Anda di halaman 1dari 21

GADAR

JURNAL ICU

NAMA : INDAH TRI WAHYANTI


NIM : PO.62.20.1.18.056

DIII KEPERAWATAN REGULER XXI B


POLTEKKES KEMENKES PALANGKA RAYA
TAHUN AJARAN 2020
Tugas Pengganti UTS
Prodi D III Keperawatan Kelas Reguler 21 B
1. Membuat resume jurnal penelitian ilmiah dengan ketentuan sbb :
a. Terdiri dari minimal 2 buah jurnal dengan tema yang serupa
b. Tema utama tentang kebencanaan dan keperawatan pada kondisi kritis dan ICU.
c. Jurnal bisa dari penelitian dari dalam negeri atau luar negeri
d. Jurnal minimal diterbitkan dalam 5 tahun terakhir (2015 keatas)
2. Outline penulisan yaitu :
a. Pendahuluan
 Latar belakang
 Tujuan
b. Resume jurnal
 Rangkuman isi jurnal
 Pembahasan isi jurnal
c. Kesimpulan
3. Hasil penulisan dibuat dalam format MS word
4. Jurnal rujukan dilampirkan
5. Dikumpulkan ke Koordinator kelas MK kep Gawat Darurat
6. Hasil dari gabungan file dikirim melalui email ke nurse.wijaya@gmail.com
7. Batas pengumpulan 18 April 2020
Volume 2, Agustus 2018 Sasono Mardiono

TINGKAT KECEMASAN KELUARGA TERHADAP PERUBAHAN STATUS


KESEHATAN PADA PASIEN KRITIS DI RUANG RAWAT INAP INTENSIF CARE
UNIT (ICU) RUMAH SAKIT PELABUHAN PALEMBANG TAHUN 2017

Sasono Mardiono

STIK Bina Husada Palembang, Program Studi Ilmu Keperawatan


sasonomardiono@rocketmail.com

ABSTRAK
Latar belakang: Keluarga umumnya akan mengalami perubahan perilaku dan emosional ketika
mendampingi pasien dirumah sakit, Berbagai Perubahan yang terjadi akibat kondisi kesehatan dan
pengobatan yang dilaksanakan pada Pasien khususnya yang di rawat di Ruang ICU akan
menimbulkan reaksi psikologis seperti kecemasan terutama ketika pasien menghadapi kondisi kritis
yang dapat mengancam kehidupan. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui tingkat kecemasan
keluarga terhadap perubahan status kesehatan pada pasien kritis di ruang Intensive Care Unit (ICU) di
RS. Pelabuhan Palembang Tahun 2017. Metode penelitian: Menggunakan desain penelitian kualitatif
dengan pendekatan fenomenologis, informan penelitian berjumlah 5 orang yaitu anggota keluarga inti
yang menunggu pasien kritis dan 1orang perawa perawat pelaksana. Teknik pengambilan data dengan
wawancara mendalam. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 02 s/d 30 Mei 2017 di Rumah Sakit
Pelabuhan Palembang. Hasil penelitian: Didapatkan beberapa tema yaitu Pengetahuan Keluarga,
Sikap dan respon perubahan status kesehatan pasien, mekanisme koping keluarga terhadap
kecemasan, harapan keluarga dalam proses perawatan pasien kritis, Kecemasan keluarga inti tiap
individu berbeda-beda dimana ada individu yang mengatakan sedih, tidak bisa tidur, pusing
merupakan karakteristik tingkat kecemasan sedang dan ada juga kecemasan berat seperti merasa akan
kehilangan, gelisah, bingung, tidak bisa berpikir panjang dan pikiran kacau Kesimpulan: Respon-
respon yang muncul masih mengarah pada respon kecemasan adaftif dan belum mengarah ke mal
adaptif.

Kata Kunci : Pasien Kritis, Kecemasan, Harapan Keluarga

ABSTRACT
Background: Families will generally experience behavioral and emotional changes when
accompanying patients in a hospital, Various changes that occur due to health conditions and
treatment carried out on patients especially those treated in the ICU will cause psychological reactions
such as anxiety, especially when patients face critical conditions can be life threatening. Research
objective: To determine the level of family anxiety towards changes in health status in critical patients
in the Intensive Care Unit (ICU) in the hospital. Palembang Port in 2017. Research Methods: Using a
qualitative research design with a phenomenological approach, there were 5 research informants,
namely core family members who were waiting for critical patients and 1 nurse implementing nurse.
Data collection techniques with in-depth interviews. The study was conducted on 02 to 30 May 2017
at the Palembang Port Hospital. The results of the study: Obtained several themes namely Family
Knowledge, Attitudes and responses to changes in the patient's health status, family coping
mechanisms for anxiety, family expectations in the process of critical patient care, anxiety of the
nuclear family of each individual is different where there are individuals who say sad, unable to sleep ,
dizziness is a characteristic of moderate anxiety levels and there is also severe anxiety such as feeling
lost, restless, confused, unable to think long and chaotic thoughts. Conclusion: The response-response
that appears still leads to an adaptive anxiety response and has not yet led to an Mall adaptive.

Keywords: Critical Patients, Anxiety, Family Expectations

Jurnal ‘Aisyiyah Medika | 121


Volume 2, Agustus 2018 Sasono Mardiono

PENDAHULUAN trauma, cedera kepala, cedera kepala,


Unit Perawatan Kritis (Intensif Care kegawatan obstetric, keracunan, penyakit-
Unit) adalah suatu bagian dari Rumah penyakit koroner akut, dan lain-lain
Sakit yang terpisah dengan staf khusus dan (Musliha, 2010).
peralatan khusus, ditujukan untuk Dalam sebuah unit keluarga,
observasi, perawatan dan terapi pasien- penyakit yang diderita salah satu anggota
pasien yang menderita penyakit, cidera keluarga akan mempengaruhi salah satu
atau penyakit-penyakit yang mengancam atau lebih anggota keluarga dan dalam hal
jiwa atau potensial mengancam jiwa. tertentu, akan mempengaruhi anggota
Pasien kritis adalah pasien dengan keluarga yang lain (Friedman, 2008).
perubahan patofisiologi yang cepat Kondisi sakit tidak dapat dipisahkan
memburuk yang mempunyai intensitas dari peristiwa kehidupan.Pasien dan
defek fisiologis satu organ ataupun keluarganya harus menghadapi berbagai
mempengaruhi organ lainnya sehingga perubahan yang terjadi akibat kondisi sakit
merupakan keadaan kritis yang dapat dan pengobatan yang dilaksanakan.
menyebabkan kematian (Musliha, 2010) Keluarga umumnya akan mengalami
Pasien yang membutuhkan perubahan perilaku dan emosional. Setiap
perawatan intensif sering memerlukan orang mempunyai reaksi yang berbeda-
dukungan obat dan alat terhadap beda terhadap kondisi sakit atau terhadap
ketidakstabilan hemodinamik, jalan napas ancaman penyakit. Penyakit yang berat,
atau gangguan pernapasan dan atau gagal terutama yang dapat mengancam
ginjal, kadang ketiga-tiganya.Perawatan kehidupan, dapat menimbulkan perubahan
intensif biasanya hanya disediakan untuk perilaku yang lebih luas, seperti
pasien-pasien dengan kondisi yang kecemasan, syok, penolakan, marah. Hal
potensial reversibel atau mereka yang tersebut merupakan respon umum yang
memiliki peluang baik untuk bertahan disebabkan oleh stress (Potter & Perry,
hidup.Karena penyakit kritis begitu dekat 2010).
dengan “kematian”, dan intervensi yang Kecemasan adalah kebingungan,
diberikan sangat sulit diprediksi kekhawatiran terhadap sesuatu yang akan
(Murdiyanto, 2009). terjadi dengan penyebab yang tidak jelas
Penyakit atau kasus-kasus yang dan dihubungkan dengan perasaan yang
umum terjadi di Intensif care Unit (ICU) tidak menentu dan tidak berdaya dan
seperti gagal nafas, syok, sepsis, post kecemasan tidak dapat dihindarkan dalam
operasi mayor, gagal multi organ, multipel kehidupan sehari-hari (Susilawati, 2008).

