Anda di halaman 1dari 4

Epidemiologi penyakit tidak menular

“Penyakit Degeneratif STROKE”

Oleh :

Anggi Yolianda (1803029)

Baiklah disini saya akan mengambil satu contoh penyakit degeneratif yaitu penyakit
“stroke” karena dikampung saya sangat banyak sekali yang penderita penyakit stroke.
Menurut pandangan dan penilaian ttg kondisi stroke dikampung saya adalah gaya hidup serta
stress yang dihadapi masyarakat akibat beban hidup yang semakin berat dan kurangnya
aktivitas fisik secara rutin dan teratur yang mengakibatkan terkena penyakit stroke

Stroke menurut WHO merupakan penyakit neurologis umum yang menimbulkan tanda-
tanda klinis yang berkembang sangat cepat berupa defisit neurologi fokal dan global,
berlangsung selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian. Stroke terjadi
apabila pembuluh darah otak mengalami penyumbatan atau pecah yang mengakibatkan otak
tidak mendapatkan pasokan darah yang membawa oksigen sehingga terjadi kematian sel atau
jaringan otak. Pembagian stroke berdasarkan patologi anatomi dan manifestasi klinisinya
yaitu stroke non-hemoragik (iskemik) dan stroke hemoragik.

1. Angka kejadian Stroke dapat terjadi pada setiap usia, namun angka kejadian stroke
meningkat dengan bertambahnya usia. Puncak kasus stroke ada pada usia 35-60 tahun
dan kasus pada laki-laki lebih banyak dari pada wanita. Insidensinya sekitar 0,5 per
1000 pada usia sekitar 40 tahun, dan meningkat menjadi 70 per 1000 pada usia sekitar
70 tahun, sedangkan tingkat mortalitasnya mencapai 20% pada tiga hari pertama pada
hari pertama dan sekitar 25% pada tahun pertama. Kecacatan yang ditimbulkan oleh
stroke dapat berupa kecacatan jangka panjang, dimana lebih dari 40% penderita tidak
dapat diharapkan untuk mandiri dalam aktivitas kesehariannya dan 25% menjadi tidak
dapat berjalan secara mandiri.

2. Faktor risiko terjadinya stroke dapat dibedakan menjadi tiga kategori yaitu faktor
risiko yang tidak dapat dimodifikasi, terdokumentasi dengan baik dan dapat
dimodifikasi, dan kurang terdokumentasi dengan baik dan berpotensi dapat
dimodifikasi. Usia, jenis kelamin, ras, berat badan saat lahir yang rendah, dan faktor-
faktor genetik merupakan faktor risiko stroke yang tidak dapat dimodifikasi. Adapun
faktor risiko yang terdokumentasi dengan baik dan dapat dimodifikasi adalah aktivitas
fisik, hipertensi, merokok, diabetes, dislipidemia, fibrilasi atrium, dan kondisi jantung
lainnya (misalnya, sick sinus syndrome, katup jantung prostetik, kardiomiopati,
penyakit jantung katup, penyakit arteri koroner, dan endokarditis). Sedangkan
penyakit migrain dengan aura khususnya pada wanita, sindrom metabolik, konsumsi
alkohol, penyalahgunaan obat-obatan, gangguan pernafasan saat tidur,
hiperhomosisteinemia, peningkatan lipoprotein merupakan faktor risiko yang kurang
terdokumentasi dengan baik dan berpotensi dapat dimodifikasi.

3. Bagaimana Penyebaran Prevalensi stroke berdasarkan Riskesdas 2013 sebesar


12,1‰, tertinggi di provinsi Sulawesi Selatan (17,9‰) dan terendah provinsi Papua
Barat, Lampung, dan Jambi (5,3‰). Adapun prevalensi stroke adalah sebagai berikut:

