Anda di halaman 1dari 14

KEBIJAKAN UMUM PERUBAHAN ANGGARAN (KUPA) – KABUPATEN LUWU

TIMUR TAHUN 2018

BAB II
KERANGKA EKONOMI MAKRO

2.1. Kondisi Makro Ekonomi Daerah Tahun 2010-2017


Dalam kerangka pembangunan ekonomi suatu daerah gambaran umum perkembangan
ekonomi dinilai berdasarkan data perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
yang merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi suatu wilayah
pada masa lalu dan masa kini.

Kondisi ekonomi makro Kabupaten Luwu Timur dengan berdasar indikator seperti
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE), pendapatan
per kapita, inflasi, investasi dan perkembangan keuangan daerah menjadi referensi dalam
menentukan kebijakan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur khususnya kebijakan ekonomi.
Berikut gambaran perkembangan indikator makro ekonomi di Kabupaten Luwu Timur :

1) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)


Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi perekonomian secara makro
adalah data produk domestik regional bruto (PDRB). Terdapat 2 (dua) jenis penilaian
produk domestik regional bruto (PDRB) dibedakan dalam dua jenis penilaian yaitu atas
dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan. Penyajian PDRB atas dasar harga
konstan mengalami perubahan mendasar sebagai konsekuensi logis berubahnya tahun
dasar yang digunakan.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan indikator yang memberikan


informasi tentang gambaran keberhasilan pembangunan ekonomi regional Kabupaten
Luwu Timur. Perbandingan PDRB Kabupaten Luwu Timur dengan dan tanpa
pertambangan nikel menunjukkan Subsektor Pertambangan Tanpa Migas
(pertambangan nikel) memiliki pengaruh yang cukup besar dalam pembentukan
PDRB Kabupaten Luwu Timur. PDRB yang terbentuk bila pertambangan nikel
dimasukkan dalam perhitungan memiliki perbedaan yang cukup signifikan
dengan nilai yang terbentuk bila subsektor tersebut tidak diikutsertakan. Begitu
pula halnya dengan struktur perekonomian, pertumbuhan ekonomi riil, serta
PDRB perkapita. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbandingan untuk melihat
besarnya diskripansi antara keduanya sehingga memberikan gambaran yang jelas
kepada pemerintah daerah dalam menempuh kebijakan yang perlu diambil dalam
pembangunan perekonomian yang berkelanjutan.

PDRB Kabupaten Luwu Timur atas dasar harga berlaku (ADHB) selama lima
tahun terakhir terus meningkat. Dari 16.66 triliun rupiah pada tahun 2013 hingga
mencapai 20.25 triliun tahun 2017. Jadi total nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku
yang dihasilkan dari seluruh kategori ekonomi di kabupaten ini selama satu tahun,
menjadi hampir dua kali lipat nilainya dalam kurun waktu 5 tahun. Pada Tahun 2017,
PDRB harga berlaku Luwu Timur dari Tahun 2016 sampai Tahun 2017 sedikit
mengalami peningkatan menjadi 1.193 triliun rupiah atau sebesara 3,10 persen, seiring
dengan semakin membaiknya perekonomian indonesia dengan target pertumbuhan
ekonomi hal ini di picu oleh semakin membaiknya neraca perdagangan Indonesia dinilai

Kerangka Ekonomi Makro Daerah Bab. II 15


KEBIJAKAN UMUM PERUBAHAN ANGGARAN (KUPA) – KABUPATEN LUWU
TIMUR TAHUN 2018

akan mengerakkan pertumbuhan ekonomi domestik sepanjang tahun ini. Selain itu, neraca
perdagangan, pertumbuhan juga akan ditopang membaiknya investasi dan stabilnya
konsumsi masyarakat. hal ini tentunya juga akan berpengaruh terhadap perekonomian
daerah, sehingga pada tahun 2017 diproyeksikan sebesar 20,25 Triliun.

Demikian halnya dengan PDRB Kabupaten Luwu Timur atas dasar harga konstan
(ADHK) selama lima tahun terakhir terus meningkat. Dari 12,71 Triliun Rupiah pada
tahun 2013 hingga mencapai 15,3 triliun tahun 2017. Jadi total nilai tambah bruto atas
dasar harga konstan yang dihasilkan dari seluruh kategori ekonomi di kabupaten ini
selama satu tahun, menjadi hampir dua kali lipat nilainya dalam kurun waktu 5 (lima)
tahun. Pada Tahun 2017, PDRB harga Konstan Kabupaten Luwu Timur mengalami
peningkatan sebesar 15,3 Triliun dibandingkan dengan perolehan di tahun sebelumnya
yang hanya mencatat 12,71 Triliun. Hal ini disebabkan semakin membaiknya
perekonomian indonesia yang ditopang oleh kinerja neraca perdagangan dan investasi
domestik yang semakin meningkat.