Jurnal ‘Aisyiyah Medika | 122


Volume 2, Agustus 2018 Sasono Mardiono

Gangguan kecemasan merupakan tentang analisis tingkat kecemasan


masalah kesehatan pada umumnya dan keluarga terhadap perubahan status
masalah kesehatan jiwa pada khususnya. kesehatan pada pasien kritis di ruang
Berdasarkan World Health Organization Intensif Care Unit (ICU) RS. Pelabuhan
(WHO) menyatakan bahwa tahun 1997 Palembang.
sebagai tahun kesehatan jiwa,
pertimbangan ini berdasarkan studi Bank METODE PENELITIAN
Dunia yang menyatakan bahwa gangguan Desain penelitian yang digunakan
kesehatan jiwa khususnya kecemasan adalah penelitian kualitatif dengan
merupakan penyebab utama hilangnya pendekatan fenomenologi. Penelitian
kualitas hidup manusia (Ibrahim, 2012). kualitatif merupakan suatu penelitian yang
Di Indonesia, masalah Gangguan bersifat eksploratif terhadap suatu gejala
kesehatan jiwa berupa gangguan atau fenomena (fenomenologisme) yang
kecemasan dan depresi pada orang dewasa memberikan gambaran informatif dari
secara nasional mencapai 11,6 persen. keadaan yang menjadi faktor kausatif
Populasi orang dewasa mencapai sekitar fenomena tersebut. Penelitian kualitatif
150 juta. dengan demikian ada 1.740.000 merupakan penelitian formatif secara
orang di Indonesia yang mengalami khusus untuk memperoleh informasi yang
gangguan mental emosional. mendalam mengenai pengalaman anggota
Masuknya pasien ke dalam ICU akan keluarga dan perawat dalam tingkat
mengubah homeostatis psikologis keluarga kecemasan keluarga terhadap perubahan
seperti rasa takut yang nyata tentang status kesehatan pada pasien kritis di ruang
kematian, pengaruh terhadap anggota Intensif Care Unit Rumah Sakit Pelabuhan
keluarga yang dirawat dirasakan oleh Palembang. Populasi pada penelitian ini
keluarga. Keluarga mengalami banyak adalah seluruh anggota keluarga yang
krisis yang sama pada pasien perawatan menunggu dan perawat pasien kritis di
kritis. Mereka sering bingung dan ruang Intensif Care Unit Rumah Sakit
ketakutan dan merasa sangat tidak berdaya Pelabuhan Palembang. Jumlah informan
pada kemampuan mereka untuk dalam penelitian kualitatif tidak dapat
mengintervensi dan membantu pasien ditentukan, tetapi menurut Moleong
(Hudak & Gallo, 2007). (2004), jumlah informan yang digunakan
Berdasarkan Uraian yang telah adalah rentang 4-10 informan dengan
disampaikan diatas Maka peneliti tertarik melihat apakah data sudah tersaturasi,
untuk menggali informasi lebih mendalam apabila informan mencapai titik saturasi,

Jurnal ‘Aisyiyah Medika | 123


Volume 2, Agustus 2018 Sasono Mardiono

maka peneliti menghentikan pencarian dalam penelitian ini untuk mengeksplorasi


informan. Dalam penelitian ini peneliti secara mendalam karakteristik-
menetapkan jumlah informan sebanyak 6 karakteristik subjektif dalam tingkat
orang yaitu keluarga inti yang menunggu kecemasan terhadap perubahan status
pasien kritis dan perawat di Ruang Intensif kesehatan pasien kritis. Bentuk pertanyaan
Care Unit Rumah Sakit Pelabuhan yang diajukan selama wawancara adalah
Palembang. Penelitian ini dilakukan di open ended question (pertanyaan terbuka).
Ruang Intensif Care Unit Rumah Sakit Bentuk pertanyaan terbuka ini berdasarkan
Pelabuhan Palembang tahun 2017. fenomena dilapangan dan berdasarkan
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 02 studi literatur bahwa informasi yang digali
s/d 30 Mei 2017. Informan ditentukan bersifat mendalam sesuai dengan sudut
dengan purposive sampling dengan teknik pandang informasi sehingga informan
convenience sampling. Purposive memiliki kebebasan memberikan
sampling informasi. Alat pengumpulan data dalam
yaitu informan yang mempunyai penelitian ini adalah peneliti sendiri,
karakteristik sesuai dengan tujuan perekam wawancara, catatan lapangan,
penelitian.Convenience sampling yaitu pedoman wawancara dan alat untuk
informan yang mempunyai karakteristik merekam. Dalam pengumpulan data
yang sesuai dengan yang diinginkan dimulai setelah mendapat izin dari
peneliti yaitu : keluarga yang bersangkutan baik secara
1) Anggota keluarga inti yang menunggu lisan maupun tulisan. Selanjutnya peneliti
pasien kritis di ruang Intensif Care bekerja sama dengan anggota keluarga
Unit untuk memilih calon informan. Dalam
2) Usia informan 17 tahun keatas. pengumpulan data dilakukan tahap berikut
3) Menyatakan kesediaannya ini :
sebagai responden. a. Tahap persiapan
Untuk Perawat : Peneliti mewawancarai calon
1) Perawat bekerja di ruang Intensif Care informan sesuai dengan waktu dan tempat
Unit RS.Pelabuhan Palembang. yang telah disepakati. Peneliti menjelaskan
2) Perawat yang bersedia menjadi maksud dari kunjungan dan tujuan
responden. penelitian untuk mendapatkan gambaran
Dalam wawancara ini metode yang yang utuh dan mendalam tentang analisis
digunakan adalah teknik wawancara tingkat kecemasan keluarga terhadap
mendalam (indepth interview) dan catatan perubahan status kesehatan pada pasien
lapangan. Wawancara mendalam dipilih | 124
Jurnal ‘Aisyiyah Medika
Volume 2, Agustus 2018 Sasono Mardiono

