Anda di halaman 1dari 20

TUGAS MAKALAH HUKUM LAUT

NAMA : WIHARTIAN
NPM : 1811010111

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
2018/2019
KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan kepada Allah SWT karena berkat limpahan rahmat dan

karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini

berjudul “BERITA MENGENAI LAUT ”.

Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah ilmu

pengetahuan tentang mengenai berita laut saya juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam

makalah ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk

itu kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang akan datang,

mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.

Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang

yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang

kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan

dimasa yang akan datang.

Berita mengenai laut


1. TNI Ungkap China Provokasi RI Agar Langgar Hukum Internasional di
Natuna

Farih Maulana Sidik - detikNews


Senin, 06 Jan 2020 14:47 WIB

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI (Kapuspen TNI) Mayjen Sisriadi menyatakan China
memprovokasi Indonesia dengan masuknya kapal Coast Guard China ke wilayah Zona Ekonomi
Eksklusif (ZEE) Indonesia, Natuna. Sisriadi menegaskan TNI tidak akan terjebak oleh upaya
provokasi yang dilakukan China.

"Kita tidak ingin terprovokasi. Mereka melakukan provokasi supaya kita melanggar hukum laut
internasional itu sendiri, sehingga kalau itu terjadi justru kita yang bisa disalahkan secara
internasional dan justru kita yang rugi," ujar Sisriadi di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin
(6/1/2019).

Sisriadi mengatakan operasi pengamanan di laut Natuna oleh TNI akan dilakukan sesuai prosedur
yang sudah disepakati hukum internasional. Dia menyebut Indonesia akan mematuhi aturan tersebut.

"Jadi begini, TNI dalam hal Ini TNI AL dan AU yang melakukan operasi di sana melakukan
prosedur-prosedur yang sudah disepakati internasional. Jadi sebagai negara yang patuh pada hukum-
hukum internasional jadi kita melakukan kegiatan," katanya.

"Prajurit-prajurit TNI AL dan AU melakukan operasi dengan memegang teguh aturan pelibatan yang
berpedoman pada hukum-hukum laut nasional dan internasional," sambungnya.

Sisriadi menyebut urusan TNI hanya melakukan pengamanan lewat pengamatan dan pengintaian di
wilayah perbatasan yang menjadi kedaulatan Indonesia. Menurutnya, untuk mengurangi ketegangan
antara RI dan China itu hanya urusan diplomatik.
"Jadi perkara ketegangan itu sudah pada urusan diplomasi jadi pada Bu Menlu dengan Menlu Cina.
Yang dilakukan TNI seperti sudah disampaikan Pangkogabwilhan I Pak Laksdya Yudo bahwa TNI
melakukan operasi yang rutin digelar sepanjang tahun," katanya.

Komentar : china memang tidak seharausnya melakukan hal seperti ini seharusnya mereka tau
batas batasan nya mereka juga tidak seharus nya melakukan provokasi agar indonesia
melanggar hukum laut internasional , ini menjadi sebuah contoh b ahwa untuk mendapatkan
sesuatu harus melakukan banyak hal agar bisa mendapatkan nya,pemerintah harus lebih
waspada dan juga memberikan keamanan agar RI bisa dijaga dengan baik.

2. Pertentangan Hukum Udara dengan Rezim Hukum Laut

Selasa, 5 september 2017 / 13 : 50 wib

Kompas . com

TANGGAL 10 Desember 1982 telah lahir United Nation Convention on the Law Of the Sea
(UNCLOS) atau hukum laut internasional di bawah naungan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang
ditandatangani 117 negara. Dengan UNCLOS 1982 itu, maka secara internasional berarti telah ada
pengakuan terhadap prinsip-prinsip negara kepulauan yang telah sekian lama diperjuangkan oleh
bangsa Indonesia. Tentang hal ini jelas tergambar pada Pasal 46 dalam konvensi itu yang
menyebutkan bahwa negara kepulauan berarti suatu negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau lebih
kepulauan dan dapat mencakup pulau-pulau lain. Pada bagian lainnya disebutkan juga bahwa
kepulauan berarti suatu gugusan pulau, termasuk bagian pulau, perairan di antaranya, dan lain-lain
wujud alamiah yang hubungan satu dengan lainnya demikian erat. Dengan demikian, pulau-pulau,
perairan, dan wujud alamiah lainnya itu merupakan kesatuan geografi, ekonomi dan politik yang
hakiki atau yang secara historis dianggap sebagai demikian. Itu semua menjadi sejalan dan telah
merupakan perwujudan dari Konsep Doktrin Wawasan Nusantara yang merefleksikan satu kesatuan
terhadap tanah, daratan dan perairan. Beriringan dengan UNCLOS 1982 yang pada prinsipnya telah
memberikan pengakuan terhadap keberadaan sebuah negara kepulauan, salah satu pasalnya
mewajibkan negara kepulauan memberikan atau mengakomodasikan kepentingan masyarakat
internasional dalam bentuk pemberian hak lintas damai. Pemberian hak lintas damai inilah yang kini
dikenal sebagai ALKI atau Alur Laut Kepulauan Indonesia.

