Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

TINJAUAN PUSTAKA
FRAKTUR

1. Pengertian
1) Fraktur adalah terputusnya kontuinitas tulang dan ditentukan sesuai jenis
dan luasnya, fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari
yang dapat diabsorbsinya (Smelter & Bare, 2002).
2) Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga
fisik (Price, 1995)
3) Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, kebanyakan fraktur akibat
dari trauma, beberapa fraktur sekunder terhadap proses penyakit seperti
osteoporosis, yang menyebabkan fraktur yang patologis (Barret dan
Bryant, 1990)
4) Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang ditandai oleh rasa
nyeri, pembengkakan, deformitas, gangguan fungsi, pemendekan, dan
krepitasi (Doenges, 2000).
5) Fraktur adalah teputusnya jaringan tulang/tulang rawan yang umumnya
disebabkan oleh ruda paksa

2. Etiologi
1) Kekerasan langsung
Terkena pada bagian langsung trauma
2) Kekerasan tidak langsung
Terkena bukan pada bagian yang terkena trauma
3) Kekerasan akibat tarikan otot
4) Pathologis ( osteoporosis )

3. Klasifikasi
Penampikan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis ,
dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:
1) Berdasarkan sifat fraktur.
(1) Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara
fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena
kulit masih utuh) tanpa komplikasi.
(2) Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara
hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya
perlukaan kulit.
2) Berdasarkan komplit atau ketidakkomplitan fraktur.
(1) Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang
atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
(2) Fraktru Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang
tulang seperti:
- Hair Line Fraktur (patah retidak rambut)
- Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks
dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya.
- Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi
korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang.
3) Berdasarkan bentuk garis patah dan hubbungannya dengan mekanisme
trauma.
(1) Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan
merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
(2) Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut
terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasijuga.
(3) Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral
yang disebabkan trauma rotasi.
(4) Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi
yang mendorong tulang ke arah permukaan lain.
(5) Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau
traksi otot pada insersinya pada tulang.
4) Berdasarkan jumlah garis patah.
(1) Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan
saling berhubungan.
(2) Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi
tidak berhubungan.
(3) Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
pada tulang yang sama.
5) Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.
(1) Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi
kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum nasih utuh.
(2) Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang
juga disebut lokasi fragmen, terbagi atas:
- Dislokai ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah
sumbu dan overlapping).
- Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
- Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling
menjauh).
6) Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.
7) Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.

Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan


jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:
1) Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak
sekitarnya.
2) Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan
subkutan.
3) Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian
dalam dan pembengkakan.
4) Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata ddan
ancaman sindroma kompartement.

4. Manifestasi Klinis
1) Nyeri
2) Perubahan bentuk
3) Bengkak
4) Peningkatan temperatur lokal
5) Pergerakan abnormal.
6) Krepitasi
7) Kehilangan fungsi
5. Web Of Cautions
Trauma langsung / Tidak langsung

Jaringan tulang

Diskontinuitas tulang (fraktur)

Terbuka Tertutup

Gerakan fragmen tulang Perubahan struktur Keruskan rangka


yang patah jaringan tulang neuromuskular

Pembuluh Penurunan fungsi


Imobilisasi Krepitasi Nyeri Spasme otot
darah rusak gerak
Fragmen Tulang
Tembus Kulit Perdarahan meningkat
Pergerakan
minimal Anemia Gangg. Mobilitas
Kontak dengan fisik
dunia luar Gangg. Mobilitas Syock
Decubitus Pemenuhan ADL <
fisik

Kontaminasi
Gangg. Perfusi
Kerusakan integritas jaringan
Risti infeksi kulit

Gangg. Pemenuhan ADL

6. Komplikasi
1) Komplikasi Awal
(1) Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi,
CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan
dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi
splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan
pembedahan.
(2) Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi
karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam
jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang
menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena tekanan
dari luar seperti gips dan embebatan yang terlalu kuat.

