Anda di halaman 1dari 15

SATUAN ACARA PENYULUHAN

“IMUNISASI”

Materi Penyuluhan      : IMUNISASI

Pokok Bahasan           : Mengenal imunisasi pada ibu hamil

Waktu Penyuluhan      : 30 menit

Sasaran                        : Ibu – ibu Hamil

Tanggal                       : 20 Juli 2019

Waktu                           : 10.00 WIB

Penyuluh / pembicara : Mahasiswa (Kelompok)

A.    Latar Belakang

Berdasarkan data yang diperoleh, diketahui bahwa penyakit yang sering muncul pada ibu hamil
banyak ditemukan penyakit seperti : hepatitis A, hepatitis B, Tetanus Toxoid, Meningitis,
Pneumucoccal, dan Influenza. Karena itu harus diberikan imunisasi pada ibu hamil untuk
mencegah terjadinya suatu penyakit pada calon bayi yang masih didalam kandungan.

B.     Tujuan

1.      Tujuan Umum

Ibu hamil mampu memahami dan mengerti tentang macam – macam imunisasi.

2.      Tujuan Khusus

1)      Mengetahui Pengertian Imunisasi.

2)      Mengetahui tujuan dari imunisasi.

3)      Mengetahui Jenis – jenis Imunisasi yang dianjurkan untuk ibu hamil.

4)      Mengetahui Jenis-jenis Imunisasi yang tidak dianjurkan untuk ibu hamil.

5)      Mengetahui Manfaat dari Imunisasi.

6)      Mengetahui jadwal imunisasi.


C.     Metode

1. Ceramah

2. Tanya Jawab

D.    Media

1. Laptop

2. LCD

3. Flipchart

E.      Sumber Penyuluhan

A.H. Markum ( 1997 ). Imunisasi. Edisi Kedua Fakultas kedokteran Universitas


Indonesia, Jakarta.

VIII.           Evaluasi

a.      Jelaskan pengertian imunisasi

b.      Jelaskan tujuan dari imunisasi

c.      Mengetahui Jenis – jenis Imunisasi yang dianjurkan untuk ibu hamil.

d.    Mengetahui Jenis-jenis Imunisasi yang tidak dianjurkan untuk ibu hamil.

5)      Mengetahui Manfaat dari Imunisasi.

6)      Mengetahui jadwal imunisasi.

   
F.      Kegiatan Penyuluhan

Tahap kegiatan
Media yang
No Hari / tanggal / jam Penyuluhan Kegiatan Penyuluhan Kesehatan
digunakan
Kesehatan

1.      Salam pembukaan

2.      Menjelaskan tujuan umum dan


tujuan khusus.
Rabu,30 September
Pembukaan 3.      Menyampaikan waktu yang akan
1 2015
digunakan dan mendiskusikannya Lisan
( 5 menit )
Pkl.10.00 WIB dengan peserta.

4.      Memberikan sedikit gambaran


mengenai informasi yang
disampaikan.

1.      Menjelaskan pengertian
imunisasi.

2.      Menjelaskan tujuan dari


imunisasi.

3.      Menjelaskan jenis – jenis


Memberikan
imunisasi yang di anjurkan untuk ibu
2 Pkl.10.05 WIB Penyuluhan Lisan
hamil.
( 15 menit )
4.      Menjelaskan jenis-jenis
imunisasi yang tidak dianjurkan untuk
ibu hamil.

5.      Menjelaskan manfaat imunisasi.

6.      Menjelaskan jadwal imunisasi.

1.      Memberi kesempatan kepada


peserta untuk bertanya.
Evaluasi
3 Pkl.10.20 WIB 2.      Mengklarifikasi pertanyaan Lisan
( 15 menit )
peserta dan menarik kesimpulan dari
materi yang diberikan.

4 Pkl.10.35 WIB Penutup 1.      Petugas penyuluhan Lisan


mengucapkan terima kasih atas segala
perhatiannya.
( 5 menit )
2.      Mengucapkan salam penutup

LAMPIRAN MATERI
A.    Pengertian Imunisasi

Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan


memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah
atau berbahaya bagi ibu hamil.

Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu
penyakit hanya akan memberikan untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi
lainnya.

B.     Tujuan Imunisasi

Tujuan dari diberikannya suatu imunitas adalah untuk mengurangi angka penderita suatu
penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada
penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu seperti hepatitis B,
hepatitis A, meningitis, pneumococcal, tetanus toxoid, dan influenza.

C.    Jenis – jenis Imunisasi yang di anjurkan pada Ibu Hamil

1.      Imunisasi Tetanus Toksoid (TT)

Tetanus disebabkan oleh bakteri yang masuk melalui luka terbuka dan menghasilkan
racun yang kemudian menyerang sistem saraf pusat. Penderita mengalami kejang otot serta
diikuti kesulitan menelan dan bahkan bernafas.

Tetanus khususnya beresiko pada bayi – bayi yang dilahirkan dengan bantuan dukun bayi
dirumah dengan peralatan yang tidak steril. Mereka juga beresiko ketika alat – alat yang tidak
bersih digunakan untuk memotong tali pusar dan oles – olesan tradisional atau abu digunakan
untuk menutup luka bekas potongan.

Hal ini berisiko menimbulkan infeksi oleh kuman tetanus pada ibu dan bayi hingga jiwa mereka
terancam. Rahim ibu melahirkan rentan terinfeksi kuman tetanus, sedangkan pada bayi infeksi
ini dimulai dari luka pada tali pusatnya. Bakteri Klostridium tetanus pada bayi baru lahir dapat
menimbulkan penyakit tetanus neonatorum yang dapat mengakibatkan kematian. Bakteri atau
spora tetanus tumbuh dalam luka yang tidak steril.

Semua ibu hamil harus memastikan mereka telah mendapat imunisasi tetanus toksoid (TT) untuk
menghindari jangkitan tetanus yang berisiko pada diri dan bayinya. Walaupun sudah

mendapatkan imunisasi sebelumnya, ibu membutuhkan tambahan vaksin tetanus toksoid yang
biasanya dianjurkan menjelang pernikahan. Bila terlewat, bisa diberikan saat ibu hamil sebanyak
dua kali dengan jarak 1 sampai 2 bulan. Menjelang waktu persalinan, imunisasi ini harus sudah
lengkap. Karenanya,  di masa hamil, imunisasi ini dilakukan di usia kehamilan 7 bulan,
kemudian 8 bulan, dan dapat diulangi tiga tahun kemudian. Setelah diimunisasi, ibu biasanya
mengalami  demam ringan meski sangat jarang terjadi, agak nyeri, dan sedikit bengkak pada
daerah bekas suntikan. Sesudah persalinan, ibu juga harus memastikan bahwa luka di vagina atau
perutnya (akibat sesar) dalam keadaan bersih. Begitu pula tali pusat bayinya.

 Jumlah dan Dosis Pemberian Imunisasi TT untuk Ibu Hamil yaitu Imunisasi TT untuk
ibu hamil diberikan 2 kali, dengan dosis 0,5 cc diinjeksikan intramuskuler atau subkutan
dalam.
 Waktu pemberian Imunisasi TT yaitu sebaiknya diberikan sebelum kehamilan 8 bulan
untuk mendapatkan imunisasi TT lengkap. TT 1 dapat diberikan sejak diketahui positif
hamil dimana biasanya diberikan pada kunjungan pertama ibu hamik ke sarana
kesehatan.
 Jarak pemberian Imunisasi TT yaitu imunisasi TT 1 dengan TT 2 minimal 4 minggu.