tidak ada permasalahan serius dalam penetapan ALKI ini karena memang dalam hukum laut
pemberian hak lintas damai adalah sudah menjadi bagian utuh dari ketentuan di dalam hukum laut
internasional. Persoalan kemudian muncul karena ternyata dalam pasal yang menyebutkan hak lintas
damai dalam UNCLOS 1982 diberikan pula hak keleluasaan bagi pesawat udara asing untuk terbang
di jalur ALKI.

asal tersebut menyatakan antara lain bahwa negara kepulauan dapat menentukan alur laut dan rute
penerbangan di atasnya, yang cocok digunakan untuk lintas kapal dan pesawat udara asing yang terus-
menerus dan langsung serta secepat mungkin melalui atau di atas perairan kepulauannya dan laut
teritorial yang berdampingan dengannya. Sejak berlakunya UNCLOS 1982, yang salah satu pasalnya
turut mengatur tentang penggunaan ruang udara di atas, ALKI telah menjadi bahan perdebatan dalam
kancah hukum laut internasional dengan hukum udara. Secara internasional, seluruh negara bila
berbicara tentang hukum udara akan mengacu kepada antara lain Convention on International Civil
Aviation of 1944, yang dikenal sebagai Konvensi Chicago 1944. Konvensi ini secara gamblang antara
lain menyebutkan bahwa setiap negara berdaulat secara complete dan exclusive atas wilayah udara
teritorialnya. Pasal-pasal dalam konvensi ini menyebutkan bahwa semua pesawat yang melintas harus
memiliki ijin dari negara yang bersangkutan. Hukum udara tidak mengenal "hak lintas damai". Pasal
3 huruf C berbunyi sebagai berikut: "No state aircraft of contracting state shall fly over the territory of
another state or land thereon without authorization by special agreement or otherwise, and in
accordance with the term thereof" Dengan demikian, salah satu pertentangan yang terjadi antara
hukum laut dan hukum udara adalah tentang hak terbang di daerah teritori sebuah

memang memberikan fasilitas lintas damai di laut atau perairan. Akan tetapi, regulasi di hukum udara
internasional sangat jelas tidak memberikan ruang sama sekali bagi penerbangan dengan status "lintas
damai". Secara keseluruhan, pertentangan yang terjadi adalah merupakan konsekuensi logis dari
kemajuan teknologi yang telah memungkinkan armada laut dapat menjadi basis atau pangkalan
pesawat terbang. Itu sebabnya hukum laut menjadi merambah pula untuk turut mengatur udara yang
berada diatas lintasan kapal laut. Pada setiap pertentangan, pasti dibutuhkan negosiasi dalam mencari
solusi yang terbaik.

Tidak perlu khawatir karena pada setiap masalah yang timbul akan selalu hadir kemudian cara
penyelesaian yang terbaik, seperti yang dikatakan oleh Steve Maraboll bahwa "The universe is so well
balanced that the mere fact that you have a problem also serves as a sign that there is a solution.

komentar : memang memberikan fasilitas lintas damai di laut atau perairan. Akan tetapi,
regulasi di hukum udara internasional sangat jelas tidak memberikan ruang sama sekali bagi
penerbangan dengan status "lintas damai".ini bagus dan bisa memberikan keseluruhan
pertentangan yang terjadi dan juga untuk memberikan konsekuesi yang disebu sebut logis dari
kemajuan teknologi juga hal seperti ini memberikan banyak hal terutama dalam memberikan
pengakuan terhadap keberadaan sebuah negara kepulauan yang telah dijelaskan

3. Polemik ZEE dan Hak Kedaulatan Indonesia di Laut Natuna Utara

CNN Indonesia | Rabu, 08/01/2020 08:41 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Polemik Indonesia dengan China masih berlanjut di perairan Natuna Utara.
Kemarin, TNI Angkatan Udara Keempat pesawat itu dikirim untuk melakukan patroli.

Pun demikian dengan China. Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Laksamana Madya Achmad
Taufiqoerrochman menyatakan China kemarin juga lebih dulu mengirim lagi dua kapal Coast Guard
ke perairan Natuna Utara.

Sebelum itu sudah lebih dulu ada tiga kapal Coast Guard China, dua di antaranya bertahan di perairan
Natuna Utara. Namun belum diketahui apakah dua kapal yang dikirim itu untuk menggantikan dua
kapal yang sudah lebih dulu, atau justru penambahan kekuatan.

Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo melalui Menko Polhukam Mahfud MD menyinggung
soal kedaulatan di perairan Indonesia. Menurut Jokowi, batas negara harus tetap dijaga dari asing.
"Tidak sejengkal batas pun. Kalau tanah tidak sejengkal tanah, kalau air tidak semili air pun bisa
dimasuki oleh negara asing tanpa izin dan persetujuan pemerintah. Karena menurut Presiden
kedaulatan itu tidak bisa ditukar dengan apapun," kata Mahfud, Senin (6/1).

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana menyebut ada yang
perlu diluruskan dalam konsep 'kedaulatan' dan 'hak berdaulat' di wilayah perairan Indonesia.

Menurutnya, wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang dimasuki kapal Coast Guard China
bukanlah bagian dari wilayah kedaulatan Indonesia.

"Di masyarakat dan berbagai media mempersepsikan bahwa Coast Guard China memasuki wilayah
kedaulatan Indonesia. Padahal persepsi demikian tidak benar," kata Hikmahanto kepada
CNNIndonesia.com, Selasa (7/1).

Hikmahanto menjelaskan secara detail dari segi hukum internasional, ZEE bukan berada di laut
teritorial Indonesia, melainkan di laut lepas (high seas).

Di laut lepas tidak dikenal konsep kedaulatan negara dan karenanya negara tidak boleh melakukan
penegakan kedaulatan. Dalam konsep ZEE seperti ini menurut Hikmahanto, yang diperbolehkan
hanya hak berdaulat.

"Dalam konsep ZEE sumber daya alam yang ada dalam ZEE diperuntukkan secara eksklusif bagi
negara pantai. Inilah yang disebut sebagai hak berdaulat atau sovereign right," jelas Hikmahanto. 

Hal ini, menurut Hikmahanto justru berbeda dengan yang dipersoalkan di kalangan masyarakat, yakni
Indonesia harus menegakkan kedaulatannya di perairan Natuna Utara sebagai bagian dari NKRI. Kata
dia, kalaupun ada keterlibatan kapal-kapal dan personil TNI-AL maka pelibatan tersebut dalam
rangka penegakan hukum.

Untuk diketahui berdasarkan Pasal 9 ayat (2) UU TNI maka TNI-AL selain bertugas untuk
menegakkan kedaulatan, diberi tugas untuk menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah
laut yurisdiksi nasional.

"Adapun yang dimaksud wilayah laut yurisdiksi nasional salah satunya adalah ZEE," tegas dia.

Dari berbagai sumber dijelaskan ZEE merupakan zona yang luasnya 200 mil laut dari garis dasar
pantai sebuah negara yang mana dalam zona tersebut sebuah negara pantai mempunyai hak atas
kekayaan alam di dalamnya.

Negara juga berhak menggunakan kebijakan hukumnya, kebebasan bernavigasi, terbang di atasnya,
ataupun melakukan penanaman kabel dan pipa. Konsep dari ZEE muncul dari kebutuhan yang
mendesak.

Dari ZEE ini muncul Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut atau United Nations
Convention on the Law of the Sea (UNCLOS). Dalam penggunaan Indonesia biasa disebut Konvensi
Hukum Laut Internasional atau Hukum Perjanjian Laut.
Sementara itu Pengadilan Arbitrase Tetap Internasional (Permanent Court of Arbitration/PCA) yang
berada di bawah naungan PBB pernah memutus China melanggar kedaulatan Filipina di Laut Cina
Selatan. Hal itu otomatis membuat klaim China atas ZEE Natuna Indonesia juga tidak sah.

Saat ini sudah ada 158 negara, termasuk Uni Eropa, telah bergabung dalam konvensi. Termasuk
China dan Indonesia turut bergabung di dalamnya.

Namun, China tidak mengakui klaim Indonesia atas ZEE Natuna Utara karena zona itu berada di
dalam nine dash line atau sembilan garis putus dan pulau yang dipegang teguh China. Perairan sejenis
ZEE itu disebut oleh China sebagai Traditional Fishing Grounds.

Konsep teritori penangkapan ikan tradisional yang dipakai China itu berbeda di zaman sekarang,
terutama sebagaimana diatur dalam UNCLOS.

"Dalam UNCLOS konsep yang dikenal adalah Traditional Fishing Rights, bukan Traditional Fishing
Grounds. Indonesia sudah sejak lama mempertanyakan kepada pemerintah China apa yang dimaksud
dengan Sembilan Garis Putus," ujar Hikmahanto.

Kejadian ini diambil Hikmahanto menyusul perkara Pulau Sipadan dan Ligitan antara Indonesia
melawan Malaysia. Saat itu, Mahkamah Internasional memenangkan Malaysia atas kehadiran fisik
ini.

Adapun beberapa bentuk kehadiran fisik yang bisa dilakukan oleh Indonesia. Pertama dengan nelayan
Indonesia memancing di Natuna Utara, kedua perlu melakukan ekplorasi dan eksploitasi di landas
kontinen.

