Anda di halaman 1dari 9

1

YAYASAN GERAKAN INDONESIA SADAR BENCANA


SEBAGAI WADAH PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA
DI BIDANG PENANGGULANGAN BENCANA PADA ERA
DIGITAL

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi ujian akhir semester mata kuliah KU4087


Studium Generale pada semester genap tahun akademik 2019-2020

oleh

Wilson 14516019

FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN


INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2020

1
1

ABSTRAK

Yayasan Gerakan Indonesia Sadar Bencana, disingkat menjadi Graisena,


adalah lembaga sosial berbadan hukum di bidang kebencanaan yang didirikan oleh
komunitas Cocoklogi Science. Cocoklogi Science adalah komunitas yang didirikan
oleh sekumpulan orang yang mengkritik sikap “mencocok-cocokkan” peninggalan
sejarah Hindu-Buddha dengan agama Islam yang jika ditinjau linimasanya mustahil
untuk bertemu. Sekarang, Cocoklogi Science menjadi sebuah perkumpulan yang
pembahasannya lebih luas; mencakup ekonomi, isu sosial dan lingkungan, sastra,
dan meme.
Cocoklogi Science menerapkan parodi diktatorisme dan kasta di grup
supaya lebih teratur dan disiplin. Kasta yang dimaksud adalah “Ngademin”
(administrator grup Facebook Cocoklogi Science) dan rakyat jelata, disingkat
“rakjel” (anggota grup Facebook Cocoklogi Science). Meski grup ini
mengutamakan diktatorisme di atas demokrasi, grup ini tetap aktif dan bertambah
jumlah anggotanya meski sudah pernah dihanguskan oleh sekelompok orang yang
membenci komunitas ini.
Pembentukan karakter bangsa di era digital kerap dilihat sebagai sebuah
tantangan. Dengan dukungan penuh dari seluruh bagian komunitas Cocoklogi
Science, Yayasan Graisena berhasil mengolah dana sebesar ratusan juta rupiah yang
sebagian besar berasal dari anggota komunitas Cocoklogi Science. Yayasan
Graisena dan Cocoklogi Science menjadi bukti bahwa era digital bukanlah faktor
penghambat pembentukan karakter bangsa di era digital.

kata kunci: karakter bangsa, Graisena, Cocoklogi Science

1
PENDAHULUAN

Yayasan Gerakan Indonesia Sadar Bencana adalah lembaga berbadan


hukum yang memberikan pelayanan sosial di bidang kebencanaan seperti
pendidikan dan pelatihan relawan, operasi SAR (Search and Rescue), dapur umum,
serta misi khusus seperti pembangunan fasilitas pascabencana (pembangunan
rumah tahan bencana, perbaikan drainase, pembangunan fasilitas pengolahan air
bersih, dan sebagainya). Yaysan yang kerap dipanggil “Graisena” ini berdiri secara
resmi pada 7 Februari 2020 di Lemahabang, Jawa Barat. Graisena didirikan oleh
lima dari sekumpulan Administrator grup “Cocoklogi Science” di Facebook, yaitu
Subhan Nurhakim, Agung Firmansyah, Iqbal Maulana Priyono, Handy Fernandy,
dan Ranggi Ragatha.
Cocoklogi Science adalah sebuah komunitas yang didirikan di Hotel
Pardede, Puncak Bogor, pada Juli 2013. Awalnya Cocoklogi Science didirikan
untuk mengkritik sikap paranoid, fanatisme sempit, dan pengkaburan sejarah oleh
juru pelihara situs-situs purbakala yang gemar mencocok-cocokkan peninggalan
zaman prasejarah (Hindu-Buddha) dengan budaya Islam yang secara linimasa
sejarah konvensional mustahil bertemu (Boards of Ngademin CS, 2016). Seiring
dengan perkembangan zaman, Cocoklogi Science yang secara dalam jaringan aktif
di media sosial Facebook memperluas bahasannya sehingga mencakup ekonomi,
isu sosial, lingkungan, sastra, serta meme yang disebut sebagai “parodi sastra ultra
modern” (Boards of Ngademin CS, 2016).
Tahun ketujuh berdiri, Cocoklogi Science mendirikan yayasan yang
dapat menjadi jalur resmi bagi komunitas tersebut untuk menyalurkan bantuan
penanggulangan bencana. Keputusan ini mendapat dukungan sepenuhnya dari
mayoritas anggota komunitas. Makalah ini akan membahas apakah sederetan
fenomena ini merupakan wujud pengembangan karakter bangsa di kalangan
anggota komunitasnya sehingga terbentuk suatu gerakan masif berupa
pembentukan sebuah yayasan yang berkembang dengan pesat.

