Anda di halaman 1dari 17

Resume Jurnal

UNDESENSUS TESTIS

Disusun Oleh :

Rofi Saputra
NIM 1908436813

Pembimbing :
Dr. dr. Tubagus Odih, Sp.BA

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RUMAH SAKIT UMUM ARIFIN ACHMAD
PEKANBARU
2020
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan

karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan resume jurnal dengan judul,

“Undesensus Testis” sebagai salah satu syarat kelulusan Kepaniteraan Klinik

(KK) di Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Riau dan Rumah

Sakit Umum Daerah Arifin Achmad

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut

memberi bantuan baik secara moril maupun materil sehingga penulis dapat

menyelesaikan referat ini. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan

terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. dr. Tubagus Odih, Sp.BA

selaku pembimbing resume jurnal.

Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan di dalam

resume jurnal ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang

membangun dari pembaca demi kesempurnaan resume jurnal ini. Akhir kata,

semoga resume jurnal ini bermanfaat dan menambah pengetahuan kita.

Pekanbaru, 01 Mei 2020

Rofi Saputra
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
1.1 Latar belakang.......................................................................................1
1.2 Rumusan masalah..................................................................................1
1.3 Tujuan penulisan...................................................................................2
1.4 Metode penulisan..................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................3
2.1 Undesensus Testis.................................................................................3
2.1.1 Definisi.........................................................................................3
2.2 Epidemiologi.........................................................................................3
2.3 Embriologi.............................................................................................3
2.4 Klasifikasi..............................................................................................5
2.5 Etiologi..................................................................................................6
2.6 Diagnosis...............................................................................................7
2.7 Penatalaksanaan....................................................................................9
2.8 Komplikasi..........................................................................................10
BAB III PENUTUP................................................................................................11
3.1 Kesimpulan..........................................................................................11

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................12
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Pediman diagnosis HAEC ..................................................................6


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Undesensus testis atau kriptorkismus adalah kelainan genitalia kongenital

tersering pada anak laki-laki. Insidensnya 3 – 6% pada bayi laki-laki yang lahir

cukup bulan dan meningkat menjadi 30% pada bayi prematur. Dua pertiga kasus

mengalami Undesensus testis unilateral dan Undesensus testis bilateral. Faktor

predisposisi terjadinya Undesensus testis adalah prematuritas, berat bayi baru lahir

yang rendah, kecil untuk masa kehamilan, kembar dan pemberian estrogen pada

trimester pertama.1,2

Undesensus testis dapat kembali turun spontan ke testis sekitar 70 – 77%

pada usia 3 bulan. Penatalaksanaan yang terlambat pada Undesensus testis akan

menimbulkan efek pada testis di kemudian hari. Undesensus testis meningkatkan

risiko infertilitas dan berhubungan dengan risiko tumor sel germinal yang

meningkat 3 – 10 kali. Atrofi testis terjadi pada usia 5 – 7 tahun, akan tetapi

perubahan morfologi dimulai pada usia 1 – 2 tahun. Risiko kerusakan histologi

testis juga berhubungan dengan letak abnormal testis. Pada awal pubertas, lebih

dari 90% testis kehilangan sel germinalnya pada kasus intraabdomen, sedangkan

pada kasus testis inguinal dan preskrotal, penurunan sel geminal mencapai 41%

dan 20%.3

1.2 Rumusan masalah

Dalam penulisan ini akan dibahas tentang definisi, epidemiologi,

manifestasi klinik, diagnosis, penatalaksanaan, serta komplikasi.


1.3 Tujuan penulisan

Adapun tujuan penulisan ini adalah:

1. Memahami dan menambah wawasan mengenai Undesensus Testis.

2. Meningkatkan kemampuan penulisan ilmiah di bidang kedokteran

khususnya di Bagian Ilmu Bedah.

3. Memenuhi salah satu syarat kelulusan Kepaniteraan Klinik (KK) di

Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Riau dan Rumah

Sakit Umum Daerah Arifin Achmad.

