Anda di halaman 1dari 42

1

ASUHAN KEPERAWATAN LEUKIMIA

DI SUSUN OLEH :

KELOMPOK 1

1. Ika novika 5. Eka hasriani

2. Haeurnnisa 6. A. Sari yudha widya astuti

3. A.kurniati abbas 7. Dian Alfionita

4. Rifka anissa 8. Jusniati

PRODI SI KEPERAWATAN

STIKES PANRITA HUSADA BULUKUMBA

TAHUN AKADEMIK 2019/2020


2

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. karena dengan rahmat
dan hidayahnya penyusun dapat menyelesaikan makalah Asuhan Keperawatan
Leukemia Pada Anak, yang di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata
Keperawatan Anak.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada seluruh pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini.

Kami sadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna,
maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang telah
membaca makalah ini, demi perbaikan dimasa yang akan datang.

Bulukumba, 5 Juni 2020

Penyusun
3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................................

DAFTAR ISI..................................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................

A. Latar belakang ..................................................................................................................


B. Rumusan masalah ............................................................................................................
C. Tujuan ..............................................................................................................................
BAB II LAPORAN.......................................................................................................................
A. Pengertian Leukimia.........................................................................................................
B. Etiologi Leukimia.............................................................................................................
C. Klasifikasi Leukimia.........................................................................................................
D. Manifestasi klinis .............................................................................................................
E. Patofisiologi .....................................................................................................................
F. Komplikasi........................................................................................................................
G. Pemeriksaan penunjang ...................................................................................................
H. Penatalaksanaan ...............................................................................................................

BAB III ASHUHAN KEPERAWATAN..............................................................................

A. Pengkajian...........................................................................................................
B. Diagnose keperawatan........................................................................................
C. Intervensi keperawatan.......................................................................................
D. Evaluasi..............................................................................................................
E. Kesimpulan.......................................................................................................................
F. Saran.................................................................................................................................

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan .........................................................................................................
B. Saran..................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................
4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Leukemia berasal dari bahasa yunani yaitu leukos yang berarti


putih dan haima yang berarti darah. Jadi leukemia dapat diartikan sebagai
suatu penyakit yang disebabkan oleh sel darah putih. Proses terjadinya
leukemia adalah ketika seldarah yang bersifat kanker membelah secara tak
terkontrol dan mengganggupembelahan sel darah normal.
Di Indonesia kasus leukemia sebanyak ± 7000 kasus/tahun dengan
angkakematian mencapai 83,6 % (Herningtyas, 2004). Data dari
International Cancer Parent Organization (ICPO) menunjukkan bahwa dari
setiap 1 juta anak terdapat120 anak yang mengidap kanker dan 60 %
diantaranya disebabkan oleh leukemia(Sindo, 2007).
Data dari WHO menunjukkan bahwa angka kematian di
AmerikaSerikat karena leukemia meningkat 2 kali lipat sejak tahun 1971
(Katrin, 1997).Di Amerika Serikat setiap 4 menitnya seseorang
terdiagnosa menderita leukemia.Pada akhir tahun 2009 diperkirakan
53.240 orang akan meninggal dikarenakan leukemia (TLLS, 2009).
B. Tujuan penulisan

Tujuan penulisan

1. Tujuan umum:

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas

terstruktur dan untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa/i


5

tentang leukimia dan tindakan asuhan keperawatan pada pasien dengan

penyakit leukimia

2. Tujuan khusus:

a. Untuk mengetahui definisi dari leukimia

b. Untuk mengetahui klasifikasi leukimia

c. Untuk mengetahui etiologi leukimia

d. Untuk mengetahui patofisiologi leukimia

e. Untuk mengetahui manifestasi klinis leukimia

f. Untuk mengetahui pemeriksaan medis leukimka

g. Untuk mengetahui penatalaksanaan leukimia

h. Untuk mengetahui asuhan keperawatan leukimia


6

BAB II

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Pengertian leukimia

Penyakit neoplastik yang ditandai oleh proliferasi abnormal dari sel

sel hematopietik.(Sylvia&Lorraine,1992) Proliferasi tidak teratur atau

akumulasi sel darah putih dalam sumsum tulang menggantikan elemen

sumsum tulang normal.(Brunner&Suddarth,1996)

Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel

pembentuk darah dalam sumsum tulang dan limfa nadi (Reeves, 2001).

Leukemia adalah istilah umum yang digunakan untuk keganasan pada

sumsum tulang dan sistem limpatik (Wong, 1995).

B. Etiologi

Etiologi pasti dari leukemia ini belum diketahui. Leukemia, sama

halnya dengan kanker lainnya, terjadi karena mutasi somatic pada DNA

yang mengaktifkan onkogenesis atau menonaktifkan gen suppressor

tumor, dan menganggu regulasi dari kematian sel, diferensiasi atau divisi.

