Anda di halaman 1dari 13

SISTEM SIRKULASI

Oleh :
Nama : Apriyanti
NIM : B1A017151
Rombongan : VI
Kelompok :3
Asisten : Persona Gemilang

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sistem sirkulasi adalah sistem transport yang menyuplai zat-zat yang


diabsorpsi dari saluran pencernaan dan oksigen ke jaringan. Sistem sirkulasi
mengembalikan karbondioksida ke paru-paru dan produk-produk metabolisme
lainnya ke ginjal, berfungsi dalam pengaturan temperatur tubuh dan
mendistribusikan hormon-hormon dan zat-zat lain yang mengatur fungsi sel. Darah
yaitu pembawa zat-zat ini dipompakan melalui sistem tertutup yang terdapat pada
mamalia (Ganong, 1995). Darah adalah cairan dalam tubuh manusia yang beredar
melalui jantung, pembuluh arteri, kapiler dan vena. Proses peredaran darah
dipengaruhi juga oleh kecepatan darah, luas penampang pembuluh darah, tekanan
darah dan kerja otot yang terdapat pada jantung dan pembuluh darah (Jonuarti,
2013).
Sistem sirkulasi terdiri dari saluran-saluran atau ruang-ruang (rongga-
rongga) berkesinambungan yang terdapat dalam tubuh hewan yang mengangkut
cairan dan bahan padatan yang terlarut ke seluruh tubuh. Saluran dan rongga-
rongga tersebut merupakan tempat cairan mengalir untuk mengambil zat-zat yang
diperlukan tubuh dan zat-zat yang harus dikeluarkan dari tubuh. Suatu sistem
sirkulasi memiliki suatu organ pemompa cairan yang diedarkan keseluruh tubuh,
organ tersebut adalah jantung (Zug, 1993). Sistem sirkulasi terdiri dari jantung,
arteri, kapiler, vena duktus impatikus, darah, dan cairan limpa. Fungsi yang
terpenting dari sistem sirkulasi darah adalah untuk mengikat O2 dan CO2 antara alat
pernafasan dan jaringan-jaringan di seluruh tubuh, mengangkut zat makanan dari
satu tempat ke tempat lain dalam tubuh, mengangkut sisa-sisa organik dan garam
mineral yang sudah tidak berguna lagi dan mengangkut hormon di dalam tubuh,
dan mengangkut zat makanan serta air dari truncus digestivus ke organ lain (Kay,
1998).
Sistem sirkulasi darah pada ikan adalah system peredaran darah tertutup,
dan sistem peredaran darah tunggal yaitu sirkulasi dimana darah melewati jantung
hanya satu kali dalam peredaran darahnya keseluruh bagian tubuh dan darah tetap
dalam sistem tertutup (Frandson, 1996). Ikan merupakan vertebrata tertua dan
mempunyai sistem sirkulasi primitif. Jantung ikan, terdiri dari satu atrium dan satu
ventrikel, darah dipompa oleh jantung melalui bulbus arteriosus menuju aorta
ventral, kemudian aorta ventral memasuki darah vena menuju insang melalui arteri
branchial (Schmidt & Nielson, 1990).
B. Tujuan

Tujuan praktikum kali ini adalah untuk melihat jalannya peredaran darah
ikan, serta untuk dapat membedakan aliran darah vena dan arteri.
II. MATERI DAN CARA KERJA

A. Materi

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah larva ikan Gurami
(Osphronemus goramy).
Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah mikroskop, sendok,
baskom, tissue dan cavity slide.