1.4 Metode penulisan

Penulisan referat ini menggunakan metode tinjauan pustaka dengan

mengacu kepada beberapa literatur.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Undesensus Testis

2.1.1 Definisi

Undesensus testis adalah suatu keadaan dimana setelah usia 1 tahun, satu

atau kedua testis tidak berada di dalam kantung skrotum, tetapi masih berada di

salah satu tempat sepanjang jalur desensus normal.1,2,3 Kriptorkismus berasal dari

kata cryptos (Yunani) yang berarti tersembunyi dan orchis yang dalam bahasa

latin disebut testis.4

2.2 Epidemiologi

Undesensus testis adalah salah satu kelainan yang terjadi pada anak laki

- laki. Angka kejadian undesensus testis pada bayi prematur kurang lebih 30%

yaitu 10 kali lebih banyak dari pada bayi cukup bulan (3%). Dengan

bertambahnya usia, testis mengalami desensus setara spontan. Dengan

bertambahnya umur menjadi 1 tahun, insidennya menurun menjadi 0,7-0,8%,

angka ini hampir sama dengan  populasi dewasa.4,5,6

2.3 Embriologi

Pada mulanya testis hanya berupa penebalan pada bagian ventral

dari genital ridge yang belum dapat diterminasi. Karena pengaruh gen Y maka

penebalan ini akan memperlihatkan karakteristik histologi dan fungsional

sebagai testis. Kemudian sebagian mesonefron akan berdegenerasi, dan

sebagian lagi yang berdekatan dengan testis akan membentuk epididimis yang

akan menjadi saluran yang membawa spermatozoa dari testis ke vas deferens.

jika mesonefron gagal tumbuh menyatu dengan testis, maka testis tidak akan
turun ke skrotum, tetapi vas deferens dan pembuluh darah yang turun sepanjang

prosesus vaginalis.4

Pada kehamilan 4 bulan, testis berkembang menjadi bulat seperti bentuk

yang normal dan mulai berpindah ke kaudal dan mencapai annulus inguinalis

internus pada kehamilan 5 bulan. selama bulan ke 7, testis melewati kanalis

inguinalis dan akan menonjol di samping tonjolan peritoneum yang disebut

prosesus vaginalis peritonei. Selama bulan ke 8 dan bulan ke 9, testis sudah

berada dalam skrotum. Kurang lebih 5% dari bayi aterm lahir dengan desensus

testis inkomplit. Dan sampai 30% bayi prematur lahir dengan undesensus testis.

Testis berkembang bersama mesonefron yang terpisah dari vas deferens yang

berkembang baik sedangkan testis tidak ada. Perkembangan testis yang baik

disertai dengan perkembangan vas deferens yang terganggu dijumpai pada

penyakit fibrosis sistika.4

Kedua testis dalam skrotum digantung oleh tangkai fibrovaskuler,

funiculus spermaticus, yang meninggalkan canalis inguinalis melalui annulus

inguinalis profunda. Testis kiri sering tergantung lebih rendah dari pada yang

kanan. Skrotum berfungsi mengatur temperatur testis. Skrotum berasal dari 2

genital ridge yang ditunjukkan oleh adanya lapisan tengah raphe scrota.4

Testis matur bentuknya kira - kira seperti buah plum, panjangnya 4 – 5

cm. konsistensi kenyal dan biasanya dalam skrotum posisi permukaan luas

menghadap ke belakang dan yang sempit menghadap depan. Testis dibagi

menjadi kutub atas dan kutub bawah, permukaan medial dan lateral. Pada tepi

posterior, mediastinum testis, pembuluh - pembuluh darah, saraf dan duktus

deferens masuk dan meninggalkan epididimis bersama funiculus spermatikus.


Testis dan epididimis sebagian besar ditutupi oleh lapisan visceral peritoneal

sheath, tunica vaginalis testis. Lapisan ini pada mediatinum testis dan

epididimis melipat menjadi lapisan parietal, lapisan visceral membentuk alur di

bagian lateral, bursa testicular terletak antara testis dan epididimis.4

Testis dibungkus dengan rapat oleh kapsul jaringan ikat tebal, keputih –

putihan, tunica albuginea. Septa - septa jaringan ikat (septula testis) menyebar

dari kapsul menuju mediastinum testis membagi jaringan testis menjadi 200

-300 lobulus (lobuli testis). Tiap lobulus mengandung beberapa tubulus

seminiferous yang berkelok - kelok (tubuli seminiferi contorti). Tiap tubulus

pada testis matur (secara seksual) tebalnya 140 - 300 µm, dan jika dibentang

panjangnya 30 - 60 mm. tubulus masuk rete testis di mediastinum. Rete testis

terdiri atas saluran - saluran seperti celah saling berhubungan dari mana ductuli

efferentes menyalurkan sperma (spermatozoa) menuju ductus epididimis.

Selanjutnya ductus epididimis melanjutkan diri sebagai ductus deferens.4,5

2.4 Klasifikasi

Undesesus testis dikelompokkan menjadi :5

1. Undesensus testis sesungguhnya (true undescended) : testis

mengalami penurunan parsial melalui jalur yang normal, tetapi terhenti.