kritis Wawancara dilakukan lebih kurang yang mirip dengan fenomena yang diteliti /
selama 30 menit dengan tempat yang telah kemudian mempersiapkan informan untuk
disepakati peneliti dan informan sebanyak menjelaskan kembali pengalaman
4 kali tatap muka dalam pengumpulan data kecemasan keluarga terhadap perubahan
menggunakan alat bantu yang berupa status kesehatan pada pasien
catatan dan alat untuk merekam untuk kritis.Kegiatan wawancara diakhiri pada
membantu kelancaran pengumpulan data. saat informasi yang dibutuhkan telah
Pada kunjungan ini peneliti membina diperoleh sesuai dengan pertanyaan pada
hubungan saling percaya dengan informan pedoman wawancara.
dan meyakinkan bahwa identitas dan Pendokumentasian hasil wawancara
informasi informan dijaga kerahasiaannya dilakukan pada hari yang sama dengan
dan proses penelitian tidak memberikan hasil akhir berupa transkrip hasil
dampak negatif kepada calon informan. wawancara. Dalam pendokumentasian
Pembicaraan dimulai dari topik yang peneliti memutar kembali hasil wawancara
umum meliputi biodata calon informan dan dan menulis seluruh hasil rekaman apa
memberikan kesempatan kepada informan adanya.
untuk bertanya. Selanjutnya mengisi Dalam pengolahan data dalam
Lembar Informed Consent (Lembar penelitian ini dengan pendokumentasian
Persetujuan) data dengan menata data-data hasil
b. Proses pengumpulan data wawancara berupa kaset rekaman dan
Pada kunjungan kedua, peneliti catatan lapangan.Langkah berikutnya
mengunjungi informan sesuai dengan adalah pemberian kode untuk
kontrak yang telah disepakati. Peneliti memudahkan peneliti dalam analisis data
menyiapkan alat bantu pengumpulan data, untuk membedakan informasi dalam
kemudian melakukan wawancara masing-masing informan.Pemberian kode
mendalam. Wawancara mendalam dilakukan dengan melakukan garis bawah
dilakukan dengan menanyakan sesuai pada transkrip hasil pada kata-kata kunci
dengan pertanyaan yang telah disusun dan pemberian kode.Misalnya kode 1 –I
dalam pedoman wawancara. Peneliti dalam pada informan satu dan 1 – 2 pada
melakukan wawancara mengikuti arah informan kedua dan seterusnya.
pembicaraan yang dilakukan informan. Dalam prosedur analisa data
Pada saat meneliti menentukan informan penelitian ini dilakukan dengan membaca
yang tidak dapat memberikan informasi hasil transkrip wawancara secara berulang-
maka peneliti memberikan ilustrasi khusus ulang dan diteliti untuk mendapatkan

Jurnal ‘Aisyiyah Medika | 125


Volume 2, Agustus 2018 Sasono Mardiono

pemahaman tentang fenomena yang memerlukan bantuan semua berarti kan


dialami keluarga pada perawatan kritis, kritis. Harus di bantu dengan oksigen, gak
bisa kalo gak bantu dengan oksigen, kan
Selanjutnya peneliti mengidentifikasi kata kritis itu mbak..” (I-2)
kunci pada setiap kalimat dan memberi “kritis tu yo dak pacak benafas,
tanda garis bawah. Selanjutnya peneliti sesak nafas nak,cak itulah..”(I-3)
“pasien kritis tu..ee..pasiennyo idak
melakukan interpretasi atau mengambil arti
sadar-sadar. Terus kondisinyo tu kadang
kata kunci yang merupakan pernyataan stabil kadang idak” (I-4).
informan yang signifikan untuk Hal ini sejalan dengan pernyataan
menentukan kategori selanjutnya kategori- perawat pelaksana Intensif Care Unit
kategori dikelompokkan dalam tema. Rumah Sakit Pelabuhan Palembang tahun
Selanjutnya peneliti mengelompokkan 2016.
tema-tema kedalam tujuan khusus. “Kebanyakan yang disini memang
kondisinya yang butuh bantuan total atau
Selanjutnya peneliti menvalidasi hasil
total care. Ee.. yang masuk ICU itu kan
analisa berupa tema-tema dengan airwaynya di tangani dahulu. Pasien yang
triangulasi sumber teori, metode dan data dirawat disini memang membutuhkan alat
hasil wawancara. bantu nafas, yang kebanyakan kegagalan
jalan nafas itu membutuhkan alat bantu
nafas seperti mesin ventilator dan alat-alat
HASIL DAN PEMBAHASAN lainnya..” (I-5)
Pengetahuan tentang pasien kritis “pasien yang mengalami
ketidakstabilan hemodinamik dan
Dalam mengetahui pengetahuan
kebanyakan yang membutuhkan alat bantu
tentang pasien kritis terdapat dua kategori nafas seperti ventilator. Biasanya sih
yaitu pengertian pasien kritis dan disebabkan karena adanya gangguan
jalan nafas atau terjadinya ancaman
pandangan keluarga tentang kondisi pasien
gagal nafas seperti itu..”(I-6)Semua
kritis pernyataan hasil wawancara diatas dapat
a. Pendapat tentang pasien kritis diperkuat dengan hasil observasi yang
peneliti lakukan selama penelitian yaitu
Hasil wawancara mendalam dengan
kepada keluarga
informanKeluarga Pasien mengenai b. Pandangan keluarga tentang kondisi
pengertian pasien kritis . Berikut ini pasien kritis
petikan wawancara mendalam dengan Hasil wawancara mendalam dengan

informan informan mengenai pandangan keluarga

“..kadang stabil kadang idak, tentang kondisi pasien kritis. Berikut ini
kadang menurun kadang idak. Cak itu petikan wawancara mendalam dengan
la,,,” (I-1) informan yang diperoleh sebagai berikut :
“ya,, menurut saya yang kritis itu
yang ada di adik saya yang sakit ini,
Jurnal ‘Aisyiyah Medika | 126
Volume 2, Agustus 2018 Sasono Mardiono

“kato dokter tu karena ado masalah hemodinamik adanya ancaman gangguan


dengan paru-paru ibu nyo tu.. jadi di jalan nafas sering membutuhkan alat bantu
bantu dengan selang oksigen untuk alat
bantu pernafasannya tu… kesadarannyo nafas seperti mesin ventilator. Serta dari
jauh menurun..” (I–1) hasil observasi didapatkan bahwa keluarga
“ ya,,lagi bingung lah, melihat belum selalu bertanya tentang keadaan pasien dan
sadar ini kan, bingung.. ya kayaknya kalo
kesadarannya.
dia belum sadar ini, pandangan kami di
ambang pintu na, pandangan kami. Adik Menurut Murdiyanto (2009), Pasien
saya kayak mau 80 % la adik kami… yang dikatakan kritis yaitu 1) Pasien
kayak mau lepas dari kami” (I-2)
Prioritas 1 adalah pasien sakit kritis, tidak
“pokoknyo sesak nafas dio tu, diajak
ngomong susah…terus nafas dio tu pake stabil, yang memerlukan perawatan
mesin besak itu..”(I-3) intensif, dengan bantuan alat-alat ventilasi,
“kondisi bapak tu sekarang ni lagi monitoring dan obat-obat vasoaktif
idak stabil. Maksudnyo tu masih turun
naik turun naik. Masih belum sadar-sadar kontinyu dan lain-lain. 2) Pasien Prioritas
jugo..”(I-4) 2 adalah pasien ini memerlukan pelayanan
Hal ini sejalan dengan pernyataan pemantauan canggih dari ICU. Jenis pasien
perawat pelaksana General Intensive Care
ini beresiko sehingga memerlukan terapi
Unit Rumah Sakit Pelabuhan Palembang
tahun 2017“ Pandangan orang pasien di segera karenanya pemantauan intensif
ICU itu kan kritis, kematian gitu.. seram menggunakan metode dan umumnya tidak
kalo masuk ICU tu sudah kritis terus coma
terbatas macam terapi yang diterimanya. 3)
aja..” (I-5)
“keluarga kebanyakan bingung. Pasien Prioritas 3 adalah pasien jenis ini
Banyak yang bertanya kenapa pasiennya sakit kritis dan tidak stabil, dimana status
belum sadar-sadar juga..”(I-6)
kesehatan sebelumnya, penyakit yang
Berdasarkanhasilwawancara
mendasari atau penyakit akutnya, baik
mendalam yang dilakukan peneliti tentang
masing-masing atau kombinasinya, sangat
pengetahuan tentang pasien kritis adalah
mengurangi kemungkinan untuk sembuh
dimana keluarga mengatakan bahwa pasien
dan atau mendapat manfaat dari terapi
kritis adalah suatu keadaan yang tidak
ICU.
stabil, mengalami gangguan pernafasan
Berdasarkan hasil wawancara
yang memerlukan alat bantu nafas dan
mendalam dan observasi yang dilakukan
mengalami penurunan kesadaran. Hal ini
peneliti tentang pandangan keluarga tentang
didukung oleh pernyatan informan perawat
kondisi pasien kritis adalah dimana informan
yang mengatakan pasien kritis adalah
mengatakan bahwa pasien dalam kondisi
pasien yang membutuhkan perawatan total
yang tidak sadar atau mengalami penurunan
care dan mengalami ketidakstabilan
kesadaran dan adanya gangguan