Tapi penelitian telah dapat mengemukakan factor resiko dari

Leukemia ini, antara lain:

1. Tingkat radiasi yang tinggi


7

Orang orang yang terpapar radiasi tingkat tinggi lebih

mudah terkena leukemia dibandingkan dengan mereka yang tidak

terpapar radiasi. Radiasi tingkat tinggi bisa terjadi karena ledakan

bom atom seperti yang terjadi di Jepang. Pengobatan yang

menggunakan radiasi bisa menjadi sumber dari paparan radiasi

tinggi.

2. Orang-orang yang bekerja dengan bahan – bahan kimia tertentu

Terpapar oleh benzene dengan kadar benzene yang tinggi

di tempat kerja dapat menyebabkan leukemia. Benzene digunakan

secara luas di industri kimia. Formaldehid juga digunakan luas

pada industri kimia, pekerja yang terpapar formaldehid memiliki

resiko lebih besar terkena leuikemia.

3. Kemoterapi

Pasien kanker yang di terapi dengan obat anti kanker

kadang – kadang berkembang menjadi leukemia. Contohnya, obat

yang dikenal sebagai agen alkilating dihubungkan dengan

berkembangnya leukemia akhir – akhir ini.

4. Down Syndrome dan beberapa penyakit genetic lainnya

Beberapa penyakit disebabkan oleh kromosom yang

abnormal mungkin meningkatkan resiko leukemia.

5. Human T-cell Leukemia virus-I (HTVL-I)


8

Virus ini menyebabkan tipe yang jarang dari leukemia

limfositik kronik yang dikenal sebagi T-cell leukemia.

6. Myelodysplastic syndrome

Orang – orang dengan penyakit darah ini memiliki resiko

terhadap berkembangnya leukemia myeloid akut.

7. Fanconi Anemia

Menyebabkan akut myeloid leukemia

C. Klasifikasi

1. Leukemia Mielogenus/Mieloblastik Akut

AML mengenai sel stem hematopeotik yang kelak berdiferensiasi

ke semua sel Mieloid: monosit, granulosit, eritrosit, eritrosit dan trombosit.

Semua kelompok usia dapat terkena; insidensi meningkat sesuai

bertambahnya usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering

terjadi. Pasien hanya dapat bertahan sampai 1 tahun, kematian disebabkan

oleh infeksi dan pendarahan.

2. Leukemia Mielogenus/Mieloblastik Kronis

CML juga dimasukkan dalam sistem keganasan sel stem mieloid.

Namun lebih banyak sel normal dibanding bentuk akut, sehingga penyakit

ini lebih ringan. CML jarang menyerang individu di bawah 20 tahun.

Manifestasi mirip dengan gambaran AML tetapi tanda dan gejala lebih
9

ringan, pasien menunjukkan tanpa gejala selama bertahun-tahun,

peningkatan leukosit kadang sampai jumlah yang luar biasa, limpa

membesar.

3. Luekemia Limfositik Akut

ALL dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi

pada anak-anak, laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, puncak

insiden usia 4 tahun, setelah usia 15 ALL jarang terjadi. Manifestasi

limfosit immatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer,

sehingga mengganggu perkembangan sel normal.

4. Leukemia Limfositik Kronis

CLL merupakan kelainan ringan mengenai individu usia 50 sampai 70

tahun. Manifestasi klinis pasien tidak menunjukkan gejala, baru

terdiagnosa saat pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit lain.

D. Manifestasi kliniks

1. Leukemia Mieloblastik Akut

a) Rasa lemah, pucat, nafsu makan hilang

b) Anemia

c) Perdarahan, petekie

d) Nyeri tulang

e) Infeksi
10

f) Pembesaran kelenjar getah bening, limpa, hati dan kelenjar

mediatinum

g) Kadang kadang ditemukan hipertrofi gusi khususnya pada M4 dan

M5

h) Sakit kepala

2. Leukemia Mieloblastik Kronik

a) Rasa lelah

b) Penurunan berat badan

c) Rasa penuh di perut

d) Kadang – kadang rasa sakit di perut

e) Mudah mengalami perdarahan

f) Diaforesis meningkat

g) Tidak tahan panas

3. Leukemia Limfositik Akut

a) Malaise, demam, letargi, kejang

b) Keringat pada malam hari

c) Hepatosplenomegali

d) Nyeri tulang dan sendi

e) Anemia

f) Macam – macam infeksi

g) Penurunan berat badan

h) Muntah
11

i) Gangguan penglihatan

j) Nyeri kepala

4. Leukemia Limfositik Kronik

1. Mudah terserang infeksi

2. Anemia

3. Lemah

4. Pegal – pegal

5. Trombositopenia

6. Respons antibodi tertekan

7. Sintesis immonuglobin tidak cukup

E. Patofisiologi

Pada keadaan normal, sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan

tubuh terhadap infeksi. Sel ini secara normal berkembang sesuai perintah,

dapat dikontrol sesuai dengan kebutuhan tubuh. Leukemia meningkatkan

produksi sel darah putih pada sumsum tulang yang lebih dari normal.

