Anda di halaman 1dari 10

1

TUGAS AKHIR

COLLOQUIUM BIBLICUM

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan Mata


Kuliah: COLLOQUIUM BIBLICUM

Yang Dibina Oleh:


Dr. Timotius Sukarna, M.Th

Nama : Yulianus Bani


NIM : 7082019187

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI KADESI YOGYAKARTA


2020
91. Siapakah yang membawa Yusuf ke Mesir, orang Ismael (Kej.
37:28), orang Midian (Kej. 37:36), atau saudara-saudara Yusuf?
(Kej. 45:4). (kategori: salah memahami konteks historis)
Pertanyaan ini harus dipahami berdasarkan apa yang sudah
tertulis di dalam Alkitab. Artinya bahwa Alkitab sudah memberikan
penjelasan yang sudah semestinya dimengerti bagi orang-orang yang
diiluminasi oleh Allah, tetapi dari kasus pertanyaan di atas kita melihat
bahwa pertanyaan ini sangat dangkal terhadap Alkitab. Genesis 37:28
menyatakan bahwa “Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf
diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang
Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa
mereka ke Mesir.” Dari ayat ini sangat jelas bahwa kejadian ini tidak
berawal dari sini tetapi dari ayat-ayat sebelumnya bahwa Yusuf yang
lebih dikasihi ayahnya Yakub sehingga saudara-saudaranya iri (Kej.
37:11). Akibat dari iri hati ini, Yusuf diperlakukan tidak baik dengan
dilemparkan dia ke dalam sumur kosong tidak berair (ay.24).
Pada ayat-ayat selanjutnya bahwa saudara-saudara Yusuf
melihat seorang kafilah orang Ismael datang dari Gilead dengan
untanya yang membawa barang-barang dagang ke Mesir (ay.25). Ada
penekanan di ayat 27a bahwa “marilah kita jual dia kepada orang Ismael
ini.” Namun, yang menjadi persoalan adalah mengapa di dalam ayat 28
muncul istilah para saudagar Midian tetapi di jual kepada orang Ismael.
Dalam ayat 28 ~yliÞa[em.v.YIl;= = Ismaelite, kata ini menunjuk kepada
para saudagar di ayat ini. Kasus ini hanya dapat dimengerti jika setiap
orang yang membaca bagian ini memahami bahwa seringkali ada
penggunaan kata yang mewakili sebuah rumpun bangsa sehingga dapat
dikatakan bahwa di dalam ayat ini jelas bahwa saudagar-saudagar itu
adalah orang-orang Midian yang juga seringkali disebut orang Ismael.

92. apakah Tuhan dapat berubah pikiran (menyesal) (Kej. 6:7;


keluaran 32:4; 1 Samuel 15:10-11) atau tidak pernah berubah
pikiran (menyesal) (1 Samuel 15:24).
Sebenarnya dalam konteks ayat-ayat di atas tidak satupun ingin
menyatakan bahwa Allah tidak konsisten dengan rancanganNya
sehingga menyesal. Ayat-ayat di atas menyatakan bahwa seakan-akan
bahwa setelah Allah selesai merancangkan sesuatu maka karena ada
factor-faktor tertentu maka rancangan Allah itu tidak terjadi sehingga
Allah menyesal. Teks-teks ini tidak bermaksud untuk menyamakan Allah
dengan manusia, tetapi menyatakan bagaimana Allah orang Kristen
adalah Allah yang hidup. Allah yang hidup adalah Allah yang dinamis
dan selalu memiliki kebebasan untuk menyatakan diriNya kepada
manusia dalam segala konteks.
Dalam theologia Kristen tentu kita tahu bahwa istilah Tuhan
menyesal memiliki arti sederhana bahwa Tuhan sedang menempatkan
diriNya seperti manusia yang memiliki perasaan. Hal ini disebut dengan
antropomorfisme. Antropomorfisme yang berarti “dari bentuk manusia”.
Ini adalah kombinasi dari kata Yunani untuk “manusia” atau
ἄνθρωπος/anthropos dan “bentuk eksternal” atau μορφή/morphe.
Berdasarkan pengertian ini dapat dikaitkan dengan bagaimana
cara Allah menyebutkan diri-Nya dengan istilah-istilah manusiawi,
seperti Allah berfirman, bercakap-cakap, mendengar, melihat, mencium,
dsb. Pada saat Allah mengambil istilah-istilah manusiawi itu memberikan
arti bahwa Allah mau terlibat dalam kehidupan umat-Nya. Dan
penyingkapan ini mengacu kepada inkarnasi. Lalu, antropomorfisme
berbicara mengenai penciptaan manusia menurut gambar Allah dan
keinginan Allah untuk bersekutu dan berhubungan dengan kita. Bukti
yang jelas ialah Allah selalu membuat titik temu supaya bisa
berkomunikasi dengan manusia. Hal ini juga biasanya menyatakan
bagaimana Allah yang mahakasih tidak pernah dipengaruhi oleh
manusia tetapi bertindak menurut kehendakNya.

