Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

MULTIPLE TRAUMA

Disusun oleh :
Rio Ginanjar
2019040738

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ANNUR PURWODADI
2020
MULTIPLE FRAKTUR

I. DEFINISI
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya
disebabkan oleh rudapaksa. Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan
oleh tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang.
Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung,
misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna,
dan dapat berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang
menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.

II. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya fraktur diantaranya adalah :
1. Kekerasan langsung
Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan.
Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah
melintang atau miring.
2. Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang di tempat yang jauh dari
tempat terjadinya kekerasan.Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah
dalam jalur hantaran vektor kekerasan.
3. Kekerasan akibat tarikan otot
Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. Kekuatan dapat berupa
pemuntiran, penekukan, dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.

III. KLASIFIKASI
Penampikan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis ,
dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:
1. Berdasarkan sifat fraktur, dibagi menjadi :
a. Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa
komplikasi.
b. Fraktur Terbuka (Open / Compound), bila terdapat hubungan antara fragmen
tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.
2. Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur, dibagi menjadi :
a. Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau
melalui kedua korteks tulang.
b. Fraktur Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang
seperti:
1) Hair Line Fraktur.
2) Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan
kompresi tulang spongiosa di bawahnya.
3) Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks
lainnya yang terjadi pada tulang panjang.
3. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma, dibagi
menjadi :
a. Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan
merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
b. Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap
sumbu tulang dan merupakan akibat trauma angulasi juga.
c. Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang
disebabkan trauma rotasi.
d. Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang
mendorong tulang ke arah permukaan lain.
e. Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi
otot pada insersinya pada tulang.
4. Berdasarkan jumlah garis patah, dibagi menjadi :
a. Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan.
b. Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
berhubungan.
c. Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada
tulang yang sama.
5. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang, dibagi menjadi :
a. Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap tetapi kedua
fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.
b. Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga
disebut lokasi fragmen, terbagi atas:
1) Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah
sumbu dan overlapping).
2) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
3) Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).
6. Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.
7. Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.
Pada fraktur tertutup terdapat klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan
jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:
1. Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak
sekitarnya.
2. Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.
3. Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam
dan pembengkakan.
4. Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan ancaman
sindroma kompartement.

IV. MANIFESTASI KLINIK


1. Nyeri
Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah
yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
2. Kehilangan fungsi
3. Deformitas
Deformitas dapat disebabkan pergeseran fragmen pada eksremitas. Deformitas
dapat diketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal. Ekstremitas
tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada
integritas tulang tempat melekatnya otot.
4. Perubahan warna, memar, dan bengkak
Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma dan
perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam atau
beberapa hari setelah cedera.
5. Krepitasi
Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya
derik tulang. Krepitasi yang teraba disebabkan oleh gesekan antar fragmen satu
dengan lainnya.
V. PATHWAY
Benturan, Jatuh, Cedera, Kecelakaan

Trauma

Kerusakan Integritas Fraktur


Kulit

Terputusnya Kerusakan jaringan Spasme otot Pergeseran fragmen


Resiko Infeksi
vena/arteri kulit dan otot tulang

Perdarahan Inflamasi Deformitas


Nyeri Akut

Kehilangan volume Gangguan fungsi


cairan
Pe ↑ permeabilitas Vasodilatasi Release mediator
kapiler kimia
Syok
hipovolemik
Kemerahan Hambatan Mobilitas
Ekstravasasi Fisik