Ketiga patroli penegakan hukum oleh Bakamla, KKP, TNI AL, dan Kepolisian ditingkatkan untuk
menangkapi nelayan-nelayan asing termasuk dari China.

"Terakhir, patroli juga untuk melindungi nelayan Indonesia dan terus melakukan eksploitasi sumber
daya alam di landas kontinen," tutup dia. (ctr/osc)

Komentar :

Komentar : dalam segala nya pemerintah harus lebih giat lagi dalam melakukan pengawasan dan
segala nya apapun peraturan yang dikeluarkan harus menyeluruh dan memberikan dampak yang
baik bagi masyarakat dan juga bisa memberikan kepastian yang baik bagi pemerintah, dan juga
masalah ini harus diusust dengan sampai tuntas agar tidak ada lagi kejadian yang mengakibatkan
kerugian bagi negara dan para penegak keamanan harus lebih sigap lagi dan juga waspada .

4. Pemberantasan Penangkapan Ikan Ilegal Berdasarkan "Advisory Opinion"


Mahkamah Hukum Laut Internasional
08/07/2015, 07:00 WIB
Kompas.com

kita mungkin
masih ingat
terobosan-
terobosan
Menteri
Kelautan dan
Perikanan, Susi
Pudjiastuti,
untuk
mengatasi
masalah
penangkapan
ikan ilegal atau
istilah reinua
Illegal,
Unreported, and
Unregulated
Fishing (IUU
Fising). Tidak
hanya di
Indonesia, masalah IUU Fishing merupakan masalah yang dihadapi banyak negara di dunia. Untuk
itu, masalah ini memerlukan penanganan komprehensif dan melibatkan berbagai negara pantai di
mana IUU Fishing dilakukan, negara bendera kapal dari kapal yang melakukan IUU Fishing, maupun
negara pelabuhan tempat kapal-kapal pelaku IUU Fishing bersandar dan menjual hasil tangkapannya.
Kerjasama internasional maupun regional telah banyak dilakukan dalam upaya pemberantasan IUU
Fishing. Namun permasalahan yang kerap dihadapi adalah ketidakmampuan (atau ketidakmauan?)
dari negara terkait untuk mengikuti upaya pemberantasan IUU Fishing. Berkaitan dengan hal tersebut,
pada 23 Maret 2013, Sub Regional Fisheries Organization (SRFO) yang beranggotakan negara-negara
di belahan barat dunia seperti Cape Verde, Gambia, Guinea, Guinea Bissau, Mauritania, Senegal, dan
Sierra Leone, mengajukan permintaan Advisory Opinion (AO) kepada Mahkamah Hukum Laut
Internasional (ITLOS). Mahkamah ini adalah pengadilan internasional khusus hukum laut yang
didirikan berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 (the United Nations Convention on
the Law of the Sea) atau yang biasa disebut dengan UNCLOS. AO tidak serta-merta memberikan
putusan yang mengikat negara-negara secara langsung, namun memberikan penafsiran lebih lanjut
dari suatu ketentuan hukum internasional. Salah satu pertanyaan dari SRFO kepada ITLOS adalah apa
tanggung jawab negara bendera kapal terhadap IUU Fishing di negara ketiga yang dilakukan oleh
kapal yang mengibarkan benderanya serta sejauh mana negara bendera kapal bertanggung jawab?
Dalam putusannya, disampaikan pada 2 April 2015, ITLOS menyatakan bahwa negara bendera kapal
memiliki due diligence obligation untuk memastikan bahwa kapal yang mengibarkan benderanya
tidak terlibat dalam IUU Fishing atau aktivitas lain yang bertentangan dengan upaya perlindungan dan
konservasi lingkungan laut. Lebih lanjut, ITLOS menyatakan negara bendera kapal tidak serta-merta
bertanggung jawab terhadap kegiatan IUU Fishing oleh kapal yang mengibarkan benderanya karena
kegiatan tersebut merupakan kegiatan individu. Tetapi, negara bendera kapal dianggap tidak
memenuhi kewajiban tersebut jika gagal untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk
mencegah keterlibatan kapal yang mengibarkan benderanya dalam kegiatan IUUF. Meskipun AO ini
tidak memberikan putusan langsung yang mengikat secara hukum, penafsiran ITLOS dapat dikatakan
mempengaruhi negara-negara lain selain anggota SRFO. Pasalnya, jawaban ITLOS merupakan
penafsiran dari ketentuan-ketentuan UNCLOS.
Dengan demikian, meskipun AO diajukan negara-negara anggota SRFO, negara-negara lain yang
menjadi pihak dari UNCLOS, termasuk Indonesia, dimungkinkan untuk memanfaatkan penafsiran
lebih lanjut dari UNCLOS melalui AO untuk memberantas IUU Fishing. Pertimbangan-pertimbangan
hakim dalam AO juga relevan bagi seluruh negara pihak UNCLOS, di antaranya adalah kewajiban
untuk melindungi lingkungan laut berlaku bagi seluruh negara. Indonesia bisa menjadikan penafsiran
dalam AO ini untuk mengajak negara bendera kapal dari kapal-kapal yang terlibat IUU Fishing di
ZEE Indonesia untuk melakukan investigasi dan memberikan sanksi terhadap pihak-pihak yang
terlibat. Jika negara bendera kapal menolak untuk bekerjasama, tidak tertutup kemungkinan Indonesia
dapat mengajukan tuntutan terhadap negara tersebut ke ITLOS dan untuk pertama kali menguji
aplikasi dari penafsiran ITLOS pada AO. Dalam hal ini, apakah ITLOS akan mengabulkan tuntuan
Indonesia bukanlah menjadi tujuan utama, tapi dengan langkah tersebut maka hakim akan
memberikan pertimbangan hukum yang akan memperjelas hak dan kewajiban negara-negara,
khususnya dalam pemberantasan IUU Fishing. Sudah saatnya Indonesia sebagai negara kepulauan
yang sedang giat membangun potensi maritimnya memanfaatkan mekanisme hukum internasional dan
menunjukan kemampuannya untuk menjadi barometer hukum laut dunia. (Penulis adalah lulusan
program master dan doktor dari the University of Virginia School of Law dan Training Fellow pada
ITLOS (2013-2014). Tulisan ini adalah pendapat pribadi)