2013 2014 2015 2016 2017*


NO SEKTOR
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
1 Pertanian,
Kehutanan & 2.157.280,40 2.353.141,29 2.550.983,60 2.758.858,30 2,838,604.00
Perikanan
B Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Kabupaten Luwu Timur Tahun 2013-2017 (Juta Rupiah)
Pertambangan
2 7.706.179,57 8.392.371,70 8.831.737,22 8.634.509,70 8,782,746.30
& Penggalian
Industri
3 322.604,48 356.641,69 383.210,09 413.305,74 430,907.20
Pengolahan
Pengadaan
4 6.162,89 7.035,48 7.419,92 8.473,07 9,091.60
Listrik & Gas
Pengadaan Air,
Pengelolaan
5 Sampah, 872,59 888,45 889,95 938,38 1,051.60
Limbah dan
Daur Ulang
6 Konstruksi 944.127,90 965.940,67 1.046.265,54 1.116.861,85 1,184,826.10
Perdagangan
Besar &
Eceran,
7 416.164,53 433.186,13 470.403,46 509.385,63 555,164.60
Reparasi Mobil
& Sepeda
Motor
Trasnportasi &
8 69.598,49 76.989,58 82.802,58 85.919,61 91,413.90
Pergudangan
Penyediaan
9 Akomodasi dan 17.973,60 18.767,84 19.905,10 21.699,31 22,862.00
Makan Minum
Informasi &
10 172.006,08 182.081,05 201.522,08 219.670,36 241,297.30
Komunikasi
Jasa Keuangan
11 98.448,70 108.523,74 115.625,12 127.978,45 126,056.50
& Asuransi
12 Real Estate 188.881,20 213.033,57 228.776,51 245.477,24 261,709.50
Jasa
13 5.100,30 5.278,75 5.588,81 6.007,98 6,401.60
Perusahaan
Administrasi
Pemerintahan,
14 Pertanahan dan 244.236,95 248.809,76 270.447,32 275.126,80 294,124.70
Jaminan Sosial
Wajib
Jasa
15 220.189,59 227.123,41 243.594,02 258.940,47 272,676.00
Pendidikan

Kerangka Ekonomi Makro Daerah Bab. II 16


KEBIJAKAN UMUM PERUBAHAN ANGGARAN (KUPA) – KABUPATEN LUWU
TIMUR TAHUN 2018

2013 2014 2015 2016 2017*


NO SEKTOR
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Jasa Kesehatan
16 & Kegiatan 136.389,39 146.309,04 159.923,13 171.266,19 184,291.00
Sosial
17 Jasa Lainnya 11.067,99 11.895,59 12.965,31 14.145,18 15,493.00
PDRB 12.717.284,64 13.748.017,75 14.632.059,74 14.868.564,26 15,318,716.90

Sumber : BPS Kabupaten Luwu Timur 2017* (Angka Sementara)

PDRB Kabupaten Luwu Timur maupun agregat turunannya, selain disajikan dalm
pversi penilai atas dasar harga konstan (ADHK) juga dinilai dalam versi atas dasar harga
berlaku. Dikatakan harga berlaku karenaseluuh agregat dinilai dengan menggunakan
harga pada tahun berjalan. Berikut disajikan nilai dan kontribusi sektor atas dasar harga
berlaku Kabupaten Luwu Timur pada tahun 2013 sampai dengan tahun 2017.

2013 2014 2015 2016 2017*


NO SEKTOR
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
1 Pertanian,
Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Kabupaten Luwu Timur Tahun
Kehutanan & 2013-2017 (Juta Rupiah)
2.649.889,96 3.189.638,08 3.726.549,60 4.156.733,95 4,312,100.10
Perikanan
Pertambangan
2 10.777.928,69 12.167.503,46 11.198.466,21 10.187.884,93 10,864,591.80
& Penggalian
Industri
3 383.343,05 466.159,87 553.484,23 623.287,61 635,626.10
Pengolahan
Pengadaan
4 5.180,77 6.182,55 6.319,67 7.364,56 8,966.80
Listrik & Gas
Pengadaan Air,
Pengelolaan
5 Sampah, 928,99 963,41 1.003,00 1.151,31 1,230.00
Limbah dan
Daur Ulang
6 Konstruksi 1.079.969,96 1.200.241,42 1.405.738,42 1.511.622,45 1,638,672.50
Perdagangan
Besar &
Eceran,
7 454.818,95 475.484,54 555.287,93 627.789,34 697,815.70
Reparasi Mobil
& Sepeda
Motor
Trasnportasi &
8 78.297,30 97.668,21 119.936,33 126.788,92 132,112.50
Pergudangan
Penyediaan
9 Akomodasi dan 23.878,18 27.027,38 30.019,85 33.255,82 36,422.30
Makan Minum
Informasi &
10 175.451,40 187.704,13 207.000,30 231.857,23 255,449.40
Komunikasi
Jasa Keuangan
11 86.272,81 107.367,11 123.540,23 141.104,33 165,738.30
& Asuransi
12 Real Estate 242.165,10 314.814,63 371.171,93 416.987,06 438,878.90
Jasa
13 6.311,88 6.908,68 7.906,96 8.777,51 9,445.30
Perusahaan
Administrasi
Pemerintahan,
14 Pertanahan dan 287.386,52 318.727,60 377.955,36 397.311,94 439,631.30
Jaminan Sosial
Wajib
Jasa
15 259.153,01 284.236,85 317.299,23 349.432,49 368,418.80
Pendidikan

