Anda di halaman 1dari 41

Pengaruh Variasi Elektrolit dan Proses Mordanting Terhadap

Proses Pencelupan Kain Kapas Menggunakan Zat Warna Alam dari


Ekstrak Kayu Secang Caesalpinia sappan

Disusun oleh

Kelompok 1 (2K4)

Rofiqoh Adillah (18020076)

Ryan Aditya H (18020078)

Timothy Nathaniel (18020090)

Zahraa’ Siti Khodijah (18020095)

Dosen : Ika Natalia M.,S.ST.,MT

Asisten Dosen: - Witri A.S.,S.ST

- Anna S

KIMIA TEKSTIL

POLITEKNIK SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL BANDUNG

2020

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Zat warna alam merupakan zat warna yang berasal dari ekstrak tumbuhan, hewan
dan mineral lainnya yang telah digunakan sejak dulu sehingga telah diakui bahwa aman jika
masuk ke dalam tubuh. Sedangkan Zat warna sintetis merupakan zat warna yang berasal
dari zat kimia seperti besi oksida, titanium dioksida, dan sebagainya.

Secang merupakan salah satu tanaman yang biasa dipergunakan sebagai pewarna
alami. Hasil ekstraksi kayu secang menghasilkan ekstrak yang dapat dipergunakan sebagai
indikator pH terhadap asam-basa dan pewarna obat-obatan dengan komponen utama yaitu
brazilin (Fu et al., 2008; Jun et al., 2008).

Pemanfaatan kayu secang dilakukan dengan pengolahan terlebih dahulu menjadi


ekstrak. Standar mutu bahan ekstrak dicapai dengan pengendalian proses ekstraksi
sehingga dapat menjamin produk ekstrak yang terstandar dan diharapkan mampu
menunjukkan kualitas ekstrak salah satunya dalam hal kandungan zat aktif (Hariyati, 2005).
Kandungan zat aktif yang diharapkan dalam ekstrak yaitu mengandung sebagian besar
senyawa yang diinginkan (Anonim, 1995),

Pengambilan zat warna pada kayu secang diperoleh melalui metode ekstraksi yang
merupakan perpindahan massa zat warna dari padatan ke fase cairan (pelarut). Metode
ekstraksi ini biasa disebut ekstraksi padat-cair (leaching) (McCabe, 1993). Ekstraksi zat
warna dari kayu secang dapat dilakukan dengan beberapa metode. Metode konvensional
yang biasa dilakukan untuk ekstraksi antara lain metode maserasi, sokletasi, dan metode
refluks. Metode konvensional ini memiliki kelemahan yaitu membutuhkan pelarut dalam
jumlah besar, waktu ekstraksi lama, dan hasil ekstrak yang kurang optimal..

1.2 Tujuan Penelitian


 Mengetahui cara membuat zat warna pigmen yang berbahan dasar ekstrak kayu
secang (Caesalpinia sappan L.)
 Mengetahui proses pencelupan kain kapas dengan zat warna pigmen secang
 Mengetahui pengaruh variasi elektrolit pada proses pencelupan kain kapas dengan zat
warna secang
 Mengetahui cara mengevaluasi kain yang sudah dicelup dengan zat warna alam
1.3 Kerangka Pemikiran/Hipotesis
 Zat warna pigmen berasal dari kayu secang (Caesalpinia sappan L.). Zat warna
tersebut didapat dari pengekstraksian kayu secang dengan cara merendam kayu
secang dengan media air. Pencelupan dilakukan pada kain kapas dengan
menambahkan elektrolit dan akan menghasilkan kain yang berwarna merah.
 Proses pencelupan kain kapas dengan menggunakan zat warna secang tidak akan
begitu baik.Karena, zat warna secang memiliki gugus katekol, dimana zat warna secang
akan membentuk ikatan hydrogen dengan selulosa.
 Elektrolit akan menentukan kerataan dan kutuaan pada kain, karena elektrolit berfungsi
untuk mendekatkan zat warna dengan serat.Untuk meningkatkan ketahanan luntur
digunakan teknik mordanting yang dimana zat mordan berfungsi untuk membentuk
jembatan kimia antara zat warna dengan serat, sehingga afinitas zat warna meningkat
terhadap serat.
BAB II

TINJAU PUSTAKA

2.1 Dasar Teori

2.1.1 Serat

Serat merupakan suatu material yang perbandingan antara panjang dan lebarnya
sangat besar dan molekul-molekul yang menyusunnya terorientasi terutama ke arah
panjang. Syarat tersebut perlu dimiliki oleh serat karena untuk mendapatkan sifat yang
fleksibel serta memiliki memeluntir sehingga mempermudah saat prosespemintalan
berlangsung.

Serat pada umumnya dapat dibedakan atau diklasifikasikan menjadi dua bagian
yaitu serat alam dan serat buatan (secara kimiawi).

A. Serat Alam

Berasal dari alam atau sudah tersedia dialam sudah berbentuk serat. Serat alam
dibagi menjadi tiga yaitu serat selulosa, proein dan mineral.

1) Serat Selulosa, umumnya bersal dari tanaman yakni batang, daun dan biji. Contohnya
serat kapas, rami, jute, flex, abaca dan lain sebagainya.
2) Serat Protein, umunya bersal dari hewan. Contohnya rambut bulu (diperoleh dari biri-biri
dan domba) dan kelenjar ludah (diperoleh dari ulat sutera).
3) Serat mineral, umunya terbuat dari asbestos. Asbestos merupakan satu-satunya
mineral yang secara alami terdapat dalam bentuk serat panjang.

B. Serat buatan

Serat buatan merupakan serat yang dibuat melalui proses pengolahan terlebih
dahulu karena belum tersedia dialam dalam bentuk serat. Contoh dari serat buaran adalah
serat poliester, poliakrilat, poliamida dan lain sebagainya.

2.1.2 Serat Kapas

Serat kapas merupakan serat alam yang termasuk kelompok selulosa.Selulosa


adalah molekul yang terdiri dari karbon, hidrogen, dan oksigen, dan ditemukan dalam
struktur selular hampir semua materi tanaman. Selulosa adalah polimer alam yang berupa
rantai panjang molekul gula yang dihubungkan satu sama lain dengan cara yang persis
sama. Rantai molekul polimer selulosa dapat dilihat pada Gambar 1.

H OH CH 2 OH H OH CH 2 OH
HO H H O H O
OH H O OH H OH
H H H

H H H O H
O OH H OH
H H H
O O
CH 2 OH H OH CH 2 OH H OH

Gambar 1 (Rantai Molekul Polimer Selulosa)


Komposisi Serat kapas:
Serat Kapas
Komponen Kadar %
Protein 1,2
Pectin 1,3
Lilin 0,6
Abu 1,2
Pigmen 1,7
Selulosa 94

2.1.2.1Sifat kapas Serat:


1. Menurut struktur fisik:
a) Kehalusan serat kapas
Kehalusan berhubungan dengan tingkat kematangan (kedewasaan) serat. Semakin
panjangi serat, maka semakin halus serat dalam kasus serat kapas, yang dinyatakan dalam
nilai desiteks dan bervariasi dari 1,1 sampai 2.3 desiteks.

