Anda di halaman 1dari 12

MODEL SISTEM INTEGRASI PETERNAKAN

TIK (Tujuan Instruksional Khusus)


Setelah menyelesaikan perkuliahan ini mahasiswa mampu menjelaskan dan mendesain
model integrasi ternak-tanaman.

Intensifikasi dan spesialisasi pertanian (pertanian konvensional) di negara-negara


maju memungkinkan peningkatan produktivitas tetapi berdampak negatif pada lingkungan
dan mengancam kelayakan ekonomi sejumlah besar pertanian. Pertanian konvensional
diketahui menyebabkan degradasi tanah dan padang rumput karena melibatkan
pengolahan tanah intensif. Sistem pertanian tanaman-ternak terintegrasi merupakan
sebuah solusi utama untuk meningkatkan produksi ternak dan menjaga lingkungan melalui
penggunaan sumber daya efisien dan seksama. Meningkatnya tekanan pada tanah dan
meningkatnya permintaan akan produk ternak membuatnya semakin dan semakin
meningkat lebih penting untuk memastikan penggunaan sumber daya pakan yang efektif,
termasuk residu tanaman.
Kombinasi ternak dan tanaman, yang sangat umum di masa lalu, diasumsikan
sebagai alternatif yang layak untuk ternak khusus atau sistem tanam. Sistem campuran
tanaman-ternak dapat meningkatkan siklus nutrisi sekaligus mengurangi input bahan
kimia dan menghasilkan lingkup ekonomi di tingkat petani.
Banyak petani di negara tropis dan subtropis bertahan hidup dengan mengelola
perpaduan/campuran dari berbagai tanaman dan / atau hewan. Bentuk pertanian terpadu
(mixed farming) yang paling dikenal adalah ketika residu tanaman digunakan untuk
memberi makan hewan dan kotoran dari hewan digunakan sebagai nutrisi untuk tanaman.
Secara tradisional, berbagai sistem pertanian terpadu telah digunakan di seluruh dunia.
Sistem ini sangat penting untuk mata pencaharian petani dan untuk produksi makanan dan
komoditas lainnya untuk kota-kota dan pasar ekspor. Bahkan banyak sistem
tanaman/pertanian dan sistem peternakan yang sangat terspesialisasi di negara maju dan
sedang berkembang menemukan kembali keuntungan pertanian terpadu.
Secara tradisional, pertanian campuran telah menjadi sistem pertanian utama yang
dipraktekkan oleh petani kecil di Asia. Input dan output dari usaha tanaman dan hewan
adalah terintegrasi tak terpisahkan dalam sistem ini, tergantung pada sumber daya yang
tersedia. Rumah tangga petani miskin berupaya mengintegrasikan usaha tanaman dan
hewan untuk memaksimalkan pengembalian dari tanah dan modal mereka yang terbatas.
Tujuan lainnya adalah untuk meminimalkan risiko produksi, mendiversifikasi sumber
pendapatan, memberikan ketahanan pangan meningkatkan produktivitas lahan, dan
meningkatkan keberlanjutan. Ternak menyediakan kekuatan tenaga dan pupuk untuk
tanaman dalam bentuk pupuk kandang, dan kotoran hewan kering juga digunakan sebagai
bahan bakar rumah tangga. Selain itu, hasil sampingan dan residu tanaman juga tersedia
memberi makan untuk hewan. Susu, daging, dan telur berkontribusi signifikan terhadap
peningkatan nutrisi dan kesehatan keluarga. Penjualan hewan dan produknya membantu
meningkatkan dan menstabilkan pendapatan rumah tangga untuk pembelian input
pertanian, dan untuk mengimbangi pengeluaran untuk biaya sekolah dan perawatan
kesehatan. Kambing, babi dan unggas dipertimbangkan sebagai bentuk keamanan dan
sumber pendapatan independen untuk petani miskin.
Integrasi dilakukan untuk mendaur ulang sumber daya secara efisien. Integrasi
terjadi di mana produk atau produk sampingan dari satu komponen berfungsi sebagai
sumber daya untuk yang lain - kotoran pergi ke tanaman dan jerami ke hewan. Dalam hal
ini, integrasi berfungsi untuk memaksimalkan penggunaan sumber daya. Sayangnya,
sistem ini cenderung menjadi lebih rentan terhadap gangguan karena pencampuran aliran
sumber daya membuat sistem secara internal lebih kompleks dan saling tergantung.
Sistem integrasi peternakan atau sering disebut dengan istilah Crop-Livestock
Integration (CLI) merupakan suatu strategi dalam mencapai keseimbangan atau sinergi
antara produksi pertanian dengan kualitas lingkungan. CLI merupakan sistem pertanian
yang mengintegrasikan kegiatan sub sektor-sub sektor pertanian (sub sektor peternakan
dengan sub sektor perkebunan, dan perikanan - tanaman, ternak, ikan) untuk meningkatkan
efisiensi dan produktivitas sumber daya (lahan, manusia, dan faktor tumbuh lain),
kemandirian, dan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
Manfaat memasukkan ternak ke dalam sistem pertanaman menawarkan peluang
tambahan. Manfaat tambahan terkait dengan mengintegrasikan ternak ke dalam sistem
penanaman meliputi:
 mengintensifkan penggunaan lahan,
 mengurangi erosi;
 meningkatkan hasil panen dan mengurangi risiko meningkatkan satu produk serta
meningkatkan keuntungan
 meningkatkan infiltrasi air dan ketahanan terhadap erosi tanah, C organik tanah,
aktivitas biologis tanah
 mengurangi penggunaan pupuk dari siklus nutrisi
 daur ulang nutrisi
 membantu mengurangi kemiskinan dan kekurangan gizi dan memperkuat
ketahanan lingkungan.
Sistem tanaman-ternak yang beragam lebih produktif, berkelanjutan, dan kompetitif secara
ekonomi dengan sistem penanaman tradisional.

