Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Keperawatan, Volume XI, No.

1, April 2015 ISSN 1907 - 0357

PENELITIAN
HUBUNGAN FREKUENSI MENYUSUI DENGAN INVOLUSI
UTERUS PADA IBU NIFAS
Nelly Indrasari*
*Dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Tanjungkarang

Kasus kematian ibu nifas akibat perdarahan dan kasus perdarahan post partum primer maupun sekunder
salah satunya disebabkan oleh subinvolusi uterus. Data di wilayah kerja Pos Kesehatan Kelurahan
Rajabasa Bandar Lampung dari 20 ibu nifas yang melakukan kunjungan ulang periode Maret 2013,
terdapat 13 ibu nifas dengan frekuensi menyusui bayinya ≥ 8 kali dan 7 ibu nifas dengan frekuensi
menyusui < 8 kali seluruhnya mengalami keterlambatan involusi uterus. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui hubungan frekuensi menyusui terhadap involusi uterus pada ibu nifas di Wilayah Kerja
Pos Kesehatan Kelurahan Rajabasa Raya Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung. Jenis penelitian adalah
penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu nifas pada
hari pertama, hari ke tiga dan hari ke tujuh post partum berjumlah 138 orang dan jumlah sampel sebanyak
100 ibu nifas. Pengumpulan data menggunakan checklist. Analisis data yang digunakan adalah univariat
dan bivariat dengan uji Chi-square. Hasil uji statistik diperoleh dari 32 responden yang frekuensi
menyusuinya < 8 kali terdapat sebanyak 18 responden (56,3%) mengalami involusi uterus tidak sesuai,
sedangkan dari 68 responden yang frekuensi menyusuinya ≥ 8 kali terdapat 10 responden (14,7%)
mengalami involusi uetrus tidak sesuai dengan value = 0,000 yang berarti nilai value < 0,05, maka
dapat disimpulkan ada hubungan antara frekuensi menyusui terhadap involusi uterus pada ibu nifas.
Peneliti menyarankan untuk memberikan pelayanan yang tepat khususnya bagi tenaga medis kebidanan
untuk mencegah bahaya komplikasi dari subinvolusi uterus.

Kata Kunci: Frekuensi Menyusui, Involusi Uterus

LATAR BELAKANG banyak mengarah secara spesifik pada


kemunduran uterus yang mengarah
Masa nifas merupakan waktu yang keukurannya (Varney, 2008).
dipakai untuk melakukan pengawasan Menyusui dapat merangsang
terhadap ibu post partum untuk produksi oksitosin yang dapat membantu
menghindari terjadinya kematian yang kontraksi uterus sehingga pendarahan
disebabkan oleh perdarahan. Kematian ibu pasca persalinan lebih rendah.
pasca persalinan biasanya tejadi dalam 6 Meningkatkan keberhasilan produksi ASI.
sampai 8 jam post partum. Hal ini Meningkatkan jalinan kasih sayang Ibu-
disebabkan oleh infeksi, perdarahan dan bayi. Memulai menyusui dini akan
eklampsia post partum (Manuaba, 2010). mengurangi 22% kematian bayi berusia 28
Kasus kematian ibu nifas akibat hari ke bawah (JNPK-KR, 2008). Menyusui
perdarahan dan kasus perdarahan post juga dapat mencegah kematian ibu yang
partum primer maupun sekunder salah masih menjadi tantangan di Indonesia (PP
satunya disebabkan oleh involusi uterus IBI,2007).
yang abnormal/subinvolusi uterus. Proses involusi uterus dipengaruhi
Subinvolusi uterus adalah kegagalan oleh beberapa faktor yaitu mobilisasi dini,
uterus untuk mengikuti pola normal usia, paritas, senam nifas dan menyusui.
involusi/ proses involusi rahim tidak Menyusui dapat menghentikan dan
berjalan sebagai semestinya sehingga mempercepat perdarahan setelah
proses pengecilan uterus terhambat. melahirkan sehingga rahim akan cepat
Subinvolusi merupakan istilah yang kembali seperti semula dan faktor yang
dipergunakan untuk menunjukan sangat mempengaruhi percepatan involusi
kemunduran yang terjadi pada setiap organ uterus yaitu dengan pemberian ASI pada
dan saluran reproduktif kadang lebih bayi (Ambarwati,2010).

