Anda di halaman 1dari 3

1. Seorang pasien 42 tahun (bobot 80 kg) dengan riwayat infeksi HIV dan HCV.

Hasil lab
HCV RNA 1400000 IU/mL; ALT 43 IU/L; HCV genotip 2b; serum kreatinin 0,9
mg/dL; CD4+ 374/mm3; dan HIV viral load, tidak terdeteksi. Regimen antiretrovirusnya
didanosine, lamivudine, lopinavir dan ritonavir. Jika mulai terapi HCV, apa yang harus
dilakukan ?

2. Seorang pasien dengan riwayat GERD memerlukan terapi itrakonazol karena ditemukan
adanya pertumbuhan fungi filamen pada hasil kultur sputumnya. Saat ini pasien
mengonsumsi esomeprazol 40 mg per oral tiap pagi dan ranitidin 150 mg per oral dua
kali sehari. Bagaimana tindakan atau usulan terapi untuk pasien tersebut?

3. Seorang pasien, usia satu setengah tahun, menerima terapi enoksaparin subkutan
(kadar anti-factor Xa, 0,66 IU/mL), aspirin 20 mg/kg/day, and klopidogrel 0,2 mg/kg/day
dan hasil pencitraan menunjukkan adanya aneurism. Pasien juga mendapat terapi
prednison 1 mg/kg/hari untuk 10 hari karena serangan asma yang memburuk. Pasien
dijadwalkan akan mendapat vaksinasi varicella minggu berikutnya. Apakah ada
masalah interaksi obat yang perlu diwaspadai potensial terjadi, jika ada sebutkan antara
obat dengan apa, kemungkinan apa yang akan terjadi, dan apa saran anda.

4. Seorang pasien berusia 47 tahun dengan riwayat infeksi HIV, mendapat tindkan
kateterisasi untuk infark miokard dinding anterior. Sebeumnya tidak ada riwayat angina
atau jantung iskemik. Pasien rutin menggunakan hidroklorotiazid 25 mg sehari untuk
hipertensinya, dan tidak merokok. ART yang rutin digunakan adalah ritonavir 100
mg/hari, tenofovir disoproxil fumarat 300 mg/hari, emtrisitabin 200 mg/hari. Pemeriksaan
lipid TC 188 mg/dL, LDL 123 mg/dL, HDL 29 mg/dL, TG 182 mg/dL. Berikan saran anda
regimen terapi statin terbaik untuk pasien tersebut, sebutkan nama obat dan dosisnya,
dengan mempertimbangkan kemungkinan adanya interaksi obat.

5. Seorang pasien lanjut usia dengan riwayat fibrilasi atria, hipertensi, dan stroke, pada
pemeriksaan USG dan CT scan diketahui pembesaran prostat. Hasil ginjal, hati, paru-
paru semua normal. Pasien tidak dapat menelan obat karena kondisi strokenya, dan
pasien hanya bisa mendapat asupan makanan berupa susu dan air melalui sonde
(selang nasogastrik, atau nasogatric tube/ NGT). Dokter spesialis saraf meresepkan
Brainact, atorvastatin, dokter spesialis jantung meresepkan rivaroksaban, bisoprolol,
furosemid, spironolakton, valsartan, dan dokter spesialis urolog meresepkan dutasterid
dan tamsulosin, sedangkan dokter paru meresepkan salbutamol dan bromheksin PRN
sesak. Pasien sudah bisa KRS karena kondisi sudah stabil normal dan dirawat di rumah.
Sebagai apoteker, berikan saran kepada keluarga atau yang merawat pasien mengenai
terapi pasien tersebut, dan jelaskan bagaimana jadwal dan cara pemberian obat kepada
pasien (dosis, bentuk sediaan, rute pemberian, pagi, siang, malam, sebelum, sambil
ataukah berapa jam sesudah makan, obat satu per satu ataukah boleh bersamaan, dll)
mengingat pasien belum bisa bicara/makan/menelan. Tuliskan jawaban anda, dan
praktekkan secara lisan sambil direkam menggunakan HP resolusi rendah (maksimum
10 menit).
Jawab:
Selamat siang ibu, saya Devi apoteker di ruang melati. Saya akan menjelaskan
beberapa hal terkait obat dan cara pemberian obat saat dirumah untuk tuan X. Tuan X
tidak bisa menelan, maka pemberian obat dan makanan dibantu dengan sonde.
Obat yang diberikan untuk Tuan X ada 11 macam:
1. Brainact tablet mengandung citicoline 500 mg. obat ini untuk menutrisi saraf
diberikan sekali sehari pagi hari 1 tablet setelah makan.
2. Atorvastatin tablet 20 mg. Obat ini untuk mencegah plak pecah diberikan sekali
sehari malam hari 1 tablet setelah makan.
3. Rivaroksaban tablet 20 mg. obat ini untuk pengencer darah diberikan sekali sehari 1
tablet setelah makan.
4. Bisoprolol tablet 5 mg. Obat ini untuk menurunkan tekanan darah diberikan 1 kali
sehari pagi hari 1 tablet setelah makan.
5. Furosemid tablet 20 mg untuk mengeluarkan cairan melalui urin dan menurunkan
tekanan darah diberikan 1 kali sehari siang hari 1 tablet setelah makan.
6. Spironolakton tablet 25 mg untuk mengeluarkan cairan melalui urin diberikan 1 kali
sehari 1 tablet pagi hari setelah makan.
7. Valsartan tablet 80 mg untuk menurunkan tekanan darah diberikan 1 kali sehari 1
tablet malam hari sebelum makan.
8. Dutasterid tablet 0,5 mg untuk meredakan gejala pembesaran prostat diberikan 1
kali sehari malam hari 1 tablet sesudah makan.
9. Tamsulosin tablet 0,4 mg untuk meredakan gejala pembesaran prostat diberikan 1
kali sehari malam hari 1 tablet 30 menit sesudah makan.
10. Salbutamol tablet 2 mg untuk meredakan gejala sesak diberikan 1 tablet jika sesak
dan maksimal 1 hari 4x.
11. Bromheksin sirup untuk mengencerkan dahak diberikan 10 ml 3 kali sehari jika
sesak.

Penggunaan sonde memerlukan penanganan khusus. Tata cara pemberian makanan


atau obat melalui sonde:
1. Sebelum dan sesudah menyentuh selang sonde cuci tangan.
2. Pastikan selang masih terpasang sempurna dengan melihat penanda pada selang
dan pastikan pita perekat masih berada pada tempatnya.
3. Saat pemberian makan hingga 1 jam setelah makan, tegakkan tubuh pasien
sehingga posisi kepala lebih tinggi.
4. Makanan dan obat diberikan dalam bentuk cairan. untuk obat-obatan, obat digerus
terlebih dahulu kemudian di campur dengan air putih kurang lebih 1 sendok makan.
Makanan yang diberikan melalui sonde sebaiknya tidak lebih dari 600 ml atau 3
gelas dalam 1 kali pemberian.
5. Untuk memasukkan makanan atau obat gunakanlah syringe. Suntikkan syringe pada
ujung sonde kemudian tekan perlahan hingga masuk seluruhnya.
6. Setelah memberikan makanan atau obat aliri dengan air putih agar selang tidak
tersumbat.
Penggunaan sonde perlu diperhatikan, sonde dapat diganti secara berkala dengan
bantuan tenaga medis dan tidak boleh dipasang sendiri karena dapat membahayakan
pasien. Jika terjadi sumbatan dapat dialiri menggunakan air hangat.