komentar : mengenai hal pemberantasa IUU fishing indonesia juga perlu melakukan banyak
lagi kegiatan yang bertujuan mengenai kemampuan untuk menjadi barometer hukum laut
dunia,indonesia harus lebih bisa memiliki pandangan mengenai barometer hukum laut dunia
dan peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam penanganan hukum laut dan hal hal yang
berhubungan atas perkembangan laut khusus nya di indonesia

5. Malaysia Tak Ingin Berperang di Laut China Selatan


CNN Indonesia | Selasa, 28/01/2020 07:03 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Pertahanan Malaysia Mohamad Sabu mengatakan negara mereka
tak menginginkan ada konflik bahkan perang terbuka di Laut China Selatan.

Menurut dia, negara Asia Tenggara termasuk Malaysia dan Indonesia akan menanggung kerugian jika
terjadi konflik terbuka dengan negara besar di perairan yang menjadi jalur utama perdagangan
internasional itu.

"Kami ingin pastikan supaya tidak ada peperangan di kawasan ini (Laut China Selatan). Jika berlaku
ketegangan di sini (Laut China Selatan), yang akan merugi adalah negara di sekitar perairan itu," kata
Mat Sabu, sapaan Mohamad Sabu dalam wawancara eksklusif dengan CNNIndonesia.com di Jakarta,
pada Jumat (24/1)

"Sedangkan negara besar seperti Amerika Serikat tidak akan terkena karena jauh. Yang akan
tanggung dampaknya adalah kita (negara di Asia Tenggara)," tuturnya menambahkan.

Mat Sabu mengatakan sebagai negara maritim, Indonesia perlu memperkuat pertahanan negara
terutama angkatan laut.

Selain itu, ia menegaskan bahwa negara di Asia Tenggara harus mengutamakan dialog dengan
negara-negara besar seperti China dan AS yang kerap terlibat dalam konflik di Laut China Selatan.

Seperti negara-negara besar yang sedang cari pengaruh (di Laut China Selatan), kita harus enggage
mereka seperti AS, China, dan Rusia, supaya adakan dialog," kata dia.

China mengklaim 90 persen perairan Laut China Selatan sebagai wilayahnya. Sejak itu, perairan yang
kaya sumber daya alam itu menjadi rawan konflik.
Malaysia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki klaim wilayah yang tumpang
tindih dengan China di Laut China Selatan. Selain Malaysia, Filipina, Vietnam, Kamboja, dan
Thailand juga bersengketa dengan China di perairan itu.

Meski Pengadilan Permanen Arbitrase Internasional menolak klaim Beijing di Laut China Selatan
pada 2016 lalu, pemerintahan Presiden Xi Jinping berkeras membangun sejumlah instalasi militer
bahkan pulau buatan di perairan itu.

tak hanya memasuki wilayah, puluhan kapal ikan China itu juga menangkap ikan di ZEE Indonesia
dengan kawalan kapal coast guard dan kapal perang fregat pemerintah Tiongkok. Meski sempat
menjauhi ZEE Indonesia setelah diusir Badan Keamanan Laut RI (Bakamla), kapal-kapal China itu
kembali lagi memasuki ZEE.

indonesia melayangkan protes terhadap China, namun Beijing menolak dengan mengklaim bahwa
perairan di sekitar Natuna itu bagian dari Laut China Selatan. Beijing mengatakan nelayannya sudah
puluhan tahun mencari ikan di perairan itu sehingga negaranya memiliki hak historis terhadap Laut
China Selatan.