Plasma di interstitiel Edema


VI. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien fraktur, yaitu :
1. Penatalaksanaan konservatif. Merupakan penatalaksanaan non
pembedahan agar immobilisasi pada patah tulang dapat terpenuhi.
a. Proteksi (tanpa reduksi atau immobilisasi). Proteksi fraktur terutama untuk
mencegah trauma lebih lanjut dengan cara memberikan sling (mitela) pada
anggota gerak atas atau tongkat pada anggota gerak bawah.
b. Imobilisasi degan bidai eksterna (tanpa reduksi). Biasanya menggunakan plaster
of paris (gips) atau dengan bermacam-macam bidai dari plastik atau metal.
Metode ini digunakan pada fraktur yang perlu dipertahankan posisinya dalam
proses penyembuhan.
c. Reduksi tertutup dengan manipulasi dan imobilisasi eksterna yang menggunakan
gips. Reduksi tertutup yang diartikan manipulasi dilakukan dengan pembiusan
umum dan lokal. Reposisi yang dilakukan melawan kekuatan terjadinya fraktur.
Penggunaan gips untuk imobilisasi merupakan alat utama pada teknik ini.
d. Reduksi tertutup dengan traksi kontinu dan counter traksi. Tindakan ini
mempunyai dua tujuan utama, yaitu berupa reduksi yang bertahap dan imobilisasi.
2. Penatalaksanaan pembedahan.
a. Reduksi tertutup dengan fiksasi eksternal atau fiksasi perkutan dengan K-Wire
(kawat kirschner), misalnya pada fraktur jari.
b. Reduksi terbuka dengan fiksasi internal (ORIF: Open Reduction Internal
Fixation). Merupakan tindakan pembedahan dengan melakukan insisi pada derah
fraktur, kemudian melakukan implant pins, screw, wires, rods, plates dan protesa
pada tulang yang patah.
Tujuan:
- Imobilisasi sampai tahap remodeling
- Melihat secara langsung area fraktur
Jenis Open Reduction Internal Fixation (ORIF):
- Sekrup kompresi antar fragmen
- Plat dan sekrup, paling sesuai untuk lengan bawah
- Paku intermedula, untuk tulang panjang yang lebih besar
- Paku pengikat sambungan dan sekrup, ideal untuk femur dan tibia
- Sekrup kompresi dinamis dan plat, ideal untuk ujung proksimal dan distal
femur
Indikasi ORIF :
- Fraktur yang tak bisa sembuh atau bahaya avasculair nekrosis tinggi, misalnya
fraktur talus dan fraktur collum femur.
- Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup. Misalnya fraktur avulse dan fraktur
dislokasi.
- Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan. Misalnya fraktur
Monteggia, fraktur Galeazzi, fraktur antebrachii, dan fraktur pergelangan kaki.
- Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan
operasi, misalnya : fraktur femur.
c. Reduksi terbuka dengan fiksasi eksternal (OREF: Open Reduction External
Fixation). Fiksasi eksternal digunakan untuk mengobati fraktur terbuka dengan
kerusakan jaringan lunak. Alat ini memberikan dukungan yang stabil untuk
fraktur kominutif (hancur atau remuk).
Indikasi OREF:
- Fraktur terbuka derajat III
- Fraktur dengan kerusakan jaringan lunak yang luas
- Fraktur dengan gangguan neurovaskuler
- Fraktur Kominutif
- Fraktur Pelvis
Tahap-tahap penyembuhan tulang, yaitu :
1. Stadium pembentukan hematom
 Hematom terbentuk dari darah yang mengalir yang berasal dari pembuluh darah
yang robek.
 Hematom dibungkus oleh jaringan lunak sekitarnya (periosteum dan otot).
 Terjadi pada 1 - 2 x 24 Jam.
2. Stadium proliferasi sel
 Sel-sel berperoliferasi dari lapisan dalam periosteum, disekitar lokasi fraktur.
 Sel-sel ini prekursor osteoblas.
 Sel-sel ini aktif tumbuh kearah fragmen tulang.
 Terjadi setelah hari ke dua.
3. Stadium pembentukan kallus.
 Osteoblast membentuk tulang lunak ( kallus ).
 Kallus memberikan rigiditas pada fraktur.
 Terlihat massa kallus pada X Ray  fraktur telah menyatu.
 Terjadi 6 - 10 hari setelah kecelakaan.
4. Stadium Konsolidasi (Kalsifikasi)
 Kallus mengeras dan terjadi proses konsolidasi, fraktur teraba telah menyatu.
 Secara bertahap menjadi tulang mature.
 Terjadi pada minggu ke 3 - 10 setelah kecelakaan.
5. Stadium Remodelling.
 Lapisan bulbous mengelilingi tulang khususnya pada lokasi bekas fraktur.
 Tulang yang berlebihan dibuang oleh osteoklast.
 Pada anak - anak remodelling dapat sempurna, dewasa masih ada tanda
penebalan.

VII. KOMPLIKASI
1. Malunion adalah suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam
posisi yang tidak pada seharusnya, membentuk sudut, atau miring.
2. Delayed union adalah proses penyembuhan yang berjalan terus tetapi dengan
kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.
3. Nonunion adalah patah tulang yang tidak menyambung kembali.
4. Compartment syndrom adalah suatu keadaan peningkatan takanan yang berlebihan
di dalam satu ruangan yang disebabkan perdarahan masif pada suatu tempat.
5. Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas
kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada
fraktur.
6. Tromboembolic complicastion, trombo vena dalam sering terjadi pada individu
yang imobil dalam waktu yang lama karena trauma.
7. Infeksi, sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma
orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini
biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan
lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
8. Avascular necrosis, pada umumnya berkaitan dengan aseptika atau nekrosis
iskemia.
9. Atropi otot karena imobilisasi sampai osteoporosis.
10. Dekubitus, karena penekanan jaringan lunak oleh gips.

