Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH FITOKIMIA II

ASAM FENOLAT

Dosen Pengampu :

Munawarohthus Sholikha, M.Si.

Disusun Oleh :

Kelompok 1

1. SherlyApriantika Dewi 18330715


2. Aldi Bayu Pamungkas 18330718
3. Een Tri Septi Cahyati 18330720
4. Leni Widiawati 18330721
5. Vivi Hikmawati 18330723
6. Bertha Tiara Handayani 18330724

FAKULTAS FARMASI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami telah menyelesaikan Makalah tentang
Asam Fenolat. Makalah ini dibuat untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Fitokimia II sebagai
mana persyaratan perkuliaahan, serta bermanfaat bagi para pembaca untuk menambah
pengetahuan tentang Asam Fenolat.

Adapun Makalah ini membahas tentang Struktur umum dari asam fenolat, biosintesis,
sumber tanaman, ekstraksi dan pemisahan, identifikasi senyawa, efek farmakologi. Penulisan
makalah ini dibuat dengan mengambil literatur dari berbagai sumber informasi seperti jurnal,
artikel ilmiah dan materi perkuliahan.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada dosen
pengampu mata kuliah ini yang mana telah banyak memberikan arahan dan bimbingan
sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik, demikian juga kepada semua pihak
yang telah membantu penyelesaian makalah ini. Semoga Tuhan senantiasa meridhoi segala
usaha kita.

Jakarta, 16 April 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................................. i
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................... 2
1.3 Tujuan Makalah ...................................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................................... 3
2.1 Pengertian Asam Fenolat .............................................................................................................. 3
2.2 Struktur Umum Asam Fenolat ...................................................................................................... 3
2.3 Biosintesis Asam Fenolat .............................................................................................................. 4
a. Biosintesis Asam Hidroksinamat ............................................................................................ 6
b. Biosintesis Asam Hidroksibenzoat ......................................................................................... 7
2.4 Sumber Tanaman Asam Fenolat ................................................................................................... 8
2.5 Ekstraksi Asam Fenolat ................................................................................................................ 9
2.6 Identifikasi Asam Fenolat ........................................................................................................... 11
2.7 Efek Farmakologi Asam Fenolat ................................................................................................ 16
BAB III KESIMPULAN ..................................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................... 20

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan utama dalam pengobatan telah menjadi bagian
dari kebudayaan hampir setiap bangsa di dunia (Lee et al., 2000). Sekitar 60% penduduk
dunia hampir sepenuhnya menggantungkan diri pada tumbuhan untuk menjaga kesehatan
(Farnsworth, 1994). Sedangkan menurut perkiraan WHO, lebih dari 80% penduduk negara–
negara berkembang tergantung pada ramuan tradisional untuk mengatasi masalah kesehatan
(Khan et al., 2002). Peran tumbuhan sebagai bahan obat sama pentingnya dengan perannya
sebagai makanan (Raskin et al., 2002).

Tumbuhan menghasilkan berbagai macam senyawa aktif yang memberikan efek


farmakologi. Umumnya, senyawa aktif tersebut tidak berperan penting dalam metabolisme
tumbuhan, sehingga sering disebut sebagai metabolit sekunder (Stepp dan Moerman, 2001;
Liu et al.,1998). Metabolit sekunder telah lama diketahui sebagai sumber terapi medis yang
efektif dan penting, misalnya sebagai obat anti-bakteri dan anti-kangker (Cragg, 1997).
Senyawa ini secara terus menerus menjadi sumber utama berbagai obat berkhasiat penting
(Harvey, 2000). Dalam praktek pengobatan tradisional, masyarakat telah memanfaatkan
senyawa aktif dari berbagai tumbuhan dalam bentuk ramuan obat, untuk menyembuhkan
penyakit. Senyawa aktif dalam tumbuhan telah menjadi sumber inspirasi untuk terapi
penyakit yang sulit atau mahal pengobatannya (Raskin et al., 2002).

Senyawa aktif tumbuhan dapat dikelompokkan dalam empat golongan, yaitu: fenol,
alkaloid, terpenoid, dan asam amino non protein. Penggolongan tersebut didasarkan atas
prekursor, struktur dasar dan jalur biosintesisnya (Edwards dan Gatehouse, 1999; Smith,
1976). Senyawa-senyawa tersebut memiliki variasi yang luas dalam diversitas kimia,
distribusi dan fungsinya (Smith, 1976). Golongan fenol dicirikan oleh adanya cincin aromatik
dengan satu atau dua gugus hidroksil. Kelompok fenol terdiri dari ribuan senyawa, meliputi
flavonoid, fenilpropanoid, asam fenolat, antosianin, pigmen kuinon, melanin, lignin, dan
tanin, yang tersebar luas di berbagai jenis tumbuhan (Harbone, 1996).