[27]
Jurnal Keperawatan, Volume XI, No. 1, April 2015 ISSN 1907 - 0357

Angka Kematian Ibu diseluruh dunia frekuensi menyusui bayi nya ≥8 kali dan 7
masih cukup tinggi. Estimasi WHO ibu nifas dengan frekuensi menyusui < 8
tentang AKI (Maternal Mortality kali dalam sehari. Dari 7 ibu nifas dengan
Ratio/MMR per 100.000 kelahiran hidup) frekuensi menyusui <8 kali tersebut
adalah sebagai berikut, diseluruh dunia seluruhnya mengalami keterlambatan
sebesar 400/100.000, dinegara industri involusi uterus.
AKI cukup rendah yaitu sebesar Berdasarkan latar belakang diatas
20/100.00, di Eropa sebesar 24/100.000. penulis tertarik untuk mengetahui
Untuk negara berkembang AKI masih “Hubungan Frekuensi Menyusui Terhadap
cukup tinggi yaitu sebesar 440/100.000, di Involusi Uterus Pada Ibu Nifas Di wilayah
Afrika sebesar 830/100.000, di Asia kerja Pos Kesehatan Kelurahan Rajabasa
Tenggara sebesar 210/100.000 (WHO, Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung”.
2007 ). Untuk negara-negara ASEAN, AKI
(per100.000 kelahiran hidup) sangat METODE
bervariasi seperti Malaysia, Brunei,
Singapura, Kamboja, Laos, Philipina, Penelitian ini adalah penelitian
Myanmar, Thailand dan Vietnam (Depkes, analitik dengan pendekatan cross
2008). sectional, Bertujuan untuk mengetahui
Survei Demografi dan Kesehatan hubungan antara frekuensi menyusui
Indonesia tahun 2007 menyebutkan bahwa terhadap involusi uterus pada ibu nifas di
AKI di Indonesia periode (2003-2007) Wilayah Kerja Pos Kesehatan Kelurahan
sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Rajabasa Raya Kecamatan Rajabasa
Perkiraan jumlah kematian ibu menurut Bandar Lampung 2013.
penyebabnya di Indonesia tahun 2010, dari Populasi dalam penelitian ini adalah
11.530 kasus kematian, perdarahan seluruh ibu nifas hari ke-1, hari ke-3 dan
menempati urutan tertinggi yaitu sebanyak hari ke-7 di Wilayah Kerja Pos Kesehatan
3.114 kasus, disamping penyebab lainnya Kelurahan Rajabasa Raya Kecamatan
seperti eklampsia, infeksi, komplikasi Rajabasa Bandar Lampung pada bulan
puerperium, dan lain-lain (Profil Januari - Juni tahun 2013 sebanyak 138
Kesehatan Indonesia, 2008). ibu nifas.
Angka kematian ibu di Propinsi Sampel dalam penelitian ini adalah
Lampung tahun 2011 sebesar 146 kasus, seluruh ibu dengan masa nifas hari ke-1,
dengan penyebab kematian ibu pada saat hari ke-3 dan hari ke-7 di Wilayah Kerja
hamil, persalinan dan nifas. Penyebab Pos Kesehatan Kelurahan Rajabasa Raya
kematian ibu maternal dalam masa nifas Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung
yaitu sebanyak 38 (26%) kasus, sedangkan Tahun 2013 yang berjumlah 100 ibu nifas.
angka kejadian untuk kota Bandar Analisis Data dilakukan 2 tahap
Lampung sebanyak 8 (88,9%) kasus yaitu Analisis univariat yang dilakukan
kematian ibu pada saat nifas, dan pada dengan tujuan untuk menggambarkan
kecamatan Raja Basa didapatkan 1 kasus distribusi frekuensi variabel penelitian
kematian pada ibu nifas (Profil Dinkes yaitu proporsi frekuensi menyusui
Propinsi Lampung, 2011). terhadap involusi uterus pada ibu nifas.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Analisis bivariat dilakukan untuk melihat
Putri di Sidoarjo (2011) didapatkan hasil hubungan frekuensi menyusui terhadap
ada hubungan antara frekuensi menyusui involusi uterus pada ibu nifas.
dengan involusi uterus.
Data prasurvey yang telah dilakukan
di wilayah kerja Pos Kesehatan Kelurahan
Rajabasa Kecamatan Rajabasa Bandar
Lampung dari 20 ibu nifas yang
melakukan kunjungan ulang periode Maret
2013, terdapat 13 ibu nifas dengan