Mereka terlihat berbeda dengan sel darah normal dan tidak berfungsi

seperti biasanya. Sel leukemi memblok produksi sel darah normal,

merusak kemampuan tubuh terhadap infeksi. Sel leukemi juga merusak

produksi sel darah lain pada sumsum tulang termasuk sel darah merah

dimana sel tersebut berfungsi untuk menyuplai oksigen pada jaringan.

Analisis sitogenik menghasilkan banyak pengetahuan mengenai

aberasi kromosomal yang terdapat pada pasien dengan leukemia.

Perubahan kromosom dapat meliputi perubahan angka, yang


12

menambahkan atau menghilangkan seluruh kromosom, atau perubahan

struktur termasuk translokasi (penyusunan kembali), delesi, inversi dan

insersi. Pada kondisi ini, dua kromosom atau lebih mengubah bahan

genetik, dengan perkembangan gen yang berubah dianggap menyebabkan

mulainya proliferasi sel abnormal.

Leukemia terjadi jika proses pematangan dari stem sel menjadi sel

darah putih mengalami gangguan dan menghasilkan perubahan ke arah

keganasan. Perubahan tersebut seringkali melibatkan penyusunan kembali

bagian dari kromosom (bahan genetik sel yang kompleks). Translokasi

kromosom mengganggu pengendalian normal dari pembelahan sel,

sehingga sel membelah tidak terkendali dan menjadi ganas. Pada akhirnya

sel-sel ini menguasai sumsum tulang dan menggantikan tempat dari sel-sel

yang menghasilkan sel-sel darah yang normal. Kanker ini juga bias

menyusup ke dalam organ lainnya termasuk hati, limpa, kelenjar getah

bening, ginjal, dan otak.

F. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah

tepi dan pemeriksaan sumsum tulang.

a. Pemeriksaan Darah Tepi

Pada penderita leukemia jenis LLA ditemukan leukositosis

(60%) dan kadang-kadang leukopenia (25%). Pada penderita LMA

ditemukan penurunan eritrosit dan trombosit. Pada penderita LLK

ditemukan limfositosis lebih dari 50.000/mm3, sedangkan pada


13

penderita LGK/LMK ditemukan leukositosis lebih dari

50.000/mm3.

b. Pemeriksaan Sumsum Tulang

Hasil pemeriksaan sumsum tulang pada penderita leukemia

akut ditemukan keadaan hiperselular. Hampir semua sel sumsum

tulang diganti sel leukemia (blast), terdapat perubahan tiba-tiba

dari sel muda (blast) ke sel yang matang tanpa sel antara (leukemic

gap). Jumlah blast minimal 30% dari sel berinti dalam sumsum

tulang. Pada penderita LLK ditemukan adanya infiltrasi merata

oleh limfosit kecil yaitu lebih dari 40% dari total sel yang berinti.

Kurang lebih 95% pasien LLK disebabkan oleh peningkatan

limfosit B. Sedangkan pada penderita LGK/LMK ditemukan

keadaan hiperselular dengan peningkatan jumlah megakariosit dan

aktivitas granulopoeisis. Jumlah granulosit lebih dari 30.000/mm3.

G. Penatalaksanaan

a. Kemoterapi

1. Kemoterapi pada penderita LLA

a) Tahap 1 (terapi induksi)

Tujuan dari tahap pertama pengobatan adalah untuk

membunuh sebagian besar sel-sel leukemia di dalam

darah dan sumsum tulang. Terapi induksi kemoterapi

biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit yang

panjang karena obat menghancurkan banyak sel darah


14

normal dalam proses membunuh sel leukemia. Pada

tahap ini dengan memberikan kemoterapi kombinasi

yaitu daunorubisin, vincristin, prednison dan

asparaginase.

b) Tahap 2 (terapi konsolidasi/ intensifikasi)

Setelah mencapai remisi komplit, segera dilakukan

terapi intensifikasi yang bertujuan untuk mengeliminasi

sel leukemia residual untuk mencegah relaps dan juga

timbulnya sel yang resisten terhadap obat. Terapi ini

dilakukan setelah 6 bulan kemudian

c) Tahap 3 ( profilaksis SSP)

Profilaksis SSP diberikan untuk mencegah kekambuhan

pada SSP. Perawatan yang digunakan dalam tahap ini

sering diberikan pada dosis yang lebih rendah. Pada

tahap ini menggunakan obat kemoterapi yang berbeda,

kadang-kadang dikombinasikan dengan terapi radiasi,

untuk mencegah leukemia memasuki otak dan sistem

saraf pusat

d) Tahap 4 (pemeliharaan jangka panjang)

Pada tahap ini dimaksudkan untuk mempertahankan

masa remisi. Tahap ini biasanya memerlukan waktu 2-3

tahun. Angka harapan hidup yang membaik dengan

pengobatan sangat dramatis. Tidak hanya 95% anak


15

dapat mencapai remisi penuh, tetapi 60% menjadi

sembuh. Sekitar 80% orang dewasa mencapai remisi

lengkap dan sepertiganya mengalami harapan hidup

jangka panjang, yang dicapai dengan kemoterapi

agresif yang diarahkan pada sumsum tulang dan SSP.

