Anda di halaman 1dari 90

TUGAS RESUME KMBII

ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PERKEMIHAN

OLEH :

POPY RAHAYU INAKU


(2118008)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
GEMA INSAN AKADEMIK
MAKASSAR
2020
PEMBAHASAN

1. ISK (INFEKSI SALURAN KEMIH)


a. Definisi
Infeksi saluran kemih adalah infeksi akibat berkembang biaknya
mikroorganisme di dalam saluran kemih, yang dalam keadaan normal air kemih
tidak mengandung bakteri, virus atau mikroorganisme lain. Infeksi saluran kemih
dapat terjadi pada pria maupun wanita dari semua umur, dan dari kedua jenis
kelamin ternyata wanita lebih sering menderita infeksi ini daripada pria
b. Etiologi
1. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan Infeksi Saluran Kencing :
a. E. coli 90% menyebabkan ISK Uncomplicated
b. Pseudomnas, prosteus, Klebsiella : penyebab ISK Complicated
c. Enterobacter, staphylococus epidemis, enterococus ,dan lain –lain .
2. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut antara lain :
a. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengososngan
kandung kemih yang kurang efektif.
b. Mobilisasi yang menurun
c. Nutrisi yang kurang baik
d. Sistem imunitas yang menurun, baik selular maupun humoral
e. Adanyahambatan pada aliran urin
f. Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat
3. Secara khusus, etiologi ISK berdasarkan jenisnya
a. Sistis
1) Disebabkan oleh bakteri dari vagina yang berpindah dari uretra ke
kandung kemih.
2) Wanita yang menderita isk setelah melakukan hubungan intim,
dikarenakan uretra yang cidera.
3) Vistula vesikovaginal (hubungan abnormal antara kandung kemih dan
vagina )
4) Akibat pemasangan kateter atau alat yang digunakan selama penbedahan
b. Urethritis
1) Penyebab bisa berupa bakteri, jamur atau virus yang berasal dari usus
besar sampai ke vagina melalui anus.
2) Nesseria gonorrhoea penyebab gonore, bakteri yang masuk ke vagina
atau penis pada saat melakukan hubungan seksual.
3) Paling sering disebabkan oleh gonococus
c. Prostattitis
Disebabkan oleh pertumbuhan bakteri di akibatkan oleh urin yang tertahan
pada kandung kemih sehingga menjalar dan terjadilah radang pada
prostat

c. Manifestasi Klinis
a. Anyang-anyangatan atau rasa ingin buang air kecil lagi, meski sudah dicoba
untuk berkemih, namun tidak ada air kencing yang keluar
b. Sering kencing, atau sering kesakitan ketika kencing, air kencing bisa
berwarna putih, coklat atau kemerahan, dan baunya sangat menyengat
c. Warna air kencing kental/pekat seperti air teh, kadang kemerahan bila ada
darah
d. Nyeri pada pinggang
e. Demam atau menggigil, yang dapat menandakan bahwa infeksi sudah
mencapai ginjal (diiringi rasa nyeri disis bawah belakang rusuk, mual dan
muntah)
f. Peradangan kronis pada kandung kemih yang berlanjut dan tidak sembuh,
dapat memicu terjadinya kanker pada kandung kemih.
g. Pada bayi gejalanya berupa demam, berat badan sukar naik atau anoreksia

g. Pemeriksaan Diagnostik
1. Laboratorium
a. Urinalisa untuk melihat adanya infeksi hematuria
b. Ureum, kreatinin, elektrolit untuk melihat fungsi ginjal .
2. Pengukuran berat derajat obstruksi
a. Menentukan jumlah sisa urin setelah penderita miksi spontan (normal,sisa urin
kosong dan batas intervensi sisa urin lebih dari 100 cc)
b. Pancaran urin (oroflowmetri)
syarat : jumlah urin dalam vesika 125 sampai dengan 150 ml. Angka normal
rata-rata 10-12 ml/ detik, obstruksi ringan
3. Pemeriksaan lain
a. BNO ( Blass Nier Overzicht) /IVP (Intravenous Pyleogram)
adalah studi sinar x terhadap ginjal, rahim dan saluran kemih, dilakukan untuk
menentukan adanya divertikel, penebalan bladder.
b. Trans abdominal USG
Dilakukan untuk mendeteksi bagian prostat yang meonjol ke buli-buli, yang
dipakai untuk meramalkan derajat berat obstruksi apabila ada batu di dalam
vesika.
c. Sitoscopy , yaitu untuk melihat apakan ada penebalan pada bladder.

h. Penatalaksanaan
a. Pemberian agens antibakterial yang secara efektif menghilangkan bakteri
dari traktus urinarius dengan efek minima terhadap flora fekal dan vagina
dengan demikian memperkecil infeksi ragi vagina.
b. Variasi program pengobatan telah mengobat infeksi saluran kemih ini,
misalnya dosis tunggal program medikasi short cause (3-4 hari) atau long
course (7-10 hari).
c. Penggunaan medikasi mencakup sulfisoxasol, sulfamethoxazole.
d. Pemakaian antimikrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan
infeksi
e. jika kekambuhan terjadi setelah agens mikrobial selesai diberikan, maka
program short medikasi (3-4 hari) dari terapi antimikrobial dosis penuh
diberikan
f. jika kekambuhan tidak terjadi, maka medikasi diberikan setiap malam
berikutnya selama 6-7 bulan.
f. Komplikasi
Infeksi saluran kemih yang dibiarkan tidak tertangani dapat menyebabkan
infeksi ginjal (pielonefritis). Kondisi ini akan mengakibatkan kerusakan ginjal
permanen. ISK juga berisiko untuk kambuh dalam kurun waktu 6 bulan, atau
hingga empat kali dalam setahun.
Sejumlah komplikasi lain yang dapat terjadi akibat ISK yang tidak tertangani
adalah:
 Sepsis, yaitu kondisi berbahaya akibat infeksi, terutama bila infeksi
menyebar hingga ke ginjal.
 Striktur uretra (penyempitan uretra pada pria).
 Kelahiran prematur dan bayi terlahir dengan berat badan lahir rendah, jika
dialami oleh wanita hamil.

g. Diagnosa Keperawatan Prioritas dan Intervensi


1. Nyeri berhubungan dengan inflamasi urethra, kandung kemih, dan striktur
traktus urinaris lainnya
Intervensi :
GUIDANCE
1. Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensifnmeliputi lokasi, karakteristik,
awitan, dan durasi, frekuansi, kulaitas, intensitas atau keparahan nyeri dan
faktor presipitasinya.
R/ Mengumpulkan informasi atau data yang dapat membantu dalam
menentukan pilihan /keefektifan intervensi.
2. Observasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan, khususnya bagi mereka yang
tidak mampu berkomunikasi efektif.
R/ memperkuat data sebelumnya dalam penentuan intervensi
3. Minta pasien untuk menilai nyeri atau ketidaknyamanan pada skala 0-10 ( 0
= tidak ada nyeri , 10 = nyeri hebat )/
R/ Mengetahui derajat / tingkat keparahan nyeri
SUPPORT
1. Berikan tindakan kenyamanan seperti pijatan pada punggung, membantu
pasien mendapatkan posisi nyaman, mendorong penggunaan relaksasi
napas dalam di dalam aktivitas teraputik.
R/ Meningkatkan relaksasi , memfokuskan kembali perthatian, dan dapat
meniingkatkan kemampuan koping.
2. Bantu pasien untuk lebih fokus pada aktivitas, bukan pada nyeri dan rasa
tidak nyaman dengan melakukan pengalihan melalui televisi, radio, tape, dan
interaksi dengan pengunjung.
R/ Membantu pasien dalam managemen nyeri dan menurunkan tingkat nyeri
pasien.
TEACHING
1. Ajarkan pasien teknik nonfarmakologis (misalnya umpan balik biologis,
Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS), hipnosis, relaksasi,
imajinasi terbimbing, terapi musik, distraksi, terapi bermain, terapi aktivitas,
kompres hangat dingin dan juga masase) sebelum, sesudah dan bila
memungkinkan selama aktivitas yang menimbulkan nyeri , sebelum nyeri
terjadi atau meninigkat, dan bersamaan dengan teknik peredaan nyeri yang
lainnya.
R/Meningkatkan kemampuan dan pengetahuan pasien dalam upaya
meringkankan atau menghilangkan nyeri sampai pada tingkat kenyamanan
yang dapat diterima oleh pasien.
2. Instruksikan pasien untuk menginformasikan kepada perawat bila peredaan
nyeri tidak dapat dicapai.
R/ Memungkinkan tindakan cepat untuk melakukan intervensi lain bila
intervensi pertama tidak berhasil.
DEV. ENVIRONTMENT
1. Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman seperti menginfomasikan
keluarga untuk tidak memadati ruangan.
R/Meminimalkan pengunjung dapat membuta suasana lebih tenang dan
pasien dapat beristirahat dengan baik.
COLABORATION
 Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian medikasi pengendalian
nyeri sebelum nyeri menjadi lebih berat
R/ Pemberian analgetik dapat menghilangkan nyeri dan juga
mencegah nyeri menjadi lebih berat.
 Laporkan kepada dokter bila tindakan tidak berhasil dan jika keluhan
saat ini merupakan perubahan yang bermakna dari pengalaman nyeri
di masa lalu.
R/ Memudahkan intervensi tambahan bila intervensi awal tidak
berhasil.
2. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan obstruksi mekanik pada
kandung kemih dan striktur traktus urinarius lainnya
Intervensi :
GUIDANCE
Pantau eliminasi urin meliputi frekuensi, konsistensi, bau, volume, dan warna
urin bila perlu

R/ Pengumpulan data yang dapat digunakan untuk memudahkan intervensi


dan mempertahankan pola eliminasi urin yang optimum.
 Kumpulkan porsi urin spasimen tengah untuk urinalisis bila perlu
R/ Memudahkan dalam mendapatkan data penunjang untuk
mengakaji adanya kemungkina pertumbuhan mikroorganisme di urin .
SUPPORT
 Membantu pasien untuk toileting secraa berkala
R/ Memaksimalkan fungsi miksi pasien.
TEACHING
 Ajarkan pasien tentang tanda dan gejala infeksi saluran kencing.
R/ Memudahkan pasien untuk mendapatkan informasi seputar
penyakitnya.
 Instruksikan pasien dan juga keluarga untuk mencatat haluaran urin
bila diperlukan
R/ Membantu dalam pengumpulan data seputar haluaran urin pasien.
 Anjurkan pasien untuk minum 200 ml cairan saat makan, diantara
waktu makan, dan di waktu petang.
R/ Menghindari terjadinya koonstipasi dan pencegahan impaks tinja
DEV. ENVIRONTMEN
 Merangsang refleks kandung kemih dengan menerapkan dingin untuk
perut atau mengusap dengan air.
R/ Menciptakan suasana dingin dapat merangsang klien untuk
berkemih.
COLABORATION
 Rujuk ke dokter jika terdapat tanda dan gejala infeksi saluran kemih.
R/ Mempertahankan pola eliminasi urin yang optimum dengan
mengobati penyakitnya.
3. Retensi urin berhubungan dengan sumbatan, tingginya tekanan urethra yang
disebaabkan oleh kelamahan destrusor, inhibisi arkus refleks, sfingter yang
kuat
Intervensi :
GUIDANCE
1. Identifikasi dan dokumentasikan pola pengososnan kandung kemih
2. Monitoring tanda dan gejala infeksi saluran kemih (panas, hematuria,
perubahan bau dan kontinesia urin)
R/Pengumpulan data untuk memperkuat diagnosis dan mempermudah
intervensi
3. Pantau asupan dan haluaran
R/ Menjaga keseimbangan cairan dan juga elektrolit
4. Pantau derajat distensi kandung kemih melalui palapasi dan perkusi
R/ Mengumpulakan data analisa untuk memudahkan intervensi.
SUPPORT
1. Bantu pasien untuk berkemih ke toilet dan berikan waktu untuk berkemih
10 menit
R/ Memaksimalkan fungsi berkemih pasien
2. Lakukan manuver crade bila perlu
3. Dukung pasien dalam eliminasi dengan menyediakan privacy untuk
eliminasi
R/ Membantu pasien untuk miksi secara spontan tanpa hambatan dan
juga gangguan
TEACHING
1. Anjurkan pasien tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih yang
harus dilaporkan (misalnya demam gigil,nyeri pinggang, hematuri , serta
perubahan konsistensi warna dan juga bau )
R/ Memudahkan pasien untuk mendapatkan informasi seputar penyakit
dan memdahkan di dalam penanganan
2. Instruksikan pasien dan juga keluarga untuk mencatat haluaran urin bila
diperlukan
R/ Membantu dalam mengumpulkan data seputar jumlah haluaran urin
pasien
DEV . ENVIRONTMEN
1. Ciptakan lingkungan yang adekuat untuk membantu berkemih seperti
peningkatan privacy dan pemberian kompres dingin pada perut untuk
merangsang berkemih.
R/ Meningkatkan keinginan berkemih pasien melalui managemen
lingkungan.
COLABORATION
1. Rujuk ke perawat terapi enterostoma untuk instruksi katetrisasi intermitten
mandiri menggunakan prosedur bersih setiap 4- 6 jam pada saat terjaga
R/ Pemasangan kateter ke kandung kemih untuk sementara waktu atau
permanen untuk pengeluaran urin
2. Rujuk ke spesialisasi kontinesia bila perlu
R/ Membantu meredakan distensi / retensi kandung kemih.
2. PIELONEFRITIS
a. Definisi
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri yang menyerang ginjal, yang sifatnya
akut maupun kronis. Pielonefritis akut biasanya akan berlangsung selama 1
sampai 2 minggu. Bila pengobatan pada pielonefritis akut tidak sukses maka
dapat menimbulkan gejala lanjut yang disebut dengan pielonefritis kronis.
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala ginjal, tunulus, dan jaringan
interstinal dari salah satu atau kedua gunjal (Brunner & Suddarth, 2002: 1436).
Pielonefritis adalah inflamasi atau infeksi akut pada pelvis renalis, tubula
dan jaringan interstisiel. Penyakit ini terjadi akibat infeksi oleh bakteri enterit
(paling umum adalah Escherichia Coli) yang telah menyebar dari kandung kemih
ke ureter dan ginjal akibat refluks vesikouretral. Penyebab lain pielonefritis
mencakup obstruksi urine atau infeksi, trauma, infeksi yang berasal dari darah,
penyakit ginjal lainnya, kehamilan, atau gangguan metabolik.

b. Etiologi
Escherichia coli (bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di usus
besar) merupakan penyebab dari 90% infeksi ginjal diluar rumah sakit dan
penyebab dari 50% infeksi ginjal di rumah sakit. Selain E.coli bakteri lain yang
juga turut serta dapat mengakibatkan pielonefritis seperti Klebsiella, golongan
Streptokokus. Infeksi biasanya  berasal dari daerah kelamin yang naik ke kandung
kemih. Pada saluran kemih yang sehat, naiknya infeksi ini biasanya bisa dicegah
oleh aliran air kemih yang akan membersihkan organisme dan oleh penutupan
ureter di tempat masuknya ke kandung kemih. Berbagai  penyumbatan fisik pada
aliran air kemih (misalnya batu ginjal atau pembesaran prostat) atau arus balik air
kemih dari kandung kemih ke dalam ureter, akan meningkatkan kemungkinan
terjadinya infeksi ginjal. Infeksi juga bisa dibawa ke ginjal dari bagian tubuh
lainnya melalui aliran darah. Keadaan lainnya yang meningkatkan resiko
terjadinya infeksi ginjal adalah:
 Kehamilan
 Kencing manis
 Keadaan-keadaan yang menyebabkan menurunnya sistem kekebalan
tubuh untuk melawan infeksi.

c. Manifestasi Kinis

Gejala pada klien dengan pielonefritis biasanya timbul secara tiba-tiba


berupa demam, menggigil, nyeri di punggung bagian bawah, mual dan muntah.
Selain itu, beberapa penderita menunjukkan gejala infeksi saluran kemih bagian
bawah biasanya sering berkemih dan nyeri ketika berkemih.
Bisa terjadi pembesaran salah satu atau kedua ginjal. Kadang otot perut
berkontraksi kuat. Bisa terjadi kolik renalis, dimana penderita merasakan nyeri
hebat yang disebabkan oleh kejang ureter. Kejang bisa terjadi karena adanya
iritasi akibat infeksi atau karena lewatnya batu ginjal.
Pada anak-anak, gejala infeksi ginjal seringkali sangat ringan dan lebih sulit
untuk dikenali. Pada infeksi menahun (pielonefritis kronis), nyerinya bersifat samar
dan demam hilang-timbul atau tidak ditemukan demam sama sekali.
Pielonefritis kronis hanya terjadi pada penderita yang memiliki kelainan
utama, seperti penyumbatan saluran kemih, batu ginjal yang besar atau arus balik
air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter (pada anak kecil). Pielonefritis
kronis pada akhirnya bisa merusak ginjal sehingga ginjal tidak dapat berfungsi
sebagaimana mestinya (gagal ginjal). Berikut tanda dan gejala pielonefritis akut
dan pielonefritis kronis.
1. Pielonefritis akut
 Demam
 Menggigil
 nyeri panggul
 nyeri tekan pada sudut kostovetebral (CVA)
 lekositosis
 adanya bakteri dan sel darah putih pada urin
 disuria
 biasanya terjadi pembesaran ginjal disertai infiltrasi interstisial sel-sel
inflamasi.
2. Pielonefritis kronis  
 tanpa gejala infeksi, kecuali terjadi eksaserbasi.
 keletihan
 sakit kepala
 nafsu makan rendah
 poliuria
 haus yang berlebihan
 kehilangan berat badan
 infeksi yg menetap menyebabkan jaringan parut di ginjal, disertai gagal
ginjal  pada akhirnya.

d. Pemeriksaan Diagnostik
a. Whole blood
b. Urinalisis
c. USG dan RADIOLOGI: USG dan rontgen bisa membantu menemukan
adanya batu ginjal, kelainan structural atau penyebab penyumbatan air
kemih lainnya.
d. BUN
e. Creatinin
f. Biopsi Ginjal
g. Pemeriksaan IVP : Pielogram intravena mengidentifikasi perubahan atau
abnormalitas struktur
e. Penatalaksanaan Medis
1. Mengurangi demam dan nyeri dan menentukan obat-obat antimikrobial seperti
trimethroprim-sulfamethoxazole (TMF-SMZ, Septra), gentamycin dengan atau
tanpa ampicilin, cephelosporin, atau ciprofloksasin (cipro) selama 14 hari.
2. Merilekskan otot halus pada ureter dan kandung kemih, meningkatkan rasa
nyaman, dan meningkatkan kapasitas kandung kemih menggunakan obat
farmakologi tambahan antispasmodic dan anticholinergic seperti oxybutinin
(Ditropan) dan propantheline (Pro-Banthine)
3. Pada kasus kronis, pengobatan difokuskan pada pencegahan kerusakan ginjal
secara  progresif.

