Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

Problematika manusia semakin komplek, himpitan kehidupan telah


menghujam setiap anak manusia di dunia ini, bukan hanya orang tua tetapi remaja
bahkan anak-anak baik laki-laki dan perempuan, kesemuanya mengalami sebuah
problem yang komunal. Berbagai responpun muncul dan kini sudah menjadi
kebiasaan pada Life Style di masyarakat, kertika menghadapi suatu masalah dan
mengalami stress, mereka cenderung untuk lari pada penggunan obat-obatan.
Kesehatan jiwa adalah perasaan sehat dan bahagia serta mampu mengatasi
tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya, serta mempunyai
sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
Masalah zat psikoaktif diawali dari mulainya manusia mengenal tanaman atau
bahan lain yang bila digunakan dapat menimbulkan perubahan pada perilaku,
kesadaran, pikiran, dan perasaan seseorang. Bahan atau zat tersebut dinamakan bahan
atau zat psikoaktif. Sejak itu manusia mulai menggunakan bahan-bahan psikoaktif
tersebut untuk tujuan menikmati karena dapat menimbulkan rasa nyaman, rasa
sejahtera, euforia dan mengakrabkan komunikasi dengan orang lain.
Sebagai contoh, orang menikmati kopi dan (yang mengandung kafein),
minuman beralkohol dan merokok tembakau (yang mengandung nikotin). Selain
untuk dinikmati manusia juga menggunakan zat atau bahan psikoaktif untuk
berkomunikasi transdental dalam upacara kepercayaan.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU

a. Definisi
Gangguan mental dan perilaku adalah kesulitan yang harus dihadapi oleh
seseorang karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena persepsinya
tentang kehidupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri-sendiri. Gangguan mental
adalah gangguan dalam cara berpikir (cognitive), kemauan (volition),emosi
(affective), tindakan (psychomotor). Gangguan mental menurut Depkes RI (2000)
adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada
fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam
melaksanakan peran sosial.

b. Etiologi
Penyebab gangguan jiwa itu bermacam-macam ada yang bersumber dari
berhubungan dengan orang lain yang tidak memuaskan seperti diperlakukan tidak
adil, diperlakukan semena-mena, cinta tidak terbatas, kehilangan seseorang yang
dicintai, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain. Selain itu ada juga gangguan jiwa yang
disebabkan faktor organik, kelainan saraf dan gangguan pada otak.Gangguan jiwa
terjadi karena tidak dapat dimainkan tuntutan id (dorongan instinctive yang sifatnya
seksual) dengan tuntutan super ego (tuntutan normal social). Orang ingin berbuat
sesuatu yang dapat memberikan kepuasan diri, tetapi perbuatan tersebut akan
mendapat celaan masyarakat. Konflik yang tidak terselesaikan antara keinginan diri
dan tuntutan masyarakat ini akhirnya akan mengantarkan orang pada gangguan jiwa
Sumber penyebab gangguan mental dipengaruhi oleh faktor-faktor pada
ketiga unsur itu yang terus menerus saling mempengaruhi, yaitu :

2
1. Faktor-faktor somatik (somatogenik)
- Neuroanatomi
- Neurofisiologi
- Neurokimia
- Tingkat kematangan dan perkembangan organik
- Faktor-faktor pre dan peri – natal
2. Faktor-faktor psikologik ( psikogenik)
- Interaksi ibu –anak : normal (rasa percaya dan rasa aman) atau abnormal
berdasarkan kekurangan, distorsi dan keadaan yang terputus (perasaan tak
percaya dan kebimbangan)
- Peranan ayah
- Persaingan antara saudara kandung
- Inteligensi
- Hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan dan masyarakat
- Kehilangan yang mengakibatkan kecemasan, depresi, rasa malu atau rasa
salah
- Konsep diri : pengertian identitas diri sendiri versus peran yang tidak
menentu
- Keterampilan, bakat dan kreativitas
- Pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya
- Tingkat perkembangan emosi
3. Faktor-faktor sosio-budaya (sosiogenik)
- Kestabilan keluarga
- Pola mengasuh anak
- Tingkat ekonomi
- Perumahan : perkotaan lawan pedesaan
- Masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka dan fasilitas
kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan yang tidak memadai
- Pengaruh rasial dan keagamaan

3
- Nilai-nilai
c. Klasifikasi gangguan mental dan perilaku akibat zat psikoaktif
Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) menyusun
klasifikasi gangguan kejiwaan sebagai berikut: Urutan hierarki blok diagnosis
(berdasarkan luasnya tanda dan gejala, dimana urutan hierarki lebih tinggi memiliki
tanda dan gejala yang semakin luas):
1. F00-09
2. F10-19
3. F20-29
4. F30-39
5. F40-49
6. F50-59
7. F60-69
8. F70-79
9. F80-89
10. F90-98

F0 Gangguan Mental Organik, termasuk Gangguan Mental Simtomatik


Gangguan mental organic = gangguan mental yang berkaitan dengan
penyakit/gangguan sistemik atau otak. Gangguan mental simtomatik = pengaruh
terhadap otak merupakan akibat sekunder penyakit/gangguuan sistemik di luar otak.
Gambaran utama:
Gangguan fungsi kongnitif Gangguan sensorium – kesadaran, perhatian
,Sindrom dengan manifestasi yang menonjol dalam bidang persepsi (halusinasi), isi
pikir (waham), mood dan emosi
Fl Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Psikoaktif Lainnya
Gangguan mental yang terjadi karena penggunaan zat-zat psikoaktif.
- F10 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan alkohol
- F11 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan opioida

4
- F12 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kanabinoida
- F13 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan sedativa dan hipnotika
- F14 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kokain
- F15 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan stimulansia lain
termaksud kafein
- F16 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan halusinogenika
- F17 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan tembakau
- F18 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan pelarut yang mudah
menguap
- F19 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat multipel dan
penggunaan zat psikoaktif lainnya
Kode empat dan lima karakter dapat digunakan untuk menentukan kondisi klinis
sebagai berikut :
F1x.0 Intoksikasi akut
- .00 tanpa komplikasi
- .01 dengan trauma atau cidera tubuh lainnya
- .02 dengan komplikasi medis lainnya
- .03 dengan delirium
- .04 dengan distorsi persepsi
- .05 dengan koma
- .06 dengan konvulsi
- .07 intoksikasi patologis
F1x.1 Penggunaan yang merugikan (harmful use)
F1x.2 Sindrom ketergantungan
- .20 Kini abstinen
- .21 Kini abstinen tetapi dalam lingkungan terlindung
- .22 Kini dalam pengawasan klinis dengan terapi pemiliharaan atau dengan
pengobatan zat pengganti (ketergantungan terkendali)