2
DATA

1. Metode
Penulisan makalah ini dibantu oleh beberapa metode pengambilan data,
yaitu:
a. studi literatur
Data diambil dari literatur yang berkaitan dengan komunitas Cocoklogi
Science dan Yayasan Graisena;
b. wawancara
Penulis berkesempatan untuk melakukan wawancara secara daring
dengan salah satu pendiri Yayasan Graisena yaitu Agung Firmansyah;
dan
c. observasi lapangan
Penulis menggunakan akun Facebook untuk bergabung dengan grup
Cocoklogi Science dan melakukan observasi fenomena di grup
tersebut.

2. Analisis
Cocoklogi Science adalah sebuah komunitas dalam jaringan yang cukup
unik di Indonesia, bila bukan di seluruh dunia. Alasannya adalah grup ini menganut
sistem diktatorisme eksentrik yang diinspirasi oleh Kim Jong-un dan General
Aladeen dari film “The Dictator (2012)” (Board of Ngademin CS, 2016). Makna
dari sistem ini adalah administrator grup Facebook Cocoklogi Science bertindak
sebagai diktator yang memiliki kekuasaan penuh terhadap apa yang bisa
dipublikasikan ke grup, siapa saja yang boleh bergabung ke grup, dan siapa saja
yang langsung di-“banned” (ditendang dari grup dan tidak lagi bisa mencari atau
melihat konten grup) dari grup.
Meski mempraktikkan hierarki diktatorisme, Cocoklogi Science rutin
menggalang dana untuk menyalurkan bantuan ketika terjadi bencana alam di
Indonesia. Sebagai contoh, Cocoklogi Science pernah menyumbangkan unit genset
untuk Lombok Utara pada 2018 saat terjadi gempa bumi 7,0 SR yang menyebabkan

3
4

fenomena likuefaksi tanah. Cocoklogi Science juga pernah menyumbangkan


tabung oksigen portable untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di Banjar,
Kalimantan Selatan pada 2019. Tahun ini Cocoklogi Science memberikan bantuan
sembako bagi korban longsor di Sukajaya, Bogor. Semua tindakan kemanusiaan ini
dibuat mungkin oleh Ngademin (julukan administrator grup Cocoklogi Science)
dan anggota grup Cocoklogi Science.

Gambar 1. Cocoklogi Science di Lombok Utara


sumber: dokumentasi Cocoklogi Science

Anggota grup Cocoklogi Science, yang di dalam grup dikenal sebagai


“rakyat jelata” atau “rakjel”, harus memenuhi segelintir peraturan yang ditentukan
oleh Ngademin. Salah satu peraturan yang khas dan telah memakan banyak korban
banned adalah “dilarang menanyakan arti kata ‘rakjel’ dan ‘Ngademin’”. Rasa haus
warganet akan pengetahuan mengenai berbagai hal terkadang tidak bisa dikontrol
sebaik orang yang sedang berinteraksi di dunia nyata. Akibatnya, mereka yang tidak
teliti dan membaca peraturan grup terlebih dahulu sering terkena banned tanpa
mengetahui apa-apa.
Parodi diktatorisme yang diterapkan dalam komunitas ini tecermin dalam
salah satu aturan grup yaitu “azas sukak-sukak Ngademin” yang mengizinkan
Ngademin untuk menyalahkan siapapun di grup. Hal tersebut mengundang banyak
perselisihan antara Cocoklogi Science dengan warganet lain. Semua konten yang
berada di dalam Cocoklogi Science bersifat publik yang berarti warganet yang tidak
tergabung dalam Cocoklogi Science dapat melihatnya. Rakjel baru yang tidak
5