Konsep dan Prinsip Crop Livestock Integration

Gambar 1. Konsep crop-livestock integration

Dalam sistem yang terintegrasi, tanaman dan ternak berinteraksi untuk


menciptakan sinergi, dengan daur ulang memungkinkan penggunaan sumber daya yang
tersedia secara maksimal. Residu panen bisa jadi digunakan untuk pakan ternak, sementara
produksi dan pengolahan produk samping ternak dan ternak dapat meningkatkan pertanian
produktivitas dengan mengintensifkan unsur hara yang meningkatkan kesuburan tanah,
mengurangi penggunaan pupuk kimia.
Prinsip dari CLI adalah:
 Cyclic (siklus berulang).
Sistem integrasi tanaman-ternak merupakan system berulang (sumber daya organik-
ternak-lahan-tanaman). Oleh karena itu, keputusan manajemen yang berhubungan dari
satu komponen akan mempengaruji komponen yang lain.
 Rational (rasional).
Penggunaan sisa tanaman secara lebih rasional adalah penting untuk keluar dari
kemiskinan. Untuk petani yang miskin akan sumber daya, manajemen yang tepat dari
sisa tanaman bersama dengan alokasi yang optimal dari sumber yang kekurangan
mengarah pada produksi yang berkelanjutan.
 Ecologically sustainable (berkelanjutan secara ekologi).
Menggabungkan keberlanjutan ekologi dan kemampuan ekonomi, CLI menjaga dan
memperbaiki produktivitas pertanian dan dilain sisi menurunkan dampak negatif
lingkungan. Sebagai contoh; keberlanjutan dari sistem CLI adalah keleluasaan terhadap
ketersediaan nutrien yang cukup untuk kelangsungan ternak dan tanaman dan juga untuk
menjaga kesuburan tanah. Kotoran ternak sendiri tidak dapat memenuhi kebutuhan
tanaman, apalagi jika tidak mengandung unsur hara yang dibutuhkan. Hal ini
dikarenakan kotoran ternak rendah kepadatan nutriennya dan ketersediaan nya dalam
jumlah yang sedikit pada petani skala kecil. Sumber alternatif nutrien harus ditemukan.
Penanaman tanaman leguminosa pakan ternak dan penggunaannya sebagai suplemen
terhadap sisa limbah tanaman merupakan praktek yang paling sering dan metode biaya
efektif untuk memperbaiki nilai nutrisi sisa limbah tanaman. Kombinasi ini juga efektif
dalam menurunkan kehilangan bobot pada ternak khususnya pada periode musim kering.
 .Benefits (keuntungan)
Monokultur kedelai selama 13 tahun pada latosol merah-kuning yang sangat liat di
vegetasi Cerrado mengurangi tingkat bahan organik tanah dari awal sebesar 3,6% hingga
24,4%. Di sisi lain, tanah yang ditutupi dengan Brachiaria humidicola, dikelola dan
dipotong lebih dari 9 tahun, memberikan peningkatan bahan organik tanah yang terus-
menerus dan mulai berkurang ketika sistem kembali ke tanaman tahunan (rotasi kedelai-
jagung). Tanah yang ditutupi dengan padang rumput dapat mempertahankan 30% bahan
organik dibandingkan dengan sistem rotasi tanaman tahunan (Sousa et al., 1997). Di
bawah kondisi pastoral dengan manajemen yang baik, peningkatan bahan organik tanah
melalui padang rumput yang sama bahkan bisa lebih tinggi (Corsi et al., 2001).
SIMANTRI