[28]
Jurnal Keperawatan, Volume XI, No. 1, April 2015 ISSN 1907 - 0357

HASIL Berdasarkan tabel di atas, maka


diketahui bahwa responden di Kelurahan
Analisis Univariat Rajabasa Raya Kecamatan Rajabasa
Bandar Lampung tahun 2013 didapatkan
Tabel 1: Distribusi Frekuensi Responden ibu nifas yang frekuensi menyusuinya > 8
Berdasarkan Usia kali dalam sehari yaitu sebanyak 68
responden (68%).
Usia f %
< 20 15 15 Tabel 5: Distribusi Frekuensi Involusi
20 – 30 61 61 Uterus pada Ibu Nifas
> 30 24 24
Involusi Uterus f %
Jumlah 100 100
Tidak Sesuai 28 28
Sesuai 72 72
Berdasarkan tabel di atas didapat-
kan dari 100 ibu nifas terdapat 15 ibu Jumlah 100 100
dengan usia < 20 tahun (15%), usia 20-30
tahun terdapat 61 ibu nifas (61%), dan > Berdasarkan tabel di atas, maka
30 tahun terdapat 24 ibu nifas (24%). diketahui bahwa responden di Kelurahan
Rajabasa Raya Kecamatan Rajabasa
Tabel 2: Distribusi Frekuensi Responden Bandar Lampung tahun 2013 didapatkan
Berdasarkan Paritas ibu nifas yang mengalami involusi uterus
sesuai yaitu sebanyak 72 responden (72%).
Paritas f %
Analisis Bivariat
Primi 41 41
Multi 59 59
Berdasarkan analisis bivariat
Jumlah 100 100
dijelaskan sebagai berikut :
Berdasarkan tabel di atas didapatkan Tabel 6: Hubungan Frekuensi Menyusui
dari 100 ibu terdapat ibu dengan primi dengan Involusi Uterus
sebesar 41%, sedangkan untuk multi
sebesar 59%. Involusi Uterus
Frekuensi Tidak Total
Sesuai
Tabel 3: Distribusi Frekuensi Responden Menyusui Sesuai
f % f % f %
Berdasarkan Pekerjaan
< 8 kali 18 56,3 14 43,7 32 100
≥ 8 kali 10 14,7 58 85,3 68 100
Pekerjaan f % Total 28 28 72 72 100 100
Bekerja 36 36 OR : 7,457 CI : 2,831-19,644 Pv : 0,000
Tidak Bekerja 64 64
Berdasarkan tabel diatas terlihat
Jumlah 100 100
bahwa dari 32 responden yang frekuensi
menyusuinya < 8 kali dalam sehari,
Berdasarkan dari tabel di atas
terdapat sebanyak 18 responden (56,3%)
didapatkan ibu yang bekerja sebesar 36%
mengalami involusi uterus tidak sesuai,
sedangkan ibu yang tidak bekerja sebesar
sedangkan dari 68 responden yang
64%.
frekuensi menyusuinya ≥ 8 kali dalam
sehari terdapat 10 responden (14,7%)
Tabel 4: Distribusi Ibu Nifas yang
mengalami involusi uterus tidak sesuai.
Menyusui
Hasil uji statistik diperoleh value =
0,000 yang berarti nilai value < 0,05,
Frekuensi Menyusui f %
maka dapat disimpulkan ada hubungan
< 8 kali 32 32 antara frekuensi menyusui terhadap
≥ 8 kali 68 68 involusi uterus pada ibu nifas di wilayah
Jumlah 100 100
[29]
Jurnal Keperawatan, Volume XI, No. 1, April 2015 ISSN 1907 - 0357

