Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM DESAIN TEKSTIL

DEKOMPOSISI KAIN ANYAMAN SATIN

Disusun Oleh

Nama : Nur Syifa Ramadani

NRP : 18030040

Grup : G3 Produksi Garmen

Tgl Praktikum : 13 Maret 2019

POLITEKNIK STTT BANDUNG

2019
DEKOMPOSISI ANYAMAN KEPER

I. MAKSUD DAN TUJUAN


a. Maksud
Untuk mengetahui dekomposisi kain dengan anyaman satin dan
mengidentifkasi jenis anyaman dasar satin.
b. Tujuan
Untuk mengetahui jenis-jenis anyaman pada kain, arah benang, tetal
kain, mengkeret benang, nomor benang, dan perhitungan berat dari
benang lusi dan benang pakan dari hasil uji dibanding berat mutlak
kain, pada jenis kain dengan anyaman satin.

II. DASAR TEORI


Anyaman satin adalah anyaman dasar ketiga. Nama-nama lain dari anyaman satin
adalah :
 Sateen, istilah umum untuk kain katun dalam anyaman satin 5 gun atau 8 gun,
biasanya satin pakan.
 Satinet istilah yang dipakai untuk kain imitasi sutera, misalnya dari bahan
katun yang di mercerisasi.
 Satin, istilah yang umum dipakai pada kain-kain satin yang dibuat dari sutera
filament / benag sintetis fiamen.
 Satinnettes, dibuat dari benang lusi kapas dan benang pakan wol.
 Satin de chine, dibuat dari benang sutera alam dengan tetal sedang.
Belakangan juga dibuat dari benang rayon.

Karakteristik anyaman satin :

 Dalam 1 raport anyaman, banyak benang lusi = banyak benang pakan


 Anyaman satin hanya menonjolkan salah satu, yaitu efek lusi dan efek pakan
pada permukaan kain
 Anyaman satin dengan efek lusi disebut dengan satin lusi, begitu juga
anyaman satin dengan efek pakan disebut satin pakan
 Pada satin lusi, tetal lusi > tetal pakan
 Pada satin pakan, tetal pakan > tetal lusi
 Pada kain dengan anyaman satin, tidak tampak jelas atau menonjolkan suatu
garis seperti pada anyaman keper
 Banyaknya gun minimum sama dengan jumlah benang lusi atau benang
pakan dalam 1 raport anyaman
 Pada umumnya digunakan tetal yang tinggi pada lusi atau pakan sehingga
kainnya tampak padat
 Anyaman satin dapat digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu satin teratur (paling
sedikit 5 gun) dan satin tak teratur (paling sedikit 4 gun)
 Pada semua anyaman satin, satin teratur maupun tak teratur hanya mungkin
digunakan benang berwarna secara efisien hanya pada benang yang nampak
pada permukaan kain. Misalnya satin lusi, penggunaan benang berwarna
hanya efisien pada benang lusi saja. Jika pada satin efek lusi digunakan
benang pakan berwarna, maka warna tersebut akan merupakan bintik-bintik
kecil yang tersebar pada permukaan kain, dimana keadaan demikian jarang di
kehendaki.

Angka loncat dalam anyaman satin :

 Besarnya angka loncat selalu lebih besar dari pada 1 (v > 1)


 Angka loncat tidak sama dengan banyak benang lusi / pakan dalam 1 raport
anyaman dikurangi satu
 Angka loncat tidak sama dengan bilangan yang menjadi pembagi
persekuutuan terhadap bilangan yang menunjukkan jumlah benang lusi atau
pakan dalam satu raport anyaman
 Angka loncat dan jumlah benang lusi dalam 1 raport masing-masing tidak
boleh terbagi oleh suatu angka yang sama.
III. ALAT
1. Loupe (kaca pembesar)
2. Gunting
3. Jarum Layar
4. Penggaris
5. Kertas Desain ( buku kotak-kotak/patron)
6. Timbangan
7. Alat Tulis
8. Kain Contoh Uji