Senyawa asam fenolat mendapatkan perhatian yang lebih dalam beberapa tahun
terakhir ini karena pengaruhnya terhadap kesehatan manusia. Asam fenolat merupakan
antioksidan yang sangat kuat dan memiliki aktivitas antibakteri, antivirus, antikarsinogenik,
antiinflamasi, dan aktivitas vasodilatory (Duthie et al., 2000).
1
Asam fenolat adalah salah satu jenis metabolit sekunder yang banyak ditemukan
dalam berbagai jenis tumbuhan. Turunan asam hidroksibenzoat dan asam hidroksisinamat
adalah jenis asam fenolat yang banyak terdapat pada tumbuhan (Mattila, 2006).

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas maka dapat diambil
rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan senyawa asam fenolat?
2. Bagaimana struktur umum dan biosintesis senyawa asam fenolat?
3. Apa sumber tanaman senyawa asam fenolat?
4. Bagaimana cara ekstraksi dan pemisahan senyawa asam fenolat?
5. Bagaimana cara identifikasi senyawa asam fenolat?
6. Apa efek farmakologi dari senyawa asam fenolat?

1.3 Tujuan Makalah


Adapun tujuan dibuatnya makalah ini adalah:
1. Mengetahui apa yang dimaksud senyawa asam fenolat.
2. Mengetahui struktur umum dan biosintesis senyawa asam fenolat.
3. Menegtahui sumber tanaman senyawa asam fenolat.
4. Mengetahui cara ekstraksi dan pemisahan senyawa asam fenolat.
5. Mengetahui cara identifikasi senyawa asam fenolat.
6. Mengetahui efek farmakologi dari senyawa asam fenolat.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Asam Fenolat


Asam fenolat merupakan metabolit sekunder yang sering ditemukan pada tanaman.
Asam fenolat biasanya berada dalam bentuk ester, glikosida, atau amida, dan jarang dalam
bentuk bebasnya. Asam fenolat merupakan antioksidan yang sangat kuat dan memiliki
aktivitas antibakteri, antivirus, antikarsinogenik, antiinflamasi, dan aktivitas vasodilatory
(Duthie et al., 2000). Senyawa asam fenolat mempunyai peranan yang penting pada
tumbuhan yaitu sebagai bahan pendukung dinding sel. Asam fenolat membentuk bagian
integral pada struktur dinding sel, umumnya dalam bentuk bahan polymeric seperti lignin,
membantu proses mekanik, dan halangan bagi invasi mikroba. Lignin merupakan senyawa
organik yang paling banyak di bumi setelah selulosa (Wallace dan Fry, 1994).

2.2 Struktur Umum Asam Fenolat


Turunan asam fenolat terdiri dari dua jenis yaitu asam hidroksibenzoat (C6-C1) dan
asam hidroksinamat (C6-C3) yang mungkin terdapat dalam bentuk bebas atau
terkonjugasinya (Razzaghi-Asl et al., 2013). Turunan dari asam benzoat adalah galat,
protokatekuat, dan asam p-hidroksibenzoat, sedangkan turunan dari asam sinamat adalah
kafeat, p-kumarat, dan asam ferulat (Wang et al., 2011).. Perbedaan kedua turunan dari
senyawa asam fenolat ini terletak pada pola hidroksilasi dan metoksilasi cincin aromatiknya.
Struktur kimia kedua senyawa tersebut dapat dilihat pada Gambar 1. Aktivitas biologis yang
penting pada senyawa benzoat, klorogenat, kafeat, ferulat, dan asam galat adalah kemampuan
aktivitas sitoprotektifnya dan kemampuan dalam menghambat karsinogenesis, mutagenesis,
dan generasi tumor (Birosova, 2005).

3
Gambar 1. Struktur kimia: (a) turunan asam benzoat (b) turunan asam sinamat

2.3 Biosintesis Asam Fenolat


Senyawa asam fenolat pada tumbuhan disintesis oleh tumbuhan melalui jalur
Shikimate. Jalur shikimate merupakan hasil dari biosintesis senyawa chorismate yang dapat
berfungsi sebagai prekursor terbentuknya biosintesis senyawa aromatik asam amino triptofan,
fenilalanin, dan tirosin. Jalur shikimate biasa terdapat pada tumbuhan dan mikroorganisme.
Shikimate disintesis dari substrat fosfoenolpiruvat dan eritrosa 4-fosfat. Kedua prekursor ini
merupakan hasil dari jalur glikolisis dan jalur fosfat pentosa dan mengalami kondensasi
menjadi 3-deoxy-D-arabino-heptulosonate 7-phosphate (DAHP) oleh enzim DAHP synthase.
Tahapan selanjutnya yaitu pembentukan 3-dehydroquinate oleh enzim 3-dehydroquinate
synthase, 3-dehydroshikimate oleh enzim 3-dehydroquinate dehydratase, dan terakhir
shikimate oleh enzim shikimate dehydrogenase. Shikimate kemudian dirubah menjadi
shikimate 3- phosphate oleh enzim shikimate kinase, dan setelah itu menjadi 5
enolpyruvylshikimate 3-phosphate (EPSP) oleh enzim 5-enolpyruvylshikimate 3-phosphate
synthase.