Jurnal ‘Aisyiyah Medika | 127


Volume 2, Agustus 2018 Sasono Mardiono

pernafasan sehingga pernafasannya dibantu lainnya yang sehingga merupakan keadaan


dengan mesin nafas. Hal ini didukung oleh kritis yang dapat menyebabkan kematian.
pernyatan informan perawat yang Sikap dan respon keluarga tentang
mengatakan bahwa keluarga pasien banyak perubahan status kesehatan pasien
kritis
beranggapan bahwa pasien yang di rawat
Dalam mengetahui sikap dan respon
di ruang ICU adalah pasien dalam keadaan
keluarga tentang perubahan status
coma atau dalam keadaan tidak sadar,
kesehatan pasien kritis terdapat tiga
kritis kemudian berujung kematian dan di
kategori yaitu pikiran keluarga tentang
buktikan dengan pertanyaan keluarga yang
perubahan status kesehatan pasien kritis,
bertanya tentang kesadaran pasien.Serta
perasaan keluarga tentang perubahan status
dari hasil observasi didapatkan bahwa
kesehatan pasien kritis, dan adaptasi
keluarga mampu menceritakan gambaran
keluarga dalam menghadapi pasien kritis.
kondisi pasien.
Pikiran keluarga tentang perubahan
Pasien kritis adalah pasien dengan status kesehatan pasien kritis
perubahan patofisiologi yang cepat Hasil wawancara mendalam dengan
memburuk yang mempunyai intensitas informan mengenai pikiran keluarga
defek fisiologis satu organ ataupun tentang perubahan status kesehatan pasien
mempengaruhi organ lainnya sehingga kritis. Berikut ini petikan wawancara
merupakan keadaan kritis yang dapat mendalam dengan informasi yang
menyebabkan kematian (Musliha, 2010) diperoleh sebagai berikut:

Menurut peneliti, pasien kritis adalah “..kalo di bayangke alat ini alat
itu…aduh stress,,pusing nian jingoknyo,
pasien dalam keadaan yang mengalami
kalo aku mikir alatnyo…oooo…. Pusing
ketidakstabilan hemodinamik yang nianpalak aku..” (I-1)
memerlukan perawatan intensif dan “…semua yang ada dipikiran ini
kacau, gak bisa berpikir panjang lagi..”
mengalami ancaman gangguan gagal nafas
(I-2)
sehingga memerlukan alat bantu nafas atau “aduh,,dak tentu nak pengennyo
ventilasi seperti mesin ventilator Kondisi cepat sembuh balek besok. Nanyo samo
pasien kritis adalah kondisi pasien yang dokter katonyo belum tentu. Sudah pasrah
be ibu ni..”(I-3)
menurun yang ditandai dengan penurunan “pikiran ayuk ni bingung, kalo
kesadaran dan mengalami perubahan malam-malam gelisah nian pikirke laki
patofisiologi yang cepat memburuk yang ayuk tu di dalam. Susah nian,,,kadang dak
biso tiduk..”(I-4)
mempunyai intensitas defek fisiologis satu
Hal ini sejalan dengan pernyataan
organ ataupun mempengaruhi organ perawat pelaksana General Intensive Care

Jurnal ‘Aisyiyah Medika | 128


Volume 2, Agustus 2018 Sasono Mardiono

Unit Rumah Sakit Pelabuhan Palembang Rumah Sakit Pelabuhan Palembang tahun
tahun 2017. 2016..
“ketakutan, takut kehilangan
kemudian karena dia tidak tahu yang “kalo dijelaskan kondisinya
terjadi..” (I-5) memburuk ya itu tadi, paniklah, langsung
menelpon keluarga yang lain. Panik, mau
“ya setelah di jelaskan kondisi
lihat aja, gak mau keluar lagi, mau
pasien seperti ini. Pasiennya masih
disamping pasiennya aja gitukan..
tergantung dengan alat, masih belum
kemudian kita jelaskan juga, keluarga itu
sadar. Keluarganya tampak khawatir
panik, mukanya cemas,ee ..panik jadi kita
sekali dengan kondisi pasien tersebut..”(I-
6) menjelaskan seolah-olah tak
Semua pernyataan hasil wawancara mendengarkan apa yang kita jelaskan,
bawaannya panik aja..” (I-5)
diatas dapat diperkuat dengan hasil “ya, pasti sedih la ya,melihat kondisi
observasi yang peneliti lakukan selama pasien seperti ini..bahkan ada yang
penelitian yaitu keluarga terlihat lebih menangis ketika membesuk si pasien..”(I-
6)
tegang, bicara banyak dan lebih cepat.
Semua pernyataan hasil wawancara
Perasaan keluarga tentang perubahan diatas dapat diperkuat dengan hasil
status kesehatan pasien kritis
observasi yang peneliti lakukan selama
Hasil wawancara mendalam dengan
informan mengenai perasaan keluarga penelitian yaitu keluarga menangis, sedih

tentang perubahan status kesehatan pasien dan takut kehilangan keluarga mereka.

kritis. Berikut ini petikan wawancara Adaptasi keluarga dalam menghadapi


pasien kritis
mendalam dengan informan yang Hasil wawancara mendalam dengan
diperoleh sebagai berikut: informan mengenai adaptasi keluarga
“nangis terus kalo aku, sakit disini dalam menghadapi pasien kritis. Berikut
(menunjukkan dada) sakit nian..rasonyo
sesak nian, sakit nian,,sayang-sayang ini petikan wawancara mendalam dengan
nian..”(I-1) informan yang diperoleh sebagai berikut:
“kami keluarga merasa akan “..kalo aku tu pasrah samo Tuhan
kehilangan saudara… yang nangis ini lah, pokoknyo pikiran aku Tuhan yang
udah gak ketolongan lagi..ya namanya memberi, Tuhan yang mengasih..
perasaan ke adik..” (I-2) pokoknyo aku tu terserah samo tuhan lah,
“yang pertamo bingung, kalo Ibu aku selamatkanla, Panjang umurlah,
sedih tu dak usah diomongi lagi. Sedih minta tolong samo Tulan lah..” (I-1)
yang pasti nak…”(I-3) “..kita serahkan kepada Yang Maha
“yo perasaan ayuk ni pasti sedih la Kuasa saja..” (I-2)
dek, ngapo ni nak terjadi samo laki ayuk “ibu ni berdo’a terus supayo anak
nian”(I-4) ibu ni cepat sembuh..”(I-3)
Hal ini sejalan dengan pernyataan
perawat pelaksana Intensif Care Unit