5
- .23 Kini abstenin, tetapi sedang dalam terapi dengan obat aversif atau
penyekat
- .24 Kini sedang menggunakan zat (ketergantungan aktif)
- .25 Penggunaan berkelanjutan
- .26 Penggunaan episodic (dipsonia)
F1x.3 Keadaan putus zat
- .30 Tanpa komplikasi
- .31 Dengan konvulsi
F1x.4 Keadaan putus zat dengan delirium
- .40 Tanpa konvulsi
- .41 Dengan konvulsi
F1x.5 Gangguan psikotik
- .50 Lir-skizofrenia (schizophrenia-like)
- .51 Predominan waham
- .52 Predominan halusinasi
- .53 Predominan polimorfik
- .54 Predominan gejala depresi
- .55 Predominan gejala manik
- .56 campuran
F1x.6 Sindrom amnesik
F1x.7 Gangguan psikotik residual atau onset lambat
- .70 Kilas balik
- .71 Gangguan kepribadian atau perilaku
- .72 Gangguan afektif residual
- .73 Demensia
- .74 Hendaya kognitif menetap lainnya
- .75 Gangguan psikotok onset lambat
F1x.8 Gangguan mental dan perilaku lainnya
F1x.9 Gangguan mental dan perilaku YTT

6
F2 Skizofrenia, Gangguan Skizotipal dan Gangguan Waham
Skizofrenia ditandai dengan penyimpangan fundamental dan karakteristik dari
pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar atau tumpul. Kesadaran jernih
dan kemampuan intelektual tetap, walaupun kemunduran kognitif dapat berkembang
kemudian
F3 Gangguan Suasana Perasaan (Mood [Afektif])
Kelainan fundamental perubahan suasana perasaan (mood) atau afek, biasanya
kearah depresi (dengan atau tanpa anxietas), atau kearah elasi (suasana perasaan yang
meningkat). Perubahan afek biasanya disertai perubahan keseluruhan tingkat aktivitas
dan kebanyakan gejala lain adalah sekunder terhadap perubahan itu
F4 Gangguan Neurotik, Gangguan Somatoform dan Gangguan Terkait Stres
F5 Sindrom Perilaku yang Berhubungan dengan Gangguan Fisiologis dan
Faktor Fisik
F6 Gangguan Kepribadian dan Perilaku Masa dewasa
Kondisi klinis bermakna dan pola perilaku cenderung menetap, dan
merupakan ekspresi pola hidup yang khas dari seseorang dan cara berhubungan
dengan diri sendiri maupun orang lain. Beberapa kondisi dan pola perilaku tersebut
berkembang sejak dini dari masa pertumbuhan dan perkembangan dirinya sebagai
hasil interaksi faktor-faktor konstitusi dan pengalaman hidup, sedangkan lainnya
didapat pada masa kehidupan selanjutnya.
F7 Retardasi Mental
Keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama
ditandai oleh terjadinya hendaya ketrampilan selama masa perkembangan, sehingga
berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh. Dapat terjadi dengan atau
tanpa gangguan jiwa atau gangguan fisik lain. Hendaya perilaku adaptif selalu ada.
F8 Gangguan Perkembangan Psikologis
Gambaran umum
Onset bervariasi selama masa bayi atau kanak-kanak. Adanya hendaya atau
keterlambatan perkembangan fungsi-fungsi yang berhubungan erat dengan

7
kematangan biologis susunan saraf pusat Berlangsung terus-menerus tanpa remisi
dan kekambuhan yang khas bagi banyak gangguan jiwa
Pada sebagian besar kasus, fungsi yang dipengaruji termasuk bahasa,
ketrampilan visuo-spasial, koordinasi motorik. Yang khas adalah hendayanya
berkurang secara progresif dengan bertambahnya usia
F9 Gangguan Perilaku dan Emosional dengan Onset Biasanya Pada Masa
Kanak dan Remaja
Anak dengan gangguan perilaku menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan
permintaan, kebiasaan atau norma-norma masyarakat. Anak dengan gangguan
perilaku dapat menimbulkan kesukaran dalam asuhan dan pendidikan. Gangguan
perilaku mungkin berasal dari anak atau mungkin dari lingkungannya, akan tetapi
akhirnya kedua faktor ini saling mempengaruhi. Diketahui bahwa ciri dan bentuk
anggota tubuh serta sifat kepribadian yang umum dapat diturunkan dari orang tua
kepada anaknya. Pada gangguan otak seperti trauma kepala, ensepalitis, neoplasma
dapat mengakibatkan perubahan kepribadian. Faktor lingkungan juga dapat
mempengaruhi perilaku anak, dan sering lebih menentukan oleh karena lingkungan
itu dapat diubah, maka dengan demikian gangguan perilaku itu dapat dipengaruhi
atau dicegah

2. GANGGUAN PENGGUNAAN ZAT

1. Definisi
Gangguan penggunaan zat adalah suatu gangguan jiwa berupa penyimpangan
perilaku yang berhubungan dengan pemakaian zat, yang dapat mempengaruhi
susunan saraf pusat secara kurang lebih teratur sehingga menimbulkan gangguan
fungsi sosial.

8
2. Klasifikasi gangguan penggunaan zat
a. Penyalah gunaan zat
Merupakan suatu pola penggunaan zat yang bersifat patologik, paling sedikit
satu bulan lamanya, sehingga menimbulkan gangguan fungsi sosial atau okupasional.
Pola penggunaan zat yang bersifat patologik dapat berupa intoksikasi sepanjang hari,
terus menggunakan zat tersebut walaupun penderita mengetahui bahwa dirinya
sedang menderita sakit fisik berat akibat zat tersebut, atau adanya kenyataan bahwa ia
tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa menggunakan zat tersebut. Gangguan yang
dapat terjadi adalah gangguan fungsi sosial yang berupa ketidakmampuan memenuhi
kewajiban terhadap keluarga kawan-kawannya karena perilakunya yang tidak wajar,
impulsif, atau karena ekspresi perasaan agresif yang tidak wajar.
b. Ketergantungan zat
Merupakan suatu bentuk gangguan penggunaan zat yang pada umumnya lebih
berat. Terdapat ketergantungan fisik yang ditandai dengan adanya toleransi atau
sindroma putus zat.
Zat-zat yang sering dipakai yang dapat menyebabkan gangguan penggunaan
zat dapat digolongkan sebagai berikut:
- Opioida misalnya, morfin, heroin, oetidin, kodein dan candu
- Ganja atau kanabis atau mariyuana
- Kokain dan daun koka
- Alkohol (Etilkohol) yang terdapat dalam minuman keras
- Amfetamin
- Halusinogen, misalnya LSD, meskalin, psilosin, psilosibin
- Sedativa dan hipnotika
- Solven dan Inhalansia
- Nikotin yang terdapat dalam tembakau
- Kafein yang terdapat dalam kopi, teh dan minuman cola
Semua zat yang disebutkan di atas mempunyai pengaruh pada susunan saraf
pusat sehingga disebut zat psikotropika psikoaktif. Tidak semua zat psikotropik dapat