EPSP kemudian dirubah menjadi chorismate oleh enzim chorismate synthase.


Chorismate adalah cabang untuk membentuk asam amino aromatik, yaitu triptofan pada
bagian yang satu, dan fenilalanin serta tirosin pada bagian yang lainnya. Jika diperhatikan
secara seksama pada bagian akhir jalur shikimate, biosintesis fenilalanin dan tirosin terdapat
pada Gambar 2 karena mereka merupakan prekursor kelas penting yaitu senyawa asam
fenolat, fenilpropanoid, dan beberapa kelas senyawa asam fenolat lainnya. Pada proses ini
membutuhkan perubahan chorismate menjadi prephenate yang dikatalisis oleh chorismate
mutase dan arogenate yang dikatalisis oleh prephenat aminotransferase. Enzim arogenate
dehydratase merubah arogenate menjadi fenilalanin, sedangkan enzim arogenate
dehydrogenase menghasilkan tirosin. Jalur biosintesis shikimate (Shikimate Pathway) pada
tumbuhan dapat dilihat pada Gambar 2.

4
Gambar 2. Jalur shikimate (Vermerris dan Nicholson, 2006)

Turunan asam fenolat terdiri dari dua jenis yaitu asam hidroksibenzoat dan asam
hidroksinamat. Perbedaan kedua turunan dari senyawa asam fenolat ini terletak pada pola
hidroksilasi dan metoksilasi cincin aromatiknya.

5
Gambar 3. Biosintesis hidroksibenzoat, hidroksinamat, dan flavonoid (Häkkinen, 2000)

a. Biosintesis Asam Hidroksinamat


Pembentukan asam hidroksinamat (kafeat, ferulat, 5-hydroxyferrulic, dan asam
sinapat) dari asam p-koumarat membutuhkan dua jenis reaksi yaitu hidroksilasi dan metilasi.

6
Adanya pelekatan Gugus Hidroksil pada asam pkoumarat akan membentuk asam kafeat,
pembentukan ini dikatalisis oleh monophenol mono-oxygenases, grup enzim tanaman yang
sudah sangat terkenal (Macheix et al., 1990). Metilasi pada asam kafeat akan membentuk
asam ferulat, yang bersamaan dengan asam p-koumarat, merupakan prekursor lignin. Metilasi
ini dikatalisis oleh omethyltransferase. Asam kafeat merupakan substrat untuk 5-
hydroxyferrulic acid, yang akan menghasilkan asam sinapat sebagai hasil dari o-metilasi.

Pembentukan turunan asam hidroksinamat membutuhkan pembentukan


hydroxycinnamte-CoAs, contoh p-coumaroyl-CoA dikatalisis oleh hydroxycinnamoyl-CoA
ligase atau oleh oglycosyl transferase. Hydroxycinnamate-CoAs masuk kedalam berbagai
macam reaksi phenylpropanoid. (Gambar 3), seperti kondensasi dengan malonyl-CoA
membentuk flavonoid atau reduksi NADPH-dependent membentuk lignin. Selain itu
hydroxycinnamate-CoAs dapat berkonjugasi dengan asam organic (Strack, 1997). Di
biosintesis turunan gula asam hidroksinamat, transfer glukosa dari uridine diphosphoglucose
menjadi asam hidroksinamat dikatalisis oleh glucosyl transferase.

b. Biosintesis Asam Hidroksibenzoat


Banyak jalur untuk biosintesis asam hidroksibenzoat pada tanaman, jalur
pembentukan ini tergantung dari jenis tanamannya. Asam hidroksibenzoat dapat dibentuk
dari jalur shikimate, terutama dari dehydroshikimic acid. Reaksi ini merupakan reaksi utama
untuk pembentukan gallic acid (Haddock et al., 1982). Selain itu asam hidroksibenzoat juga
dapat dibentuk melalui degradasi asam hidroksinamat, sama seperti proses β oksidasi pada
asam lemak, senyawa antaranya yaitu cinnamoyl-CoA ester. Asam hidroksibenzoat dapat
juga dibentuk melalui degradasi senyawa flavonoid (Strack, dalam Riza 1997).

Asam hidroksibenzoat pada tumbuhan biasanya terdapat dalam bentuk terikat. Asam
hidroksibenzoat merupakan komponen struktur kompleks seperti lignin dan tannin yang dapat
dihidrolisis. Asam hidroksibenzoat juga ditemukan dalam bentuk asam organik dan turunan
gula. Komponen asam hidroksibenzoat yang dominan yaitu senyawa protocatechuic, p-
hydroxybenzoic, dan gallic acid. Asam hidroksinamat banyak terdapat di dalam bahan
pangan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Asam hidroksinamat biasanya terdapat dalam
bentuk terikat dan jarang ditemukan dalam bentuk bebasnya.

