Anda di halaman 1dari 11

JURNAL PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA

Nama : Elfrida Hazna P.M


NIM : 10117048
Prodi : S1 Farmasi
Kelompok / Meja : C/1
Tanggal Praktikum : Jumat , 08 Mei 2020
Materi Percobaan : Penemuan Parameter Farmakokinetika Obat Setelah Pemberian
Dosis Tunggal Menggunakan Data Urin.
Dosen Pengampu : Erni Arnika Sari, M.Farm.Klin.,Apt

1. Tujuan Praktikum
Agar mahasiswa mampu menetapkan dan menghitung parameter
farmakokinetika dan etika obat setelah pemberian dosis tunggal berdasarkan data
kadar obat dalam urin lawan waktu.

2. Alat dan Bahan


a. Bahan
1) Tablet asetosal dengan dosis 500 mg.
2) Natrium salisilat pa
3) Feri nitrat pa
4) Asam klorida
5) Merkuri klorida pa
6) Aquadest
b. Alat
1) Spektrofotometer
2) Centrifuge dan tabung centrifuge
3) vortex mixture
4) Alat gelas
5) Sonde
6) Timbangan analitik
Subyek percobaan
manusia sehat, pria dewasa, tidak memiliki gangguan saluran cerna, tidak
memiliki riwayat alergi obat khususnya golongan NSAID (asetosal).
3. Prosedur Percobaan
a. Protokol percobaan

Seminggu sebelum percobaan, subjek tidak boleh


minum obat lain apapun

Semalam sebelum percobaan, subjek puasa


mulai pukul jam 22.00

1 jam sebelum percobaan,


subjek diberi minum 400 ml air

Segera sebelum minum obat kandung kemih dikosongkan


tampung urine sebagai urine blanko

Subjek minum tablet asetosal 500 mg


dengan 200 ml air

Selama 4 jam berturut-turut setelah minum obat subjek diberi


minum 200 ml setiap 1 jam

Cuplikan urin ditampung pada interval waktu tertentu sampai


semua obat eksterasikan (±7x t1/2)

Setiap penampungan urine dicatat waktu pengambilan dan


volume urine yang ditampung

b. Metode penetapan kadar salisilat dalam urine dengan metode TRINDER

1 ml cuplikan urin ditambahkan


dengan 5 ml pereaksi trinder

Kocok homogen dengan vortex,


kemudian disentrifugasi 5 menit

Filtrat dipisahkan dan diamati serapannya pada panjang


gelombang maksimum
c. Tahapan percobaan
1) Pembuatan pereaksi trinder
40 gram merkuri klorida dilarutkan dalam 850 ml air panas dan
didihkan sampai larut. Tambahkan 120 ml asam klorida 1N dan 40 gram
feri nitrat. Jika semua feri nitrat sudah dilarutkan, tambahkan aquadest
sampai 1 liter.

2) Pembuatan larutan baku kerja salisilat


Buatlah larutan induk 1000 ppm dari 116 gram natrium salisilat
dilarutkan dalam 100 ml aquades

Buatlah larutan baku kerja salisilat dengan cara mengencerkan


larutan baku induk sehingga diperoleh larutan kadar 20, 50, 100, 150
dan 200 ppm

3) Penentuan panjang gelombang maksimum.


tentukan panjang gelombang maksimum dengan menggunakan
larutan baku kerja 100 dan 200 ppm yang telah direaksikan dengan
metode penetapan kadar salisilat dengan metode trinder

Amati nilai serapan


pada panjang gelombang 400 – 800 nm

Buatlah kurva serapan terhadap panjang gelombang


dari larutan baku kerja 200 dan 300 ppm

Tentukan panjang gelombang maksimum


4) Pembuatan Kurva

Lakukan pengamatan serapan dari larutan baku kerja 1 yang telah


direaksikan sesuai metode penetapan kadar salisilat dengan metode
trinder pada panjang gelombang maksimum terpilih

Buatlah tabel hasil pengamatan dan buat kurva kadar larutan baku
kerja terhadap serapan pada kertas grafik berskala sama

Hitung koefisien korelasinya dan buat persamaan garisnya

5) Penetapan kembali kadar salisilat yang ditambahkan dalam urin (recovery)


Gunakan larutan baku
dengan kadar 50, 100 dan 150 ppm

1 ml larutan baku ditambahkan 1 ml urine blangko yang direaksikan


sesuai metode penetapan kadar salisilat dalam urine ( metode trinder)

Amati serapan
pada panjang gelombang maksimum

Masukkan nilai serapan baku recovery pada persamaan kurva baku


sehingga diperoleh kadar salisilat recovery

Hitung persentase recovery dengan cara :


C Perolehan kembali
% recovery = x 100%
C Sebenarnya
PARAMETER KLINIK MENGGUNAKAN DATA URIN
1. Menghitung larutan baku induk yang diambil
No Kadar Volume
1 20 ppm 1 ml
2 50 ppm 2,5 ml
3 100 ppm 5 ml
4 150 ppm 7,5 ml
5 200 ppm 10 ml

 20 ppm
V1 . C1 = V2 . C2
50 ml . 20 ppm = V2 . 1000 ppm
50 ml .20 ppm
V2 =
1000 ppm
V2 = 1 ml

 50 ppm
V1 . C1 = V2 . C2
50 ml . 50 ppm = V2 . 1000 ppm
50 ml .50 ppm
V2 =
1000 ppm
V2 = 2,5 ml