Kerangka Ekonomi Makro Daerah Bab. II 17


KEBIJAKAN UMUM PERUBAHAN ANGGARAN (KUPA) – KABUPATEN LUWU
TIMUR TAHUN 2018

2013 2014 2015 2016 2017*


NO SEKTOR
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Jasa Kesehatan
16 & Kegiatan 138.793,34 162.011,48 191.615,80 215.415,10 222,666.60
Sosial
17 Jasa Lainnya 12.903,62 15.291,09 17.945,10 20.341,75 22,598.10
PDRB 16.662.673,54 19.027.930,49 19.211.240,14 19.057.106,30 20,250,364.50

Sumber : BPS Kabupaten Luwu Timur 2017* (Angka Sementara)

Tabel 2.3
Perkembangan kontribusi Kategori dalam PDRB Tahun 2013-2017*
atas dasar harga berlaku (Hb) dan harga konstan (Hk)
Kabupaten Luwu Timur

2013 2014 2015 2016 2017*


NO Kategori PDRB ADH
ADHB ADHK ADHB ADHK ADHB ADHK ADHB ADHK ADHB
K
Pertanian,
1 Kehutanan dan 16.96 15.9 17.12 16.76 17.43 19.4 18.55 21.79 19.02 21.29
Perikanan
Pertambangan
2 60.6 64.68 61.04 63.95 60.36 58.29 58.07 53.41 56.69 53.65
dan Penggalian
Industri
3 2.54 2.3 2.59 2.45 2.62 2.88 2.78 3.27 2.91 3.14
Pengolahan
Pengadaan
4 0.05 0.03 0.05 0.03 0.05 0.03 0.06 0.04 0.06 0.04
Listrik dan Gas
Pengadaan Air,
Pengelolaan
5 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01
Sampah, Limbah
dan Daur Ulang
6 Konstruksi 7.42 6.48 7.03 6.31 7.15 7.32 7.51 7.93 7.72 8.09
Perdagangan
Besar dan
7 Eceran; Reparasi 3.27 2.73 3.15 2.5 3.21 2.89 3.43 3.33 3.54 3.45
Mobil dan
Sepeda Motor
Transportasi dan
8 0.55 0.47 0.56 0.51 0.57 0.62 0.58 0.66 0.59 0.65
Pergudangan
Penyediaan
9 Akomodasi dan 0.14 0.14 0.14 0.14 0.14 0.16 0.15 0.17 0.15 0.18
Makan Minum
Informasi dan
10 1.35 1.05 1.32 0.99 1.38 1.08 1.48 1.22 1.61 1.26
Komunikasi
Jasa Keuangan
11 0.77 0.52 0.79 0.56 0.79 0.64 0.86 0.79 0.93 0.82
dan Asuransi
12 Real Estate 1.49 1.45 1.55 1.65 1.56 1.93 1.65 2.19 1.74 2.17
13 Jasa Perusahaan 0.04 0.04 0.04 0.04 0.04 0.04 0.04 0.05 0.04 0.05
Administrasi
Pemerintahan,
14 1.92 1.72 1.81 1.68 1.85 1.97 1.85 2.08 1.85 2.17
Pertahanan dan
Jaminan Sosial
15 Jasa Pendidikan 1.73 1.56 1.65 1.49 1.66 1.65 1.74 1.83 1.8 1.82
Jasa Kesehatan
16 dan Kegiatan 1.07 0.83 1.06 0.85 1.09 1.00 1.15 1.13 1.23 1.1
Sosial

Kerangka Ekonomi Makro Daerah Bab. II 18


KEBIJAKAN UMUM PERUBAHAN ANGGARAN (KUPA) – KABUPATEN LUWU
TIMUR TAHUN 2018

2013 2014 2015 2016 2017*


NO Kategori PDRB ADH
ADHB ADHK ADHB ADHK ADHB ADHK ADHB ADHK ADHB
K
17 Jasa Lainnya 0.09 0.08 0.09 0.08 0.09 0.09 0.1 0.11 0.1 0.11
PRODUK
DOMESTIK 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100
REGIONAL BRUTO
Sumber : BPS Kabupaten Luwu Timur 2017*

Sektor utama penyumbang terbesar perekonomian Kabupaten Luwu Timur adalah


sektor pertambangan yaitu pertambangan nikkel, dimana kontribusi sektor ini terhadap
perekonomian Luwu Timur pada tahun 2017 mencapai 53,65 persen. Sektor ekonomi
kedua yang utama di Luwu Timur adalah sektor pertanian (termasuk perkebunan,
perikanan, peternakan, dan kehutanan) dengan kontribusi dalam perekonomian daerah
mencapai 21,29 persen dan sektor konstruksi (bangunan) merupakan sektor ekonomi
ketiga penyumbang terbesar dalam perekonomian di Luwu Timur, dimana kontribusi
sektor ini mencapai 8,09 persen di tahun 2017.