7
2.4 Sumber Tanaman Asam Fenolat
Asam fenolat terkandung dalam berbagai jenis makanan nabati. Biasanya, asam
fenolat paling terkonsentrasi di sekitar biji buah, kulit buah, dan dedaunan sayuran. Ada
banyak jenis asam fenolat yang terkandung dalam tumbuhan. Jenis-jenis asam fenolat
tersebut umumnya bisa terbagi dalam dua kategori, yaitu asam hidroksisinamat dan asam
hidroksibenzoat merupakan dua kelompok senyaa fenol yang termasuk ke dalam asam
fenolat. Beberapa contoh asam hidroksisinamat adalah asam kafeat, asam ferulat dan asam
sinapat. Beberapa contoh asam hidroksibenzoat adalah asam galat dan asam vanilat. Struktur
asam benzoat dan asam sinamat sebagai berikut :

Gambar 4. Struktur turunan asam benzoat (A) dan asam sinamat (B)

Asam fenolat mencakup sepertiga dari senyawa fenol yang ada pada bahan pangan.
Asam fenolat terdapat hampir di semua bahan pangan berbasis tumbuhan seperti buah-
buahan dan sayur-sayuran. Asam fenolat yang berkaitan dengan dampaknya terhadap
kesehatan adalah asam kafeat, ferulat, klorogenat dan sinapat.Kumarin merupakan lakton dari
turunan asam cis-0-hidroksinamat yang terdapat dalam pangan yang berasal dari tumbuhan
dan terdapat dalam bentuk bebas ataupun sebagai glikosida. Kumarin banyak terdapat pada
tumbuhan Angiospermae dan Gymnospermae serta tumbuhan tingkat rendah. Pada umumnya
senyawa ini ditemukan pada famili Rutaceae, Leguminoceae, Umbelliferae dan Graminae.
Perlu dicatat bahwa sebagian besar penelitian tetang kumarin saat ini dilakukan pada keluarga
Umbelliferae (Adas-adasan) dan Rataceae (Jeruk-jerukan).

Beberapa makanan nabati yang mengandung asam fenolat, yaitu:

1. Biji buah anggur, mengandung asam galat


2. Teh yang mengandung asam galat
3. Kopi, mengandung asam kafeat

8
4. Apel, kiwi, plum, dan blueberry mengandung asam kafeat
5. Red wine dan buah-buahan sitrus mengandung asam sinamat
6. Tepung jagung mengandung asam ferolat
7. Biji-bijian utuh, nasi, dan tepung oat mengandung asam ferolat

2.5 Ekstraksi Asam Fenolat


Ekstraksi adalah suatu cara untuk memperoleh sediaan yang mengandung senyawa aktif
dari suatu bahan alam menggunakan pelarut yang sesuai. Ekstraksi dapat dilakukan dengan
berbagai metode dan cara yang sesuai dengan sifat dan tujuan ekstraksi itu sendiri. Sampel
yang akan diekstraksi dapat berbentuk sampel segar ataupun sampel yang telah dikeringkan.
Tujuan ekstraksi adalah untuk menarik semua zat aktif dan komponen kimia yang terdapat
dalam simplisia.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan ekstraksi:
1. Jumlah simplisia yang akan diekstrak
2. Derajat kehalusan simplisia
3. Jenis pelarut yang digunakan dalam diekstraksi
4. Waktu ekstraksi
5. Metode ekstraksi
6. Kondisi proses ekstraksi
Menurut Direktorat Jendral Pengawas Obat dan Makanan (2000), ekstraksi dilakukan dengan
beberapa cara yaitu:
a. Cara tanpa pemanasan (dingin)
1. Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan
beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruagan (kamar).
2. Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna (exhaustive
extraction) yang umumnya dlakukan pada temperatur ruangan.
b. Cara dengan Pemanasan
1. Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu
tertentu dan jumlah pelarut terbatas dan relatif konstan dengan adanya pendingin baik.
2. Soxhlet adalah ekstraksi yang menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya
dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinue dengan jumlah pelarut
relatif konstan dengan adanya pendingin baik.

