Anda di halaman 1dari 10

Teori Belajar

TEORI STIMULUS RESPON

Stimulus respon merupakan suatu prinsip belajar yang sederhana, dimana efek merupakan
reaksi terhadap stimulus tertentu. Dengan demikian dapat dipahami adanya antara kaitan pesan
pada media dan reaksi audien. Elemen utama dari stimulus respon antara lain:

1. Stimulus (pesan)
2. Penerima
3. Efek (respon)

Asumsi dasar yang dapat dilihat dari stimulus respon adalah segala bentuk pesan yang
disampaikan baik verbal dan non verbal dapat menimbulkan respons. Jika kualitas ransangan
stimulus yang diberikan baik akan sangat besar mempengaruhi respon yang ditimbulkan.
Individu dalam komunikasi tersebut mempengaruhi munculnya respon juga.Stimulus yang
disampaikan kepada komunikan dapat diterima atau ditolak

Contoh : apabila ada seseorang yang memanggil nama anda sambil melambaikan tangannya
pada anda , anda akan membalasnya dengan sapaan dan melambaikan tangan anda pada orang
tersebut

TEORI TRANSFORMASI

Istilah transformasi lebih merujuk pada realitas proses perubahan. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI), transformasi berarti perubahan bisa berupa bentuk, sifat, fungsidan
sebagainya
Transformasi merupakan proses perubahan yang memiliki ciri –ciri antara lain :
A. Adanya perbedaan merupakan aspek yang paling penting di dalam proses transformasi,
B. Adanya konsep ciri atau identitas yang menjadi acuan perbedaan di dalam suatu proses
transformasi. Kalau dikatakan suatu itu berbeda atau dengan kata lain telah terjadi proses
transformasi, maka harus jelas perbedaan dari hal apa, misal : ciri sosial apa, konsep
tertentu yang seperti apa (meliputi : pemikiran, ekonomi ataugagasan lainnya) atau ciri
penerapan dari sesuatu konsep.
C. Bersifat historis, proses transformasi selalu menggambarkan adanya perbedaan kondisi
secara historis (kondisi yang berbeda di waktu yang berbeda).
Sedangkan menurut ilmuan, Laseau, mengatakan bahwa trasnformasi adalah sebuah proses
perubahan secara berangsur-angsur sehingga sampai pada tahap ultimate, perubahan yang
dilakukan dengan cara memberi respon terhadap pengaruh unsur eksternal dan internal yang
akan mengarahkan perubahan dari bentuk yang sudah dikenal sebelumnya melalui proses
menggandakan secara berulang-ulang atau melipatgandakan. Lebih lanjut Laseau (1980)
memberikan kategori transformasi sebagai berikut:
A. Transformasi bersifat Tipologikal (geometri) bentuk geometri yang berubah dengan
komponen pembentuk dan fungsi ruang yang sama.
B. Transformasi bersifat gramatikal hiasan (ornamental) dilakukan dengan menggeser,
memutar, mencerminkan, menjungkirbalikkan, melipat dll.
C. Transformasi bersifat refersal (kebalikan) pembalikan citra pada figur objek yang akan
ditransformasi dimana citra objek dirubah menjadi citra sebaliknya.
D. Transformasi bersifat distortion (merancukan) kebebasan perancang dalam beraktifitas.48
Sebuah transformasi tidak terjadi begitu saja, tapi melalui sebuah proses. Menurut Habraken
(1976) menguraikan proses transformasi yaitu sebagai berikut:
A. Perubahan yang terjadi secara perlahan-lahan atau sedikit demi sedikit.
B. Tidak dapat diduga kapan dimulainya dan sampai kapan proses itu akan berakhir
tergantung dari faktor yang mempengaru
C. Komprehensif dan berkesinambungan
D. Perubahan yang terjadi mempunyai keterkaitan erat dengan emosional (sistem nilai) yang
ada dalam masyarakat.
Proses transformasi mengandung dimensi waktu dan perubahan sosial budaya masyarakat
yang menempati yang muncul melalui proses yang panjang yang selalu terkait dengan aktifitas-
aktifitas yang terjadi pada saat itu