Grafik 2.1
Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Luwu Timur
Tahun 2013-2017* atas dasar harga berlaku (Hb) dan harga konstan (Hk)
(Triliun Rupiah)

25
20.25
19.03 19.21 19.06
20
16.66

15

10 15.31
14.87
14.63
13.74
12.71

0
2013 2014 2015 2016 2017*
PDRB ADHK PDRB ADHB

Sumber : BPS Kabupaten Luwu Timur 2017*

2) Pertumbuhan Ekonomi

Pada Tahun 2013, skala perekonomian Luwu Timur yang ditunjukkan


dengan besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku
sekitar 16,66 triliun rupiah dan m e n g a l a m i p e n i n g k a t a n t e r u s
m e n e r u s menjadi 19.06 triliun rupiah di tahun 2016. Pada Tahun 2017 PDRB
harga berlaku Luwu Timur mengalami peningkatan sebesar 20,25 triliun rupiah dan
dengan demikian kenaikan tersebut berkisar 3,59 persen dari kurun waktu tahun 2013
sampai dengan tahun 2017.

Kerangka Ekonomi Makro Daerah Bab. II 19


KEBIJAKAN UMUM PERUBAHAN ANGGARAN (KUPA) – KABUPATEN LUWU
TIMUR TAHUN 2018

Perekonomian Kabupaten Luwu Timur pada tahun 2017 mengalami peningkatan,


yaitu mengalami pertumbuhan sebesar 3,10 persen (ADHK). Pertumbuhan ekonomi Luwu
Timur ditahun 2017 sangat dipengaruhi pencapaian pada sektor pertambangan sebagai
sektor ekonomi utama di Luwu Timur dimana pada tahun 2017 sektor pertambangan
(nikkel) mencapai 1,38 persen.
Sektor pertanian (termasuk perkebunan, perikanan, peternakan, dan
kehutanan) yang merupakan sektor penggerak utama perekonomian di Luwu Timur
setelah pertambangan, mengalami pertumbuhan sekitar 18,55 (ADHK) persen pada
tahun 2016 , hingga pada tahun 2017 dapat mencapai 19,02 persen. Di tempat yang
ketiga yakni sektor kostruksi/bangunan mengalami pertumbuhan sekitar 8,09 persen
sementara sektor perdagangan (perdagangan besar / eceran dan reparasi
mobil/motor) pada tahun 2017 tumbuh hingga mencapai 3,45 persen.

Pemerintah daerah daerah senatiasa optimis akan terjadi pertumbuhan pada tahun
berikutnya. Kondisi ini ditopang oleh semakin membaiknya perekonomian nasional
dimana neraca perdagangan dan investasi yang menunjukkan peningkatan di tahun 2017.
Berdasarkan hal tersebut, pertumbuhan ekonomi nasional ditargetkan akan tumbuh
sebesar 5,3 persen. Hal ini tentu akan berdampak positif bagi roda perekonomian daerah
khususnya di Kabupaten Luwu Timur.

Grafik 2.2
Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Luwu Timur 2013-2017*

9.00
8.00
8.10 6.40
7.00
6.00
6.30
5.00
4.00
3.00
1.60 3.10
2.00
1.00
0.00
2013 2014 2015 2016 2017*
LPE (Konstan)

3) Laju Inflasi.
Inflasi merupakan salah satu indikator penting dalam pengendalian ekonomi makro
yang berdampak luas terhadap berbagai sektor ekonomi. Tingkat inflasi yang relatif
tinggi merupakan hal yang dapat merugikan perekonomian, yaitu dapat berdampak pada
lemahnya daya beli masyarakat dan melambatnya perkembangan produksi, di lain pihak
inflasi juga dibutuhkan oleh produsen yaitu untuk dapat menghasilkan perkembangan
penawaran terhadap barang dan jasa. Adapun gambaran laju inflasi Kabupaten Luwu
Timur dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

Kerangka Ekonomi Makro Daerah Bab. II 20


KEBIJAKAN UMUM PERUBAHAN ANGGARAN (KUPA) – KABUPATEN LUWU
TIMUR TAHUN 2018

Grafik 2.3
Inflasi Kabupaten Luwu Timur 2012-2018**

10.00 8.95

8.00

6.005.25

4.00 3.38 3.37


2.74 2.48
2.00

0.00
2013 2014 2015 2016 2017* 2018**
Laju Inflasi

Sumber: BPS (Inflasi Provinsi Sulawesi Selatan 2017);** Juni 2018

Perkembangan Laju inflasi di Provinsi Sulawesi Selatan digambarkan


berdasarkan perkembangan 4 kota besar di Sulawesi Selatan yaitu Makassar, Bone,
Pare-pare dan Palopo. Perkembangan inflasi kabupaten Luwu Timur secara makro
tergambar pada perkembangan inflasi kota palopo. Pada tahun 2017 Inflasi terjadi
karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh perubahan indeks pada kelompok-
kelompok barang dan jasa sebagai berikut: kelompok bahan makanan merupakan
kelompok dengan kenaikan harga tertinggi dibanding kelompok lain, kenaikan harga
yang dialami hingga 4,08 persen disusul oleh, kelompok perumahan, listrik, air, gas dan
bahan bakar dengan besar kenaikan 1,02 persen. Kelompok dengan kenaikan harga
tertinggi ketiga selama bulan Juni yakni kelompok sandang dengan besaran hingga 0,79
persen kenaikan. Berikutnya terdapat kelompok kesehatan dengan kenaikan harga yang
dialami 0,54 persen, sedang sebesar 0,16 persen kenaikan harga dialami kelompok
makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau. Dua kelompok terakhir yang mengalami
kenaikan harga paling kecil di bulan Juni yaitu kelompok Transpor, komunikasi dan jasa
keuangan sebesar 0,02 persen, dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga tidak
mengalami kenaikan harga signifikan pada bulan ini.