- India = 2.2-2.3 dtex


- Amerika = 2,1-2,2 dtex
- Mesir = 1,2-1,8 dtex
- Sea Island = 1,0-1,1 dtex
b) Kekuatan
Kekuatan serat kapas terutama dipengaruh oleh kadar selulosa dalam serat, panjang
rantai dan orientasinya. Kekuatan serat kapas per bundel rata-rata adalah 96.700 pound per
inci2 dengan minimum 70.000 dan maksimum 116.000 pound per inci 2. Kekuatan serat
bukan kapas pada umumnya menurut pada keadaan basah, tetapi sebaliknya kekuatan
serat kapas dalam keadaan basah makin tinggi.
c) Kekuatan mulur
Mulur saat putus serat kapas termasuk tinggi diantaranya serat-serat selulosa alam,
kira-kira dua kali mulur rami.Diantara serat-serat alam hanya sutera dan wol yang
mempunyai mulur lebih tinggi dari kapas. Mulur serat kapas berkisar antara 4 – 13 %
bergantung pada jenisnya dengan mulur rata-rata 7 %.

d) Keliatan (toughnese)
Keliatan adalah ukuran yang menunjukkan kemampuan suatu benda untuk
menerima kerja, dan merupakan sifat yang penitng untuk serat-serat selulosa alam, keliatan
serat kapas relatif tinggi tetapi dibanding dengan serat-serat selulosa yang diregenerasi,
sutera dan wol keliatannya rendah tinggi.  
e) Kekakuan (stiffness)
Kekakuan dapat didefinisikan sebagai daya tahan terdapat perubahan bentuk, dan
untuk tekstil biasanya dinyatakan sebagai perbandingan antara kekuataan saat putus
dengan mulur seat putus. Kekuatan dipengaruhi oleh berat molekul, kekuatan rantai
selulosa, derajat kristalinitas dan terutama derajat orientasi rantai selulosa.

f) Elastisitas
Pemulihan dari deformasi serat kapas, benang atau kain dari beban yang diterapkan
sangat rendah. Dengan menerapkan panas pemulihan tidak dapat dicapai. Pemulihan ini
dapat dicapai dengan cara: pertama;.Chemical treatment untuk meningkatkan crease
recovery, tapi masalahnya adalah bahan menjadi lebih keras karena penggunaan bahan
kimia. Kedua;.blending atau pencampuran kapas dengan serat elastis, misalnya poliester,
rasio campuran tergantung pada penggunaan akhir kain.
g) Dimensi Serat
Dimensi serat kapas yang terpenting adalah panjangnya, perbandingan panjang
dengan lebar serat kapas pada umuknya bervariasi pada 5000 : 1 sampai 1000 : 1.Kapas
yang lebih panjang cenderung mempunyai diameter lebih halus, lebih lembut dan
mempunyai konvolusi yang lebih banyak.

h) Kedewasaan Serat
Kedewasaan serat kapas dapat dilihat dari tebal tipisnya dinding sel. Sel makin
dewasa, dinding sel makin tebal.

i) Warna
Warna kapas tidak betul-betul putih, biasanya sedikit cream.
j) Moisture regain
Serat kapas mempunyai afinitas yang besar terhadap air, dan air mempunyai
pengaruh yang nyata pada sifat-sifat serat. Serat kapas yang sangat kering bersifat kasar,
rapuh dan kekuatannya rendah. Moisture regain serat bervariasi dengan perubahan
kelembaban relatif atmosfir sekelilingnya. Moisture  regain serat kapas pada kondisi standar
berkisar antara 7 – 8,5 %.

k) Berat jenis dan indeks bias


Berat jenis serat kapas 1,50 sampai 1,56. Indeks bias serat kapas sejajar sumbu
serat 1,58 indeks bias melintang sumbu serat 1,53

2. Sifat Kimia Serat Kapas


Sifat Kimia Serat Kapas, yaitu:

a) Selulosa terhidrolisis dalam asam kuat.


b) Oksiselulosa dapat disebabkan oleh oksidator, reduktor, dan alkali.

Alkali kuat pada suhu rendah akan menggelembungkan serat kapas seperti yang
terjadi pada proses merserisasi, sedangkan pada suhu didih air dan dengan adanya oksigen
dalam udara akan menyebabkan terjadinya oksiselulosa.

2.1.2.2 Morfologi Serat Kapas

a) Memanjang : bentuknya pipih seperti pita yang terpuntir. Bentuk memanjang kapas
dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
 Dasar
Berbentuk kerucut pendek selama pertumbuhan tetap tertanam diantara sel-sel
epidermis.
 Badan
3 15
Kira-kira sampai panjang serat.
4 16
 Ujung
1
Ujungnya lurus dan mulai mengecil, umumnya kurang dari bagian panjang serat.
4

b) Melintang : penampang serat bervariasi ada yang pipih dan ada yang bulat, tetapi pada
umumnya berbentuk seperti ginjal. Penampang melintang pada serat kapas dewasa
terbagi enjadi 6 (enam) bagian, yaitu :
 Kutikula
Merupakan lapisan terluar yamg mengandung lilin, pektin dan protein.
 Dinding primer
Merupakan dinding sel tipis yang asli.
 Lapisan antara
Merupakan lapisan pertama dari dinding sekunder dan strukturnya sedikit berbeda
dengan dinding sekunder maupun dinding primer.
 Dinding sekunder
Merupakan lapisan lapisan selulosa.
 Dinding lumen
Lebih tahan terhadap pereaksi-pereaksi tertentu.
 Lumen

Membujur Melintang

Gambar 2.1.2

Gambar penampang serat

2.1.3 Zat Warna

zat warna ialah senyawa organik berwarna yang digunakan untuk memberi warna
kesuatu objek atau suatu kain. Terdapat banyak sekali senyawa organik berwarna; namun
hanya beberapa yang sesuai untuk zat warna. Agar dapat digunakan sebagai pewarna,
senyawa itu harus tahan luntur (tetap pada kain selama pencucian).

Empat sifat dasar yang harus dimiliki oleh zat warna agar dapat dipakai sebagai pewarna
bahan tekstil,yaitu :

1. Mempunyai intensitas warna yang kuat.


2. Mempunyai kemampuan untuk dapat diserap bahan (substantifitasnya baik) dan
dapat berikatan dengan serat.
3. Mempinyai ketahanan luntur yang baik.
4. Sebaiknya dapat larut pada media air, atau bila zat warnanya termasuk pada
golongan zat warna yang tidak larut maka harus dapat didespersikan atau ketika
akan dipakai (dalam proses pencelupan atau pencapan) dapat larut atau larut
sebagian.

Untuk medapatkan sifat-sifat tersebut dapat diatur sedemikian rupa dengan cara
merekayasa struktur molekulnya dan mengatur kondisi proses pemakaian. Manun demikian
sifat-sifat khas suatu zatwarnamaupun sifat dalam pemakaiannya seperti corak dan
kecerahan warna, kelarutan, kemampuan berakgregasi, substantifitas, ketahanan luntur dan
kestabilannyapada kondisi proses tertentu sangat tergantung pada struktur zat warna.\

Ditinjau dari sumber diperolehnya zat warna tekstil dibedakan menjadi dua yaitu :

1. Zat pewarna alam, diperoleh dari alam yaitu berasal dari hewan ataupun tumbuhan
dapat berasal dari akar, batang, daun,biji, kulit dan bunga.
2. Zat pewarna sintetis adalah zat warna buatan.

Menurut R.H.MJ. Lemmens dan N Wulijarni-Soetjipto dalam bukunya Sumber Daya


Nabati Asia Tenggara No.3 (tumbuh-tumbuhan penghasil pewarna dan tanin, 1999),
sebagian besar warna dapat diperoleh dari produk tumbuhan, didalam tumbuhan terdapat
pigmen tumbuhan penimbul warna yang berbeda tergantung struktur kimianya. Pada
umumnya golongan pigmen tumbuhan adalah Klorofil, karitenoid, flovonoid dan kuinon.
Pewarna nabati yang digunakan untuk mewarnai tekstil dapat dikelompokan menjaid 4 tipe
menurut sifatnya, yaitu:

1. Pewarna langsung dari ikatan hydrogen dengan kelompok hidroksil dari serat;
pewarna ini mudah luntur, contohnya (Kurkumin).
2. Pewarna asam dan basa.
3. Pewarna lemak yang ditimbulkan kembali pada serat melalui proses redoks.
4. Pewarna mordan.

2.1.4 Secang

Secang atau Caesalpinia sappan merupakan tanaman semak atau pohon rendah
dengan ketinggian 5-10 m. tanaman ini termasuk famili leguminoceae dan diketahui tersebar
di wilayah Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika. Di Indonesia, tanaman ini banyak tumbuh di
Jawa, ada ketinggian 1-1700 dpl.