Efek samping Imunisasi TT yaitu biasanya hanya gejala – gejala ringan saja seperti nyeri,
kemerahan dan pembengkakan pada tempat suntikan. TT adalah antigen yang sangat aman dan
juga aman untuk wanita hamil. Tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil mendapatkan
imunisasi TT. Efek samping tersebut berlangsung 1 – 2 hari, ini akan sembuh sendiri dan tidak
diperlukan tindakan atau pengobatan. Tempat pelayanan untuk mendapatkan Imunisasi TT :

a)      Puskesmas / puskesmas pembantu

b)      Rumah sakit pemerintah / swasta

c)      Rumah bersalin

d)     Polindes

e)      Posyandu

f)       Dokter / bidan praktik

2.      Influenza
Sebuah penelitian terhadap 340 ibu hamil di Bangladesh yang mendapatkan suntikan
vaksin flu menunjukkan ibu-ibu tersebut memiliki bayi yang lebih tahan terhadap influenza.
Hanya ditemukan tiga kasus flu ketika usia bayi mereka masih di bawah enam bulan. “Padahal
tidak pernah terbukti sebelumnya bahwa imunisasi terhadap ibu hamil memberikan keuntungan
besar kepada bayinya. Di Amerika, hanya 14% ibu hamil yang menjalani imunisasi ini. Angka
ini terpaut tidak jauh dibandingkan di negara miskin dimana akses kesehatan terbatas. Di banyak
daerah, program ini telah banyak diberikan kepada ibu  hamil termasuk suntikan antitetanus.
Mereka seharusnya menambahkan vaksin influenza,” ujar Mark Steinhoff, Profesor Pediatrik
dari Johns Hopkins Universitiy, di Baltimore.

Menurut sebuah laporan dalam jurnal medis di Inggris tahun 2005, rata-rata kematian akibat flu
masih tinggi untuk bayi usia di bawah enam bulan. Sedangkan di Indonesia, penyakit influenza
sering dianggap biasa. Padahal bisa mengganggu kesehatan ibu dan janin. 

- Waktu pemberian imunisasi influenza ini sebaiknya di berikan pada trimester kedua atau
ketiga kehamilan.
- Efek samping dari imunisasi influenza yaitu ibu mengalami demam ringan, bengkak, dan
kemerahan di daerah bekas suntikan.

Lakukan imunisasi saat tubuh benar-benar dalam keadaan sehat. Setelah melakukan imunisasi,
lakukan cukup istirahat, makan  makanan bergizi, dan jangan dekati orang yang sedang terkena
influenza karena akan mudah tertular. Sempatkanlah memeriksakan diri ke dokter jika ibu
mengidap flu untuk memastikan flu tersebut tidak membahayakan.

3.      Hepatitis B

Umumnya seseorang tidak langsung menyadari bahwa dirinya terinfeksi virus hepatitis
B. Bahayanya, janin bisa ikut tertular ketika menjalani proses kelahiran. Karenanya, imunisasi
hepatitis B sangat perlu bagi ibu hamil. Bayi baru lahir pun diwajibkan segera mendapat
imunisasi Hepatitis B.

Vaksin Hepatitis B terbuat dari bahan rekombinan yaitu vaksin yang dibuat dengan bahan
rekayasa genetika sehingga menyerupai virus Hepatitis B. Vaksin ini aman diberikan kepada ibu
hamil.

Waktu pemberian imunisasi ini adalah pada kehamilan bulan pertama, kedua, dan keenam.

Ibu hamil akan diperiksa kadar HbsAg dan Anti-Hbs-nya (reaksi antigen-antibodi). Jika hasil
Anti-HbsAg-nya positif, ibu tak perlu imunisasi lagi karena sudah mempunyai zat
antobodi/kekebalan hepatitis B.
Efek samping dari imunisasi hepatitis B yaitu timbulnya demam ringan dan nyeri pada bekas
suntikan. Bila tidak ada infeksi dan belum mempunyai antibodi, maka vaksin hepatitis B dapat
diberikan kepada ibu hamil.