(3) Fat Embolism Syndrom


Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering
terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel
lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan
menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai
dengan gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi, tachypnea,
demam.
(4) Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada
trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk
ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga
karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
(5) Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak
atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali
dengan adanya Volkman’s Ischemia.
(6) Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya
permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi.
Ini biasanya terjadi pada fraktur.
2) Komplikasi Dalam Waktu Lama
(1) Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai
dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini
disebabkan karenn\a penurunan supai darah ke tulang.

(2) Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan
memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9
bulan. Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih
pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis. Ini
juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.
(3) Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan
meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas).
Malunion dilakukan dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik.
(Black, J.M, et al, 1993)
7. Pemeriksaan penunjang
1) X.Ray
2) Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans
3) Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.
4) CCT kalau banyak kerusakan otot

8. Penatalaksanaan
1) Reduksi, untuk memperbaiki kesegarisan tulang (menarik)
2) Immobilisasi, untuk mempertahankan posisi reduksi dan memfasilitasi
union (eksternal  gips, traksi, fiksasi eksternal. Internal  nail &
plate).
3) Rehabilitasi, mengembalikan ke fungsi semula.

9. Pengkajian
1) BREATHING
Akibat dari nyeri yang dialami manifestasi klinis dari pasien akan
meningkatkan freuensi nafas. Pada keadaan fraktur terbuka dan terjadi
peningkatan jumlah perdarahan meningkatkan tingkat pernafasan pasien
2) BLOOD
Hipertensi (kadang – kadanng terlihat sebagai respon terhadap nyeri /
ansietas) atau hipotensi. Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)
Takikardia (respon stress, hipovolemia)
Penurunan / tidak ada nadi pada bagian distal yang cidera , pengisian
kapiler lambat, pucat pada bagian yang terkena.
Pembengkakan jaringan atau masa hematom pada sisi cidera.
Capilary refil melambat
Pucat pada bagian yang terkena
Masa hematoma pada sisi cedera
3) BRAIN
Hilang gerakan / sensori, spasme otot.
Kebas / kesemutan (parestesis).
Tanda : Deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi,
krepitasi, spasme otot, terlihat kelemahan / hilang fungsi.
4) BLADDER
Sulit BAK karena menahan nyeri dan imobilisasi, kesulitan melakukan
kebutuhan ADL

5) BOWEL
Normal, beberapa klien mengeluh sulit BAB karena konstipasi akibat bed
rest yang lama dan imobilisasi
6) BONE
Laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan warna.
Deformitas lokal; angulasi abnomal, pemendekan, rotasi, krepitasi (bunyi
berderit), spasme otot, terlihat kelemahan / hilang fungsi
Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri / ansietas atau trauma lain)
Pembengkakan lokal (dapat meningkatkan secara bertahap / tiba – tiba)

10. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi


Diagnosa 1
Gangguan perfusi perifer berhubungan dengan berkurangnya aliran darah
akibat adanya trauma jaringan/tulang
Data penunjang :
- Daerah perifer pucat / sianosis.
- Pengisian kapiler darah yang trauma  5 detik.
- Daerah perifer dengin
Tujuan : Perfusi perifer dapat dipertahankan.
Kriteria :
- HR. 60 - 100 x per menit.
- Kulit hangat sensori normal.
- Sistolik 100 - 140 mmHg.
- RR. 16 - 24 x per menit.
- Urine out put 30 - 50 cc per jam.
- Pengisian kapiler 3 - 5 detik.
Intervensi
1. Observasi tanda-tanda vital.
R : Untuk mengetahui tanda-tanda syok sedini mungkin
2. Mengkaji sumber, lokasi, dan banyaknya perdarahan
R : Untuk menentukan tindak an
3. Memberikan posisi supinasi
R : Untuk mengurangi perdarahan dan mencegah kekurangan darah ke
otak
4. Memberikan banyak cairan (minum)
R : Untuk mencegah kekurangan cairan (mengganti cairan yang hilang)
5. Pemberian cairan per infus
R : Pemberian cairan per-infus
6. Pemberian obat koa-gulan sia (vit.K, Adona) dan penghentian perdarahan
dengan fiksasi.
R : Membantu proses pem-bekuan darah dan untuk menghentikan
perdarahan.
7. Pemeriksaan laborato- rium (Hb, Ht)
R : Untuk mengetahui kadar Hb, Ht apakah perlu transfusi atau tidak.
Diagnosa 2
Nyeri berhubungan dengan geseran/pergerakan fragmen tulang.
Data penunjang :
- Nyeri saat digerakkan
- Bengkak pada lokasi fraktur.
- Spasme otot
Tujuan : Nyeri berkurang, dan dapat diatasi.
Kriteria :
- Klien tidak mengeluh nyeri.
- Pembengkakan hilang atau berkurang.
- Otot relaksasi
Intervensi Keperawatan
1. Observasi karakteristik nyeri : lokasi, durasi, intensitas nyeri dengan
menggunakan skala nyeri (0-10)
R : Untuk mengetahui tingkat rasa nyeri sehingga dapat menentukan jenis
tindak annya
2. Mempertahankan immobilisasi (back slab)
R : Mencegah pergeseran tulang dan penekanan pada jaringan yang luka
3. Berikan sokongan (support) pada ektremitas yang luka.
R : Peningkatan vena return, menurunkan edem, dan mengurangi nyeri
4. Menjelaskan seluruh prosedur di atas
R : Untuk mempersiapkan mental serta agar pasien berpartisipasi pada
setiap tindakan yang akan dilakukan
5. Pemberian obat-obatan analgesik
R : Mengurangi rasa nyeri
Diagnosa 3
Potensial infeksi berhubungan dengan adanya luka fraktur terbuka.
Data penunjang :
Adanya luka pada daerah fraktur.
Tujuan : Infeksi tidak terjadi.
Kriteria :
- Penyembuhan luka sempurna.
- Tidak ada tanda infeksi.
- Bagian yang fraktur/luka dapat berfungsi seperti semula
Intervensi Keperawatan :
1. Observasi keadaan luka (kontinuitas dari kulit) terhadap adanya: edema,
rubor, kalor, dolor, fungsi laesa.
R : Untuk mengetahui tanda-tanda infeksi
2. Anjurkan pasien untuk tidak memegang bagian yang luka.
R : Meminimalkan terjadinya kontaminasi
3. Merawat luka dengan menggunakan tehnik aseptic
R : Mencegah kontaminasi dan kemungkinan infeksi silang
4. Mewaspadai adanya keluhan nyeri mendadak, keterbatasan gerak, edema
lokal, eritema pada daerah luka.
R : Merupakan indikasi adanya osteomilitis
5. Pemeriksaan darah : leokosit
R : Lekosit yang meningkat artinya sudah terjadi proses infeksi
6. Pemberian obat-obatan :
antibiotika dan TT (Toksoid Tetanus)
R : Untuk mencegah kelanjutan terjadinya infeksi. dan pencegahan tetanus
7. Persiapan untuk operasi sesuai indikasi
R : Mempercepat proses penyembuhan luka dan dan penyegahan
peningkatan infeksi.
Diagnosa 4
Ansietas b/d adanya ancaman terhadap konsep diri/citra diri
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 X 24 jam, klien memiliki
rentang respon adaptif
Kriteria hasil :
- Tampak relaks dan melaporkan ansietas menurun sampai dapat ditangani.
- Mengakui dan mendiskusikan rasa takut.
- Menunjukkan rentang perasaan yang tepat.

Intervensi keperawatan :
1. Dorong ekspresi ketakutan/marah
R : Mendefinisikan masalah dan pengaruh pilihan intervensi.
2. Akui kenyataan atau normalitas perasaan, termasuk marah
R : Memberikan dukungan emosi yang dapat membantu klien melalui
penilaian awal juga selama pemulihan
3. Berikan informasi akurat tentang perkembangan kesehatan.
R : Memberikan informasi yang jujur tentang apa yang diharapkan
membantu klien/orang terdekat menerima situasi lebih evektif.
4. Dorong penggunaan manajemen stres, contoh : napas dalam, bimbingan
imajinasi, visualisasi.
R : membantu memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan relaksasi,
dan meningkatkan penigkatan kemampuan koping
DAFTAR PUSTAKA

Anderson, Sylvia Price, 1985, Pathofisiologi Konsep Klinik Proses-proses


Penyakit, Jakarta: EGC.