Pada bulan Juni 2017 tercatat bahwa di kabupaten/kota penghitung inflasi


nasional wilayah Sulawesi Selatan inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Bone senilai
1,83 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Makassar 0,84 persen. Provinsi Sulawesi
Selatan tercatat Inflasi 0,97 persen, sedangkan Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,69
persen.

4) PDRB Perkapita
Indikator lain yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan
ekonomi adalah PDRB perkapita. Indikator ini merupakan gambaran nilai tambah yang

Kerangka Ekonomi Makro Daerah Bab. II 21


KEBIJAKAN UMUM PERUBAHAN ANGGARAN (KUPA) – KABUPATEN LUWU
TIMUR TAHUN 2018

dapat diciptakan oleh setiap penduduk sebagai akibat dari adanya aktivitas produksi.
Meskipun indikator ini belum bisa menggambarkan pendapatan perkapita penduduk suatu
wilayah, namun kesejahteraan masyarakat dari aspek ekonominya dapat diukur dengan
tingkat pendapatan riil masyarakat perkapita. PDRB perkapita dihasilkan dari PDRB
suatu daerah dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun daerah tersebut. Bila
pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari pertumbuhan penduduk, maka PDRB perkapita
akan naik, namun sebaliknya bila pertumbuhan penduduk lebih tinggi dari pertumbuhan
ekonomi, maka PDRB perkapita akan turun.
Tabel 2.4
PDRB Perkapita Kabupaten Luwu Timur Tahun 2013 – 2017**
Tahun
Kategori
2013 2014 2015 2016 2017*
PDRB Atas 16.662.673,54 19.027.930,49 19.211.240,14 19.057.106,30 20.250.360,50
Dasar Harga
Berlaku
Jumlah 263,012 269,405 275,595 281,822 288,613
Penduduk
PDRB 63,353.28 70,629.46 69,708.23 67,621.07 72,212.11
Perkapita
Sumber : BPS Kabupaten Luwu Timur 2017

5) Tingkat kemiskinan
Jumlah penduduk miskin di Luwu Timur pada Bulan Maret 2017 berjumlah 21,94
ribu atau 7,66 persen dari total penduduk. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 0,34
persen atau sebesar 1,41 ribu jiwa jika dibandingkan kondisi tahun 2016 dengan angka
kemiskinan pada tahun tersebut sebesar 7,52 persen. Kenaikan angka kemiskinan di
Kabupaten Luwu Timur dibarengi dengan kenaikan angka kemiskinan di Provinsi
Sulawesi Selatan, namun besarnya selalu di bawah rata-rata angka kemiskinan Provinsi
Sulawesi Selatan. Begitu juga dengan indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan di
Kabupaten Luwu Timur cenderung lebih kecil dibanding Provinsi Sulawesi Selatan.

Tabel 2.5
Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin
Kabupaten Luwu Timur Tahun 2012 – 2017

Tahun
No. Penduduk Miskin
2012 2013 2014 2015 2016 2017*
Kabupaten Luwu
Timur
1 Penduduk Miskin 19.70 22.20 20.78 19.67 21.08 21.94
2 Presentase 7,71 8,38 7,67 7,18 7,52 7,66

Kerangka Ekonomi Makro Daerah Bab. II 22


KEBIJAKAN UMUM PERUBAHAN ANGGARAN (KUPA) – KABUPATEN LUWU
TIMUR TAHUN 2018

Sumber : Susenas Luwu Timur tahun (2012-2017)

Kenaikan angka kemiskinan di Kabupaten Luwu Timur sebesar 0,14 persen


masih di bawah rata-rata angka kemiskinan di Provinsi Sulawesi Selatan. Persentase
Penduduk miskin Kabupaten Luwu Timur pada tahun 2006 sekitar 11,35 persen
lebih rendah dari angka kemiskinan rata-rata Sulawesi Selatan yang sekitar 14,57
persen. Kemudian selama 12 tahun terakhir, angka kemiskinan Kabupaten Luwu
Timur terus meningkat menjadi 7,66 pada tahun 2017 dan meningkat 0,14 persen
ditahun 2016.

6) Indeks Pembangunan Manusia (IPM)


Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator penting untuk
mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia atau
penduduk suatu wilayah. IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses
dan berpartisipasi dalam pembangunan yaitu untuk memperoleh akses akan
pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.

Pencapaian pembangunan manusia di Kabupaten Luwu Timur terus mengalami


kemajuan selama periode 2012 hingga 2017. IPM Luwu Timur meningkat dari 69,34
pada tahun 2012, menjadi 70,43 pada tahun 2015 dan terus meningkat menjadi 70,95
pada tahun 2016. Pencapaian IPM Luwu Timur pada Tahun 2017 sudah mencapai
71,46. IPM luwu Timur dari tahun 2016 sampai 2017 selama setahun dengan
peningkatan mencapai 0,51 poin. Selama periode tersebut, IPM Luwu Timur rata-rata
tumbuh dari tahun 2012 sampai 2017 sebesar 2,96 persen Pertahun.