f. Komplikasi
Ada tiga komplikasi penting dapat ditemukan pada pielonefritis akut:
1. Nekrosis papila ginjal. Sebagai hasil dari proses radang, pasokan darah pada
area medula akan terganggu dan akan diikuti nekrosis papila ginjal, terutama
pada penderita diabetes melitus atau pada tempat terjadinya obstruksi.
2. Fionefrosis. Terjadi apabila ditemukan obstruksi total pada ureter yangdekat
sekali dengan ginjal. Cairan yang terlindung dalam pelvis dansistem kaliks
mengalami supurasi, sehingga ginjal mengalami pereganganakibat adanya pus.
3. Abses perinefrik. Pada waktu infeksi mencapai kapsula ginjal, dan meluaske
dalam jaringan perirenal, terjadi abses perinefrik.
Komplikasi pielonefritis kronis mencakup penyakit ginjal stadium akhir
(mulai dari hilangnya progresifitas nefron akibat inflamasi kronik dan jaringan
parut), hipertensi, dan pembentukan batu ginjal (akibat infeksi kronik disertai
organisme pengurai urea, yang mangakibatkan terbentuknya batu).
a. Pielonefritis akut Prognosis pielonefritis baik bila memperlihatkan penyembuhan
klinis maupun  bakteriologis terhadap antibiotic.
b. Pielonefritis kronis Bila diagnosis pielonefritis kronis terlambat dan kedua ginjal
telah menyusut  pengobatan konserfatif semata-mata untuk mempertahankan
faal jaringan ginjal yang masih utuh.

g. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi


1. Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi dan infeksi pada sistem
urinaria yang ditandai dengan Klien mengeluh nyeri pada bagian pinggang dan
sulit tidur, suhu tubuh meningkat, dan leokosit meningkat.
Intervensi :

a. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,


durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.
b. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.
c. Bantu Klien dan keluarga untuk mencari dan menemukan tindakang
kenyamanan yang efektif yang pernah dilakukan, seperti distraksi, relaksasi,
atau kompres hangat/dingin.
d. Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan
e. Kurangi faktor presipitasi nyeri
f. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk memberikan intervensi yang tepat
g. Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala, relaksasi, distraksi,
kompres hangat/ dingin
h. Kolaborasikan dengan dokter dalam pemberian analgetik untuk mengurangi
nyeri
i. Tingkatkan istirahat
j. Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri
akan berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur
k. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali
2. Gangguan eliminasi urinarius berhubungan dengan infeksi pada saluran kemih
yang di tandai dengan klien sering berkemih, jumlah volume urin meningkat
Intervensi :
a. Kaji pemasukan dan pengeluaran dan karakteristik urin
b. Tentukan pola berkemih normal Klien dan perhatikan variasi
c. Dorong peningkatan pemasukan
d. Kaji keluhan kandung kemih penuh.
e. Awasi pemeriksaan laboratorium; elektrolit, BUN, kreatinin.
f. Lakukan tindakan untuk memelihara asam urin.
Kolaborasikan dalam pemberian antibiotik
3. Hipertermia berhubungan dengan proses peradangan atau infeksi yang ditandai
dengan suhu tubuh meningkat (380 C), kulit hangat dan menggigil.

Intervensi :
a. Monitor suhu sesering mungkin
b. Monitor warna dan suhu kulit
c. Monitor tekanan darah, nadi dan RR
d. Monitor penurunan tingkat kesadaran
e. Monitor intake dan output
f. Kolaborasikan dengan dokter dalam pemberian anti piretik dan analgesik
g. Selimuti Klien
h. Berikan kompres dingin kepada Klien pada lipat paha dan aksila
i. Tingkatkan sirkulasi udara
j. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
k. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
l. Catat adanya fluktuasi tekanan darah
Monitor hidrasi seperti turgor kulit, kelembaban membran mukosa)

3. SISTISIS
a. Definisi
Cystitis merupakan peradangan pada kandung kemih (Medical Surgical Nursing,
2004)
Cystitis adalah keadaan klinis akibat berkembang biaknya mikroorganisme yang
menyebabkan inflamasi pada kandung kemih dan disebabkan oleh menyebarnya
infeksi dari uretra. Hal ini dapat disebabkan oleh aliran balik urin dari uretra ke dalam
kandung kemih (refluks uretrovesikal), kontaminasi fekal, pemakaian kateter dan
sistoskop.
Sistitis adalah inflamasi akut pada mukosa kandung kemih akibat infeksi oleh
bakteri. Sistitis merupakan inflamasi yang di sebabkan oleh penyebaran infeksi dari
uretra (Nur Salam, 2008)
b. Etiologi dan Faktor Resiko
Pada umumnya disebabkan oleh basil gram negatif Escheriachia Coli yang dapat
menyebabkan kira-kira 90% infeksi akut pada penderita tanpa kelainan urologis :
a.    Batang gram negatif lainnya termasuk proteus, klebsiella, enterobakter,
serratea, dan pseudomonas.
b.    Organisme-organisme ini dapat dapat menjadi bertambah penting pada
infeksi-infeksi rekuren dan infeksi-infeksi yang berhubungan langsung
dengan manipulsi urologis, kalkuli atau obstruksi.
c.      Pada wanita biasanya karena bakteri-bakteri daerah vagina kearah uretra
atau dari meatus terus naik kekandumg kemih dan mungkin pula karena
renal infeksi tetapi yang tersering disebabkan karena infeksi E.coli.
d.    Pada pria biasanya sebagai akibat dari infeksi diginjal, prostat, atau oleh
karena adanya urine sisa(misalnya karena hipertropi prostat, striktura uretra,
neurogenik bladder) atau karena infeksi dari usus.
Jalur infeksi :
a.     Tersering dari uretra, uretra wanita lebih pendek membuat penyakit ini lebih
sering ditemukan pada wanita
b.    Infeksi ginjal yang sering meradang, melalui urine dapat masuk kekandung
kemih.
c.     Penyebaran infeksi secara lokal dari organ lain dapat mengenai kandung
kemih misalnya appendisitis
d.     Pada laki-laki prostat merupakan sumber infeksi.

c. Manifestasi Klinis
Menifestasi klinis dari sistitis menurut (NurSalam, Fransisca, 2008), antara lain:

1. Kemerahan pada kandung kemih


2. Edema pada kandung kemih
3. Kandung kemih hipersensitif jika berisi urine
4. Disuri
5. Eritema mukosa kandung kemih
6. Hematuria
7. Demam
8. Kondisi umum menurun
9. Bakteriuria (10.000/ml:infeksi)

d. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostic sistitis menurut NurSalam, Fransisca, 2008
1. Urea dipstick : darah (ada)
2. Mikroskopik : sel darah putih tanpa epitel (piuria)
3. Kultur urine : untuk menguji sensitivitas berbagai jenis antimikroba dan
mengetahui respon obat yang di sekresi di urine (konsentrasi meningkat).

e. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan menurut NurSalam, Fransisca, 2008
1. Uncomplicated sistitis : wanita harus diterapi antimikroba dosis tunggal atau
jangka pendek (1-3hari) sesuai hasil kultur. Obat pilihan yang sensitif
terhadap E.coli : nitrofurantoin, trimetramopin-sulfametoksaksol, atau
ampisilin. Laki-laki diterapi selama (7-10 hari) denagn antibiotik. Lakukan
kultur untuk meningkatkan efektivitas terapi. Awasi efek samping : mual,
diare, kemerahan, dan kandidiasis vagina.
2. Antikolinergik (propantheline bromide) untuk mencegah hiperirritabilitas
kandung kemih dan fennazopirridin hidroklorid sebagai anti septik saluran
kemih

f. Komplikasi
Komplikasi menurut NurSalam, Fransisca, 2008
1. Pyelonefritis : infeksi pada medula dan korteks ginjal
2. Infeksi bakteri melalui darah melalui penyebarab hematogen.

g. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi


1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses peradangan
2. Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan adanya bakteri pada
kandung kemih
3. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses inflamasi

3.1. Rencana Keperawatan


N Tujuan & kriteria Intervensi Rasional TTD
o hasil
Dx
1 Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat nyeri 1. Mengetahui
selama 2x24jam 2. Berikan tingkat rasa
diharapkan nyeri lingkungan yang nyeri pada
berkurang tenang. pasien.
Kriteria hasil : 3. Ajarkan teknik 2. Meringankan
K : klien mengerti nafas dalam nyeri dan
penyebab nyeri 4. Ajarkan teknik memberikan
A : klien pengurangan rasa nyaman
menghindari posisi nyeri dengan 3. Mampu
badan yang memicu teknik distraksi mengurangi
nyeri 5. Kolaborasi rasa nyeri yang
P : klien mampu pemberian ada
mendemonstrasikan analgetik sesuai 4. Teknik distraksi
teknik distraksi dan indikasi merupakan
relaksasi teknik
P : skala nyeri pengalihan
berkurang 0-3, TTV perhatian
dalam batas normal sehingga
mengurangi
emosional dan
kognitif
5. Obat analgetik,
memblok
eksitasi serabut
saraf nyeri
2 Tujuan : setelah 1. Jalin hubungan 1. Meningkatkan
dilakukan tindakan baik dengan keefektifan
keperawatan klien intervensi
selama 2x24jam 2. Kaji TTV 2. Mengetahui
diharapkan eliminasi 3. Ukur dan catat keadaan umum
urin kembali normal urine setiap kali pasien
Kriteria hasil : berkemih 3. mengetahui
K : klien 4. Anjurkan untuk adanya
mengetahui berkemih setiap perubahan
penyebab disuri 2 – 3 jam warna dan untuk
A : klien mau 5. Palpasi kandung mengetahui
menjaga kebersihan kemih tiap 4 jam input/out put
genital eksterna dan 6. Kolaborasi : 4. Untuk
perianal Ambil urine untuk mencegah
P : klien menjaga kultur atau terjadinya
asupan cairan sensitivitas penumpukan
harian urine dalam
P : produksi urine vesika urinaria.
dalam batasan 5. Untuk
normal (2,5- mengetahui
5ml/jam/BB) adanya distensi
kandung kemih.
6. menentukan
jumlah bakteri
urine dan gejala
komplikasi
3 Kriteria mayor : 1. Bina hubungan 1. Dengan
 Takikardi baik dengan kli hubungan yang
 Suhu > 36,5- 2. Berikan kompres baik dapat
37,5 c hangat dan meningkatkan
Kriteria minor : ajarkan cara kerjasama
 Wajah tampak untuk memakai dengan klien
kemerahan handuk pada sehingga

 Diaforesis tubuh, pengobatan

Tujuan : setelah khususnya pada dan perawatan

dilakukan tindakan aksila atau mudah

keperawatan lipatan paha dilaksanakan.

selama 1x24jam 3. Anjurkan 2. Pemberian

diharapkan suhu memakai baju kompres

tubuh kembali tipis yang hangat

normal menyerap merangsang

Kriteria hasil : keringat penurunan

K : pasien mengerti 4. Observasi tanda- suhu tubuh.

penyebab demam tanda vital 3. Baju yang tipis

A : pasien mau terutama suhu akan mudah

mendiskusikan bila dan denyut nadi untuk

demam semakin 5. Kolaborasi menyerap

tinggi dengan tim keringat yang

P : klien mampu medis dalam keluar

melakukan teknik pemberian obat- 4. Observasi

kenyamanan obatan terutama tanda-tanda

terhadap suhu anti piretik., vital

tubuh antibiotika merupakan

dengan deteksi dini

nonfarmakologi untuk

P : TTV dalam mengetahui


batas normal komplikasi
TD : 120/80mmhg yang terjadi
RR : 18-20x/menit sehingga cepat
N : 80-100x/menit mengambil
S: 36,5-37,5 celcius tindakan

5. Pemberian
obat-obatan
terutama
antibiotik akan
membunuh
kuman
sehingga
mempercepat
proses
penyembuhan
sedangkan
antipiretik
untuk
menurunkan
suhu tubuh.

4. RETENSI URIN
a. Definisi
Retensi urine adalah suatu keadaan penumpukan urine di kandung kemih dan
tidak mempunyai kemampuan untuk mengosongkannya secara sempurna.
Retensio urine adalah kesulitan miksi karena kegagalan urine dari fesika
urinaria. (Kapita Selekta Kedokteran).
Retensio urine adalah tertahannya urine di dalam kandung kemih, dapat
terjadi secara akut maupun kronis. (Depkes RI Pusdiknakes 1995). Retensio
urine adalah ketidakmampuan untuk melakukan urinasi meskipun terdapat
keinginan atau dorongan terhadap hal tersebut.(Brunner & Suddarth). Retensio
urine adalah suatu keadaan penumpukan urine di kandung kemih dan tidak
punya kemampuan untuk mengosongkannya secara sempurna. (PSIK
UNIBRAW).

b. Etiologi
Adapun penyebab dari penyakit retensi urine adalah sebagai berikut:
1. Supra vesikal berupa kerusakan pada pusat miksi di medulla spinallis S2 S4
setinggi T12L1.Kerusakan saraf simpatis dan parasimpatis baik sebagian
ataupun seluruhnya, misalnya pada operasi miles dan mesenterasi
pelvis, kelainan medulla spinalis, misalnya miningokel,tabes doraslis, atau
spasmus sfinkter yang ditandai dengan rasa sakit yang hebat.
2. Vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang, atoni pada
pasien DM atau penyakit neurologist, divertikel yang besar.
3. Intravesikal berupa pembesaran prostate, kekakuan leher vesika, striktur,
batu kecil,tumor pada leher vesika, atau fimosis.
4. Dapat disebabkan oleh kecemasan, pembesaran porstat, kelainan patologi
urethra(infeksi, tumor, kalkulus), trauma, disfungsi neurogenik kandung
kemih.
5. Beberapa obat mencakup preparat antikolinergik antispasmotik (atropine),
preparatantidepressant antipsikotik (Fenotiazin), preparat antihistamin
(Pseudoefedrin hidroklorida= Sudafed), preparat penyekat β adrenergic
(Propanolol), preparat antihipertensi(hidralasin) 

c. Manifestasi Klinis
Pada retensi urin akut di tandai dengan nyeri, sensasi kandung kemih yang
penuh dan distensi kandung keimih yan ringan. Pada retensi kronik ditandai
dengan gejala iritasi kandung kemih ( frekuensi,disuria,volume sedikit) atau
tanpa nyeri retensi yang nyata.
Adaun tanda dan gejala dari pnyakit retensi urin ini adalah :
1. Di awali dengan urin mengalir lambat
2. Terjadi poliuria yang makin lama makin parah karena pengosongan kandung
kemih tidak efisien.
3. Terjadi distensi abdomen akibat dilatasi kandung kemih
4. Terasa ada tekanan, kadang trasa nyeri dan kadang ingin BAK
5. Pada retensi berat bisa mencapai 2000-3000 cc

Tanda klinis retensi:


1. Ketidak nyamanan daerah pubis
2. Distensi vesika urinia.
3. Ketidak sanggupan untuk berkemih.
4. Ketidak seimbangan jumlah urin yang di keluarkan dengan  asupannya.
Retensi urine dapat menimbulkan infeksi yang bisa terjadi akibat distensi
kandung kemih yang berlebihan gangguan suplai darahpada dinding kandu
kemih dan proliferasi bakteri. Gangguan fungsi renal juga dapat terjadi,
khususnya bila terdapat obstruksi saluran kemih.

d. Pemeriksaan Diagnostik
Adapun pemeriksaan diagnostic yang dapat dilakukan pada retensio urine adalah
sebagai berikut :
1. Pemeriksaan specimen urine.
2. Pengambilan: steril, random, midstream.
3. Penagmbilan umum: pH, BJ, Kultur, Protein, Glukosa, Hb, KEton, Nitrit.
4. Sistoskopy, IVP

e. Penatalaksanaan Medis
Bila diagnosis retensi urin sudah ditegakkan secara benar, penatalaksanaan
ditetapkan berdasarkan masalah yang berkaitan dengan penyebab retensi
urinnya. Pilihannya adalah
1. Kateterisasi
2. Sistostomi suprapubik
3. Pungsi suprapubik
f. Komplikasi
1. Urolitiasis atau nefrolitiasis
Nefrolitiasis adalah adanya batu pada atau kalkulus dalam velvis renal,
sedangkan urolitiasis adalah adanya batu atau kalkulus dalam sistem
urinarius. Urolithiasis mengacu pada adanya batu (kalkuli) ditraktus urinarius.
Batu terbentuk dari traktus urinarius ketika konsentrasi subtansi tertentu
seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat meningkat.
2. Pielonefritis
Pielonefritis adalah radang pada ginjal dan saluran kemih bagian atas.
Sebagian besar kasus pielonefritis adalah komplikasi dari infeksi kandung
kemih (sistitis). Bakteri masuk ke dalam tubuh dari kulit di sekitar uretra,
kemudian bergerak dari uretra ke kandung kemih. Kadang-kadang,
penyebaran bakteri berlanjut dari kandung kemih dan uretra sampai ke ureter
dan salah satu atau kedua ginjal. Infeksi ginjal yang dihasilkan disebut
pielonefritis.
3. Hydronefrosis
4. Pendarahan
5. Ekstravasasi urine

g. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi


1. Nyeri b/d agen cidera biologis
2. Gangguan eliminasi urine b/d retensi urine
INTERVENSI KEPERAWATAN

N Diagnosa kep. Tujuan dan kriteria Intervensi (NIC)


O hasil (NOC)