Di dunia secang dikenal dengan berbagai sebutan. Dalam bahasa Burma dengan
nama „teing-nyet‟, di Inggris dengan nama Indian Brazil Wood, dan di Indonesia yaitu soga
jawa, secang, kayu sekang maupun kayu secang. Nama dagang untuk tanaman ini yaitu
„sappanlignum, brazilin, atau sappanwood’ (Seafast, 2012).

Bagian tumbuhan secang seperti batang, kulit batang, polong dan akar dapat
digunakan sebagai pewarna. Warna merah cerah dan ungu muda bisa didapatkan dari
batang, kulit batang, dan polong secang. Akar secang sendiri dapat menghasilkan warna
kuning. Warna-warna yang dihasilkan oleh tanaman secang berasal dari senyawa yang
berwarna brazilin (C16H 14O5) (Seafast, 2012).

Gambar 2.1.4 Tanaman Secang dan Kayu Secang

2.1.4.1 Klasifikasi PohonSecang

 Divisi : Spermatophyta
 Sub Divisi : Angiospermae
 Kelas : Dicolyledonae
 Bangsa : Resales
 Suku : Caesalpiniaceae
 Marga : Caesalpinia
 Jenis :Caesalpinia sappanL.

2.1.4.2 Deskripsi Umum Secang

a) Morfologi

Secang (Caesalpinia sappan L.) adalah tumbuhan yang sejak lama tumbuh liar dan
biasanya digunakan masyarakat untuk tanaman pagar pembatas dan merupakan perdu
yang umumnya tumbuh di tempat terbuka sampai ketinggian 1000 m di atas permukaan laut
seperti di daerah pegunungan yang berbatu tetapi tidak terlalu dingin. Tingginya 5 – 10 m.
Batangnya berkayu, bulat dan berwarna hijau kecokelatan. Pada batang dan
percabangannya terdapat duri-duri tempel yang bentuknya bengkok dan
letaknyatersebar.Daun secang merupakan daun majemuk menyirip ganda, jumlah anak
daunnya 10 - 20 pasang yang letaknya berhadapan. Anak daun tidak bertangkai berbentuk
lonjong, pangkal rompang, ujung bulat, tepi daun rata dan hampir sejajar. Bunga secang
adalah bunga majemuk berbentuk malai, mahkota bunga berbentuk tabung berwarna
kuning. Akar secang adalah akar tunggang berwarna coklat kotor. Panenan kayu dapat
dilakukan mulai umur 1-2 tahun.

b) Manfaat
Manfaat kayu secang yaitu pewarna pada bahan anyaman, kue, minuman
atau sebagai tinta dikarenakan kayu secang jika direbus akan memberikan warna
merah gading muda. Selain manfaat tersebut, kayu secang bermanfaat juga untuk
obat berbagai macam penyakit seperti memperlancar peredaran darah, obat diare,
obat TBC, antiseptik, antiinflamasi dan penawar racun (Zerrudo, 1999).

c) Brazilin
Warna merah yang terdapat pada kayu secang berasal dari senyawa brazilin.
Brazilin(C16H14O5) merupakan senyawa antioksidan yang mempunyai katekol dalam
struktur kimianya, brazilin memiliki efek sebagai anti radikal kimia. Brazilin diketahui
memiliki banyak kegunaan, diantaranyaantipoliferasi, agregasi, antiplatelet,
antioksidan, anti diabetes, memperlancar sirkulasi darah, antiinflamasi, brazilin
diketahui memiliki aktivitas antikanker.

Brazilin adalah sumber warna merah yang ada pada kayu secang. Asam tidak
berpengaruh terhadap larutan brazilin, tetapi alkali dapat membuatnya bertambah
merah. Eter dan alkohol menimbulkan warna kuning pucat terhadap larutan brazilin.
Brazilin akan cepat membentuk warna merah merah jika terkena sinar matahari.
Terjadinya warna merah disebabkan oleh terbentuknya brazilein. Brazilin jika
teroksidasi akan menghasilkan senyawa brazilein yang berwarna merah kecokelatan
dan dapat larut dalam air. Brazilin termasuk senyawaflavonoid yang secara struktur
termasuk kelompok isoflavonoid (Robinson, 1995).
Pigmen brazilein seperti halnya brazilin, memiliki warna berbeda-beda
tergantung tingkat keasaman lingkungannya. warna merah tajam dan cerah didapat
pada kondisi pH netral (pH 6-7). Warna ini akan bergeser ke arah merah keunguan
dengan semakin meningkatnya pH. Sebaliknya, pada pH rendah (pH 2-5) brazilein
memiliki warna kuning.
1. Sifat fisik brazilin:
 Bentuk kristal berwarna kuningsulfur.
 Dalam larutan asam brazilin akan tampak kuning, namun dalam persiapan basa
akan muncul warnamerah.
 Berat molekul : 286,3 gram/mol.
 Brazilin dalam kayu secang mempunyai aktifitas sebagai antibakteri dan
bakteriostatik (Sundari dkk,1998)
 Brazilin memberikan serapan spektrofotometer UV pada panjang gelombang 254
dan 280 nm (Kim et al, 1997 dalam Adawiyah,2012).

Brazilin memberikan serapan spektrofotometer visible pada panjang gelombang 541 nm


(Wetwitayaklung, 2005).

2. Sifat kimia Brazilin:


 Mempunyai senyawa antioksidan yang mempunyai gugus katekol dalam
sutrukturkimianya.
 Dapat teroksidasi menjadi senyawabrazilein.

Pengambilan zat warna brazilin pada kayu secang diperoleh melalui metode
ekstraksi yang merupakan perpindahan massa zat warna dari padatan (kayu secang)
ke fase cairan (pelarut). Metode ekstraksi ini biasa disebut ekstraksi padat-cair
(leaching) (Mc Cabe, 1993).
Metoda pembuatan zat warna dari kayu secang yaitu diawali dengan proses
ekstraksi. Ekstraksi adalah jenis pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu
padatan atau cairan dengan bantuan pelarut (Sudjadi, 1988). Ekstraksi terdiri dari
dua jenis, yaitu ekstraksi secara dingin dan secara panas. Jenis ekstraksi dingin,
yaitu maserasi, soxletasi, dan perlokasi. Untuk ekstraksi panas, yaitu metoda refluks
dan metoda destilasi uap (Sudjadi, 1988).
Zat warna yang didapatkan akan diaplikasikan pada proses pencelupan dengan
media pencelupan berupa kain kapas 100%. Zat warna secang merupakan zat warna yang
dapat larut dalam air sedangkan serat kapas merupakan serat yang bersifat hidrofil,
sehingga serat kapas dapat dicelup oleh zat warna secang. Ikatan yang terjadi antara serat
kapas dan zat warna secang adalah ikatan hidrogen (Mozumber,2012). .Pada zat warna
secang terdapat gugus katekol yakni sebagai gugus auksokrom (penghubung) yang dapat
berikatan dengan gugus hidroksil pada selulosa (sel -OH) sehingga membentuk ikatan
hidrogen antara serat kapas dengan zat warna secang.

2.1.5 Pencelupan

Pencelupan adalah pemberian warna pada bahan secara merata dan permanen.
Metode pemberian warna dilakukan dengan berbagai cara, tergantung dari jenis zat warna
dan serat yang akan diwarnai. Proses pewarnaan secara pencelupan dianggap sempurna
apabila sudah tercapai kondisi kesetimbangan, yaitu zat warna yang terserap ke dalam
bahan mencapai titik maksimum.

2.1.6 Tahap-tahap pencelupan


1. Migrasi
Pada tahap ini, zat warna dilarutkan dan diusahakan agar larutan zat warna
bergerak menempel pada bahan. Zat warna dalam larutan mempunyai muatan listrik
sehingga dapat bergerak kian kemari. Gerakan tersebut menimbulkan tekanan osmosis
yang berusaha untuk mencapai keseimbangan konsentrasi, sehingga terjadi difusi dari
bagian larutan dengan konsentrasi tinggi menuju konsentrasi rendah. Bagian dengan
konsentrasi rendah terletak di permukaan serat, yaitu pada kapiler serat. Jadi zat warna
akan bergerak mendekati permukaan serat.
2. Adsorpsi
Peristiwa difusi yang dijelaskan di atas menyebabkan zat warna berkumpul pada
permukaan serat. Daya adsorpsi akan terpusat pada permukaan serat, sehingga zat
warna akan terserap menempel pada bahan.
3. Difusi
Peristiwa ini terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi zat warna di
permukaan serat dengan konsentrasi zat warna di dalam serat. Karena konsentrasi di
permukaan lebih tinggi, maka zat warna akan terserap masuk ke dalam serat.