9
3. Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinue) pada temperatur yang
lebih tinggi dari temperatutr ruangan (kamar) yaitu secara umum dilakukan pada suhu
40-50oC.
4. Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas air (bejana infus
tercelup dalam penangas air mendidih temperatur terukur 96-98oC) selama waktu
tertentu (15-20 menit).
5. Dekokta adalah infus pada waktu yang lebih lama (≥30oC) dan temperatur sampai titik
didih air.
a. Ekstraksi asam fenolat (Ekaviantiwi, 2013)
Sebanyak 1 kg serbuk kering sampel dimaserasi bertingkat dengan menggunakan
pelarut mula-mula n-heksana kemudian etanol 95%. Pertama rendam sampel dengan
pelarut n-heksana pada suhu kamar.setiap 24 jam sekali dilakukan penggantian pelarut
hingga pelarut lebih jernih dari sebelumnya. Ekstrak n-heksana yang diperoleh dipekatkan
dengan cara evaporasi.
Kemudian ampas dari sampel dikeringkan dan dimaserasi kembali dengan pelarut
etanol pada suhu kamar. Setiap 24 jam sekali dilakukan penggantian pelarut hingga pelarut
lebih jernih dari sebelumnya. Ekstrak etanol yang diperoleh dipekatkan dengan cara
evaporasi.
Bagan ekstraksi dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 5. Bagan ekstraksi sinambung

10
2.6 Identifikasi Asam Fenolat
Identifikasi senyawa metabolit sekunder dan elusidasi struktur senyawa ditemukan
merupakan pekerjaan yang sangat menentukan dalam proses mengenal, mengetahui dan pada
akhirnya menetapkan rumus molekul yang sebenarnya dari senyawa tersebut. Pada umumnya
asam fenolat dalam tumbuhan terdapat dalam bentuk:
- Bebas
- Ester
- Glikosida
Suatu senyawa bahan alam hasil isolasi akan diidentifikasi berdasarkan kimia, fisika,
dan identifikasi dengan spektroskopi. Dari isolasi yang menggunakan metode standar tidak
semua senyawa akan secara utuh seperti yang terdapat dalam tumbuhan tesebut, karena
sebagian senyawa ada yang terlarut dan terpecah dalam proses isolasi dan hasil terjadi seperti
putusnya ikatan glikosida membentuk aglikon dan gula dengan adanya air. (Harsodjo, 2004)
Untuk mengidentifikasi asam fenolat bentuk ester harus dilakukan hidrolisis basa,
sedangkan bentuk glikosida harus dilakukan hidrolisis asam, dan asam fenolat bentuk bebas
tanpa hidrolisis. (Ekaviantiwi, 2013)
• Tanpa Hidrolisis
Sebanyak 2 g ekstrak etanol ditambahkan ke dalam 20 ml akuades mendidih dan diaduk
selama 20 menit, kemudian disaring. Filtrat yang diperoleh diasamkan dengan H2SO4 10%
sampai pH 3 lalu diekstraksi dengan 20 ml eter sebanyak empat kali. Fraksi eter selanjutnya
diuapkan hingga volume 20 ml dan diekstraksi kembali dengan 8 ml NaHCO3 20%. Lapisan
air diasamkan dengan H2SO4 10% sampai pH 3, lalu diekstraksi dengan 20 ml eter sebanyak
empat kali. Fraksi eter dikeringkan dengan Na2SO4 anhidrat, dan disaring. Filtrat selanjutnya
diuapkan sampai kering. Residu dilarutkan dalam 1 ml metanol dan selanjutnya disebut fraksi
TH.

11
Gambar 6. Isolasi asam fenolat dari ekstrak etanol tanpa hidrolisis

• Hidrolisis Asam
Sebanyak 2 g ekstrak etanol ditambahkan ke dalam 20 ml akuades mendidih dan
diaduk selama 20 menit, kemudian disaring. Filtrat dihidrolisis dengan H2SO4 2N hingga pH
1 dalam penangas air pada suhu 90°C selama 2 jam. Hasil hidrolisis lalu diekstraksi dengan
20 ml eter sebanyak empat kali. Fraksi eter selanjutnya diuapkan hingga volume 20 ml dan
diekstraksi kembali dengan 8 ml NaHCO3 20%. Lapisan air diasamkan dengan H2SO4 10%
sampai pH 3, lalu diekstraksi dengan 20 ml eter sebanyak empat kali. Fraksi eter dikeringkan
dengan Na2SO4 anhidrat, dan disaring. Filtrat selanjutnya diuapkan sampai kering. Residu
dilarutkan dalam 1 ml metanol dan selanjutnya disebut fraksi HA.

12
Gambar 7. Isolasi asam fenolat dari ekstrak etanol dengan hidrolisis asam

• Hidrolisis Basa
Sebanyak 2 g ekstrak etanol ditambahkan ke dalam 20 ml akuades mendidih dan diaduk
selama 20 menit, kemudian disaring. Filtrat selanjutnya dihidrolisis dengan NaOH 1N dalam
tempat gelap pada suhu kamar selama 24 jam. Hasil hidrolisis diasamkan dengan H2SO4
10% sampai pH 3, kemudian di ekstraksi dengan 20 ml eter sebanyak empat kali. Fraksi eter
selanjutnya diuapkan hingga volume 20 ml dan diekstraksi kembali dengan 8 ml NaHCO3
20%. Lapisan air diasamkan dengan H2SO4 10% sampai pH 3, lalu diekstraksi dengan 20 ml
eter sebanyak empat kali. Fraksi eter dikeringkan dengan Na2SO4 anhidrat, dan disaring.