Dibedakan menjadi teraba (palpable) dan tidak teraba (impalpable)

2. Testis ektopik : testis mengalami penurunan di luar jalur penurunan yang

normal.

3. Testis retractile : testis dapat diraba atau dibawa ke dasar skrotum tetapi

akibat refleks kremaster yang berlebihan dapat kembali segera ke kanalis

inguinalis, bukan termasuk Undesensus testis yang sebenarnya.


Gambar 1. Letak Undesensus Testis.

Keterangan gambar letak Undesensus testis :

1. Testis retraktil

2. Inguinal

3. Abdominal

4. Inguinal superfisial

5. Penil

6. Femoral

Undesensus testis dapat diklasifikasi berdasarkan lokasinya menjadi:

1. Skrotal tinggi (supraskrotal) : 40 %

2. Intrakanalikuler (inguinal) : 20 %

3. Intraabdominal (abdominal) : 10 %

2.5 Etiologi

Mekanisme terjadinya Undesensus testis berhubungan dengan banyak

faktor (multifaktorial) yaitu:3

1. Perbedaaan pertumbuhan relatif tubuh terhadap funikulus spermatikus atau

gubernakulum
2. Peningkatan tekanan abdomen

3. Faktor hormonal: testosteron, MIS, and extrinsic estrogen

4. Perkembangan epididimis

5. Perlekatan gubernakular

6. Sekunder pasca-operasi inguinal yang menyebabkan jaringan ikat.

2.6 Diagnosis

Anamnesis3

1. Tentukan apakah testis pernah teraba di skrotum

2. Riwayat operasi daerah inguinal

3. Riwayat prenatal: terapi hormonal pada ibu untuk reproduksi, kehamilan

kembar, prematuritas

4. Riwayat keluarga: Undesensus testis, hipospadia, infertilitas, intersex,

pubertas prekoks

Pemeriksaan Fisik

Saat pemeriksaan fisik kondisi pasien harus dalam keadaan relaksasi dan

posisi seperti frog-leg atau crosslegged. Pada pasien yang terlalu gemuk, dapat

dilakukan dalam posisi sitting cross-legged atau baseball catcher’s. Tangan

pemeriksa harus dalam keadaan hangat untuk menghindari tertariknya testis ke

atas. Undesensus testis dapat diklasifikasi berdasarkan lokasinya menjadi:

1. Skrotum atas

2. Kantong inguinal superfisial

3. Kanalis inguinalis

4. Abdomen
Untuk kepentingan klinis dan penatalaksanaan terapi, klasifikasi cukup

dibedakan menjadi teraba atau tidak. Pemeriksaan testis kontralateral juga perlu

dilakukan .

Pemeriksaan fisik dimulai dari antero-superior iliac spine, meraba

daerah inguinal dari lateral ke medial dengan tangan yang tidak dominan. Jika

teraba testis, testis dipegang dengan tangan dominan dan ditarik ke arah

skrorum

Pemeriksaan skrotum untuk: hypoplastic, bifid, rugae, transposition,

pigmentation. Pemeriksaan fisik juga untuk menyingkirkan ektopik testis.

Angka keberhasilan pemeriksaan fisik oleh pediatric urologist mencapai 84%.5,6

Pemeriksaan Laboratorium

1. Pada pasien dengan Undesensus testis unilateral atau bilateral dengan satu

testis teraba, tidak diperlukan pemeriksaan lanjutan

2. Undesensus testis bilateral dengan tanpa testis yang teraba dengan

hipospadia, perlu dilakukan evaluasi kromoson dan endokrinologi.

 Pada pasien usia 3 bulan atau kurang: pemeriksaan LF, FSH dan

testosteron untuk menentukan ada testis atau tidak

 Pasien usia > 3 bulan: dapat dilakukan tes stimulasi hCG 

kegagalan kenaikan testosteron dengan peningkatan LH/FSH dapat

didiagnosis dengan diagnose of anorchia.3


Radiologi

Pemeriksaan USG, CT Scan dan MRI dapat mendeteksi testis di daerah

inguinal, akan tetapi testis di daerah ini juga cukup mudah untuk dipalpasi.

Akurasi USG dan CT Scan akan menurun menjadi 0 – 50% pada kasus testis

intraabdomen. Sedangkan MRI dikatakan memiliki akurasi mencapai 90%.

