Anda di halaman 1dari 11

Nama :Hanif Faturrohman

Mata kuliah : ekonomi makro

Dosen : Rachmat gunawan SE , Msi

Nim : 11190810000115

JAWABAN

Teori

1. a) Pendapatan nasional adalah salah satu indikator untuk dapat mengukur lajunya
tingkat pembangunan dan perkembangan kesejahteraan pada suatu negara dari waktu ke
waktu. Dengan metode penghitungan pendapatan nasional, kita juga dapat mengetahui
arah, tujuan dan struktur perekonomian negara

Produk Domestik Bruto (GDP): Produk domestik bruto (Gross Domestic Product)
merupakan jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit
produksi di dalam batas wilayah suatu negara atau domestik selama satu tahun.
Rumus GDP sbb;
GDP = Pendapatan Masyarakat DN (dalam negeri) + Pendapatan Asing DN
Dalam perhitungan GDP ini, termasuk juga barang atau jasa yang dihasilkan oleh
perusahaan maupun instansi asing yang terkait, asalkan wilayahnya masih dalam wilayah
suatu negara atau domestik tersebut

Produk Nasional Bruto (GNP): Produk Nasional Bruto (Gross National Product)
merupakan nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu
negara (nasional) selama satu tahun, termasuk yang dihasilkan oleh warga negara
tersebut yang dihasilkan dil uar negeri. Contohnya seperti seseorang pria dari Indonesia
yang menjual pakaian di Malaysia, hasil berupa barang dan jasanya termasuk dalam
GNP.
Rumus GNP sbb;
GNP = Pendapatan WNI DN + Pendapatan WNI LN (luar negeri) – Pendapatan Asing
DN

Produk Nasional Netto (NNP): Produk nasional yang memperhitungkan pengeluaran


investasi netto dengan mengurangi investasi bruto dan depresiasi.
Rumus NNP sbb;
NNP = GNP – depresiasi (penyusutan barang modal)
Penyusutan adalah penggantian barang modal bagi peralatan produksi yang dipakai
dalam proses produksi. Umumnya bersifat taksiran, sehingga dapat menimbulkan
kekeliruan meskipun relatif kecil.
Pendapatan Nasional Netto (NNI): Pendapatan Nasional Neto (Net National Income)
merupakan pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh
masyarakat sebagai pemilik faktor produksi.
Rumus NNI sbb;
NNI = NNP – Pajak Tidak Langsung
Pajak tidak langsung adalah pajak yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain
seperti pajak hadiah, pajak penjualan, dan lain-lain.

Pendapatan Perseorangan (PI): Pendapatan perseorangan (Personal Income) adalah


jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam masyarakat , temasuk
pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan kegiatan apapun. Misalnya gaji seorang
pegawai negeri, maupun pendapatan pengusaha yang didapatkan secara berantai.
Rumus PI sbb;
PI = NNI – Pajak Perusahaan – Iuran – Laba Ditahan + Transfer Payment
Transfer Payment adalah penerimaan-penerimaan yang bukan merupakan balas jasa
produksi, melainkan diambil sebagian dari pendapatan nasional tahun lalu. Seperti
pembayaran dana pensiunan, tunjangan pengangguran, dan sebagainya.

Pendapatan yang siap dibelanjakan: Disebut juga dengan disposible income yaitu
pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan
selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi.
Rumus DI sbb;
DI = PI – Pajak Langsung
Pajak langsung adalah pajak yang bebannya tidak dapat dialihkan kepada pihak lain,
seperti pajak pendapatan.

b) Cara Perhitungan Pendapatan Nasional

 Pendekatan Produksi (Production Approach)

Pendekatan yang pertama adalah pendekatan produksi. Pendekatan ini menekankan


pada kegiatan yang menciptakan nilai tambah (value added). Perhitungan hanya mencakup
perhitungan nilai tambah pada sektor produksi. Perhitungan pendapatan nasional dengan
pendekatan produksi dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:
Y = Pendapatan Nasional
P1 = Harga barang ke-1
Pn = Harga barang ke-n
Q1 = jenis barang ke-1
Qn = jenis barang ke-n 
 Pendekatan Pendapatan (Income Approach)

