Anda di halaman 1dari 7

EFEK ANTIBAKTERI DARI REBUSAN DAUN SAMBILOTO

(Andrograpis paniculata) DAN INFUSA TERHADAP BAKTERI

Staphylococcus aureus

Oleh :

NAMA : ANISA

NIM : 17 3145 201 019

KELAS : A-2017

MATA KULIAH : METODEOLOGI PENELITIAN

TUGAS : BUAT BAB 1 PENDAHULUAN

PENELITIAN

FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA


UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020
BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Obat-obat tradisonal telah banyak dikenal dan digunakan oleh

masyarakat baik pada zaman dahulu maupun masa sekarang. Penggunaan

obat-obat tradisional ini dimaksudkan untuk menjaga kesehatan,

mempertahankan stamina dan mengobati penyakit. Selain murah dan mudah

didapat, obat tradisional yang berasal dari tumbuhan dianggap memiliki efek

samping yang jauh lebih rendah tingkat bahayanya dibandingkan dengan

obat-obat sintesis atau kimia (Soedibyo, 1998).

Pengobatan penyakit yang disebabkan infeksi bakteri seperti luka

terbuka akibat Staphylococcus aureus sering digunakan antibiotik, karena

antibiotik dapat membunuh mikroba dengan cepat. Penggunaan antibiotik

terus menerus menimbulkan respon bakteri untuk membentuk resistensi

(Morita dkk, 2014). Resistensi antibiotik menyebabkan kekhawatiran untuk

menggunakan antibitik sebagai obat penyembuhan luka, sebagai contohnya

adalah Staphylococcus aureus menjadi resisten terhadap penisilin pada tahun

1940 dan resisten terhadap antibiotik metisilin pada tahun 1960 (Chambers

dan De Leo, 2009).

Untuk menanggulangi resistensi antibiotik, bahan alami dapat dijadikan

alternatif untuk menyembuhkan penyakit akibat bakteri, salah satunya

sambiloto (Andrographis paniculata) yang dapat digunakan sebagai

antimikroba Staphylococcus aureus. Sambiloto merupakan tanaman obat

tradisional yang kandungan utamanya adalah flavonoid dan andrographolide


(Dalimunthe, 2009). Senyawa flavonoid dari daun sambiloto mampu

bertindak sebagai zat aktif yang menghambat pertumbuhan bakteri (Cushnie

dan Lamb, 2005).

Antibakteri adalah zat yang menekan pertumbuhan atau reproduksi

bahkan membunuh bakteri. Antibakteri terbagi atas dua berdasarkan

mekanisme kerjanya, yaitu bakteriostatika yang bersifat menghambat

pertumbuhan bakteri dan bakterisida yang bersifat mebunuh bakteri.

Antibakteri dapat memiliki aktivitas bakteriostatik menjadi aktivitas

bakterisida apabila kadarnya ditingkatkan melebihi kadar hambar minimal

(KHM) (Rollando, 2019).

Daun sambiloto adalah sejenis tanaman herbal dari family acanthaceae,

yang berasal dari india dan Sri lanka. Sambiloto juga dapat dijumpai di

daerah lainnya, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, serta beberapa tempat

di benua Amerika. Tumbuhan sambiloto merupakan tumbuhan berkhasiat

obat berupa terna tegak yang tingginya bisa mencapai 90 centimeter. Asalnya

diduga dari Asia tropika. Penyebarannya dari India meluas ke selatan sampai

di Siam, ke timur sampai semenanjung Malaya, kemudian ditemukan di

Jawa. Tumbuhan sambiloto tumbuh baik di dataran rendah sampai ketinggian

700 meter dari permukaan laut. Sambiloto dapat tumbuh baik pada curah

hujan 2000-3000 mm/tahun dan suhu udara 25-32 derajat Celcius (Anderato

O, 2015).

Rebusan adalah pencampuran bahan makanan atau minuman yang

dimasak dalam cairan yang dihidangkan dalam kuah. Infusa adalah sediaan
cair yang dibuat dengan cara mengekstrak simplisia nabati dengan air pada

suhu 90oC selama 10-15 menit yang dihitung sejak air mendidih. Jika bahan

yang digunakan untuk membuat dekok berasal dari bahan bertekstur keras,

bahan yang digunakan dalam infusa berasal dari bahan yang lunak (simplisia

daun dan bunga) seperti daun kumis kucing, daun meniran, daun pegagan,

bunga mawar, bunga melati, dan daun sambiloto (Suranto A, 2004).