9
menimbulkan gangguan penggunaan zat. Zat psikotropik yang disebutkan di atas
dapat menimbulkan adiksi, oleh karena itu disebut zat adiktif. Obat antipsikosis dan
antidepresi hampir tidak pernah menimbulkan gangguan penggunaan zat.
Dalam buku-buku ilmu kedokteran khususnya psikiatri istilah “adiksi” dipakai
untuk melukiskan “kecanduan”. Tetapi dalam buku-buku baru istilah adiksi tidak
dipakai lagi sebagai gantinya dipakai istilah “ketergantungan obat”. Ketergantungan
obat dibedakan atas ketergantungan fisik dan ketergantungan psikis. Sementara itu
arti adiksi dipersempit menjadi ketergantungan fisik, sedangkan ketergantungan
psikis disebut habituasi. Beberapa ahli memberi arti adiksi sebagai bentuk
ketergantungan yang berat pada hard drug (heroin, morfin), sedangkan habituasi
sebagai bentuk ketergantungan yang ringan yaitu pada soft drug (ganja, sedativa, dan
hipnotika).
Untuk memperoleh khasiat seperti semula dari zat yang dipakai berulang kali,
diperlukan jumlah yang makin lama makin banyak, keadaan yang demikian itu
disebut “Toleransi”. Toleransi silang merupakan toleransi yang terjadi diantara zat-
zat yang khasiat farmakologiknya mirip, misalnya orang yang toleran terhadap
alkohol juga toleran terhadap sedativa dan hipnotika. Gejala ‘putus zat” (gejala lepas
zat, withdrwal syndrome) merupakan gejala yang timbul bila seseorang yang
ketergantungan pada suatu zat, pada suatu saat pemakaiannya dihentikan atau
dikurangi jumlahnya. Intoksifikasi merupakan suatu gangguan mental organik yang
ditandai dengan perubahan psikologis dan perilaku sebagai akibat pemakaian zat.
Pada umumnya obat ini biasa digunakan untuk terapi gangguan psikiatri,
sedangkan obat narkotika adalah obat yang bekerja secara selektif pada susunan saraf
pusat dan mempunyai efek utama terhadap penurunan dan perubahan kesadaran,
hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri. Yang mana obat ini
biasa digunakan untuk analgesic (anti rasa sakit), antitusif (mengurangi batuk),
antipasmodik (mengurangi rasa mulas dan mual), dan premedikasi anestesi dalam
praktik kedokteran. Obat psikotropika adalah obat yang bekerja secara selektif pada

10
susunan saraf pusat dan mempunyai efek utama terhadap aktivitas mental dan
perilaku. Obat ini biasa digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik.

3. Tingkat pemakaian NAPZA


1) Pemakaian coba-coba (experimental use), yaitu pemakaian NAPZA yang
tujuannya ingin mencoba,untuk memenuhi rasa ingin tahu. Sebagian pemakai
berhenti pada tahap ini, dan sebagian lain berlanjut pada tahap lebih berat
2) Pemakaian sosial/rekreasi (social/recreational use) : yaitu pemakaian NAPZA
dengan tujuan bersenang-senang,pada saat rekreasi atau santai. Sebagian
pemakai tetap bertahan pada tahap ini,namun sebagian lagi meningkat pada
tahap yang lebih berat
3) Pemakaian Situasional (situasional use) : yaitu pemakaian pada saat
mengalami keadaan tertentu seperti ketegangan, kesedihan, kekecewaaqn, dan
sebagainnya, dengan maksud menghilangkan perasaan-perasaan tersebut
4) Penyalahgunaan (abuse): yaitu pemakaian sebagai suatu pola penggunaan
yang bersifat patologik/klinis (menyimpang) yang ditandai oleh intoksikasi
sepanjang hari, tak mapu mengurangi atau menghentikan, berusaha berulang
kali mengendalikan, terus menggunakan walaupun sakit fisiknya kambuh.
Keadaan ini akan menimbulkan gangguan fungsional atau okupasional yang
ditandai oleh : tugas dan relasi dalam keluarga tak terpenuhi dengan
baik,perilaku agresif dan tak wajar, hubungan dengan kawan terganggu,
sering bolos sekolah atau kerja, melanggar hukum atau kriminal dan tak
mampu berfungsi secara efektif
5) Ketergantungan (dependence use) : yaitu telah terjadi toleransi dan gejala
putus zat, bila pemakaian NAPZA dihentikan atau dikurangi dosisnya. Agar
tidak berlanjut pada tingkatyang lebih berat (ketergantungan), maka sebaiknya
tingkat-tingkat pemakaian tersebut memerlukan perhatian dan kewaspadaan
keluarga dan masyarakat. Untuk itu perludilakukan penyuluhan pada keluarga
dan masyarakat

11
4. ZAT PSIKOAKTIF

A. DEFINISI
Zat psikoaktif memiliki sifat-sifat khusus terhadap jaringan otak: menekan
aktivitas fungsi otak (depressan), merangsang aktivitas fungsi otak (stimulansia) dan
mendatangkan halusinasi (halusinogenik). Otak merupakan sentra perilaku manusia,
maka interaksi antar zat psikoaktif dengan sel-sel saraf otak akan menyebabkan
terjadinya perubahan periaku manusia. Perubahan perilaku terebut tergantung sifat
dan jenis zat yang masuk kedalam tubuh. Otak memiliki neurotransmitter dopamin
yang menghantarkan pesan sensasi nikmat (senang,enak, euforia, gembira).

B. JENIS-JENIS ZAT PSIKOAKTIF


a. ALKOHOL
Meski penyalahgunaan dan ketergantungan alkohol biasanya disebut alkoholisme,
DSM-IV-TR tdak menggunakan istilah itu karena tidak menggambarkan defisini
yang tepat.
Kategori dan definisi pola penggunaan alkohol:
- Peminum sedang : pria ≤2 minuman/hr, wanita ≤1 minuman/hr, orang >65
tahun, ≤1 minuman/hr
- Peminum beresiko : pria, > 14 minuman/mgg atau >4 minuman
perkesempatan
- Peminum berbahaya : beresiko mengalami konsekuensi simpang alkohol
- Peminum merugikan : alkohol menyebabkan kerugian fisik atau psikologis
- Penyalahgunaan alkohol : ≤1 peristiwa berikut dalam setahun : penggunaan
berulang yang mengakibatkan kegaglan memenuhi kewajiban peran utama,
penggunan berulang dalam situasi yang berbahaya, masalah hukum terkait
alkohol berulang (cth., ditangkap saat mengemudi dalam pengaruh alkohol),
penggunaan berlanjut meski mengalami masalah sosial atau interpersonal
yang disebabkan atau dieksaserbasi oleh alkohol.