2. Kemoterapi pada penderita LMA

a) Fase induksi

Fase induksi adalah regimen kemoterapi yang intensif,

bertujuan untuk mengeradikasi sel-sel leukemia secara

maksimal sehingga tercapai remisi komplit. Walaupun remisi

komplit telah tercapai, masih tersisa sel-sel leukemia di dalam

tubuh penderita tetapi tidak dapat dideteksi. Bila dibiarkan,

sel-sel ini berpotensi menyebabkan kekambuhan di masa yang

akan datang.

b) Fase konsolidasi

Fase konsolidasi dilakukan sebagai tindak lanjut dari fase

induksi. Kemoterapi konsolidasi biasanya terdiri dari beberapa

siklus kemoterapi dan menggunakan obat dengan jenis dan

dosis yang sama atau lebih besar dari dosis yang digunakan

pada fase induksi. Dengan pengobatan modern, angka remisi

50-75%, tetapi angka rata-rata hidup masih 2 tahun dan yang

dapat hidup lebih dari 5 tahun hanya 10%.


16

3. Kemoterapi pada penderita LLK

Derajat penyakit LLK harus ditetapkan karena menetukan

strategi terapi dan prognosis. Salah satu sistem penderajatan yang

dipakai ialah klasifikasi Rai:

a) Stadium 0 : limfositosis darah tepi dan

sumsum tulang

b) Stadium I : limfositosis dan limfadenopati.

c) Stadium II : limfositosis dan splenomegali/

hepatomegali.

d) Stadium III : limfositosis dan anemia (Hb <

11 gr/dl).

e) Stadium IV : limfositosis dan

trombositopenia <100.000/mm3 dengan /

tanpa gejala pembesaran hati, limpa,

kelenjar.

Terapi untuk LLK jarang mencapai kesembuhan karena

tujuan terapi bersifat konvensional, terutama untuk mengendalikan

gejala. Pengobatan tidak diberikan kepada penderita tanpa gejala

karena tidak memperpanjang hidup. Pada stadium I atau II,

pengamatan atau kemoterapi adalah pengobatan biasa. Pada

stadium III atau IV diberikan kemoterapi intensif.

Angka ketahanan hidup rata-rata adalah sekitar 6 tahun dan

25% pasien dapat hidup lebih dari 10 tahun. Pasien dengan


17

sradium 0 atau 1 dapat bertahan hidup rata-rata 10 tahun.

Sedangkan pada pasien dengan stadium III atau IV rata-rata dapat

bertahan hidup kurang dari 2 tahun.

4. Kemoterapi pada penderita LGK/LMK

1) Fase Kronik

Busulfan dan hidroksiurea merupakan obat pilihan

yag mampu menahan pasien bebas dari gejala untuk jangka

waktu yang lama. Regimen dengan bermacam obat yang

intensif merupakan terapi pilihan fase kronis LMK yang

tidak diarahkan pada tindakan transplantasi sumsum tulang.

2) Fase Akselerasi,

Sama dengan terapi leukemia akut, tetapi respons

sangat rendah.

b. Radioterapi

Radioterapi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk

membunuh sel-sel leukemia. Sinar berenergi tinggi ini ditujukan

terhadap limpa atau bagian lain dalam tubuh tempat menumpuknya

sel leukemia. Energi ini bisa menjadi gelombang atau partikel

seperti proton, elektron, x-ray dan sinar gamma. Pengobatan

dengan cara ini dapat diberikan jika terdapat keluhan pendesakan

karena pembengkakan kelenjar getah bening setempat.


18

c. Transplantasi Sumsum Tulang

Transplantasi sumsum tulang dilakukan untuk mengganti

sumsum tulang yang rusak dengan sumsum tulang yang sehat.

Sumsum tulang yang rusak dapat disebabkan oleh dosis tinggi

kemoterapi atau terapi radiasi. Selain itu, transplantasi sumsum

tulang juga berguna untuk mengganti sel-sel darah yang rusak

karena kanker. Pada penderita LMK, hasil terbaik (70-80% angka

keberhasilan) dicapai jika menjalani transplantasi dalam waktu 1

tahun setelah terdiagnosis dengan donor Human Lymphocytic

Antigen (HLA) yang sesuai. Pada penderita LMA transplantasi bisa

dilakukan pada penderita yang tidak memberikan respon terhadap

pengobatan dan pada penderita usia muda yang pada awalnya

memberikan respon terhadap pengobatan.

d. Terapi Suportif

Terapi suportif berfungsi untuk mengatasi akibat-akibat yag

ditimbulkan penyakit leukemia dan mengatasi efek samping obat.

Misalnya transfusi darah untuk penderita leukemia dengan keluhan

anemia, transfusi trombosit untuk mengatasi perdarahan dan

antibiotik untuk mengatasi infeksi.