93. bagaimana mungkin ahli sihir di Mesir dapat merubah air


menjadi darah (Keluaran 7:22) jika semua air di Mesir telah diubah
oleh Musa dan Harun (Keluaran 7:20-21).
Keluaran 7:20 Demikianlah Musa dan Harun berbuat seperti yang
difirmankan TUHAN; diangkatnya tongkat itu dan dipukulkannya kepada
air yang di sungai Nil, di depan mata Firaun dan pegawai-pegawainya,
maka seluruh air yang di sungai Nil berubah menjadi darah; Keluaran
7:21 matilah ikan di sungai Nil, sehingga sungai Nil itu berbau busuk dan
orang Mesir tidak dapat meminum air dari sungai Nil; dan di seluruh
tanah Mesir ada darah. Keluaran 7:22 Tetapi para ahli Mesir membuat
yang demikian juga dengan ilmu-ilmu mantera mereka, sehingga hati
Firaun berkeras dan ia tidak mau mendengarkan mereka keduanya
seperti yang telah difirmankan TUHAN.
Dalam ayat ini harus dicermati sehingga tidak salah tafsir atau
salah pengertian. Ayat 20 dan 21 memberikan penekanan kepada tanah
“maka seluruh air yang di sungai Nil berubah menjadi darah dan di
seluruh tanah Mesir ada darah”. Artinya bahwa air yang dibuat oleh
Musa dan Harus adalah melalui sungai Nil sedangkan dapat dipastikan
bahwa air yang dipakai oleh para ahli sihir Mesir adalah air di istana
Firaun yang dipakai sebagai contoh Karena itu dipertegas dengan
kalimat di depan mata Firaun dan pegawai-pegawainya. Dari
pertnyataan ini dapat diamati bahwa atraksi para ahili sihir ini di depan
Firaun pada saat dia duduk ditakthanya. Selain itu juga dalam ayat 24
dengan jelas menyatakan bahwa “tetapi semua orang Mesir menggali-
gali di sekitar sungai Nil mencari air untuk diminum, sebab mereka tidak
dapat meminum air sungai Nil”. Dengan demikian tuduhan di bagian ini
mencari-cari kesalahan tetapi tidak membaca teks secara keseluruhan
sehingga memiliki pemahaman yang dangkal. Orang islam membaca
Alkitab secara parsial sehingga tidak melihat kesinambungan antara
satu dengan yang lainnya.