kerja Pos Kesehatan Kelurahan Rajabasa ibu. Kurang nya pengetahuan serta kurang
Raya Kecamatan Rajabasa Bandar nya informasi yang diberikan oleh tenaga
Lampung tahun 2013. Dari hasil analisis kesehatan membuat ibu tidak
didapatkan nilai OR = 7,457 (95% CI : mementingkan pemberian ASI secara
2,831-19,644) yang berarti bahwa eksklusif. Adapun upaya yang dapat
responden yang menyusuinya < 8 kali dilakukan diantaranya memberikan
sehari memiliki peluang sebanyak 7,457 penyuluhan atau informasi kepada ibu
kali untuk mengalami involusi uterus yang hamil maupun ibu nifas untuk melakukan
tidak sesuai dibandingkan dengan perawatan payudaranya agar bisa
responden yang menyusuinya ≥ 8 kali memberikan ASI, jelaskan cara menyusui
sehari. yang benar agar tidak terjadi lecet pada
puting ibu. Pada ibu yang berkerja
PEMBAHASAN anjurkan untuk tetap memberikan ASI nya
sesering mungkin apabila keadaan bayi
Frekuensi menyusui pada ibu nifas memungkinkan untuk dibawa ke tempat
bekerja ibu atau ajarkan ibu menyimpan
Berdasarkan hasil penelitian ASI, ajarkan bayi untuk diberikan ASI
diketahui bahwa responden di Wilayah tidak melalui botol untuk mencegah bayi
Kerja Pos Kesehatan Kelurahan Rajabasa bingung puting.
Raya Kecamatan Rajabasa Bandar Ibu dan bayi dapat saling membantu
Lampung tahun 2013 ibu nifas yang agar produksi ASI meningkat dan bayi
frekuensi menyusui nya < 8 kali dalam terus memberikan isapan efektifnya.
sehari, terdapat sebanyak 32 responden Sebagai tenaga kesehatan berikan
(32%). penyuluhan kepada ibu untuk sesering
Memberikan ASI pada bayi mungkin memberikan ASI minimal 8 kali
sebaiknya dilakukan sesering mungkin dalam sehari kepada bayi nya secara
atau menyusui secara tidak dijadwal (on eksklusif selama 6 bulan tanpa makanan
demand). Faktor penyebab berkurang nya tambahan lainnya. Karena banyak manfaat
frekuensi menyusui atau masalah dalam yang didapatkan oleh bayi dan ibu dengan
menyusui adalah kurang atau salah memberikan ASI sesering mungkin yaitu
informasi dari petugas kesehatan, puting salah satunya untuk mempercepat proses
susu datar, puting susu nyeri atau lecet, involusi uterus.
payudara bengkak, sindrom ASI kurang,
ibu yang berkerja, ibu yang sakit, bayi Involusi Uterus
dengan bingung puting, bayi prematur,
bayi sumbing dan bayi yang memerlukan Berdasarkan hasil penelitian
perawatan (Ambarwati, 2010). diketahui bahwa responden di Wilayah
Hasil penelitian ini sejalan dengan Kerja Pos Kesehatan Kelurahan Rajabasa
hasil penelitian yang dilakukan oleh putri Raya Kecamatan Rajabasa Bandar
di Rb Lilik Sedati, Sidoarjo didapatkan Lampung tahun 2013 ibu nifas yang
hasil penelitian dari 25 responden, 18 mengalami involusi uterus tidak sesuai
responden menyusui secara penuh (lebih yaitu sebanyak 28 responden (28%).
dari 12 kali dalam sehari) 94,4 % Involusi uterus ditandai dengan
mengalami involusi normal, dari 5 penurunan ukuran dan berat serta
responden menyusui kurang dari 8 kali perubahan pada lokasi uterus juga ditandai
dalam sehari serta PASI 60 % mengalami dengan warna dan jumlah lokia, bila uterus
involusi tidak normal, dan 2 responden tidak mengalami atau terjadi kegagalan
tidak menyusui hanya 100 % mengalami dalam proses involusi disebut dengan
involusi tidak normal. subinvolusi (Varney, 2008). Kegagalan
Pemberian ASI secara eksklusif dan dalam proses involui uterus dapat dicegah
sesering mungkin merupakan hal yang dan diatasi dengan adanya pemeriksaan
masih sulit untuk dilakukan oleh banyak pada ibu nifas serta melihat faktor yang

