM : 1605141014

PROGRAM STUDI MANAJEMEN REKAYASA KONSTRUKSI GEDUNG

JURUSAN TEKNIK SIPIL

POLITEKNIK NEGERI MEDAN

2019
Perbandingan Rumah Sederhana Tahan Gempa dengan Rumah Sederhana

1. Rumah Sederhana
Dalam pembangunan rumah sederhana hendaklah mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum dan Perumahan Rakyat No.5/PRT/M/2016, sehingga konstruksi rumah yang terbangun
sesuai dengan Standar Nasional Indonesia.
A. BAHAN
Bahan bangunan yang dipergunakan dalam pembangunan bangunan tahan gempa harus
berkualitas baik dan proses pengerjaan yang benar.
a. Beton
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat campuran beton
adalah:
 Campuran beton terdiri dari 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil : 0,5 air.
Perlu diperhatikan penambahan air dilakukan sedikit demi
sedikit dan disesuaikan agar beton dalam keadaan pulen (tidak
terlalu encer dan tidak terlalu kental).
 Ukuran kerikil yang baik maksimum 20 mm dengan gradasi yang baik.

 Semen yang digunakan adalah semen tipe 1 yang berkualitas sesuai dengan Standar
Nasional Indonesia(SNI).

SNI 15-2049-2015

Gambar 3.5 Contoh Semen Tipe 1 Memenuhi SNI 15-2049-2015

b. Mortar
Campuran volume mortar memiliki perbandingan 1 semen : 4 pasir
bersih : air secukupnya. Pasir yang dipergunakan sebaiknya tidak
mengandung lumpur kaena lumpur dapat mengganggu ikatan dengan
semen.
 Bahan dasar mortar:

Pasir 4 ember

Semen 1 ember

Gambar 3.6 Bahan Dasar Mortar

Ukuran batu bata yang baik adalah sebagai berikut:

Gambar 3.13 Ukuran Batu Bata


Gambar 3.14 Dimensi Batu Bata Yang Baik Digunakan Dalam Pembangunan
Sebelum batu bata dipasang, lakukan perendaman bata sekitar 5-10 menit
hingga tercapai jenuh permukaan kering pada bata, kemudian dikeringkan
sebelum direkatkan dengan mortar. Hal ini dilakukan agar tingkat penyerapan
bata terhadap air campuran mortar tidak terlalu cepat karena pengeringan
yang terlalu cepat mengakibatkan ikatan menjadi kurang kuat.

Gambar 3.15 Perendaman Batu Bata Sebelum Dipasang

Batu bata yang baik pada saat direndam tidak mengeluarkan banyak
gelembung dan tidak hancur.

 Kayu
Kayu yang digunakan harus berkualitas baik dengan ciri-ciri:
1) Keras,
2) Kering,
3) Berwarna gelap,
4) Tidak ada retak, dan
5) Lurus.

Gambar 3.16 Kayu Yang Baik Digunakan Dalam Pembangunan


B. PERALATAN
Peralatan yang digunakan untuk pekerjaan pembangunan rumah sederhana
adalah peralatan pertukangan dan pendukung-pendukungnya dengan masing-
masing fungsinya disesuaikan untuk mewujudkan pendetailan konstruksi rumah
sederhana yang akan dibahas pada bab selanjutnya.

C. PELAKSANAAN

1. Struktur Utama

Struktur utama bangunan rumah tinggal tunggal terdiri dari:


a. pondasi;
b. balok pengikat/sloof;
c. kolom;
d. balok keliling/ring; dan
e. struktur atap.
Proses konstruksi struktur utama harus memperhatikan ketepatan dimensi dan
melalui metode yang benar.

2. Pondasi

Pada kondisi tanah yang cukup keras, pondasi yang terbuat dari batu kali
dapat dibuat dengan ukuran sebagai berikut:

10 cm

Gambar 5.1 Pondasi


3. Balok Pengikat/Sloof
Balok pengikat/sloof memiliki spesifikasi sebagai berikut:
a) Ukuran balok pengikat/sloof 15 x 20 cm;
b) Diameter tulangan utama 10 mm;
c) Diameter tulangan begel 8 mm;
d) Jarak antar tulangan begel 15 cm; dan
e) Tebal selimut beton dari sisi terluar begel 15 mm.