memahami peraturan dan budaya grup seringkali terkena hujatan dari Ngademin
dan banned dari grup sehingga tidak sedikit dari mereka yang tumbuh rasa dengki
terhadap grup. Korban banned dan warganet yang tidak mengetahui parodi yang
diterapkan oleh grup memiliki rasa tidak suka yang kolektif yang mengakibatkan
hangusnya grup Facebook Cocoklogi Science secara permanen pada 2019 akibat
pelaporan fiktif masal. Itulah sebabnya meski komunitas Cocoklogi Science
didirikan pada 2013, grup Facebooknya sendiri tercatat baru berdiri pada Agustus
2019.
Sampai makalah ini ditulis, jumlah anggota grup Cocoklogi Science
mencapai 85.942 orang. Grup ini tergolong aktif karena jumlah post per harinya
mencapai 108 post, dan angka itu pun adalah post yang disetujui oleh Ngademin,
bukan jumlah post mentah yang dibuat oleh rakjel. Artinya, setiap 13 menit muncul
satu post di grup Cocoklogi Science setiap harinya.
Secara keseluruhan, setiap bulan jumlah anggota Cocoklogi Science
meningkat. Peningkatan paling pesat berada di bulan Maret 2020 karena pada saat
itu Facebook menerapkan fitur baru bagi administrator grup yaitu pilihan untuk
menerima anggota secara otomatis bila umur akun sudah lebih dari dua tahun. Tidak
hanya itu, Maret 2020 adalah awal mula Graisena aktif menyalurkan bantuan untuk
penderita COVID-19 dan keluarganya sehingga jumlah anggota meningkat pesat.

JUMLAH ANGGOTA COCOKLOGI SCIENCE


90000
80000 71738 85106
70000
Jumlah Anggota

60000 51468
50000 59362
40000 34604 34473
44927
30000 34604
20000
10000 12434
0
8 9 10 11 12 1 2 3 4
2019 2020
Bulan

Gambar 2. Jumlah Anggota Cocoklogi Science per April 2020


sumber: penelusuran data grup Cocoklogi Science oleh Agung Firmansyah
6

Indonesia sebagai negara demokrasi tentunya membuat sebagian besar


Warga Negara Indonesia menganut paham demokrasi juga. Apalagi di era digital
kebebasan berpendapat menjadi lebih marak dan dihargai daripada sebelumnya.
Lantas, pasti ada suatu hal yang menyebabkan parodi diktatorisme yang diterapkan
justru membuat Cocoklogi Science menjadi semakin populer, terlihat dari tren
jumlah anggota yang semakin meningkat setiap bulannya.
Sosok Ranggi Ragatha, salah satu Ngademin yang paling terkenal dari
Cocoklogi Science sekaligus pendiri Yayasan Graisena, dirasa menjadi tokoh kunci
yang membuat komunitas ini disegani di antara warganet Facebook Indonesia.
Ranggi Ragatha dikenal sebagai diktator sejati di Cocoklogi Science namun
memiliki jiwa bederma yang luar biasa tinggi, terbukti saat beliau membeli lukisan
Yesus Kristus untuk disumbangkan ke gereja meskipun beliau seorang Muslim.
Beliau juga yang mendanai acara “kopi darat” di Nepal bagi 15 orang yang dipilih
Ngademin, menjadikan Cocoklogi Science sebagai grup parodi berbasis media
sosial yang melaksanakan “kopi darat” tertinggi di dunia. Sifat kepeloporan, salah
satu manifestasi jiwa kebangsaan di era digital ini, yang dimiliki Ranggi Ragatha
dipercaya mampu menular ke rakjel Cocoklogi Science.
Aksi yang didasari sikap kepeloporan ini terlihat pada Yayasan Graisena
saat menghadapi pandemi COVID-19 di Indonesia. Buktinya Yayasan Graisena
menjadi lembaga sosial pertama yang menawarkan bantuan tunai kepada keluarga
yang pencari nafkah utamanya positif terjangkit COVID-19. Meski berumur belum
genap tiga bulan, Yayasan Graisena sudah dipercaya oleh para donaturnya untuk
mengolah dana sebesar ratusan juta rupiah. Dana tersebut dimanfaatkan di
antaranya untuk membeli APD bagi tenaga medis dan sembako bagi warga
Jabodetabek (episentrum wabah di Indonesia) yang kurang mampu namun tidak
berpenghasilan.
7