4. Fiksasi
Fiksasi terjadi karena adanya ikatan antara molekul zat warna dengan
serat, yaitu ikatan antara gugus auksokrom dengan serat.

2.2.2 Gaya-gaya pengikatan pada pencelupan


1. Ikatan hidrogen
Ikatan hidrogen merupakan ikatan sekunder yang terjadi karena atom hydrogen pada
gugus hidroksi/amino mengadakan ikatan lemah dengan atom-atom lainnya.

2. Ikatan elektrovalen
Ikatan elektrovalen adalah ikatan antara zat warna dengan serat yang timbul karena
adanya gaya tarik-menarik antara muatan yang berlawanan. Misalnya ikatan antara serat
dengan gugus anion pada molekul zat warna.
3. Ikatan Van der Waals
Ikatan Van der Waals terjadi apabila antara zat warna dengan serat mempunyai
gugus hidrokarbon yang sesuai sehingga saat pencelupan zat warna cenderung lepas dari
air dan bergabung dengan serat.
4. Ikatan kovalen
Ikatan kovalen terjadi pada pencelupan serat dengan zat warna reaktif, sifatnya
paling kuat dibanding ikatan yang lain
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan Ekstraksi


 Irisan kulit kayu secang
 Air
 Kompor
 Panci

3.2 Alat dan Bahan Pencelupan


- Kain kapas - Batang pengaduk
- Ekstrak secang - Kompor
- Gelas piala 100 ml - NaCl
- Gelas ukur 100 ml - Air
- Pipet
- Zat mordan (tawas dan cationic fixing agent)

3.3 Alat dan Bahan Evaluasi


 Spektrofotometer CM 3200d
 Kotak kalibrasi nol
 Pelat kalibrasi putih
 Kain kapas berwarna hasil pencelupan
 Kain kapas putih (blanko)

3.4 Resep

3.4.1 Ekstraksi Secang

Secang : 500 gram

Waktu : 2 jam

Vlot : 1 : 10
3.4.2 Pencelupan Kain Kapas

Zat warna alam secang : x % owf ( larutan ekstrak )

g
NaCl : 0 ; 5 ; 10 ; 15; 20
l

Suhu : 80°C

Waktu : 30 menit

Vlot : 1 : 20

3.4.3 Mordanting

g
Zat mordan :2 ( Tawas, cationic fixing agent, non mordanting )
l

Suhu : Kamar

Waktu : 10 menit
3.5 Diagram Alir

Penimbangan dan
pengirisan kulit kayu
Ekstraksi Zat Warna secang

Pemasakan kulit kayu


secang sesuai vlot

Pemisahan larutan
ekstrak kulit kayu
secang dengan kulit
kayu secang

Persiapan larutan dan


Proses Pencelupan
mesin pencelupan

Proses pencelupan

Proses pencucian
panas dan dingin

Proses mordanting

Evaluasi Tingkat ketuaan


warna (k/s)

Tahan luntur warna


terhadap pencucian

Tahan luntur warna


terhadap
penggosokan
3.6 Skema Proses

3.6.1 Ekstraksi Secang

-Pengekstrakan 1

Suhu(°C)
Secang

Air
100°C
100°C

30°C 30°C

60 menit
10 50
60
t (menit)

-Pengekstrakan 2

Suhu(°C)
Secang

Air
100°C
100°C

30°C 30°C

60 menit
10
50 60 t (menit)
3.6.2 Pencelupan Kain Kapas

Suhu(°C) Kain

Zat warna
80°C
NaCl

40°C 40°C

30 menit

10 40 70 90
0 t (menit)

3.7 Prosedur Kerja

3.7.1 Prosedur Ekstraksi Zat Warna Secang.

 Pengirisan kulit kayu secang sebanyak 500 gram.


 Pemasakan kulit kayu secang menggunakan air 5 liter.
 Pendinginan larutan kulit kayu secang yang telah dimasak.
 Penyaringan larutan ekstrak kayu secang.

3.7.2 Prosedur Pencelupan dan Proses Mordanting (post mordanting)

 Siapkan larutan zat warna alam hasil proses ekstraksi dalam tempat pencelupan.
 Dimasukkan kain kedalam larutan zat warna alam ekstrak secang sesuai resep, selama
30 menit proses pencelupan.
 Setelahselesaibahandicuci, disabun, dibilas, dan dikeringkan.
 Dimasukkan masing-masing kain yang telah kering setelah proses pencelupan kedalam
larutan mordan selama 10 menit.
 Bahan ditiriskan dan dikeringkan.
3.8 Evaluasi

3.8.1 Pengujian Tingkat Ketuaan Warna (K/S)

Pengujian tingkat ketuaan warna mengacu pada modul pratikum pengukuran warna
(Nuramdhani, 2013).

3.8.1.1 Tujuan

Pengujian ketuaan warna dilakukan untuk mengetahui besarnya zat warna yang
terserap oleh bahan dinyatakan dalam K/S hasil konversi nilai reflektansi setelah bahan
dikeringkan.

3.8.1.2 Prinsip Pengujian

Cahaya yang mengenai permukaan bahan akan diserap, dipantulkan ke segala arah
dan dihamburkan oleh bahan tersebut. Besarnya cahaya yang dipantulkan ke segala arah
oleh permukaan bahan tersebut, intensitas cahayanya telah berkurang dibandingkan cahaya
asalnya. Besarnya cahaya yang dipantulkan inilah yang diukur dalam pengujian ketuaan
warna sebagai nilai reflektansi (%R).

Pengukuran warna %R ini menggunakan alat pengukur warna (Spektrofotometer CM


3600 d) dari panjang gelombang 400-700 dm dengan selang harga dari panjang gelombang
20 nm, sehingga dapat ditentukan panjang gelombang dengan nilai %R terendah dan nilai
reflektansinya dikonversikan menjadi ketuaan warna (K/S) berdasarkan persamaan
Kubelka-Munk, yaitu :

K/S =
(1−R)2
2R
Keterangan : R = reflektansi
K = koefesien penyerapan cahaya
S = koefesien penghamburan cahaya

Setelah diketahui K/S bahan tercelup, maka nilai K/S zat warna dapat diketahui berdasarkan
perhitungan berikut :

K/S zat warna = K/S bahan tercelup – K/S bahan putih (sebelum dicelup)
3.8.1.3 Alat dan Bahan

1. Alat yang digunakan


- Spektrofotometer merek Minolta Type CM-3600 d
- Komputer

2. Bahan yang digunakan


- Kain contoh uji
- Kain putih (blanko)

3.8.1.4 Prosedur Pengujian

Prosedur pengujian dilakukan berdasarkan petunjuk manual Spektrofotometer CM-3600 d


sebagai berikut :

1. Spektrofotometer CM-3600 d kemudian dihubungkan pada komputer.


2. Adaptor untuk komputer dan Spektrofotometer CM-3600 d dihubungkan dengan stop
kontak.
3. Komputer dinyalakan
4. Buka progam spectra magic, lalu aktifkan.
5. Lakukan pengkalibrasian Spektrofotometer CM-3600 d sebelum proses pengujian
dengan cara menarik tungkai penahan kain, kemudian masukan kotak kalibrasi nol CM-
A 104. Klik instrument pada menu bar, pilih menu kalibrasi kemudian klik “OK” pada
kotak dialog.
6. Setelah proses kalibrasi pasangkan kain putih sebagai standar kemudian setelah itu
dilanjutkan dengan sampel ujinya.
7. Penyerapan zat warna pada bahan diukur pada panjang gelombang maksimum, yaitu
pada panjang gelombang dengan nilai reflektansi terkecil atau jika dikonversikan
kepada nilai K/S, maka panjang gelombang maksimum ada pada nilai K/S terbesar.