Pemeriksaan radiologi tidak mengubah keputusan tindakan pada setiap kasus.3

2.6 Penatalaksanaan

Terapi Hormonal

Terapi hormonal primer lebih banyak digunakan di Eropa. Hormon yang

diberikan adalah hCG, gonadotropinreleasing hormone (GnRH) atau LH-releasing

hormone (LHRH). Terapi hormonal meningkatkan produksi testosteron dengan

menstimulasi berbagai tingkat jalur hipotalamus-pituitary-gonadal. Terapi ini

berdasarkan observasi bahwa proses turunnya testis berhubungan dengan

androgen. Tingkat testosteron lebih tinggi bila diberikan hCG dibandingkan

GnRH. Semakin rendah letak testis, semakin besar kemungkinan keberhasilan

terapi hormonal.3

International Health Foundation menyarankan dosis hCG sebanyak 250

IU/ kali pada bayi, 500 IU pada anak sampai usia 6 tahun dan 1000 IU pada anak

lebih dari 6 tahun. Terapi diberikan 2 kali seminggu selama 5 minggu. Angka

keberhasilannya 6 – 55%. Secara keseluruhan, terapi hormon efektif pada

beberapa kelompok kasus, yaitu testis yang terletak di leher skrotum atau UDT

bilateral. Efek samping adalah peningkatan rugae skrotum, pigmentasi, rambut

pubis dan pertumbuhan penis. Pemberian dosis lebih dari 15000 IU dapat

menginduksi fusi epiphyseal plate dan mengurangi pertumbuhan somatik.3


Pembedahan

Prinsip dasar orchiopexy adalah3

1. Mobilisasi yang cukup dari testis dan pembuluh darah

2. Ligasi kantong hernia

3. Fiksasi yang kuat testis pada skrotum

Testis sebaiknya direlokasi pada subkutan atau subdartos pouch skrotum.

Tindakan operasi sebaiknya dilakukan sebelum pasien usia 2 tahun, bahkan

beberapa penelitian menyarankan pada usia 6 – 12 bulan. Penelitian melaporkan

spermatogonia akan menurun setelah usia 2 tahun.10

Indikasi absolut dilakukan operasi pembedahan primer adalah

1. kegagalan terapi hormonal

2. testis ektopik

3. terdapat kelainan lain seperti hernia dengan atau tanpa prosesus vaginalis

yang terbuka

2.7 Komplikasi

Komplikasi Orchiopexy3

1. Posisi testis yang tidak baik karena diseksi retroperitoneal yang tidak

komplit (10% kasus)

2. Atrofi testis karena devaskularisasi saat membuka funikulus (5%

kasus)

3. Trauma pada vas deferens ( 1–2% kasus)

4. Pasca-operasi torsio

5. Epididimoorkhitis
6. Pembengkakan skrotum

BAB III

KESIMPULAN

Undesensus testis merupakan kelainan yang sering terjadi pada bayi laki-

laki, yaitu pada 4-5% bayi laki-laki dengan umur kehamilan yang cukup, dan 20-

33% pada bayi laki-laki prematur. Secara embriologi, tahap akhir dari penurunan

testis mencapai skrotum secara normal adalah pada minggu ke-25 sampai minggu

ke-35 usia kehamilan. Terjadinya kelainan dari kontrol hormon atau proses

anatomi yang diperlukan dalam proses penurunan testis secara normal dapat

menyebabkan undesensus testis.

Penegakkan diagnosis Undesensus testis harus dapat dilakukan lebih awal

sehingga penatalaksanaan baik hormonal atau pembedahan dapat dilakukan lebih

awal. Dengan penatalaksanaan lebih awal, diharapkan terjadi penurunan risiko

yang terjadi pada testis terutama risiko infertilitas.


DAFTAR PUSTAKA

1. Barthold JS, Gonzales R. The epidemiology of congenital cryptorchidism,

testicular ascent and orchiopexy. J Urol 2003;170 (6):2396-01.

2. Kaplan GW. The undescended testis: changes over the past several

decandes. BJU Int 2003;92:12-4.

3. Handrea WL, Kedokteran F, Udayana U. Undescended Testis, Diagnosis

and Treatment. 2013;1–17.

4. Michael JM, Herbert S, dkk. The Undecended Testis: Diagnosis,

Treatment and Long-Term Consequences.2013

5. Basuki P. Testis Maldesensus. Dasar - Dasar Urologi. Edisi 2. Jakarta:

Sagung Seto. 2009 h. 137-140

6. Faizi M, Netty EP. Penatalaksanaan Undesensus Testis pada Anak.

dalam : http://old.pediatrik.com/pkb/20060220-g2wryu-pkb.pdf