1. Nyeri akut b/d a. Mengenali faktor a. Intervensi:


agen cidera penyebab Mengenali b. Lakukan pengkajian nyeri
biologis. onset (lamanya sakit) secara komprehensif
b. Menggunakan termasuk lokasi,
Definisi:
metodepen cegahan karakteristik, durasi,
sensoriyangtidak c. Menggunakan frekuensi
metodenon analgetik c. Kualitas dan faktor
menyenangkan
untuk mengurangi presipitasi
dan
nyeri d. Observasi reaksi non
pengalamanemosi d. Menggunakan verbal dari
onalyang Analgetik sesuai ketidaknyamanan
munculsecaraaktu kebutuhan e. Gunakan teknik
al e. Mencari bantuan komunikasi terapeutik
tenaga kesehatan untuk mengetahui
ataupotensial,
f. Melaporkan Gejala pengalaman nyeri pasien
kerusakanjaringan
Padatenagakesehata a. kajikultur yang
ataumenggambark
n mempengaruhiresponnyeri
anadanyakerusaka
g. Menggunakan b. evaluasipengalamannyeri
n..
Sumber-sumber masalampau
yang tersedia c. evaluasibersamapasienda
h. Mengenaligejala- ntimkesehatan
gejalanyeri laintentangketidakefektifan
i. Mencatat kontrolnyerimasalampau
Pengalaman nyeri d. bantu pasien dan keluarga
j. Melaporkan nyeri untuk mencari dan
sudah terkontrol menemukan dukungan
e. kontrol lingkungan yang
dapat mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan
kebisingan kurangi faktor
presipitasi
f. Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
g. (Farmakologi, non
farmakologidan
interpersonal)
a. Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan
b. Intervensi ajarkan tentang
teknik non farmakologi
h. Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri tingkatkan
istirahat

2 Gangguaneliminas NOC : a. Kaji secara verbal dan


i urine b/d retensi nonverbal respon klien
a. Symptom severity
urine terhadap tubuhnya
b. Urinary elimination
b. Kaji ulang frekuensi
Kriteriahasil : mengkritik dirinya
c. Bimbing pasien untuk
a. Pengosongan
mencari penyebab
bladder
perubahan tubuhnya
b. Secarasempurna
d. Dorong klien
c. Warnaurindbn
mengungkapkan
d. Bauurindbn
perasaannya (identifikasi
e. Urinterbebasdariparti
kebiasaan positif dari
kel
kehidupan klien untuk
f. Balance
meningkatkan harga diri
cairanselama 24 jam
klien)
b. Urindapatkeluartanpa
e. Identifikasi arti
kesakitan
pengurangan melalui
pemakaian alat bantu
(dengan menggunakan
kateterakan mengurangi
dampak mengompol,
tubuh bau pesing)
f. Jelaskan tentang
pengobatan, perawatan,
kemajuan dan prognosis
penyakit (tawarkan
bantuan dari profesional
lain sprtpsikolog, ahli
konseling seksual)
b. Fasilitasikontakdenganindi
vidu lain
dalamkelompokkecil yang
memilikikasusserupa

5. INKONTINENSIA URINE
a. Definisi
Inkontinensia urin merupakan eliminasi urin dari kandung kemih yang tidak
terkendali atau terjadi diluar keinginan. Jika Inkontinensia urin terjadi akibat kelainan
inflamasi ( sistitis ), mungkin sifatnya hanya sementara. Namun, jika kejadian ini
timbul karena kelainan neurologi yang serius ( paraplegia ), kemungkinan besar
sifatnya akan permanent (Brunner & Suddarth, 2002. hal: 1471). Variasi dari
inkontinensia urin meliputi keluar hanya beberapa tetes urin saja, sampai benar-
benar banyak, bahkan terkadang juga disertai inkontinensia alvi (disertai
pengeluaran feses). Inkontinensia urine lebih sering terjadi pada wanita yang sudah
pernah melahirkan daripada yang belum pernah melahirkan (nulipara). Hal ini terjadi
karena adanya perubahan otot dan fasia di dasar panggul. Ada beberapa jenis
inkontinensia urine, yaitu :
 Inkontinensia Urgensi Pelepasan urine yang tidak terkontrol sebentar setelah ada
peringatan ingin melakukan urinasi. Disebabkan oleh aktivitas otot destrusor yang
berlebihan atau kontraksi kandung kemih yang tidak terkontrol.
 Inkontinensia Tekanan Pelepasan urine yang tidak terkontrol selama aktivitas yang
meningkatkan tekanan dalam lubang intra abdominal. Batuk, bersin, tertawa dan
mengangkat beban berat adalah aktivitas yang dapat menyebabkan inkontinensia
urine.
 Inkontinensia Aliran Yang Berlebihan ( Over Flow Inkontinensia ) Terjadi jika
retensi menyebabkan kandung kemih terlalu penuh dan sebagian terlepas secara
tidak terkontrol, hal ini pada umumnya disebabkan oleh neurogenik bladder atau
obstruksi bagian luar kandung kemih. (Charlene J.Reeves at all)

b. Etiologi
Etiologi umum yang terjadi pada pasien incontinence adalah :
 Gejala infeksi saluran kemih Serangan bakteri memicu infeksi lokal yang
mengiritasi mukosa kandung kemih dan menyebabkan dorongan kuat untuk
buang air kecil. Kemudian mendesak pengeluaran urin, yang mungkin satu-
satunya tanda peringatan dari infeksi saluran kemih, juga dapat disertai
dengan frekuensi kencing, disuria, dan urin berbau busuk
 Atrofi vaginitis Atrofi atau peradangan pada vagina akibat penurunan yang
signifikan dari kadar estrogen; kurangnya estrogen dapat menyebabkan
penurunan kekuatan otototot dasar panggul. atrofi mukosa vagina juga
menyebabkan ketidak nyamanan vagina, rasa terbakar, gatal, dan terkait
dispareunia
 Efek samping obat Polifarmasi dan penggunaan α-adrenergik, neuroleptik,
benzodiazepines, bethanechol, cisapride, diuretik, antikolinergik, agen anti-
Parkinsonian, βblocker, disopyramides, angiotensin-converting enzyme
inhibitor, narcoleptics, atau obat psikotropika dapat memperburuk
inkontinensia, efek sedatif dan benzodiazepin dapat mengganggu
kemampuan pasien untuk mengendalikan fungsi kandung kemih, sehingga
urge incontinence iatrogenik Diuretik dan meningkatkan Volume kemih
konsumsi cairan cepat dan berpotensi memperburuk gejala inkontinensia
urin.
 Konsumsi kopi dan alkohol Kopi menyebabkan kedua efek diuretik dan efek
iritasi independen, sehingga mengisi kandung kemih yang cepat dan
keinginan yang mendesak dan tidak sukarela untuk buang air kecil. Alkohol,
ketika dikonsumsi dalam jumlah yang lebih besar, juga dapat menumpulkan
kemampuan kognitif pasien untuk mengenali dorongan untuk buang air
kecil, sehingga inkontinensia.
 Inkontinensia urin biasanya berhubungan dengan penyakit fisik yang
mendasari, termasuk disfungsi kandung kemih, melemah dasar panggul
atau otot kandung kemih, penyakit neurologis, operasi panggul
sebelumnya, atau obstruksi saluran kemih.
 Hypoestrogenic states, penuaan, dan kelainan jaringan ikat dapat
menyebabkan penurunan kekuatan otot-otot dasar panggul
 Faktor-faktor yang dapat menyebabkan inkontinensia kronis meliputi:
Gejala sisa kehamilan dan masa nifas
Etiologi berdasar pada faktor tertentu diantaranya;
 Penyebab inkontinensia stress Inkontinensia stres terjadi ketika
tekanan di dalam kandung kemih terisi air kencing lebih bsar dari
kekuatan uretra untuk tetap tertutup. Uretra anda mungkin tidak
dapat tetap menutup jika:
- Otot panggul anda lemah ataurusak
- Sfingter uretra anda rusak setiap tekanan ekstra mendadak pada
kandung kemi, seperti ertawa atau bersin, dapat menyebabkan urin
yang keluar dari uretra. Hilangnya kekuatan dalam uretra disebabkan
oleh:
 Kerusakan saraf saat melahirkan
 Meningkatkan tekanan pada perut anda
 Kurangnya hormon estrogen pada wanita
 Konsumsi obat tertentu
 Penyebab urge incontinence Kebutuhan buang air kecil dapat
disebabkan oleh masalah dengan otot detrusor pada dinding
kandung kemih. Otot-otot detrusor rileks untuk memungkinkan
kandung kemih untuk mengisi dengan air kencing, dan kontraksi
ketika ingin pergi ke toilet untuk membiarkan urin keluar.
Kadang-kadang kontraksi otot detrusor yang terlalu sering,
menciptakan kebutuhan mendesak untuk pergi ke toilet. Hal Ini
disebut detrusor overactivity. Alasan kontraksi otot detrusor terlalu
sering mungkin tidak jelas, tetapi kemungkinan penyebabnya
termasuk:
- kondisi neurologis yang mempengaruhi otak dan sumsum tulang
belakang, seperti penyakit Parkinson atau multiple sclerosis
- kondisi yang mempengaruhi saluran kemih bawah (uretra dan
kandung kemih), seperti infeksi saluran kemih (ISK) atau tumor di
dalam kandung kemih
- terlalu banyak minum alkohol atau kafein
- sembelit
- obat tertentu Beberapa kemungkinan penyebab akan
menyebabkan inkontinensia urin jangka pendek, yang lain dapat
menyebabkan masalah jangka panjang. Jika penyebabnya dapat
diobati, hal ini dapat menyembuhkan inkontinensia.
 Penyebab inkontinensia overflow Inkontinensia overflow, juga
disebut retensi urin kronis, sering disebabkan oleh penyumbatan
atau obstruksi kandung kemih. Kandung kemih mungkin mengisi
seperti biasa, tapi karena terhalang atau tersumbat tidak akan dapat
mengosongkan sepenuhnya, bahkan akan terasa nyeri jika
dipaksakan. Pada saat yang sama, tekanan dari urin yang masih
dalam kandung kemih membangun obstruksi yang baru, sehingga
dinding uretra sisi lain akan terjadi kebocoran.Obstruksi disebabkan
oleh:
- pembesaran kelenjar prostat pada pria
- batu kandung kemih
- sembelit
Inkontinensia overflow juga bisa disebabkan oleh otot-otot detrusor
tidak sepenuhnya berkontraksi, yang berarti bahwa kandung kemih
Anda tidak benarbenar kosong ketika Anda pergi ke toilet. Akibatnya,
kandung kemih menjadi melar. Otot detrusor Anda mungkin tidak
sepenuhnya kontraksi jika:
- ada kerusakan pada saraf Anda, misalnya sebagai akibat dari
operasi untuk bagian dari usus atau cedera tulang belakang
- Anda mengambil obat-obatan tertentu (lihat di etiologi umum di
atas)
 Penyebab inkontinensia Total Jumlah inkontinensia terjadi ketika
kandung kemih tidak dapat menyimpan urin sama sekali. Hal ini
dapat mengakibatkan intensitas aliran baik melewati jumlah besar
urin terus-menerus, atau buang air kadang-kadang dengan sering
bocor. Jumlah inkontinensia dapat disebabkan oleh:
- masalah dengan kandung kemih sejak lahir
- cedera pada tulang belakang, yang dapat mengganggu sinyal
saraf antara otak dan kandung kemih, fistula kandung kemih, yang
merupakan lubang seperti terowongan kecil yang dapat terbentuk
antara kandung kemih dan daerah terdekat, seperti vigina, dalam
wanita
c. Manifestasi Klinis
1. Inkontinensia urgensi
Ketidakmampuan menahan keluanya urin denagn gambaran seringnya terburu –
buru untuk berkemih. Kontraksi otot detrusor yang tidak terkontrol menyebabkan
kebocoran urine, kandungan kemih yang hiperaktif, atau ketidaksetabilan detrusor
 Disfungsi neurologis
 Sistisis
 Obstruksi pintu keluar kandung kemih
2. Inkontenesia stress
Keluarnya urine selama batuk, mengedan, dan sebagainya. Urine keluar tanpa
kontraksi detrusor
 Tonus otot panggul yang buruk
 Defisiensi sfreingter uretra, congenital atau didapat
 Kelebihan berat bdan
3. Inkontenensia kombinasi
Kombinasi poin a dan b diatas.
4. Inkontinensia overflow Urine menetes saat kandung kemih penuh
 Disfungsi neutrologis
 Penyakit endokrin
 Penurunan kelenturan dinding kandung keih
 Obstruksi pintu keluar kandung kemih
5. Enuresis noktural 10 % anak usia 5 tahun dan 5 % anak usia
10 tahun mengompol selama tidur. Mengompol pada anak yang tua merupakan
sesuatu yang abnormal dan menunjukan adsanya kandung kemih yang tidak
setabil.
Gejala infeksi urine (frekuensi, disuria, nukturia), obstruksi (pancaran lemah,
menetes), trauma(termasuk pembedahan, misalnya reseksi abdominoperineal),
fistula (menetes terus – menerus ), penyakit neurologis (disfungsi seksual atau
usus besar) atau penyakit sistemik (miasalnya diabetes) dapat menunjukkan
penyakit yang mendasari.

d. Pemeriksaan Diagnostik
1. Kultur Urine
Untuk menyingkirkan infeksi
2. IVU
Untuk menilai saluran bagian atas dan obstruksi atau fistula
3. Sistoskopi
jika dicurigai terdapat batu atau neoplasma kandung kemih
4. Pemeriksan speculum vagina ±sistogram
jika dicurigai terdapat fistula vesilovagina. (Piere A. Grace & Neil R. Borley. 2007)
5. Uji uro dinamik
Kegagalan dalam menentukan etiologi dan diagnose inkontinensia urin terjadi
pada 50% kasus yang mendasarkan pada anamnesa dan pemeriksaan fisik saja
sehingga perlu dilakukan pemeriksaan urodinamik sebagai uji tambahan
Urodinamik didefinisikan sebaga suatu pengujian faktor normal dan abnormal
padaproses pengisian, transport dan pengosongan urin pada kandung kemih dan
uretra dengan menggunakan metode tertentu. Pemeriksaan urodinamik,meliputi:
- Uroflowmetri (mengukur kecepatan aliran)
- Sistometri (menggambarkan kontraktur detrusor)
- Sistometri video (menunjukkan kebocoran urin saat mengedan saat pasien
dengan inkontinensia stress)
- Flowmetri tekanan uretra (mengukur tekanan uretra dan kandung kemih saat
istirahat dan selama berkemih Jika penyebab inkontinensia urin pasien tetap
tidak dapat ditentukan, evaluasi urodinamik merupakan langkah selanjutnya
yang harus dipertimbangkan). Uji uro dinamik bermanfaat pada kondisi :
 Diagnosis yang belum pasti sehingga akan dapat mempengaruhi terapi,
 Terapi empiris tidak berhasil mengatasi keadaan dan akan dicoba pendekatan
terapi lain.
 Obstruksi yang dapat dikoreksi (diduga terjadi pada pasien dengan overflow
incontinence)
 Pada pasien yang berusia lebih dari 70-75 tahun, ujiurodinamik ini mungkin
diperlukan untuk menegakkan diagnosis sebelum dilakukan terapi invasif.
(Vitriana. 2002)
6. Q-tip test
Tes ini dilakukan dengan menginsersikan sebuah cotton swab (Q-tip)
yang steril kedalam uretra wanita lalu kekandung kemih. Secara perlahan tarik
kembali hingga leher dari Q-tip berada di leherkandungkemih. Pasien lalu
diminta untuk melakukan Valsavamanuver atau mengkontraksikan otot
abdominalnya. Perubahansudut Q-tip diukur dan dipergunakan sebagai ukuran
laksiti dasarpanggul. Bila sudut yang terjadi lebih dari 35 derajat dengan
melakukan hal tersebut maka hal tersebut mengindikasikan adanya
hipermobilitas uretra (tipe II stress incontinence). Akan tetapi karena laksiti
mempunyai nilai yang kecil dalam menentukan penyebab inkontinensia, maka
kegunaan tes ini untuk diagnostic menjadi sangat terbatas. (Vitriana. 2002)
7. Marshall test
(Marshall -Bonney test) Jika pemeriksa mendeteksi keluarnya urin
bersamaan dengan adanya kontraksi otot abdomen, maka uji ini dapat
dilakukan untuk mengetahui apakah kebocoran dapat dicegah dengan cara
menstabilisasi dasar kandung kemih sehingga mencegah herniasime lalu
diafragma urogenital atau tidak. Dilakukan dengan meletakkan dua jari (jari ke
dua dan ketiga) di fornices lateral vagina (leher kandung kemih) dan meminta
pasien untuk batuk. Kandung kemih saat 10 itu haruslah penuh. Dua jari pada
leher kandung kemih itu bertindak sebagai penyokong uretra proksimal selama
Valsavamanuver. Diagnosa hipermobilitas uretra dapat ditegakkan jika tidak
terjadi kebocoran, akan tetapi nilai diagnose ini menjadi terbatas karena pada
usia stenosis vaginal merupakan hal yang umum terjadi dan false positive dapat
timbul bila kurang tepat meletakkan jari saat pemeriksaan. Bila pemeriksa
meletakkan jarinya kurang lateral maka bukannya menstabilisasi outlet kandung
kemih akan tetapi menutup outlet sehingga akan mencegah kebocoran. Karena
sifatnya yang tidak spesifik ataun sensitive itulah maka tes ini menjadi jarang
dipergunakan dan bukan merupakan standar pemeriksaan (Vitriana. 2002).
8. Pad test
Merupakan penilaian semi objektif untuk mengetahui apakah cairan yang
keluar adalah urin, seberapa banyak keluarnya urin dan dapat digunakan untuk
memantau keberhasilan terapi inkontinensia. Bermanfaat sebagai tambah
anamnesa pasien dan pemeriksaan fisik. Intravesical methylene blue, oral
Pyridium, or Urised dapat dipergunakan sebagai zat pewarna. Jika pembalut
mengalami perubahan warna maka cairan yang keluar adalah urin. Pad test ini
dapat dilakukan selama 1 jam atau 24 jam. Pad kemudian ditimbang (1g=1ml)
untukmenilaiberapabanyakurin yang keluar. (Vitriana. 2002)
9. Standing pelvic examination
Pemeriksaan ini dilakukan jika pemeriksaan pelvis gagal untuk
menampakkan keluarnya urinataujikadidugaterdapatprolaps organ.
Jikatampakprolaps pelvis, dorong organ yang prolapskeatasdenganpessaryatau
gauze kemudianulangi cough stress test dalamposisiberdiri. (Vitriana. 2002)
e. Penatalaksanaan Medis
Pada umumnya terapi inkontinensia urine adalah dengan cara operasi. Akan
tetapi pada kasus ringan ataupun sedang, bisa dicoba dengan terapi konservatif.
Latihan otot dasar panggul adalah terapi non operatif yang paling populer, selain
itu juga dipakai obat-obatan, stimulasi dan pemakaian alat mekanis.
 Latihan Otot Dasar Pinggul (‘Pelvic Floor Exercises’)
Kontinensia dipengaruhi oleh aktifitas otot lurik urethra dan dasar pelvis.
Fisioterapi meningkatkan efektifitas otot ini. Otot dasar panggul membantu
penutupan urethra pada keadaan yang membutuhkan ketahanan urethra misalnya
pada waktu batuk. Juga dapat mengangkat sambungan urethrovesikal kedalam
daerah yang ditransmisi tekanan abdomen dan berkontraksi secara reflek dengan
peningkatan tekanan intraabdominal, perubahan posisi dan pengisian kandug
kemih.
Pada inkompeten sfingter uretra, terdapat hilangnya transmisi tekanan
abdominal pada uretra proksimal. Fisio terapi membantu meningkatkan tonus dan
kekuatan otot lurik uretra dan periuretra.
Pada kandung kemih neurogrik, latihan kandung kemih (‘bladder training)
telah menunjukan hasil yang efektif.11 Latihan kandung kemih adalah upaya
melatih kandung kemih dengan cara konservatif, sehingga secara fungsional
kandung kemih tersebut kembali normal dari keadaannya yang abnormal.
Langkah-langkah LKK(Latihan kandung kecing) :
Tentukan tipe kandung kemih neurogenik
Tiap waktu miksi dimulai dengan stimulasi :
o Tipe UMN : Menepuk paha dalam, menarik rambut daerah pubis,masukkan jari
pada rektum. o Tipe LMN : Metode Crade atau manuver valsava.
f. Komplikasi
1. Ruam kulit atau iritasi
Diantara komplikasi yang paling jelas dan manifestasi kita
menemukan masalah dengan kulit, karena mereka yang menderita
masalah ini terkait kandung kemih, memiliki kemungkinan
mengembangkan luka, ruam atau semacam infeksi kulit, karena fakta
bahwa kulit mereka overexposed cairan dan dengan demikian selalu
basah. Ruam kulit atau iritasi terjadi karena kulit yang terus-menerus
berhubungan dengan urin akan iritasi, sakit dan dapat memecah.
2. Infeksi saluran kemih
Inkontinensia meningkatkan risiko infeksi saluran kemih berulang.
3. Prolapse Prolaps
merupakan komplikasi dari inkontinensia urin yang dapat terjadi
pada wanita. Hal ini terjadi ketika bagian dari vagina, kandung kemih, dan
dalam beberapa kasus uretra, drop-down ke pintu masuk vagina.
Lemahnya otot dasar panggul sering menyebabkan masalah. Prolaps
biasanya perlu diperbaiki dengan menggunakan operasi.
4. Perubahan dalam kegiatan sehari-hari Inkontinensia dapat membuat
pasien tidak dapat berpartisipasi dalam aktivitas normal. Pasien dapat
berhenti berolahraga, berhenti menghadiri pertemuan social. Salah satu
jenis tersebut adalah inkontinensia stres. Hal ini terjadi ketika otot-otot
dasar panggul mengalami kelemahan dari beberapa macam, dan tidak
lagi mampu menjaga uretra tertutup. Karena itu, membuat gerakan tiba-
tiba seperti batuk atau tertawa dapat menyebabkan kebocoran urin.
Penyebab melemahnya otot dasar panggul bisa berbeda dan disebabkan
oleh berbagai faktor, misalnya untuk kehamilan dan persalinan (strain dan
otot terlalu melar), menopause (kurangnya estrogen melemahkan otot),
penghapusan rahim (yang kadang-kadang dapat merusak otot), usia,
obesitas.
5. Perubahan dalam kehidupan pribadi pasien. Inkontinensia dapat memiliki
dampak pada kehidupan pribadi pasien. Keluarga pasien mungkin tidak
memahami perilaku pasien. Pasien dapat menghindari keintiman seksual
karena malu yang disebabkan oleh kebocoran urin. Ini tidak jarang
mengalami kecemasan dan depresi bersama dengan inkontinensia
(Mayo,2012)
6. Komplikasi terapi bedah inkontinensia stres terutama terdiri dari
pembentukan sisa urine segera dalam fase pascabedah. Biasanya
masalah ini bersifat sementara dan dapat diatasi dengan kateterisasi
intermiten, dengan karakter yang ditinggalkan atau lebih baik dengan
drainase kandung kemih suprapubik. Hal ini memungkinkan pencarian
pembentukan sisa urine tanpa kateterisasi. Komplikasi lain biasanya
berasal dari indikasi yang salah. Perforasi kandung kemih dengan
kebocoran urine, infeksi saluran kemih yang berkepanjangan dan osteitis
pubis pada operasi Marshall-Marchetti-Krantz merupakan komplikasi yang
jarang terjadi.(Andrianto,1991)

g. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi


a. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan tidak adanya sensasi untuk
berkemih dan kehilangan kemampuan untuk menghambat kontraksi kandung
kemih.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien akan bisa
melaporkan suatu pengurangan / penghilangan inkontinesia.
Kriteria Hasil :
Klien dapat menjelaskan penyebab inkontinesia dan rasional penatalaksaan.
Intervensi :
1) Kaji kebiasaan pola berkemih dan gunakan catatan berkemih sehari.
Rasional : Berkemih yang sering dapat mengurangi dorongan beri distensi
kandung kemih
2) Ajarkan untuk membatasi masukan cairan selama malam hari
Rasional : Pembatasan cairan pada malam hari dapat mencegah terjadinya
enurasis
3) Bila masih terjadi inkontinesia kurangi waktu antara berkemih yang telah
direncanakan
Rasional : Kapasitas kandung kemih mungkin tidak cukup untuk menampung
volume urine sehingga diperlukan untuk lebih sering berkemih.
4) Instruksikan klien batuk dalam posisi litotomi, jika tidak ada kebocoran, ulangi
dengan posisi klien membentuk sudut 45, lanjutkan dengan klien berdiri jika
tidak ada kebocoran yang lebih dulu.
Rasional : Untuk membantu dan melatih pengosongan kandung kemih.
5) Pantau pemasukan dan pengeluaran, pastikan klien mendapat masukan
cairan 2000 ml, kecuali harus dibatasi.
Rasional : Dehidrasi optimal diperlukan untuk mencegah ISK dan batu ginjal
6) Kolaborasi dengan dokter dalam mengkaji efek medikasi dan tentukan
kemungkinan perubahan obat, dosis/ jadwal pemberian obat untuk
menurunkan frekuensi inkontinensia.

b. Resiko infeksi berhubungan dengan inkontinesia, imobilitas dalam waktu


yang lama.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat
berkemih dengan nyaman.
Kriteria Hasil :
Urine jernih, urinalisis dalam batas normal, kultur urine menunjukan tidak
adanya bakteri.
Intervensi :
1) Berikan perawatan perineal dengan air sabun setiap shift. Jika pasien
inkontinensia, cuci daerah perineal segera mungkin.
Rasional : Untuk mencegah kontaminasi uretra .
2) Jika dipasang kateter indwelling, berikan perawatan kateter 2x sehari
(Merupakan bagian dari waktu mandi pagi dan pada waktu akan tidur) dan
setelah buang air besar.
Rasional : Kateter memberikan jalan pada bakteri untuk memasuki kandung
kemih dan naik ke saluran perkemihan.
3) Ikuti kewaspadaan umum (Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak
langsung, pemakaian sarung tangan), bila kontak dengan cairan tubuh atau
darah yang terjadi (Memberikan perawatan perineal, pengosongan kantung
drainase urine, penampungan spesimen urine). Pertahankan teknik aseptik
bila melakukan kateterisasi, bila mengambil contoh urine dari kateter
Indwelling.
Rasional : Untuk mencegah kontaminasi silang
4) Kecuali dikontra indikasikan, ubah posisi pasien setiap 2 jam dan anjurkan
masukan sekurang-kurangnya 2400ml / hari. Bantu melakukan ambulasi
sesuai dengan kebutuhan .
Rasional : Untuk mencegah stasis urine.
5) Lakukan tindakan untuk memelihara asam urine.
a) Tingkatkan masukan sari buah berri .
b) Berikan obat-obat, untuk meningkatkan asam urine.
c) R : Asam urine menghalangi tumbuhnya kuman . Karena jumlah sari buah
berri diperlukan untuk mencapai dan memelihara keasaman urine.
Peningkatan masukan cairan sari buah dapat berpengaruh dalam
pengobatan infeksi saluran kemih.

c. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan irigasi kontras oleh


urine
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kerusakan
integritas kulit teratasi.
Kriteria hasil:
1) Jumlah bakteri <100.000/ml
2) Kulit periostomal penuh
3) Suhu 37c
4) Urine jernih dengan sendimen minimal.
Intervensi
1) Pantau penampilan kulit periostomal setiap 8 jam
Rasional : untuk mengindetifikasi kemajuan atau penyimpanan dari hasil
yang diharapkan
2) Ganti wafer stomehesif setiap minggu atau bila bocor terdefekasi. Yakinkan
kulit bersih dan kering sebelum memasang wafer yang baru. Potong lubang
wafer kira-kira setengah inci lebih besar dan diameter stoma untuk menjamin
ketepatan ukuran kantung yang benar-benar menutupi kulit periastomal.
Kosongkan kantung urostomi bila telah seperempat sampai setengah penuh.
Rasional : peningkatan berat urine dapat merusak segel
periostomal,memungkinkan kebocoran urin. Pemajanan menetap pada kulit
periostomal terhadap asam urin dapat menyebabkan kerusakan kulit dan
peningkatan resiko infeksi.

6. NEFROLITIASIS
a. Definisi
Nefrolitiasis merujuk pada penyakit batu ginjal. Batu atau kalkuni dibentuk
di dalam saluran kemih mulai dari ginjal ke kandung kemih oleh kristalisasi dari
substansi ekskresi di dalam urin. ( Nursalam, 2006)
Nefrolitiasis adalah adanya batu pada atau kalkulus dalam velvis renal,
pembentukan deposit mineral yang kebanyakan adalah kalsium oksalat dan
kalsium phospat meskipun juga yang lain urid acid dan kristal, juga membentuk
kalkulus (batu ginjal).
Nefrolitiasis juga dapat dikatakan sebagai penyakit kencing batu yang terjadi
di ginjal yang menyebabkan tidak bisa buang air kecil secara normal dan terjadi
rasa nyeri karena adanya batu atau zat yang mengkristal di dalam ginjal.

b.Etiologi
Batu terbentuk dari traktus urinarius ketika konsentrasi subtansi tertentu
seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat meningkat. Batu juga dapat
terbentuk ketika terdapat defisiensi subtansi tertentu, seperti sitrat yang secara
normal mencegah kristalisasi dalam urine. Kondisi lain yang mempengaruhi laju
pembentukan batu mencakup pH urin dan status cairan pasien (batu cenderung
terjadi pada pasien dehidrasi).
Secara epidemiologik terdapat beberapa faktor yang mempermudah
terbentuknya batu pada saluran kemih pada seseorang. Faktor tersebut adalah
faktor intrinsik yaitu keadaan yang berasal dari tubuh orang itu sendiri dan faktor
ekstrinsik yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan di sekitarnya.
Fraktor intrinsik antara lain:
a. Umur
Penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun, karena dengan
bertambahnya umur menyebabkan gangguan peredaran darah seperti
hipertensi dan kolesterol tinggi. Hipertensi dapat menyebabkan pengapuran
ginjal yang dapat berubah menjadi batu, sedangkan kolesterol tinggi
merangsang agregasi dengan kristal kalsium oksalat dan kalsium fosfat
sehingga mempermudah terbentuknya batu
b. Jenis kelamin
Jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan pasien
perempuan. Hal ini karena kadar kalsium air kemih sebagai bahan utama
pembentuk batu lebih rendah pada perempuan daripada laki-laki, dan kadar
sitrat air kemih sebagai bahan penghambat terjadinya batu pada perempuan
lebih tinggi daripada laki-laki. Selain itu, hormon estrogen pada perempuan
mampu mencegah agregasi garam kalsium, sedangkan hormon testosteron
yang tinggi pada laki-laki menyebabkan peningkatan oksalat endogen oleh
hati yang selanjutnya memudahkan terjadinya kristalisasi.
c. Hyperkalsemia
Meningkatnya kalsium dalam darah
d. Hyperkasiuria
Meningkatnya kalsium dalam urin
e. Ph urin
f. Kelebihan pemasukan cairan dalam tubuh yang bertolak belakang dengan
keseimbangan cairan yang masuk dalam tubuh
Faktor ekstrinsik diantaranya:
a. Air Minum
Kurang minum atau kurang mengkonsumsi air mengakibatkan terjadinya
pengendapan kalsium dalam pelvis renal akibat ketidak seimbangan cairan
yang masuk.
b. Suhu
Individu yang menetap di daerah beriklim panas dengan paparan ultraviolet
tinggi akan cenderung mengalami dehidrasi serta peningkatan produksi
vitamin D (memicu peningkatan ekskresi kalsium dan oksalat) serta
menyebabkan pengeluaran keringat yang banyak sehingga mengurangi
produksi urin dan mempermudah terbentuknya batu.
c. Makanan
Kurangnya mengkonsumsi protein dapat menjadi faktor terbentuknya batu
d. Diet
Diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu.
e. Pekerjaan
Penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk
atau kurang aktifitas atau sedentary life.
f. Infeksi
Infeksi oleh bakteri yang memecahkan ureum dan membentuk amonium akan
mengubah pH urin menjadi alkali dan akan mengendapkan garam fosfat
sehinggga akan mempercepat pembentukan batu yang telah ada.

c. Manifestasi Klinis
Batu yang terjebak diureter menyebabkan gelombang nyeri yang luar
biasa, akut, kolik, yang menyebar kepaha dan genitalia. Pasien merasa selalu
ingin berkemih, namun hanya sedikit urin yang keluar dan biasanya mengandung
darah akibat aksi abrasive batu. Batu yang terjebak dikandung kemih biasanya
menyebabkan gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan
hematuria.
Keluhan yang sering ditemukan adalah sebagai berikut :
a. Hematuria
b. Piuria
c. Polakisuria/fregnancy
d. Urgency
e. Nyeri pinggang menjalar ke daerah pingggul, bersifat terus menerus
f. pada daerah pinggang.
g. Kolik ginjal yang terjadi tiba-tiba dan menghilang secara perlahanlahan.
h. Rasa nyeri pada daerah pinggang, menjalar ke perut tengah bawah,
selanjutnya ke arah penis atau vulva.
i. Anorexia, muntah dan perut kembung
j. Hasil pemeriksaan laboratorium, dinyatakan urine tidak ditemukan adanya
batu leukosit meningkat.

d. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan Urin
1) pH lebih dari 7,6
2) Sediment sel darah merah lebih dari 90%
3) Biakan urin
4) Ekskresi kalsium fosfor, asam urat

b. Pemeriksaan darah
1) Hb turun
2) Leukositosis
3) Urium krestinin
4) Kalsium, fosfor, asam urat

c. Pemeriksaan Radiologist
Foto Polos perut / BNO (Bladder Neck Obstruction) dan Pemeriksaan rontgen
saluran kemih / IVP (Intranenous Pyelogram) untuk melihat lokasi batu dan besar
batu.

d. CT helikal tanpa kontras


CT helical tanpa kontras adalah teknik pencitraan yang dianjurkan pada pasien
yang diduga menderita nefrolitiasis. Teknik tersebut memiliki beberapa
keuntungan dibandingkan teknik pencitraan lainnya, antara lain: tidak
memerlukan material radiokontras; dapat memperlihatkan bagian distal ureter;
dapat mendeteksi batu radiolusen (seperti batu asam urat), batu radio-opaque,
dan batu kecil sebesar 1-2 mm; dan dapat mendeteksi hidronefrosis dan kelainan
ginjal dan intraabdomen selain batu yang dapat menyebabkan timbulnya gejala
pada pasien. Pada penelitian yang dilakukan terhadap 100 pasien yang datang
ke UGD dengan nyeri pinggang, CT helikal memiliki sensitivitas 98%, spesifisitas
100%, dan nilai prediktif negatif 97% untuk diagnosis batu ureter.

e. USG abdomen
Ultrasonografi memiliki kelebihan karena tidak menggunakan radiasi, tetapi
teknik ini kurang sensitif dalam mendeteksi batu dan hanya bisa
memperlihatkan ginjal dan ureter proksimal. Penelitian retrospektif

e. Penatalaksanaan Medis
Sjamsuhidrajat (2004) menjelaskan penatalaksanaan pada nefrolitiasis terdiri
dari :
a. Obat diuretik thiazid(misalnya trichlormetazid) akan mengurangi pembentukan
batu yang baru.
b. Dianjurkan untuk minum banyak air putih (8-10 gelas/hari).
c. Diet rendah kalsium dan mengkonsumsi natrium selulosa fosfat.
d. Untuk meningkatkan kadar sitrat (zat penghambat pembentukan batu kalsium)
di dalam air kemih, diberikan kalium sitrat.
e. Kadar oksalat yang tinggi dalam air kemih, yang menyokong terbentuknya
batu kalsium, merupakan akibat dari mengkonsumsi makanan yang kaya
oksalat (misalnya bayam, coklat, kacang-kacangan, merica dan teh). Oleh
karena itu sebaiknya asupan makanan tersebut dikurangi.
f. Kadang batu kalsium terbentuk akibat penyakit lain, seperti
hiperparatiroidisme, sarkoidosis, keracunan vitamin D, asidosis tubulus renalis
atau kanker. Pada kasus ini sebaiknya dilakukan pengobatan terhadap
penyakit-penyakit tersebut.
g. Dianjurkan untuk mengurangi asupan daging, ikan dan unggas, karena
makanan tersebut menyebabkan meningkatnya kadar asam urat di dalam air
kemih.
h. Untuk mengurangi pembentukan asam urat bisa diberikan allopurinol.
i. Batu asam urat terbentuk jika keasaman air kemih bertambah, karena itu
untuk menciptakan suasana air kemih yang alkalis (basa), bisa diberikan
kalium sitrat.
j. Dianjurkan untuk banyak minum air putih.