[30]
Jurnal Keperawatan, Volume XI, No. 1, April 2015 ISSN 1907 - 0357

dapat mempercepat involusi uterus yaitu hubungan antara frekuensi menyusui


senam nifas, mobilisasi dini, gizi, terhadap involusi uterus pada ibu nifas di
frekuensi menyusui, hormon oksitosin, wilayah kerja Pos Kesehatan Kelurahan
usia dan paritas (Yanti, 2011) Rajabasa Raya Kecamatan Rajabasa
Hasil penelitian ini sejalan dengan Bandar Lampung tahun 2013. Dari hasil
Penelitian yang dilakukan oleh Dira di RB analisis didapatkan nilai OR = 7,457 (95%
Rahayu dan BPS Sofia di Ungaran tahun CI : 2,831-19,644) yang berarti bahwa
2011, sebagian besar responden proses responden yang menyusui nya < 8 kali
involusi uterinya normal sebanyak 23 sehari memiliki peluang sebanyak 7,457
orang (76,7%). Hasil penelitian kali untuk mengalami involusi uterus yang
menunjukkan ada hubungan antara tidak sesuai dibandingkan dengan
frekuensi menyusui dengan involusi uteri responden yang menyusui nya ≥ 8 kali
( value = 0,001 < α (0,05)). sehari.
Sesuai dengan program dan Salah satu faktor penyebab
kebijakan teknis pada masa nifas paling terjadinya ibu nifas mengalami involusi
sedikit 4 kali melakukan kunjungan masa uterus yang tidak sesuai adalah kurangnya
nifas, ini dilakukan untuk menilai status frekuensi ibu untuk menyusui bayinya.
ibu, untuk mencegah, mendeteksi dan Menyusui yang paling baik adalah sesuai
menangani masalah yang terjadi pada dengan permintaan bayi (on demand)
masa nifas. Penulis berharap sebagai minimal 8 kali per hari. Bahwa dengan
tenaga kesehatan hendak nya bidan dapat isapan bayi, air susu dikeluarkan
cepat mendeteksi ibu nifas. Memastikan (Ambarwati, 2010)
involusi uterus berjalan normal, Prosesnya adalah waktu bayi
memastikan adanya kontraksi, penurunan menghisap otot-otot polos pada puting
ukuran dan berat serta perubahan pada susu terangsang, rangsangan ini oleh
lokasi pada fundus. Tidak ada tanda-tanda syaraf diteruskan ke otak, bersamaan
perdarahan yang abnormal serta tidak ada dengan pembentukan prolaktin oleh
nya tanda-tanda infeksi. Berikan hipofisis anterior, rangsangan berasal dari
penyuluhan yang dapat mempercepat isapan bayi yang dilanjutkan ke hipofisis
involusi uterus diantaranya seperti pesterior yang kemudian mengeluarkan
mobilisasi dini, senam nifas, memberikan hormon oksitosin. Melalui aliran darah,
ASI sesering mungkin dan secara ekslusif. hormon ini diangkat menuju uterus
sehingga uterus berkontraksi lebih baik
Hubungan Frekuensi Menyusui lagi, dengan demikian involusi uterus lebih
Terhadap Involusi Uterus cepat dan pengeluaran lokhea lebih lancar.
Itulah sebabnya semakin sering isapan
Berdasarkan hasil analisis tentang bayi, semakin banyak asi yang diproduksi
hubungan frekuensi menyusui terhadap dan mempercepat proses involusi uterus
involusi uterus pada ibu nifas di Wilayah (Roesli,2005).
Kerja Pos Kesehatan Kelurahan Rajabasa Hasil penelitian ini sejalan dengan
Raya Kecamatan Rajabasa Bandar hasil penelitian yang dilakukan oleh putri
Lampung tahun 2013 diketahui bahwa dari di Rb Lilik Sedati, Sidoarjo didapatkan
32 responden yang frekuensi menyusuinya hasil penelitian dari 25 responden, 18
< 8 kali dalam sehari, terdapat sebanyak responden menyusui secara penuh (lebih
18 responden (56,3%) mengalami involusi dari 12 kali dalam sehari) 94,4 %
uterus tidak sesuai, sedangkan dari 58 mengalami involusi normal, dari 5
responden yang frekuensi menyusuinya ≥ responden menyusui kurang dari 8 kali
8 kali dalam sehari terdapat 10 responden dalam sehari serta PASI 60 % mengalami
(14,7%) mengalami involusi uetrus tidak involusi tidak normal, dan 2 responden
sesuai. tidak menyusui hanya 100 % mengalami
Dari hasil uji statistik diperoleh involusi tidak normal. Hasil uji statistik
value = 0,000 yang berarti nilai value < diperoleh hasil P = 0,000 maka P < α
0,05, maka dapat disimpulkan ada
[31]
Jurnal Keperawatan, Volume XI, No. 1, April 2015 ISSN 1907 - 0357