Doengoes, Marylin E., 1989, Nursing Care Plans, USA Philadelphia: F.A Davis
Company.

Junadi, Purnawan, 1982, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
STIKES RS. BAPTIS KEDIRI
PRODI DIPLOMA III
PROGRAM PROFESI NERS KEPERAWATAN KRITIS
FORMAT PENGKAJIAN

Pegkajian : 13-11-2010 Jam : 12.00 WIB


Tanggal MRS : 13-11-2010 No. RM : 683229
Ruang : IGD Dx. Masuk : Traumatik amputasi jari
telunjuk kanan
Identitas

Nama : An. F Jenis Kelamin :L


Umur : 5 th Status Perkawinan : -
Agama : Islam Penanggung Biaya : Tn. S
Pendidikan : - Penanggung jawab : Tn. S
Pekerjaan :-
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Alamat : Banjaran – Kediri
Riwayat sakit dan Kesehatan

Keluhan Utama :
Ibu pasien mengatakan jari telunjuk kanan anaknya terkena gir motor, anak
menangis dan mengeluh kesakitan.

Riwayat Penyakit Saat ini :


Pagi tadi jari telunjuk kanan kena gir motor, luka robek ujung telunjuk kanan seruas
jari, kemudian anak langsung dibawa ke rumah sakit.

Penyakit yang pernah di derita


Menurut keluarga sebelumnya pasien belum pernah kecelakaan, atau menderita
penyakit yang parah yang menyebabkan pasien opname

Penyakit yang pernah di derita keluarga : -

Riwayat Alergi : O Ya O Tidak O Jelaskan

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : O Baik O Sedang O Lemah O Kesadaran : komposmentis
Tanda Vital TD : 110/60 Nadi : 112 Suhu : 37.6 RR : 22
Pernafsan

Pola nafas : Irama : O Teratur O Tidak Teratur


Jenis : O Dispnoe O Kusmaul O Ceyne Stake Lain-lain :
Suara Nafas OVesikuler O Stridor O Wheezing O Ronchi lain-lain
Alat Bantu nafas : -
Lain-lain :
Masalah : Tidak di temukan masalah keperawatan
Kardiovaskuler
Irama jantung : O Reguler O Ireguler S1/S2 tunggal OYa O Tidak
Nyeri dada : O Ya O Tidak
Bunyi Jantung : O Normal O Murmur O Gallop O Lain-lain
CRT : O < 3 dt O > 3 dt
JVP : O Normal O Meningkat
Akral : O Hangat O Panas O Dingin kering O Dingin basah
CVP :
Lain - lain :

Masalah : Tidak ditemukan masalah keperawatan


Persyarafan

Reflek fisiologis O Patella O Triceps O Biceps Lain-lain : ........


Reflek Patologis O Babinsky O Brudzinsky O Kerning Lain-lain : .........
Tanda peningkat TIK : O Nyeri Kepala O Pusing O Keinginan Muntah
Lain-lain :

Istirahat/tidur: 7-8 Jam/hari


Masalah : Tidak terdapat masalah keperawatan
Pengindraan

Penglihatan (mata)
Pupil : O Isokor O Anisokor O Lain-lain :
Sclera/Konjungtiva O Anemis O Ikterus O Lain-lain :
Lain-lain :

Pendengaran (telinga)
Ganguan pendengaran : O Ya O Tidak
Lain-lain

Penciuman (hidung)
Bentuk O Normal O Tidak Jelaskan :
Gangguan penciuman : O Ya O Tidak Jelaskan
Lain-lain :