Sejumlah pihak khawatir insiden China dan RI ini dapat menghambat negosiasi CoC yang sudah
belasan tahun digodok.

Namun, kekhawatiran itu mereda setelah Menteri Koordinator Bidang politik Hukum dan Keamanan
Mahfud MD menyebut pemerintah Indonesia dan China telah bersepakat bahwa tak ada perselisihan
lagi mengenai perairan Natuna. (rds/d

komentar : menurut saya pemerintah malaysia memiliki hak mereka sendiri dalam
menentukan pilihan semua permasalahan yang terjadi juga akan memiliki jalan keluar
nya sendiri seperti hal nya mengenai permasalahan mereka.
Seperi yang diketahui Malaysia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang
memiliki klaim wilayah yang tumpang tindih dengan China di Laut China Selatan.
Selain Malaysia, Filipina, Vietnam, Kamboja, dan Thailand juga bersengketa dengan
China di perairan itu yang sudah dijelaskan dalam hal klaim satu sama lain
pemerintah dari kedua bela pihak harus bisa menentukan apa saja yang harus
diputuskan dan dicari jalan keluar nya .

6. Greenpeace Desak RI Dukung Perjanjian Laut Internasional


CNN Indonesia | Minggu, 09/02/2020 21:10 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Greenpeace Indonesia mendesak pemerintah Indonesia untuk ikut serta
mewujudkan terbentuknya Perjanjian Laut Internasional (Global International Treaty) yang akan
dibicarakan di Kantor Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), Amerika Serikat, pada Maret 2020.

Juru kampanye Greenpeace Indonesia Arifsyah Nasution menuturkan perjanjian itu penting untuk
melindungi laut dari krisis iklim.
 
"Kami meminta kepada pemerintah Indonesia dan publik untuk mendukung sebuah perjanjian global
baru yang akan dibicarakan pada putaran keempat bulan depan," ujar Arifsyah di sela kampanye di
depan Kantor Kemenko Kemaritiman, Jakarta, Minggu (9/2).
 
Arifsyah menuturkan terwujudnya perjanjian internasional itu diprediksi bisa memulihkan 30 persen
populasi liar di laut yang kini rusak karena krisis iklim. Dampaknya untuk Indonesia, dia menyebut
stok ikan akan melimpah.

Dia berkata ikan laut lepas yang terlindungi habitatnya akibat perjanjian itu berpotensi masuk ke
perairan Indonesia yang berbatasan dengan sejumlah perairan internasional.
 
Perjanjian Laut Internasional, kata Arifsyah, nantinya berisi kerangka hukum untuk perlindungan
perairan internasional yang memungkinkan terbentuknya Kawasan Konservasi Laut yang bebas dari
aktivitas manusia yang berbahaya.
 
Lebih lanjut, Arifsyah menilai Indonesia sudah memberi sinyal untuk mendukung perjanjian tersebut.
Akan tetapi, dia meminta pemerintah untuk memberi pernyataan yang lebih tegas terhadap perjanjian
internasional tersebut dan krisis iklim yang saat ini terjadi.
 
"Sejauh ini kami belum melihat Indonesia memiliki ambisi yang cukup ambisius untuk menyatakan
dukungannya," ujarnya.
Di sisi lain, Arifsyah juga meminta Indonesia yang diwakili oleh Menko Kemaritiman dan Investasi
Luhut Binsar Pandjaitan tidak sekedar ikut dalam mewujudkan perjanjian tersebut.

Dia berharap Indonesia meratifikasi atau mengadopsi perjanjian internasional itu mengingat peraturan
tersebut adalah peraturan tambahan dari Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) pada 1982.
 
"Jadi Indonesia sudah meratifikasi UNCLOS 1982 sehingga apapun yang akan dilahirkan dari proses
negosiasi di tingkat global akan menjadi komitmen Indonesia. Yang kami lihat adalah bagaimana
akselerasi perjanjian tambahan ini terwujud di tahun ini," ujar Arifsyah.
 
Arifsyah menambahkan periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo menampilkan
kemunduran terhadap perlindungan lingkungan. Dia menyebut hal itu semestinya tidak terjadi jika
pemerintahan Jokowi konsisten terhadap apa yang sudah dilakukan di periode pertama.

Beberapa kemunduran yang diperlihatkan di periode kedua Jokowi, kata Arifsyah, yakni atur ulang
kebijakan yang memungkinkan kapal ikan asing beroperasi di perairan Indonesia dan pelonggaran
alih maut ikan di tengah laut.
 
"Kami melihat ada sebuah kegamangan dukungan Indonesia terhadap perlindungan laut. Jadi kami
melihat ada sebuah kontradiksi yang terjadi di periode kedua," ujarnya.
 