Jurnal ‘Aisyiyah Medika | 129


Volume 2, Agustus 2018 Sasono Mardiono

“ayuk ni berserah samo Tuhan la, Menurut Taylor menyatakan bahwa


berdo’a minta-minta la cepat sembuh..”(I- kecemasan adalah sensasi yang
4)
Hal ini sejalan dengan membingungkan dari kejadian yang akan
pernyataan datang yang muncul tanpa alasan.
perawat pelaksana General Intensive Care Kecemasan dicetuskan oleh sesuatu yang
Unit Rumah Sakit Pelabuhan Palembang tidak diketahui dan muncul sebelum ada
tahun 2016.. pengalaman baru, yang mengancam
“dia bisa menerima kan, ada orang identitas dan harga diri seseorang.
itu atau keluarga pasien.. ooo..mungkin
Hal ini didukung dalam penelitian
sudah jalannya gitukan..” (I-5)
“kebanyakan keluarga pasien Raharjo (2015, yang menjelaskan bahwa
menerima. Pasrah aja..saat besuk pun dukungan sosial dan lingkungan sekitar
adanya yang membacakan surat dapat mempengaruhi cara berfikir
yasin..”(I-6)
seseorang tentang diri sendiri dan orang
Semua pernyataan hasil wawancara
lain. Hal ini dapat disebabkan oleh
diatas dapat diperkuat dengan hasil
pengalaman seseorang dengan keluarga,
observasi yang peneliti lakukan selama
sahabat atau rekan kerja. perubahan status
penelitian yaitu keluarga mampu
kesehatan pasien kritis menyebabkan suatu
beradaptasi dan tampak berdo’a dan
ketakutan atau kekhawatiran atas ancaman
pasrah.
kehilangan pada anggota keluarga yang
Berdasarkan hasil wawancara
sakit kritis sehingga dapat menimbulkan
mendalam dan hasil observasi yang
respon emosional seperti menangis, sedih,
dilakukan peneliti dalam mengetahui
stress, tidak mampu berfikir panjang,
pikiran keluarga tentang perubahan status
pusing dan susah tidur.
kesehatan pasien kritis, didapatkan bahwa
Berdasarkan hasil wawancara
informan merasa pusing, gelisah, tidak bisa
mendalam dan hasil observasi yang
tidur, pasrah, bingung dan merasa pikiran
dilakukan peneliti dalam mengetahui
kacau. Hal ini didukung pernyataan semua
perasaan keluarga tentang perubahan status
informan perawat yang menyatakan bahwa
kesehatan pasien kritis didapatkan bahwa
keluarga merasa takut kehilangan dan
informan merasa sedih, takut kehilangan
khawatir dengan kondisi pasien. Serta di
anggota keluarga, menangis melihat
dapat dari hasil observasi bahwa keluarga
kondisi pasien. Hal ini didukung
mampu mengutarakan apa yang ada
pernyataan semua informan perawat yang
dipikirannya dengan terlihat lebih tegang,
menyatakan bahwa keluarga merasa sedih,
bicara banyak dan lebih cepat.
panik, dan terlihat muka keluarga tampak

| 130
Jurnal ‘Aisyiyah Medika
Volume 2, Agustus 2018 Sasono Mardiono

cemas. Serta di dapat dari hasil observasi yang lebih tinggi. Berkembang kesadaran
bahwa keluarga dapat mengekspresikan diri.
perasaannya ada yang menangis, sedih dan ICU (Intensive Care Unit) adalah
takut kehilangan keluarga mereka. salah satu unit di Rumah Sakit yang
Sejalan dengan ini, menurut teori berfungsi untuk perawatan pasien kritis.
Engel (1964) dalam Potter & Perry (2010) Unit ini berbeda dengan unit lainnya
mengajukan bahwa proses berduka karena semua pasien yang dirawat di ruang
mempunyai tiga fase yang dapat diterapkan ini dirawat oleh petugas atau tim medis
pada seseorang yang berduka dan yang terlatih, serta kegiatan dilakukan
menjelang kematian. selama 24 jam, serta menggunakan alat-
Fase pertama, individu menyangkal alat canggih yang asing untuk keluarga
realitas kehilangan dan mungkin menarik atau pasien. Selain itu peraturan di ICU
diri, duduk tidak bergerak, atau (Intensive Care Unit) sangat ketat karena
menerawang tanpa tujuan. Hal tersebut keluarga tidak boleh menunggu secara
mungkin dipandang oleh pengamat bahwa terus-menerus sehingga hal ini akan
orang tersebut tidak menyadari apa makna menimbulkan kecemasan tersendiri bagi
kehilangan. Reaksi fisik dapat mencakup keluarga (bagaimana kondisi
pingsan, berkeringat, mual, diare, frekuensi perkembangan keluarganya saat ini)
jantung cepat, gelisah, insomnia dan bahkan trauma bagi anggota keluarganya
keletihan. yang di rawat di ICU (Intensive Care
Fase kedua adalah individu mulai Unit).
merasa kehilangan secara tiba-tiba dan Menurut Mc Adam dan Puntillo
mungkin mengalami keputusasaan. Secara dalam Bailey (2009). Fenomena kecemasan
mendadak terjadi marah, rasa bersalah, yang terjadi pada keluarga pasien stroke
frustasi, depresi dan kehampaan. Menangis yang dirawat di Ruang ICU (Intensive Care
adalah khas sejalan dengan individu Unit) RS Panti Waluyo. Ditunjukan dengan
menerima kehilangan. perilaku keluarga yang selalu bertanya
Dalam fase ketiga, dikenali realitas tentang kondisi anggota keluarganya yang
kehilangan. Marah dan depresi tidak lagi dirawat, bertanya dengan
dibutuhkan. Kehilangan telah jelas bagi pertanyaan yang di ulang-ulang,
individu, yang mulai mengenali hidup. berkunjung diluar jam kunjung, keluarga
Dengan mengalami fase ini seseorang takut kehilangan (meninggal dunia)
beralih dari tingkat fungsi emosi dan keluarga mengatakan susah tidur, takut
intelektual yang lebih rendah ke tingkat anggota keluarga sembuh tapi mengalami