19

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

An.D kelihatan lesu, lemas dan pucat. Pasien baru masuk bagian

anak untuk yang ke dua kalinya atas indikasi ALL. Prositostatika.

Pemeriksaan Fisik :

I. Identitas Pasien

Nama anak :An.D

Tanggal masuk :20-10-2009 No.RM

: 613096

Tempat/tgl lahir :Pondok/ 05-10-2004

BB/TB saat lahir :3500 gram/ 111 cm

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pendidikan anak :Taman Kanak-kanak

Anak Ke :1 (satu)dalam keluarga

Nama ayah :Mahatir

Pekerjaan :Sopir
20

Pendidikan :D3

Nama ibu :Nike

Pekerjaan :Ibu RT

Pendidikan :D3

Alamat :Pondok, Kota Padang

Diagnosa Medis :LLA. Prositostatika

II. Keluhan Utama

Alasan masuk ke RS: An.D kelihatan lesu, lemas dan pucat

dan diindikasikan ALL. Prositostatika.

III. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran

1. Prenatal:

Ibu dari anak mengatakan selama hamil an. D, ia tidak

mengalami kelainan dan gizinya cukup.

2. Intranatal:

Ibu mengatakan, an.D lahir dengan normal di bantu oleh

bidan. Lahir dengan cukup umur yaitu 9 bulan. Berat

badan lahir 3500 gram dan panjang badan 42cm. Saat

lahir, An. R menangis spontan.

3. Postnatal:
21

Ibu mengatakan, ia tidak mengalami perdarahan yang

banyak setelah melahirkan. Kondisinya normal.

IV. Riwayat Kesehatan Dahulu

1. Penyakit yang diderita sebelumnya :

Ibu mengatakan, an.D pernah menderita ALL.

Prositostatika.

2. Pernah dirawat di RS :

Sebelumnya, an.D pernah di rawat di RS

3. Obat-obatan yang pernah digunakan :

Orang tua an.D mengatakan bahwa dulu an.D

pernah mengkomsumsi kortikosteroid, sitostatik dan

imunoterapi.

4. Alergi :

An.D tidak memiliki riwayat alergi.

5. Kecelakaan :

An.D tidak pernah jatuh yang sampai mencederai

kepalanya. Kalaupun jatuh, an.D tidak sampai

mengelami luka berat.

6. Riwayat imunisasi :

I II III

BCG 1bln 2 bln 3 bln


22

DPT 1 bln 2 bln 3 bln

POLIO 1 bln

CAMPAK 9 bln

HEPATITIS 0 bln 2 bln 6 bln

V. Riwayat Kesehatan Saat Ini

Tanggal 21 Oktober 2009 kemaren, an.D telah

mendapatkan kemo terapi. Saat pengkajian tanggal 22

Oktober 2009, an. D sedang demam, suhu 38,6 0C. An.D

tidak mau makan, perutnya kembung dan lidahnya terdapat

sariawan.. Setelah diberi roti, an.D muntah. An.D

mengeluhkan nyeri pada sendinya dan terasa pegal-pegal.

An.D meraba-raba perutnya dan mengatakan sakit pada

perutnya.

VI. Riwayat Kesehatan Keluarga

Ibu an.D mengatakan, tidak ada penyakit keturunan, apalagi

penyakit turunan yang seperti dialami oleh an.D.

VII. Riwayat Tumbuh Kembang

1. Kemandirian dan bergaul :

Sebelum sakit, an.D mampu melakukan aktivitas sehari-

hari seperti makan sendiri, pasang baju sendiri. An.D

berteman baik dengan teman sebaya. Tapi semenjak


23

sakit, An. D sudah tidak mampu melakukan aktifitas

sehari-hari dan memiliki keterbatasan dalam bermain

dengan teman-temannya.

2. Motorik kasar :

Umur 3 bulan, an.D sudah bisa tengkurap. Umur 8 bln

anak sudah bisa duduk, umur 9 bln berdiri dan umur

10,5 bulan sudah bisa berjalan.

3. Motorik halus :

Umur 5 tahun ini, an.D sudah bisa menulis coret-

coretan

4. Kognitif dan bahasa :

Umur 5 tahun ini, an.D sudah bisa memahami perintah

dari orang lain, an.D mengerti apa yang ditanyakan

orang padanya. Perkembangan bahasa normal, anak

mulai bisa bicara umur 12 bulan.

5. Psikososial :

Saat pengkajian, An.D mau berinteraksi dengan orang

lain selain orang tua bila di beri mainan terlebih

dahulu.

6. Lain-lain :

Emosi an.D saat ini labil


24

VIII. Riwayat Sosial

1. Yang mengasuh klien :

Keluarga (ibu, bapak, dan neneknya)

2. Hubungan dengan anggota keluarga :

An.D merupakan anak kandung dari Ibu Nike dan Bpk

mahatir. Saat pengkajian, Bapak dari An.D sering

memaksa anaknya makan-minum dengan paksa dan

sedikit marah-marah pada an.D

Menurut Ibunya, An.D sangat sayang sama adiknya.