B. Cara Kerja

1. Larva diletakkan di cavity slide.


2. Peredaran darah diamati di bawah mikroskop.
3. Gerakan darah arteri dan vena didokumentasikan dan dilampirkan dalam
lamporan
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Gambar 3.1. Mikroskopis Larva Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)


Keterangan Gambar :
1. Vena
2. Arteri
B. Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh bahwa sistem peredaran darah ikan


adalah sistem peredaran darah tertutup. Tekanan pembuluh darah arteri lebih besar
daripada tekanan pembuluh darah vena. Hal ini sesuai dengan pernyataan Storer &
Usinger (1987), yang menyatakan bahwa tekanan jantung pada pembuluh arteri
sangat kuat, sehingga dibutuhkan pembuluh darah yang besar dan diimbangi dengan
keelastisan dari dinding pembuluh darah arteri. Kecepatan aliran pembuluh arteri
pun lebih besar daripada vena. Arteri kecepatan alirannya lebih terpancar keluar
dengan deras, sedangkan untuk aliran darah vena bila terpotong akan menetes saja
karena tekanan jantung mulai menurun (Zug, 1993). Arteri akan menjadi lebih kecil
pada saat percabangan dan mempunyai fungsi membawa darah, nutrien, dan
oksigen ke jaringan, sedangkan vena adalah pembuluh eferen jantung yang
membawa hasil metabolisme karbondioksida, dan sebagainya ke dalam sistem
vaskuler (Junquiera, 1982).
Sistem peredaran darah merupakan sistem yang pertama kali terbentuk pada
perkembangan vertebrata. Vaskular yang belum sempurna pada masa embrio, akan
mengalami diferensiasi dengan epitel tabung yang akan membentuk arteri, vena,
pembuluh kapiler, dan jantung (Fish & Joshua, 2015). Sistem sirkulasi darah atau
sistem kardiovaskular pada vertebrata merupakan sistem sirkulasi tertutup. Dimana
darah beredar ke dan dari jantung melalui jejaring pembuluh-pembuluh yang luar
biasa ekstensif. Dimana terdapat organ sirkulsi darah yang terdiri dari jantung,
komponen darah dan pembuluh darah yang berfungsi memberikan dan mengalirkan
suplai oksigen dan nutrisi keseluruh jaringan tubuh yang di perlukan dalam proses
metabolisme tubuh. Sistem kardiovaskuler memerlukan banyak mekanisme yang
bervariasi agar fungsi regulasinya dapat merespons aktivitas tubuh, salah satunya
adalah meningkatkan aktivitas suplai darah agar aktivitas jaringan dapat terpenuhi.
Pada keadaan berat, aliran darah tersebut, lebih banyak di arahkan pada organ-
organ vital seperti jantung dan otak yang berfungsi memlihara dan
mempertahankan sistem sirkulasi itu sendiri (Campbell et al., 2008). Fungsi utama
sistem peredaran darah yaitu mendistribusikan metabolit dan oksigen ke seluruh sel
tubuh organisme serta mengumpulkan sisa buangan dan karbondioksida untuk
dieksresikan. Selain itu, menyelenggarakan termoregulasi dan distribusi hormon ke
tempat-tempat tertentu. Menurut Storer& Usinger (1987), menyatakan bahwa pada
prinsipnya fungsi sistem sirkulasi membawa oksigen dan karbondioksida diantara
organ respirasi dan organ jaringan, zat - zat makanan dan air dari sistem pencernaan
ke organ lain, zat - zat makanan untuk disimpan dalam organ maupun jaringan,
bahan organik dan mineral yang tidak terpakai bersama air dibawa ke organ
ekskresi, serta hormon dan kelenjar endokrin ke organ yang membutuhkan. Sistem
vaskular darah digunakan untuk pengangkutan zat (misalnya nutrisi, oksigen,
karbon dioksida), pembangkit tenaga hidrolik (misalnya kaki kepala tonjolan pada
moluska dan ereksi penis pada vertebrata), regulasi panas (misalnya melalui aliran
arus balik), ultra filtrasi (misalnya di ginjal), pertahanan (misalnya melalui