IV. CARA KERJA

1. Tentukan arah lusi dan arah pakan. Arah lusi beri tanda panah.
2. Hitung tetal lusi dan pakan pada 5 tempat yang berbeda, cari rata-ratanya.
3. Kain contoh di potong 10 x 10 cm, timbang (Bk)
4. Ambil lusi dan pakan dari sisi yang berbeda ( Kiri-kanan dan Atas-bawah).
Masing-masing 5 helai.
 Lusi = 10 helai dan pakan = 10 helai, Timbang.
5. Hitung mengkeret lusi dan pakan
 Panjang benang dari kain contoh = Pk
 Panjang benang setelah diluruskan = Pb
Mengkeret benang
Pb−Pk
M= X 100%
Pb

6. Hitung nomor lusi dan pakan


 Panjang 10 helai lusi setelah diluruskan = … cm = … Ml
 Berat 10 helai lusi = … mg = … gr

Panjang (m)
Nm =
Berat ( gr)

Ne = 0,59 x Nm
1000
Tex =
Nm

9000
Td =
Nm

 Idem untuk menghitung benang pakan


7. Hitung berat kain secara teoritis/m2
a. Dengan penimbangan
Berat kain/m2 = Berat conoth x 100 = B1
b. Dengan perhitungan
c. Dasar perhitungan
P P
Nm =  B =
B Nm
1. Panjang seluruh benang lusi dalam 1m2 kain dibagi dengan Nm lusi:

Tetal ( cmhl ) x 100 cm x 100 cm x ( 100−ml


100
) = B2
Nmlusi x 100
2. Idem untuk benang pakan = B3
3. Berat kain/m2 = B2 + B3 = B4
8. Hitung selisih berat hasil penimbangan (Bk) dengan hasil perhitungan (B4)
BB−BK
X 100%
BB
9. Gambar anyaman dan rencana tenun
10. Pembahasan
11. Kesimpulan

V. DATA PENGAMATAN
Tetal Lusi dan Tetal Pakan

NO h elai
Tetal ( )
inc h
Lusi Pakan
1 167 87
2 169 85
3 167 87
Jml 503 259
h
rt-rt 167.7 Inchi 86.3 Inchi

Berat kain 10 x 10 cm = 1.3765 gr

Panjan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jmlh Rt-rt
g
L.Pk 10. 10. 10. 100.
10 10.1 10 10 10 10.1 10.1 10.06
1 1 1 6
L.Pb 11. 11. 11. 11. 11. 11. 11.
11.5 11.5 11.5 115 11.5
5 5 5 5 5 5 5
P.Pk 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 100 10
P.Pb 10. 10. 10. 10. 10. 10. 10. 101.
10.1 10.1 10.2 10.15
2 2 1 2 2 1 1 5

Berat 10 helai :

1. Lusi = 0.0106 gr
2. Pakan = 0.0197 gr

Rata – rata tetal :

helai helai
1. Lusi = 167.7 = 66
inch cm
helai helai
2. Pakan = 86.3 = 34
inch cm

VI. PERHITUNGAN
1. Mengkeret
Pb−Pk
M= X 100%
Pb
11.5−10.06
M lusi = x 100% = 12.52 %
11.5
10.15−10
M pakan = x 100% = 1.47%
10.15
2. Nomor Benang
a. Lusi
Panjang Lusi = 115 cm = 1.15 m
Berat 10 helai lusi = 0.0106 gr
P (m) 1.15
Nm = = = 108.49 m/g
B(gr ) 0.0106
Ne = 0,59 x Nm = 0,59 x 108.49 = 64
1000 1000
Tex = = = 9.21
Nm 108.49
9000 9000
Td = = = 82.95
Nm 108.49

b. Pakan
Panjang Pakan = 101.5 cm = 1.01 m
Berat 10 helai Pakan = 0.0197 gr
P (m) 1.01
Nm = = = 51.26 m/g
B(gr ) 0.0197
Ne = 0,59 x Nm = 0,59 x 51.26 = 30.24
1000 1000
Tex = = = 19.50
Nm 51.26
9000 9000
Td = = = 175.57
Nm 51.26

Berat Kain Secara Teoritis / M2


a. Dengan cara penimbangan
Berat kain = Berat kain contoh x 100
= 1.3765 x 100
= 137.65 (B1)
b. Dengan cara perhitungan
P P
Nm =  B=
B Nm
1. Berat Lusi =
Tetal ( cmhl ) x 100 cm x 100 cm x ( 100−ml
100
)
Nmlusi x 100