 Berdasarkan kelompok  umur: >75 tahun sebesar 67,0‰, 65-74 tahun sebesar
46,1‰; 55-64 tahun sebesar 33,0‰; 45-54 tahun sebesar 16,7‰; 35-44 tahun
sebesar 6,4‰; 25-34 tahun sebesar 3,9‰; dan 15-24 tahun sebesar 2,6‰.
 Berdasarkan status ekonomi : tingkat bawah sebesar 13,1‰; menengah bawah
sebesar 12,6‰; menengah sebesar 12,0‰; menengah atas sebesar 11,8‰; dan
teratas sebesar 11,2‰.
 Berdasarkan tempat tinggal : perdesaan sebesar 11,4‰, dan perkotaan sebesar
12,7‰
 Berdasarkan tingkat pendidikan : tidak sekolah sebesar 32,8‰; tidak tamat SD
sebesar 21,0‰; tamat SD sebesar 13,2‰; tamat SMP sebesar 7,2‰; tamat
SMA sebesar 6,9‰; dan tamat D1,D3, dan Perguruan Tinggi sebesar 9,8‰.
 Berdasarkan jenis kelamin : Laki-laki sebesar 12,0‰, dan perempuan sebesar
12,1‰.

Sample Registration System (SRS) Indonesia tahun 2014 menunjukkan stroke merupakan
penyebab kematian utama, yaitu sebesar 21,1% dari seluruh penyebab kematian untuk semua
kelompok umur.

4. Pencegahan dan pengobatan :


Cara mencegah stroke yang utama adalah dengan menerapkan gaya hidup sehat.
Selain itu, kenali dan hindari faktor risiko yang ada, serta ikuti anjuran dokter.
Berbagai tindakan pencegahan stroke, antara lain :

 Menjaga pola makan, Terlalu banyak mengonsumsi makanan asin dan berlemak dapat
meningkatkan jumlah kolesterol dalam darah dan risiko menimbulkan hipertensi yang
dapat memicu terjadinya stroke. Hindari konsumsi garam yang berlebihan. Konsumsi
garam yang ideal adalah sebanyak 6 gram atau satu sendok teh per hari. Makanan
yang disarankan adalah makanan yang kaya akan lemak tidak jenuh, protein, vitamin,
dan serat. Seluruh nutrisi tersebut bisa diperoleh dari sayur, buah, biji-bijian utuh, dan
daging rendah lemak seperti dada ayam tanpa kulit.

 Olahraga secara teratur, Olahraga secara teratur dapat membuat jantung dan sistem
peredaran darah bekerja lebih efisien. Olahraga juga dapat menurunkan kadar
kolesterol dan menjaga berat badan serta tekanan darah pada tingkat yang sehat.

 Berhenti merokok, Perokok berisiko dua kali lipat lebih tinggi terkena stroke, karena
rokok dapat mempersempit pembuluh darah dan membuat darah mudah menggumpal.
Tidak merokok berarti juga mengurangi risiko berbagai masalah kesehatan lainnya,
seperti penyakit paru-paru dan jantung.

 Hindari konsumsi minuman beralkohol, Minuman keras mengandung kalori tinggi.


Jika dikonsumsi secara berlebihan, seseorang rentan terhadap berbagai penyakit
pemicu stroke, seperti diabetes dan hipertensi. Konsumsi minuman beralkohol
berlebihan juga dapat membuat detak jantung menjadi tidak teratur.

 Hindari penggunaan NAPZA, Beberapa jenis NAPZA dapat menyebabkan


penyempitan arteri dan mengurangi aliran darah.

Pengobatan stroke khusus yang diberikan pada pengidap stroke tergantung pada
jenis stroke yang dialaminya, stroke iskemik atau stroke hemoragik.

 Pengobatan stroke iskemik, Penanganan awal akan berfokus untuk menjaga jalan


napas, mengontrol tekanan darah, dan mengembalikan aliran darah.

 Pengobatan stroke hemoragik, Pada kasus stroke hemoragik, pengobatan awal


bertujuan untuk mengurangi tekanan pada otak dan mengontrol perdarahan. Ada
beberapa bentuk pengobatan terhadap stroke hemoragik, antara lain dengan
mengonsumsi obat-obatan dan operasi.

 Pengobatan TIA (Transient Ischemic Attack), Pengobatan TIA bertujuan untuk


menurunkan faktor risiko yang dapat memicu timbulnya stroke, sehingga penyakit
jantung tersebut dapat dicegah. Obat-obatan akan diberikan oleh dokter untuk
mengatasinya. Dalam beberapa kasus, prosedur operasi endarterektomi karotis
diperlukan jika terdapat penumpukan lemak pada arteri karotis.