penyampaian faktor pembekuan, faktor kekebalan/sel), dan integrasi seluruh tubuh
(misalnya regulasi hormon) (Monahan-Earley et al., 2013).
Komponen penyusun dari sistem sirkulasi darah yaitu sel darah merah
(eritrosit) yaitu sel darah merah merupakan 45% dari volume darah, mengandung
hemoglobin yang membuat berwarna merah darah. Sel darah merah diproduksi
dalam sumsum tulang dan memiliki siklus hidup 100-120 hari. Sel darah
putihdikenal sebagai leukosit, leukosit membuat 1% volume total darah. Leukosit
adalah sel dari sistem kekebalan tubuh yang memberikan perlindungan bagi tubuh
dari partikel asing dan penyakit menular, berasal dari sel stem hematopoietik.
Trombosit berasal dari sel prekursor yang dikenal sebagai megakariosit dan tanpa
inti. Umur trombosit adalah 5-9 hari. Megakaryocyte adalah sel pusat di
thrombopoiesis, seri rumit yang mengatur peristiwa dimana trombosit yang
dihasilkan. Megakaryosit bersifat unik, polyploid sel hematopoietik yang hanya
ditemukan pada mamalia dan mengkhususkan diri untuk memproduksi dan
melepaskan trombosit dan prekursor trombosit langsung ke dalam sirkulasi
(Weyrich & Zimmerman, 2013). Fungsi yang paling penting dari trombosit adalah
pembekuan darah atau penggumpalan darah. Plasma darah adalah bagian cair darah
berwarna kuning, 92% terdiri dari air dan sisanya 8% terdiri dari protein plasma
(Junqiuera et al, 1995).
Sistem sirkulasi terdiri atas dua macam, yaitu sistem sirkulasi tertutup dan
sistem sirkulasi terbuka. Sistem sirkulasi tertutup yaitu darah senantiasa berada
dalam tabung kapiler, arteri dan vena. Ciri sirkulasi tertutup meliputi sistem
bertekanan tinggi yang memerlukan resistensi periferal tinggi dan dijaga
keberlanjutannya diantara denyut-denyut jantung, membutuhkan dinding yang
elastik, darah dibawa langsung ke organ, distribusi ke organ diregulasi dengan baik
dan darah kembali ke jantung dengan cepat. Adapun hewan yang memiliki sisitem
peredaran darah tertutup adalah yang diantanya yaitu katak, ikan, reptil, dan burung
(Yuwono & Sukardi, 2001). Ikan memiliki sistem peredaran darah tunggal, terdiri
dari jantung tak terbagi dengan atrium tunggal dan ventrikel tunggal secara seri
beserta insang yang digunakan dalam pertukaran oksigen (Monahan-Earley et al.,
2013). Sistem sirkulasi terbuka yaitu sebagian besar darahnya dipompa dari jantung
ke dalam saluran darah tetapi saluran darah tersebut kontak dengan region terbuka
atau sinuses dan darah mengalir secara bebas diantara jaringan sebelum akhirnya
kembali ke jantung. Sistem peredaran darah terbuka tidak dapat dibedakan antara
darah dan cairan intersisial (cairan yang mengisi ruang antarsel) karena tercampur.
Contohnya adalah arthropoda, Daphnia sp., crustacea, cacing (Lumbricus terrestris)
dan serangga seperti belalang dan lain-lain. Sirkulasi darah terbuka biasanya sistem
bertekanan rendah, darah dibawa langsung ke organ seperti pada sirkulasi tertutup,
distribusi darah kurang mudah diregulasi, darah seringkali kembali ke jantung
dengan lambat (Yuwono & Sukardi, 2001). Cacing tanah, memiliki sistem
peredaran terdiri dari cairan darah, beberapa pembuluh darah, dan jantung sebagai
pusat peredaran. Darah cacing tanah terdiri atas plasma darah dan benda darah.
Darah cacing tanah berwarna merah disebabkan oleh adanva hemoglobin yang larut
dalam plasma darah. Jantung dan saluran darahnva memiliki katup sehingga darah
tidak mengalir kembali ke jantung. Aliran darah disebabkan oleh kontraksi
lengkung jantung. Jantung memompa darah dari saluran darah dorsal ke saluran