13
Filtrat diuapkan sampai kering. Residu dilarutkan dalam 1 ml metanol dan selanjutnya
disebut fraksi HB.

Gambar 8. Isolasi asam fenolat dari ekstrak etanol dengan hidrolisis basa

Secara garis besar identifikasi senyawa fenolik dapat digambarkan sebagaimana bagan
berikut ini:
BAGAN IDENTIFIKASI SENYAWA FENOLIK

14
a. Pemisahan Asam Fenolat

Pemisahan Asam Fenolat dilakukan dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis

(KLT) adalah metode pemisahan berdasarkan sifat fisis dimana campuran suatu senyawa

didistribusikan antara fase diam dan fase gerak. Prinsipnya berdasarkan proses perpindahan

atau pergeseran zat dengan kecepatan yang berbeda-beda. KLT dapat digunakan untuk

memisahkan berbagai senyawa seperti ion-ion organik dengan anorganik, dan senyawa-

senyawa organik baik yang terdapat pada bahan alam dan senyawa-senyawa organik sintetik

(Adnan, 1997).

Kromatografi lapis tipis merupakan kromatografi adsorbsi dan adsorben bertindak

sebagai fase stasioner/fase diam. Empat macam absorben yang sering digunakan atau umum

dipakai adalah silica gel (asam silikat), alumina (aluminium oxide), kieselghur (diatomeous

eart), dan selulosa. Dari keempat jenis adsorben tersebut yang paling banyak dipakai adalah

silika gel dan masing-masing terdiri dari beberapa jenis yang mempunyai nama perdagangan

bermacam-macam. Ada beberapa jenis silika gel yaitu: silika gel G, silika gel H, silika gel

GF.

dilakukan terhadap fraksi TH, HA, dan HB menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT)

dengan plat silika gel GF254 dan eluen campuran benzena, asam asetat, dan metanol dengan

perbandingan tertentu. Noda yang nampak pada plat KLT diidentifikasi menggunakan

penampak bercak diazo p-nitroanilin selanjutnya dibasakan menggunakan Na2CO3 15%.

Sebagai pembanding digunakan asam galat, asam kafeat, asam ferulat, dan asam p-kumarat.

Noda asam fenolat yang mempunyai Rf sejajar dengan Rf noda asam fenolat pembanding,

selanjutnya dipisahkan dengan KLT preparatif hingga diperoleh isolat asam fenolat. Uji

kemurnian terhadap isolat asam fenolat dilakukan dengan KLT menggunakan 3 macam eluen

dengan perbandingan tertentu dan KLT 2 dimensi. (Ekaviantiwi, 2013)

15
b. Analisis kuantitatif asam fenolat

Analisis kuantitatif dilakukan terhadap fraksi yang mengandung asam fenolat

menggunakan TLC Scanner dapat juga spektrofotometer UV-Vis dan FTIR. Kadar asam

p-kumarat pada ekstrak etanol ditentukan menggunakan persamaan regresi kurva standar

asam p-kumarat pembanding.

2.7 Efek Farmakologi Asam Fenolat


Aktivitas asam fenolat Asam p-kumarat, asam kafeat dan asam galat mempunyai
aktivitas terhadap bakteri gram positif. Asam kafeat dan ester asam kuinatnya mempunyai
aktivitas kholeretik.
Senyawa asam fenolat ada hubungan dg lignin terikat sebagai ester. Berbagai khasiat:
antipiretik, antiinflamasi, diuretik, antibiotik. Contoh: Asam p-hidroksibenzoat, asam
protokatekuat, asam vanilat, asam galat, asam siringat, asam salisilat,
• Asam klorogenat : antivirus hepatitis B, antioksidan, antihipertensi, antidiabetes,
dan hepatoprotektor.

• Asam ferulat : aktivitas antikanker dan antioksida

• Etil ferulat : aktifitas sbg antioksidan, dan sbg bahan aktif dlm pengobatan terapi
utk antihipertensi