Jurnal ‘Aisyiyah Medika | 131


Volume 2, Agustus 2018 Sasono Mardiono

kecacatan, takut tidak bisa membayar adaptasi keluarga dalam menghadapi


biaya perawatan di ICU (Intensive Care pasien kritis didapatkan bahwa informan
Unit) takut akan kondisi pasien yang lain, mengatakan bahwa pasrah dengan kondisi
takut melihat alat- alat yang terpasang di pasien sekarang ini dan selalu berdo’a
tubuh pasien. Sebuah keluarga adalah untuk kesembuhan pasien. Hal ini
merupakan unit dasar dari masyarakat didukung pernyataan semua informan
dimana anggotanya mempunyai suatu perawat mengatakan bahwa keluarga
komitmen untuk memelihara satu sama menerima dan pasrah dengan kondisi
lain baik secara emosi maupun fisik dan pasien dan terlihat keluarga saat
keluarga dapat dipandang sebagai system berkunjung membacakan surat Yasin.
terbuka, suatu perubahan atau gangguan Serta di dapat dari hasil observasi bahwa
pada salah satu bagian dari system dapat keluarga mampu beradaptasi dan tampak
mengakibatkan perubahan atau gangguan berdo’a dan pasrah.
dari seluruh sistem. Jadifungsi afektif Menurut Potter & Perry, (2010)
keluarga merupakan dukungan psikososial berdo’a memberi kesempatan kepada
keluarga kepada anggotanya sehingga individu untuk memperbarui kepercayaan
anggota keluarga tersebut merasa nyaman dan keyakinannya kepada Yang Maha
dan dicintai. Stres atau cemas yang Kuasa dalam cara yang lebih formal.
dihadapi dan dialami oleh salah satu Berdo’a adalah suatu kesempatan untuk
anggota keluarga mempengaruhi seluruh meninjau kembali kelemahan yang mereka
keluarga rasa dan untuk membuat komitmen hidup
Menurut peneliti, ancaman penyakit lebih baik.
terhadap kematian pada anggota keluarga Berdo’a merupakan adaptasi
yang sakit sangat dirasakan oleh keluarga. keluarga dalam menghadapi pasien kritis
sehingga sering timbul perasaan seperti dimana ketika penyakit, kehilangan yang
sedih, takut kehilangan anggota keluarga akan terjadi pada anggota keluarga yang
yang sakit, menangis yang merupakan sakit, kekuatan spiritual dapat membantu
proses berduka. Pada setiap tahapnya seseorang kearah penyembuhan atau pada
mempunyai karakteristik dan kemungkinan perkembangan kebutuhan dan perhatian
perilaku yang berubah-ubah diantara spiritual.
berbagai fase pada cara yang tidak terduga. Mekanisme koping Saat cemas ketika
Sedangkan berdasarkan hasil menghadapi pasien kritis
Mekanisme koping keluarga
wawancara mendalam dan hasil observasi
terhadap kecemasan keluarga pada pasien
yang dilakukan peneliti dalam mengetahui

Jurnal ‘Aisyiyah Medika | 132


Volume 2, Agustus 2018 Sasono Mardiono

kritis terdapat dua kategori yaitu upaya Semua pernyataan hasil wawancara
penyelesaian yang dilakukan dalam diatas dapat diperkuat dengan hasil
menghadapi masalah dan dukungan observasi yang peneliti lakukan selama
keluarga dalam proses perawatan. penelitian yaitu keluarga mempunyai
a. Upaya penyelesaian yang dilakukan upaya yang dilakukan dalam menghadapi
dalam menghadapi masalah masalah dengan membicarakan dengan
Hasil wawancara mendalam dengan
anggota keluarga yang lain, meminta
informan mengenai upaya penyelesaian
pendapat dengan keluarga dan berani
yang dilakukan dalam menghadapi
mengambil keputusan.
masalah. Berikut ini petikan wawancara
b. Dukungan keluarga dalam proses
mendalam dengan informan yang perawatan.
diperoleh sebagai berikut : Hasil wawancara mendalam dengan
“aku ngomong dulu..kompromi dulu informan mengenai dukungan keluaga
samo keluarga. karena aku anak yang dalam proses perawatan. Berikut ini
pertamo sekali kan, jadi bapak samo adik-
adik mutusnyo ke aku la..” (I-1) petikan wawancara mendalam dengan
“ya kami ini gak ada kepala informan yang diperoleh sebagai berikut :
rombongan, siapo yang besuk, dia yang “ ..nanyo kan samo dokter, cakmano
ditanya, dia harus ambil sikap yang kondisi ibu ku. Aku serahkan samo
terbaik, bukan kompromike dulu bukan dokterlah mano yang terbaik untuk ibu
tapi yang terbaik, gak papa dak ada yang aku. Kalo memang bagus aku tikin cak
marah, gak setuju gak ada..yapengen yang itu..menandatangani persetujuan itu,
terbaik..” (I-2) mano yang terbaiklah untuk ibu..” (I-1)
“kalo yang ngenjuk keputusan tu yo “ambil aja yang terbaik..mana yang
lakinyo. Tapi lakinyo nanyo jugo samo terbaik, ya kami ikut gitu. Ya,, kami orang
kami, jadi kami ni berembuk dulu nak” (I- yang gak tau kan. Pasrah aja la gitu..” (I-
3) 2)
“ayuknanyo jugo dengan keluarga “semua keluarga mendukung,
yang lain minta pendapat istilahnyo tu kakaknyo saudara yang lain datang besuki
kan.cakmano bagusnyo..”(I-4) dio ni. Jadi semangat dikit dionyo..”(I-3)
Hal ini sejalan dengan pernyataan “pokoknyo mano yang terbaik untuk
perawat pelaksana General Intensive Care laki ayuk, ayuk dukung. Yang kato dokter
Unit Rumah Sakit Pelabuhan Palembang kan pasien dak boleh di besuk banyak-
tahun 2016.. banyak ayuk omongi dengan keluarga
“ keluarga sering bertanya malah ada ayuk yang laen..”(I-4)
yang bertanya-tanya terus tentang Hal ini sejalan dengan pernyataan
keadaan pasien gitukan,,perkembangan perawat pelaksana Intensif Care Unit
pasien gitu..” (I-5) Rumah Sakit Pelabuhan Palembang tahun
“biasanya setelah kita jelaskan 2016..
gitukan, keluarga biasanya diskusi
dulu…”(I-6)

Jurnal ‘Aisyiyah Medika | 133


Volume 2, Agustus 2018 Sasono Mardiono

“keluarga sering mengatakan mana yang dilakukan pada pasien. Serta di dapat
yang terbaik menurut dokter, saya dari hasil observasi bahwa keluarga
serahkan sama dokter aja gitukan, kami
mempunyai upaya yang dilakukan dalam
terima aja”(I-5)
“..ketika kita membutuhkan keputusan menghadapi masalah dengan
segera atas tindakan yang akan dilakukan membicarakan dengan anggota keluarga
mereka cepat memberikan keputusan dan
yang lain, meminta pendapat dengan
kebanyakan yang setuju dan jarang sekali
menolak” (I-6) keluarga dan berani mengambil keputusan.
Semua pernyataan hasil wawancara Menurut Asmadi (2008), beberapa
diatas dapat diperkuat dengan hasil strategi pemecahan masalah yang
observasi yang peneliti lakukan selama digunakan antara lain 1) Meminta bantuan
penelitian yaitu keluarga dapat kepada orang lain, 2) Secara besar hati,
memberikan dukungan baik dalam mampu mengungkapkan perasaan sesuai
tindakan maupun pengobatan yang akan dengan situasi yang ada, 3) Mencari lebih
dilakukan pada pasien seperti mematuhi banyak informasi yang terkait dengan
aturan tata tertib jam besuk dan masalah yang dihadapi, sehingga masalah
menandatangi persetujuan tindakan, dan tersebut dapat diatasi secara realistis, 4)
lain-lain. Menyusun beberapa rencana untuk
Berdasarkan hasil wawancara memecahkan masalah, 5) Meluruskan
mendalam dan hasil observasi yang pikiran atau persepsi terhadap masalah.
dilakukan peneliti dalam mengetahui Keluarga bertindak sebagai memberi
upaya penyelesaian yang dilakukan dalam keputusan segera dalam pengobatan pasien
menghadapi masalah, tiga informan sangat diperlukan dengan upaya meminta
mengatakan hal yang sama sehingga bantuan atau pendapat keluarga yang lain
didapatkan informasi bahwa informan dan peran perawat sangat dibutuhkan
mengatakan mengambil keputusan dengan dalam memberikan penjelasan atas
kompromi terlebih dahulu dengan anggota tindakan dan pengobatan sehingga dapat
keluarga yang lain. Sedangkan 1 informan menjalin kerjasama yang baik antara
mengatakan bahwa langsung memberikan petugas kesehatan dan keluarga.
persetujuan tentang pengobatan dan Sedangkan berdasarkan hasil
tindakan yang terbaik bagi pasien. Hal ini wawancara mendalam dan hasil observasi
didukung pernyataan semua informan yang dilakukan peneliti dalam mengetahui
perawat yang menyatakan bahwa mereka dukungan keluarga dalam proses
selalu memberikan penjelasan (informed perawatan adalah dimana informan
consent) tentang pengobatan dan tindakan mengatakan mereka menginginkan yang