darah ventral kemudian ke seluruh tubuh (Setyowati et al., 2010).
Ikan gurame mempunyai sistem peredaran darah tertutup dan tunggal, yaitu
darah selalu mengalir melewati pembuluh dan hanya melewati jantung satu kali
dalam sistem peredaran darah. Sistem peredaran darah pada larva ikan gurame
terdiri dari vena sinosus, atrium, ventrikel, bulbus arteriosus, jantung, arteri, dan
vena. Jenis pembuluh darah yang diamati adalah vena dan arteri. Endothelium
(dinding sel bagian dalam) pada vena (pembuluh darah pada jantung) merupakan
sel-sel yang berbentuk pipih pada sel yang normal. Endothelium pada arteri berupa
lapisan tebal yang tersusun oleh serabut-serabut halus yang bersifat elastis (Ambar,
2007). Secara alami pertumbuhan ikan gurame relatif lambat, yang diduga sebagai
konsekuensi langsung dari laju pertumbuhan somatik yang rendah. Peningkatan
daya tahan tubuh ikan yang diberi rGH dapat meningkatkan kelangsungan hidup
ikan melalui peningkatan sistem kekebalan terhadap penyakit dan stres (Fitriadi,
2014). Menurut Simanjuntak et al. (2018), ikan gurame dapat berada dalam air
tanpa melakukan sirkulasi karena ikan gurame memiliki plat labirin.
Pola aliran arteri menyebar, sedangkan pola aliran vena mungumpul.
Mengumpulnya pola aliran disebabkan semua aliran darah dari arah jaringan ke
arah jantung, sedangkan arah arteri, pola alirannya adalah menyebar, hal ini
bertujuan agar penyebaran oksigen ke seluruh tubuh dapat tersebar secara merata.
Warna pembuluh arteri lebih terang daripada pembuluh vena. Warna aliran darah
arteri merah muda karena dalam pembuluh darah kaya akan O2 dan bersih dari CO2,
sedangkan darah vena warnanya lebih tua karena kaya akan CO 2 dan sedikit O2.
(Frandson, 1996). Menurut Laglaler (1997) dalam Yustina et al. (2005), keadaan
fisiologis darah ikan sangat bervariasi, tergantung pada stadia hidup, kebiasaan
hidup dankondisi lingkungan. Tang & Affandi (2002) dalam Yustina et al. (2005),
menjelaskan bahwa bahan-bahan pengganggu seperti racun, suhu ekstrim, osmotik,
infeksi atau stimulan sosial dapat menghasilkan stress. Respon stress ini salah
satunya dapat berupa gangguan fisiologis darah. Pembuluh darah arteri dan vena
memiliki beberapa perbedaan yaitu, arteri mempunyai pola aliran darah yang
menyebar, aliran darah cepat, warna darah merah muda, arah aliran darah
meninggalkan jantung, memiliki tekanan tinggi, dinding elastis tebalmemiliki
kandungan O2 lebih banyak dan apabila terjadi luka darah akan memancar.
Pembuluh darah vena mempunyai pola aliran darah mengumpal, aliran darah lebih
lambat, darah berwarna merah tua, arah aliran menuju jantung, tekanan yang
rendah, kandungan O2 sedikit, apabila terjadi luka, maka darah akan menetes dan
dinding kurang elastis. Arteri mempunyai dinding yang kuat dan tebal tetapi
sifatnya elastis (Sugiri, 1988). Pola aliran pada vena mengumpul, hal ini
menyebabkan permukaan tubuhnya akan lebih luas sehingga alirannya lambat.
Mengumpulnya pola aliran disebabkan semua aliran darah dari arah jaringan ke
arah jantung. Pola arah arteri adalah pola aliran menyebar, hal ini bertujuan agar
penyebaran oksigen ke seluruh tubuh dapat tersebar secara merata (Soetrisno,
1981). Pembuluh darah arteri hati dan vena bermuara ke dalam hati, sedangkan
saluran empedu meninggalkan hati menuju usus. Dengan pengamatan secara
histologi saluran empedu, pembuluh darah vena dan arteri membentuk segitiga
kiernan (Pratiwi & Manan, 2015).
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa Sistem