4.      Meningococcal

Vaksin pencegah meningitis atau radang selaput otak ini terbuat dari bakteri
meningococcal yang sudah mati/tidak aktif sehingga aman untuk ibu hamil. Apabila ibu hamil
menderita meningitis, maka kumannya pun dapat menjalar ke otak janin. Waktu pemberian
imunisasi ini sebaiknya diberikan setelah trimester pertama untuk menghindari risiko umum
yang terjadi pada kehamilan trimester pertama seperti keguguran.

Sebaiknya, lakukan imunisasi ini saat tubuh benar-benar sehat meski pada beberapa orang hanya
akan muncul demam ringan. Studi mengenai pemberian imunisasi ini pada ibu hamil memang
belum pernah menunjukkan adanya efek merugikan bagi sang ibu maupun bayinya. Jadi,
imunisasi Meningococcal bisa diberikan, terutama bagi ibu hamil yang terindikasi akan terpapar
virus tersebut. Misalnya, mereka yang berencana melakukan perjalanan ke negara-negara dengan
risiko terpapar virus meningococcal. Meski begitu, pemberian imunisasi ini tetap harus
didasarkan pada indikasi, serta turut pula memperhitungkan faktor risiko dan keuntungannya.

5.      Hepatitis A

Dalam Panduan Pemberian Imunisasi bagi Wanita Hamil dan Menyusui (dikeluarkan
CDC) disebutkan, keamanan pemberian imunisasi Hepatitis A masih belum bisa dipastikan.
Namun, karena vaksin ini dibuat dari virus mati atau tidak aktif, secara teoritis risiko janin
terpengaruh sangat rendah. Jadi, imunisasi ini bisa diberikan pada ibu hamil, jika ada indikasi
berisiko tinggi terkena penyakit tersebut.

Misalnya,memiliki kelainan hati, hidup di lingkungan yang berisiko terinfeksi Hepatitis A, sering
berada di Tempat Penitipan Anak (TPA), atau akan bepergian ke negara dimana penyakit ini
menjadi endemis.

6.      Imunisasi Pneumococcal

Imunisasi Penumococcal wajib dilakukan pada calon ibu yang punya risiko tinggi terkena
penyakit pneumococcal. Kondisinya mencakup punya masalah sistem pernapasan atau asma,
memiliki penyakit diabetes mellitus, penyakit kardiovaskular, gagal ginjal kronis, asplenia dan
kelainan jantung, kondisi melemahnya sistem imun seperti HIV, Lymphoma, Leukimia.

Vaksin pneumokokus diberikan sebagai injeksi tunggal pada ibu hamil. Vaksin ini disuntikkan
sebagai solusi cair 0,5 ml kedalam otot (intramuskular atau IM), otot deltoid biasanya, atau
dibawah kulit (subkutan atau SC).
Efek samping dari imunisasi pneumokokkus yaitu rasa sakit atau kemerahan ditempat suntikan,
demam, ruam dan reaksi alergi.

7.      Imunisasi Tetanus – Difteri - Polio

Ini adalah daftar imunisasi pada ibu hamil yang harus dilakukan. Hal ini berfungsi untuk
melindungi bayi yang akan baru lahir nanti terkena tetanus neonatorum dan juga melindungi ibu
dari resiko tetanus apabila terjadi luka. Imunisasi ini biasanya diberikan pada waktu trisemester
pertama kehamilan.

D.    Jenis – jenis Imunisasi yang tidak dianjurkan pada Ibu Hamil.

1.      Mumps, Measles, Rubella (MMR)

Vaksin MMR diberikan untuk mencegah penyakit campak, gondong, dan rubella. MMR
ini adalah salah satu jenis vaksin aktif yang dapat beresiko menyebabkan bayi lahir cacat,
kelainan mental, bahkan kematian. Karena itu, ibu hamil hanya diperbolehkan menerima vaksin
pasif. Selain itu, ibu hamil yang tengah terpapar penyakit ini akan makin parah jika diberi vaksin.
Mengetahui dampak negatif pada ibu hamil maka sebaiknya imunisasi ini diberikan pada masa
perencanaan kehamilan atau sebelum kehamilan. Jarak pemberian vaksin dan kehamilan
sebaiknya tiga bulan.