Masalah : Tidak ditemukan masalah keperawatan


Perkemihan
Kebersihan : O Bersih O Kotor
Urine : Jumlah : - cc/hari Warna : - Bau : -
Alat Bantu (kateter, dan lain-lain): -

Kandung Kencing : Membesar O Ya O Tidak


Nyeri tekan O Ya O Tidak
Gangguan : O Anuria O oliguria O Retensi O Inkontinensia
O Nokturia O Lain-lain
Lain-lain :
Masalah : Tidak ditemukan masalah keperawatan
Pencernaan

Nafsu Makan : O Baik O Menurun Frekuensi : x/hari


Porsi makan : O Habis : O Tidak : Jelaskan : -
Minum : ± 1500 cc/hari Jenis : Air putih, teh, sirup
Mulut dan Tenggorokan
Mulut : O Bersih O Kotor O Berbau
Mukosa O Lembab O Kering O Stomatitis
Tenggorokan O Sakit menelan/nyeri tekan O Kesulitan menelan
O Pembesaran tonsil O Lain-lain
Abdomen
Perut O Tegang O Kembung O Acites O Nyeri tekan, lokasi
Jelaskan :
Tidak ditemukan gangguan pada abdomen
Peristaltik : 8 x/menit
Pembesaran hepar O Ya O Tidak
Pembesaran lien O Ya O Tidak
Buang air besar : 1 x/hari O Teratur : O Ya O Tidak
Konsentrasi : Padat Bau : Khas Warna : kuning
Lain-lain :
Masalah : Tidak di temukan masalah keperawatan
Endokrin

Tyroid Membesar O Ya O Tidak


Hiperglikemia O Ya O Tidak Hipoglikemi O Ya O Tidak
Luka ganggren O Ya O Tidak Pus O Ya O Tidak
Jelaskan :
Masalah : Tidak ditemukan masalah keperawatan
Muskuloskeletal / integumen
Kemampuan pergerakan sendi : O Bebas O Terbatas
Kekuatan otot : 5 5
5 5
Ekstremitas atas : O Patah tulang O Peradangan O Tidak ada kelainan
Ekstremitas bawah : O Patah tulang O Peradangan O Tidak ada kelainan

Kulit :
Warna Kulit : O Ikterus O Sianotik O Kemerahan O Pucat O Hiperpigmentasi
Turgor : O Baik O Cukup O Jelek Jelaskan :
Oedema : O Ada O Tidak ada Lokasi:
Lain-lain :
Terdapat luka pada jari telunjuk kanan, terpotong seruas jari.
Masalah : Gangguan rasa nyaman nyeri
Kerusakan mobilitas fisik
Intoleransi aktivitas
Data Penunjang (Lab, Foto, USG, dll) : Tanggal 20-12-2010
Foto X-Ray : manus a/p lateral

Terapi :
Parasetamol 10 cc q 4 jam

Daftar Masalah Keperawatan


1. Gangguan rasa nyaman nyeri
2. Kerusakan mobilitas fisik
3. Intoleransi aktivitas

Kediri,
Mahasiswa
B. ANALISA DATA
1. Analisa Data
Data Etiologi Masalah Kolaboratif /
Keperawatan
DS : Trauma langsung/tidak Gangguan rasa nyaman
langsung
Keluarga pasien nyeri
mengatakan jari telunjuk
Diskontinuitas jaringan
kanan anaknya kena gir tulang (fraktur)
motor, terputus seruas
jari. Pergerakan segmen
tulang yang patah

DO :
Nyeri
- Pasien menangis terus
menerus
- Pada telunjuk kanan
tertutup kasa
- TD : 110/60 N : 112
x/mnt

DS : Pembuluh darah rusak Resti gangguan perfusi


- jaringan
DO : Perdarahan meningkat
- Terdapat luka pada
telunjuk kanan terdapat Edema

perdarahan
Nekrosis jaringan
- Daerah fraktur terdapat
edema
Gangguan perfusi
jaringan