Jurnal ‘Aisyiyah Medika | 134


Volume 2, Agustus 2018 Sasono Mardiono

terbaik untuk keluarga mereka dan membimbing dan menengahi pemecahan


menyerahkan semuanya kepada dokter. masalah, sebagai sumber dan validator
Hal ini didukung oleh dua informan indentitas anggota keluarga diantaranya
perawat yang mengatakan bahwa setelah memberikan support, penghargaan,
mendapatkan penjelasan dari perawat, perhatian, 3) Dukungan instrumental
keluarga pasien memberikan respon yang keluarga merupakan sebuah sumber
positif dan menyerahkan yang terbaik pertolongan praktis dan konkrit,
untuk anggota keluarga yang sakit. Serta di diantaranya: kesehatan penderita dalam hal
dapat dari hasil observasi bahwa keluarga kebutuhan makan dan minum, istirahat,
dapat memberikan dukungan baik dalam terhindarnya penderita dari kelelahan, 4)
tindakan maupun pengobatan yang akan Dukungan emosional keluarga sebagai
dilakukan pada pasien seperti mematuhi tempat yang aman dan damai untuk
aturan tata tertib jam besuk dan istirahat dan pemulihan serta membantu
menandatangi persetujuan tindakan, dan penguasaan terhadap emosi. Aspek-aspek
lain-lain. dari dukungan emosional meliputi
Menurut Friedman (2008), dukungan dukungan yang diwujudkan dalam bentuk
keluarga adalah sikap, tindakan dan afeksi, adanya kepercayaan, perhatian,
penerimaan keluarga terhadap penderita mendengarkan dan didengarkan.
yang sakit. Anggota keluarga memandang Menurut peneliti, dukungan keluarga
bahwa orang yang bersifat mendukung dalam sikap dan tindakan adalah keluarga
selalu siap memberikan pertolongan dan dapat memberikan respon yang positif dan
bantuan jika diperlukan. sangat mendukung atas tindakan dan
Fungsidukungan keluarga Caplan pengobatan yang akan dilakukan pada
(1964) dalam Friedman (2008) pasien sehingga mempermudah dan tidak
menjelaskan bahwa keluarga memiliki menghambat pengobatan pada pasien.
beberapa fungsi dukungan yaitu: 1) Serta keluarga dapat mematuhi aturan tata
Dukungan informasional keluarga tertib di ruang ICU demi kelancaran
berfungsi sebagai sebuah kolektor dan pengobatan dan kesembuhan bagi pasien.
diseminator (penyebar) informasi tentang
dunia. Menjelaskan tentang pemberian Harapan keluarga dalam proses
perawatan pasien kritis
saran, sugesti, informasi yang dapat Dalam mengetahui harapan keluarga
digunakan mengungkapkan suatu masalah, dalam proses perawatan pasien kritis
2) Dukungan penilaian keluarga bertindak terdapat dua kategori yaitu pada pasien dan
sebagai sebuah bimbingan umpan balik,

Jurnal ‘Aisyiyah Medika | 135


Volume 2, Agustus 2018 Sasono Mardiono

pada petugas kesehatan (dokter dan kesehatan (dokter dan perawat). Berikut ini
perawat). Berikut ini petikan wawancara petikan wawancara mendalam dengan
mendalam dengan informan. informan.
a. Pada pasien “semoga bekerja dengan bener, gak
Hasil wawancara dengan informan menganggap ini pasien ini, ini pasien
umum, wah ini pasien askin, yang askes.
mengenai harapan keluarga pada pasien. Ratoke bae cak itu na samo dokter dan
Berikut ini petikan wawancara mendalam perawatnyo..” (I-1)
dengan informan yang diperoleh sebagai “ saya ini sangat mengharapkan
pengurusan. Walaupun saya lihat
berikut:
pengurusannya sudah bagus.. yaaa…,
“Semoga cepat sembuh, cepat keluar perhatikanlah pasien walaupun keluarga
dari rumah sakit ini, pokoknyo segala gak liat kan. Di perhatiin itu aja..” (I-2)
penyakit yang dideritanyo sembuh. Itulah “kalo ado apo-apo ngomong samo
harapanku lagi samo ibu..” (I-1) kami. Terus kalo nanyo di jawab..” (I-3)
“iya besar harapan ya, semoga adik tu “tolong jagoi pasiennyo, tolong
cepat sembuhkan, bisa kumpul lagi..” (I-2) diurusi nian. kalo ado apo-apo tolong
“yo..Pasti berharap sembuh…”(I-3) kasih tau kami..”(I-4)
“ayuk berharap moga laki ayuk tu Hal ini sejalan dengan pernyataan
cepat sembuh, biso kumpul lagi samo perawat pelaksana General Intensive Care
keluarga, anak-anak..”(I-4) Unit Rumah Sakit Pelabuhan Palembang
Hal ini sejalan dengan pernyataan tahun 2016..
perawat pelaksana General Intensive Care “mereka ingin tahu perkembangan
Unit Rumah Sakit Pelabuhan Palembang pasien. Jadi peran kita itu tadi..pelan-
tahun 2016.. pelan kita jelaskan kondisinya seperti ini…
“ Harapan keluargakan kebanyakan eeee..menjelaskan tentang tindakan yang
keluarganya itu ingin pasien cepat akan dilakukan..” (I-5)
sembuh, cepat pulang gitukan..” (I-5) “keluarga pasti menginginkan yang
“ya dimana-mana kalo ada keluarga terbaik. Jadi kita berikan pelayanan yang
yang sakit pasti mereka menginginkan baik untuk pasien dan keluarga. kita
sembuh..”(I-6) jelaskan semua kepada keluarga tentang
Hasil Penilitan menunjukan bahwa pengobatan, tindakan, dan aturan besuk
keluarga mampu mengungkapkan pun itu penting sekali..”(I-6)
Semua pernyataan hasil wawancara
harapannya pada pasien kritis yaitu
diatas dapat diperkuat dengan hasil
kesembuhan dan dapat berkumpul kembali,
observasi yang peneliti lakukan selama
terlihat keluarga sering bertanya tentang
penelitian yaitu keluarga mampu
perkembangan kondisi pasien.
mengungkapan harapannya pada petugas
b. Pada petugas kesehatan (dokter dan
perawat) kesehatan (dokter dan perawat) yaitu
Hasil wawancara dengan informan meminta petugas kesehatan khususnya
mengenai harapan keluarga pada petugas dokter dan perawat lebih memperhatikan