Pendekatan kedua yang digunakan untuk menghitung pendapatan nasional adalah pendekatan
pendapatan. Berdasarkan pendekatan pendapatan, pendapatan nasional dihitung
dengan menjumlahkan seluruh pendapatan yang diterima masyarakat (pemilik faktor
produksi) sebagai balas jasa yang mereka terima dalam proses produksi meliputi:

1. Upah/gaji (w) = balas jasa pemilik tenaga kerja


2. Sewa (r) = balas jasa pemilik tanah
3. Bunga (i) = balas jasa pemilik modal
4. Keuntungan (profit/p) = balas jasa pengusaha
Jadi secara matematis, menurut pendekatan pendapatan, pendapatan nasional dirumuskan
sebagai berikut:

Keterangan: 
Y = Pendapatan Nasional
r = Pendapatan dari upah, gaji, dan lainnya
w = Pendapatan bersih dari sewa
i = Pendapatan dari bunga
p = Pendapatan dari keuntungan perusahaan dan usaha perorangan

 Pendekatan Pengeluaran (Expenditure Approach)

Terakhir adalah pendekatan pengeluaran. Pada pendekatan ini pendapatan nasional dihitung


dengan cara menjumlahkan permintaan akhir dari para pelaku ekonomi (konsumen, produsen,
dan pemerintah) dalam suatu negara, meliputi: 

1. Pengeluaran konsumsi rumah tangga (Consumption/C).


2. Investasi domestik bruto (Investment/I).
3. Pengeluaran konsumsi pemerintah (Government Expenditure/G).
4. Ekspor neto atau nilai ekspor (Export/X) dikurangi impor (Import/I) → (X–M).
Secara matematis dituliskan sebagai berikut.

Keterangan :
Y = Pendapatan nasional
C = consumption ( konsumsi rumah tangga )
I = investment ( investasi )
G = government expenditure ( pengeluaran pemerintah )
X = ekspor
M = impor

c) PDB atau Produk Domestik Bruto dalam bahasa internasional disebut juga
GDP atau Gross Domestic Product. Menurut para ahli, PDB dapat diartikan
bahwa jumlah produksi baik barang atau jasa yang telah dihasilkan oleh unit
produksi di suatu daerah pada saat tertentu. Maka, PDB bisa dijadikan alat ukur
dari pertumbuhan ekonomi suatu negara. Maka, PDB bisa dikatakan sebagai
indikator ekonomi suatu negara untuk mengukur jumlah total nilai produksi
dimana jumlah total ini dihasilkan oleh semua orang atau perusahaan baik yang
dimiliki oleh lokal atau asing di suatu negara.

Selain itu, yang perlu diketahui tentang PDB selain dari definisinya adalah
tentang komponen dan rumus untuk menghitung PDB. Berikut penjelasannya.

Komponen dari PDB dapat dibagi menjadi 4, yakni;


1. Konsumsi Privat atau Private Consumption; menghitung konsumsi dari
individu atau rumah tangga untuk beberapa jenis barang seperti;
 Durable Goods yakni barang yang awet atau tidak cepat rusak yang
pada umumnya memiliki umur yang relative panjang atau bisa
dikatakan lebih dari 3 tahun. Contoh motor, mobil, elektronik dan
lain-lain tapi tidak termasuk untuk pembelian rumah baru.
 Non-Durable Goods yakni barang yang langsung dikonsumsi dan
habis manfaatnya. Contoh, makanan, minuman, sepatu dan lain-
lain.
 Service yakni konsumsi untuk jasa. Contoh, jasa dokter.

2. Investasi atau Investment; menghitung suatu pengeluaran untuk barang


modal. Contoh: pembelian rumah, membangun pabrik baru, program
baru dan berbagai jenis investasi lainnya.
3. Pengeluaran Pemerintah atau Government Spending; menghitung semua
pengeluaran yang Pemerintah lakukan. Contoh: membayar gaji PNS
atau pegawai pemerintah, membeli peralatan militer, membangun jalan
dan lain-lain.
4. Ekspor Bersih atau Net Export; menghitung selisih didapat dari Total
Ekspor yang dikurangi Total Impor.