VIII. PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan radiologis (rontgen), pada daerah yang dicurigai fraktur, harus
mengikuti aturan role of two, yang terdiri atas :
 Mencakup dua gambaran yaitu anteroposterior (AP) dan lateral.
 Memuat dua sendi antara fraktur yaitu bagian proximal dan distal.
 Memuat dua extremitas (terutama pada anak-anak) baik yang cidera maupun yang
tidak terkena cidera (untuk membandingkan dengan yang normal).
 Dilakukan dua kali, yaitu sebelum tindakan dan sesudah tindakan.
2. Pemeriksaan laboratorium, meliputi:
 Darah rutin
 Faktor pembekuan darah
 Golongan darah (terutama jika akan dilakukan tindakan operasi)
3. Pemeriksaan arteriografi dilakukan jika dicurigai telah terjadi kerusakan vaskuler
akibat fraktur tersebut.

IX. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Nyeri Akut berhubungan dengan Spasme Otot.
2. Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan Fraktur Terbuka.
3. Hambatan Mobilitas Fisik berhubungan dengan Kerusakan Rangka Neuromuskuler.
4. Resiko Infeksi dengan faktor resiko Ketidakadekuatan Pertahanan Primer.

X. RENCANA KEPERAWATAN
No. Diagnosa NOC NIC
Keperawatan
1. Nyeri Akut Setelah dilakukan tindakan Manajemen nyeri
berhubungan keperawatan selama 1 x24 jam 1. Lakukan pengkajian nyeri
dengan Spasme pasien dapat mengetahui secara komprehensif
Otot tingkatan nyeri dengan indikator: termasuk lokasi,
1. Melaporkan adanya nyeri (5) karakteristik, durasi,
2. Frekuensi nyeri(5) frekuensi, kualitas dan faktor
3. Panjangnya episode nyeri (5) presipitasi
4. Ekspresi nyeri pada wajah 2. Observasi reaksi non verbal
(5) dari ketidaknyamanan
5. Posisi tubuh protektif (5) 3. Pertahankan imobilasasi
6. Kurangnya istirahat (5) bagian yang sakit dengan
7. Ketegangan otot (5) tirah baring, gips, bebat dan
8. Perubahan TTV (5) atau traksi
9. Kehilangan selera makan (5) 4. Tinggikan posisi ekstremitas
yang terkena.
5. Lakukan dan awasi latihan
gerak pasif/aktif.
6. Lakukan tindakan untuk
meningkatkan kenyamanan
(masase, perubahan posisi)
7. Kontrol lingkungan yang
dapat mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan
8. Ajarkan penggunaan teknik
manajemen nyeri (latihan
napas dalam, imajinasi
visual, aktivitas dipersional)
9. Lakukan kompres dingin
selama fase akut (24-48 jam
pertama) sesuai keperluan.
10. Kolaborasi pemberian
analgetik sesuai indikasi.
2. Resiko infeksi Setelah dilakukan tindakan Kontrol infeksi
dengan faktor keperawatan selama 1 x24 jam 1. Bersihkan lingkungan
resiko status kekebalan pasien setelah dipakai pasien lain.
Ketidakadekuatan meningkat dengan indilaktor: 2. Observasi tanda-tanda vital
Pertahanan Primer. 1. Tidak didapatkan infeksi dan tanda-tanda peradangan
berulang (5) lokal pada luka.
2. Tidak didapatkan tumor (5) 3. Tingkatkan intake nutrisi dan
3. Status respirasi sesuai yang cairan
diharapkan (5) 4. Lakukan perawatan pen steril
4. Temperatur badan sesuai dan perawatan luka sesuai
yang diharapkan (5) SOP.
5. Integritas kulit (5) 5. Analisa hasil pemeriksaan
laboratorium (Hitung darah
lengkap, LED, Kultur dan
sensitivitas
luka/serum/tulang)
6. Istirahat yang adekuat
7. Kolaborasi pemberian
antibiotika dan toksoid
tetanus sesuai indikasi.
8. Ajari pasien dan keluarga
tanda dan gejal infeksi dan
kalau terjadi melaporkan
pada perawat
9. Ajarkan klien dan anggota
keluarga bagaimana
mencegah infeksi
DAFTAR PUSTAKA

Apley, A. Graham. 1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley. Jakarta: Widya
Medika.

Long, Barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah, Edisi 3. Jakarta: EGC.

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid II Edisi 3. Jakarta: Medika
Aesculapius.

Santoso, Herman. 2000. Diagnosis dan Terapi Kelainan Sistem Muskuloskeletal. Diktat
Kuliah PSIK tidak dipublikasikan.