sehingga Ho ditolak berarti ada hubungan Wilayah Kerja Pos Kesehatan Kelurahan
antara frekuensi menyusui dengan involusi Rajabasa Raya Kecamatan Rajabasa
uterus. Bandar Lampung Tahun 2013 yaitu
Dari teori dan penelitian terkait sebanyak 72 (72%). Selanjutnya
diatas maka terbukti bahwa frekuensi berdasarkan analisis statistic disimpukan
menyusui berhubungan dengan involusi bahwa terdapat hubungan yang signifikan
uterus pada ibu nifas. Seorang ibu yang antara frekuensi menyusui terhadap
frekuensi menyusuinya lebih sering atau involusi uterus pada ibu nifas di Wilayah
lebih dari 8 kali dalam sehari mempunyai Kerja Pos Kesehatan Kelurahan Rajabasa
peluang untuk mengalami involusi uterus Raya Kecamatan Rajabasa Bandar
sesuai dibandingkan dengan ibu yang Lampung Tahun 2013 ( value = 0,000).
frekuensi menyusuinya kurang dari 8 Hasil penelitian ini menyarakan agar
dalam sehari. Ibu perlu mengetahui dapat menambah bahan informasi untuk
pentingnya pemberian ASI secara efektif memberikan pelayanan yang tepat
atau sesering mungkin, jika ibu khususnya bagi tenaga medis kebidanan
mengetahui manfaat menyusui bayinya untuk mencegah bahaya komplikasi dari
sesering mungkin maka akan sangat subinvolusi uterus memberi informasi
membantu bayi dan ibunya sendiri dalam tentang pentingnya untuk memperhatikan
proses laktasi dan involusi uterus. bahwa seorang ibu yang frekuensi
menyusuinya lebih sering atau lebih dari 8
KESIMPULAN kali dalam sehari mempunyai peluang
untuk mengalami involusi uterus sesuai
Hasil penelitian ini menyimpulkan dibandingkan dengan ibu yang frekuensi
bahwa ibu yang menyusui di Wilayah menyusuinya kurang dari 8 dalam sehari.
Kerja Pos Kesehatan Kelurahan Rajabasa Selain itu Ibu-ibu nifas juga perlu
Raya Kecamatan Rajabasa Bandar mengetahui pentingnya pemberian ASI
Lampung Tahun 2013 yaitu sebanyak 68 secara efektif atau sesering mungkin.
(68%), involusi uterus pada ibu nifas di

DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, Eny Retna. 2010. Asuhan PP IBI. 2007. 50 Tahun IBI. Jakarta:
Kebidanan Nifas. Yogyakarta : Nuha PP_IBI.
Medika. 154 halaman. Putri, Rina Herlina. 2011. Hubungan
Depkes RI. 2008. Profil Kesehatan Frekuensi Menyusui dan Involusi
Indonesia 2007. Jakarta: Depkes RI Uterus Pada Ibu Nifas di RB Lilik
Dinas Kesehatan. 2011. Profil Kesehatan Sedati Sidoarjo. Tersedia
Propinsi Lampung. Data Subdin (http://share.stikesyarsi.ac.id) [3 Mei
Kesga- Lampung. 2013]
JNPK-KR (Jaringan Nasional Pelatihan Roesli, Utami. 2005. Mengenal ASI
Klinik-Kesehatan Reproduksi). 2008. Ekslusif. Jakarta:PT Pustaka
Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Pembangunan Swadaya Nusatara.
JNPK-KR/POGI. 195 halaman. Varney, Helen. 2008. Buku Ajar Asuhan
Manuaba, Ida Bagus Gede. 2010. Ilmu Kebidanan Vol. 2. Jakarta:EGC.\
Kebidanan Penyakit Kandungan dan Yanti, Damai. 2011. Asuhan Kebidanan
Keluarga Berencana untuk Masa Nifas. Bandung:PT Refika
Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC. Aditama.

[32]