2.      Human Papiloma Virus (HPV)

Vaksin HPV bertujuan mencegah penyakit kanker mulut rahim atau serviks. Vaksin yang
menggunakan virus hidup ini tidak aman bagi ibu hamil karena dapat menyebabkan efek buruk
bahkan juga pada janin.

3.      Varicella

Vaksin variecella ini bermanfaat untuk mencegah penyakit cacar air. Virus dalam vaksin
ini dapat menginfeksi janin karena merupakan virus hidup atau aktif. Karena itu, vaksin ini
sebaiknya diberikan sebelum kehamilan. Jarak pemberian vaksin dan kehamilan sebaiknya
minimal satu bulan.

4.      Bacillus Calmette Guerin (BCG)

Vaksin BCG bertujuan mencegah penyakit Tuberkulosis (TB). Ibu hamil tidak
diperkenankan menerima vaksin BCG karena menggunakan virus aktif sehingga memiliki efek
samping pada ibu hamil dan janinnya.

E.     Manfaat Imunisasi Ibu Hamil.

1.      Manfaat Imunisasi TT.


Manfaat dari imunisasi TT yaitu :

a. Melindungi bayi baru lahir dari tetanus neonatorum (BKKBN, 2005; Chin, 2000).
Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia
kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh clostridium tetani, yaitu kuman yang
mengeluarkan toksin (racun) dan menyerang sistem saraf pusat (Saifuddin dkk, 2001).

b.      Melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka (Depkes RI, 2000).

2.      Manfaat Imunisasi Influenza.

Manfaat dari imunisasi influeza yaitu untuk melindungi dirinya dan calon


anaknya dari penyakit influenza.

3.      Manfaat Imunisasi Hepatitis B.

Manfaat dari imunisasi hepatitis B yaitu untuk mencegah janin dari virus hepatitis
B. Dan manfaat lain dari imunisasi hepatitis B yaitu mencegah penyebaran hepatitis B.

4.      Manfaat Imunisasi Meningococcal.

Manfaat dari imunisasi meningococcal bagi ibu hamil yaitu untuk menghindari
risiko terkena virus meningitis atau radang selaput otak. Imunisasi ini juga bisa di berikan
terutama bagi ibu hamil yang terindikasi akan terpapar virus meningitis.

5.      Manfaat Imunisasi Hepatitis A.

Manfaat dari imunisasi hepatitis A bagi ibu hamil yaitu untuk mencegah janin dari
infeksi virus hepatitis A, jadi ibu hamil yang diberikan imunisasi hepatitis A ini hanya
sebagian ibu hamil yang memiliki kelainan hati

6.      Manfaat Imunisasi Pneumococcal.

Manfaat dari imunisasi Pneumococcal bagi ibu hamil yaitu untuk mencegah risiko
janin terkena virus pneumococcal dan menghindarkan janin terkena penyakit jantung,
asthma, diabetes melitus dan gagal ginjal kronis.

7.      Manfaat Imunisasi DPT.

Manfaat dari imunisasi DPT bagi ibu hamil yaitu untuk melindungi bayi yang
akan baru lahir nanti terkena tetanus neonatorum dan juga melindungi ibu dari resiko
tetanus apabila terjadi luka.
F.     Jadwal Imunisasi Pada Ibu Hamil

1)      Jadwal Imunisasi TT

Imunisasi TT I        : Segera setelah ada tanda kehamilan dan pada saat pendaftaran   nikah

Imunisasi TT II       : Satu bulan setelah TT I

Jadwal Imunisasi TT Long Life

No TT Interval Lama Perlindungan

1 Imunisasi TT I Suntikan Pertama 4 minggu

4 minggu setelah suntikan


2 Imunisasi TT II 6 bulan
pertama

6 bulan setelah suntikan


3 Imunisasi TT III 1 tahun
kedua

4 Imunisasi TT IV 1 tahun dari suntikan ketiga 5 tahun

1 tahun dari suntikan


5 Imunisasi TT V 25 tahun
keempat

2)      Jadwal Imunisasi Influenza

         Pemberian Imunisasi Influenza diberikan pada Trimester kedua atau Trimester ketiga
kehamilan.