Sedangkan menurut Purnomo BB (2003), penatalaksanaan nefrolitiasis adalah :


a. Terapi Medis dan Simtomatik
Terapi medis berusaha untuk mengeluarkan batu atau melarutkan batu. Tetapi
simtomatik berusaha untuk menghilangkan nyeri. Selain itu dapat diberikan
minum yang berlebihan/ banyak dan pemberian diuretik.
b. Litotripsi
Pada batu ginjal, litotripsi dilakukan dengan bantuan nefroskopi perkutan
untuk membawa tranduser melalui sonde ke batu yang ada di ginjal. Cara ini
disebut nefrolitotripsi. Salah satu alternatif tindakan yang paling sering
dilakukan adalah ESWL. ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy)
adalah tindakan memecah batu yang ditembakkan dari luar tubuh dengan
menggunakan gelombang kejut yang dapat memecahkan batu menjadi
pecahan yang halus, sehingga pecahan tersebut dapat keluar bersama
dengan air seni. Keutungan dari tindakan ESWL ini yaitu tindakan ini dilakukan
tanpa membuat luka, tanpa pembiusan dan dapat tanpa rawat inap.
c. Tindakan Bedah
Tindakan bedah dilakukan jika tidak tersedia alat litotripsor tindakan bedah lain
adalah operasi kecil pengambilan batu ginjal / PCNL (Percutaneous
Nephrolithotomy). PCNL merupakan tindakan menghancurkan batu ginjal
dengan memasukkan alat endoskopi yang dimasukkan kedalam ginjal
sehingga batu dapat dihancurkan dengan alat tersebut. Tindakan ini
memerlukan pembiusan dan rawat inap.
f. Komplikasi
Menurut Guyton, 1993 komplikasi dari nefrolitiasis adalah :
a. Gagal Ginjal
Terjadinya karena kerusakan neuron yang lebih lanjut dan pembuluh darah yang
disebut kompresi batu pada membrane ginjal oleh karena suplai oksigen
terhambat. Hal in menyebabkan iskemis ginjal dan jika dibiarkan menyebabkan
gagal ginjal
b. Infeksi
Dalam aliran urin yang statis merupakan tempat yang baik untuk
perkembangbiakan microorganisme. Sehingga akan menyebabkan infeksi pada
peritoneal.
c. Hidronefrosis
Oleh karena aliran urin terhambat menyebabkan urin tertahan dan menumpuk
diginjal dan lam-kelamaan ginjal akan membesar karena penumpukan urin
d. Avaskuler Ischemia
Terjadi karena aliran darah ke dalam jaringan berkurang sehingga terjadi
kematian jaringan.

g. Diagnosa Keperawatan dan intervensi


Dx 1. Nyeri akut b.d inflamasi terhadap iritasi batu dan spasme otot polos.
Tujuan : Nyeri hilang atau terkontrol
Intervensi :
a. Kaji setatus nyeri klien ( P, Q, R, S, T)
b. Ajarkan teknik relaksasi ( imajinasi, distraksi) untuk mengurangi nyeri
c. Observasi reaksi verbal dan non verbal klien dari ketidaknyamanan
d. Evaluasi pengalaman nyeri klien
e. Tingkatkan istirahat
f. Gunakan teknik komunikasi terapiutik untuk mengetahui pengalaman nyeri
g. Bantu klien mengatur posisi untuk mengurangi keluhan
h. Kolaborasi medik pemberian analgetik

Dx 2. Resiko mengalami defisit cairan b.d neusea, muntah.


Tujuan : Tidak terdapat tanda- tanda dehidrasi
Intervensi :
a. Amati dan catat kelainan spt muntah
b. Beri diet sesuai program
c. Beri intake cairan 3000 ml – 4000 ml / hari.
d. Jelaskan pentingnya intake cairan 3000 – 4000 ml/hr.
e. Observasi tanda- tanda dehidrasi
f. Observasi intake dan out put cairan klien
g. Kolaborasi pemberian cairan intra vena

Dx 3. Cemas b.d perubahan dalam status kesehatan, krisis situasional.


Tujuan : Klien tidak lagi cemas
Intervensi :
a. Beri penjelasan tentang proses penyakitnya
b. Jelaskan seluru prosedur tindakan kepada klien dan perasaan yang mungkin
muncul pada saat melakukan tindakan
c. Berikan informsi mengenai diagnosa,prognosis,dan tindakan
d. Gunakan pendekatan dan sentuhan untuk mengurangi kecemasan pasien
e. Instruksikan klien untuk menggunakan teknik relaksasi
f. Berikan pilihan yang realistis mengenai aspek perawatan saat ini

7. UROLITIASIS
a. Definisi
 Urolithiasis adalah adanya batu (kalkuli) di traktus urinarius (Brunner and
Suddarth,  2002, hal. 1460).
 Urolithiasis adalah kalsifikasi dengan sistem urinari kalkuli, seringkali disebut
batu ginjal. Batu dapat berpindah ke ureter dan kandung kemih (Black,
Joyce, 1997, hal. 1595).
 Urolithiasis adalah benda zat padat yang dibentuk oleh presipitasi berbagai
zat terlarut dalam urine pada saluran kemih. Batu dapat berasal dari kalsium
oksalat (60%), fosfat sebagai campuran kalsium, amonium, dan magnesium
fosfat (batu tripel fosfat akibat infeksi) (30%), asam urat (5%), dan sistin
(1%).( Pierce A. Grace & Neil R. Borley 2006, ILMU BEDAH, hal. 171).
 Urolithiasis adalah penyakit diamana didapatkan batu di dalam saluran air
kemih, yang dimulai dari kaliks sampai dengan uretra anterior.(DR.
Nursalam, M. Nurs & Fransica B.B, Sistem Perkemihan, hal. 76).
 Urolithiasis adalah pengkristilan mineral yang mengelilingi zat organik,
misalnya nanah, darah, atau sel yang sudah mati. Biasanya  batu kalkuli
terdiri atas garam kalsium ( oksalat dan fosfat) atau magnesium fosfat dan
asam urat.(Mary baradero,SPC,MN & Yakobus Siswandi, MSN, klien
gangguan ginjal, hal 59).

b. Etiologi
Sampai saat sekarang penyebab terbentuknya batu belum diketahui secara pasti.
Beberapa faktor predisposisi terjadinya batu :
1.  Ginjal (Tubular rusak pada nefron, mayoritas terbentuknya batu)
2. Immobilisasi (Kurang gerakan tulang dan muskuloskeletal menyebabkan
penimbunan kalsium. Peningkatan kalsium di plasma akan meningkatkan
pembentukan batu)
3. Infeksi : infeksi saluran kemih dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan
menjadi inti pembentukan batu.
4. Kurang minum : sangat potensial terjadi timbulnya pembentukan batu.
5. Pekerjaan : dengan banyak duduk lebih memungkinkan terjadinya
pembentukan batu dibandingkan pekerjaan seorang buruh atau petani.
6. Iklim : tempat yang bersuhu dingin (ruang AC) menyebabkan kulit kering dan
pemasukan cairan kurang. Tempat yang bersuhu panas misalnya di daerah
tropis, di ruang mesin menyebabkan banyak keluar keringat, akan mengurangi
produksi urin.
7. Diuretik : potensial mengurangi volume cairan dengan meningkatkan kondisi
terbentuknya batu saluran kemih.
8.  Makanan, kebiasaan mengkonsumsi makanan tinggi kalsium seperti susu,
keju, kacang polong, kacang tanah dan coklat. Tinggi purin seperti : ikan,
ayam, daging, jeroan. Tinggi oksalat seperti : bayam, seledri, kopi, teh, dan
vitamin D.

c. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis adanya batu dalam traktus urinarius bergantung pada adanya
obstruksi, infeksi dan edema.
- Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi, menyebabkan
peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter
proksimal.
- Infeksi (pielonefritis dan sistitis yang disertai menggigil, demam dan disuria)
dapat terjadi dari iritasi batu yang terus menerus. Beberapa batu
menyebabkan sedikit gejala namun secara perlahan merusak unit fungsional
(nefron) ginjal.
- Nyeri yang luar biasa dan ketidak nyamanan.
Batu di piala ginjal
- Nyeri dalam dan terus-menerus di area kastovertebral.
- Hematuri dan piuria dapat dijumpai.
- Nyeri berasal dari area renal menyebar secara anterior dan pada wanita nyeri
ke bawah mendekati kandung kemih sedangkan pada pria mendekati testis.
- Bila nyeri mendadak menjadi akut, disertai nyeri tekan di area kostoveterbal,
dan muncul Mual dan muntah.
- Diare dan ketidaknyamanan abdominal dapat terjadi. Gejala gastrointestinal ini
akibat dari reflex renoinstistinal dan proksimitas anatomic ginjal ke lambung
pancreas dan usus besar.
Batu yang terjebak di ureter
- Menyebabkan gelombang Nyeri yang luar biasa, akut, dan kolik yang
menyebar ke paha dan genitalia.
- Rasa ingin berkemih namun hanya sedikit urine yang keluar.
- Hematuri akibat aksi abrasi batu.
- Biasanya batu bisa keluar secara spontan dengan diameter batu 0,5-1 cm.
Batu yang terjebak di kandung kemih
- Biasanya menyebabkan gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus
urinarius dan hematuri.
-  Jika batu menyebabkan obstruksi pada leher kandung kemih akan terjadi
retensi urine.

d. Pemeriksaan Diagnostik
1. Urinalisa : warna kuning, coklat gelap, berdarah. Secara umum menunjukkan
adanya sel darah merah, sel darah putih dan kristal(sistin,asam urat, kalsium
oksalat), serta serpihan, mineral, bakteri, pus, pH urine asam(meningkatkan
sistin dan batu asam urat) atau alkalin meningkatkan magnesium, fosfat
amonium, atau batu kalsium fosfat.
2. Urine (24 jam) : kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat atau sistin
meningkat.
3. Kultur urine : menunjukkan adanya infeksi saluran kemih (stapilococus aureus,
proteus,klebsiela,pseudomonas).
4. Survei biokimia : peningkatan kadar magnesium, kalsium, asam urat, fosfat,
protein dan elektrolit.
5. BUN/kreatinin serum dan urine : Abnormal ( tinggi pada serum/rendah pada
urine) sekunder terhadap tingginya batu okkstuktif pada ginjal menyebabkan
iskemia/nekrosis.
6. Kadar klorida dan bikarbonat serum : peningkatan kadar klorida dan
penurunan kadar bikarbonat menunjukkan terjadinya asidosis tubulus ginjal.
7. Hitung Darah lengkap : sel darah putih mungkin meningkat menunjukan
infeksi/septicemia.
8. Sel darah merah : biasanya normal.
9. Hb, Ht : abnormal bila pasien dehidrasi berat atau polisitemia terjadi
( mendorong presipitas pemadatan) atau anemia(pendarahan, disfungsi
ginjal).
10. Hormon paratiroid : mungkin meningkat bila ada gagal ginjal. (PTH
merangsang reabsorbsi kalsium dari tulang meningkatkan sirkulasi serum dan
kalsium urine).
11. Foto rontgen : menunjukkan adanya kalkuli atau perubahan anatomik  pada
area ginjal dan sepanjang ureter.
12. IVP : memberikan konfirmasi cepat urolithiasis, seperti penyebab nyeri
abdominal atau panggul. Menunjukan abdomen pada struktur anatomik
( distensi ureter) dan garis bentuk kalkuli.
13. Sistoureterokopi : visualisasi langsung kandung kemih dan ureter dapat
menunjukan batu dan efek obstruksi.
14. Stan CT : mengidentifikasi/ menggambarkan kalkuli dan massa lain, ginjal,
ureter, dan distensi kandung kemih.
15. USG Ginjal : untuk menentukan perubahan obstruksi, lokasi batu.

e. Penatalaksanaan Medis
1. Tujuannya :
a. Menghilangkan Batu
b. Menentukan jenis Batu
c. Mencegah kerusakan nefron
d. Mengendalikan infeksi
e. Mengurangi obstuksi yang terjadi
f. Mengurangi kemungkinan terjadinya rekurensi (terulang kembali).
2. Cara penanganan   :
- Pengurangan nyeri, mengurangi nyeri sampai penyebabnya dapat
dihilangkan, morfin diberikan untuk mencegah sinkop akibat nyeri luar
biasa. Mandi air hangat di area panggul dapat bermanfaat. Cairan yang
diberikan, kecuali pasien mengalami muntah atau menderita gagal jantung
kongestif atau kondisi lain yang memerlukan pembatasan cairan. Ini
meningkatkan tekanan hidrostatik pada ruang belakang batu sehingga
mendorong passase batu tersebut ke bawah. Masukan cairan sepanjang
hari mengurangi kosentrasi kristaloid urine, mengencerkan urine dan
menjamin haluaran urine yang besar.
- Pengangkatan batu, pemeriksaan sistoskopik dan passase kateter ureteral
kecil untuk menghilangkan batu yang menyebabkan obstruksi ( jika
mungkin), akan segera mengurangi tekanan belakang pada ginjal dan
mengurangi nyeri.
- Terapi nutrisi dan Medikasi. Terapi nutrisi berperan penting dalam
mencegah batu ginjal. Masukan cairan yang adekuat dan menghindari
makanan tertentu dalam diet yang merupakan bahan utama pembentuk
batu(mis.kalsium), efektif untuk mencegah pembentukan batu atau lebih
jauh meningkatkan ukuran batu yang telah ada. Minum paling sedikit 8
gelas sehari untuk mengencerkan urine, kecuali dikontraindikasikan.
- Batu kalsium, pengurangan kandungan kalsium dan fosfor dalam diet
dapat membantu mencegah pembentukan batu lebih lanjut.
- Batu fosfat, diet rendah  fosfor dapat diresepkan untuk pasien yang
memiliki batu fosfat, untuk mengatasi kelebihan fosfor, jeli aluminium
hidroksida dapat diresepkan karena agens ini bercampur dengan fosfor,
dan mengeksikannyamelalui saluran intensial bukan ke system urinarius.
- Batu urat, untuk mengatasi batu urat, pasien diharuskan diet rendah purin,
untuk mengurangi ekskresi asam urat dalam urine.
- Batu oksalat, urine encer  dipertahankan dengan pembatasan pemasukan
oksalat. Makanan yang harus dihindari mencakup sayuran hijau berdaun
banyak, kacang,seledri, coklat,the, kopi.
- Jika batu tidak dapat keluar secara spontan atau jika terjadi komplikasi,
modaritas penanganan mencakup terapi gelombang kejut ekstrakorporeal,
pengankatan batu perkutan, atau uteroroskopi.
- Lithotrupsi Gelombang Kejut Ekstrakorporeal, adalah prosedur
noninvasive yang digunakan untuk menghancurkan batu kaliks ginjal.
Setelah batu itu pecah menjadi bagian yang kecil seperti pasir, sisa batu-
batu tersebut dikeluarkan secara spontan
- Metode Endourologi Pengangkatan batu, bidang endourologi
menggabungkan keterampilan ahli radiologi dan urologi untuk mengankat
batu renal tanpa pembedahan mayor.
- Uteroskopi, mencakup visualisasi dan askes ureter dengan memasukan
suatu alat ureteroskop melalui sistoskop. Batu dihancurkan dengan
menggunakan laser, lithotripsy elektrohidraulik, atau ultrasound kemudian
diangkat.
- Pelarutan batu, infuse cairan kemolitik, untuk melarutkan batu dapat
dilakukan sebagai alternative penanganan untuk pasien kurang beresiko
terhadap terapi lain, dan menolak metode lain, atau mereka yang memiliki
batu yang mudah larut (struvit).
- Pengangkatan Bedah,sebelum adanya lithotripsy, pengankatan batu ginjal
secara bedah merupakan terapi utama. Jika batu terletak di dalam ginjal,
pembedahan dilakukan dengan nefrolitotomi (Insisi pada ginjal untuk
mengangkat batu atau nefrektomi, jika ginjal tidak berfungsi akibat infeksi
atau hidronefrosis. Batu di piala ginjal diangat dengan pielolitotomi,
sedangkan batu yang diangkat dengan ureterolitotomi, dan sistostomi jika
batu berada di kandung kemih., batu kemudian dihancur dengan penjepit
alat ini. Prosedur ini disebut sistolitolapaksi.

f. Komplikasi
1. Sumbatan : akibat pecahan batu
2. Infeksi : akibat desiminasi partikel batu ginjal atau bakteri akibat obstruksi
3. Kerusakan fungsi ginjal : akibat sumbatan yang lama sebelum pengobatan
dan pengangkatan batu ginjal

g. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi


Diagnosa 1
Nyeri berhubungan dengan peningkatan frekuensi/dorongan kontraksi uretral

Tujuan           :  - Melaporkan nyeri hilang/berkurang dengan spasme terkontrol


                - Tampak rileks mampu tidur/istirahat dengan tepat.

Intervensi Rasional

Catat lokasi, lamanya Membantu mengevaluasi tempat


intensitas (0-10) dan abstruksi dan kemajuan gerakan
penyebaran kalkulus

Berikan kesempatan untuk


pemberian analgesic sesuai waktu
Jelaskan penyebab nyeri
(membantu dalam meningkatkan
dan pentingnya melaporkan
koping pasien dan dapat
tentang perubahann kejadian
menurunkan ansietas).
/ karakyeristik nyeri.

Menaikkan relaksasi menurunkan


tegangan otot dan menaikkan
Berikan tindakan nyaman koping
contoh pijatan punggung
lingkungan istirahat.
Obstruksi lengkap ureter dapat
menyebabkan perforasi dan
Perhatikan keluhan/menetap ekstravasasi urine ke dalam area
nya nyeri abdomen. perineal.

Cairan membantu membersihkan


ginjal dan dapat mengeluarkan batu
Berikan banyak cairan bila kecil.
tidak ada mual, lakukan dan
pertahankan terapi IV yang
diprogramkan bila mual dan
muntah terjadi.
Gerakan dapat meningkatkan
pasase dari beberapa batu kecil
dan mengurangi urine statis.
Dorong aktivitas sesuai
Kenmyamanan meningkatkan
toleransi, berikan analgesic
istirahat dan penyembuhan mual
dan anti emetic sebelum
disebabkan oleh peningkatan nyeri.
bergerak bila mungkin.

                                                                 

Diagnosa 2

Perubahan eliminasi urine berdasarkan slimuti kandung kemih oleh batu,iritasi


ginjal oleh ureteral

Tujuan  -  Berkemih dengan jumlah normal dan pola biasanya

               -  Tidak mengalami tanda obstruksi

Intervensi Rasional

Awasi pemasukan dan Memberikan informasi tentang


keluaran serta karakteristik fungsi ginjal, dan adanya
urine komplikasi contoh infeksi dan
perdarahan

Kalkulus dapat menyebabkan


ekstibilitas yang menyebabkan
Tentukan pola berkemih sensasi kebutuhan berkemih
normal dan perhatikan segera
variasi

Peningkatan hidrasi membilas


bakteri,darah dan debris dan dapat
membantu lewatnya batu.
Dorong meningkatjkan
pemasukan cairan
Penemuan batu memungkinkan
identifikasi tipe batu dan
mempengaruhi pilihan terapi.

periksa semua urine catat


adanya keluaran batu dan
Akumulasi sisa uremik dank e tidak
kirim ke laboratorium untuk
seimbangan elektrolit dapat
analisa
menjadi toksik di SSP.