12
Ketergantungan alkohol : ≤3 peristiwa berikut dalam setahun : tolerasnsi;
peningkatan jumlah untuk mencapai efek, penurunan efek dari jumlah yang sama,
keadaan putus zat, menghabiskan banyak wkatu untuk memroleh alkohol,
menggunakan atau pulih dari efeknya, merelakan atau mengurangi aktivitas penting
karena alkohol, minum lebih banyak atau lebih lama dari yang di niatkan, hasrat
persisten atau tidak berhasilnya upaya untuk mengurangi ata mengendalikan
penggunaan alkohol, tetap menggunakan meski mengetahui adanya masalah
psikologis yang disebabkan atau dieksaserbasi oleh alkohol.
Kriteria Diagnostik untuk Intoksikasi Alkohol
A. Baru saja menggunakan alkohol
B. Prilaku maladaptif atau perubahan psikologis yang bermakna secara klinis
(misalnya, prilaku seksual atau agresif yang tidak tepat, labilitas mood,
gangguan pertimbangan, gangguan fungsi sosial atau pekerjaan) yang
berkembang selama atau segera setelah ingesti alkohol
C. Satu (atau lebih) tanda berikut ini, yang berkembang selama atau segera
setelah pemakaian alkohol
1) Bicara meracau
2) Inkoordinasi
3) Gaya berjalan tidak stabil
4) Nistagmus
5) Gangguan atensi atau memori
6) Stupor atau koma
D. Gejala tidak disebabkan oleh kondisi medis umum dan tidak lebih baik
diterangkan oleh gangguan mental lain. 2
Kriteria Diagnostik untuk Putus Alkohol
A. Penghentian (atau penurunan) pemakaian alkohol yang telah lama dan berat
B. Dua (atau lebih) tanda berikut ini yang berkembang dalam beberapa jam
sampai beberapa hari setelah kriteria A
1) Hiperaktivitas otonomik (misalnya, berkeringat atau kecepatan denyut
nadi lebih dari 100)
2) Peningkatan tremor tangan
3) Insomnia
4) Mual dan muntah
5) Halusinasi atau ilusi penglihatan, raba atau dengar yang transien
6) Agitasi psikomotor
7) Kecemasan
8) Kejang grand mal
C. Gejala dalam kriteria B menyebabkan penderitaan yang serius secara klinis
atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.

13
D. Gejala tidak disebabkan suatu kondisi medis umum dan tidak lebih baik
diterangkan oelh gangguan mental lain.

B. OPIOID
Opioid merupakan analgesik (analgesic) narkotik yang digunakan untuk
menghilangkan rasa sakit. Opioid yang paling sering digunakan (morfin, heroin,
hidromorfin, metadon, dan petidin). Menghasilkan efek analgesia, perubahan mood
seperti (euphoria, yang dapat berubah menjadi apati atau disforia), pusing, bicara
cadel, gangguan konsentrasi atau memori, dan gangguan penilaian realita
Kriteria Diagnosis DSM-IV-TR Intoksikasi Opioid
A. Penggunaan opioid baru-baru ini.
B. Perubahan psikologis atau perilaku maladaptive yang secara klinis signifikan
(contoh: euphoria, inisial yang diikuti apati, disforia, agitasi atau retardasi
psikomotor, daya nilai terganggu, atau fungsi social dan okupasional yang
terganggu).
C. Konstriksi pupil (atau dilatasi pupil akibat anoksia pada overdosis berat) dan
satu (atau lebih) tanda berikut, timbul selama atau segera setelah penggunaan
opioid:
1. Mengantuk atau koma
2. Bicara cadel
3. Hendaya atensi atau memori
D. Gejala tidak disebabkan kondisi medis umum dan tidak lebih baik diterangkan
oleh gangguan mental lain.
Tentukan apakah :
Dengan gangguan persepsi.2
Kriteria Diagnosis DSM-IV-TR Keadaan putus opioid
A. Salah satu hal berikut
1. Penghentian (atau pengurangan) penggunaan opioid yang berlangsung
lama dan memanjang (beberapa minggu atau lebih.
2. Pemberian antagonis opioid setelah periode penggunaan opioid
B. Tiga atau lebih tanda berikut, yang timbul dalam hitungan menit sampai
beberapa hari setelah kriteria A:
1. Mood disforik
2. Mual atau muntah
3. Nyeri otot
4. Lakrimasi atau rinorea
5. Dilatasi pupil, piloereksi, atau berkeringat
6. Diare
7. Menguap

14
8. Demam
9. Insomnia
C. Gejala pada criteria B menyebabkan penderitaan atau hendaya yang secara
klinis signifikan dalam fungsi sosial, okupasional, atau area fungsi penting
lain.
D. Gejala tidak disebabkan kondisi medis umum dan tidak lebih baik diterangkan
oleh gangguan mental lain. 2

Gangguan mood akibat opioid


Gejala gangguan mood akibat opioid mungkin bersifat maniK, depresi atau
campuran, tergantung pada respon seseorang terhadap opiat atau opioid. Seseorang
yang datang ke psikiatrik dengan gangguan mood akibat opioid biasanya mempunyai
gejala campuran, suatu kombinasi iritabilitas, perasaan meluap-luap dan depresi. 2
Gangguan tidur akibat opioid dan disfungsi seksual akibat opioid
Hiperinsomnia kemungkinan merupakan gangguan tidur yang paling sering pada
opiate atau opioid dibandingkan insomnia. Disfungsi seksual yang paling sering
kemungkinan adalah impotensi. 2
Keadaan putus opioid
Aturan umum tentang awitan dan durasi gejala keadaan putus zat adalah bahwa zat
dengan durasi kerja singkat cenderung menimbulkan sindrom putus zat yang pendek
dan hebat, dan zat dengan durasi kerja lama menghasilkan sindrom putus zat yang
memanjang namun ringan. Pengecualian aturan tersebut, keadaan putus zat yang
dipresipitasi antagonis narkotik setelah ketergantungan opioid kerja lama bias
menjadi berat. 2
Sindrom abstinensi dapat dipresipitasi dengan pemberian antagonis opioid. Gejala
dapat dimulai dalam hitungan detik setelah injeksi intravena dan dapat memuncak
kurang lebih 1 jam. Ketagihan opioid jarang terjadi pada pemberian opioid sebagai
analgesik untuk nyeri akibat penyakit fisik atau pembedahan. Sindrom putus zat
penuh, termasuk ketagihan opioid yang intens, biasanya hanya terjadi sekunder
terhadap penghentian mendadak penggunaan pada orang dengan ketergantungan
opioid.2