d). Y =C+I
Gaji ASN =140

(PDBt – PDBt-1)/PDBt-1 x 100%

Rp. 15.833 T – Rp.14.837 T/ Rp. 14.837 T x100


= 996 /14.837 x 100 % = 6,712%

2. a)
1. Sumber Daya Manusia
Untuk menentukan hal yang paling penting dari pertumbuhan ekonomi di suatu
negara ialah dengan memperhitungkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia
yang tersedia secara langsung untuk dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
Kualitas sumber daya manusia dapat dilihat pada ilmu keterampilan, kemampuan
kreatif, pelatihan, dan pendidikan yang dimilikinya. Jika suatu negara memiliki
sumber daya manusia yang baik. Jika sumber daya manusia suatu negara terampil dan
terlatih maka output yang dihasilkan juga akan berkualitas tinggi.
Namun, kekurangan akan sumber daya manusia yang terampil dapat menghambat
pertumbuhan ekonomi, sedangkan surplus akan sumber daya manusia ini akan kurang
signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Maka dari itu, sumber daya manusia suatu
negara harus sebanding antara jumlahnya dengan keterampilan dan kemampuan yang
dibutuhkan, sehingga akan tercapainya pertumbuhan ekonomi.

3. Sumber Daya Alam

Sumber daya alam dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sumber
daya alam ialah sumber daya yang telah tersedia di alam, baik di darat ataupun di
bawah laut.Sumber daya alam yang dimiliki suatu negara sesuai dengan kondisi iklim
dan lingkungan di negara tersebut. Negara yang memiliki banyak sumber daya alam
dapat menikmati pertumbuhan yang baik dibandingkan dengan negara-negara yang
sumber daya alamnya sedikit.Pemanfaatan sumber daya alam secara efisien atau
eksploitasi itu terjadi tergantung dengan keterampilan dan kemampuan sumber daya
manusia dalam memanfaatkannya, dan teknologi yang digunakan serta ketersediaan
dana yang mencukupi. Sebuah negara yang memiliki sumber daya manusia yang
terampil dan terdidik dalam pemanfaatan sumber daya alam yang kaya, hal ini akan
menunjukkan status perekonomian mengalami pertumbuhan.

4. Pembentukan Modal

Pembentukan modal terdiri dari tanah, bangunan, mesin, listrik, transportasi, dan
media komunikasi. Pembentukan modal ialah proses memproduksi dan memperoleh
semua produk buatan manusia.Pembentukan modal dapat meningkatkan ketersediaan
modal untuk tenaga kerja, yang dapat meningkatkan rasio modal atau tenaga kerja.
Akibatnya, meningkatnya produktivitas tenaga kerja, yang dapat menghasilkan
peningkatan output serta pertumbuhan ekonomi suatu negara.

5. Pengembangan Teknologi

Teknologi merupakan sifat dan jenis dari instrumen teknis yang digunakan oleh
sejumlah tenaga kerja. Perkembangan teknologi mempunyai andil dalam membantu
peningkatan produktivitas dengan jumlah sumber daya yang terbatas. Negara-negara
yang telah menggunakan pengembangan teknologi mampu tumbuh secara pesat
dibandingkan dengan negara-negara yang tidak menggunakannya. Pemilihan
teknologi secara tepat dan cermat dapat berperan dalam pertumbuhan ekonomi.

6. Faktor Sosial dan Politik

Faktor sosial terdiri dari adat istiadat, tradisi, nilai-nilai dan keyakinan, hal-hal
tersebut dapat memberikan kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi.Kondisi politik
suatu negara dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Jika kondisi
politik suatu negara stabil dan berjalan denngan baik maka akan memberikan
kenyamanan bagi para masyarakat serta dapat mendukung peningkatan kinerja dalam
produksi. Dengan demikian masyarakat akan bebas dalam berinovasi dan
mengembangkan segala potensinya yang dimilikinya, sehingga akan tercapainya
pertumbuhan ekonomi.