Observasi perubahan status


Peninggian BUN,kreatinin dan
mental,perilaku atau tingkat
elektrolit mengidentifikasikan
kesadaran
disfungsi ginjal.

Awasi pemeriksaan
laboratorium,contoh
BUN,elektrolit,kreatinin.

Diagnosa 3

Kekurangan volume cairan  berdasarkan mual / muntah

Tujuan :   -     Mempertahankan keseimbangan cairan

               -  Membran mukosa lembab


               -  Turgor kulit baik

Intervensi Rasional

Awasi intake dan Output Membandingkan keluaran actual


dan yang diantisifikasi membantu
dalam evaluasi adanya / derajat
statis / kerusakan ginjal.

Mual / muntah, diare secara umum


berdasarkan baik kolik ginjal karena
Catat insiden muntah,diare
saraf ganglion seliaka pada kedua
perhatikan karakteristik dan
ginjal dan lambung.
frekuensi mual / muntah dan
diare.

Mengkaji hidrasi dan efektifian /


kebutuhan intervensi.

Awasi Hb /Ht, elektrolit


Mempertahankan volume sirkulasi /
bila pemasukan oral tidak cukup,/
menaik fungsi ginjal.

Berikan cairan IV

Makanan mudah cerna


menurunkan aktivitas GI / iritasi dan
membantu mempertahankan cairan
dan keseimbangan nutrisi.
Berikan diet tepat,cairan
jernih,makanan lembut
sesuai toleransi.

8. HIDRONEFROSIS
a. Definisi
Hidronefrosis adalah dilatasi pelvis ureter yang dihasilkan oleh obstruksi
aliran keluar urin oleh batu atau kelainan letak arteria yang menekan ureter
sehingga pelvis membesar dan terdapat destruksi progresif jaringan ginjal
(Gibson, 2003). Hidronefrosis adalah pembesaran ginjal akibat tekanan balik
terhadap ginjal karena aliran air kemih tersumbat. Hidronefrosis adalah obstruksi
saluran kemih proksimal terhadap kandung kemih yang mengakibatkan
penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter serta atrofi pada
parenkim ginjal (Price, 2001). Dalam keadaan normal, air kemih mengalir dari
ginjal dengan tekanan yang sangat rendah. Jika aliran air kemih tersumbat, air
kemih akan mengalir kembali ke dalam tabungtabung kecil di dalam ginjal
(tubulus renalis) dan ke dalam daerah pusat pengumpulan air kemih (pelvis
renalis). Hal ini akan menyebabkan ginjal menggembung dan menekan jaringan
ginjal yang rapuh. Pada akhinya, tekanan hidronefrosis yang menetap dan berat
akan merusak jaringan ginjal sehingga secara perlahan ginjal akan kehilangan
fungsinya.
b. Etiologi
Hidronefrosis biasanya terjadi akibat adanya sumbatan pada sambungan
ureteropelvik (sambungan antara ureter dan pelvis renalis) yaitu :
a. Kelainan struktural, misalnya jika masuknya ureter ke dalam pelvis renalis
terlalu tinggi
b. Lilitan pada sambungan ureteropelvik akibat ginjal bergeser ke bawah;
c. Batu di dalam pelvis renalis;
d. Penekanan pada ureter oleh jaringan fibrosa, arteri atau vena yang letaknya
abnormal, dan tumor.
Hidronefrosis juga bisa terjadi akibat adanya penyumbatan dibawah
sambungan ureteropelvik atau karena arus balik air kemih dari kandung kemih:
 Batu di dalam ureter;
 Tumor di dalam atau di dekat ureter;
 Penyempitan ureter akibat cacat bawaan, cedera, infeksi, terapi penyinaran
atau pembedahan;
 Kelainan pada otot atau saraf di kandung kemih atau ureter;
 Pembentukan jaringan fibrosa di dalam atau di sekeliling ureter akibat
pembedahan, rontgen atau obat-obatan (terutama metisergid);
 Ureterokel (penonjolan ujung bawah ureter ke dalam kandung kemih);
 Kanker kandung kemih, leher rahim, rahim, prostat atau organ panggul
lainnya;
 Sumbatan yang menghalangi aliran air kemih dari kandung kemih ke uretra
akibat pembesaran prostat, peradangan atau kanker;
 Arus balik air kemih dari kandung kemih akibat cacat bawaan atau cedera;
 Infeksi saluran kemih yang berat, yang untuk sementara waktu menghalangi
kontraksi ureter.
c. Manifestasi Klinis
Pasien mungkin asimtomatik jika awitan terjadi secara bertahap. Obstruksiakut
dapat menimbulkan rasa sakit dipanggul dan pinggang. Jika terjadiinfeksi maja
disuria, menggigil, demam dan nyeri tekan serta piuria akanterjadi. Hematuri dan
piuria mungkin juga ada. Jika kedua ginjal kenamaka tanda dan gejala gagal
ginjal kronik akan muncul, seperti:
1. Hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium);
2. Gagal jantung kongestif;
3. Perikarditis (akibat iritasi oleh toksik uremi);
4. Pruritis (gatal kulit);
5. Butiran uremik (kristal urea pada kulit);
6. Anoreksia, mual, muntah, cegukan;
7. Penurunan konsentrasi, kedutan otot dan kejang;
8. Amenore, atrofi testikuler.(Smeltzer dan Bare, 2002).
d. Pemeriksaan Diagnostik
1. Adanya massa di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggul, terutama
jika ginjal sangat membesar.
2. USG, memberikan gambaran ginjal, ureter dan kandung kemih
3. Urografi intravena, bisa menunjukkan aliran air kemih melalui ginjal
4. Sistoskopi, bisa melihat kandung kemih secara langsung
5. Laboratorium Pemeriksaan darah bisa menunjukkan adanya kadar urea 
karena ginjal tidak mampu membuang limbah metabolik.

e. Penatalaksanaan Medis
Tujuannya adalah untuk mengaktivasi dan memperbaiki penyebab dari
hidronefrosis (obstruksi, infeksi) dan untuk mempertahankan dan
melindungifungsi ginjal.Untuk mengurangi obstruksi urin akan dialihkan melalui
tindakan nefrostomi atau tipe disertasi lainnya. Infeksi ditangani dengan agen anti
mikrobial karena sisa urin dalam kaliks akan menyebabkan infeksi dan
pielonefritis. Pasien disiapkan untuk pembedahan mengangkat lesi obstrukstif
(batu, tumor, obstruksi ureter). Jika salah satu fungsi ginjal rusak parah dan
hancur maka nefrektomi (pengangkatan ginjal) dapat dilakukan (Smeltzer dan
Bare, 2002)

f. Komplikasi
Jika hidronefrosis tetap tidak diobati, peningkatan tekanan di dalam ginjal
bisa menurunkan kemampuan ginjal untuk menyaring darah, mengeluarkan
produk sampah, dan membuat urin serta mengatur elektrolit dalam tubuh.
Hidronefrosis bisa menyebabkan infeksi ginjal (pyelonephrosis) gagal ginjal,
sepsis, dan dalam beberapa kasus, ginjal kehilangan fungsi atau kematian.
Fungsi ginjal akan mulai menurun segera dengan timbulnya hidronefrosis tetapi
reversibel jika tidak menyelesaikan pembengkakan. Biasanya ginjal sembuh
dengan baik bahkan jika ada halangan berlangsung hingga 6 minggu.
g. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
1. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan obstruksi akut
Intervensi :
 Bina hubungan saling percaya
 Kaji lokasi, lamanya, intensitas dan tingkat skala nyeri
 Atur posisi yang nyaman bagi klien
 Ajarkan pasien teknik relaksasi
 Berikan health education tentang penyebab nyeri yg dialami pasien
 Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesic
2. Perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan penyempitan
ureter/uretra
Intervensi :
 Kaji pemasukan cairan dan pengeluaran karakteristi urin
 Tentukan pola berkemih normal dan perhatikan variasi
 Dorong meningkatkan pemasukan cairan
 Observasi perubahan status mental, perilaku atau tingkat kesadaran
 Catat Px laboratorium, ureum, creatinin
 Amati keluhan kandung kemih, palpasi untuk distensi suprabubik,
pertahankan penurunan keluaran urine
3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan
muntah
Intervensi :
 Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi
 Kaji factor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi
 Anjurkan klien untuk modifikasi diit (porsi sedikit demi sedikit tapi
sering)
 Rencanakan pengaturan diit dengan libatkan klien dan ahli gizi
(kebutuhan kalori, variasi menu)
 Pantau intake nutrisi klien
 Timbang berat badan setiap hari
 Kolaborasi dengan dokter terkait pemberian obat-obatan bila ada
indikasi sesuai program

9. GLUMERULONEFROSIS
a. Definsi
Glomerulonefritis merupakan penyebab utama terjadinya gagal ginjal
tahap akhir dan tingginya angka morbiditas baik pada anak maupun pada
dewasa (Buku Ajar Nefrologi Anak, edisi 2, hal.323, 2002). Terminologi
glomerulonefritis yang dipakai disini adalah untuk menunjukkan bahwa kelainan
yang pertama dan utama terjadi pada glomerulus, bukan pada struktur ginjal
yang lain.
Glomerulonefritis merupakan penyakit peradangan ginjal bilateral.
Peradangan dimulai dalam gromleurus dan bermanifestasi sebagai proteinuria
dan atau hematuria. Meskipun lesi utama pada gromelurus, tetapi seluruh nefron
pada akhirnya akan mengalami kerusakan, sehingga terjadi gagal ginjal.
Penyakit yang mula-mula digambarkan oleh Richard Bright pada tahun 1827
sekarang diketahui merupakan kumpulan banyak penyakit dengan berbagai
etiologi, meskipun respon imun agaknya menimbulkan beberapa bentuk
glomerulonefritis.
Glomerulonefritis juga disebut dengan glomerulonefritis akut post
sterptokokus (GNAPS) adalah suatu proses radang non-supuratif yang
mengenai glomeruli, sebagai akibat infeksi kuman streptokokus beta hemolitikus
grup A, tipe nefritogenik di tempat lain. Penyakit ini sering mengenai anak-anak.
Glomerulonefritis akut (GNA) adalah suatu reaksi imunologis pada ginjal
terhadap bakteri atau virus tertentu.Yang sering terjadi ialah akibat infeksi kuman
streptococcus. Glomerulonefritis merupakan suatu istilah yang dipakai untuk
menjelaskan berbagai ragam penyakit ginjal yang mengalami proliferasi dan
inflamasi glomerulus yang disebabkan oleh suatu mekanisme imunologis.
Sedangkan istilah akut (glomerulonefritis akut) mencerminkan adanya korelasi
klinik selain menunjukkan adanya gambaran etiologi, patogenesis, perjalanan
penyakit dan prognosis.

b. Etiologi
Sebagian besar (75%) glomerulonefritis akut paska streptokokus timbul
setelah infeksi saluran pernapasan bagian atas, yang disebabkan oleh kuman
Streptokokus beta hemolitikus grup A tipe 1, 3, 4, 12, 18, 25, 49. Sedang tipe 2,
49, 55, 56, 57 dan 60 menyebabkan infeksi kulit 8-14 hari setelah infeksi
streptokokus, timbul gejala-gejala klinis. Infeksi kuman streptokokus beta
hemolitikus ini mempunyai resiko terjadinya glomerulonefritis akut paska
streptokokus berkisar 10-15%.
Streptococcus ini dikemukakan pertama kali oleh Lohlein pada tahun 1907
dengan alasan bahwa :
1. Timbulnya GNA setelah infeksi skarlatina.
2. Diisolasinya kuman Streptococcus beta hemolyticus golongan A.
3. Meningkatnya titer anti-streptolisin pada serum penderita.
Mungkin faktor iklim, keadaan gizi, keadaan umum dan faktor alergi
mempengaruhi terjadinya GNA setelah infeksi dengan kuman Streptococcuss.
Ada beberapa penyebab glomerulonefritis akut, tetapi yang paling sering
ditemukan disebabkan karena infeksi dari streptokokus, penyebab lain
diantaranya:
1. Bakteri : streptokokus grup C, meningococcocus, Sterptoccocus
Viridans, Gonococcus, Leptospira, Mycoplasma Pneumoniae,
Staphylococcus albus, Salmonella typhi dll
2. Virus : hepatitis B, varicella, vaccinia, echovirus, parvovirus, influenza,
parotitis epidemika dl
3. Parasit : malaria dan toksoplasma
1.2.1 Streptokokus
Sterptokokus adalah bakteri gram positif berbentuk bulat yang secara
khas membentuk pasangan atau rantai selama masa pertumbuhannya.
Merupakan golongan bakteri yang heterogen. Lebih dari 90% infeksi
streptokkus pada manusia disebabkan oleh Streptococcus hemolisis β
kumpulan A. Kumpulan ini diberi spesies nama S. pyogenes S. pyogenes β-
hemolitik golongan A mengeluarkan dua hemolisin, yaitu:

1.2.1.1 Sterptolisin O
Adalah suatu protein (BM 60.000) yang aktif menghemolisis dalam
keadaan tereduksi (mempunyai gugus-SH) tetapi cepat menjadi tidak aktif
bila ada oksigen. Sterptolisin O bertanggung jawab untuk beberapa hemolisis
yang terlihat ketika pertumbuhan dipotong cukup dalam dan dimasukkan
dalam biakan pada lempeng agar darah. Sterptolisisn O bergabung dengan
antisterptolisin O, suatu antibody yang timbul pada manusia setelah infeksi
oleh setiap sterptokokus yang menghasilkan sterptolisin O. antibody ini 
menghambat hemolisis oleh sterptolisin O. fenomena ini merupakan dasar
tes kuantitatif untuk antibody. Titer serum antisterptolisin O (ASO) yang
melebihi 160-200 unit dianggap abnormal dan menunjukkan adanya infeksi
sterptokokus yang baru saja terjadi atau adanya kadar antibodi yang tetap
tinggi setelah serangan infeksi pada orang yang hipersensitifitas.

1.2.1.2 Sterptolisin S
Adalah zat penyebab timbulnya zone hemolitik disekitar koloni
sterptokokus yang tumbuh pada permukaan lempeng agar darah. Sterptolisin
S bukan antigen, tetapi zat ini dapat dihambat oleh penghambat non spesifik
yang sering ada dalam serum manusia dan hewan dan tidak bergantung
pada pengalaman masa lalu dengan sterptokokus.

c. Manifestasi Klinis
Gambaran klinis dapat bermacam-macam. Kadang-kadang gejala ringan
tetapi tidak jarang anak datang dengan gejala berat. Kerusakan pada rumbai
kapiler gromelurus mengakibatkan hematuria/kencing berwarna merah daging
dan albuminuria, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Urine mungkin
tampak kemerah-merahan atau seperti kopi Kadang-kadang disertai edema
ringan yang terbatas di sekitar mata atau di seluruh tubuh. Umumnya edema
berat terdapat pada oliguria dan bila ada gagal jantung. Edema yang terjadi
berhubungan dengan penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG/GFR) yang
mengakibatkan ekskresi air, natrium, zat-zat nitrogen mungkin berkurang,
sehingga terjadi edema dan azotemia. Peningkatan aldosteron dapat juga
berperan pada retensi air dan natrium. Dipagi hari sering terjadi edema pada
wajah terutama edem periorbita, meskipun edema paling nyata dibagian anggota
GFR biasanya menurun (meskipun aliran plasma ginja biasanya normal)
akibatnya, ekskresi air, natrium, zat-zat nitrogen mungkin berkurang, sehingga
terjadi edema dan azotemia. Peningkatan aldosteron dapat juga berperan pada
retensi air dan natrium. Dipagi hari sering terjadi edema pada wajah terutama
edem periorbita, meskipun edema paling nyata dibagian anggota bawah tubuh
ketika menjelang siang. Derajat edema biasanya tergantung pada berat
peradangan glomerulus, apakah disertai dengan payah jantung kongestif, dan
seberapa cepat dilakukan pembatasan garam.