 100 ppm
V1 . C1 = V2 . C2
50 ml .100 ppm = V2 . 1000 ppm
50 ml .100 ppm
V2 =
1000 ppm
V2 = 5 ml

 150 ppm
V1 . C1 = V2 . C2
50 ml . 150 ppm = V2 . 1000 ppm
50 ml .150 ppm
V2 =
1000 ppm
V2 = 7,5 ml

 200 ppm
V1 . C1 = V2 . C2
50 ml . 200 ppm = V2 . 1000 ppm
50 ml .200 ppm
V2 =
1000 ppm
V2 = 10 ml
2. Menghitung Regresi Linear dari Absorbansi panjang Gelombang Maksimal

No Kadar Absorbansi
1 20 ppm 0,335
2 50 ppm 0,343
3 100 ppm 0,362
4 150 ppm 0,418
5 200 ppm 0,467

Y= a + b x
A = 0,307
B = 0,0007
R = 0,972
Y = 0,307 + 0,0007 x

3. Data dari penetapan kadar Asam Salilisat dalam Urin

No Meni Absorbansi DU Du kum Du kum ∞- ln (Du


t Du kum kum∞
-Du kum)
1 30 0,692 514,637 514,637 2.423,469 7,7929
2 60 0,433 168,426 683,063 2.255,043 7,7209
3 90 0,403 128,325 811,388 2.126,718 7,6623
4 120 0,565 344,873 1.156,261 1.781,845 7,4854
5 150 0,583 368,934 1.525,195 1.412,911 7,2534
6 180 0,646 453,147 1.978,342 959,764 6,8666
7 210 0,658 469,188 2.447,53 490,576 6,1955
8 240 0,674 490,576 2.938,106 0 -

Y = 0,307 + 0,0007 x
Y – 0,307
X=
7,481 x 10−4
Y – 0,307
 30 -> X =
7,481 x 10−4
0,692 – 0,307
X= = 514,637menit
7,481 x 10− 4

Y – 0,307
 60 -> X =
7,481 x 10−4
0,433 – 0,307
X= = 168,426 menit
7,481 x 10−4
Y – 0,307
 90 -> X =
7,481 x 10−4
0,403 – 0,307
X= = 128,325 menit
7,481 x 10−4
Y – 0,307
 120 -> X =
7,481 x 10−4
0,565 – 0,307
X= = 344,873 menit
7,481 x 10−4
Y – 0,307
 150 -> X =
7,481 x 10−4
0,583 – 0,307
X= = 368,934 menit
7,481 x 10−4
Y – 0,307
 180 -> X =
7,481 x 10−4
0,646 – 0,307
X= = 453,147 menit
7,481 x 10−4
Y – 0,307
 210 -> X =
7,481 x 10−4
0,658 – 0,307
X= = 469,188 menit
7,481 x 10−4
Y – 0,307
 240 -> X =
7,481 x 10−4
0,674 – 0,307
X= = 490,576 menit
7,481 x 10−4

Du Kumulatif
 30 = 514,637
 60 = Du 30 + Du 60
= 514,637 + 168,426
= 683,063
 90 = Du 30 + Du 60 + Du 90
= 514,637 + 168,426 + 128,325
= 811,388
 120 = Du 30 + Du 60 + Du 90 + Du 120
= 514,637 + 168,426 + 128,325 + 344,873
= 1.156,261
 150 = Du 30 + Du 60 + Du 90 + Du 120 + Du 150
= 514,637 + 168,426 + 128,325 + 344,873 + 368,934
= 1.525,195
 180 = Du 30 + Du 60 + Du 90 + Du 120 + Du 150 + Du 180
= 514,637 + 168,426 + 128,325 + 344,873 + 368,934 +
453,147
= 1.978,342
 210 = Du 30 + Du 60 + Du 90 + Du 120 + Du 150 + Du 180 + Du
210
= 514,637 + 168,426 + 128,325 + 344,873 + 368,934 +
453,147 + 469,188
= 2.447,53
 240 = Du 30 + Du 60 + Du 90 + Du 120 + Du 150 + Du 180 + Du
210
+ DU 240
= 514,637 + 168,426 + 128,325 + 344,873 + 368,934 +
453,147 + 469,188 + 490,576
= 2.938,106
Du kum ∞
 30 = Du kum 240 - Du kum 30
= 2.938,106 - 514,637
= 2.423,469
 60 = Du kum 240 - Du kum 60
= 2.938,106 - 683,063
= 2.255,043
 90 = Du kum 240-Du kum 90
= 2.938,106-811,388
= 2.126,718
 120 = Du kum 240 - Du kum 120
= 2.938,106 - 1.156,261
= 1.781,845
 150 = Du kum 240 - Du kum 150
= 2.938,106 - 1.525,195
= 1.412,911
 180 = Du kum 240 - Du kum 180
= 2.938,106 - 1.978,342
= 959,764
 210 = Du kum 240 - Du kum 210
= 2.938,106 - 2.447,53
= 490,576
 240 = Du kum 240 - Du kum 240
= 2.938,106 - 2.938,106
=0

Ln (Du Kum ∞ - Du Kum)


 ln 30 = ln (2.423,469)
= 7,7929
 ln 60 = ln (2.255,043)
= 7,7209
 ln 90 = ln (2.126,718)
= 7,6623
 ln 120 = ln (1.781,845)
= 7,4854
 ln 150 = ln (1.412,911)
= 7,2534
 ln 180 = ln (959,764)
= 6,8666
 ln 210 = ln (490,576)
= 6,1955
 ln 240 = ln (0)
= -