Selama periode tahun 2012 sampai dengan tahun 2017, IPM Luwu Timur
menunjukkan kemajuan yang cukup berarti. Pada 2012 dengan IPM 69,34 pencapaian
pembangunan manusia Luwu Timur sesuai dengan kriteria UNDP masih pada tingkat
pembangunan manusia level “Sedang”. Kemudian sejak Tahun 2016 dan 2017
status pencapaian pembangunan manusia Luwu Timur sudah meningkat pada level
“Tinggi” yaitu pencapaian IPM 71,46 persen

Tabel 2.6
Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia
Kabupaten Luwu Timur Tahun 2012 – 2017

No IPM 2012 2013 2014 2015 2016 2017*


1 Kabupaten
69,34 69,53 69,75 70,43 70,95 71,46
Luwu Timur
2 Propinsi
Sulawesi 67,26 67,92 68,49 69,15 69,76 70,34
Selatan

Kerangka Ekonomi Makro Daerah Bab. II 23


KEBIJAKAN UMUM PERUBAHAN ANGGARAN (KUPA) – KABUPATEN LUWU
TIMUR TAHUN 2018

3 Nasional 67,70 68,31 68,90 69,55 70,18 70,81


Sumber : BPS Kabupaten Luwu Timur 2017

7) Ketenagakerjaan.

Kesempatan kerja merupakan hubungan antara angkatan kerja dengan


kemampuan penyerapan tenaga kerja. Pertambahan angkatan kerja harus diimbangi
dengan investasi yang dapat menciptakan kesempatan kerja. Dengan demikian
kesempatan kerja dapat diartikan sebagai permintaan atas tenaga kerja.

Sementara itu, angkatan kerja (labour force) menurut Soemitro Djojohadikusumo


didefinisikan sebagai bagian dari jumlah penduduk yang mempunyai pekerjaan atau
yang sedang mencari kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang produktif. Bisa juga
disebut sumber daya manusia.

Tabel 2.7
Rasio Penduduk yang bekerja
Kabupaten Luwu Timur 2012 - 2017

Tahun
No Uraian
2012 2013 2014 2015 2016 2017*
Rasio
Penduduk
106.213 122.017 122.738 112.776 100.203 102.212
1. yang bekerja
(%)
Sumber : Dinas Transmigrasi, Tenaga Kerja dan Perindustrian, 2017

Jumlah angkatan kerja tahun 2017 mengalami peningkatan jika dibandingkan


tahun 2016. Dari angkatan kerja tersebut terdapat sebanyak 102,212 orang yang
bekerja, dan 2.009 orang dengan status pengangguran terbuka (termasuk yang sedang
mencari pekerjaan). Data sementara menyebutkan bahwa terdapat 59.894 jiwa yang
bukan angkatan kerja yang terdiri dari: bersekolah 12.595 jiwa, mengurus rumah tangga
37.392 jiwa dan lainnya sebanyak 9.962 jiwa.

2.2. Tantangan dan Prospek Perekonomian Daerah Tahun 2018

A. Tantangan.
Karakteristik pertumbuhan ekonomi wilayah Kabupaten Luwu Timur merangkum
perbedaan struktur ekonomi antara kawasan timur dan kawasan barat. Hal ini dapat dilihat
perbedaannya dengan memperhatikan rentannya pertumbuhan ekonomi tanpa tambang nikel
di kawasan timur, sementara di kawasan barat yang bertumpu pada sektor pertanian
mengalami pertumbuhan yang cukup memadai dari tahun ke tahun.

Diperkirakan perekonomian kabupaten Luwu Timur masih akan dihadapkan pada


sejumlah tantangan utama sebagai imbas dari dinamika perkembangan perekonomian global,

Kerangka Ekonomi Makro Daerah Bab. II 24


KEBIJAKAN UMUM PERUBAHAN ANGGARAN (KUPA) – KABUPATEN LUWU
TIMUR TAHUN 2018

Nasional dan Provinsi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir yang perlu ditindaklanjuti
dengan tindakan nyata, tantangan tersebut mencakup:
 Penurunan Angka Kemiskinan.
 Penurunan Angka Pengangguran.
 Peningkatan kualitas Infratruktur yang memadai dan pemerataan pembangunan dalam
mendukung aksesibitas Wilayah.
 Meningkatkan pertumbuhan ekonomi, melalui peningkatan sektor-sektor unggulan
daerah.
 Peningkatan iklim investasi yang lebih kondusif.
 Peningkatan daya saing produk unggulan daerah dan sumberdaya manusia guna
menghadapi persaingan Global.
 Peningkatan peran pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan dan partisipasi
masyarakat dalam pembangunan. Ekonomi.
 Mendorong upaya peningkatan peran kerjasama antar daerah (KAD).
 Penegakan regulasi dan supremasi hukum dalam mendukung pembangunan ekonomi.