Gambar 5.2 Dimensi Tulangan Balok Pengikat/Sloof

4. Kolom

Kolom memiliki spesifikasi sebagai berikut:


a) Ukuran kolom 15 x 15 cm,
b) Diameter tulangan utama baja 10 mm,
c) Diameter tulangan begel baja 8 mm,
d) Jarak antar tulangan begel 15 cm, dan
e) Tebal selimut beton dari sisi terluar begel 15 mm.
Gambar 5.3 Dimensi Tulangan Kolom

5. Balok Keliling/Ring
Balok keliling/ring memiliki spesifikasi sebagai berikut:
a) Ukuran balok keliling/ring 12 x 15 cm;
b) Diameter tulangan utama baja 10 mm;
c) Diameter tulangan begel baja 8 mm;
d) Jarak antar tulangan begel 15 cm; dan
e) Tebal selimut beton dari sisi terluar begel 15 mm.

Gambar 5.4 Dimensi Tulangan Balok Keliling/ Ring

Pemasangan bagian ujung tulangan begel pada balok pengikat/sloof,


kolom, dan balok keliling/ring harus ditekuk paling sedikit 5 cm dengan
sudut 135° untuk memperkuat ikatan dengan tulangan utama.
Gambar 5.5 Tekukan Ujung TulanganBegel

6. Struktur Atap

Struktur atap berfungsi untuk menopang seluruh sistem penutup atap


yang ada di atasnya. Struktur atap terdiri dari:

a) Kuda-kuda Kayu
Kuda-kuda kayu digunakan sebagai pendukung atap dengan
bentang paling panjang sekitar 12 m. Konstruksi kuda-kuda kayu harus
merupakan satu kesatuan bentuk yang kokoh sehingga mampu
memikul beban tanpa mengalami perubahan. Kuda-kuda kayu
diletakkan di atas dua kolom berseberangan selaku tumpuan.

Gambar 5.6 Kuda-kuda Kayu

Gambar 5.7 Detail Kuda-kuda Kayu

Ikatan antar batang pada kuda-kuda kayu diperkuat dengan plat baja dengan
ketebalan 4 mm dan lebar 40 mm atau papan dengan ketebalan 20 mm dan
lebar 100 mm.

Gambar 5.8 Kuda-kuda Kayu Dengan Pengikat Plat Baja


Gambar 5.9 Pemasangan Plat Baja Pada Kuda-kuda Kayu

a) Gunung-Gunung/Ampig
Bingkai gunung-gunung/ampig terbuat dari beton
bertulang dengan spesifikasi sebagai berikut:
1) Ukuran bingkai 15 x 12 cm;
2) Tulangan utama dengan diameter 10 mm;
3) Tulangan begel dengan diameter 8 mm; dan
d) tebal selimut beton 10mm.
Gunung-gunung/ampig terbuat dari
susunan bata
yang direkatkan
dengan campuran mortar (perbandingan 1
semen : 4 pasir
: air secukupnya) dan diplaster. Penggunaan
bahan yang ringan seperti papan dan
Glassfibre Reinforced Cement (GRC) juga
dianjurkan untuk meminimalkan dampak
apabila gunung- gunung/ampig roboh pada
saat terjadi gempa.

Gunung – gunung dari


pasangan bata

Gambar 5.10 Gunung-gungung /Ampig


Gambar 5.11 Tulangan pada Bingkai Gunung-gunung/Ampig

a) Ikatan Angin
Ikatan angin berfungsi sebagai pengikat
antar kuda-kuda kayu, antar gunung-
gunung/ampig, atau antara kuda-kuda kayu
dengan gunung-gunung/ampig agar berdiri
tegak, kokoh, dan sejajar.

Gambar 5.12 Ikatan Angin Sebagai Pengikat Antar


Kuda-kuda Kayu

Gambar 5.13 Ikatan Angin Sebagai Pengikat Antar Gunung-


gunung/Ampig

Gambar 5.14 Ikatan Angin Antara Kuda-kuda Kayu dengan Gunung


g-gunung/Ampig

Gambar 5.15 Pertemuan Antara Ikatan dengan Gunung-


gunung/Ampig

Gambar 5.16 Detail Pertemuan Antara Ikatan Angin dengan Gunung-


gunung /Ampig
Gambar 5.17 Detail Pertemuan Antara Ikatan Angin dengan Gunung-
Gunung/Ampig