7. Faktor Budaya

Faktor budaya memberikan dampak tersendiri terhadap pertumbuhan ekonomi suatu


negara. Faktor ini berfungsi sebagai pembangkit atau pendorong proses pertembuhan
namun dapat juga menjadi penghambatpertumbuhan suatu negara. Budaya yang dapat
mendorong peertumbuhan suatu negara ialah sikap kerja keras dan kerja cerdas, jujur,
ulet dan lain-lain. Dan budaya yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi suatu
negara diantaranya ialah sikap anarkis, egois, boros, hedonisme, KKN, dan lain-lain.

b) Indikator pertumbuhan ekonomi :

Kesuksesan suatu negara dilihat dari pertumbuhan ekonominya. Sementara kesuksesan


pemerintahan suatu negara dillihat dari kemampuannya meningkatkan pertumbuhan ekonomi
negaranya. Pertumbuhan ekonomi ini penting untuk diperhatikan bahkan terus ditingkatkan
karena menjadi indikator keberhasilan kinerja pemerintah dan jajarannya dalam menciptakan
kehidupan yang lebih baik dan sejahtera bagi rakyatnya. Oleh sebab itu, setiap negara
senantiasa berusaha untuk menggenjot pertumbuhan ekonominya agar mencapai optimal
bahkan maksimal. Berhasil tidaknya pencapaian pertumbuhan ekonomi suatu negara
dicirikan dengan hal-hal berikut :
• Produktivitas meningkat.
• Laju pertumbuhan penduduk dan produk per kapita tinggi.
• Laju perubahan struktural tinggi.
• Adanya gelombang urbanisasi, yakni perpindahan penduduk dari desa ke kota.
• Ekspansi negara maju.

Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi suatu negara mengindikasikan tingkat kesejahteraan


rakyat yang tinggi pula. Lantas, apa yang menjadi ukuran atau indikator dari pertumbuhan
ekonomi suatu negara? Bicara indikator, banyak faktor yang bisa dijadikan indikator
pertumbuhan ekonomi, di antaranya:

1. Produk Domestik Bruto (PDB)


Pada prinsipnya, pertumbuhan ekonomi dapat dipahami sebagai pertambahan pendapatan
nasional atau pertambahan output atas barang dan jasa yang diproduksi selama satu tahun.
Dari sini jelas bahwa indikator pertumbuhan ekonomi salah satunya ditunjukkan oleh nilai
PDB (Produk Domestik Bruto). PDB merepresentasikan pendapatan nasional riil yang
dihitung dari keseluruhan output dari barang dan jasa yang diproduksi suatu negara. Syarat
bagi suatu negara dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila nilai PDB atau
pendapatan nasional riil mengalami kenaikan dari periode sebelumnya.

2. Pendapatan riil per kapita

Pendapatan riil per kapita menunjukkan pendapatan masyarakat suatu negara. Jika
pendapatan masyarakat secara keseluruhan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun,
maka dapat dikatakan bahwa perekonomian di negara tersebut juga mengalami pertumbuhan
yang positif.

3. Kesejahteraan penduduk

Indikator kesejahteraan penduduk ini memiliki keterkaitan dengan pendapatan riil per kapita.
Semakin banyak barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara tentu harus ditunjang dengan
distribusi yang lancar. Jika distribusi barang dan jasa lancar, maka distribusi pendapatan per
kapita di seluruh wilayah negara merata. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan
kesejahteraan bagi seluruh masyarakat di negara tersebut.

4. Tingkat penyerapan tenaga kerja dan pengangguran

Ketika lapangan kerja tersedia sehingga tingkat penyerapan tenaga kerja tinggi, saat itulah
negara mengalami pertumbuhan ekonomi. Tingkat penyerapan tenaga kerja yang tinggi jelas
berpengaruh pada berkurangnya angka pengangguran. Artinya, produktivitas meningkat.

3 . a) Tujuan Kebijakan Fiskal


Tujuan kebijakan fiskal adalah untuk mempengaruhi jalannya perekonomian. Hal ini
dilakukan dengan jalannya memperkecil pengeluaran konsumsi pemerintah (G), jumlah
transfer pemerintah (Tr), dan jumlah pajak (Tx) yang diterima pemerintah sehingga dapat
mempengaruhi tingkat pendapatan nasional (Y) dan tingkat kesempatan kerja (N).