Perekonomian di Kabupaten Luwu Timur secara langsung maupun tidak langsung


dipengaruhi oleh perkembangan saat ini dan yang akan datang, baik pada perkembangan
lingkungan eksternal maupun internal. Perkembangan lingkungan eksternal Kabupaten
Luwu Timur sangat dipengaruhi oleh kebijakan perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan dan
Nasional. Faktor eksternal yang mempengaruhi perekonomian Kabupaten Luwu Timur pada
Tahun 2018 diperkirakan adalah :
1. Ketergantungan pangan terhadap produk impor, hal ini mengakibatkan ketersediaan
produk pangan terganggu, sehingga terjadi ketidakstabilan harga di pasaran.
2. Semakin beratnya beban pemerintah dalam penyediaan subsidi komoditas seperti energi
dan pangan serta produk lainnya yang akan menuntut peran daerah yang lebih besar
dalam pembangunan daerahnya.
3. Semakin beratnya persaingan antar wilayah dan antar daerah dalam upayanya menarik
investasi, ini disebabkan oleh ketimpangan daya tarik yang berakibat tidak meratanya
penyebaran investasi.
4. Semakin tingginya desakan implementasi pembangunan yang berkelanjutan.
5. Regulasi perekonomian dan advokasi alokasi anggaran Provinsi Sulawesi Selatan dan
Pusat disesuaikan dengan peran dan kontribusi Kabupaten Luwu Timur terhadap
perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan dan Pusat.

Faktor internal yang akan mempengaruhi perekonomian Kabupaten Luwu Timur


diperkirakan tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya adalah sebagai berikut :
1. Jumlah penduduk, kondisi ini disatu sisi merupakan potensi pasar barang dan jasa, namun
disisi lain merupakan beban pembangunan ekonomi.
2. Kualitas sumber daya manusia, yang profesional, terampil dan memiliki inovasi dalam
mengahasilkan suatu karya berpengaruh kepada berkurangnya tingkat pengangguran dan
dapat menumbuh kembangkan para wirausaha baru yang mandiri.
3. Ketersediaan infrastruktur wilayah melalui penyediaan sarana dan prasarana yang relatif
baik akan mempengaruhi tingkat efisiensi perekonomian dan peningkatan daya tarik bagi
investor.
4. Penurunan kontribusi sektor primer yang mengakibatkan terjadinya pengangguran.

Kerangka Ekonomi Makro Daerah Bab. II 25


KEBIJAKAN UMUM PERUBAHAN ANGGARAN (KUPA) – KABUPATEN LUWU
TIMUR TAHUN 2018

5. Iklim investasi yang kondusif, seperti rendahnya angka kriminalitas dan jumlah
demontrasi, kemudahan pelayanan perizinan, kondisi ini sangat mempengaruhi
kelancaran usaha dan aktifitas ekonomi.
6. Kondisi geografis kabupaten Luwu Timur sebagian besar merupakan kawasan hutan
lindung sehingga memerlukan perhatian khusus dalam pengembangan daerah kedepan.

Tantangan-tantangan tersebut di atas sangat menentukan tumbuh dan


berkembanganya perekonomian di Kabupaten Luwu Timur. Oleh karena itu, tantangan ini
harus dapat diatasi secara proporsional melalui penetapan prioritas pembangunan daerah,
penetapan rencana kerja dan pendanaannya, serta penataan hubungan tata kerja dalam
pelaksanaannya, sehingga terjadinya sinergitas dari seluruh stakeholders pembangunan di
Kabupaten Luwu Timur.

Sesuai dengan visi yang telah ditetapkan, Luwu Timur Terkemuka 2021, maka sektor
pertanian merupakan lokomotif utama dalam menggerakan roda perekonomian daerah,
untuk mewujudkan kemajuan, kemandirian dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat
kabupaten Luwu Timur.

Sejalan dengan semakin berkembangnya tuntutan pembangunan dari tahun ke tahun,


tentunya harus dibarengi dengan ketersediaan anggaran dalam pelaksanaannya. Adanya
situasi keterbatasan kemampuan fiskal daerah dalam pembiayaan pembangunan berimplikasi
luas terhadap perekonomian daerah. Pemerintah dituntut untuk meningkatkan Pendapatan
Asli Daerah (PAD) dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan keuangan
daerah. Selain itu diupayakan melalui sumber-sumber pembiayaan lainnya antara elakukan
optimalisasi pengelolaan Dana yang bersumber dari pemerintah Pusat serta menjalin pola
kerjasama pembangunan Daerah (KAD) maupun dengan lembaga non goverment
Organization (NGO) lainnya.

B. Prospek Perekonomian Daerah .


Keterbatasan kapasitas fiskal daerah dalam pembiayaan pembangunan berimplikasi
kepada perkembangan perekonomian daerah. Guna mengatasi hal ini diperlukan upaya guna
menjalin kerjasama pembiayaan pembangunan daerah, dan perlibatan Stakeholders
pembangunan. Fokus Kebijakan ekonomi makro Kabupaten Luwu Timur Tahun 2018
adalah akselerasi pertumbuhan ekonomi, meletakkan fondasi yang kokoh menghadapi Tahap
ke- III pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan
tujuan utamanya mewujudkan masyarakat yang maju, madiri dan sejahtera.