Gambar 2. Konsep terapan pertanian terpadu

Mengacu pada konsep terapan sistem pertanian terpadu (Waton, 2016) bahwa
suatu sistem pertanian terpadu akan menghasilkan produk / keluaran F4 bila dijalankan
dengan tepat dan benar yaitu : Food, Feed, Fuel dan Fertilizer.
 F1 (Food).
Sistem akan menjadi sumber pangan bagi manusia ( seperti beras, jagung, kedelai,
kacang-kacangan, jamur, sayuran, dll), produk peternakan (seperti daging, susu, telur,
dll), produk budidaya ikan air tawar (seperti patin, lele, mujair, nila, gurami, dll.) dan
hasil perkebunan (seperti papaya, salak, pisang, kayu manis, sirsak, dll.).
 F2 (Feed).
Sistem juga akan menghasilkan pakan ternak termasuk di dalamnya ruminasia (sapi,
kambing, domba, kerbau, kelinci), ternak unggas (ayam, itik, entok, angsa, burung dara,
dll), pakan ikan budidaya air tawar (ikan hias dan ikan konsumsi).
 F3 (Fuel).
Energi dalam berbagai bentuk juga akan dihasilkan dari sistem mulai energi panas (bio
gas) untuk kebutuhan domestik/masak memasak, energi panas untuk industri makanan
di kawasan pedesaan juga untuk industri kecil .
 F4 (Fertilizer).
Hasil akhir dari bio gas kotoran ternak yang telah habis gasnya adalah bio fertilizer
berupa pupuk organik padat (kompos). Selain itu, sisa produk pertanian melalui proses
dekomposisi atau yang lainnya akan menghasikan pupuk kompos (organic fertilizer)
dengan berbagai kandungan unsur hara dan C-Organik yang relatif tinggi.

Model Sistem Integrasi Peternakan


Beberapa jenis sistem pertanian terintegrasi, misalnya, ternak yang terkait dengan
kolam ikan dan ikan dengan beras (Mukherjee, 1992), tebu dengan ternak (Preston dan
Murgueitio, 1992) dan pohon multiguna dengan tanaman (Speedy dan Puglièse, 1992),
adalah kepentingan saat ini di negara-negara berkembang yang peduli tentang efisiensi dan
konservasi lingkungan. Beberapa model system intergrasi tanaman-ternak yang telah
dipraktekkan di Indonesia maupun di beberapa Negara di Asia Tenggara, adalah:
Agropastoral, Agrofisheries, Agroforestri meliputi Sistem Tiga Strata, Silvopastura,
Agrosilvopastura, Agrosilvofisheries.

