Anda di halaman 1dari 2

Malam Jum'at menjadi momok tersendiri bagi sebagian orang.

Bahkan tidak sedikit yang mengaitkan


dengan hal-hal berbau mistis. Alhasil, beberapa daerah menjadi sepi ketika malam Jum'at telah tiba.
Namun, hal itu tidak terjadi di desa saya semasa SD. Malam Jum'at diramaikan dengan kemeriahan
anak-anak yang bermain diluar rumah, yang tak jarang hingga larut malam.

Adalah Petak Umpet, permainan favorit kami ketika kegiatan mengaji di Musholla libur sepekan sekali,
yaitu malam Jum'at. Menghabiskan waktu hingga larut malam untuk melakukan permainan yang
tentunya mengasyikkan.

Permainan itu dimulai saat ibadah sholat maghrib telah usai. Berkumpul di tempat yang sudah
ditentukan seperti minggu-minggu sebelumnya. Didomonasi anak laki-laki, puluhan anak berkumpul
dengan membawa sarung, untuk menutupi muka kami ketika bersembunyi. Diawali dengan "gambreng"
untuk menentukan siapa yang mendapat giliran jaga dan bersembunyi. Permainan pun dimulai.

Sang penjaga memejamkan mata dan menempelkan kepala di tembok, tak lupa dengan meneriakkan
hitungan satu sampai sepuluh lantang-lantang. Sementara itu, semua anak sedang berlari kocar-kacir
menentukan tempat persembunyian terbaik. Tempat persembunyian sangat beragam, mulai dari
belakang rumah tetangga yang gampang, berkamuflase menggunakan sarung disamping kayu-kayu
bakar yang berjajar, atau bahkan disela-sela parit pinggiran rumah hingga memanjat keatas pohon
jambu. Saat teriakkan hitungan selesai semua menjadi hening. Tersisa suara langkah penjaga yang
berusaha mencari ke segala penjuru. Hingga tak beberapa lama, langkah-langkah kaki bersahut-sahutan.
Berlomba-lomba ke tempat penjaga meneriakan angka. Menempelkan tangan cepat-cepat saling
mendahului. Menghindari posisi jaga untuk giliran selanjutnya atau sialnya tertangkap oleh penjaga di
tempat persembunyian oleh penjaga.

Setelah itu semua pemain berkumpul. Diliputi rasa senang karna berhasil menempelkan tangan lebih
dulu ke tembok penjaga. Namun, tak sedikit yang bermuka kesal, berhaap-harap cemas menghindari
giliran jaga selanjutnya.

Permainan terus berlanjut. Pemain yang kalah kembali melakukan "gambreng". Dan memulai dari awal
dengan penjaga yang berbeda. Menghabiskan malam Jum'at dengan teriakan hitungan angka dan suara-
suara nyaring langkah kaki yang berlomba. Tanpa sengaja membuat kesan untuk masa remaja dan hari
tua. Yang sekarang tak lagi ditemukan, berganti dengan kesenangan bersama gawai canggih berkuota.

Sangat berharga