Anda di halaman 1dari 3

PELANTIKAN JENDERAL SOEDIRMAN

Soedirman dilantik sebagai Panglima Besar TKR (Tentara Ke amanan


Rakyat ) pada tanggal 18 Desember 1945, kurang lebih satu bulan setelah ia
dipilih oleh para perwira TKR dalam rapat yang diselenggarakan di Yogyakarta.
Dalam pemilihan ini ia menyisihkan lawan utamanya yang juga menjadi
atasannya saat itu, yakni Kepala Staf Umum TKR Letnan Jenderal Oerip
Soemohardjo. Untuk kedua kalinya ia dilantik sebagai Panglima Besar pada
tanggal 25 Mei 1946, pada waktu TKR sudah berganti nama menjadi TRI
(Tentara Republik Indonesia). Walaupun nama itu kelak berganti lagi menjadi
TNI (Tentara Nasional Indonesia ) , namun Soedirman tetap menduduki jabatan
sebagai Panglima Besar. Sampai akhir Perang Kemerdekaan , jabatannya
tidak tergoyahkan, walaupun pada awal tahun 1948 golongan kiri berusaha
menyingkirkannya.
Pemilihan Soedirman oleh para perwira yang boleh dikatakan setingkat
dengannya untuk menjadi orang pertama dalam ketentaraan, menggambarkan
sisi lain dari perkembangan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI).
Umum diketahui, bahwa APRI tumbuh dari bawah, dalam arti aparat itu
sendirilah yang membina dirinya dan pada masa – masa awal pertumbuhannya
kurang mendapat bimbingan dari pemerintah . Persetujuan yang diberikan
pemerintah yang berwujud dalam bentuk pelantikan Soedirman sebagai Panglima
Besar TKR, tampaknya didasarkan atas berbagai kemungkinan. Pertama,
pemeritah memang tidak mempunyai calon lain, sebab Supriyadi tokoh yang
diangkat pemerintah untuk menjadi pemimpin tertinggi TKR, tidak pernah
muncul. Kedua, pemerintah tidak atau belum berminat untuk ter lalu mencampuri
urusan ketentaraan. Ketiga, pemerintah dapat menerima tokoh Soedirman
berdasarkan prestasi yang diperlihatkannya pada masa sebelumnya, khususnya
dalam perebutan senjata Jepang di daerah Banyumas dan dalam pertempuran
melawan pasukan Sekutu di Ambarawa.
Jabatan sebagai Panglima Besar tetap dipegang Soedirman sampai ia wafat, satu
bulan dua hari setelah kedaulatan Indonesia diakui oleh lawan utamanya,
Belanda. Pengakuan kedaulatan itu sekaligus mengakhiri keadaan perang antara
dua bangsa, Indonesia dan Belanda, yang berlangsung selama kurang lebih
empat tahun, dan dalam periode ini, Soedirman memainkan peranan yang cukup
menentukan. Sesudah ia meninggal, jabatan Pan glima Besar tidak pernah
dihidupkan lagi. Dalam tokoh Soedirman, jabatan itu tampak melembaga
dan merupakan kekuatan sentral tersendiri di samping kekuatan pemerintah,
dan karenanya harus diperhitungkan oleh pemerintah. Terutama ketika
pemerintahan dikuasai oleh golongan kiri, institusi panglima besar menjadi
hambatan bagi mereka untuk melaksanakan rencana mereka. Dengan kata lain,
institusi itu dianggap dapat menjadi saingan, dan karena itu golongan kiri
berusaha mengharuskannya. Situasi dan kondisi sesudah Peran g Kemerdekaan,
jauh berbeda daripada kondisi dan situasi dalam masa perang, pada saat charisma
dan semangat lebih diutamakan daripada hanya sekedar profesionalisme. Atau
mungkin juga tokoh Soedirman, yang memiliki kepemimpina n yang kuat dan
mampu menanamkan dasar-dasar kejiwaan ke dalam tubuh angkatan perang,
sudah disakralkan dan dianggap terlalu ideal, sehingga tidak boleh ada tokoh
lain yang menyainginya, sekurang-kurangnya untuk istilah jabatan yang pernah
dipegangnya. Apa pun alasannya, yang jelas ialah, jabatan panglima besar tidak
pernah ada lagi dan tampaknya sudah ada semacam kesepakatan untuk tetap
tidak mengadakannya dalam dunia kemiliteran Indonesia. Dengan demikian,
Soedirman lah tokoh pertama dan terakhir, jadi tokoh satu – satunya yang
pernah memegang jabatan Panglima Besar.