15
Morfin dan Heroin. Sindrom putus morfin dan heroin dimulai 6 sampai 8 jam
setelah dosis terakhir, biasanya setelah periode 1 sampai 2 minggu penggunaan
berkelanjutan atau setelah pemberian antagonis narkotik. Sindrom putus zat mencapai
intensitas puncak hari kedua atau ketiga dan mereda 7 sampai 10 hari berikutnya tapi
beberapa gejala dapat menetap selama 6 bulan atau lebih. 2
Meperidin. Sindrom putus zat meperidin dimulai dengan cepat, mencapai puncak
dalam 8 sampai 12 jam, dan berakhir dalam 4 sampai 5 hari. 2
Metadon. Keadaan putus metadon biasanya dimulai dalam 1 sampai 3 hari setelah
dosis terakhir dan berakhir dalam 10 sampai 14 hari. 2
 Gambaran Klinis
Opioid dapat dikonsumsi per oral, dihirup secara intra nasal, dan di injeksikan
secara intravena (IV) atau subkutan. Opioid secara subjektif bersifat adiktif karena
melalui sensasi tinggi euforik yang dialami pengguna, terutama mereka yang
mengonsumsi zat secara IV. Gejala terkait mencakup perasaan hangat, rasa berat
di ekstremitas, mulut kering, wajah gatal (terutama hidung), dan wajah memerah.
Euphoria awal diikuti oleh periode sedasi, dikenal dalam istilah jalanan sebagai
“nodding off”. Penggunaan opioid dapat menginduksi disforia, mual dan muntah
pada orang yang belum pernah mengonsumsi opioid. Efek fisik opioid meliputi
depresi napas, konstriksi papil, kontraksi otot polos (termasuk ureter dan kandung
empedu), konstipasi, perubahan tekanan darah, denyut jantung dan suhu tubuh.
Efek depresi nafas diperantarai pada tingkat batang otak. 2
 Efek simpang
Efek simpang paling sering dan paling serius yang dikaitkan dengan
gangguan terkait opioid adalah kemungkinan penularan hepatitis dan HIV melalui
penggunaan jarum terkontaminasi oleh lebih dari satu orang. Seseorang dapat
mengalami reaksi alergik idiosinkatrik terhadap opioid, yanf mengakibatkan syok
anafilaktik, edema paru dan kematian bila mereka tidak menerima penanganan
yang tepat dan adekuat. Efek simpang serius lain adalah interaksi obat
idionsikratik antara meperidin dan inhibitor oksidase monoamin, yang dapat

16
menimbulkan instabilitas otonom menyeluruh, agitasi perilaku berat, koma, kejang
dan kematian. Untuk alas an ini opioid dan inhibitor oksidase monoamin sebaiknya
tidak diberikan bersamaan. 2
 Overdosis opioid
Kematian akibat overdosis opioid biasanya disebabkan henti nafas akibat efek
depresan napas zat tersebut. Gejala overdosis meliputi kurangnya respons yang nyata,
koma, napas lambat, hipotermia, hipotensi, dan bradikardia. Ketika pasien dibawa
dengan trias klinis berupa koma, pupil pinpoint, dan depresi napas, klinisi
seyogyanya mempertimbangkan overdosis sebagai diagnosis primer. Mereka juga
dapat menginspeksi tubuh pasien untuk mencari jejak jarum di lengan, tungkai,
pergelangan kaki, selangkangan, dan bahkan vena dorsalis penis.

C. NIKOTIN
Kriteria diagnosis DSM-IV-TR keadaan putus nikotin
A. Penggunaan nikotin harian selama sekurangnya berapa minggu
B. Penghentian mendadak penggunaan nikotin, atau pengurangan jumlah nikotin
yang digunakan, dalam waktu 24 jam diikuti oleh empat atau lebih tanda berikut:
1. Mood disforik atau depresi
2. Insomnia
3. Iritilitas, frustasi, atau kemarahan
4. Ansietas
5. Sulit berkonsentrasi
6. Kegelisahan
7. Penurunan frekuensi denyut jantung
8. Peningkatan nafsu makan atau penambahan berat badan
C. Gejala pada kriteria B menyebabkan penderitaan atau hendaya yang secara klinis
signifikan dalam fungsi sosial, okupsional, atau area fungsi penting lain.
D. Gejala tidak disebabkan kondisi medis umum dan tidak lebih baik diterangkan
oleh gangguan mental lain. 2
Kriteria diagnosis DSM-IV-TR gangguan terkait nikotin yang tak tergolongkan
Kategori gangguan terkait nikotin yang tak tergolongkan diperuntukkan untuk
gangguan yang dikaitkan dengan penggunaan nikotin yang tidak dapat
diklasifikasikan sebagai ketergantungan nikotin atau keadaan putus nikotin. 2

 Ketergantungan nikotin

17
Ketergantungan nikotin timbul dengan cepat mungkin karena nikotin
mengaktivasi sistem dopaminergik area tegmental ventral, sistem yagn sama
dengan yang dipengaruhi kokain dan amfetamin. Berkembangnya dependensi
diperkuat faktor sosial yang kuat mendorong seseorang untuk merokok dan pada
beberapa situasi serta efek yang sangat kuat dari iklan pengusaha rokok. Orang
cenderung merokok bila orang tua atau saudara kandungnya merokok dan
berfungsi sebagai contoh baginya. 2
 Gambaran klinis
Efek stimulatork nikotin menimbulkan peningkatan atensi, waktu
pembelajaran, waktu reaksi, dan kemampuannya menyelesaikan masalah. Merokok
kretek dapat meningkatkan mood, menurunkan ketegangan, dan mengurangi perasaan
depresi.