94. apakah Daud (1 Samuel 17:23;50) atau Elhanan (2 Samuel


21:19) yang membunuh Goliat?
Dalam bagian ini harusnya dibaca sesuai dengan konteks yang
ada karena walaupun penulisan ulang, namun yang harus dicermati
adalah bahwa bagian ini telah menceritakan bagaimana Daud yang
masih muda itu mengalahkan Goliat yang sudah berpengalaman
berperang sejak masa mudanya dalam konteks 1 Samuel 17:4:8.
Walaupun merupakan salinan dari peristiwa yang sudah ada,
tetapi dalam konteks 2 Samuel 21:19 merupakan lanjutan dari apa yang
diminta oleh orang Gibeon berhubungan dengan dosa dari Saul
sehingga orang Gibeon meminta Daud untuk menyerahkan keturunan
Saul untuk mereka gantung sebagai konsekuensi dari apa yang telah
dilakukan oleh Saul dan keluarganya. Dalam konteks ini juga kita harus
memperhatikan bahwa ada kata “dan terjadi lagi pertempuran melawan
orang Filistin” dari pernyataan ini jelas bahwa peperangan ini tidak
terjadi pertama kali yang berhubungan dengan Daud, karena itu saya
lebih setujuh dengan apa yang telah dinyatakan dalam 1 Tawarikh 20:5.
Sangat jelas disini bahwa bagian yang satu memperjelas bagian
yang lain, bukan berarti bahwa bagian yang lain salah tetapi karena
terjadi kesalahan penyalinan bisa saja, namun inspirasi terhadap para
penulis asli tidak pernah salah. Oleh karena itu, yang membuh Goliat
adalah Daud sedangkan yang membunuh saudara Goliat adalah
Elhanan dalam konteks pertempuran yang berbeda dengan Daud. Hal
ini diperjelas dalam ayat 1 Tawarikh 20:5 yang menyatakan bahwa
Maka terjadilah lagi pertempuran melawan orang Filistin, lalu Elhanan
bin Yair menewaskan Lahmi, saudara Goliat, orang Gat itu, yang
gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun.

95. apakah Saul sendiri yang menghunus pedangnya untuk


membunuh dirinya (1 Samuel 31:4-6) atau orang Amalek yang
melakukannya (2 Samuel 1:1-16)
Dalam konteks 1 Samuel 31:4-6 sangat jelas bahwa ini adalah
catatan sejarah dari apa yang terjadi berhubung dengan peristiwa
kematian Saul. Ada satu prinsip yang sangat prinsipil disini bahwa
permintaan Saul dalam ayat 4 agar pembawa senjatanya menikamnya
supaya ia tidak dibunuh oleh para musuhnya menjadi sorotan karena hal
ini menjadi penakanan Daud yaitu bahwa tidak boleh menjamah orang
yang telah diurapi Allah. Pembawa pedang Saul juga melakukan hal
yang sama yaitu tidak ingin melakukan dosa dengan menikam orang
yang telah diurapi Allah hal ini jelas dari kalimat “tetapi pembawa
senjatanya tidak mau karena ia sangat segan”.
Hal nyata yang kita lihat dalam konteks ini adalah bahwa penulis
dengan jelas memberikan informasi bahwa “kemudian Saul mengambil
pedang yang dibawa oleh pembawa senjatanya karena memang raja
pada masa dulu biasanya tidak membawa pedangnya sendiri. Lalu Saul
menjatuhkan dirinya ke atas pedangnya. Artinya bahwa dalam konteks
ayat-ayat ini ingin memberikan penekanan kepada para pembaca
bahwa Saul tidak mati ditangan musuh tetapi mati karena bunuh diri.
Namun dalam konteks 2 Samuel 1:1-16 bukan merupakan
sejarah dari kematian Saul, tetapi di balik kematian Saul ada cerita yang
berbeda yang datang kepada Daud. Hal ini terlihat dari apa yang
disampaikan dalam ayat 2 bahwa “maka datanglah pada hari ketiga
seorang dari tentara, dari pihak Saul, dengan pakaian terkoyak-koyak
dan tanah di atas kepala. Ketika ia sampai kepada Daud, sujudlah ia ke
tanah dan menyembah”. Dari ayat ini jelas menyatakan bahwa ada
orang yang datang kepada Daud tentu tujuannya adalah untuk
mendapat upah atas kematian Saul karena berita permusuhan antara
Daud dan Saul sudah tersiar ke berbagai tempat. Artinya ayat ini ingin
menekankan bahwa di balik kematian Saul ada orang yang
memanfaatkannya untuk mencari keuntungan sehingga mengarang
cerita yang berbeda kepada Daud dari fakta yang ada di 1 Samuel 31:4-
6. Dengan kata lain bahwa kisah dalam 1 Samuel 31: 4-6 merupakan
kisah dari fakta kematian Saul, sedangkan 2 Samuel 1:1-16 merupakan
cerita versi orang Amalek (ay. 13) yang sangat berbeda dengan
faktanya, hal ini dapat dilihat dari ayat 6 yang menyatakan bahwa “orang
muda yang membawa kabar kepadanya berkata kebetulan aku ada di
pengunungan Gilboa”. Kalimat inilah yang menjelaskan bahwa pemuda
Amalek ini mengarang cerita kematian Saul kepada Daud dengan
versinya sendiri dengan tujuan mendapatkan upah. Jadi dalam bagian
sejarah tentang kematian Saul tidak saling bertentangan, tetapi harus
dipahami sesuai konteks masing-masing dari 1 Samuel 31:4-6 dan 2
Samuel 1:1-16 yang tetap konsisten bahwa Saul mati karena bunuh diri.