2. Daftar Masalah Kolaboratif / diagnosa Keperawatan


No Tanggal / Masalah Kolaboratif / diagnosa keperawatan Tanggal /
Jam Jam
Ditemukan Teratasi
1 13-11-2010 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan
12.00 WIB dengan pergerakan segmen antar tulang skunder
terhadap fraktur ditandai dengan Keluarga
pasien mengatakan jari telunjuk kanan anaknya
kena gir motor, terputus seruas jari, pasien
menangis terus menerus, pada telunjuk kanan
tertutup kasa
TD : 110/60 N : 112 x/mnt.
2 13-11-2010 Resti gangguan perfusi jaringan berhubungan
12.00 WIB dengan inefektive suplay darah skunder
terhadap rusaknya pembuluh darah, ditandai
dengan terdapat luka pada telunjuk kanan
terdapat perdarahan daerah fraktur terdapat
edema.
4. IMPLEMENTASI
TGL,JAM DIAGNOSA IMPLEMENTASI
13-11-2010 Gangguan rasa nyaman 1. mengobservasi karakteristik
nyeri berhubungan dengan nyeri : lokasi, durasi, intensitas
12.00
pergerakan segmen antar nyeri dengan menggunakan skala
tulang skunder terhadap nyeri (0-10)
12.10
fraktur ditandai dengan 2. Mempertahankan immobilisasi
Keluarga pasien (Spalk)
mengatakan jari telunjuk 3. Memberikan sokongan (support)
kanan anaknya kena gir pada ektremitas yang luka
motor, terputus seruas jari, 4. Menutup luka pasien.
pasien menangis terus 5. Melakukan bantuan mobilisasi
menerus, pada telunjuk yang terkoordinir
12.30
kanan tertutup kasa 6. Menjelaskan seluruh prosedur
TD : 110/60 N : 112 x/mnt yang akan dilakukan kepada
pasien
7. Memberikan obat-obatan
analgesik sesuai dengan pesanan
dokter
13-11-2010 Resti gangguan perfusi 1. Mengukur tanda-tanda vital.
jaringan berhubungan 2. Mengobservasi sumber, lokasi,
12.50
dengan inefektive suplay dan banyaknya perdarahan
darah skunder terhadap 3. Memberikan posisi supinasi
rusaknya pembuluh darah, 4. Menghentikan sumber perdarahan
13.15
ditandai dengan terdapat 5. Memperhatikan aliran darah dan
luka pada telunjuk kanan suplai darah pada daerah yang
terdapat perdarahan daerah trauma
fraktur terdapat edema 6. Memeriksakan laboratorium (Hb,
Hct)
5.RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN (NCP/NURSING CARE PLANS)
NO MASALAH TUJUAN & RENCANA RASIONAL TGL TGL
KOLABORATIF / KRITERIA HASIL MULAI BERHENTI
DIAGNOSA PARAF PARAF
KEPERAWATAN
1 Gangguan rasa nyaman Setelah dilakukan 1. Observasi karakteristik nyeri : lokasi, 1. Untuk mengetahui tingkat rasa nyeri
nyeri berhubungan dengan asuhan keperawatan durasi, intensitas nyeri dengan sehingga dapat menentukan jenis
pergerakan segmen antar nyeri yang dialami menggunakan skala nyeri (0-10) tindakannya
tulang skunder terhadap pasien berkurang 2. Pertahankan immobilisasi (spalk) 2. Mencegah pergeseran tulang dan
fraktur ditandai dengan Kriteria Hasil : 3. Berikan sokongan (support) pada penekanan pada jaringan yang luka
Keluarga pasien - Klien mengatakan ektremitas yang luka. 3. Peningkatan vena return, menurunkan
mengatakan jari telunjuk nyeri berkurang. edem, dan mengurangi nyeri
kanan anaknya kena gir - Klien dapat 4. Lakukan bantuan mobilisasi yang 4. Untuk mengurani pergeseran dan