E. INHALAN
Kategori gangguan tekait ihalan mencakup sindrom psikiatri yang terjadi akibat
penggunaan bahan pelarut, lem, bahan perekat, dan bahan pembakar aerosol, bahan
pengencer cat, dan bahan bakar. Contoh klasik adalah bensin, penghapus ernis, cairan
pemantik, lem pesawat terbang, semen karet, cairan pembersih, cat semprot. Senyawa
aktif inhlan mencakup toluene, aseton, benzene, trikloroetana, perkloretilen,
trikloroetilen, 1,2-dikloropropoan, dan hidrokarbon terhalogenisasi.
Kriteria diagnosis DSM-IV-TR Intoksikasi Inhalan
a. Penggunaan secara secara sengaja baru-baru ini aau jangka pendek, atau pajanan
dosis tinggi dlam jangka pendek inhalan yang mudah menguap (tidak termasuk gas
anestetik dan vasodilator kerja singkat).
b. Perubahan psikologis atau perilaku maladaptive yang secara klinis signifikan (cth.
Perkelahian, penyerangan, apati, daya nilai terganggu, fungsi sosial dan
okupasional terganggu) yang timbul selama atau segera setelah penggnaan atau
pajanan terhadap inhalan yang mudah menguap.
c. Dua atau lebih tanda berikut:
1. Pusing
2. Nistagmus
3. Inkoordinasi
4. Bicara cade

18
5. Cara berjalan tidak stabil
6. Letargi
7. Reflex terdepresi
8. Retardasi psikomoto
9. Tremor
10. Kelemahan otot menyeluruh
11. Pandangan kabur atau atau diplopia
12. Stupor atau koma
13. Euphoria
d. Gejala tidak disebabkan kondisi medis umm dan tidak lebih baik diterangkan oleh
gangguan mental lain. 2
Kriteria diagnosis DSM-IV-TR Gangguan Terkait Inhalan Yang Tak
Tergolongkan:
Kategori gangguan terkait halusinogen yang tak tergolongkan di tujukan bagi
gangguan yang dikaitkan dengan penggunaan inhalan yang tidak dapat
diklasifikasikan sebagai ketergantungan inhalan, penyalahgunaan inhalan, intoksikasi
inhalan, demensia persisten terinduksi inhalan, gangguan psikotik terinduksi inhalan,
gangguan mood terinduksi inhalan, atau gangguan ansietas terinduksi inhalan. 2

 Gambaran klinis
Inhalan dapat menyebabkan disinhibisi serta dapat menimbulkan perasaan
euphoria dan eksitasi serta sensasi engambang yang menyenangkan yang
kemungkinan merupakan efk yang dicari oleh orang yang menggunakan obat
tersebut. Dosis tinggi inhalan dapat menyebabkan gejala psikologis seperti ketakutan,
ilusi sensorik, halusinasi auditorik dan visual, serta distorsi ukuran tubuh. Gejala
neurologis berupa bicara cadel, penururan kecepatan bicara, ataksia. Penggunaan
jangka panjang berupa iritabilitas, labilitas emosi, dan hendaya memori.

F. HALUSINOGEN
Halusinogen adalah zat alami dan sintetik yang dapat menginduksi halusinasi juga
dapat menyebabkan hilangnya kontak dengan realitas dan suatu pengalaman
kesadaran yang meluas dan meningkat. Halusinogen (psychedelics) adalah zat
psikoaktif yang kuat mengubah persepsi, suasana hati, dan sejumlah proses kognitif

Kriteria diagnosis DSM-IV-TR Intoksikasi Halusinogen

19
B. Penggunaan halusinogen baru-baru ini.
C. Perubahan psikologis atau perilaku maladaptif yang secara signifikan
(misalnya, ansietas, depresi yang nyata, ide paranoid, daya nilai terganggu,
atau fungsi sosial atau okupasional terganggu) yang timbul selama atau segera
setelah penggunaan halusinogen.
D. Perubahan persepsi terjadi dalam keadaan kesadarang dan kewaspadaan
penuh (misalnya halusinasi, depersonalisasi, ilusi, derealissasi, sinestesia)
yang timbul selama atau segera setelah penggunaan halusinogen.
E. Dua atau lebih tanda berikut, timbul selama atau segera setelah penggunaan
halusinogen.
1. Dilatasi pupil
2. Takikardia
3. Berkeringat
4. Palpitasi
5. Pandangan kabur
6. Tremor
7. Inkoordinasi
F. Gejala tidak disebabkan kondisi medis umum dan tidak lebih baik diterangkan
oleh gangguan mental lain.2

Kriteria Diangosis DSM-IV-TR untuk gangguan persepsi persisten halusinogen


(kilas balik)
A. Pengalaman kembali, setelah menghentikan pemakaian halusinogen, satu
atau lebih gejala persepsi yang pernah dialami ketika terintoksikasi
halusinogen.
B. Gejala pada kriteria pertama menyebabkan penderitaan atau hendaya yang
secara klinis signifikan pada fungsi sosial, okupasional, atau area fungsi
penting lain.
C. Gejala tidak disebabkan kondisi medis umum (misalnya lesi anatomis dan
infeksi pada otak, epilepsi visual), dan tidak lebih baik diterangkan oleh
gangguan mental lain atau halusinasi hipnopompik.2
Kriteria diagnosis DSM-IV-TR Gangguan Terkait Halusinogen Yang Tak
Tergolongkan:
Kategori gangguan terkait halusinogen yang tak tergolongkan di tujukan bagi
gangguan yang dikaitkan dengan penggunaan halusinogen yang tidak dapat
diklasifikasikan sebagai ketergantungan halusinogen, penyalahgunaan halusinogen,
intoksikasi halusinogen, gangguan persepsi persisten halusinogen, delirium pada
intoksikasi halusinogen, gangguan psikotik terinduksi halusinogen, gangguan mood
terinduksi halusinogen, atau gangguan ansietas terinduksi halusinogen.2

Delirium pada intoksikasi halusinogen


Gangguan psikotik terinduksi halusinogen
Gangguan mood terinduksi halusinogen

20
Gangguan ansieta terjadidinduksi halusinogen

 Gambaran klinis
Awitan kerja LSD tejadi dalam 1 jam, memuncak dalam 2-4 jam berlangsung 8-12
jam. Efek simpatomimetik berupa tremor, takikardia, hipertensi, hipertermia,
berkeringat, pandangan kabur, dan midriasis. Kematian disebabkan patologi
serebrovaskular atau kardiak. Sindrom neuroleptik maligna dilaporkan disebabkan
oleh LSD. Dengan penggunaan halusinogen persepsi menjadi sangat cerah dan intens.
Warna dan tekstur lebih kaya dibadningkan sebelumnya, kontur menajam, music lebh
mendalam secara emoisonal. Halusinasi biasanya visual, emosi menjadi intens,
memori dini yang hilang.
G.KOKAIN
Kokain adalah alkaloid yang didapatkan dari semak erythroxyloncoca asli dari
Amerika selatan yang daunnya dikunyah penduduk untuk mndapatkan efek stimulasi.
Alkaloid kokain pertama kali diisolsi tahun 1860 dan digunakan sebagai anestesi
lokal 1880 karena efek analgesik dan vasokontriktif yang bermanfaat.
Kriteria diagnosis DSM-IV-TR intoksikasi kokain
A. Baru-baru ini mengonsumsi kokain atau zat terkait
B. Perubahan psikologis atau perilaku maladaptif yang secara klinis signifikan
(contoh: euforia atau penumpulan afek; perubahan sosiabilitas; hipervigilans;
sensitivitas interpersonal; ansietas, ketegangan, atau kemarahan; perilaku
stereotipi; daya nilai terganggu; atau fungsi sosial atau okupasional terganggu)
yang timbul selama atau segera setelah penggunaan kokain atau zat terkait.
C. Dua atau lebih hal berikut, timbul selama atau segera setelah penggunaan
kokain atau zat terkait:
1. Takikardia atau bradikardia
2. Dilatasi pupil
3. Tekanan darah meningkat atau menurun
4. Berkeringat atau menggigil
5. Mual atau muntah
6. Bukti penuruan berat badan
7. Agitasi atau retardasi psikomotor
8. Kelemahan otot, depresi napas, nyeri dada, atau aritmia jantung
9. Kebingungan, kejang, diskinesia, distonia, atau koma.
D. Gejala tidak disebabkan suatu kondisi medis umum dan tidak lebih baik
diterangkan oleh gangguan mental lain.