3)      Jadwal Imunisasi Hepatitis B

         Waktu pemberian imunisasi Hepatitis B diberikan pada kehamilan bulan pertama, kedua,
dan keenam. Ibu hamil akan diperiksa kadar HbsAg dan Anti Hbs nya (reaksi antigen –
antibodi). Jika hasil Anti Hbs nya positif, ibu tak perlu imunisasi lagi karena sudah mempunyai
zat antibodi / kekebalan hepatitis B. Biasanya setelah imunisasi, timbul demam ringan dan nyeri
bekas suntikan. Bila tidak ada infeksi dan belum mempunyai antibodi, maka vaksin hepatitis B
dapat diberikan kepada ibu hamil.

4)      Jadwal Imunisasi Meningococcal

         Imunisasi ini sebaiknya diberikan setelah trimester pertama untuk menghindari resiko
umum yang terjadi pada kehamilan trimester pertama seperti keguguran. Sebaiknya lakukan
imunisasi saat tubuh benar – benar sehat meski pada beberapa orang hanya akan muncul demam
ringan. Studi mengenai pemberian imunisasi ini pada ibu hamil memang belum pernah
menunjukkan adanya efek merugikan bagi sang ibu maupun bayinya. Jadi, imunisasi
meningococcal bisa diberikan, terutama bagi ibu hamil yang terpapar virus tersebut. Misalnya,
mereka yang berencana melakukan perjalan ke negara – negara dengan resiko terpapar virus
meningococcal. Meski begitu, pemberian imunisasi ini tetap harus didasarkan pada indikasi,
serta turut pula memperhitungkan faktor resiko dan keuntungannya.

5)      Jadwal Imunisasi Hepatitis A

         Imunisasi Hepatitis A ini diberikan pada kehamilan bulan pertama, kedua, dan keenam dan
Ibu hamil yang terindikasi atau beresiko tinggi terkena penyakit tersebut. Misalnya, memiliki
kelainan hati, hidup di lingkungan yang beresiko terinfeksi Hepatitis A, sering berada di Tempat
Penitipan Anak (TPA), atau akan berpergian ke negara dimana penyakit ini menjadi endemis.

6)      Jadwal Imunisasi Pneumococcal

         Jadwal pemberian Imunisasi Pneumococcal pada trimester pertama kehamilan. Imunisasi
ini di indikasikan pada ibu hamil yang beresiko tinggi terkena virus tersebut, jika tidak beresiko
tinggi imunisasi ini tidak perlu diberikan.

7)      Jadwal Imunisasi DPT

         Pemberian imunisasi pada ibu hamil di berikan pada ibu hamil yang bekerja di Tempat
Penitipan Anak di mana banyak terdapat kasus pertusis. Imunisasi ini hanya di indikasikan pada
ibu hamil yang kemungkinan terpapar penyakit pertusis atau batuk rejan. Pemberian imunisasi
ini dapat dipertimbangkan jika tidak perlu, maka imunisasi ini boleh tidak dilakukan

DAFTAR PUSTAKA
Kusmiyati.2010.Perawatan Ibu Hamil.Yogyakarta : Fitramaya

http://klinikanakonline.com/2014/09/29/kenali-imunisasi-pada-ibu-hamil-yang-dianjurkan-dan
dilarang/ diunduh pada tanggal 29 september 2014

http://mdqyudh.blogspot.com/2009/11/imunisasittpadaibuhamil/ diunduh tanggal 31 mei 2012,


21.10 PM
SATUAN ACARA PENYULUHAN IMUNISASI PADA IBU HAMIL

Disusun oleh :
1. Intan sari ( 59 )
2. Evina dian r. ( 60 )

PRODI D3 KEPERAWATAN BLORA


POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
TAHUN 2019/2020