Anda di halaman 1dari 6

TUGAS AUDITING 2

Sampling Audit Untuk Pengujian Pengendalian dan


Pengujian Substantif Atas Transaksi

Oleh :

Dina Ridhwana Aflaha 1610531015

Tengku Nazla N.H 1610531019

Nisa Multia 1610531021

Arfenia Iklimah D.C 1610531032

AKUNTANSI / EKONOMI
UNIVERSITAS ANDALAS
2019
A. SAMPEL REPRESENTATIF
Ketika memilih sampel dari populasi, auditor berusaha untuk memperoleh sampel yang
representatif. Sampel representatif merupakan sampel yang karakteristiknya hampir sama
dengan yang dimiliki oleh populasi. Akan tetapi dalam praktiknya, tidak selalu sampelnya
bersifat representatif. Auditor bisaa meningkatkan kemungkinan sampel yang representatif
dengan merancang proses sampling, pemilihan sampel, dan evaluasi hasil sampel. Resikonya
ada 2 dan keduanya bisa dikendalikan, yaitu :
Resiko non sampling adalah resiko bahwa pengujian audit tidak menemukan pengecualian
yang ada dalam sampel. Penyebab nya ada 2, yaitu kagagalan auditor untuk mengenali
pengecualian dan prosedur audit yang tidak sesuai atau tidak efektif.
Risiko sampling adalah risiko bahwa auditor mencapai kesimpulan yang salah karena
sampel populasi tidak representatif. Auditor ada 2 cara mengendalikan risiko sampling :
1. Menyesuaikan ukuran sample.
2. Menggunakan metode pemilihan item sampel yang tepat dari populasi.
B. METODE SAMPLING AUDIT : SAMPLING STATISTIK VS SAMPLING
NONSTATISTIK
Kategori tersebut serupa karena keduanya melibatkan tiga tahap :
1. Perencanaan sampel
2. Pemilihan sampel dan melakukan pengujian
3. Pengevaluasian hasil
Sampling statistik menerapkan aturan matematika, dengan mengukur risiko sampling dalam
merencanakan sampel(langkah 1 dan evaluasi hasil langkah 3).
Dalam sampling nonstatistik auditor tidak mengukur risiko sampling. Sebaliknya, memilih
item sampel yang diyakini informasinya bermanfaat, di situasi tertentu dalam mencapau
kesimpulan populasi atas dasar pertimbangan. Disebut juga sampel pertimbangan.
PEMILIHAN SAMPEL PROBABILISTIK VS NONPROBABILISTIK (LANGKAH 2)

Pada pemilihan sampel probabilistik, auditor memilih secara acak item-item, sehingga tiap
item populasi memiliki probabilitas yang sama untuk dimasukkan dalam sampel. Pemilihan
sampel nonprobabilistik, auditor memilih item sampel dengan menggunakan pertimbngan
profesional dan bukan metode probabilitas.

PENERAPAN SAMPLING STATISTIK DAN NON-STATISTIK DALAM PRAKTIK


SERTA METODE PEMILIHAN SAMPEL
Metode Pemilihan Sampel Nonprobabilistik :
1. Pemilihan sampel terarah
Berdasarkan kriterianya sendiri ketimbang pemilihan acak. Pendekatan yang digunakan
umunya pos yang paling mungkin salah saji, pos yang mengandung karakteristik populasi
terpilih, dan cakupan nilai uang yang besar
2. Pemilihan sampel blok
Auditor memilih pos pertama dalam satu blok, dan sisanya dipilih berurutan
3. Pemilihan sampel sembarangan
Pemilihan item tanpa bias yang disengaja auditor. Dalam hal ini, auditor memilih item
populasi tanpa pandang ukuran, sumber, dan karakteristik yang membedakan.
Metode Pemilihan Sampel Probabilistik :
1. Pemilihan sampel acak sederhana
Tiap kombinasi item populasi yang mungkin ada kesempatan yang sama untuk masuk
sampel. Seperti tabel angka acak dan angka acak yang dihasilkan komputer.
2. Pemilihan sampel sistematis
Auditor menghitung satu interval, kemudian memilih item-item buat sampel berdasarkan
ukuran interval itu.
3. pemilihan sampel probabilitas yang proporsional dengan ukuran sampel bertahap
Dalam banyak situasi audit, jauh lebih menguntungkan memilih sampel yang menekankan
item-item populasi dengan jumlah tercatat yang lebih besar. Ada 2 cara mendapat sampel
yang menekankan item populasi yg tercatat lebih besar :
-Ambil sampel yg probabilitas pemilihan tiap item individual bersifat proporsional dengan
jumlah tercatatnya
- Membagi populasi ke dalam subpopulasi, biasanya menurut ukuran dolar, ambik sampel
lebih besar dari subpopulasinya dengan ukuran yang lebih besar
C. SAMPLING UNTUK TINGKAT PENGECUALIAN
Auditor menggunakan sampling pada pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas
transaksi untuk mengestimasi persentase tingkat keterjadian (occurence rate) atau tingkat
pengecualian (exception rate) dalam populasi yang memiliki karakteristik. Auditor sangat
memperhatikan jenis pengecualian berikut dalam populasi data akuntansi :
1. Penyimpanan atau deviasi dari pengendalian yang ditetapkan klien.
2. Salah saji moneter dalam populasi data transaksi.
3. Salah saji moneter dalam populasi rincian saldo akun.
Dalam menggunakan sampling audit untuk menentukan tingkat pengecualian, auditor ingin
mengetahui seberapa besar tingkat pengecualian, dan bukan lebar interval keyakinannya.
Karena itu auditor berfokus pada batas estimasi interval, yang disebut tingkat pengecualian
atas yang dihitung (computed upper exception rate = CUER ) dalam pengujuan substantif
atas transaksi.
D. APLIKASI SAMPLING AUDIT NONSTATISTIK
Merencanakan sampel
1) Menyatakan tujuan pengujian audit.
2) Memutuskan apakah sampling audit dapat diterapkan.
3) Mendifinisikan atribut dan kondisi pengecualian.
4) Mendefinisikan populasi
5) Mendefinisikan unit sampling.
6) Menetapkan tingkat pengecualian yang dapat ditoleransi.
7) Menetapkan risiko yang dapat diterima atas penentuan risiko penilaian yang terlalu
rendah
8) Mengestimasi tingkat pengecualian populasi.
9) Menentukan ukuran sampel awal