Lebih dari itu, Arifsyah menyampaikan kampanye serupa juga dilakukan di Makassar, Bandung,
Pekanbaru, Semarang, Yogyakarta, dan Padang. DIa juga menyampaikan relawan Greenpeace di
seluruh dunia melakukan kampanye serupa dengan menempatkan pahatan es berbentuk pinguin
sebagai seruan untuk mewujudkan perlindungan laut global.
 
Patung es digunakan untuk memberi pesan kepada pemerintah tentang dampak perubahan iklim
terhadap satwa laut.
 
Kapal Greenpeace, yakni Arctic Sunrise dan Esperanza dikabarkan tengah berada di Antartika untuk
meneliti ancaman perubahan iklim terhadap laut.

komentar : pemerintah harus memberikan keputusan agar jelas bagaimana jalan nya dan juga
pemerintah harus bisa memberikan yang terbaik dan sudah diketahui Indonesia sudah
meratifikasi UNCLOS 1982 sehingga apapun yang akan dilahirkan dari proses negosiasi di
tingkat global akan menjadi komitmen Indonesia. Yang kami lihat adalah bagaimana akselerasi
perjanjian tambahan ini terwujud di tahun in ini bisa memberikan setidaknya jadi sebuah
pemberitahuan yang bisa dikatakan adanya kemauan indonesia dalam melakukan peran nya
terutama dalam perlindungan laut .

7. Kerjasama Bea Cukai dan Ditjen Perhubungan Laut Perketat Penegakan


Hukum di Laut
Rabu, 16 Januari 2019 10:29 WIB
Tribunnews.com

Bea Cukai dan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla) menandatangani nota
kesepahaman dalam rangka pengawasan lalu lintas barang, sarana pengangkut laut, dan
pertukaran data terkait surat persetujuan berlayar, serta surat tanda kebangsaan kapal
indonesia.

Sinergi ini dilakukan untuk semakin meningkatkan maritime awareness mengintegrasikan


pola serta sistem pengawasan yang dilakukan Kementerian/Lembaga yang memiliki
kewenangan hukum di laut.

Direktur Jenderal Bea Cukai, Heru Pambudi menyatakan bahwa tantangan tugas yang
dihadapi para penegak hukum di laut, membuat sinergi menjadi hal yang tidak bisa ditunda
lagi.

Dalam melakukan pengawasan di laut, aparat penegak hukum dihadapkan dengan modus-
modus yang terus berkembang, oleh karena itu sinergi antara Bea Cukai dan Ditjen Hubla
merupakan salah satu upaya nyata untuk meningkatkan efektivitas pengawasan,” ungkap
Heru pada acara peluncuran Program Nasional Penertiban Kawasan Bebas Batam dan Pesisir
Timur Sumatera.

Hal tersebut juga dilatarbelakangi oleh fakta di mana Indonesia merupakan negara kepulauan
terbesar di dunia yang memiliki 17.499 pulau dari Sabang hingga Merauke dengan luas total
wilayah mencapai 7,81 juta km² yang terdiri dari 3.25 juta km² lautan dan 2.55 juta km² Zona
Ekonomi Eksklusif.

Selain itu, Indonesia memiliki garis pantai terpanjang nomor 2 di dunia dengan panjang
99.093 km, juga berbatasan dengan 11 negara tetangga.
Heru menambahkan bahwa lingkup nota kesepahaman ini mencakup pertukaran data dan
informasi, sosialisasi terkait peraturan, kebijakan, dan kewenangan masing-masing instansi
dan kerja sama lainnya di bidang pengawasan laut.

“Elemen data yang dipertukarkan meliputi data elektronik dan data non elektronik terkait
pengawasan lalu lintas barang dan sarana pengangkut laut,” ujar Heru.

Selain kerja sama dengan Ditjen Hubla, Kementerian Keuangan dan Bea Cukai juga telah
menjalin sinergi berupa penandatanganan nota kesepahaman dengan beberapa
Kementerian/Lembaga dan aparat penegak hukum di bidang pengawasan, di antaranya MoU
Pemanfaatan Jaringan Interpol I-24/7 Guna Pengawasan Lalu Lintas Barang Dalam Rangka
Penanggulangan Kejahatan Transnasional, dan MoU Kerja Sama Dalam Pelaksanaan Tugas
dan Fungsi Kementerian Keuangan dengan Tentara Nasional Indonesia.

ejalan dengan hal tersebut, Bea Cukai juga telah menjalin kerja sama dengan berbagai
Kementerian/Lembaga di antaranya kerja sama Bea Cukai dengan Pusat Pelaporan dan
Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam pelaksanaan Undang-Undang Nomor 25
Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, Kerja sama dengan Badan Pengawas
Tenaga Nuklir dalam Pelaksanaan Pengawasan Lalu Lintas Bahan dan Barang Dalam
Lingkup Ketenaganukliran di Kawasan Pabean Indonesia, dan kerja sama dengan Direktorat
Jenderal Imigrasi dalam hal Pertukaran Data Penumpang dalam Sistem Passenger Analyzing
Unit dengan Data Keimigrasian dalam Sistem Imformasi Manajemen Keimigrasian dan
Penanganan Dugaan Pelanggaran Hukum di Perbatasan.