1. Dinding
Dinding berfungsi sebagai pembatas dan tidak
menopang beban. Dinding terbuat dari pasangan
batu bata yang direkatkan oleh spesi/siar dengan
perbandingan campuran 1 semen : 4 pasir : air
secukupnya. Luas dinding maksimal adalah 9 m2
sehingga jarak palling jauh antar kolom adalah 3 m.
Gambar 5.18 Detail Dinding

Gambar 5.19 Proses Pemasangan Batu Bata Untuk Dinding

Untuk menambah kekuatan, dinding diplaster


dengan campuran mortar (perbandingan campuran
1 semen : 4 pasir : air secukupnya) ketebalan 2 cm.

Gambar 5.20 Luas Maksimum Dinding dan Jarak Maksimum


Antar Kolom
2. Rumah Sederhana Tahan Gempa
Syarat-syarat rumah tahan Gempa:
1) Bentuk denah bangunan sebaiknya sederhana dan simetris

KURANG BAIK SEBAIKNYA

Sederhana dan Simetris


2) Penempatan dinding-dinding penyekat dan lubang-lubang
pintu/jendela diusahakan sedapat mungkin simetris terhadap sumbu-
sumbu denah bangunan.

Contoh:

KURANG BAIK

SEBAIKNYA

3) Bidang-bidang dinding sebaiknya membentuk kotak-kotak tertutup


Contoh:
KURANG BAIK
SEBAIKNYA

4) Atap sedapat mungkin dibuat yang ringan


KURANG BAIK
SEBAIKNYA

Bahan

PONDASI

1) Alangkah baiknya bila tanah dasar pondasi merupakan tanah yang


kering, padat dan merata kekerasannya. Dasar pondasi sebaiknya
terletak lebih dalam dari 45 cm dibawah permukaan tanah asli.
2) Pondasi sebaiknya dibuat menerus keliling bangunan tanpa terputus.
Pondasi dinding-dinding penyekat juga dibuat menerus.
Bila pondasi terdiri dari batuan kali, maka perlu
dipasang balok pengikat/sloof sepanjang pondasi
tersebut.
3) Pondasi-pondasi setempat perlu diikat kuat satu sama lain dengan
memakai balok pondasi (sloof).
a. Pondasi Umpak
a. Pondasi Umpak Tiang Kayu
a. Pondasi setempat beton bertulang
Dari bacaan diatas disimpulkan bahwa perbedaan rumah sederhana dengan
rumah sederhana tahan gempa yaitu:
1. Pada pengerjaan Pondasi Bangunan Sederhana bisa menggunakan bentuk
pondasi yang tidak simetris sedangkan pada pondasi tahan gempa
dibutuhkan bentuk yang simetris
2. Pada pondasi tahan gempa harus berada pada perletakan tanah keras
dan padat. Pondasi tidak boleh pada tanah sebagian lunak ataupun
sebagian keras. Sedangkan pondasi rumah sederhana boleh diletak pada
tanah
3. Variasi jenis pondasi rumah tahan gempa banyak menggunakan umpak
kayu sedangkan rumah sederhana menggunakan pondasi batu kali.
4. Pada pekerjaan dinding rumah tahan gempa ditambahkan kawat
anyaman sedangkan pada rumah sederhana tidak perlu
5. Pada pemasangan bata rumah sederhana tidak perlu ditambahkan
jangkar seperti rumah tahan gempa yang butuh jangkar untuk perkuatan
dinding.
6. Pada pekerjaan pondasi rumah tahan gempa ditambahkan angkur/
jangkar pondasi. Sedangkan pada rumah sederhana jarang menggunakan
jangkar dan hanya menggunakan batu kali.
7. Rumah tahan gempa menggunakan dinding ampig dan balok ampig
sedangkan rumah sederhana tidak
8. Rangka kuda-kuda pada rumah tahan gempa dibuat sederhana dan
berbahan ringan,sedangkan rumah sederha biasa menggunakan kayu dan
bentuk yang rumit.
9. Rumah tahan gempa lebih dominan menggunakan kayu sebagai material
utama sedangkan rumah sederhan dominan menggunakan bata merah
10. Denah rumah tahan gempa dibuat sederhan dan simetris sedangkan
rumah sederhana denah dibuat tidak beraturan dan tidak simetris.