Anda di halaman 1dari 6

Persediaan (Inventory), merupakan aktiva perusahaan yang menempati posisi

yang cukup penting dalam suatu perusahaan, baik itu perusahaan dagang
maupun perusahaan industri (manufaktur), apalagi perusahaan yang bergerak
dibidang konstruksi, hampir 50% dana perusahaan akan tertanam dalam
persediaan yaitu untuk membeli bahan-bahan bangunan.

Persediaan adalah pos-pos aktiva yang dimiliki oleh perusahaan untuk dijual
dalam operasi bisnis normal, atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi
dalam membuat barang yang akan dijual.

Jadi menurut pendapat saya persediaan merupakan suatu aktiva yang meliputi
barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu
periode tertentu atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan
atau proses produksi, ataupun persediaan bahan baku yang menunggu
penggunaannya dalam suatu proses produksi. Unsur utama ini harus diperhatikan
secara rutin untuk mengkondisikan perusahaan tetap stabil.

Berdasarkan definisi di atas dapat diartikan bahwa persediaan adalah unsur yang
paling aktif dalam opperasi perusahaan yang dilakukan secara terus menerus di
produksi. Berdasarkan pengertian di atas maka perusahaan jasa tidak memiliki
persediaan, perusahaan dagang hanya memiliki persediaan barang dagang sedang
perusahaan industri memiliki 3 jenis persediaan yaitu persediaan bahan baku,
persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi (siap untuk dijual).

Dalam laporan keuangan, persediaan merupakan hal yang sangat penting karena
baik laporan Rugi/Laba maupun Neraca tidak akan dapat disusun tanpa
mengetahui nilai persediaan. Kesalahan dalam penilaian persediaan akan
langsung berakibat kesalahan dalam laporan Rugi/Laba maupun neraca.

Dalam perhitungan Rugi/Laba nilai persediaan (awal & akhir) mempengaruhi


besarnya Harga Pokok Penjualan (HPP).

HPP = PERSEDIAAN AWAL+ PEMBELIAN BERSIH – PERSEDIAAN


AKHIR
Jenis Jenis persediaan

 Persediaan bahan mentah

Persediaan bahan mentah adalah persediaan bahan yang masih belum memuat
elemen-elemen biaya didalam bahan tersebut. misal pada pabrik furniture maka
bahan mentahnya masih kayu gelondongan, belum ada penanganan lebih lanjut
yang dapat diposting menjadi biaya perusahaan

 Persediaan komponen-komponen rakitan

Persediaan komponen-komponen rakitan ini sangat mudah dijumpai di industri


elektronik dan otomotif. Setiap pabrik elektronik atau otomotif pasti memiliki
pabrik perakitannya sendiri. Dalam sebuah pabrik perakitan tersebut ada
bermacam-macam  persediaan komponen-komponen rakitan. Seperti contohnya
dalam sebuah pabrik laptop maka hard disk merupakan persediaan komponen-
komponen rakitan yang siap dirakit menjadi laptop.
Persediaan bahan pembantu atau persediaan bahan penolong
Persediaan bahan penolong ini merupakan katalisator dari produksi bahan tersebut.
jadi bahan tersebut bukan merupakan bagian atau komponen barang jadi namun
bahan tersebut sangat diperlukan dalam produksi.
Persediaan dalam proses
Persediaan dalam proses atau biasa disebut persediaan setengah jadi merupakan
persediaan yang merupakan keluaran dari tiap-tiap proses, namun masih belum
sempurna dan masih harus dilakukan pengolahan lagi.

 Persediaan barang jadi

Persediaan barang jadi adalah barang yang sudah tidak memerlukan pengolahan
lagi. Tinggal di pasarkan dan siap dijual, yang berarti bahan semua unsur biaya
produksi sudah melekat di barang tersebut.