Mereka jarang sekali ribut.

3. Hubungan dengan teman sebaya :

Sebelum sakit, an.D berteman baik dengan teman

sebayanya.

4. Pembawaan secara umum :

Normal, tidak mengalami kelainan mental ataupun IQ

yang lemah (anak tidak sinroma down)

5. Lingkungan rumah :

- Luas rumah 8 x 10 m

- Ventilasi cukup, penerangan cukup


25

- Pakai sumur gali

- Sampah dibakar

- Jarak rumah dengan rumah tetangga tidak terlalu

jauh kira-kira 10 m

IX. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan umum : sadar/compos mentis

2. TB/BB (cm) :111 cm/ 15 kg

3. Kepala :46 cm

a. Lingkar kepala :

b. Rambut : kebersihan.(bersih) warna. (hitam)

Tekstur (kasar) distribusi rambut.(merata)

Kuat/mudah tercabut....( kuat )

4. Mata :

a. Sklera :Normal/non ikterik

b. Konjungtiva :anemis

c. Palpebra :

d. Pupil :ukuran........2mm.........bentuk.....isok

or.........

reaksi cahaya........+/ normal.........

5. Telinga :

a. Simetris : ya

b. Serumen : Ada
26

c. Pendengaran: Baik

6. Hidung :

a. Septum simetris :ya

b. Sekret :tidak

c. Polip :tidak

7. Mulut :

Kebersihan.(kurang) .Warna (merah) Kelembaban.

(kering), gusi berdarah 3 hari yang lalu.

a. Lidah :Ada sariawan ± 1 cm

b. Gigi : caries pada gigi atasnya (keropos

semua gigi yang di atas)

8. Leher :

a. Kelenjer getah bening :

Teraba di colli dextra diameter 1x1/2x1 ½

cm dan di inguinal dextra ada 3 bh

diameter ½ x 1 ½ x 2 cm

b. Kelenjer tiroid :

Tidak ada pembengkakan

c. JVP : 5-2 cm H2O

9. Dada :

a. Inspeksi :Normal

b. Palpasi :Normal
27

10. Jantung :

a. Inspeksi : iktus cordis di RIC V

b. Auskultasi :-

c. Palpasi :-

11. Paru-paru :

a. Inspeksi :simetris

b. Palpasi :fremitus kiri=kanan

c. Perkusi :-

d. Auskultasi :vesikuler

12. Perut :

a. Inspeksi :ada purpura

b. Palpasi :Hepar kenyal dan pinggirnya

tajam

c. Perkusi :timpani

d. Auskultasi :bising usus normal

(4x/menit)

13. Punggung :bentuk normal

14. Ekstremitas :
28

Kekuatan dan tonus otot baik

15. Genitalia :-

16. Kulit :

a. Warna :sawo matang

b. Turgor :kembali dalam waktu 2 detik

c. Integritas :ada purpura di abdomen

d. Elastisitas :elastis

17. Pemeriksaan Neurologis : an.D dalam kondisi

sadar/compos mentis

X. Pemeriksaan Tumbuh Kembang

a. DDST (terlampir)

b. Status Nutrisi (terlampir)

XI. Pemeriksaan Psikososial

An. D saat dilakukan pengkajian, kurang mau

berinteraksi dengan orang lain. Ketika diberi mainan,

an. D baru mau berkomunikasi dengan orang .

XII. Pemeriksaan Spritual

Orang tua anak mengatakan mereka juga berdoa untuk

kesembuhan anaknya.
29

XIII. Pemeriksaan Penunjang

a. Laboratorium :

- Hb : 8,4 gr % -

Trombosit : 34.000/ mm3

- Leukosit : 1800/mm3 - Ht : 26 %

c. Rontgen :-

d. Lain-lain :-

XIV. Kebutuhan Dasar Sehari-hari

No Jenis kebutuhan Di rumah/sebelum sakit Di rumah sakit

1 Makan Sering di buatkan nasi ML, TKTP 1300

lunak karena an.R kalori/hari

memang susah di suruh

makan

2 Minum Kurang minum Jus terung pirus, air

putih, susu

3 Tidur 8 jam/ hari 12 jam/hari

4 Mandi 2x/hari 1x/hari

5 Eliminasi BAB 1X/hari

6 Bermain Normal seperti anak Bermain sendiri

sebayanya dengan permainan

seadanya seperti

topeng-topengan
30

Data Masalah Diagnosa keperawatan

Keperawatan

DS : Defisit Nutrisi Defisit nutrisi

berhubungan dengan
a) Keluarga
faktor psikologis
mengatakan
(keengganan untuk
Anak menolak
makan)
untuk makan

sejak seminggu

yang lalu

b) Keluarga

mengatakan

biasanya anak

hanya mampu

menghabiskan

1/4 porsi makan

yang diberikan

DO :