96. apakah setiap orang itu berdosa (1 Raja-raja 8:46; 2 Tawarikh


6:36; Amsal 20:9; Ulangan 7:20 1 Yohanes 1:8-10) atau ada
beberapa orang yang tidak berdosa (1 Yohanes 3:1,8-9; 4:7; 5:1)
Beberapa ayat yang ditanyakan di sini merupakan kebenaran
yang dinyatakan oleh Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian
Baru bahwa semua orang telah berdosa. Bahkan dalam Roma 3: 23
menyatakan bahwa “sebab semua orang telah berbuat dosa dan telah
kehilangan kemuliaan Allah”. Artinya bahwa baik Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru memberikan penekanan bahwa semua manusia
berdosa sejak masih dalam kandungan. Dalam Alkitab dicatat bahwa
hanya Yesuslah manusia yang tidak berdosa karena Dia adalah Allah
(Luk. 1:35) yang memiliki kominikasi antar natur Ilahi dan manusia.
Setiap orang Kristen berdosa karena telah menwarisi dosa asal
dari Adam sehingga tidak dapat dengan kekuatannya sendiri
menyembah Allah. Bahkan Roma 6:23 menyatakan bahwa “sebab upah
dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam
Kristus Yesus, Tuhan kita”. Dosa manusia itu tidak menghalangi karunia
esebagai Tuhan dan Juruselamat akan diselamatkan (Rom. 10:9-20)
akan diselamatkan dan menerima hidup yang baru oleh Roh Kudus.
Roh Kudus yang diam didalam diri orang percaya memperbaharui
kehidupan sehingga 2 Korintus 5:17 menyatakan bahwa “Jadi siapa
yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah
berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”.
Jadi setiap orang yang sudah ada dalam Kristus adalah ciptaan
baru, dari kehidupan yang cenderung berdosa, bahkan Kejadian 6:5
menyatakan bahwa kecenderungan hati manusia adalah kejahatan
semata. Inilah mengapa dalam konteks 1 Yohanes 3:1, 8-9; 4:7, 5:1
Yohanes mengingatkan lagi orang-orang Kristen supaya mereka
kembali mengigat bahwa mereka adalah ciptaan baru. Yang dulu selalu
ingin berdosa, tetapi setelah mengenal Kristus dan dimemerdekakan
maka bisa memilih untuk tidak berdosa. Terjemahan NIV
menerjemahkan secara tepat dengan menggunakan present continuous
dalam ayat 9 seperti yang tertulis dalam bahasa aslinya, sehingga ayat
ini dapat berbunyi “mereka yang lahir dari Kristus tidak akan terus
berbuat dosa atau dan mereka tidak dapat berbuat dosa terus”. Jadi
bagian ini hanya terjadi kesalahan dalam terjemahan karena dalam
kalangan orang Kristen bagian ini sering ditanyakan.