3.8.1.5 Evaluasi

Nilai K/S bertambah tinggi berarti penyerapan zat warna oleh bahan lebih besar atau
warnanya lebih tua dan sebaliknya apabila nilai K/S makin rendah berarti penyerapan zat
warna lebih sedikit sehingga warnanya lebih muda.

3.8.2 Pengujian Tahan Luntur Warna Terhadap Gosokan

Pengujian tahan luntur warna terhadap gosokan mengacu pada SNI ISO-X12:2012.
3.8.2.1 Tujuan

Pengujian ketahanan luntur warna terhadap gosokan dilakukan untuk mengetahui


tahan luntur warna dari kain hasil gosokan secara berulang – ulang dalam keadaan kering
maupun basah berdasarkan standar SNI ISO-X12:2012.

3.8.2.2 Prinsip Pengujian

Prinsip pengujian tahan luntur warna terhadap gosokan yaitu kain contoh uji yang
berwarna dipasang pada crockmeter, digosok dengan kain kapas putih kering yang
dipasang pada jari penggosok dengan kondisi tertentu. Penggosokan diulangi dengan
menggunakan kain kapas putih. Penodaan warna pada kain kapas putih dinilai dengan skala
penodaan (staining scale)dan skala abu – abu (grey scale).

3.8.2.3 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan untuk pengujian tahan luntur warna terhadap gosokan
adalah :

1. Alat
- Crockmeter, memiliki jari dengan diameter 1,5 cm yang bergerak satu kali maju mundur
sejauh 10 cm setiap kali berputar dengan gaya tekanan kain pada kain 900 gram.
- Standar skala penodaan (staining scale) dan skala abu – abu (grey scale).

2. Bahan
- kain contoh uji berukuran 20 cm x 5 cm.
- kain kapas putih berukuran 20 cm x 5 cm.
- air suling.

3.8.2.4 Prosedur Pengujian

Prosedur pengujian ketahanan luntur warna terhadap pencucian adalah sebagai berikut :

1. Contoh uji dipotong dengan ukuran 20 cm x 5 cm sebanyak masing – masing 2 buah


untuk pengujian kering dan dua buah untuk pengujian basah. Untuk pengujian gosok
basah kain kapas direndam dalam air suling yang kemudian dilakukan penggosokan
pada kain.
2. Contoh uji diletakan pada dasar crockmeter dengan sisi panjang searah dengan
gosokan.
3. Jari crockmeter untuk menggosok dibungkus dengan kain kapas putih dan dijepit
mengunakan kawat. Untuk gosok basah, kain kapas dibasahi terlebih dahulu
menggunakan air suling.
4. Contoh uji digosok dengan arah maju mundur sebanyak 10 kali.
5. Kain putih dilepas dari jari crockmeter dan dilakukan evaluasi dengan skala penodaan.

3.8.2.5 Evaluasi

Contoh uji yang elah dilakukan pengujian tahan luntur warna terhadap gosokan
kemudian dilakukan evaluasi dengan membandingkan penodaan warna pada kain putih
terhadap staining scale. Penilain staining scaledan gray scaleberawal dari 5 sampai 1
dimana nilai 5 merupakan nilai paling baik (tidak terjadi noda) sedangkan pada nilai 1
merupakan nilai yang paling jelek. Apabila nilai penodaan terletak diantara kedua tingkat
dalam skala penodaan maka diberi nilai antara, misalnya 2, 2-3, 3, 3-4, 4, 4-5, 5. Dalam
membandingkan penodaan warna, kain pengujian diberi alat tiga lapis kain putih yang sama.

Evaluasi menggunakan standar skala penodaan (staining scale) dan skala abu – abu
(grey scale) adalah sebagai berikut :

- Nilai 5 menunjukan tidak adanya perubahan penodaan, seperti yang ditunjukan oleh
tingkat ke-5 dalam staining scaledan grey scale.
- Nilai 4 menunjukan adanya perubahan penodaan, seperti yang ditunjukan oleh tingkat
ke-4 dalam staining scaledan grey scale.
- Nilai 3 menunjukan adanya perubahan penodaan, seperti yang ditunjukan oleh tingkat
ke-3 dalam staining scaledan grey scale.
- Nilai 2 menunjukan adanya perubahan penodaan, seperti yang ditunjukan oleh tingkat
ke-2 dalam staining scaledan grey scale.
- Nilai 1 menunjukan adanya perubahan penodaan, seperti yang ditunjukan oleh tingkat
ke-1 dalam staining scaledan grey scale.

Apabila derajat penodaan terletak diantara kedua tingkat dalam skala penodaan maka diberi
nilia antara, misalnya 1-2,2-3,3-4, atau 4-5.
3.8.3 Pengujian Tahan Luntur Warna Terhadap Pencucian Rumah Tangga dan
Komersil

Pengujian tahan luntur warna terhadap pencucian mengacu pada SNI ISO 105-
C06:2010.

3.8.3.1 Tujuan

Pengujian ketahanan luntur warna terhadap pencucian dilakukan untuk mengetahui


tahan luntur warna dari kain hasil pencelupan dengan menilai penodaanya terhadap kain
pelapis.

3.8.3.2 Prinsip Pengujian

Prinsip pengujian ketahanan luntur warna terhadap pencucian yaitu contoh uji dilapisi
dengan kain multifibers dan kain pelapis tertentu sesuai dengan jenis serat, lalu dicuci,
dibilas dan dikeringkan. Contoh uji dicuci dalam kondisi suhu tertentu. Penodaan pada kain
pelapis dinilai dengan membandingkannya terhadap skala penodaan (staining scale) dan
skala abu – abu (gray scale).

3.8.3.3 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan untuk pengujian tahan luntur warna terhadap pencucian
adalah :

1. Alat
- Mesin Launder-O-meter delengkapi penangas air dengan thermostat (ketelitian ± 2°C),
tabung baja tahan karat, frekuensi putaran tabung 40 ± 2 putaran per menit.
- Kelereng baja tahan karat dengan diameter ± 6 mm.
- Neraca analitik.

2. Bahan
- Kain pelapis multifibers.
- Kain contoh uji dengan ukuran 10 cm x 4 cm.
- Larutan sabun.
- Air suling.
- Standar skala penodaan.
3.8.3.4 Prosedur Pengujian

Prosedur pengujian terhadap ketahanan luntur warna terhadap pencucian adalah sebagai
berikut :

1. Contoh uji dipotong dengan ukuran 10 cm x 4 cm.


2. Contoh uji tersebut dilapisi kain pelapis multifibers dan kain contoh uji blanko kemudian
dijahit agar tidak lepas.
3. Larutan pencuci disiapkan dengan cara melarutan 4 gram sabun netralke dalam air
suling sebanyak 1000 mL, larutan sabun tersebut dimasukan ke dalam tabung tahan
karat kemudian dimasukkan contoh uji dan 10 buah kelereng baja dimasukan kemudian
tutup tabung dengan rapat. Suhu larutan diatur sampai 40°C ± 2°C.
4. Tabung tersebut diletakan pada Mesin Launder-O-meter dan mesin dijalankan pada
suhu tersebut selama 45 menit.
5. Mesin dihentikan dan contoh uji diambil kemudian diperas.
6. Contoh uji kemudian dicuci menggunakan air dengan suhu 40°C ± 2°C selama 1 menit,
lalu diperas dan dikeringkan.