c) Berat badan anak

turun dari 17 kg

menjadi 15 kg

d) Berat badan anak

berdasarkan
31

skala NCHS

menunjukkan

gizi yang kurang

yaitu 76,19%

e) Lidah anak

terdapat sariawan

dengan diameter

± 1 cm

f) Porsi makan

yang diberi RS

belum dimakan

anak

g) LILA anak 14

cm

DS : - keluarga mengatakan Resiko infeksi Resiko infeksi

gusi An.D berdarah 2 berhubungan dengan

hari yang lalu. adanya ketidakadekuatan

pertahanan tubuh
DO :
sekunder.
- Leukosit : 1800/mm3

- Hb : 8,4 gr %

- ada purpura di abdomen


32

- imunosupresi

- gusi terlihat berwarna

merah

- suhu 38,6 0C

DS : Defisit pengetahuan Defisit pengetahuan

keluarga berhubungan
- keluarga mengatakan
dengan kurang terpapar
mereka tidak mengetahui
informasi
cara merawat keluarga

dengan leukemia.

- ibu An.D mengatakan

sering lupa memberikan

obat pada An.D

( pemberian obat tidak

teratur ).

DO :

h)An.D sudah dua kali

dirawat di RS dengan

diagnosis penyakit yang

sama (ALL.

Prositostatika ).
33

B. Diagnosis keperawatan

1. Defisit nutrisi berhubungan dengan faktor psikologis (keengganan

untuk makan)

2. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya ketidakadekuatan

pertahanan tubuh sekunder.

3. Defisit pengetahuan keluarga berhubungan dengan kurang terpapar

informasi

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Defisit nutrisi berhubungan dengan faktor psikologis

(keengganan untuk makan)

Luaran keperawatan : setelah dilakukan tidakan

keperawatan selama 2x24 jam, maka statsus nutrisi

membaik, dengan kriteria hasil :

h) Porsi makanan yang dihabiskan meningkat

i) Verbalisasi keinginan untuk meningkatkan

nutrisi meningkat

j) Sariawan menurun

k) Berat badan membaik

l) Frekuensi makan membaik

m) Nafsu makan membaik

Intervensi keperawatan : Manajemen Nutrisi

Tindakan

- Observasi
34

- Observasi identifikasi status nutrisi

- Identifikasi alergi dan intoleransi

makanan

- Identifikasi makanan yang disukai

- Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis

nutrient

- Identifikasi perlunya penggunaan selang

nasogatik

- Monitor asupan makanan

- Monitor berat badan

- Monitor hasil pemeriksaan laboratorium

- Terapeutik

- Lakukan oral hygine sebelum makan,

jika perlu

- Fasilitasi menentukan pedoman diet

(mis. Piramida makanan)

- Sajikan makanan secara menarik dan

suhu yang sesuai

- Berikan makanan tinggi serat untuk

mencega konstipasi

- Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi

protein

- Berikan suplemen, jika perlu


35

- Hentikan pemberian makanan melalui

selang nasogatik jika asupan oral dapat

di toleransi

- Edukasi

- Anjurkan posisi duduk, jika mampu

- Ajarkan diet yang diprogramkan

- Kolaborasi

- Kolaborasi pemberian medikasi sebelum

makan ( mis. Pereda nyeri, antiemtic),

jika perlu

- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk

menentukan julah kalori dan jenis

nutrient yang dibutuhkan, jika perlu

2. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya

ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder

Luaran keperawatan : setelah dilakukan tindakan

keperwatan selama 2x24 jam maka tingkat infeksi

menurun, dengan kriteria hasil :

- Kemerahan menurun

- Nafsu makan membaik

Intervensi keperawatan : pencegahan infeksi

Tindakan

Obsevasi
36

- Monitor tanda dan gejala infeksi local

dan sistemik

Terapeutik

- Batasi jumlah pengunjung

- Berikan perawatan kulit pada area

edema

- Cuci tangan sebelum dan sesudah

kontak dengan pasien dan lingkungan

pasien

- Pertahankan Teknik aseptic pada pasien

berisiko tinggi

Edukasi

- Jelaskan tanda dan gejala infeksi

- Ajarkan cara mencuci tangan dengan

benar

- Ajarkan etika batuk

- Ajarkan cara memeriksa kondisi luka

atau luka operasi

- Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi

- Anjurkan meningkatkan asupan cairan

Kolaborasi
37

- Kolaborasi pemberian imuniasi, jika

perlu

3. Defisit pengetahuan keluarga berhubungan dengan

kurang terpapar informasi

Luaran keperawatan : setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama 2x24 jam maka tingkat

pengetahuan meningkat, dengan kriteria hasil :