Tujuan kebijakan fiskal adalah untuk mencegah pengangguran dan menstabilkan


harga, implementasinya untuk menggerakkan pos penerimaan dan pengeluaran dalam
anggran pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dengan semakin kompleknya struktur
ekonomi perdagangan dan keungan. Maka semakin rumit pula cara penanggulangan infalsi.
Kombinasi beragam harus digunakan secara tepat seperti kebijakan fiskal, kebijakan moneter,
perdagangan dan penentuan harga.

Adapun kebijakan fiskal sebagai sarana menggalakan pembangunan ekonomi


bermaksud mencapai tujuan sebagai berikut :

a. Untuk meningkatkan laju investasi.


Kebijakan fiskal bertujuan meningkatkan dan memacu laju investasi disektor swasta
dan sektor Negara. Selain itu, kebijakan fiskal juga dapat dipergunakan untuk mendorong dan
menghambat bentuk investasi tertuntu. Dalam rangka itu pemerintah harus menerapkan
kebijaan investasi berencana di sektor public, namun pada kenyataannya dibeberapa Negara
berkembang dan tertinggal terjadi suatu problem yaitu dimana langkanya tabungan sukarela,
tingkat konsumsi yang tinggi dan terjadi investasi dijalur yang tidak produktif dari
masyarakat dinegara tersbut. Hal ini disebabkan tidak tersedianya modal asing yang cukup,
baik swasta maupun pemerintha. Oleh karena itu kebijakan fiskal memberikan solusi yaitu
kebijakan fiskal dapat meningkatkan rasio tabungan inkremental yang dapat dipergunakan
untuk meningkatkan, memacu, mendorong dan menghambat laju investasi. Menurut Dr. R.
N. Tripathy terdapaat 6 metode yang diterapkan oleh pemerintah dalam rangka menaikkan
rasio tabungan incremental bagi mobilisasi volume keuangan pembangunan yang diperlukan
diantaranya; control fisik langsung, peningkatan tariff pajak yang ada,penerapan pajak baru,
surplus dari perusahaan Negara, pinjaman pemerintah yang tidak bersifat inflationer dan
keuangan deficit.

b. Untuk mendorong investasi optimal secara sosial.


Kebijakan fiskal bertujuan untuk mendorong investasi optimal secara sosial,
dikarenakan investasi jenis ini memerlukan dana yang besar dan cepat yang menjadi
tangunggan Negara secara serentak berupaya memacu laju pembentukkan modal. Nantinya
invesati optimal secara sosial bermanfaat dalam pembentukkan pasar yang lebih luas,
peningkatan produktivitas dan pengurangan biaya produksi.

c. Untuk meningkatkan kesempatan kerja.


Untuk merealisasikan tujuan ini, kebijakan fiskal berperan dalam hal pengelolan
pengeluaran seperti dengan membentuk anggaran belanja untuk mendirikan perusahaan
Negara dan mendorong perusahaan swasta melalui pemberian subsidi, keringanan dan lain-
lainnya sehingga dari pengupayaan langkah ini tercipta tambahan lapangan pekerjaan.
Namun, langkah ini harus juga diiringi dengan pelaksanaan program pengendalian jumlah
penduduk.

d. Untuk meningkatkan stabilitas ekonomi ditengah ketidak stabilan internasional


Kebijaksanaan fiskal memegang peranan kunci dalam mempertahankan stabilitas
ekonomi menghadapi kekuatan-kekuatan internal dan eksternal. Dalam rangka mengurangi
dampak internasional fluktuasi siklis pada masa boom, harus diterapkan pajak ekspor dan
impor. Pajak ekspor dapat menyedot rejeki nomplok yang timbul dari kenaikkan harga pasar.
Sedangkan bea impor yang tinggi pada impor barang konsumsi dan barang mewah juga perlu
untuk menghambat penggunaan daya beli tambahan.

e. Untuk menanggulangi inflasi.