Gambar 0- 1 Proses terjadinya Proteinuria dan Hematuria


Hipertensi terdapat pada 60-70% anak dengan GNA pada hari pertama,
kemudian pada akhir minggu pertama menjadi normal kembali. Bila terdapat
kerusakan jaringan ginjal, maka tekanan darah akan tetap tinggi selama
beberapa minggu dan menjadi permanen bila keadaan penyakitnya menjadi
kronis. Suhu badan tidak beberapa tinggi, tetapi dapat tinggi sekali pada hari
pertama. Kadang-kadang gejala panas tetap ada, walaupun tidak ada gejala
infeksi lain yang mendahuluinya. Gejala gastrointestinal seperti muntah, tidak
nafsu makan, konstipasi dan diare tidak jarang menyertai penderita GNA.
Gejala klinis yang sering terjadi :
1. Riwayat infeksi pada tenggorokan atau kulit sebelumnya. Pada
beberapa kasus, penderita sering tidak menyadari atau adanya infeksi
pada tenggorokan atau kulit sebelumnya.
2. Terdapat darah pada urin. Darah pada urin dapat bersifat makroskopik
dan mikroskopik. Pada makroskopik dapat langsung terlihat dengan
mata telanjang, di mana urin berwarna merah hingga kecoklatan
sedangkan pada mikroskopik tidak dapat dilihat langsung dengan mata
telanjang dan urin tampak normal sehingga membutuhkan  bantuan
mikroskop. Pada beberapa kasus dapat hingga menyebabkan anemia
atau kekurangan sel darah merah.
3. Terdapat protein pada urin sehingga urin dapat tampak keruh dan
berbusa. Karena protein keluar melalui urin maka kadar protein di dalam
darah menjadi rendah.
4. Bengkak pada tubuh. Umumnya paling sering terlihat pada daerah
kelopak mata lalu ke wajah dan seluruh tubuh. Bengkak pada tubuh
dapat hilang timbul sehingga sering kali tidak disadari oleh penderita .
Misalnya pada pagi hari terjadi bengkak di kelopak mata, siangnya
bengkak hilang dan sorenya ditemukan pada kaki karena penderita
sering berdiri. Karena bengkak sering ditemukan pada kelopak mata,
seringkali penderita mengira matanya mengalami kelainan.
5. Tekanan darah meningkat.
6. Buang air kecil yang jarang dan sedikit.
7. Gejala lain seperti demam, mual, muntah, lemas, malas makan, dan
pucat dapat juga ditemukan pada penderita.

d. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Urin
- pH lebih dari 7,6
- Sediment sel darah merah lebih dari 90%
- Biakan urin
- Ekskresi kalsium fosfor, asam urat
2. Pemeriksaan darah
- Hb turun
- Leukositosis
- Urium krestinin
- Kalsium, fosfor, asam urat
3. Pemeriksaan Radiologist
Foto Polos perut / BNO (Bladder Neck Obstruction) dan Pemeriksaan
rontgen saluran kemih / IVP (Intranenous Pyelogram) untuk melihat lokasi
batu dan besar batu.
4. CT helikal tanpa kontras
CT helical tanpa kontras adalah teknik pencitraan yang dianjurkan pada
pasien yang diduga menderita nefrolitiasis. Teknik tersebut memiliki
beberapa keuntungan dibandingkan teknik pencitraan lainnya, antara lain:
tidak memerlukan material radiokontras; dapat memperlihatkan bagian distal
ureter; dapat mendeteksi batu radiolusen (seperti batu asam urat), batu
radio-opaque, dan batu kecil sebesar 1-2 mm; dan dapat mendeteksi
hidronefrosis dan kelainan ginjal dan intraabdomen selain batu yang dapat
menyebabkan timbulnya gejala pada pasien. Pada penelitian yang dilakukan
terhadap 100 pasien yang datang ke UGD dengan nyeri pinggang, CT helikal
memiliki sensitivitas 98%, spesifisitas 100%, dan nilai prediktif negatif 97%
untuk diagnosis batu ureter.
5. USG abdomen
Ultrasonografi memiliki kelebihan karena tidak menggunakan radiasi,
tetapi teknik ini kurang sensitif dalam mendeteksi batu dan hanya bisa
memperlihatkan ginjal dan ureter proksimal. Penelitian retrospektif

e. Penatalaksanaan
Tidak ada pengobatan yang khusus yang mempengaruhi penyembuhan kelainan
di glomerulus.
1. Istirahat mutlak selama 3-4 minggu. Dulu dianjurkan istirahat mutlah
selama 6-8 minggu untuk memberi kesempatan pada ginjal untuk
menyembuh. Tetapi penyelidikan terakhir menunjukkan bahwa
mobilisasi penderita sesudah 3-4 minggu dari mulai timbulnya penyakit
tidak berakibat buruk terhadap perjalanan penyakitnya.
2. Pemberian penisilin pada fase akut. Pemberian antibiotika ini tidak
mempengaruhi beratnya glomerulonefritis, melainkan mengurangi
menyebarnya infeksi Streptococcus yang mungkin masih ada.
Pemberian penisilin ini dianjurkan hanya untuk 10 hari, sedangkan
pemberian profilaksis yang lama sesudah nefritisnya sembuh terhadap
kuman penyebab tidak dianjurkan karena terdapat imunitas yang
menetap. Secara teoritis seorang anak dapat terinfeksi lagi dengan
kuman nefritogen lain, tetapi kemungkinan ini sangat kecil sekali.
Pemberian penisilin dapat dikombinasi dengan amoksislin 50 mg/kg BB
dibagi 3 dosis selama 10 hari. Jika alergi terhadap golongan penisilin,
diganti dengan eritromisin 30 mg/kg BB/hari dibagi 3 dosis.
3. Makanan. Pada fase akut diberikan makanan rendah protein (1
g/kgbb/hari) dan rendah garam (1 g/hari). Makanan lunak diberikan pada
penderita dengan suhu tinggi dan makanan biasa bila suhu telah normal
kembali. Bila ada anuria atau muntah, maka diberikan IVFD dengan
larutan glukosa 10%. Pada penderita tanpa komplikasi pemberian cairan
disesuaikan dengan kebutuhan, sedangkan bila ada komplikasi seperti
gagal jantung, edema, hipertensi dan oliguria, maka jumlah cairan yang
diberikan harus dibatasi.
4. Pengobatan terhadap hipertensi. Pemberian cairan dikurangi, pemberian
sedativa untuk menenangkan penderita sehingga dapat cukup
beristirahat. Pada hipertensi dengan gejala serebral diberikan reserpin
dan hidralazin. Mula-mula diberikan reserpin sebanyak 0,07 mg/kgbb
secara intramuskular. Bila terjadi diuresis 5-10 jam kemudian, maka
selanjutnya reserpin diberikan peroral dengan dosis rumat, 0,03
mg/kgbb/hari. Magnesium sulfat parenteral tidak dianjurkan lagi karena
memberi efek toksis.
5. Bila anuria berlangsung lama (5-7 hari), maka ureum harus dikeluarkan
dari dalam darah dengan beberapa cara misalnya dialisis pertonium,
hemodialisis, bilasan lambung dan usus (tindakan ini kurang efektif,
tranfusi tukar). Bila prosedur di atas tidak dapat dilakukan oleh karena
kesulitan teknis, maka pengeluaran darah vena pun dapat dikerjakan
dan adakalanya menolong juga.

f. Komplikasi
 Oliguria sampai anuria yang dapat berlangsung 2-3 hari. Terjadi sebagia
akibat berkurangnya filtrasi glomerulus. Gambaran seperti insufisiensi
ginjal akut dengan uremia, hiperkalemia, hiperfosfatemia dan hidremia.
Walau aliguria atau anuria yang lama jarang terdapat pada anak, namun
bila hal ini terjadi maka dialisis peritoneum kadang-kadang di perlukan.
 Ensefalopati hipertensi yang merupakan gejala serebrum karena
hipertensi. Terdapat gejala berupa gangguan penglihatan, pusing, muntah
dan kejang-kejang. Ini disebabkan spasme pembuluh darah lokal dengan
anoksia dan edema otak.
 Gangguan sirkulasi berupa dispne, ortopne, terdapatnya ronki basah,
pembesaran jantung dan meningginya tekanand arah yang bukan saja
disebabkan spasme pembuluh darah, melainkan juga disebabkan oleh
bertambahnya volume plasma. Jantung dapat memberas dan terjadi gagal
jantung akibat hipertensi yang menetap dan kelainan di miokardium.
 Anemia yang timbul karena adanya hipervolemia di samping sintesis
eritropoetik yang menurun.

g. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan


1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan retensi air dan
hipernatremia.
2. Peningkatan volume cairan berhubungan dengan oliguri.
3. Perubahan status nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan
dengan anorexia.

No Diagnosis Tujuan & KH Intervensi Rasional


1. Gangguan perfusi Klien akan 1. Monitor dan 1. Untuk
jaringan menunjukkan catat tekanan mendeteksi
berhubungan perfusi jaringan darah setiap 1-2 gejala dini
dengan retensi air serebral normal jam/hari selama perubahan
dan ditandai dengan fase akut. tekanan
hipernatremia. tekanan darah 2. Jaga kebersihan darah dan
dalam batas jalan napas, menentukan
normal, siapkan suction. intervensi
penurunan 3. Atur pemberian selanjutnya.
retensi air, tidak anti hipertensi, 2. Serangan
ada tanda- monitor reaksi dapat terjadi
tanda klien. karena
hipernatremia. 4. Monitor status kurangnya
volume cairan perfusi
setiap 1-2 jam, oksigen ke
monitor urine otak.
output (N: 1-2 3. Anti
ml/kgBB/jam. hipertensi
5. Kaji status dapat
neorologis diberikan
(tingkat karena tidak
kesadaran, terkontrolny
refleks, respon a hipertensi
pupil) setiap 8 yang dapat
jam. menyebabk
6. Atur pemberian an
diuretic: kerusakan
Esidriks, lasix ginjal.
sesuai order. 4. Monitor
sangat perlu
karena
perluasan
volume
cairan dapat
menyebabk
an tekanan
darah
meningkat.
5. Untuk
mendeteksi
secara dini
perubahan
yang terjadi
pada status
neurologis,
memudahka
n intervensi
selanjutnya.
6. Diuretic
dapat
meningkatka
n ekskresi
cairan.
2. Peningkatan Klien dapat 1. Timbang berat 1. Peningkatan
volume cairan mempertahanka badan tiap hari, berat badan
berhubungan n volume cairan monitor output merupakan
dengan oliguri. dalam batas urine tiap 4 jam. indikasi
normal ditandai 2. Kaji adanya adanya
dengan urine edema, ukur retensi
output 1-2 lingkar perut cairan,
ml/kgBB/jam. setiap 8 jam, penurunan
dan untuk anak output urine
laki-laki cek merupakan
adanya indikasi
pembengkakan munculnya
pada skrotum. gagal ginjal.
3. Monitor reaksi 2. Peningkatan
klien terhadap lingkar perut
terapi diuretic, dan
terutama bila pembengka
menggunakan kan pada
tiazid/furosemid skrotum
e. merupakan
4. Monitor dan indikasi
catat intake adanya
cairan. ascites.
5. Kaji warna, 3. Diuretic
konsentrasi dan dapat
berat jenis urine. menyebabk
6. Monitor hasil tes an
laboratorium. hipokalemia,
yang
membutuhk
an
penanganan
pemberian
potassium.
4. Klien
mungkin
membutuhk
an
pembatasan
pemasukan
cairan dan
penurunan
laju filtrasi
glomerulus,
dan juga
membutuhk
an
pembatasan
intake
sodium.
5. Urine yang
keruh
merupakan
indikasi
adanya
peningkatan
protein
sebagai
indikasi
adanya
penurunan
perfusi
ginjal.
6. Peningkatan
nitrogen,
ureum
dalam
darah, dan
kadar
kreatinin
merupakan
indikasi
adanya
gangguan
fungsi ginjal.

3. Perubahan status Klien akan 1. Sediakan makan 1. Diet tinggi


nutrisi (kurang menunjukkan dan karbohidrat karbohidrat
dari kebutuhan peningkatan yang tinggi. biasanya
tubuh) intake ditandai 2. Sajikan makan lebih cocok
berhubungan dengan porsi sedikit-sedikit dan
dengan anorexia. akan dihabiskan tapi sering, menyediaka
minimal 80%. termasuk n kalori
makanan esensial.
kesukaan klien. 2. Menyajikan
3. Batasi masukan makan
sodium dan sedikit-
protein sesuai sedikit tapi
order. sering,
memberikan
kesempatan
bagi klien
untuk
menikmati
makananny
a, dengan
menyajikan
makanan
kesukaanny
a dapat
meningkatka
n nafsu
makan.
3. Sodium
dapat
menyebabk
an retensi
cairan, pada
beberapa
kasus ginjal
tidak dapat
memetabolis
me protein,
sehingga
perlu untuk
membatasi
pemasukan
cairan.

10. SINDROM NEFROTIS


a. Definsi
Sindrom Nefrotik adalah Status klinis yang ditandai dengan peningkatan
permeabilitas membran glomerulus terhadap protein, yang mengakibatkan
kehilangan protein urinaris yang massif (Donna L. Wong, 2004 : 550).
Sindrom Nefrotik merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh injuri
glomerular yang terjadi pada anak dengan karakteristik; proteinuria,
hipoproteinuria, hipoalbuminemia, hiperlipidemia, dan edema (Suriadi dan Rita
Yuliani, 2001: 217).
Sindrom nefrotik (SN) merupakan sekumpulan gejala yang terdiri dari
proteinuria massif (lebih dari 50 mg/kgBB/24 jam), hipoalbuminemia (kurang dari
2,5 gram/100 ml) yang disertai atau tidak disertai dengan edema dan
hiperkolesterolemia. (Rauf, 2002 : 21).
b. Etiologi
Sebab yang pasti belum diketahui. Akhir-akhir ini dianggap sebagai suatu
penyakit autoimun. Jadi merupakan suatu reaksi antigen-antibodi. Umumnya
para ahli membagi etiologinya menjadi:

1. Sindrom nefrotik bawaan atau sindroma nefrotik primer yang 90% disebut
Sindroma nefrorik Idiopatik, diduga ada hubungan dengan genetik,
imunoligik dan alergi.
Diturunkan sebagai resesif autosomal atau karena reaksi
maternofetal. Resisten terhadap semua pengobatan. Gejalanya adalah
edema pada masa neonatus. Prognosis buruk dan biasanya penderita
meninggal dalam bulan-bulan pertama kehidupannya.
2. Sindrom nefrotik sekunder
Sindroma nefrotik sekunder yang penyebabnya berasal dari ekstra renal
(diluar ginjal). Sindrom jenis ini timbul sebagai akibat penyakit sistemik:
a. Penyakit keturunan/metabolic
 Diabetes
 Amiloidosis, penyakit sel sabit, nefritis membranoproliferatif
hipokomplementemik.
 Miksedemia
b. Infeksi
 Virus hepatitis B
 Malaria kuartana atau parasit lainnya
 Skistosoma
 Lepra
 Sifilis
 Pasca streptococcus
c. Toksin/Alergi
 Air raksa (Hg)
 Serangga
 Bisa ular
d. Penyakit sistemik/immune mediated
 Lupus eritematosus sistemik
 Purpura Henoch-Schonlein
 Sarkoidosis
e. Keganasan
 Tumor paru
 Penyakit Hodgkin
 Tumor saluran pencernaan
Sindrom nefrotik idiopatik (tidak diketahui penyebabnya)
Berdasarkan histopatologi yang tampak pada biopsi ginjal dengan pemeriksaan
mikroskop biasa dan mikroskop electron, Churg dan kawan-kawan membagi
dalam 4 golongan, yaitu :
a. Kelainan minimal
Dengan mikroskop biasa glomerulus tampak normal, sedangkan dengan
mikroskop electron tampak foot processus sel epitel berpadu. Dengan cara
imunofluoresensi ternyata tidak terdapat IgG atau immunoglobulin beta-IC
pada dinding kapiler glomerulus. Golongan ini lebih banyak terdapat pada
anak daripada orang dewasa. Prognosis lebih baik dibandingkan dengan
golongan lain.
b. Nefropati membranosa
Semua glomerulus menunjukan penebalan dinding kapiler yang tersebar
tanpa proliferasi sel. Tidak sering ditemukan pada anak. Prognosis kurang
baik.
c. Glomerulonefritis proliferatif
Glomerulonefritis proliferatif eksudatif difus
Terdapat proliferasi sel mesangial dan infiltasi sel polimorfonukleus.
Pembengkakkan sitoplasma endotel yang menyebabkan kapiler tersumbat.
Kelainan ini sering ditemukan pada nefritis yang timbul setelah infeksi dengan
Streptococcus yang berjalan progresif dan pada sindrom nefrotik.prognosis
jarang baik, tetapi kadang-kadang terdapat penyembuhan setelah
pengobatan yang lama.
d. Glomerulosklerosis fokal segmental
Pada kelainan ini yang mencolok sklerosis glomerulus. Sering ditandai
dengan atrofi tubulus. Prognosis buruk.
Sindroma nefrotik bisa terjadi akibat berbagai glomerulopati atau penyakit
menahun yang luas. Sejumlah obat-obatan yang merupakan racun bagi ginjal
juga bisa menyebabkan sindroma nefrotik, demikian juga halnya dengan
pemakaian heroin intravena.
Sindroma nefrotik bisa berhubungan dengan kepekaan tertentu.
Beberapa jenis sindroma nefrotik sifatnya diturunkan. Sindroma nefrotik yang
berhubungan dengan infeksi HIV (human immunodeficiency virus, penyebab
AIDS) paling banyak terjadi pada orang kulit hitam yang menderita infeksi ini.
Sindroma nefrotik berkembang menjadi gagal ginjal total dalam waktu 3-4 bulan.

Penyebab sindroma nefrotik:


Penyakit Obat-obatan alergi
-Amiloidosis -Obat pereda nyeri - Gigitan
- Kanker yang menyerupai serangga
- Diabetes aspirin - Racun pohon
- Glomerulopati - Senyawa emas ivy
- Infeksi HIV - Heroin intravena - Racun pohon
- Leukemia - Penisilamin ek
- Limfoma - Cahaya
- Gamopati matahari
monoclonal
- Mieloma multipel
-Lupus eritematosus
sistemik

c. Manifestasi Klinis
Gejala awalnya bisa berupa:
- berkurangnya nafsu makan
- pembengkakan kelopak mata
- nyeri perut
- pengkisutan otot
- pembengkakan jaringan akibat penimbunan garam dan air
- air kemih berbusa.
Perut bisa membengkak karena terjadi penimbunan cairan dan sesak
nafas bisa timbul akibat adanya cairan di rongga sekitar paru-paru (efusi pleura).
Gejala lainnya adalah pembengkakan lutut dan kantung zakar (pada pria).
Pembengkakan yang terjadi seringkali berpindah-pindah; pada pagi hari cairan
tertimbun di kelopak mata dan setalah berjalan cairan akan tertimbun di
pergelangan kaki. Pengkisutan otot bisa tertutupi oleh pembengkakan.
Pada anak-anak bisa terjadi penurunan tekanan darah pada saat
penderita berdiri dan tekanan darah yang rendah (yang bisa menyebabkan
syok). Tekanan darah pada penderita dewasa bisa rendah, normal ataupun
tinggi.
Produksi air kemih bisa berkurang dan bisa terjadi gagal ginjal karena
rendahnya volume darah dan berkurangnya aliran darah ke ginjal. Kadang gagal
ginjal disertai penurunan pembentukan air kemih terjadi secara tiba-tiba.
Kekurangan gizi bisa terjadi akibat hilangnya zat-zat gizi (misalnya
glukosa) ke dalam air kemih. Pertumbuhan anak-anak bisa terhambat. Kalsium
akan diserap dari tulang. Rambut dan kuku menjadi rapuh dan bisa terjadi
kerontokan rambut. Pada kuku jari tangan akan terbentuk garis horisontal putih
yang penyebabnya tidak diketahui.
Lapisan perut bisa mengalami peradangan (peritonitis). Sering terjadi
infeksi oportunistik (infeksi akibat bakteri yang dalam keadaan normal tidak
berbahaya). Tingginya angka kejadian infeksi diduga terjadi akibat hilangnya
antibodi ke dalam air kemih atau karena berkurangnya pembentukan antibodi.
Terjadi kelainan pembekuan darah, yang akan meningkatkan resiko
terbentuknya bekuan di dalam pembuluh darah (trombosis), terutama di dalam
vena ginjal yang utama. Di lain fihak, darah bisa tidak membeku dan
menyebabkan perdarahan hebat. Tekanan darah tinggi disertai komplikasi pada
jantung dan otak paling mungkin terjadi pada penderita yang memiliki diabetes
dan penyakit jaringan ikat.
Bengkak di badan sebabnya bisa bermacam-macam, antara lain:
a. penyakit jantung
b. penyakit liver
c. penyakit ginjal
d. alergi
e. busung lapar
Untuk memastikannya perlu ditelusuri:

a. Anamnesa (= riwayat penyakit)

b. Pemeriksaan fisik diagnostic

c. Pemeriksaan penunjang (laboratorium, rontgen, biospsi dll)

d. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain :

1. Urinalisa, bila perlu biakan urin


a. Protein urin kuantitatif (dapat berupa urin 24 jam) – meningkat
(> 50-80 mg/hari)
b. Urinalisis – cast hialin dan granular, hematuria
c. Dipstick urin – positif untuk protein dan darah
d. Berat jenis urin – meningkat
Acak (> 1,002-1,030)
24 jam (> 1,015-1,025)
2. Pemeriksaan darah:
a. Hemoglobin dan hematokrit – meningkat (hemokonsentrasi)
Darah lengkap:
Umur Hasil pemeriksaan
1-3 Hari (> 14,5-22,5 g/dl)
2 Bulan (> 9,0-14,0 g/dl)
6-12 Tahun (> 11,5-15,5 g/dl)
12-18 Tahun; Pria (> 13-16 g/dl), Wanita (> 12-16 g/dl)
Hematokrit:
Umur Hasil pemeriksaan
>2 bulan (> 28-42 %)
6-12 tahun (> 35-45 %)
12-18 tahun; pria (> 37-49 %), perempuan (> 36-46 %)
b. Laju Endap Darah (LED) – meningkat
(> 0-13 mm/jam)
c. Kadar albumin serum - menurun
Umur Hasil pemeriksaan
1-7 tahun (< 6,1-7,9 g/dl)
8-12 tahun (< 6,4-8,1 g/dl)
13-19 tahun (< 6,6-8,2 g/dl)
d. Kolesterol plasma – meningkat
12-19 tahun (> 230 mg/dl)
e. Kadar ureum, kreatinin serta kliren kreatinin.
Kreatinin serum:
Bayi (0,2-0,4 mg/dl)
Anak-anak (0,3-0,7 mg/dl)
Kliren kreatinin:
Bayi baru lahir (40-65 ml/menit/1,73 m2)
f. Kadar komplemen C3, bila dicurigai lupus eritematosus sistemik
pemeriksaan ditambah dengan komplemen C4, ANA (anti nuclear antibody).
3. Uji diagnostic
Biopsi ginjal merupakan uji diagnostik yang tidak dilakukan secara rutin (Betz,
Cecily L, 2002 : 335).

e. Penatalaksanaan Medis

1. Istirahat sampai edema tinggal sedikit.


2. Dietetik
Pemberian diit tinggi protein tidak diperlukan bahkan sekarang dianggap
kontra indikasi karena kana menambah beban glomerulus untuk
mengeluarkan sisa metabolisme protein (hiperfiltrasi) dan menyebabkan
terjadinya skerosis glomerulus. Jadi cukup diberikan diit protein normal
sesuai dengan RDA (Recommended Dailiy Allowances) yaitu 2-3
gram/kgBB/hari. Diit rendah protein akan menyebabkan mallnutrisi energi
protein (MEP) dan hambatan pertumbuhan anak. Diit rendah garam (1-2
gram/hari) hanya diperlukan selama anak menderita edema
3. Diuretikum
Restriksi cairan diperlukan selama ada edema berat. Biasanya diberikan loop
diuretik seperti furosemid 1-2mg/kgBB/hari, bila diperlukan dikombinasikan
dengan spironolakton (antagonis aldosteron, diuretik hamat kalium) 2-3
mg/kgBB/hari. Pada pemakaian diuretik lebih lama dari 1-2 minggu perlu
dilakukan pemantauan elektrolit darah (kalium dan natrium).
Bila pemberian diuretik tidak berhasil mengurangi edema (edema refrakter),
biasanya disebabkan oleh hipovolemia atau hipoalbuminemia berat (kadar
albumin ≤1gram/dl), dapat diberikan infus albumin 20-25% denagn dosis 1
gram/kgBB selama 4 jam untuk menarik cairan dari jaringan interstisial, dan
diakhiri dengan pemberian furosemid intravena 1-2 mg/kgBB. Bila pasien
tidak mampu dari segi biaya, dapat diberikan plasma sebanyak 20
ml/kgBB/hari secara perlahan-lahan 10 tetes/menit untuk mencegah
terjadinya komplikasi dekompensasi jantung. Bila diperlukan albumin dan
plasma dapat diberikan selang sehari untuk memberrikan kesempatan
pergeseran dan mencegah overload cairan
4. Antibiotika profilaksis
Di beberapa negara, pasien SN dengan edema dan ascites diberikan
antibiotik profilaksis dengan penicilin oral 125-250 mg, 2 kali sehari, sampai
edema berkurang. Di Indonesia tidak dianjurkan pemberian antibiotik
profilaksis, tetapi perlu dipantau secara berkala, dan bila ditemukan tanda-
tanda infeksi segera diberikan antibiotik
5. Pengobatan dengan Kortikosteroid
a. Pengobatan inisial
Sesuai dengan ISKDC (International Study on Kidney Diseasein
Children) pengobatan inisial SN dimulai dengan pemberian prednison
dosis penuh (full dose) 60 mg/m2LPB/hari atau 2mg/kgBB/hari (maksimal
80mg/hari), dibagi 3 dosis, untuk menginduksi remisi. Dosis prednison
dihitung sesuai dengan berat badan ideal (berat badan terhadap tinggi
badan). Prednison dosis penuh inisial diberikan selama 4 minggu.
Setelah pemberian steroid 2 minggu pertama, remisi telah terjadi pada
80% kasus, dan remisi mencapai 94% setelah pengobatan steroid 4
minggu. Bila terjadi remisi pada 4 minggu pertama, maka pemberian
steroid dilanjutkan dengan 4 minggu kedua dengan dosis
40mg/m2LPB/hari (2/3 dosis awal) secara alternating (selang sehari), 1
kali sehari setelah makan pagi. Bila setelah 4 minggu pengobatan steroid
dosis penuh, tidak terjadi remisi, pasien dinyatakan sebagai resisten
steroid.
b. Pengobatan relaps
Diberikan prednison dosis penuh sampai remisi (maksimal 4 minggu)
dilanjutkan dengan prednison dosis alternating selama 4 minggu. Pada
SN yang mengalami proteinuria ≥ 2+ kembali tetapi tanpa edema,
sebelum dimulai pemberian prednison, terlebih dahulu dicari pemicunya,
biasanya infeksi saluran nafas atas. Bila ada infeksi diberikan antibiotik
5-7 hari, dan bila setelah pemberian antibiotik kemudian proteinuria
menghilang tidak perlu diberikan pengobatan relaps. Bila sejak awal
ditemukan proteinuria ≥ 2+ disertai edema, maka didiagnosis sebagai
relaps.
Jumlah kejadian relaps dalam 6 bulan pertama pasca pengobatan inisial,
sangat penting, karena dapat meramalkan perjalanan penyakit
selanjutnya. Berdasarkan relaps yang terjadi dalam 6 bulan pertama
pasca pengobatan steroid inisial, pasien dapat dibagi dalam beberapa
golongan:
 Tidak ada relaps sama sekali (30%)
 Dependen steroid.
 Relaps sering : jumlah relaps ≥ 2 kali (40-50%)
 Relaps jarang : jumlah relaps
c. Pengobatan SN relaps sering atau dependen steroid
Bila pasien telah dinyatakan sebagai SN relaps sering atau dependen
steroid, setelah mencapai remisi dengan prednison dosis penuh,
diteruskan dengan steroid alternating dengan dosis yang diturunkan
perlahan / bertahap 0,2 mg/kgBB sampai dosis terkecil yang tidak
menimbulkan relaps yaitu antara 0,1-0,5 mg/kgBB alternating. Dosis ini
disebut dosis threshold dan dapat diterukan selama 6-12 bulan,
kemudian dicoba dihentikan. Bila terjadi relaps pada dosis prednison
rumat >0,5 mg/kgBB alternating, tetapi <1,0>2.
Bila ditemukan keadaan dibawah ini:
 Terjadi relaps pada dosis rumat > 1 mg/kgBB dosis alternating atau
 Pernah relaps dengan gejala berat, seperti hipovolemia, trombosis,
sepsis.
Diberikan CPA dengan dosis 2-3 mg/kgBB/hari, dosis tunggal, selama 8-
12 minggu.

d. Pengobatan SN resisten steroid


Pengobatan SN resisten steroid (SNRS) sampai sekarang belum
memuaskan. Sebelum pengobatan dimulai, pada pasien SNRS
dilakukan biopsi ginjal untuk melihat gambaran patologi anatomi ginjal,
karena gambaran patologi anatomi tersebut mempengaruhi prognosis.
Pengobatan dengan CPA memberikan hasil yang lebih baik bila hasil
biopsi ginjal menunjukkan SNKM daripada GSFS. Dapat juga diberikan
Siklosporin (CyA), metil prednisolon puls, dan obat imunosupresif lain
6. Lain-lain
fungsi asites, funsi hidrotoraks dilakukan bila ada indikasi vital. Bila ada
gagal jantung diberikan digitalis.

f. Komplikasi

Ada beberapa komplikasi pada penderita Sindrom Nefrotik, yaitu:


1. Kelainan Koagulasi dan Tendensi Trombosis
Beberapa kelainan koagulasi dan sistem fibrinolitik banyak ditemukan pada
pasien SN. Angka kejadian terjadinya komplikasi tromboemboli pada anak tidak
diketahui namun lebih jarang daripada orang dewasa. Diduga angka kejadian
komplikasi ini sebesar 1,8 % pada anak. Pada orang dewasa umunya
kelainannya adalah glomerulopathi membranosa (GM) suatu kelainan yang
sering menimbulkan trombosis. Secara ringkas kelainan hemostasis SN dapat
timbul dari dua mekanisme yang berbeda:
a. Peningkatan permeabilitas glomerulosa mengakibatkan :
 meningkatnya degradasi renal dan hilangnya protein didalam urin seperti
anti thrombin III, protein S bebas, plasminogen dan anti plasmin.
 Hipoalbunemia menimbulkan aktivasi trombosit lewat tromboksan A2,
meningkatnya sintesis protein prokoagulan karena hiporikia dan
tertekannya fibrinolisis.
b. Aktivasi sistem hemostatik didalam ginjal dirangsang oleh faktor jaringan
monosit dan oleh paparan matrik subendotel pada kapiler glomerulus yang
selanjutnya mengakibatkan pembentukan fibrin dan agregasi trombosit.
2. Kelainan Hormonal dan Mineral
Gangguan timbul karena terbuangnya hormone-hormon yang terikat pada
protein. Thyroid binding globulin umumnya berkaitan dengan proteinuria.
Hipokalsemia bukan hanya disebabkan karena hipoalbuminemia saja, namun
juga terdapat penurunan kadar ionisasi bebas, yang berarti terjadi hiperkalsiuria
yang akan membaik bila proteinuria menghilang. Juga terjadi penurunan
absorpsi kalsium dalam saluran cerna yang terlihat dengan adanya ekskresi
kalsium dalam feses yang sama atau lebih besar dari intake. Adanya
hipokalsemia, hipokalsiuria dan penurunan absorpsi kalsium dalam saluran
cerna diduga karena adanya kelainan metabolismevitamin D. Namun demikian,
karena gejala-gejala klinik berupa gangguan tulang jarang dijumpai pada anak,
maka pemberian vitamin D rutin tidak dianjurkan.
3. Ganggguan Pertumbuhan dan Nutrisi
Sejak lama diketahui bahwa anak-anak dengan sindrom nefrotik mengalami
gangguan pertumbuhan. Ganguan pertumbuhan pada anak dengan sindrom
nefrotik adalah disebabkan karena malnutrisi protein kalori, sebagai akibat nafsu
makan yang berkurang, terbuangnya protein dalam urin, malabsorbsi akibat
sembab mukosa saluran cerna serta terutama akibat terapi steroid. Terapi
steroid dosis tinggi dalam waktu lama menghambat maturasi tulang, terhentinya
pertumbuhan tulang linear dan menghambat absorbsi kalsium dalam intestinum,
terutama bila dosis lebih besar dari 5 mg/m/hari. Kortikosteroid mempunyai efek
antagonis terhadap hormone pertumbuhan endogen dan eksogen dalam jaringan
perifer melalui efek somatomedin. Cara pencegahan terbaik adalah dengan
menghindari pemberian steroid dosis tinggi dalam waktu lama serta mencukupi
intake kalori dan protein serta tidak kalah pentingnya adalah juga menghindari
stress psikologik.
4. Infeksi
Kerentanan terhadap infeksi meningkat karena rendahnya kadar
immunoglobulin, defisiensi protein, defek opsonisasi bakteri, hipofungsi limpa
dan terapi imunosupresan. Kadar Ig G menurun tajam sampai 18 % normal.
Kadar Ig M meningkat yang diduga karena adanya defek pada konversi yang
diperantarai sel T pada sintesis Ig M menjadi Ig G. defek opsonisasi kuman
disebabkan karena menurunnya faktor B ( C3 proactivator) yang merupakan
bagian dari jalur komplemen alternatif yang penting dalam opsonisasi terhadap
kuman berkapsul, seperti misalnya pneumococcus dan Escherichia coli.
Penurunan kadar faktor B ( BM 80.000 daltons ) terjadi karena terbuang melalui
urine. Anak-anak dengan sindrom nefrotik berisiko menderita peritonitis dengan
angka kejadian 5 %. Kuman penyebabnya terutama Streptococcus pneumoniae
dan kuman gram negatif. Infeksi kulit juga sering dikeluhkan. Tidak dianjurkan
pemberian antimikroba profilaksis.
5. Anemia
Biasanya terjadi anemia hipokrom mikrositer, anemia yang khas defisiensi besi,
tetapi resisten terhadap terapi besi. Sebabnya adalah meningkatnya volume
vaskuler, hemodilusi dan menurunnya kadar transferin serum karena terbuang
bersama protein dalam urine.
6. Gangguan Tubulus Renal
Hiponatremia terutama disebabkan oleh retensi air dan bukan karena defisit
natrium, karena meningkatnya reabsorbsi natrium di tubulus proksimal dan
berkurangnya hantaran Na dan H2O ke pars asenden Ansa Henle. Pada anak
dengan sindrom nefrotik terjadi penurunan volume vaskuler dan peningkatan
sekresi renin dan aldosteron sehingga sekresi hormone antidiuretik meningkat.
Angiotensin II meningkat akan menimbulkan rasa haus sehingga anak akan
banyak minum meskipun dalam keadaan hipoosmolar dan adanya defek
ekskresi air bebas. Gangguan pengasaman urine ditandai oleh ketidakmampuan
manurunkan pH urine setelah pemberian beban asam. Diduga defek distal ini
disebabkan oleh menurunnya hantaran natrium ke arah asidifikasi distal.
Keadaan tersebut dapat dikoreksi dengan pemberian furosemide yang
meningkatkan hantaran ke tubulus distal dan menimbulkan lingkaran intraluminal
yang negatif yang diperlukan agar sekresi ion hydrogen menjadi maksimal.
Disfungsi tubulus proksimal ditandai dengan adanya bikarbonaturia dan
glukosuria. Disfungsi tubulus proksimal agak jarang ditemukan.
7. Gagal Ginjal Akut
Dapat terjadi pada sindrom nefrotik kelainan minimal atau glomerulosklerosis
fokal segmental dengan gejala-gejala oliguria yang resisten terhadap diuretik.
Dapat sembuh spontan atau dialysis. Penyebabnya bukan karena hipovolemia,
iskemi renal ataupakibat perubahan membran basal glomerulus, tetapi adalah
karena sembab interstitial renal sehingga terjadi peningkatan tekanan tubulus
proksimal yang mengakibatkan penurunan laju filtrasi glomerulus. Adanya gagal
ginjal akut pada sindrom nefrotik harus dicari penyebabnya. Apakah bukan
karena nefritis interstitial karena diuretic, nefrotoksik bahan kontras radiologi,
nefrotoksik antibiotik atau nefritis interstitial alergi karena antibiotik atau bahan
lain.

g. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan

a) Kelebihan volume cairan berhubungan


dengan kehilangan protein sekunder terhadap peningkatan permiabilitas
glomerulus.
Tujuan volume cairan tubuh akan seimbang dengan kriteria hasil penurunan
edema, ascites, kadar protein darah meningkat, output urine adekuat 600 –
700 ml/hari, tekanan darah dan nadi dalam batas normal.

Intervensi Rasional

1. Catat intake dan output secara Evaluasi harian


akurat keberhasilan terapi dan
dasar penentuan tindakan

2. Kaji dan catat tekanan darah, Tekanan darah dan BJ


pembesaran abdomen, BJ urine dapat menjadi
urine indikator regimen terapi
3. Timbang berat badan tiap hari
Estimasi penurunan
dalam skala yang sama
edema tubuh
4. Berikan cairan secara hati-hati
dan diet rendah garam.
5. Diet protein 1-2 gr/kg BB/hari. Mencegah edema
bertambah berat

Pembatasan protein
bertujuan untuk
meringankan beban kerja
hepar dan mencegah
bertamabah rusaknya
hemdinamik ginjal.

b) Perubahan nutrisi ruang dari kebutuhan


berhubungan dengan malnutrisi sekunder terhadap kehilangan protein dan
penurunan napsu makan.
Tujuan kebutuhan nutrisi akan terpenuhi dengan kriteria hasil napsu makan
baik, tidak terjadi hipoprtoeinemia, porsi makan yang dihidangkan
dihabiskan, edema dan ascites tidak ada.

Intervensi Rasional

1. Monitoring asupan nutrisi


makanan secara akurat bagi tubuh
2.
hipoproteinemia, diare.
Gangguan nuirisi dapat
terjadi secara perlahan.
3.
Diare sebagai reaksi
makanan dengan diet yang
edema intestinal
cukup
Mencegah status nutrisi
menjadi lebih buruk

c) Resiko tinggi infeksi berhubungan


dengan imunitas tubuh yang menurun.
Tujuan tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil tanda-tanda infeksi tidak ada,
tanda vital dalam batas normal, ada perubahan perilaku keluarga dalam
melakukan perawatan.

Intervensi Rasional

1. Meminimalkan masuknya
yang terkena infeksi melalui organisme
pembatasan pengunjung.
2.
non infeksi
3.
Mencegah terjadinya
sesudah tindakan.
infeksi nosokomial
4.
aseptik Mencegah terjadinya
infeksi nosokomial

Membatasi masuknya
bakteri ke dalam tubuh.
Deteksi dini adanya infeksi
dapat mencegah sepsis.