16
Pada industri farmasi dan kesehatan, senyawa ini banyak digunakan sebagai
antioksidan, antimikroba, antikanker dan lain-lain, contohnya obat antikanker
(podofilotoksan), antimalaria (kuinina) dan obat demam (aspirin). Digunakan sebagai
insektisida dan fungisida. Kemampuannya membentuk radikal fenoksi yang stabil pada
proses oksidasi menyebabkan senyawaini banyak digunakan sebagai antioksidan. Manfaat
asam fenolat yang paling penting yaitu anti-penuaan yang berhubungan dengan anti- oksidan
yang mengurangi aktivitas dan mencegah pertumbuhan sel abnormal. Sebagai analgesik,
antiinflamatori, meningkatkan motilitas usus: asam kafeat. Penyembuhan penyakit demensia
dan kelainan pada otak: ginketin.
Senyawa fenolat merupakan senyawa bahan alam yang cukup luas penggunaannya
saat ini. Kemampuannya sebagai senyawa biologik aktif memberikan suatu peran yang besar
terhadap kepentingan manusia. Sudah banyak penelitian diarahkan pada pemanfaatan
senyawa fenolik pada berbagai bidang industri.
Pada industri makanan dan minuman, senyawa fenolik berperan dalam memberikan
aroma yang khas pada produk makanandan minuman, sebagai zat pewarna makanan dan
minuman, dan sebagai antioksidan. Selain itu, senyawa ini juga banyak digunakan
sebagai insektisida dan fungisida. Selain itu, senyawa fenolik sangat penting untuk
pertumbuhan dan reproduksi tanaman, di mana diproduksi sebagai respon untuk
mempertahankan tanaman dari serangan terhadap patogen.
Senyawa fenolik mempunyai struktur yang khas, yaitu memiliki satu atau lebih gugus
hidroksil yang terikat pada satu atau lebih cincin aromatik benzena, sehingga senyawa ini
juga memiliki sifat yang khas, yaitu dapat teroksidasi. Kemampuannya membentuk radikal
fenoksi yang stabil pada proses oksidasi menyebabkan senyawa ini banyak digunakan
sebagai antioksidan. Manfaat asam fenolik yang paling penting yaitu anti-penuaan yang
berhubungan dengan anti-oksidan yang mengurangi aktivitas dan mencegah pertumbuhan sel
abnormal. Asam fenolat berguna dalam mengendalikan peradangan, meningkatkan sistem
kekebalan tubuh, dan meningkatkan sirkulasi darah, semua yang menghasilkan signifikan
manfaat anti penuaan dalam tubuh.

17
BAB III
KESIMPULAN

Dari penjelasan materi tentang asam fenolat maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Asam fenolat merupakan metabolit sekunder yang sering ditemukan pada tanaman.
Asam fenolat biasanya berada dalam bentuk ester, glikosida, atau amida, dan jarang
dalam bentuk bebasnya.
2. Sruktur umum turunan asam fenolat terdiri dari dua jenis yaitu asam hidroksibenzoat dan
asam hidroksinamat. Perbedaan kedua turunan dari senyawa asam fenolat ini terletak
pada pola hidroksilasi dan metoksilasi cincin aromatiknya. Biosintesis asam fenolat
melalui jalur sikmat yang merupakan hasil dari biosintesis senyawa chorismate yang
dapat berfungsi sebagai prekursor terbentuknya biosintesis senyawa aromatik asam
amino triptofan, fenilalanin, dan tirosin.
3. Sumber tanaman asam fenolat yaitu seperti biji buah anggur, teh, kopi, apel, kiwi, plum,
blueberry, red wine, buah-buahan sitrus , tepung jagung, biji-bijian utuh, nasi, dan tepung
oat.
4. Ekstraksi dan pemisahan senyawa asam fenolat dilakukan secara maserasi bertingkat
dengan menggunakan pelarut mula-mula n-heksana kemudian etanol 95%. Sejumlah 1
kg serbuk kering pertama-tama diekstrasi dengan n-heksana berkali-kali sampai filtrat
jernih. Ampas dikeringkan kemudian diekstraksi dengan etanol 95% berkali-kali hingga
filtrat jernih. Masing-masing ekstrak dipekatkan dengan penguap putar vakum sehingga
diperoleh ekstrak kental.
5. Untuk mengidentifikasi asam fenolat bentuk ester harus dilakukan hidrolisis basa,
sedangkan bentuk glikosida harus dilakukan hidrolisis asam, dan asam fenolat bentuk
bebas tanpa hidrolisis. Dan untuk pemisahan asam fenolat dilakukan dengan
menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Serta analisis kuantitatif dilakukan
terhadap fraksi yang mengandung asam fenolat menggunakan TLC Scanner dapat juga
spektrofotometer UV-Vis dan FTIR. Kadar asam p-kumarat pada ekstrak etanol
ditentukan menggunakan persamaan regresi kurva standar asam p-kumarat pembanding.

18
6. Efek farmakologi senyawa asam fenolat pada industri farmasi dan kesehatan banyak
digunakan sebagai antipyretik, antiinflamasi, diuretik, antibiotik, antioksidan,
antimikroba, antikanker. Pada industri makanan dan minuman, senyawa fenolik
berperan dalam memberikan aroma yang khas pada produk makanandan minuman,
sebagai zat pewarna makanan dan minuman, dan sebagai antioksidan. Selain itu,
digunakan sebagai insektisida dan fungisida.

19
DAFTAR PUSTAKA

Birošova L, Mikulašova M, Vaverkova Š. Antimutagenic Effect of Phenolic Acids. 2005.