97. apakah kita perlu menolong orang lain dalam menanggung


bebannya (Galatia 6:2) atau kita hanya perlu menanggung beban
kita sendiri (Galatia 6:5)
Dalam konteks Galatia Pasal 6 ini Paulus memberikan
penekanan kepada orang-orang Kristen yang ada di Galatia agar
mereka saling menolong satu dengan yang lain. Hal ini sangat penting
karena orang yang dapat menolong orang lain merupakan orang yang
telah lulus ujian dalam hidupnya sehingga ia dapat menolong orang lain.
Ayat 2 dan ayat 5 tidak saling kontradiksi satu dengan yang lain,
tetapi saling melengkapi. Paulus dalam ulasannya memulai dari hal-hal
bersama barulah kepada hal pribadi. Ungkapan Indonesia yang sangat
terkenal adalah mengutamakan kepentingan bersama dari kepentingan
pribadi. Tentu kita memahami bahwa ungkapan ini tidak berarti bahwa
setiap orang yang mengutamakan kepentingan bersama tidak
memperhatikan kepentingan pribadinya. Ada unsur tanggung jawab dari
hal ini yaitu bahwa orang Kristen memiliki tanggung jawab menolong
orang lain yang merupakan sesamanya manusia (Luk. 10:25-37).
Menanggung beban dalam konteks Kristen bisa berarti saling
mendoakan satu dengan yang lain, saling berbagi satu dengan yang
lain. Sejarah gereja memberikan satu bukti bahwa setiap minggu jemaat
selalu melakukan jamuan kasih bersama setelah ibadah dengan tujuan
saling menolong satu dengan yang lain. Menanggung beban dalam
konteks ayat ini juga berarti bahwa sebagai orang-orang Kristen yang
telah diselamatkan oleh Kristus, kita harus hidup untuk semua orang
bukan untuk diri sendiri. Hidup bagi setiap orang merupakan salah satu
bukti hidup baru, Kristus memakai istilah kamu adalah sahabatku.
Pemikiran Paulus ini tidak mungkin tidak berdasar. Menolong beban
orang lain merupakan ciri khas dari kekristenan dan inilah yang telah
dilakukan oleh Kristus. Manusia tidak dapat dengan kekuatannya sendiri
bisa datang kepada Allah, jika dia tidak ditolong oleh Allah. Manusia
dengan kemampuannya sendiri tidak dapat masuk dalam kerajaan
sorga jika tidak melalui Yesus yang adalah satu-satunya jalan. Artinya
bahwa ayat ini ingin memberikan penekanan bahwa orang percaya
harus sadar bahwa keberadaannya sebagai anak-anak Allah bukan
karena hasil pekerjaannya sendiri tetapi karena pemberian Allah.
Menurut saya tidak ada yang salah dengan ayat ini, karena yang
menanyakan ayat ini sebenarnya sangat memperhatikan diri sendiri
daripada orang lain. Kita harus menolong orang lain juga tidak hanya
menolong diri sendiri karena inilah yang dilakukan Kristus.

98. apakah Yesus menampakkan diri kepada keduabelas muridNya


(1 Korintus 15:5) atau hanya kesebelas orang (Matius 27:3-5; 28:16;
Markus 16:14; Lukas 24:9,33; Kisah Para Rasul 1:9-26)
Dari ayat yang ditanyakan oleh orang islam ini tentu sudah dapat
kita pahami kemana arahnya. Seharusnya orang islam tidak membaca
Alkitab secara parsial, karena akan terjadi seperti ini. Apa yang
dinyatakan oleh penulis buku ini sudah sangat jelas bahwa Shabbir tidak
memahami konteks sejarah dari pertantanyaannya, karena istilah dua
belas murid dipakai karena minus Yudas Iskariot yang telah mati bunuh
diri.
Namun, sebagai orang Kristen harus kita pahami juga bahwa apa
yang ditanyakan tentu karena tidak membaca Alkitab secara lengkap.
Selain itu juga dari pertanyaan ini jelas bahwa Roh Kudus tidak
memberikan iluminasi kepada Shabbir sehingga seakan-akan apa yang
ditanyakan membuktikan Alkitab saling kontradiksi. Penekanan Paulus
dalam konteks 1 Korintus 15:5 merupakan pengakuan terhadap Matias
tentang apa yang telah disyaratkan oleh para Rasul dalam Kisah Para
Rasul 1:21-22. Artinya bahwa penyebutan para penulis injil sinoptik
terhadap sebelas murid menunjuk pada konteks kematian Yudas dan
penyebutan duabelas murid menunjuk pada konteks Matias telah dipilih
untuk menggantikan Yudas.