Jurnal ‘Aisyiyah Medika | 136


Volume 2, Agustus 2018 Sasono Mardiono

pasiennya dan tidak membedakan antara kesembuhan dari penyakit dan dapat
pasien umum, askes dan askin dalam berkumpul kembali bersama keluarga.
perawatannya terlihat ekspresi muka Sedangkan berdasarkan hasil
keluarga yang penuh dengan harapan. wawancara mendalam dan hasil observasi
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dalam mengetahui
mendalam dan hasil observasi yang harapan keluarga pada petugas kesehatan
dilakukan peneliti dalam mengetahui (dokter dan perawat) adalah meminta
harapan keluarga pada pasien kritis adalah petugas kesehatan khususnya dokter dan
informan mengatakan bahwa perawat lebih memperhatikan pasiennya
menginginkan kesembuhan pada pasien dan tidak membedakan antara pasien
dan dapat berkumpul bersama keluarga. umum, askes dan askin dalam
Hal ini di dukung oleh informan perawat perawatannya. Serta hasil observasi
yang mengatakan bahwa keluarga pasien didapatkan bahwa keluarga mampu
selalu menanyakan perkembangan atau mengungkapan harapannya pada petugas
kondisi pasien. Serta dari hasil observasi kesehatan (dokter dan perawat) terlihat
yang didapatkan yaitu keluarga mampu ekspresi muka keluarga yang penuh
mengungkapkan harapannya yaitu dengan harapan.
kesembuhan dan dapat berkumpul kembali Menurut Potter & Perry (2010)
dengan pasien, terlihat keluarga sering mengatakan bahwa perawat kontemporer
bertanya tentang perkembangan kondisi menjalankan fungsi dalam kaitannya
pasien dengan berbagai peran pemberi perawatan,
Menurut Dufault & Martocchio pembuat keputusan klinik dan etika,
(1985), dalam Potter & Perry (2010), pelindung dan advokat bagi klien, manajer
harapan adalah kekuatan hidup kasus, rehabilitator, pembuat kenyamanan,
multidimensi yang terus berubah. Selama komunikator dan pendidik.
fase akut penyakit, harapan dapat berpusat Menurut peneliti keluarga
pada hasil yang optimis yaitu penyakit diharapkan meminta petugas kesehatan
tidak akan mengancam hidup. Harapan khususnya dokter dan perawat lebih
tentang penyembuhan atau remisi dapat memperhatikan pasiennya dan tidak
berlanjut sepanjang fase kronis. membedakan antara pasien umum, askes
Harapan keluarga adalah sesuatu dan askin dalam perawatannya.
keinginnan pencapaian hasil yang
maksimal dari pengobatan pada pasien
kritis yaitu hasil yang terbaik seperti

Jurnal ‘Aisyiyah Medika | 137


Volume 2, Agustus 2018 Sasono Mardiono

SIMPULAN DAN 3. Pada tema ketiga mengenai


SARAN Simpulan mekanisme koping terhadap
Berdasarkan hasil pembahasan dari kecemasan keluarga pada pasien kritis
penelitian mengenai analisis tingkat mempunyai dua kategori yaitu upaya
kecemasan keluarga terhadap perubahan penyelesaian yang dilakukan dalam
status kesehatanpada pasien kritis di ruang menghadapi masalah dan dukungan
Intensif Care Unit RS. Pelabuhan keluarga dalam proses perawatan
Palembang dari empat tujuan khusus yang 4. Pada tema keempat mengenai harapan
peneliti lakukan di dapatkan empat tema keluarga dalam proses perawatan
yaitu pengetahuan tentang pasien kritis, pasien kritis mempunyai dua kategori
sikap dan respon keluarga tentang yaitu harapan pada pasien dan pada
perubahan status kesehatan pasien kritis, petugas kesehatan (dokter dan
mekanisme koping terhadap kecemasan perawat).
keluarga pada pasien kritis, dan harapan Saran
keluarga dalam proses perawatan pasien 1. Bagi Institusi Rumah Sakit Pelabuhan
kritis. Maka dari empat tema tersebut dapat Palembang Penelitian ini dapat
di tarik kesimpulan sebagai berikut : dijadikan sebagai bahan masukan untuk
1. Pada tema pertama mengenai mengevaluasi dan meningkatkan
pengetahuan tentang pasien kritis kualitas pelayanan kesehatan yang salah
mempunyai dua kategori yaitu satunya adalah kualitas pelayanan
pendapat tentang pasien kritis dan keperawatan, yaitu kualitas asuhan
pandangan keluarga tentang kondisi keperawatan tidak hanya pada pasien
pasien kritis . tetapi juga keluarganya terutama
2. Pada tema kedua mengenai sikap dan keluarga pasien perawatan kritis yang
respon keluarga tentang perubahan mengalami kecemasan sehingga
status kesehatan pasien kritis tercapai kepuasan pelayanan.
mempunyai tiga kategori yaitu pikiran 2. Bagi Institusi Pendidikan STIK Bina
keluarga tentang perubahan status Husada Palembang Hasil penelitian ini
kesehatan pasien kritis, perasaan dapat digunakan sebagai informasi yang
keluarga tentang perubahan status berguna untuk meningkatkan kualitas
kesehatan pasien kritis dan adaptasi pendidikan keperawatan terutama
keluarga dalam menghadapi pasien keperawatan gawat darurat dalam hal
kritis. asuhan keperawatan kritis.

Jurnal ‘Aisyiyah Medika | 138


Volume 2, Agustus 2018 Sasono Mardiono

3. Bagi Profesi Keperawatan Sebagai 4. Bagi Peneliti Sebagai wadah


bahan masukan/data awal untuk menyumbangkan karya hasil penelitian
penelitian keperawatan selanjutnya. untuk digunakan di keperawatan

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi, 2008. Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta : Salemba Medika

Blais, et all, 2007. Praktik Keperawatan Profesional : Konsep & Perspektif Edisi 4. Jakarta : EGC

Friedman, M. M, 1998 Keperawatan Keluarga Teori dan Praktek. Ahli Bahasa : Ina Dobera & Yaakim Asy.
Jakarta : EGC

Hidayat, 2009.Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Hudak & Gallo, 1997. Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik Edisi VI Volume I. Jakarta:

EGC Musliha, 2010. Keperawatan Gawat Darurat. Yogyakarta: Moeleong, 2010. Metodologi

Penelitian Kualitatif. Bandung: IKAPI

Potter & Perry, 2010. Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC.

Raharjo. (2015). Tingkat Kecemasan Keluarga Pasien Stroke yang Dirawat Diruang ICU Rumah
Sakit Panti Waluyo. Surakarta

Saryono & Anggraeni, 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif Dalam Bidang Kesehatan. Yogyakarta : Nuha
Medika

Stuart & Sundeen, 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 3. EGC, Jakarta.

Sugiyono, 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung : IKAPI

, 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung : IKAPI

Sundayani, Hesti, 2010. Hubungan antara pemenuhan kebutuhan psikososial dengan tingkat kecemasan
keluarga pasien perawatan kritis di IRNA Intensif RSUP dr. Moehammad Hoesin Palembang tahun
2010. Palembang : STIK Bina Husada

Susilawati, 2005. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC

Tartowo, 2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan Edisi 3. Salemba Medika: Jakarta

Jurnal ‘Aisyiyah Medika | 139