Biomed. Pap. Med. Fac. Univ. Palacky. Olomouc. Czech. Repub. 149(2) (2005) 489-91.

Cragg, G.M. 1997. Natural products in drug discovery and development. Journal of Natural
Product 60: 52-60.

Duthie, GG, Duthie SJ, Kyle JAM. 2000. Plant Polyphenols in Cancer and Heart Disease:
Implications as Nutritional Antioxidants. Nutr. Res. Rev. 13 (2000) 79-106.

Edwards, R and J.A. Gatehouse. 1999. Secondary metabolism. In Lea, P.J. and R.C. Leegood
(ed.). Plant Biochemistry and Molecular Biology.). 2nd edition. New York: John Wiley
and Sons Ltd.

Ekavanti, T.A, Fachriyah, A, Kusrini, D. 2013. Identifikasi Asam Fenolat Dari Ekstrak
Etanol Daun Binahong (Anredera Cordifolia (Ten.) Stennis) Dan Uji Aktivitas
Antioksidan. Chem Info Vol 1, No 1, Hal 283 – 293.

Adanan, M. 1997. Teknik Kromatografi Untuk Analisis Bahan Makanan. Andi : Yogyakarta

Farnsworth, N.R. 1994. Ethno-botany and the Search for New Drugs. New York: John Wiley
and Sons.

Marjoni, R. Dasar-dasar Fitokimia untuk diploma III Farmasi. Jakarta: trans info media

Harvey A. 2000. Strategies for discovering drugs from previously unexplored natural
products. Drugs Discovery Trends 5 (7): 294-300.

Harbone, J.B. 1996. Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan
(Phytochemical Methods). Penerjemah:. Padmawinata, K. dan I. Soedino. Edisi ke-2.
Bandung: Penerbit ITB.

Khan, M.T.H., L. Lampronti, D. Martello, N. Bianchi, S. Jabbar, M.S.K. Choudhuri, B.K.


Datta, and R. Gambari. 2002. Identification of pyrogallol as an anti-prolifertive
compound present in extracts from the medicinal plant Emblica medicinalis: effect on in-
vitro cell growth of human tumor cell lines. International Journal of Oncology 20: 187–
192.

20
Lee, K.H., H.K. Wang, H. Itokawa, and S.L. Morris- Natschke. 2000. Current perspectives
on Chinese medicines and dietary supplements in China, Japan and the United States.
Journal of Food and Drug Analysis 8 (4): 219–228.

Mattila, P., dan Helstrom, J., 2006, Original Article : Phenolic acids in potatoes, vegetables,
and some of their products, J. of Food Composition and Analysis, 20, 152-160.

Putra, Nengah Kencana. 2020. Substansi Nutrasetikal Sumber dan Manfaat Kesehatan.
DEEPUBLISH: Yogyakarta.
Raskin, I., D.M. Ribnicky, S. Komamytsky, N. Ilic, A. Poulev, N. Borisjuk, A. Brinker, D.A.
Moreno, C. Ripoll, N. Yakoby, J.M. O’Neal, T. Cornwell, I. Pastor, and B. Fridlender.
2002. Plants and human health in the twenty-first century. Trends in Biotechnology 20
(12): 522-531.

Razzaghi-As, N., J. Garrido, H. Khazraei, F. Borges, dan O. Firuzi. 2013. Antioxidant Properties of
Hydroxycinnamic Acids: Structure-Activity Relationships. Current Medicinal Chemistry. 20:
123-135.

Riza, A.P. 2010. identifikasi senyawa asam fenolat pada sayuran indigenous indonesia. IPB :
Bogor.

Sediro, I. dkk. 1981. Strobilanthes crispus (L.) Bl., Pemeriksaan Asam Fenolat, Acta Pharm.
Indonesia, 12 (1)

Stepp, J.R. and D.E. Moerman. 2001. The importance of weeds in ethno-pharmacology.
Journal of Ethnopharmacology 75: 19-23.

Smith PM. 1976. The Chemotaxonomy of Plants. London: Edward Arnold.

Vermerris, W and Nicholson, R. 2006. Phenolic compound Biochemistry. Springer. USA

Wallace G, Fry SC. 1994. Phenolic Components of The Plant Cell Wall. Int Rev Cytol 151
(1994) 229–267

Wang, B. N., H. F. Liu, J. B. Zheng, M. T. Fan, dan W. Cao. 2011. Distribution of Phenolic Acids in
Different Tissues of Jujube and Their Antioxidant Activity. Journal of Agricultural and Food
Chemistry. 59(4): 1288–1292. doi: 10.1021/jf103982q

Wijono, Sri Harsodjo. (2004). Isolasi dan Identifikasi Asam Fenolat Pada Daun Katu
(Sauropus androgynus (L.) Merr.). MAKARA Kesehatan. 9(1). Hal 32-36.

21