=
66 ( cmhl ) x 100 cm x 100 cm x ( 100
)
m 100−12.52
108.49
g x 100 cm
= 60.83 x 1.14 = 69.35 g/m2 (B2)

2. Berat Pakan =
Tetal ( cmhl ) x 100 cm x 100 cm x ( 100−ml
100
)
Nmlusi x 100

=
34 ( cmhl ) x 100 cm x 100 cm x ( 100
)
m 100−1.47
51.26
g x 100 cm

= 66.32 x 1,01 = 66.99 g/m 2 (B3)

3. Berat Kain = B2 + B3

= 69.35 g/m 2 + 66.99 g/m 2

= 133.34 g/m 2 (B4)

c. Selisih Berat
Bb−Bk
Selisih = X 100%
Bb
137.65 – 133.34
Selisih = X 100%
137.65
= 3%

VII. GAMBAR ANYAMAN


4
Anyaman Satin 5 Gun /2
1
VIII. DISKUSI
Pada percobaan dengan menggunakan kain contoh uji kain satin,
presentase selisih berat yang diperoleh dari perhitungan, berada pada rentang 0%
- 5% sehingga masih dapat dikatakan efisien. Selisih berat tersebut dapat berubah
menjadi lebih kecil lagi apabila pengamatan dapat dilakukan dengan lebih teliti lagi
dalam mengukur berat kain, dan benang, serta panjang dan tetal kain pada saat
percobaan. Sehingga untuk memperoleh hasil yang baik, maka selisih yang
diperoleh tersebut harus kecil.
  Pada saat pemotongan kain contoh 10 x 10 cm sebisa mungkin
sebelumnya kita menguraikan lusi dan pakannya sehingga mendekati ukuran 10 x
10 cm setelah itu diberi batasan dengan ukuran 10 x 10 cm dan kemudian pakan
dan lusinya diurai sampai mendapatkan kain dengan ukuran 10 x 10 cm. Setelah
itu sisa-sisa benang lusi dan pakan dipotong sesuai dengan ukuran kain. Hal
tersebut dilakukan untuk menghindari kesalahan pemotongan kain contoh ( kain
contoh terlalu kecil, misalnya ). 
Untuk menghindari kesalahan pada perthitungan tetal lusi dan tetal pakan,
dilakukan dengan cara memotong kain dengan ukuran 1 inch x 1 inch sebanyak 3
kali, kemudian lusi dan pakannya diurai satu persatu sambil dihitung.

IX. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan praktikum dan perhitungan data pengamatan dari kain
contoh uji yang merupakan kain satin, maka diperoleh :
 Rata-rata tetal lusi adalah 167.7 helai/inchi dan rata-rata tetal pakan adalah
86.3 helai/inchi.
 Mengkeret benang lusi adalah 12.52 % dan mengkeret benang pakan adalah
1.47 %
 Nomor Benang Lusi:
Nm = 108.49 m/g
Ne = 64
Tex = 9.21
Td = 82.95
Nomor Benang Pakan:
Nm = 51.26 m/g
Ne = 30.24
Tex = 19.50
Td = 175.57
 Berat Kain dalam 1m2 (g/m2)
a. Dengan Cara Penimbangan = 137.65 g/m 2
b. Dengan Cara Perhitungan
Berat lusi = 69.35 g/m 2
Berat pakan = 66.99 g/m 2
Berat Kain = 133.34 g/m 2
 Selisih kain contoh uji mula-mula dengan kain contoh uji yang
telah dilakukan perhitungan, diperoleh selisih berat sebesar 3 %.

Pada pengujian ini hasil data yang didapatkan dapat


dipertanggungjawabkan atau dikatakan efisien, karena telah mencapai standar
selisih normal untuk berat kain hasil perhitungan dengan hasil pengukuran yaitu ≤
5%.
X. DAFTAR PUSTAKA
 Jumaeri,dkk.Textiledesign.Institut Teknologi Tekstil.Bandung.1974
 https://www.scribd.com/document/365063874/Laporan-Anyaman-Satin
 http://ayyub-textile.blogspot.com/2018/02/dekomposisi-kain-anyaman-satin-
i.html
XI. LAMPIRAN CONTOH UJI KAIN