Kebijakan fiskal bertujuan untuk menanggulangi inflasi salah satunya adalah dengan
cara penetapan pajak langsung progresif yang dilengkapi dengan pajak komoditi, karena
pajak seperti ini cendrung menyedot sebagian besar tambahan pendapatan uang yang tercipta
dalam proses inflasi.
f. Untuk meningkatkan dan mendistribusikan pendapatan nasional
Kebijakan fiskal yang bertujuan untuk mendistribusikan pendapatan nasional terdiri
dari upaya meningkatkan pendapatan nyata masyarakat dan mengurangi tingkat pendapatan
yang lebih tinggi, upaya ini dapat tercipta apabila adanya investasi dari pemerintah seperti
pelancaran program pembangunan regional yang berimbang pada berbagai sektor
perekonomian.

b) A. Tujuan utama dikeluarkannya kebijakan fiskal adalah untuk menentukan arah, tujuan,
sasaran, dan prioritas pembangunan nasional serta pertumbuhan perekonomian bangsa.
Adapun tujuan-tujuan dikeluarkannya kebijakan fiskal secara rinci adalah sebagai berikut.
• Mencapai kestabilan perekonomian nasional.

• Memacu pertumbuhan ekonomi.

• Mendorong laju investasi.

• Membuka kesempatan kerja yang luas.

• Mewujudkan keadilan sosial.

• Sebagai wujud pemerataan dan pendistribusian pendapatan.

• Mengurangi pengangguran.

• Menjaga stabilitas harga barang dan jasa agar terhindar dari inflasi.

B. Fungsi kebijakan fiskal diatur dalam Undang-Undang No. 17 tahun 2003 pasal 3 ayat 4
tentang Keuangan Negara, yaitu fungsi otoritas, perencanaan, pengawasan, alokasi,
stabilisasi, dan distribusi.

- Fungsi otoritas adalah ketika anggaran negara menjadi pedoman untuk mencari
pendapatan dan belanja untuk tahun yang bersangkutan.

- Fungsi perencanaan merujuk ketika anggaran negara menjadi dasar bagi manajemen
dalam merencanakan anggaran tahun yang bersangkutan.

- Fungsi pengawasan adalah ketika anggaran negara menjadi pedoman untuk menilai
apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintahan negara sesuai dengan ketentuan yang
telah ditetapkan.

- Fungsi alokasi, yaitu ketika anggaran negara dialokasikan untuk tujuan mengurangi
tingkat pengangguran dan pemborosan sumber daya, serta menambah efisiensi dan
efektivitas perekonomian negara.

- Fungsi stabilisasi, yaitu ketika anggaran pemerintah menjadi alat untuk memelihara
dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian.
- Fungsi distribusi, yaitu ketika kebijakan negara membuat kebijakan anggaran dengan
adil dan rasa kepatutan.

Contoh kebijakan pemerintah:

Mengurangi pajak adalah cara pemerintah dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui
kebijakan fiskal. Ketika pajak lebih rendah, konsumen memiliki lebih banyak uang untuk
dibelanjakan, yang cenderung meningkatkan investasi dan pendapatan bisnis, yang mengarah
ke pertumbuhan ekonomi. Pemerintah dapat menggunakan kebijakan fiskal dengan
meningkatkan pengeluaran dan mengurangi pajak. Hal ini untuk mengendalikan ekspansi
berlebihan yang dapat menyebabkan efek yang tidak diinginkan seperti inflasi tinggi dengan
meningkatkan pajak dan pemangkasan pengeluaran. Intinya, pemerintah dapat mencoba
memuluskan tren boom dan bust untuk mencapai tren pertumbuhan ekonomi konstan yang
lebih stabil.

4.). a. Y = C+I

Y= C+200

Y = 160+0,6Y+200

Y = 360+0,6Y

-360Y = 0,6Y

Y= C=200

Y= 160+0,6Y+200

0,4Y = 360

Y = 360/0,4 =900

Aplikasi

Menurut saya hal yang harus dilakukan dan langkah tepat yang harus diambil oleh Mentri
Keuangan adalah dengan tetap menjalankan kebijakan fiskal, demi menjaga perekonomian
negara yang sedang diguncang pandemi wabah virus Covid-19 ini. Kebijakan fiskal mungkin
akan merugikan beberapa pihak, namun dilain sisi juga dibutuhkan agar perekonomian tidak
tumbang. lebih baik memotong gaji pegawai negara atau PNS untuk mengalokasikan
penanganan wabah covid 19 untuk mengupayakan semaksimal mungkin keuntungan BUMN
untuk subsidi pendanaan di berbagai bidang Memaksimalkan pendapatan dari perpajakan
untuk menambah pendapatan negara