 Agropastoral
Merupakan sistem pemeliharaan ternak yang diintegrasikan dengan tanaman pertanian
musiman, seperti tanaman ternak-jagung. Selain, petrnak mempunyai sumber pakan
sendiri (baik diperoleh dengan penanaman hijauan pakan maupun dengan cut and carry
dari lahan penggembalan alam), sisa limbah jagung dapat digunakan secara musiman
untuk ternak sapi. Sisa limbah jagung ini dapat dijadikan standing hay di lahan usaha
tani dan ternak didibiarkan lepas di dalam lahan usaha tani sampai sebelum musim
tanam berikutnya atau hijauan jaung dapat difermentasi untuk dijadikan silase. Kotoran
ternak apat dijadikan input bagi lahan usaha tani.

 Agrofisheries
Merupakan sistem pemeliharaan ternak ikan dengan tanaman dalam satu sistem yang
serasi. Sebagai contoh: mina padi adalah bentuk yang paling terkenal. Ikan ditanam di
areal sawah dengan tujuan pembesaran. Ikan membantu memangsa hama padi sehingga
tidak perlu dikendalikan dengan pestisida. Mina padi ini sudah lama dipraktekan di
Indonesia.
 Agroforestry.
Agroforestry dikenal dengan istilah wanatani atau agroforestri yang arti sederhananya
adalah menanam pepohonan di lahan pertanian. Koppelman (1996) : Agroforestry
sebagai bentuk menumbuhkan dengan sengaja dan mengelola pohon secara bersama-
sama dengan tanaman pertanian dan atau pakan ternak dalam sistem yang bertujuan
berkelanjutan secara ekologi, sosial dan ekonomi. Agroforestri dapat dibuat sederhana
dan komplek.

Gambar 3. Bentuk-bentuk agroforestri

Agroforestri sederhana adalah suatu sistem pertanian dimana pepohonan ditanam


secara tumpangsari dengan satu atau lebih jenis tanaman semusim. Pepohonan bisa
ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan tanaman pangan, secara acak dalam
petak lahan, atau dengan pola lain misalnya berbaris dalam larikan sehingga
membentuk lorong/pagar. Jenis-jenis pohon yang ditanam : bernilai ekonomi tinggi
misalnya kelapa, karet, cengkeh, kopi, kakao, nangka, melinjo, petai, jati dan mahoni
atau yang bernilai ekonomi rendah seperti dadap, lamtoro dan kaliandra. Jenis tanaman
semusim biasanya tanaman pangan yaitu padi (gogo), jagung, kedelai, kacang-
kacangan, ubi kayu, sayur-sayuran dan rerumputan atau jenis-jenis tanaman lainnya.
Agroforestri kompleks adalah suatu sistem pertanian menetap yang melibatkan
banyak jenis tanaman pohon (berbasis pohon) baik sengaja ditanam maupun yang
tumbuh secara alami pada sebidang lahan dan dikelola petani mengikuti pola tanam dan
ekosistem menyerupai hutan. Di dalam sistem ini, selain terdapat beraneka jenis pohon,
juga tanaman perdu, tanaman memanjat (liana), tanaman musiman dan rerumputan
dalam jumlah besar.
Ciri utama dari sistem agroforestri kompleks ini adalah kenampakan fisik dan dinamika
di dalamnya yang mirip dengan ekosistem hutan alam baik hutan primer maupun hutan
sekunder.
Tabel 1. Perbedaan agroforestry tradisional dan agroforestry modern

