Anda di halaman 1dari 7

BAB II

METODOLOGI

Pra-lapangan
 Dilakukan pembekalan materi tentang measuring stratigrafi dan juga
dilakukan latihan menggambarkan tentang data stratigrafi yang ada di
lapangan.
 Mempelajari kembali materi apa yang sudah di sampaikan pada saat
praktikum di ruangan tentang materi measuring stratigrafi.
 Sebelum melakukan praktikum di lapangan yaitu praktik di lapangan yang
perlu disiapkan yaitu membawa alatalat yang harus dibawa pada saat
praktikum di lapangan. Yang harus di bawa yaitu berupa meteran, kompas,
alat shafety dan masih banyak lagi.
Sin-lapangan
 Sebelum melakukan pengukuran yaitu dilakukan pembekalan materi kembali
tentang pengukuran measuring stratigrafi dilapangan
 Sebelum melakukan pengukuran yaitu dilakukan penentuan umur batuan
yang mana dengan melihat struktur sedimen yang ada pada batuan tersebut
 Kemudian langsung dilakukan pengukuran mulai dari lapisan yang paling tua
 Pengukuran dilakukan dengan mengukur ketebalan semu dan kemudian di
ukur lagi pengukuran detil, pengukuran dilakukan secara langsung satu
persatulapisan
 Pengukuran di lakukan dengan azimut pada setiap perpindahan segmennya.
 Pengukuran dilakukan dengan detil yaitu dengan cara mendeskripsi satuper
satu lapisan dan dilakukan deskripsi pada setiap perlapisan denagn
mendeskripsi struktur sedimen, kmposisi, dan ukuran sedimen tiap lapisannya
 Mencatat data di lapangan secara keseluruhan tanpa kurang satu pun.
 Setelah datanya di dapat kemudian dilakukan pengisian di kolom MS dengan
keseluruhan data yang di dapat pada masing masing segemen.
BAB III
HASIL ANALISIS

Line 0-1
Segmen 1 memiliki slope 30⁰ dan azimuth N 240⁰ E, dengan
strike dip pada setiap perlapisan yaitu N 135 E / 64, pada segmen 1 terlihat
memiliki litologi perselingan, perselingannya yaitu antara batugaming,
batupasir dan batulempung. Perselinagn tersebut memiliki struktur yang
masif pada setiap lapisan dibagian bawah namun pada bagian atas struktur
dari batugamping dengan batupasir adalah perlapisan.
Line 1-2
Segmen ke 2 ini memiliki slope dan azimut yang hampir sama
denagn segmen 1, selain itu juga memiliki strike dip yang sama denagn
segmen 1, pada segmen 2 ini terlihat memiliki lapisan yang berselingan
yaitu pasir dengan ukuran butir yang cukup besar dilanjut dengan lapisan
lempung yang kemudian ada batu pasir dan lapisan tipis lempung, setelah
itu terbentuk endapan kasar dengan menghalus ke atas kemudian ada
lempung, dan lapisan pasir yang sangat tipis, dibagian atasnya ada lapisan
batugamping yang saling berselingan dengan lempung dan diakhiri oleh
lapisan batupasir. Struktur pada semua lapisan ini adalah masif.
Line 2-3
Pada segmen 3 ini memiliki slope 16⁰ dan azimuth N 225⁰ E,
dengan strike dip N 140 E / 60, segmen 3 ini memiliki perlapisan batuan,
perlapisannya yaitu memiliki lapisan batupasir, lapisan gamping, lapisan
batupasir, batulempung, dan batupasir. Semua litologi memiliki struktur
masif.
Line 3-4
Segmen ke 4 ini memiliki slope 9⁰ dan azimuth N 225⁰ E, dengan
strike dip N 135 E / 58, yang mana pada line ini terdapat lapisan lempung
dilanjut dengan litologi batupasir dengan struktur masif. Kemudian
terbentuk lempung yang disusul dengan batugamping, kemudian ada
perselingan antara batupasir dengan batulempung, yang kemudian terbentuk
batugamping. Setelah itu, ada lapisan batulempung, batutupasir,
batulempung. Struktur setiap lapisan sama yaitu memiliki struktur masif.

Line 4-5
Segmen ke 5 ini memiliki slope 10⁰ dan azimuth N 225⁰ E, dengan
strike dip N 135 E / 66, terdapat endapan lapisan lempung di bagian paling
bawah yang dilanjut dengan lapisan batugamping, kemudian ada lapisan
batulempung yang cukup tebal, setelahnya ada lapisan batupasir yang tipis,
serta adanya perselingan antara lapisan batulempung dan batugamping yang
semakin keatas lapisan batugamping semakin semakin menebal, namun
pada bagian atas ada lapisan lempung yang sangat tebal dan diakhiri oleh
lapisan gamping yang tipis.