Heru berharap dengan penandatanganan nota kesepahaman dengan Ditjen Hubla akan dapat
semakin meningkatkan efektivitas pengawasan serta mendukung eksistensi kedaulatan negara
Indonesia.

“Diharapkan dengan kerja sama ini akan mendukung eksistensi kedaulatan negara Indonesia
dalam berbagai aspek, yaitu aspek Maritime Security dan aspek Maritime Prosperity untuk
kemajuan bangsa dan negara Indonesia,” pungkas Heru.

Komentar : ini sangat bagus dan semoga dengan adanya pendatanganan nota
kesepahaman Ditjen Hubla dapat memberikan dan mendukung dalam segala aspek
maritim dan juga semakian giat dalam melakukan pengawasan pasti serta menjaga
negara indonesia dengan baik

8. 1,14 Ton Sampah Terkumpul dari Laut RI Dalam Sehari


News - Lidya Kembaren, CNBC Indonesia

21 August 2018 13:37


Jakarta, CNBC Indonesia- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
menetapkan 19 Agustus sebagai hari Menghadap Laut yang diperingati setiap tahun.
Di hari ini, setiap kota yang memiliki laut, warganya akan serentak membersihkan
laut yang ada di sekitar mereka.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, tadinya KKP ingin
menjadikan hari menghadap laut bertepatan dengan hari kemerdekaan RI tapi saat itu
sampah pasti belum banyak sehingga ditetapkan setelah hari perayaan tersebut.

Kita pakai 19 Agustus sebagai hari menghadap laut. Saya harapkan kegiatan ini bisa
lebih sering dilakukan," ujar Susi di kantornya, Jakarta, Selasa (21/8/2018).

Susi juga menegaskan bahwa masyarakat harus terus menjaga dan merawat keindahan
alam laut. Oleh karenanya ia meminta untuk menjaga kebersihan dengan tidak
membuang sampah sembarangan.

"Kita ingin kesadaran masyarakat untuk menjadikan laut bukan tempat sampah tapi
tempat yang kita hadap, cinta dan rawat. Itu yang paling penting. Mudah-mudahan
setiap kota akan peringati ini untuk kebersihan pantainya," kata dia.

Kegiatan membersihkan laut ini telah dilaksanakan pada 19 Agustus pada pukul 3
sore dengan nama gerakan menghadap ke pantai. Kegiatan ini dilaksanakan di 73
lokasi.

"tapi karena banyak yang antusias maka kegiatan lebih dari 73 titik dan masih banyak
lagi. Tentu saja hari ini saya sebagai pembina laut nusantara mengucapkan apresiasi
dan terimakasih sebesar-besarnya kepada partisipan dan community yang cinta dan
ingin menjaga laut yang telah melaksanakan kegiatan ini."

Dari kegiatan ini, sampah yang berhasil dikumpulkan sekitar 1,14 ton sampah dengan
rincian 45,2 kg sampah karet, 138,5 kg sampah plastik, 144,2 kg sampah tali atau
jaring dan 815,7 kg sampah campuran. (gus)

Komentar : kegiatan seperti ini harus terus dilakukan untuk menjaga


kebersihan laut agar selalu bersih pemerintah harus lebih giat lagi misalnnya
dalam membentuk suartu aparat dalam membersihkan laut agar kebersihan
dapat selalu ada agar laut menjadi sehat juga utama nya .

Sampah sampah yang banyak membuat tidak semua nya bisa dibersihka disini
peran pemerintah sangat dibutuhkan agar kebersihan laut selalu terjaga dengan
baik .

PENUTUP

demikian lah yang bisa saya sampaikan dari makalah mengenai berita hukum laut semoga bisa
memberikan pemahaman mengenai apa saja berita berita laut .
semoga dengan adannya makalah ini bisa memberikan pemahaman mengenai laut memberikan juga
pandangan pandangan mengenai berita berita laut yang menyita perhatian .

apabilla ada kesalahan terhadap penulisan makalah ini saya mohon maaf karena kritik dan saran
sangat saya butuhkan Walaupun saya menginginkan kesempurnaan dalam makalah ini, tapi pada
kenyataannya masih banyak kekurangan yang perlu penulis perbaiki. Hal tersebut dikarenakan masih
minimnya pengetahuan penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran dari para pembaca sangat diharapkan
oleh penulis sebagai bahan evaluasi untuk kedepannya terima kasih