Jika mengacu pada Tabel 1. pengelompokkan praktek agroforestry tradisional dan


agroforestry modern, agroforestry kompleks dapat dikatakan sebagai agroforestry
tradisional dan agroforestry modern sebagai agroforestry yang sederhana, dilihat dari
kombinasi jenis tanaman yang ditanam, struktur tegakannya, orientasi penggunaan
lahan dan keterkaitan sosial budaya.
 Silvopasture-silvopastoral merupakan praktek agroforestry yang secara spesifik
didesain dan diatur untuk produksi kayu, produk kayu, hijauan dan ternak. Tanaman
hijauan diintroduksi atau dikembangkan dalam sistem produksi tanaman kayu (timber)
atau sebaliknya. Interaksi antara tanaman kayu, hijauan dan ternak diatur secara intensif
untuk produksi komoditi kayu yang terus menerus, sumber hijauan berkualitas tinggi
dan produksi ternak yang efisien.
 Agrosilvopastura: praktek kombinasi tanaman pangan (cash crops), tegakan pohon
dan peternakan (padang penggembalaan).
 Agrosilvofisheries: kombinasi praktek budidaya tanaman pangan (cashcrop), tegakan
pohon dan perikanan.
 Sistem Tiga Strata (STS) merupakan suatu praktek agroforestryi terpadu yang
dikembangkan di Bali. Sistem ini meningkatkan produksi tanaman pertanian dan ternak
melalui penggunaan hijauan, untuk suplemen sisa limbah pertanian dari area
pertanaman, dari kombinasi pastura, tanaman semak dan pohon. Sistem ini meliputi 3
strata dari penanaman hijauan sebagai batas pada sistem pertanian daerah dataran tinggi
(upland cropping system). Sistem ini bertujuan untuk menghasilkan ketersediaan
hijauan dengan kualitas tinggi yang konstan sepanjang tahun.
Sistem tiga strata adalah metode menanam dan memanen rumput, legum, semak
dan pohon sedemikian rupa sehingga pakan ternak akan tersedia sepanjang tahun.
Sistem tiga strata membagi sebidang tanah menjadi tiga bagian:

· Inti. Inti dipertahankan untuk produksi makanan (tanaman palawija).


· Selimut (Strata Satu). Selimut dibagi menjadi beberapa kompartemen, dengan
masing-masing kompartemen dibudidayakan dengan berbagai rumput dan kacang-
kacangan pakan ternak dimaksudkan untuk memasok makanan ternak di awal musim
hujan..

· Batas/Pagar (Strata Dua dan Tiga). Strata dua, terdiri dari semak, adalah untuk
memasok pakan ternak di tengah dan akhir musim hujan. Strata Tiga, terdiri dari
pohon, adalah untuk memasok makanan ternak selama musim kemarau. Stratum dua
dan tiga (pagar) ditanami semak Gamal dan pohon. Gamal (stratum 2) ditanam dengan
jarak 10 cm sepanjang pinggir STS sebagai pagar, dan setiap jarak 5 m ditanami
pohon waru dan bunut (stratum 3) sepanjang keliling petak STS. Gamal sebagai
stratum 2 dipercaya sebagai tanaman multiguna yang paling banyak di budidayakan
kedua terbanyak setelah Lamtoro (Leucaena leucocephala) ditanam sebagai pembatas
selimut dengan inti dengan jarak tanam 10 cm (Stratum 2).

Gambar 4. Sistem Tiga Strata (Bali)

Produksi daun Gamal tertinggi diperoleh jika ditanam dengan tanaman rumput 6%
lebih tinggi daripada dengan legum dan 37% lebih tinggi jika Gamal ditanam bersama
dengan pohon. Pada stratum 1 ini, selimut bagian dalam, tanaman yang dipilih adalah
tanaman pupuk hijau yang berakar dalam yang bertujuan untuk membantu dalam
menaikkan kembali hara dan dapat melindungi lapisan permukaan tanah dari erosi.
Jenis tanaman legum penutup tanah, seperti: Centrocema, Purearia, dan Clitoria (Nitis.
2007). Jumlah ternak dapat bervariasi dari rendah (0,5 ha per sapi) hingga tinggi (0,25
ha per sapi) karena ketersediaan pakan yang lebih baik. Sapi yang dipelihara dalam
sistem tumbuh pesat dan siap dipasarkan pada usia dini.