Berdasarkan kondisi perekonomian yang telah dicapai pada tahun-tahun sebelumnya,


maka prospek perekonomian Kabupaten Luwu Timur tahun 2018 yang sebagai modal dasar
pembangunan sebagai berikut:

Tabel. 2.8
Prospek Perekonomian Kabupaten Luwu Timur Tahun 2018

No Bidang/sektor Uraian
INTERNAL
Pertanian/ pangan/ Kondisi Kab. Luwu Timur yang sebagian besar
Peternakan, masyarakatnya bekerja pada sektor ini dimana ketesediaan

Kerangka Ekonomi Makro Daerah Bab. II 26


KEBIJAKAN UMUM PERUBAHAN ANGGARAN (KUPA) – KABUPATEN LUWU
TIMUR TAHUN 2018

No Bidang/sektor Uraian
kelautan dan luas lahan pertanian yang cukup besar, dengan komoditas
Perikanan, dan yang beragam, selain itu daerah ini terletak pada kawasan
Kehutanan teluk Bone sehingga memiliki pesisir laut yang sebagian besar
telah dimanfaatkan sebagai kawasan tambak dan
pengembangan rumput laut.
Industri Berdasarkan kondisi geografis Kab. Luwu Timur Memiliki
Sumber daya alam yang sangat besar utamanya kandungan
sumberdaya mineral (potensi Tambang), Pertanian dan
Pariwisata.
Energi Dengan besarnya potensi Sumber daya Air yang dimiliki
sehingga berpotensi pada pengembangan sumberdaya energi
alternatif.
Pengembangan Saat ini memiliki kawasan strategis Nasional (KSN
Kawasan Strategis Sorowako) yang merupakan kawasan industri pertambangan
Nikel terbesar di indonesia timur yang terdapat di kec.Nuha.
selain itu letak kab. Luwu Timur yang merupakan wilayah
terluar Provinsi Sulawesi Selatan di bagian timur sehingga
berbatasan langsung dengan beberapa Kabupaten dari provinsi
yang berbeda-beda dan merupakan Jalur Penghubung
konektifitas antar Wilayah.

EKSTERNAL
Kelangkaan Memberikan peluang bagi pertanian dalam arti luas serta
Pangan ditingkat peningkatan dan pengembangan pemasaran produk pertanian
regional dan dan hasil olahannya.
nasional
Pergeseran Menghadapi persaingan global peningkatan daya saing daerah
Kekuatan perlu terus diupayakan, melalui pengembangan kawasan
ekonomi Regional strategis daerah dan kawasan industri yang ada.
dan Nasional
Kesiapan meningkatkan kualitas produk unggulan daerah ,peningkatan
Kabupaten Luwu kapasitas SDM, pemanfaatan SDA secara optimal dan
Timur dalam berkelanjutan serta pengembangan inovasi dan tehnologI
menghadapi dalam mendukung peningkatan daya saing daerah.
persaingan
ditingkat regional
Berlakunya MEA Perlu ditindak lanjuti dengan kebijakan dalam penciptaan
iklim usaha yang lebih baik sehingga akan mendorong
meningkatnya kinerja industri.

Berdasarkan kondisi gambaran umum prospek perekonomian serta tantangan yang


diperkirakan akan dihadapi pada tahun 2018 serta perkembangan ditahun-tahun yang akan
datang maka arah kebijakan Ekonomi Daerah tahun 2018 adalah “Akselerasi Pertumbuhan
Ekonomi Yang Inklusif Dan Berkelanjutan Dengan Menitikberatkan Pada Sektor-Sektor
Ekonomi Lokal Potensial Dan Strategis”. Hal ini diharapkan dapat memberikan daya ungkit
yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah serta memberikan dampak signifikan
dan merata bagi seluruh stakeholdes pembangunan.

Kerangka Ekonomi Makro Daerah Bab. II 27


KEBIJAKAN UMUM PERUBAHAN ANGGARAN (KUPA) – KABUPATEN LUWU
TIMUR TAHUN 2018

Dalam rangka mewujudkan kebijakan pemantapan perekonomian Daerah tersebut


maka upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Mewujudkan pemantapan kemandirian ekonomi daerah dengan menggerakkan
sektor-sektor ekonomi lokal potensial dan strategis daerah. Kebijakannya diarahkan
pada:
a. Penguatan ketahanan pangan menuju kemandirian pangan;
b. Peningkatan akses pasar, permodalan dan intermediasi bagi pengembangan
sektor ekonomi lokal potensial dan strategis;
c. pengembangan ekonomi lokal potensial dan strategis dari hulu sampai ke hilir.

2. Meningkatkan produktifitas masyarakat dan daya saing daerah dan kebijakannya


diarahkan pada:
a. Mendorong peningkatan investasi daerah yang bebasis sumber daya lokal baik
SDA maupun SDM dengan mempertimbangkan kapasitas lingkungan;
b. peningkatan iklim usaha yang kondusif dalam mendukung peningkatan investasi
daerah;
c. peningkatan peran BUMD dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat;
d. peningkatan inovasi dan pemanfaatan tehnologi;
e. peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur serta sarana dan prasarana
mendukung peningkatan perekonomian dalam menunjang aksesibilitas wilayah
dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi daerah;
f. peningkatan daya saing produk unggulan daerah dan kualitas tenaga kerja dalam
menghadapi persaingan global;
g. Meningkatkan sinergitas dan koordinasi antara dunia usaha, lembaga pendidikan,
masyarakat dan dunia usaha;
h. peningkatan akses permodalan bagi pelaku usaha mikro kecil menengah
(UMKM) dan koperasi, antara lain melalui perusahaan penjamin kredit daerah
(PPKD).

Kerangka Ekonomi Makro Daerah Bab. II 28