99. apakah Yesus langsung pergi ke gurun setelah Ia dibaptis


(Markus 1:12-13) atau Ia pergi terlebih dahulu ke Galilea mencari
murid-murid, kemudian menghadiri perkawinan di Kana? (Yohanes
1:35,43; 2:1-11).
Konteks Markus 1:12-13 sangat jelas disampaikan bahwa setelah
Yesus di baptis maka Roh memimpin Dia ke padang gurun. Yesus
tinggal di padang gurun selama empat puluh hari lamanya dan dicobai
oleh Iblis, Matius memberikan catatan bahwa sebanyak tiga kali (Mat.
4:1-11). Walaupun banyak orang mengaitkan hal ini dengan istilah 40
hari yang sudah biasa dipakai Allah di Perjanjian Lama namun fokus kita
disini bahwa setelah dibaptis Yesus berpuasa di padang guru.
Injil Yohanes memberikan catatan penting bagaimana setelah
Yesus berpuasa selama empat puluh hari di padang gurun dan memulai
pelayananNya. Apa yang diceritakan dalam Yohanes 1 merupakan
bagian penting dari awal pelayanan Yesus setelah dia kembali dari
padang gurun dan mulai tampil di Galilea dan memilih murid-muridNya.
Itulah mengapa Yohanes pasal 2 mencatat mujizat pertama yang
dilakukan oleh Yesus dihadapan para muridNya. Kronologis ini sangat
penting karena jika tidak maka bagian Yohanes ini seakan bertentangan
dengan catatan injil lain seperti Markus 1:14-15; Lukas 4:1-15; dan
Matius 4:1-22.
Orang islam tidak memahami setiap konteks dalam kitab-kitab
injil sehingga memahami peristiwa ini seperti kontradiksi. Namun, fokus
Yohanes tentu berbeda dari Matius, Markus dan Lukas karena Yohanes
langsung menceritakan tentang pelayanan Tuhan Yesus. Hal inilah yang
membuat injil Yohanes memiliki keunikan dari injil yang lain karena
memberikan cerita yang lebih untuk memahami tentang siapa Yesus
dan apa yang dikerjakanNya di dunia.

100. apakah Yusuf membawa lari bayi Yesus ke Mesir (Matius 2:13-
23) atau ia membawanya ke rumah Tuhan di Yerusalem dan
kembali ke Galilea? (Lukas 2:21-40)
Matius 2:13-15 menyatakan bahwa karena ada ancaman dari
Herodes, maka Malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Yusuf dalam
mimpi untuk lari ke Mesir dan tinggal di sana. Hal ini dilakukan Tuhan
agar Yusuf, Maria dan Yesus tidak terancam nyawanya karena Herodes
sedang mencari bayi Yesus untuk dibunuh.
Catatan yang berbeda oleh Lukas yakni bahwa setelah Yesus
berumur 8 hari maka disunatkan dan diberi nama Yesus. Lukas tidak
mencatat secara mendetail setiap waktu mulai dari kelahiran Yesus
sampai pada setiap hari atau urutan waktunya karena bukan di situ
fokusnya. Dari apa yang dimengerti di sini, harus diberikan catatan
bahwa kehidupan Yesus yang disampaikan oleh para penulis adalah
sejauh mana telah ada dan kita tidak boleh menambahinya karena para
penulis memiliki maksud masing-masing. Tetapi dari apa yang dicatat
oleh Matius dan Lukas kita dapatkan informasi bahwa Yesus sebagai
seorang Ibrani pada hari ke depan di sunat untuk melaksanakan hukum
Allah yang telah diberikan kepada Abraham. Selain itu Lukas
memberikan informasi bahwa masa kecil Yesus diserahkan orangnya
kepada Allah di Bait Suci karena Dia adalah anak Sulung. Artinya bahwa
kedua pertanyaan dalam bagian ini dilalui oleh Yesus semuanya karena
Dia merupakan orang Yahudi.
Kesimpulan:
Sebelum menutup bagian ini, harus saya akui bahwa pertanyaan
dari nomor 90-100 dari setiap ayat yang ditanyakan Shabbir Ally hanya
ingin menyatakan bahwa ayat-ayat dalam Alkitab saling kontradiksi satu
dengan yang lain. Namun dari apa yang telah dijelas, ternyata Shabbir
Ally tidak membaca Alkitab secara keseluruhan tetapi sebagian saja
sehingga tidak dapat menemukan kesinambungan satu dengan yang
lain. Selain itu juga harus diakui bahwa untuk memahami Alkitab karya
Roh Kudus memberikan iluminasi sangat dibutuhkan, dan hal ini tidak
dimiliki oleh Shabbir Ally sehingga sangat wajar jika muncul berbagai
praduga tentang isi Alkitab.