Sistem Pencatatan Persediaan 


Sistem pencatatan persediaan terbagi menjadi 2 yaitu:
 Sistem pencatatan periodik

Sistem pencatatan periodik lebih mudah bagi perusahaan yang memiliki sistem
yang belum terpadu. Sistem ini sangat sederhana bagi perusahaan kecil yang
memiliki SDM terbatas dalam hal ketelitian. Karena sistem ini hanya mewajibkan
akunting mencatat penjualan yang sama dengan bukti transaksi. Jadi setelah
transaksi penjualan dan pembelian sudah dilaksanakan pada akhir bulan akunting
wajib untuk opname persediaan yang masih di gudang untuk mengetahui sisa
persediaan setelah adanya transaksi jual beli selama satu periode pencatatan. (baca
juga: manfaat akuntansi manajemen)
Prosedur yang harus dilakukan oleh akuntan pertama yaitu mencatat persediaan
yang ada di gudang sebelum sistem berjalan. Saat ada transaksi jual beli akuntan
dapat memosting transaksi tersebut dan mendebit akun pembelian jika pembelian
terjadi. Namun jika penjualan terjadi maka akuntan mengkredit akun pembelian.
Setelah akhir periode pencatatan akuntan wajib opname ulang persediaan yang
dimiliki perusahaan. Hal ini dilakukan untuk menghitung harga pokok penjualan
yang nantinya untuk menghitung laba-rugi perusahaan selama satu periode
pencatatan. Setelah beberapa data terpenuhi dapat di masukkan tabel dengan cara
sebagai berikut:
HPP=Stok Awal + pembelian – penjualan – Stok akhir
Nantinya akuntan memiliki 2 data, yaitu harga pokok penjualan yang nantinya
dilaporkan dalam laba-rugi dan laporan stok barang yang ada di gudang.

 Sistem pencatatan perpetual


Sistem pencatatan perpetual merupakan sistem pencatatan yang di catat langsung
saat transaksi tersebut berlangsung, semua akun langsung dapat diketahui pada saat
transaksi berlangsung. Maka dari itu akuntan harus menjurnal akun Harga Pokok
dalam posting transaksi pembelian atau pun penjualan. Sistem pencatatan ini lebih
rumit dibanding sistem pencatatan periodik, karena akuntan wajib memasukkan
jurnal harga pokok ini berarti akuntan harus memiliki data harga pokok. maka dari
itu perusahaan retail sangat jarang memilih pencatatan persediaan dengan sistem
perpetual.
Perbandingan metode penentuan biaya persediaan dan
pengaruhnya terhadap laporan keuangan

Sebetulnya metode penentuan biaya terbagi menjadi 3 kali ini dosen akuntansi
akan membandingkan ketiga metode tersebut. Metode yang terbagi menjadi FIFO
(First In First Out), LIFO (Last In First Out), dan rata-rata ini memiliki pengaruh
dari segi harga pokok penjualan untuk periode berjalan, laba kotor dan mungkin
juga laba bersih pada periode tersebut dan juga persediaan akhir. Berikut efek dari
masing-masing metode.

 Metode FIFO

Metode FIFO akan menghasilkan harga pokok yang lebih rendah karena
menggunakan harga beli lama, hal ini dapat berefek pada laba perusahaan yang
akan naik. Begitu juga dengan persediaan akhir yang sejalan dengan naiknya laba
perusahaan.

 Metode LIFO 

berkebalikan dengan metode FIFO yang akan menghasilkan harga pokok yang
lebih tinggi karena menggunakan harga pembelian terbaru. Hal ini berujung pada
laba perusahaan yang akan turun dan akun persediaan yang tersaji dalam laporan
neraca juga akan turun.

 Metode rata-rata

merupakan titik tengah dari naik turunnya harga maka dari itu etode rata-rata akan
mendapatkan titik tengah dari harga pokok, laba perusahaan dan persedaan akhir.
Juga untuk diketahui ketiga analogi yang saya sebutkan diatas adalah efek
menggunakan ketiga metode alam situasi harga naik dari waktu ke waktu.
Metode penilaian persediaan selain harga pokok
Metode penilaian persediaan sebetulnya ada 4 namun yang sangat terkenal dan
lumrah di gunakan oleh beberapa perusahaan yaitu harga pokok. dibawah ini
adalah beberapa metode lain yang digunakan untuk penilaian persediaan

 Metode nilai terendah antara biaya dengan harga pasar


Harga pasar biasanya berubah-ubah tergantung hukum persediaan dan permintaan.
Metode ini memperbolehkan harga pokok atau harga pasar yang terendah untuk
digunakan sebagai dasar penghitungan perolehan persediaan perusahaan. Jadi jika
akuntan menggunakan metode ini otomatis harga akan dapat diarahkan seperti
kemauan akuntan.