3.8.3.5 Evaluasi

Contoh uji yang telah dilakukan pengujian tahan luntur warna terhadap pencucian
kemudian dievaluasi dengan cara membandingkan warna contoh uji dengan warna aslinya
dengan menggunakan standar skala penodaan (staining scale) dan skala abu – abu (grey
scale) dan membandingkan penodaan pada kain contoh uji blanko dan multifiber dengan
kain putih asal dengan menggunakan standar staining scale adalah sebagai berikut :

- Nilai 5 menunjukan tidak adanya perubahan kekontrasan, seperti yang ditunjukan oleh
tingkat ke-5 dalam staining scale dan grey scale.
- Nilai 4 menunjukan adanya perubahan kekontrasan, seperti yang ditunjukan oleh tingkat
ke-4 dalam staining scale dan grey scale.
- Nilai 3 menunjukan adanya perubahan kekontrasan, seperti yang ditunjukan oleh tingkat
ke-3 dalam staining scale dan grey scale.
- Nilai 2 menunjukan adanya perubahan kekontrasan, seperti yang ditunjukan oleh tingkat
ke-2 dalam staining scale dan grey scale.
- Nilai 1 menunjukan adanya perubahan kekontrasan, seperti yang ditunjukan oleh tingkat
ke-1 dalam staining scale dan grey scale.
BAB IV

DATA HASIL PERCOBAAN

4.1 Data Percobaan


4.2
4.1.1 Perhitungan Resep
4.1.1.1 Variasi ke-1 (NaCl - g/l)

- Berat bahan = 22,40 gram


- Vlot = bb x 20
= 22,40x 20
= 448 ml
9 1000
- Zat warna Alam Ekstrak Secang = x 22,40x
100 13,74
= 146,724 ml
- NaCl =0
- Kebutuhan Air = 448 – 146,724
= 301,276 ml

4.1.1.2 Variasi ke-2 (NaCl 5 g/l)

- Berat bahan = 22,10 gram


- Vlot = bb x 20
= 22,10x 20
= 442 ml
9 1000
- Zat warna Alam Ekstrak Secang = x 22,10x
100 13,74
= 144,759 ml
5
- NaCl = x 442
1000
= 2,21 gram
- Kebutuhan Air = 442 – 144,759
= 297,241 ml

4.1.1.3 Variasi ke-3 (NaCl 10 g/l)

- Berat bahan = 23,95 gram


- Vlot = bb x 20
= 23,95x 20
= 479 ml
9 1000
- Zat warna Alam Ekstrak Secang = x 23,95x
100 13,74
= 156, 877 ml
10
- NaCl = x 479
1000
= 4,79 gram
- Kebutuhan Air = 479 – 156, 877
= 322,123 ml
4.1.1.4 Variasi ke-4 (NaCl 15 g/l)

- Berat bahan = 22,35 gram


- Vlot = bb x 20
= 22,35x 20
= 447 ml
9 1000
- Zat warna Alam Ekstrak Secang = x 22,35x
100 13,74
= 146, 397 ml
15
- NaCl = x 447
1000
= 6,71gram
- Kebutuhan Air = 447 – 146, 397
= 300,603 ml
4.1.1.5 Variasi ke-5 (NaCl 20 g/l)

- Berat bahan = 21,94 gram


- Vlot = bb x 20
= 21,94x 20
= 483,8 ml
9 1000
- Zat warna Alam Ekstrak Secang = x 21,94x
100 13,74
= 158, 449ml
20
- NaCl = x 483,8
1000
= 9,676gram
- Kebutuhan Air = 483,8 – 158, 449
= 325,351 ml
4.2 Hasil dan Pembahasan
Untuk mengetahui kandungan zat warna yang terdapat didalam larutan ekstrak
batang secang digunakan alat spektrofotometer. Dibuat larutan induk g/L lalu dicari λ
maksimum, yaitu pada nm. Setelahnya mencari nilai absorbansi dari variasi konsentrasi zat
warna dari konsentrasi 0,4 g/L sampai 0,12 g/L. dengan mengunakan persamaan regresi
didapatkan hasil nilai a = 4,808 dan b= 0,02828. lalu mengukur nilai absorbansi larutan
ekstrak zat warna sebesar 0,05 g/L.Nilai absorbansi larutan ekstrak zat warna adalah
variabel y dari perasaan regresi.Maka, nilai y dari persamaan regresi yakni 0,3582.
Pehitungan konsentrasi larutan eksktrak zat warna dilakukan dengan memasukan nilai y,a
dan b di persamaan regresi sebagai berikut.
y = ax + b
0,3582 = 4,808x + 0,02828
0,3582 – 0,02828 = 4,808x
0,32922 = 4,808x
0,32922
X= = 13.74 g/L
4,808
Dari perhitungan diatas maka didapat bahwa kadar atau konsentrasi larutan ekstrak secang
adalah 13.74 g/L.

4.2.1 Karakteristik Warna


4.2.1.1 Data Hasil Percobaan
Kain Uji K/S Sd L* a* b*
Nonmordan NaCl 0 g/L 0.8226 0.0136 75.64 7.67 5.88
Nonmordan NaCl 5 g/L 0.9052 0.0346 77.58 7.31 4.26
Nonmordan NaCl 10 g/L 1.0879 0.0374 74.12 7.28 4.24
Nonmordan NaCl 15 g/L 1.0897 0.0419 74.55 7.24 3.65
Nonmordan NaCl 20 g/L 1.1746 0.0347 72.40 7.73 3.60
Mordan Tawas NaCl 0 g/L 0.7586 0.4662 66.45 19.68 2.78
Mordan Tawas NaCl 5 g/L 1.0657 0.0748 67.52 18.56 -0.11
Mordan Tawas NaCl 10 g/L 1.3780 0.0699 61.85 20.98 2.61
Mordan Tawas NaCl 15 g/L 1.3331 0.0547 63.68 19.47 1.91
Mordan Tawas NaCl 20 g/L 1.4101 0.0353 61.76 20.26 2.24
Mordan Ferro NaCl 0 g/L 0.9369 0.0272 73.25 7.51 5.66
Mordan Ferro NaCl 5 g/L 1.0166 0.0594 71.99 7.83 2.32
Mordan Ferro NaCl 10 g/L 1.3049 0.0246 68.98 7.52 3.80
Mordan Ferro NaCl 15 g/L 1.3165 0.0380 69.37 6.95 2.92
Mordan Ferro NaCl 20 g/L 1.3165 0.1991 66.60 8.08 3.84
4.2.1.2 Ketuaan Warna
1. Non Mordan
1.2

1.1

1
Nilai K/S

0.9

0.8

0.7
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Konsentrasi NaCl (g/L)

Grafik 4.1 Pengaruh Konsentrasi NaCl Terhadap Nilai K/S Contoh Uji Non Mordan

Berdasarkan praktikum didapatkan hasil bahwa kain contoh uji yang dicelup dengan
larutan ekstrak zat warna dari batang kayu secang memiliki nilai K/S paling tinggi saat
variasi NaCl 20 g/L yaitu 1,1746 dan paling rendah pada variasi NaCl0 g/L yaitu 0,8226.
Artinya warna yang paling tua ada pada variasi NaCl 20 g/L, hal ini disebabkan karena nilai
K/S semakin tinggi maka semakin tinggi pula nilai ketuaan warna. Dan warna yang paling
muda ada saat variasi NaCl0 g/L
Semakin tinggi nilai K/S berarti zat warna yang terserap dalam kain makin banyak dan
semakin rendah nilai K/S berarti zat warna yang terserap dalam kain makin sedikit atau
warnanya lebih muda.Maka dapat disimpulkan untuk non mordan ini zat warna yang paling
banyak terserap kedalam kain adalah variasi NaCl 20 g/L

2. Mordan Tawas
1.5
1.4
1.3
1.2

nilai k/s 1.1


1
0.9
0.8
0.7
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Konsentrasi NaCl (g/L)

Grafik 4.2 Pengaruh Konsentrasi NaCl Terhadap Nilai K/S Contoh Uji Mordan Tawas

Pada hasil praktikum didapatkan hasil bahwa kain contoh uji yang dicelup dengan
ekstrak zat warna dari batang kayu secang dan dimordan dengan tawasmemiliki nilai K/S
paling tinggi saat variasi NaCl 20 g/L yaitu 1,4101 dan paling rendah pada variasi NaCl 0 g/L
yaitu 0,7586. Artinya warna yang paling tua ada pada variasi NaCl20 g/L, hal ini disebabkan
karena nilai K/S semakin tinggi maka semakin tinggi pula nilai ketuaan warna. Dan warna
yang paling muda ada saat variasi NaCl 0 g/L
Semakin tinggi nilai K/S berarti zat warna yang terserap dalam kain makin banyak dan
semakin rendah nilai K/S berarti zat warna yang terserap dalam kain makin sedikit atau
warnanya lebih muda. Maka dapat disimpulkan untuk mordan tawas ini zat warna yang
paling banyak terserap kedalam kain adalah variasi NaCl 20 g/L.