Memilih sampel dan melaksanakan prosedur audit


10) Memilih sampel.
11) Melaksanakan proseur audit.
Mengevaluasi hasil
12) Menggenaralisasi dari sampel ke populasi.
13) Menganalisis pengecualian.
14) Memutuskan aksebtabilitas populasi.
E. SAMPLING AUDIT STATISTIK
Metode sampling statistik yang paling sering digunakan untuk pengujian pengendalian dan
pengujian substantif atas transaksi adalah sampling atribut (atribute sampling). Sampling
nonstatistik juga memiliki atribut, yang merupakan karakteristik yang sedang diuji dalam
populasi, tetapi sampling atribut merupakan metode statistik. Sampling atribut merupakan
metode sampling statistik yang paling sering digunakan untuk menguji pengendalian dan
pengujian substantif atas transaksi, dalam pengujian dan pengendalian hampir sama dengan
sampling nonstatistik, hanya saja perhitungan ukuran sampel awal menggunakan tabel
dikembangkan dari ditribusi probabilitas statistik.
F. DISTRIBUSI SAMPLING
Distribusi sampling merupakan ditribusi frekuensi dari semua sampel berukuran khusus yang
diperoleh dari beberapa populasi yang memiliki karakteristik tertentu. Dimana sampling
atribusi didasarkan pada distribusi binomial yang mana setiap sampel dalam populasi
memiliki satu dari dua nilai mungkin, seperti ya/tidak.
G. APLIKASI SAMPLING ATRIBUT
Kita telah membahas bahwa ke-14 langkah untuk sampling nonstatistik sama-sama dapat
diterapkan pada sampling atribut dan dalam bagian ini kita akan berfokus pada perbedaan di
antara keduanya.
Merencanakan sampel
1. Menyatakan tujuan pengujian audit. Sama untuk sampling atribut mam sampling
nonstatistik.
2. Memutuskan apakah sampling audit dapat diterapkan. Sama untuk sampling atribut
maupun sampling nonstatistik
3. Mendefinisikan atribut dan kondisi pengecualian. Sama untuk sampling atribut maupun
sampling nonstatistik.
4. Mendefinisikan populasi. Sama untuk sampling atribut maupun sampling nonstatistik
5. Mendefinisikan unit sampling. Sama untuk sampling atribut maupun sampling ncnstatistik.
6. Menetapkan tingkat pengecualian yang dapat ditoleransi (TER). Sama untuk sampling
atribut maupun sampling nonstatistik.
7. Menetapkan ARACR yang terlalu rendah. Konsep penetapan risiko ini sama baik untuk
sampling statistik maupun nonstatisik, tetapi biasanya metode kuantifikasinya berbeda. Untuk
sampling nonstatistik, sebagian besar auditor menggunakan risiko yang dapat diterima yang
rendah, sedang, atau tinggi, sementara auditor yang menggunakan sampling atribut
membebankan suatu jumlah tertentu, seperti risiko 10 persen atau 5 persen. Metodenya
berbeda karcna auditor harus mengevaluasi hasil secara statistik.
8. Mengestimasi tingkat pengecualian populasi. Sama untuk sampling atribut maupun
sampling nonstatistik.
9. Menentukan ukuran sampel awal. Ada empat faktor yang menentukan ukuran sampel awal
baik untuk sampling statistik maupun nonstatistik: ukuran populasi, TER, ARACR, dan
EPER. Dalam sampling atribut, auditor mcnentukan ukuran sampel dengan menggunakan
program [computer atau tabel yang dikembangkan dari rumus statistik].

Memilih Sampel dan Melaksanakan Prosedur Audit


10. Memilih sampel. Satu-satunya perbedaan dalam pemilihan sampel bagi sampling statistik
dan nonstatistik terletak pada persyaratan bahwa metode probabilistik hams digunakan untuk
sampling statistik. Baik sampling acak sederhana maupun sistematis akan digunakan pada
sampling atribut.
11. Melaksanakan prosedur audit. Sama untuk sampling atribut maupun sampling
nonstatistik.
KEBUTUHAN AKAN PERTIMBANGAN PROFESIONAL

Kritik yang biasanya dilontarkan pada sampling adalah bahwa hal tersebut mengurangi
penggunaan pertimbangan profesional oleh auditor. Perbandingan di 14 langkah yang dibahas
dalam bab ini untuk sampling nonstatistik dan atribut menunjukkan bahwa kritik tersebut
tidak terbukti. Agar aplikasinya tepat, sampling atribut mengharuskan auditor menggunakan
pertimbangan profesional di sebagian besar langkah tersebut. Ketika memilih ukuran sampel
awal, auditor sangat tergantung pada TER dan ARACR yang memerlukan tingkat
pertimbangan profesional yang tinggi, serta EPER, yang memerlukan estimasi yang cermat.
Demikian juga evaluasi akhir atas kelayakan aplikasi sampling atribut secara keseluruhan,
yang termasuk kelayakan ukuran sampel, juga harus didasarkan pada pertimbangan
profesional tingkat tinggi.