Antimikroba telah menyebabkan perubahan tidak hanya dalam

pengobatan penyakit infeksi tapi juga pada kelangsungan hidup manusia.

Menurut pengamatan, penyakit infeksi mungkin mendominasi dalam waktu

dekat. Emerging dan reemerging penyakit infeksi telah mengindikasikan

sebuah serangan balik dari penyakit infeksi. Infeksi dengan organisme yang

resisten terhadap obat kembali menjadi masalah penting dalam praktek klinis

yang rumit untuk dijelaskan. Jika pengobatan penyakit infeksi dilakukan

menggunakan obat yang telah resisten terhadap mikroba, maka hasil terapi

tidak mencapai efek yang menguntungkan dan dapat menyebabkan prognosis

yang lebih buruk. Androraphis paniculata telah dilaporkan menunjukkan efek

antimikroba terhadap berbagai organisme mikroba (Masri M dkk, 2016).

Andrograpis paniculata memiliki komponen aktif yang utama yaitu

andrographolide. Ekstrak metanol Andrograpis paniculata dapat

menghambat pertumbuhan Plasmodium falciparum dan ekstrak etanol

Andrograpis paniculata efektif untuk infeksi saluran napas bagian atas, selain

itu Andrograpis paniculata memiliki aktivitas antimikroba terhadap sembilan

bakteri yakni Salmonella typhimurium, Escerichia coli, Shogella sinnoi,


Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeroginosa, Streptococcus penumonia,

Streptococcus pyogenes, Legionella pneumophilla, dan Bordetella pertussis.

Diantara bakteri yang menyebabkan infeksi, Staphylococcus aureus

merupakan salah satu penyebab utama infeksi dan penyebab bakteremia

tersering di rumah sakit (Masri M dkk, 2016).

Staphylococcus adalah bakteri gram positif berbentuk bulat, biasanya

tersusun dalam rangkaian tak beraturan seperti anggur. Genus Staphylococcus

terdiri dari sekurangnya 30 spesies. Tiga spesies utama yang penting secara

klinik adalah Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis,

Staphylococcus saprophyticusi. Staphylococcus aureus merupakan patogen

utama bagi manusia. Hapir setiap orang akan mengalami beberapa infeksi

Staphylococcus aureus sepanjang hidupnya, bervariasi dalam beratnya

tergantung mulai dari keracunan makanan atau infeksi kulit ringan sampai

infeksi berat yang mengancam jiwa (Masri M dkk, 2016)

Penggunaan sambiloto (Andrograpis paniculata) di masyarakat saat ini

mempunyai beberapa pilihan diantaranya dengan membuat rebusan langsung

dari daun sambiloto ataupun yang lebih praktis adalah dengan membeli

produk herbal sambiloto yang dijual di pasaran (Masri M dkk, 2016).

I.2 Tujuan Penelitian

I.2.1 Khusus
Diketahuinya Efek Antibakteri dari Rebusan Daun Sambiloto

(Andrograpis paniculata) dan Infusa terhadap Bakteri Staphylococcus

aureus.

I.2.2 Umum

1. Diketahuinya Efek Antibakteri dari Rebusan Daun Sambiloto

(Andrograpis paniculata) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus.

2. Diketahuinya Efek Antibakteri dari Infusa Daun Sambiloto

(Andrograpis paniculata) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus.

I.3 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaar bagi pihak-pihak

yang membutuhkan, baik secara teoritis maupun praktis, diantaranya :

I.3.1 Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan

pengetahuan mengenai zat-zat yang terkandung di dalam daun

sambiloto yang berfungsi sebagai antimikroba, serta juga diharapkan

sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan yang secara teoritis

dipelajari di bangku perkuliahan.

I.3.2 Manfaat Praktis

a. Bagi penulis

penelitian ini diharapkan dapat menjadi sarana yang

bermanfaat dalam mengimplementasikan pengetahuan penulis

tentang Efek Antibakteri dari Rebusan Daun Sambiloto


(Andrograpis paniculata) dan infusa terhadap Bakteri

Staphylococcus aureus.

b. Bagi peneliti selanjutnya

penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam

pengembangan teori mengenai Efek Antibakteri dari Rebusan Daun

Sambiloto (Andrograpis paniculata) dan infusa terhadap Bakteri

Staphylococcus aureus bagi yang ingin menlanjutkan penelitian ini.