 Integrasi ternak dengan tanaman tahunan (Contoh praktek di beberapa negara)


Tabel 2. menunjukkan pola integrasi ternak dengan tanaman tahunan yang telah
dipraktekkan di beberapa negara. Pola pemeliharaan ternak ada yang digembalakan da
nada yang dengan sistem cut and carry.
Tabel 2. Integrasi ternak dengan tanaman tahunan (Sanchez, 1995)

Type of Crop Animals Mode Country References


system
Grazing Rubber Goats, Continuous Malaysia, Iñiguez & Sánchez (1991)
sheep Indonesia Arope, Tajudin & Chong (1985)
Devendra (1990, personal
communication)
Oil-palm Cows, Continuous Malaysia Chen (1991a, 1991b)
sheep
Coconut Cows, Continuous South Dalla Rosa (1993) Reynolds
goats, Pacific (1988)
sheep
Aloe Sheep Continuous Dominican Sánchez (1994, personal
Republic communication)
Sisal Cows Continuous Kenya Sánchez (1994, personal
communication)
Acacia Ducks, Continuous Dominican Sánchez (1994, personal
sheep Republic communication)
Orange Geese, Continuous Cuba Borroto et al. (1985) Leyva,
sheep Lima & Alvarez (1990)
Musaceae Ducks Continuous Dominican Sánchez (1994, personal
Republic communication)
Almond Sheep Seasonal Spain Vera y Vega (1986)
Pear Sheep Seasonal Spain Vera y Vega (1986)
Olive Sheep Seasonal Spain Vera y Vega (1986)
Peach Sheep Seasonal Mexico Sánchez (1994, personal
communication)
Opuntia Goats, Continuous Mexico Sánchez (1994, personal
sheep communication)
Agave Goats, Continuous Mexico Sánchez (1994, personal
sheep communication)
Cut-and- Coffee Sheep Continuous Indonesia Iñiguez (1990, personal
carry communication)
Rubber Cows, Continuous Indonesia Sánchez (1994, personal
goats, communication)
sheep
Orange Cows, Continuous Cuba García et al. (1989)
goats,
sheep
DAFTAR PUSTAKA
Gupta V, P. K. Rai and K.S. Risam. 2012. Integrated Crop-Livestock Farming Systems:
A Strategy for Resource Conservation and Environmental Sustainability. Indian
Research Journal of Extension Education, Special Issue Vol.II.
International Institute of Rural Reconstruction (IIRR) 1994. Resource management for
upland areas in Southeast Asia - An information kit. In: Humanity Development
Library 2.0.. http://www.nzdl.org/gsdlmod?e=d-00000-00---off-0hdl--00-0----0-10-
0---0---0direct-10---4-------0-1l--11-en-50---20-about---00-0-1-00-0--4----0-0-11-
10-0utfZz-8-10&cl=CL1.15&d=HASH018cfbb77d155fa06876f29b.4.3&gt=0
Joshi L. 2006. Livestock and agroforestry. (Integrasi Peternakan, Pertanian dan
Kehutanan). Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner
Nitis, I. M. 2007. Gamal di Lahan Kering, Penerbit Arti Foundation, Denpasar
Sanchez. 1995. Integration of livestock with perennial crops. In: Better feed for animal:
more food for people – Meilleure alimentation animale: plus de nourriture pour
I’homme. D. Chupin (Editor). World Animal Review, FAO, Rome
Vilrla L, M. C. M. Macedo, G. B. .artha Júnior and J. Kluthcouski. 2003. Crop-Livestock
Integration Benefits. From the publication Integraçã Lavoura-Pecuária João
Kluthcouski, Luis Fernando Stone and Homero Aidar (eds.). Embrapa Arroz e Feijáo
Santo Antônio de Goiás, GO. Translated with the permission of Embrapa