sirkulasi pada hewan terdiri atas dua macam, yaitu sistem sirkulasi tertutup dan sistem
sirkulasi terbuka. Sistem sirkulasi pada ikan yaitu sistem peredaran darah tertutup dan
sistem peredaran darah tunggal. Perbedaan pembuluh darah arteri dan vena adalah arteri
aliran darahnya dari jantung ke seluruh tubuh, pola aliran menyebar, tekanan lebih
besar, berwarna merah muda, kecepatan alirannya cepat, mengandung banyak oksigen
dan dindingnya tebal, sedangkan vena memiliki aliran darah dari seluruh tubuh menuju
jantung, pola aliran mengumpul, tekanan lebih kecil, berwarna merah tua, kecepatan
aliran lambat, oksigen lebih sedikit dan dinding tipis.

1.
DAFTAR PUSTAKA

Ambar, R., 2007. Regenerasi Minyak Goreng Bekas dengan Arang Sekar Menekan
Kerusakan Organ Tubuh. Yogyakarta: Program Studi Teknologi Pertanian
Universitas Widya Mataram.
Campbell, N. A., Jane B., & Reece., 2004. Biologi. Jakarta: Erlangga.

Fish, J. E., & Joshua D. W., 2015. The Molecular Regulation of Arterivenous
Specification and Maintenance. Developmental Dynamics Journal, (244)1,
pp.391-409.
Fitriadi, M.W., Basuki F., & Nugroho, R.A., 2014. The Effect of Recombinant Growth
Hormone (rGH) through Oral Methods with Different Time Intervals of the
Survival and Growth of Giant Gouramy Larvae var Bastard (Osphronemus
gouramy). Journal of Aquaculture Management and Technology, 3(2), pp. 77-
85.
Frandson, R. D., 1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta: UGM Press.
Ganong, W. F., 1995. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Jonuarti, R., 2013. Analisis Aliran Darah dalam Stenosis Arteri Menggunakan Model
Fluida Casson dan Power-Law. Jurnal Ilmu Dasar, 14(2), pp.73-78.
Junquiera, Carlos, L., Carnerro, J. & Kelley, R. V., 1995. Histologi Dasar. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Kay, I., 1998. Introduction to Animal Physiology. English: Bioscientific Publisher Saint
Louis.
Monahan-Earley, R., Dvorak A. M. & Aird W. C., 2013. Evolutionary origins of the
blood vascular system and endothelium. Journal of Thrombosis and
Haemostasis, 11 (1), pp. 46–66.
Pratiwi, C. H. & Manan, A., 2015. Teknik Dasar Histologi Pada Ikan Gurami
(Osphronemus gouramy). Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 7(2), pp.
153-158.
Schmidt& Nielson, K., 1990. Animal Physiologi-Adaption and Environment Fourth
Edition. Cambridge: Cambridge University.
Setyowati, Adhelia, Dewi, H., Awik, P.D. N.& Nurlita, A., 2010.Studi Histopatologi
Hati Ikan Belanak (Mugil cephalus) di Muara Sungai Aloo Sidoarjo. Jurnal
Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 2(1),pp : 1-10.
Simanjuntak, S. B. I., Indarmawan., & Eko S. W., 2018. Impact of Fed Containing
Different Levels of Diet Supplementation Spirulina platensis on Growth,
Haematological, Body Composition and Biochemical Parameters, of Gurami
(Osphronemus gouramy). Turkish Journal of Fisheries and Aquatic Science,
(18)1, pp.681-690.
Soetrisno., 1981. Fisiologi Ternak. Purwokerto: Fakultas Peternakan Unsoed.
Storer, I.T.,& Usinger, L., 1987. General Zoology. New York: McGraw-Hill Company.
Sugiri, N. 1988. Zoologi Umum. Jakarta: Erlangga.
Weyrich, A. S. & Zimmerman G. A., 2013. Platelets In Lung Biology. Jornal of Annu
Rev Physiol, Volume 75, pp. 569–591.
Yustina, A., &Rifa S., 2005. Efek Subletal Sulfida pada Fisiologi Darah Benih Ikan Mas
(Cyprinus carpio L). Jurnal Biogenesis, 2(1),pp : 20-24.
Yuwono, E. & Sukardi, R., 2001. Fisiologi Hewan Air. 1st ed. Jakarta: CV. Sagung
Seto.
Zug, R,G., 1993. Hiperpatology.London: Academic Press Limited.