3. Mordan CFA (Cationoc Fixing Agent)


1.4

1.3

Nilai K/S 1.2

1.1

0.9
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Konsentrasi NaCl (g/L)

Grafik 4.3 Pengaruh Konsentrasi NaCl Terhadap Nilai K/S Contoh Ujimordan CFA

Pada hasil praktikum didapatkan hasil bahwa kain contoh uji yang dicelup dengan
ekstrak zat warna dari batang kayu secang dan dimordan dengan mordan CFA memiliki nilai
K/S paling tinggi saat variasi NaCl 15 dan 20 g/L yaitu 1,3165 dan paling rendah pada
variasi NaCl 0 g/L yaitu 0,9369. Artinya warna yang paling tua ada pada variasi NaCl 15
dan 20 g/L, hal ini disebabkan karena nilai K/S semakin tinggi maka semakin tinggi pula nilai
ketuaan warna. Dan warna yang paling muda ada saat variasi NaCl 0 g/L
Semakin tinggi nilai K/S berarti zat warna yang terserap dalam kain makin banyak dan
semakin rendah nilai K/S berarti zat warna yang terserap dalam kain makin sedikit atau
warnanya lebih muda. Maka dapat disimpulkan untuk mordan CFA ini zat warna yang paling
banyak terserap kedalam kain adalah variasi NaCl 15 dan 20 g/L

4.2.1.3 Kerataan Warna


1. Non Mordan
0.05
0.04

Nilai Standar Deviasi 0.04


0.03
0.03
0.02
0.02
0.01
0.01
0
0 5 10 15 20 25
Konsentrasi NaCl g/L

Grafik 4.4 Pengaruh Konsentrasi NaCl Terhadap Nilai Standar Deviasi Contoh Uji Non
Mordan
Nilai kerataan warna didapatkan berdasarkan nilai standar deviasi dari nilai K/S
contoh uji yang nilai standar deviasinya mendekati nol maka warnanya akan rata dan contoh
uji yang menjauhi nol warnanya akan tidak rata. Pada contoh uji yang dicelup dengan
larutan ekstrak zat warna alamdari batang pohon secang kain contoh uji yang paling baik
kerataanya adalah contoh uji yang dicelup dengan penambahan konsentasi NaCl 0 g/ Lyaitu
0,0136. Dan kain contoh uji yang tidak rata yang dicelup dengan penambahan konsentasi
NaCl 15 g/ Lyaitu 0,0419.
Ketidakrataan hasil pencelupan disebabkan oleh ikatan yang terjadi antara serat
dengan zat warna, ikatan yang terjadi antara zat warna dengan serat adalah ikatan fisika
yang tidak begitu kuat sehingga zat warna mudah luntur. kelunturan zat warna dititik satu
dengan titik lainnya tidak sama sehingga warna yang dihasilkan tidak rata.

2. Mordan Tawas
0.5
0.45
0.4
0.35
Nilai Standar Deviasi
0.3
0.25
0.2
0.15
0.1
0.05
0
0 5 10 15 20 25
Konsentrasi NaCl g/L

Grafik 4.5 Pengaruh Konsentrasi NaCl Terhadap Nilai Standar Deviasi Contoh Uji Mordan
Tawas
Nilai kerataan warna didapatkan berdasarkan nilai standar deviasi dari nilai K/S contoh uji
yang nilai standar deviasinya mendekati nol maka warnanya akan rata dan contoh uji yang
menjauhi nol warnanya akan tidak rata. Pada contoh uji yang dicelup dengan larutan ekstrak
zat warna alam dari batang pohon secang kain contoh uji yang paling baik kerataanya
adalah contoh uji yang dicelup dengan penambahan konsentasi NaCl 20 g/ Lyaitu 0,0353.
Dan kain contoh uji yang tidak rata yang dicelup dengan penambahan konsentasi NaCl 0
g/ Lyaitu 0,4662.
Ketidakrataan hasil pencelupan disebabkan oleh ikatan yang terjadi antara serat
dengan zat warna, ikatan yang terjadi antara zat warna dengan serat adalah ikatan fisika
yang tidak begitu kuat sehingga zat warna mudah luntur. kelunturan zat warna dititik satu
dengan titik lainnya tidak sama sehingga warna yang dihasilkan tidak rata.

3. Mordan CFA (Cationoc Fixing Agent)


0.25

0.2

Nilai Standar Deviasi


0.15

0.1

0.05

0
0 5 10 15 20 25
Konsentrasi NaCl g/L

Grafik 4.6 Pengaruh Konsentrasi NaCl Terhadap Nilai Standar Deviasi Contoh Uji Mordan
CFA (Cationoc Fixing Agent)
Nilai kerataan warna didapatkan berdasarkan nilai standar deviasi dari nilai K/S
contoh uji yang nilai standar deviasinya mendekati nol maka warnanya akan rata dan contoh
uji yang menjauhi nol warnanya akan tidak rata. Pada contoh uji yang dicelup dengan
larutan ekstrak zat warna alam dari batang pohon secang kain contoh uji yang paling baik
kerataanya adalah contoh uji yang dicelup dengan penambahan konsentasi NaCl 10 g/ L
yaitu 0,0246. Dan kain contoh uji yang tidak rata yang dicelup dengan penambahan
konsentasi NaCl 20 g/ Lyaitu 0,1991.
Ketidakrataan hasil pencelupan disebabkan oleh ikatan yang terjadi antara serat
dengan zat warna, ikatan yang terjadi antara zat warna dengan serat adalah ikatan fisika
yang tidak begitu kuat sehingga zat warna mudah luntur. kelunturan zat warna dititik satu
dengan titik lainnya tidak sama sehingga warna yang dihasilkan tidak rata.

4.2.1.4 Kecerahan Warna


90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

Grafik 4.7 Pengaruh Konsentrasi NaCl Terhadap Kecerahan Warna

Berdasarkan praktikum didapatkan hasil bahwa contoh uji yang memiliki kecerahan
paling tinggi yaitu contoh uji yang dicelup dengan larutan ekstrak zat warna dengan
penambahan konsentrasi Nacl 5 g/L pada kain tanpa mordan yaitu 77,58. Contoh ujiyang
memiliki kecerahan warna paling tinggi warnanya akan menjauhi warna hitam dan
mendekati warna putih. Dan warna yang kecerahannya paling rendah adalah contoh uji
yang dicelup dengan larutan ekstrak zat warna dan di mordan dengan tawasserta diberikan
penambahan NaCl 20 g/L yaitu 61,69. Contoh uji yang memiliki kecerahan warna paling
rendah adalah contoh uji yang warnnya mendekati warna hitam dan menjauhi warna putih.

4.2.1.5 Arah Warna


Gambar 6.1 Arah Warna
Berdasarkan praktikum didapatkan hasil bahwa contoh uji yang dicelup dengan larutan
ekstrak zat warna dari batang kayu secang memiliki arah warna pada koordinat a+ sekitar
7,24 sampai 7,73 dan pada koordinat b+ sekitar 4,26 sampai 5,88. Hal ini disebabkan adanya
senyawa, yang memberi warna merah.
Pada contoh uji yang dicelup dengan larutan ekstrak zat warna dari batang kayu
secang dan dimordan dengan tawas memiliki arah warna pada koordinat sekitar a+ 18,56
sampai 20,98 dan pada koordinat b- 0,11 sampai b+ 2,78. Hal ini disebabkan adanya logam
Al yang membuat kain berwarna merah keunguan.
Pada contoh uji yang dicelup dengan larutan ekstrak zat warna dari batang kayu
secang dan dimordan dengan CFA memiliki arah warna pada koordinat a+ 6,95 sampai 8,08
dan pada koordinat b+ 2,32 sampai 5,66. Hal ini disebabkan adanya logam Fe yang membuat
kain berwarna merah kejinggaan .