 Metode laba kotor

Metode laba kotot ini hanya memerlukan estimasi persenatase harga pokok dari
laba kotor penjualan perusahaan. Tentunya dengan riset yang sudh dilakukan
sebelum metode ini di lakukan. Rumus dasar metode ini yaitu Laba Kotor + harga
pokok = penjualan (omset). Ada 3 variabel yang akan diotak atik disini. Yaitu laba
kotor, harga pokok dan harga pokok. akuntan harus memilih 2 rumus disini.
Rumus pertama yaitu persentase laba kotor atas penjualan dan persentase laba
kotor atas harga pokok. seumpama laba kotor ditetapkan 20% dari penjualan maka
jika mendapat omset 100.000.000 otomatis laba kotor 20.000.000 sedangkan harga
pokoknya 80.000.000. jika memakai rumus kedua yang mengambil persentase laba
kotor dari harga pokok. contoh pedagang menetapkan laba kotor 20% dari harga
pokok maka jika penjual mendapatkan omset 100.000.000 dapat di terjemahkan
dalam variabel matematis. Laba kotornya 20% dari harga pokok maka harga
pokoknya 100% dan omsetnya  120%. Jika 100.000.000 nya adalah 120% maka
100% adalah 83.333.333 sedangkan 20%nya adalah 16.666.666.

 Metode persediaan eceran

Metode ini lumrah untuk dilakukan perusahaan dengan dagangan eceran yang
otomatis perputaran persediaannya cukup tinggi. Langkah-langkah yang harus di
lakukan yaitu: menentukan persentase harga pokok barng untuk di jual terhadap
harga jual; menghitung nilai persediaan barang dagang akhir periode dan
mengalikan persentase yang sudah di estimasikan tadi dengan jumlah akhir
persediaan yang sudah di hitung.
Sekian beberapa penjelasan dosen akuntansi tentang pengertian persediaan semoga
penjelasan tentang pengertian persediaan ini dapat di aplikasikan dalam
perusahaan. Karena sangat pentingnya akun tersebut membuat para pembaca harus
lebih berhati-hati dalam pencatatan maupun penghitungannya.

PENGENDALIAN ATAS PERSEDIAAN


pengendalian adalah proses atau usaha yang sistimatis dalam penetapan standar 
pelaksanaan  dengan  tujuan  perencanaan,  sistem informasi  umpan  balik, 
membandingkan  pelaksanaan nyata dengan perencanaan menentukan dan
mengatur penyimpangan- penyimpangan serta melakukan koreksi perbaikan sesuai
dengan rencana yang telah ditetapkan, sehingga tujuan tercapai secara efektif dan
efisien.

Perencanaan dan pengendalian merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan


dalam pelaksanaan kegiatan. Dalam pelaksanaan yang memerlukan usaha yang
sungguh-sungguh dan sangat tergantung pada sistem pengendalian yang efektif dan
sistem informasi yang digunakan.

Pengendalian ada 2, yaitu pengendalian Akuntansi dan Pengendalian Administratif

1. Pengendalian Akuntansi

 Pengendalian akuntansi meliputi struktur organisasi dan semua ukuran serta


metode yang dikoordinasikan dan di terapkan dalam suatu organisasi untuk
menjaga kekayaan dan harta milik perusahaan serta mengecek ketelitian serta 
dapat dipercaya data akuntansi.

2. Pengendalian Administratif 

       Untuk mengetahui arti internal control dalam arti sempit menurut Alepa
diterjemahkan oleh Bambang Karyadi (2000 : 115) menyatakan bahwa sistem
pengendalian intern meliputi struktur organisasi semua metode dan ketentuan yang
terkoordinasi dan dianut oleh perusahaan untuk melindungi harta kekayaan,
ketelitian, serta berapa jauh data akuntansi dapat dipercaya untuk mendorong
ditaatinya kebijaksanaan perusahaan yang telah diterapkan tentang persdiaan
barang.

ASUMSI ARUS BIAYA PERSEDIAAN FIFO, LIFO, BIAYA


RATA-RATA