Line 5-6
Segmen ke 6 ini memiliki slope 0⁰ dan azimuth N 232⁰ E, dengan
strike dip N 139 E / 58, dengan terdapatnya endapat batugamping lanjuta
dari line sebelumnya yang masih cukup tebal, kemudian ada endapan
batulempung yang tipis disusul dengan pembentukan batugamping yang
sangat tebal, kemudian ada lapisan batulempung, yang saling berselingan
dengan batupasir, yang pada bagian tengah terdapat lapisan batulanau
diantara lapisan batupasir yang memiliki ketebalan yang sama. Selanjut nya
ada pengendapan lapisna batuan lempung yang cukup tebal sama seperti
bagian bawahnya. Yang pada bagian atasnya diakhiri oleh lapisan
batugamping.
Line 6-7
Segmen ke 7 ini memiliki slope 0⁰ dan azimuth N 125⁰ E, dengan
strike dip N 135 E / 60, pada lapisan yang paling bawah tidak dapat
diidentifikasi karna adanya eror yang disebabkan lapisan batuan yang
tertutupi air sungai sehingga mengganggu pengukuran MS. Selanjutnya
setelah eror didapati batu lempung yang sangat tebal, namun setelahnya
terdapat eror lagi karena hal yang sama dengan eroe sebelumnya yaitu
berasa pada dasar sungai, selanjutnya ditemukan lagi batulempung, dan
selanjutnya ditemukan adanya eroe lagi yang di sebabkan oleh hal serupa
pada eror sebelumnya. Hingga ditemukan lagi lapisan batupasir yang
mengkasar ke atas. Dan adanya lapisan batulempung yang tipis dan
dilanjutkan dengann bagian atas paling akhir pada line ini adalah batu pasir.
Line 7-8
Segmen ke 8 ini memiliki slope 5⁰ dan azimuth N 225⁰ E, dengan
strike dip N 132 E / 50, dengan lapisan yang paling bawah adalah batupasir
dengan perselingan antara batupasir dengan batulempung, yang dimana
batulempung memiliki ketebalan yang lebih dibandingkan batupasir. Namun
dibagian tengah ada beberapa lapisan batupasir memiliki ketebalan yang
cukup tebal, yang diantara kedua lapisna ini ada lapisan batulempung yang
ketebalannya hampir sama dengan lapisan batulempung yang ada dibagian
bawah. Pada bagian atas dari line ini terdapat perselingan antara
batulempung dengan batupasir yang batu pasirnya memiliki ketebalan yang
sangat tipis.

Line 8-9
Segmen ke 9 ini memiliki slope 5⁰ dan azimuth N 225⁰ E, dengan
strike dip N 132 E / 50, dan merupakan line terpanjang dalam pengukuran
MS ini. Pada line ini terdapat lapisan batulempung

Line 9-10
Segmen ke 10 ini memiliki lapisan batugamping yang cukup tebal
namun terdapat sedikit eror hingga ditemukan lagi lapisan batupasir yang
tebal lalu ada batulempung dan dilanjut dengan batugamping. Dan di
temukan banyak eror hingga harus berpindah line, eror terjadi karna adanya
air sungai yang memutupi lapisna batuan sehingga tidak dapat melakukan
MS.
Line 10-11
Segmen ke 11 ini memiliki perselingan antara batupasir dengan
batugamping yang mana lapisan dari tiap litologi sangat tipis, dan pada line
ini juga terdapay banyak eror, namun pada bagian atas akhir dari line ini
terdapat batugamping yang sangat tebal, dengan struktur setiap batuannya
adalah masif.
BAB III
PEMBAHASAN

Dari data yang di dapat pada lapangan yaitu dapat di simpulkan bahwa
daerah yang di lakukan pengukuran ini pertama pada awalnya terendapkan pada
lingkungan pengendapan daerah transisi yaitu daerah laut dangkal karena dapat di
pastikan dari ukuran butir sedimennya yang kasar dan pada batuan tersebut
mengandung komposisi seperti pecahan organisme laut berupa bioklas dll dan
memiliki arusyang relatif kuat, maka dapat di interpretsikan lingkungan
pengendapannya berada pada daerah karbonatan yang menndakan bahwa batuan
tersebut terendapkan pada lautdangkal, kemudian setelah itu pada suatu saat
terjadinya transgresi atau penaikan muka air laut secara besar besaran sehingga
dari daerah yang laut dalam menjadi daerah laut dalam yang memiliki memiliki
arus yang relatif tenang sehingga dapat di interpretsikan batuan ini kemudian
terendapkan pada daerah laut dalam karena kenaikan muka air laut secara besar
besaran sehingga terendapakan lempung dan pasir yang yang dapat di lihat dari
ketebalan litologi yang ada pada setiap segmen yang mulai mennunjukkan
penurunan litologi pada batu gamping, karena kenaikan muka air laut, kemudian
setelah itu setelah lempung yang relatif banyak terendapkan pada daerahlaut
dalam kemudian laut mengalami regersi sehingga mengakibatkan laut
menjadilaut dangkal dan kemudian arus menjadi kuat lagi dan terendapkan batu
pasir berselingan dengan batu gamping ynag menndakan bahwa daerah tersebut
adalah daerah laut dangkal dengan kompoisis organisme berupa bioturbasi dan
lain lain . kemudian litologi line terakhir ini terendapkan pada derah laut dangkal
ditandai denganbatu gamping yang tebal. Laut dangkal daerah ini adalah di
interpretasikan berada pada daerah lagoon atau bisa juga daerah pantai karena
pada daerah tersebut merupakan daerah karbonatan yang memiliki banyak
oraganisme laut.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada daerah ini merupakan daerah transisi yaitu daerah laut dangkal
yaitu berupa lagoon atau pantai.
5.2 Saran
Pada saat di lakukan pengukuran seharusnya pengukuran dilakukan
secara detil