.
4.2.2 Tahan Luntur Warna
4.2.2.1 Cuci
Tabel 4.1 Pengaruh Variasi Suhu Terhadap Tahan Luntur Warna Pada Pencucian
Tahan cuci
Konsentras Kain kapas yang telah
No Grey Staining Scale
i NaCl (g/L) terwarnai Kapas Poliester
Scale
0 1 Non Mordan 4 ¾

2 Tawas 2 4

3 CFA 4 4/5

5 1 Non Mordan 4/5 4/5

2 Tawas 3 4

3 CFA 4/5 4/5

10 1 Non Mordan 4 4/5

2 Tawas 2 4

3 CFA 4/5 4/5

15 1 Non Mordan 4 4/5

2 Tawas 3 4/5

3 CFA 4 4/5

20 1 Non Mordan 4/5 4/5

2 Tawas 2 3

3 CFA 4/5 4/5

Zat warna harus memiliki daya tahan cuci yang baik, agar ketika dicuci berulang-
ulang warnanya tidak memudar atau tidak luntur. Seperti halnya pada kain contoh uji yang
merupakan kain kapas, yang sudah dicelup menggunakan zat warna alami dari kayu
secang, ada juga yang dilakukan mordanting menggunakan mordan tawas dan ferrosulfat
(CFA). Berdasarkan hasil praktikum ketahanan cuci pada kain contoh uji, kain kapas
memiliki ketahanan luntur yang baik, baik kain yang dilakukan mordanting maupun non
mordanting. Pengujian ketahanan cuci dilakukan dengan menggunakan sabun.

4.2.2.2 Gosok
Tabel 4.2 Pengaruh Variasi Konsentrasi NaCl Terhadap Tahan Luntur Warna Pada Gosok
Konsentrasi Tahan gosok
No Kain rayon yang telah terwarnai
NaCl Basah Kering

0 g/ L 1 Non Mordan 4 4

2 Tawas 2 4/5
3 CFA 4 5

1 Non Mordan 4/5 4/5

5 g/ L 2 Tawas 3 5

3 CFA 4/5 4/5

1 Non Mordan 4 4/5

10 g/ L 2 Tawas 2 3/4

3 CFA 4/5 5

1 Non Mordan 4 5

15 g/ L 2 Tawas 3 4

3 CFA 4 4/5

1 Non Mordan 4/5 5

20 g/ L 2 Tawas 2 4/5

3 CFA 4/5 4/5

Adanya suatu gesekan pada kain akan menyebabkan warna menjadi memudar
apabila geseskan tersebut terus berlangsung. Hal ini dikarenakan semakin terkikisnya
permukaan kain. Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan ketahanan gosok pada
kain contoh uji kering yang dicelup menggunakan non mordan berada pada skala 5 apabila
dicelup dengan penambahan konsentrasi NaCl 15 dan 20 g/ Ldan skala 4/5 apabila dicelup
dengan penambahan konsentrasi NaCl 5 dan 10 g/ L. Hal ini menunjukan bahwa kain
contoh uji kering yang dicelup dengan penambahan konsentrasi NaCl tersebut mempunyai
ketahanan gosok yang sangatbaik. Dan pada contoh uji basah yang dicelup menggunakan
non mordan berada pada skala 4/5 dengan penambahan konsentrasi NaCl 5 dan 20 g/ L
Menunjukan bahwa ketahanan gosok pada contoh uji basah yang dicelup dengan
penambahan konsentrasi NaCl tersebut mempunyai ketahanan gosok yang baik.

Pada kain contoh uji kering yang dicelup menggunakan mordan tawas berada pada
skala 5 apabila dicelup dengan penambahan konsentrasi NaCl 10 g/ L, menunjukan bahwa
kain contoh uji kering yang dicelup dengan penambahan konsentrasi NaCl tersebut
mempunyai ketahanan gosok yang sangatbaik. Dan pada contoh uji basah yang dicelup
menggunakan mordan tawas berada pada skala 3dengan penambahan konsentrasi NaCl 5
dan 15 g/ L Menunjukan bahwa ketahanan gosok pada contoh uji basah yang dicelup
dengan penambahan konsentrasi NaCl tersebut mempunyai ketahanan gosok yang cukup
baik.
Pada kain contoh uji kering yang dicelup menggunakan mordan CFA berada pada
skala 5 apabila dicelup dengan penambahan konsentrasi NaCl 0 dan 10 g/ L, menunjukan
bahwa kain contoh uji kering yang dicelup dengan penambahan konsentrasi NaCl tersebut
mempunyai ketahanan gosok yang sangatbaik. Dan pada contoh uji basah yang dicelup
menggunakan mordan CFA berada pada skala 4/5 dengan penambahan konsentrasi NaCl
5; 10 dan 20 g/ L Menunjukan bahwa ketahanan gosok pada contoh uji basah yang dicelup
dengan penambahan konsentrasi NaCl tersebut mempunyai ketahanan gosok yang baik.

BAB V
KESIMPULAN
Dilihat dari hasil pengamatan dan pembahasan pada proses pencelupan zat warna alami pada
serat rayon ini, dapat disimpulkan bahwa :
1. Ekstrak kayu secang dapat mewarnai (mencelup) serat dengan baik pada serat kapas.
2. Zat warna dengan mordan dapat menghasilkan ketuaan warna lebih baik
dibandingkan dengan tanpa menggunakan mordan.
3. zat warna dengan mordan tawas memiliki kerataan warna paling baik dibandingkan
yang lain
4. kecerahan warna paling baik yaitu contoh uji yang dicelup dengan larutan ekstrak zat
warna dengan NaCl 5 g/L yaitu 77,58.
5. Proses mordan memberikan efek warna yang berbeda pada serat rayon yang sudah
dicelup oleh ekstrak zat warna secang
6. arah warna pada zat warna secang sesudah dicelup non mordan memiliki arah pada
koordinat a+ sekitar 7,24 sampai 7,73 dan pada koordinat b+ sekitar 4,26 sampai
5,88.Sedangkan pada mordan tawas memiliki arah warna koordinat sekitar a+ 18,56
sampai 20,98 dan pada koordinat b- 0,11 sampai b+ 2,78.Sedangkan pada mordan
CFA memiliki arah warna pada koordinat a+ 6,95 sampai 8,08 dan pada koordinat
b+ 2,32 sampai 5,66.
7. kain yang digosok dengan menggunakan contoh uji kering memiliki ketahanan gosok
yang lebih baik dibandingkan dengan menggunakan contoh uji basah.
8. Hasil pengujian tahan luntur dalam pencucian pada mordan baik tawas maupun CFA
memberikan ketahanan luntur yang baik dibanding non mordan.

DAFTAR PUSTAKA

Adawiyah, D.R. dan Indriati. 2003. Color stability of natural pigmen from secang
woods (Caesalpinia sappan L.). Proceeding of thr 8th Asean Food Confrence;
Hanoi 8-11 October 2003
Adawiyah, D.R.,Lioe, H.N., Anggraeni, R. 2012. Isolation and characterization of the
major natural dyestuff component of Brazilwood
(CaesalpiniasappanL.).International Food Research Journal, Vol 19, hal.537-
542.

Ahn, C., Zeng, X., Li, L., Obendorf, S.K.. 2014. Thermal Degradation of Natural Dye
and their Analysis using HPLC – DAD – MS. Fashion and Textiles, Vol.1, hal
1 – 13.
Azmi, Dhiya Dini,F.R, Eric Nurandriea 2017. Ekstraksi Zat Warna Alami Dari Kayu Secang
(Caesalphinia Sappan Linn)Dengan Metode Ultrasound Assisted Extraction Untuk Aplikasi
Produk Pangan.. Disertai Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Industri Institut
Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya: Tidak diterbitkan.