motor, terputus seruas jari, berkooperatif terkoordinir pergerakan segmen antar tulang yang
pasien menangis terus dengan rencana dapat menurunkan kemungkinan nyeri
menerus, pada telunjuk tindakan yang 5. Menjelaskan seluruh prosedur di atas 5. Untuk mempersiapkan mental serta
kanan tertutup kasa akan dilakukan agar pasien berpartisipasi pada setiap
TD : 110/60 N : 112 x/mnt - Otot relaksasi tindakan yang akan dilakukan
- Pasien tampak 6. Pemberian obat-obatan analgesik 6. Mengurangi rasa nyeri
lebih tenang
NO MASALAH TUJUAN & RENCANA RASIONAL TGL TGL
KOLABORATIF / KRITERIA HASIL MULAI BERHENTI
DIAGNOSA PARAF PARAF
KEPERAWATAN
2 Resti gangguan Setelah dilakukan asuhan 1. Observasi tanda-tanda vital. 1. Untuk mengetahui tanda-tanda syok
perfusi jaringan keperawatan tidak terjadi sedini mungkin
berhubungan dengan gangguan pada jaringan 2. Observasi sumber, lokasi, dan banyaknya 2. Untuk menentukan tindakan dan
inefektive suplay yang edema dan trauma perdarahan segra menghentikan sumber
darah skunder Kriteria hasil : perdarahn yang terjadi
terhadap rusaknya - HR. 80 - 100 x per 3. Memberikan posisi supinasi 3. Untuk mengurangi perdarahan dan
pembuluh darah, menit. mencegah kekurangan darah ke
ditandai dengan - Kulit hangat sensori otak
terdapat luka pada normal. 4. Tetap perhatikan aliran darah dan suplai 4. Untuk mencegah kemungkinan
telunjuk kanan - Sistolik 100 - 140 darah pada daerah yang trauma terjadinya nekrosis jaringan area
terdapat perdarahan mmHg. trauma
daerah fraktur terdapat - RR. 16 - 24 x per 5. Memberikan banyak cairan (minum) 5. Untuk mencegah kekurangan cairan
edema menit. (mengganti cairan yang hilang)
- Odema akibat 6. Pemberian cairan per infus 6. Untuk meningkatkan jumlah cairan
berkurang darah yang hilang untuk tetap
- Tidak terdapat tanda memenuhi jumlah kebutuhan cairan
nekrosis jaringan sampai pasien mendapatkan tranfusi
darah
7. Pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht) 7. Untuk mengetahui kadar Hb, Ht
apakah perlu transfusi atau tidak
6. EVALUASI
TGL,JAM DIAGNOSA EVALUASI
13-11-2010 Gangguan rasa nyaman S : Pasien masih menangis
13.30 WIB nyeri berhubungan dengan O :
pergerakan segmen antar - Pasien masih tampak sering
tulang skunder terhadap menyeringai kesakitan
fraktur ditandai dengan - Pasien tanpak lemah
Keluarga pasien - Nadi : 108
mengatakan jari telunjuk - TD : 100/60 mmHg
kanan anaknya kena gir A : Masalah keperawatan belum teratasi
motor, terputus seruas jari, P : Rencana keperawatan di lanjutkan,
pasien menangis terus pasien disiapkan operasi
menerus, pada telunjuk
kanan tertutup kasa
TD : 100/60 N : 112 x/mnt
13-11-2010 Resti gangguan perfusi S : -
13.30 WIB jaringan berhubungan O :
dengan inefektive suplay - Pasien tampak lemah
darah skunder terhadap - Pasien masih menangis
rusaknya pembuluh darah, - Telunjuk kanan terbungkus kasa
ditandai dengan terdapat - Tidak terdapat tanda-tanda nekrosis
luka pada telunjuk kanan - Nadi : 108 TD : 100/60 mmHg
terdapat perdarahan daerah A : Masalah keperawatan belum teratasi
fraktur terdapat edema P : Rencana tindakan keperawatan
dilanjutkan di ruang anak