21
Tentukan apakah : dengan gangguan persepsi. 2
Kriteria diagnosis DSM-IV-TR untuk keadaan putus kokain
A. Penghentian atau pengurangan konsumsi amfetamin atau zat terkait yang telah
berlangsung lama dan berat.
B. Mood disforik dan dua atau lebih perubahan fisiologis berikut, timbul dalam
waktu beberapa jam sampai beberapa harisetelah kriteria 1:
1) Kelelahan
2) Mimpi yang tidak menyenangkan dan sangat jelas
3) Insomnia atau hipersomnia
4) Peningkatan nafsu makan
5) Agitasi atau retardasi psikomotor
C. Gejala pada kriteria 2 menyebabkan penderitaan atau hendaya yang secara
klinis signifikan dalam fungsi sosial, okupasional, atau area fungsi penting
lain
D. Gejala tidak disebabkan suatu kondisi medis umum dan tidak lebih baik
diterangkan oleh gangguan mental lain. 2
Kriteria diagnosis DSM-IV-TR untuk gangguan terkait kokain yang tak
tergolongkan,
Kategori gangguan terkait kokain yang tak tegolongan adalah untuk gangguan
yang disebabkan oleh penggunaan kokain atau zat terkait yang tidak dapat
diklasifikasikan sebagai ketergantungan kokain, penyalahgunaan kokain, intoksikasi
kokain, keadaan putus kokain, delirium pada intoksikasi kokain,, gangguan psikotik
terinduksi kokain, gangguan mood terinduksi kokain, gangguan ansietas terinduksi
kokain, disfungsi seksual terinduksi kokain, atau gangguan tidur terinduksi kokain.
I.KANABIS
Dikenal di Asia tenah dan Cina selama setidaknya 4000 tahun , tanaman rami
Cannabis sativa dari India adalah suatu herba aromatik yang tumbuh setiap tahun. Zat
bioaktif turunannya sercara kolektif disebut kanabis. Berdasarkan sebagian besar
erkiraan kanabis tetap menjadisalah satu obat terlrang yang paling sering digunakan.
Kriteria diagnosis DSM-IV-TR untuk Intoksikasi Kanabis
a. Penggunaan kanabis baru-baru ini
b. Perubahan psikologis atau perilaku maladaptif yang secra klins signifikan
(cth, koordinasi motorik terganggu, euforia,ansietas,senasi watu melambat,
daya nilai tergnggu, penarikan sosial).
c. Dua atau lebih tanda berkut timbul dalam waktu 2 jam:
1. Injeksi konjungtiva
2. Peningkatan nafsu makan

22
3. Mulut kering
4. Takikardia
d. Gejala tidak disebabkan suatu kondisi medis umum dan tidak lebih baik
diterangkan oleh gangguan mental lain.2
Kriteria diangosis DSM-IV-TR untuk gangguan terkait kanabis yang tak terinci
Kategori gangguan terkait kanabis yang tak terinci dikaitakan dengan
penggunaan kabis yang tdk dapat diklasifiksikan sebagai ketergantungan kanabis,
penyalahgunaan kanabis, intoksikasi kanabis, delirium pada intoksikasi kanabis,
gangguan psikotik terinuksi kaabis, atau gangguan ansietas terindukasi kanabis.
KAFEIN
Zat psikoaktif yang paling banyak dikonsumsi di dunia adalah kafein.
Diperkirakan lebih dari 80% orang dewasa di Amerika serikat mengonsumsi kafein
secara teratur dan di seluruh dunia, konsumsi terintegerasi dengan baik dalam praktik
kebudayaan harian. Oleh karena penggunaan kafein sangat pervasif dan diterima
secara luas, gangguan yang dikaitkan dengan penggunaan kafein mungkin terlewat.
Namun, seseorang sebaiknya mengetahui bahwa kafein merupakan senyawa
psikoaktif yang dapat menimbulkan kisaran sindrom yang luas.
Kriteria diagnosis DSM-IV-TR untuk intoksikasi kafein
A. Riwayat baru saja mengonsumsi kafein, biasanya melebihi 250mg (cth., lebih
dari 2-3 cangkir kopi seduh).
B. Lima atau lebih tanda berikut muncul, timbul selama atau segera setelah
penggunaan kafein:
1. Gelisah
2. Gugup
3. Eksitasi
4. Insomnia
5. Muka memerah
6. Diuresis
7. Gangguan gastrointestinal
8. Kedutan otot
9. Alur pikir dan pembicaraan meracau
10. Takikardi atau aritmia jantung
11. Periode tidak merasa lelah
12. Agitasi psikomotor
C. Gejala pada kriteria ke B dapat menyebabkan penderitaan atau hendaya fungsi
sosial, okupasional atau area fungsi penting lain yang signifikan secara klinis

23
D. Gejala tidak disebabkan suatu kondisi medis umum dan tidak lebih baik
diterangkan oleh gangguan mental lain. 2
cKategori diangosis DSM-IV-TR untuk gangguan terkait kafein yang tak
tergolongkan
Kategori gangguan terkait kafein yang tak tergolongkan dikaitkan dengan
penggunaan kafein yang tidak dapat diklasifikasikan sebagai intoksikasi kafein,
gangguan ansietas terinduksi kafein atau gangguan tidur terinduksi kafein. Suatu
contoh adalah keadaan putus kafein. 2
Kriteria riset DSM-IV-TR untuk keadan putus kafein
a. Konsumsi harian kafein yang berkepanjagan
b. Penghentian mendadak konsumsi kafein atau pengurangan jumlah kafein yang
dikonsumsi, yang segera diikuti sakit kepala dan satu atau lebih gejala berikut:
1. Kelelahan atau rasa mengantuk yang nyata
2. Ansietas atau depresi yang nyata
3. Mual atau muntah
c. Gejala pada kriteria B menyebabkan penderitaan atau hendaya fungsi sosial,
okupasional, atau area fungsi penting lain yang berperan secara klinis.
d. Gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu kondisi medis
umum (cth, migrain, penyakit virus) dan tidak lebih baik diterangkan oleh
gangguan mental lain. 2

 Gambaran Klinis
Setelah menggunakan 50 sampai 100mg kafein, gejala yang
sering adalah peningkatan kesiagaan, rasa kesehatan yang ringan dan rasa
peningkatan kinerja verbal dan motorik. Penggunaan kafein juga disertai dengan
diuresis, stimulasi otot jantung, peningkatan sekresi asam lambung dan biasanya
peningkatan ringan pada tekanan darah.