- Perilaku sesuai anjuran meningkat

- Verbalisasi minat dalam belajar

meningkat

Intervensi keperawatan : Edukasi Kesehatan

Tindakan

- Observasi

- Identifikasi kesiapan dan kemampuan

menerima informasi

- Identifikasi factor-faktor yang dapat

meningkatkan dan menurunkan motivasi

perilaku hidup bersih dan sehat

- Terapeutik

- Sediakan materi dan media Pendidikan

kesehatan
38

- Jadwalkan Pendidikan kesehatan sesuai

kesepakatan

- Berikan kesempatan untuk bertanya

- Edukasi

- Jelaskan factor resiko yang dapat

mempengaruhi status kesehatan

- Jelaskan perilaku hidup bersih dan sehat

- Ajarkan strategi yang dapat digunakan

untuk meningkatkan perilaku hidup

bersih dan sehat

D. EVALUASI

Evaluasi adalah suatu penilaian terhadap keberhasilan

rencana keperawatan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan

klien. Menurut Wong. D.L, (2004 hal 596-610) hasil yang

diharapkan pada klien dengan leukemia adalah :

1. Anak tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.

2. Berpartisipasi dalam aktifitas sehari-sehari sesuai

tingkat kemampuan, adanya laporan peningkatan

toleransi aktifitas.

3. Anak tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan.

4. Anak menyerap makanan dan cairan, anak tidak

mengalami mual dan muntah.


39

5. Membran mukosa tetap utuh, ulkus menunjukkan tidak

adanya rasa tidak nyaman.

6. Masukan nutrisi adekuat.

7. Anak beristirahat dengan tenang, tidak melaporkan dan

atau menunjukkan bukti-bukti ketidaknyamanan, tidak

mengeluhkan perasaan tidak nyaman.

8. Kulit tetap bersih dan utuh.

9. Anak mengungkapkan masalah yang berkaitan dengan

kerontokan rambut, anak membantu menentukan

metode untuk mengurangi efek kerontokan rambut dan

menerapkan metode ini dan anak tampak bersih, rapi,

dan berpakaian menarik.

10. Anak dan keluarga menunjukkan pemahaman tentang

prosedur, keluarga menunjukkan pengetahuan tentang

penyakit anak dan tindakannya. Keluarga

mengekspresikan perasaan serta kekhawatirannya dan

meluangkan waktu bersama anak.

11. Keluarga tetap terbuka untuk konseling dan kontak

keperawatan, keluarga dan anak mendiskusikan rasa

takut, kekhawatiran, kebutuhan dan keinginan mereka

pada tahap terminal, pasien dan keluarga mendapat

dukungan yang adekuat.


40

12. Evalusi tingkat pemahaman keluarga terhadap

tatalaksana perawatan penyakit.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Leukemia adalah suatu jenis kanker darah. Gangguan ini disebabkan oleh sel
darah putih yang diproduksi melebihi jumlah yang seharusnya ada. Leukemia akut
pada anak adalah suatu kelainan atau mutasi pembentukan sel darah putih oleh
41

sumsum tulang anak maupun gangguan pematangan sel-sel tersebut selanjutnya.


Gangguan ini sekitar 25-30% jumlahnya dari seluruh keadaan keganasan yang
didapat pada anak.

Leukemia terdiri dari dua tipe besar, yakni acute lymphoblastic leukemia
dan acute myeloid leukemia. Jumlah penderita acute lymphoblastic leukemia
umumnya lebih banyak dibandingkan jenis acute myeloid leukemia.

Penyebab utama penyakit kelainan darah ini sampai sekarang belum


diketahui secara pasti, dan masih terus diteliti. Namun, faktor genetik berperan
cukup penting pada beberapa penelitian yang dilakukan. Dengan kata lain, ada
hubungannya dengan faktor keturunan, selain tentunya banyak faktor penyebab lain
yang bervariasi sesuai kasus per kasus dan jenis subtipe yang didapat.

Terapi yang diberikan pada penderita leukemia akut bertujuan untuk


menghancurkan sel-sel leukemia dan mengembalikan sel-sel darah yang normal.
Terapi yang dipakai biasanya adalah kemoterapi (pemberian obat melalui infus),
obat-obatan, ataupun terapi radiasi. Untuk kasus-kasus tertentu, dapat juga
dilakukan transplantasi sumsum tulang belakang.

B. Saran
Bagi keluarga sebaiknya memahami bagaimana tatalaksana terapeutik untuk
pasien leukemia agar penyakitnya tidak memasuki stadium lanjut.
42

DAFTAT PUSTAKA

Marta, F. (2011). Askep Leukimia. Dipetik 05 06, 2020 dari academi.edu:

https://id.scribd.com/doc/49633589/ASUHAN-KEPERAWATAN-PADA-

ANAK-LEUKEMIA-klp-4

Behrman, Kliegman, Arvin. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. EGC

Annisa, A. (2016).asuhan keperawatan leukimia pada anak. Dipetik 05 06,

2020 dari academi.edu:

https://www.academia.edu/31690187/Asuhan_Keperawatan_Leukemia_pada_An
ak1.docx

PPNI. (2018). STANDAR DIAGNOSIS KEPERAWATAN INDONESIA. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). STANDAR INTERVENI KEPERAWATAN INDONESIA. Jakarta: DPP PPNI.

PPN1. (2018). STANDAR LUARAN KEPERAWATAN INDONESIA. JAKARTA: DPP PPN1.