Aliran Kas Yayasan Graisena per 4 Mei 2020


Pemasukan Pengeluaran

400
350
Dana (juta rupiah)

300
250
200
150
100
50
0
3 4 5
Bulan ke- pada 2020

Gambar 3. Aliran Kas Yayasan Graisena per 4 Mei 2020


sumber: akuntansi Yayasan Graisena

Sifat kepeloporan yang dibawakan Ranggi Ragatha mampu


memengaruhi rakjel Cocoklogi Science. Sebagai contoh, seorang rakjel pertama
kali mengusung ide #LelangCS, yaitu aksi lelang barang pribadi yang seluruh
hasilnya disumbangkan ke Yayasan Graisena, di Cocoklogi Science. Lelang
pertama ini membuahkan hasil yang baik, yaitu sebuah kaos Cocoklogi Science,
merchandise yang diproduksi Cocoklogi Science untuk menggalang dana demi
gerakan kemanusiaan, bernilai delapan juta rupiah di akhir lelang. Gerakan
#LelangCS ini kemudian dilakukan oleh banyak anggota Cocoklogi Science
termasuk Ngademin.
Yayasan Graisena beserta aktivitasnya didukung sepenuhnya oleh rakjel
Cocoklogi Science tanpa ada unsur paksaan sekalipun dari parodi diktatorisme yang
berlaku. Yayasan Graisena menerima banyak sumbangan dari rakjel yang meliputi
namun tidak terbatas pada sebuah unit ruko tiga lantai di Cinere, sebuah mobil
Wuling Confero, dan sebuah motor Vespa Super (1979) yang kemudian dilelang
oleh yayasan. Karena demikian, meski total pengeluaran Yayasan Graisena pada
periode ketiga sumbangan tersebut dilakukan kurang dari satu milyar rupiah,
Yayasan Graisena sudah memiliki aset yang dapat langsung dimanfaatkan untuk
kebutuhan operasionalnya.
8

Kemajuan teknologi di era digital yang ditunjang oleh globalisasi tidak


menghalangi Yayasan Graisena dan komunitas Cocoklogi Science untuk merawat
dan menyebarkan karakter bangsa, secara khusus yaitu sikap kepeloporan, bagi
anggota-anggotanya. Bahkan, dengan cara yang unik, yaitu diktatorisme di atas
demokrasi, Cocoklogi Science tetap bisa bertahan sebagai sebuah komunitas dan
justru semakin berkembang. Yayasan Graisena adalah bukti nyata bahwa era digital
bukanlah penghambat pembentukan karakter bangsa.

3. Simpulan dan Saran


Berdasarkan analisis pada makalah ini, dapat disimpulkan bahwa Yayasan Graisena
adalah lembaga sosial besutan komunitas Cocoklogi Science yang mampu
memenangi tantangan era digital dan menjadi wadah pembentukan karakter bangsa
di bidang penanggulangan bencana. Adapun saran bagi Yayasan Graisena untuk
langkah ke depannya adalah mengembangkan struktur organisasi sehingga aktivitas
yayasan menjadi lebih teratur dan tenaga kerja yang diserap bisa lebih banyak.

REFERENSI
Boards of Ngademin CS. 2016. “Catatan Grup COCOKLOGI SCIENCE”. Malang:
CV. Sunrise.