5. PENATALAKSANAAN
Tujuan Terapi dan Rehabilitasi
a. Abstinensia atau menghentikan sama sekali penggunaan NAPZA.
b. Pengurungan frekuensi dan keparahan relaps (kekambuhan). Sasaran
utamanya adalah pencegahan kekambuhan. Pelatihan relapse prevention
programme, program terapi kognitif, opiate antaginist maintenance therapy

24
dengan naltrexon merupakan beberapa alternatif untuk mencegah
kekambuhan.
c. Memperbaiki fungsi psikologi dan fungsi adaptasi sosial .
Dalam kelompok ini, abstinesia bukan merupakan sasaran utama. Terapi
rumatan (maintenance) metadon merupakan pilihan untuk mencapai sasaran
terapi golongan ini.

Penanganan gawat darurat : 


Pada kondisi overdosis sedativa, stimulansia, opiat atau halusinogen biasanya
akan dibawa keruang gawat darurat. Remaja yang dibawa keruang gawat darurat
dalam keadaan perilaku kacau, Psikosis akut, koma, kolaps saluran pernafasan atau
peredaran darah, biasanya karena overdosis obat-obatan . Keadaan ini dapat menjadi
fatal bila salah diagnosis atau mendapat penanganan yang tidak tepat. Oleh karena itu
tenaga medis dan paramedis yang bekerja diruang gawat darurat haruslah mempunyai
pengetahuan tentang obat-obatan yang sering dipakai oleh penyalahguna NAPZA dan
mampu mengatasi intoksikasi yang disebabkan oleh berbagai macam zat
tersebut. Contoh : Naloxone, antagonis opiat, diberikan pada intoksikasi opiat akut,
dengan dosis 0,1 mg/kg i.m. atau i.v. setiap 2-4 jam selama masih dibutuhkan.

Terapi dan Referal


Program terapi untuk pasien rawat–inap dan rawat-jalan bagi remaja dengan
penyalahgunaan NAPZA cukup banyak macamnya. Programyang komprehentif
sangat diperlukan untuk remaja dengan ketergantungan zat. Kebanyakan program ini
memberikan konseling atau psikoterapi, disertai dengan teknik farmakoterapi,
misalnya dengan menggunakan methadone, namun ada juga yang memakai
pendekatan bebas-obat (drug–freeapproach). 
Keberhasilan berbagai metode pendekatan juga sangat tergantung pada
kondisi remaja itu sendiri, akut – kronis, lamanya pemakaian NAPZA, jenis NAPZA
yang dipakai, juga kondisi keluarga. 

25
Untuk pencegahan terjadinya penyalahgunaan NAPZA sebaiknya diberikan
penyuluhan kepada masyarakat luas tentang NAPZA dan berbagai persoalan yang
ditimbulkannya. Usaha ini juga dapat dipakai sebagai deteksi dini penyalah gunaan
NAPZA oleh anggota keluarga dan masyarakat

BAB III
KESIMPULAN

26
Gangguan mental adalah kesulitan yang harus dihadapi oleh seseorang karena
hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena persepsinya tentang kehidupan dan
sikapnya terhadap dirinya sendiri-sendiri. Sumber penyebab gangguan mental
dipengaruhi oleh faktor-faktor pada ketiga unsur itu yang terus menerus saling
mempengaruhi, yaitu :
1. Faktor-faktor somatik (somatogenik)
2. Faktor-faktor psikologik ( psikogenik)
3. Faktor-faktor sosio-budaya (sosiogenik)
            Pengaruh NAPZA sangatlah buruk, baik dari segi kesehatan pribadinya,
maupun dampak sosial yang ditimbulkannya. Masalah pencegahan penyalahgunaan
NAPZA bukanlah menjadi tugas dari sekelompok orang saja, melainkan menjadi
tugas kita bersama. Upaya pencegahan penyalahgunaan NAPZA yang dilakukan
sejak dini sangatlah baik, tentunya dengan pengetahuan yang cukup tentang
penanggulangan tersebut. Peran orang tua dalam keluarga dan juga peran pendidik di
sekolah sangatlah besar bagi pencegahan penaggulangan terhadap NAPZA. Narkoba
memang memiliki banyak jenis, bahkan ada ratusan jenis Narkoba yang belakangan
sudah diracik dengan sesama jenis narkoba atau obat lain sehingga dampaknya lebih
buruk. Sehingga, dampak yang bisa langsung terlihat adalah user (pengguna)akan
kehilangan kesadarannya. Reaksi tubuh pada zat psikotropika ini sulit terlihat
langsung karena berdampak jangka panjang pada mental dan perilaku. Selain itu,
masih ada zat adiktif lainnya seperti alkohol, nikotin, bensin, dan thinner. Obat
psikotropik adalah bahan atau zat (substansi) yang dapat mempengaruhi fungsi
berfikir, perasaan dan tingkah laku pada orang yang memakainya.

DAFTAR PUSTAKA

27
1. Kaplan, Sadock. 2010. Sinopsis Psikiatri. Ilmu Pengetahuan Psikiatri Klinis Edisi
10. Alih bahasa: Widjaja Kusuma. Jawa Barat: Binarupa Aksara
2. Maslim Rusdi, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PDGJ-
III, PT. Nuh Jaya, 2013, h. 38.
3. Badan Narkotika Nasional. (2012). Jenis-jenis Narkoba dan Aspek Kesehatan
Penyalahgunaan Narkoba. Departemen Sosial RI : Jakarta.
4. Joewana, Satya. 2005. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat
Psikoaktif. Jakarta: EGC.
5. Ametembun, Maria T, SH. 2009. Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Sejak
usia Dini.Jakarta : Badan Narkotika Nasional
6. Maslim, R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik edisi ketiga.
Bagian ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.2007

28