Contoh : gaya pacaran saat ini seperti berdua-duan ditempat sepi , pegangan tangan , dan
bercumbu mesra hingga larut malam bahkan sampai berzina
TEORI GESTALT

Teori gestalt adalah kegiatan pembelajaran harus yang dilakukan dengan memberikan
materi pembelajaran yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini bertujuan untuk
memudahkan siswa menerima materi tersebut. Ketika mengkonstruksi konsep, siswa selayaknya
diberikan kesempatan untuk berdialog (berdiskusi) dengan teman-temannya maupun dengan
guru, bereksplorasi, dan diberikan kebebasan bereksperimen sehingga memudahkan siswa
tersebut dalam proses pembelajaran.

Contoh Teori Gestalt sebagai berikut :

A. Pengalaman tilikan (Insight), bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam
perilaku yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau
peristiwa.
B. Pembelajaran yang bermakna (Meaningful learning): kebermaknaan unsur-unsur yang
terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas
makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari.
C. Perilaku bertujuan (Purposive behavior): bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku
bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan
tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik
mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari
tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami
tujuannya.
D. Prinsip ruang hidup (Life Space): bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan
lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki
keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik

TEORI JEROME BRUNER


Proses Belajar Menurut Jerome Bruner Menurut Bruner, dalam proses belajar
dapat dibedakan tiga fase atau episode, yakni

1. Informasi,
2. Transformasi
3. Evaluasi (pengakjian dan pengetahuan)
Dalam tiap pelajaran kita peroleh sejumlah informasi ada yang menambah pengetahuan
yang telah kita miliki, ada yang memperhalus dan memperdalamnya, ada pula informasi
yang bertentangan dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya, misalnya bahwa tidak
ada energi yang lenyap.
Transformasi, informasi itu harus dianalisis diubah atau ditransformasi kedalam
bentuk yang lebih abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih
luas. Dalam hal ini bantuan guru sangat diperlukan. Evaluasi, kemudian kita nilai hingga
manakah pengetahuan yang kita peroleh dan transformasi itu bisa dimanfaatkan untuk
memahami gejala-gejala lain.
Dalam proses belajar, ketiga episode selalu ada. Yang menjadi masalah ialah
berapa banyak informasi yang diperlukan agar dapat ditransformasikan. Lama tiap
episode tidak selalu sama. Hal ini antara lain juga bergantung pada hasil yang diharapkan,
motivasi murid belajar, minat, keinginan untuk mengetahui dan dorongan untuk
menemukan sendiri. Teori belajar bruner dikenal dengan tiga tahapan belajarnya yang
terkenal, yaitu enaktif, ikonik dan simbolik. Pada dasarnya setiap individu pada waktu
mengalami atau mengenal peristiwa yang ada di dalam lingkungannya dapat menemukan
cara untuk menyatakan kembali peristiwa tersebut di dalam pikirannya, yaitu suatu model
mental tentang peristiwa yang dialaminya. Hal tersebut adalah proses belajar yang terbagi
menjadi tiga tahapan, yakni:
A. Tahap enaktif; dalam tahap ini peserta didik di dalam belajarnya menggunakan
atau memanipulasi obyek-obyek secara langsung
B. Tahap ikonik; pada tahap ini menyatakan bahwa kegiatan anak-anak mulai
menyangkut mental yang merupakan gambaran dari objek-objek. Dalam tahap ini, peserta
didik tidak memanipulasi langsung objek-objek, melainkan sudah dapat memanipulasi
dengan menggunakan gambaran dari objek. Pengetahuan disajikan oleh sekumpulan
gambar-gambar yang mewakili suatu konsep (Sugandi, 2004:37).
Tahap simbolik; tahap ini anak memanipulasi simbol-simbol secara langsung dan
tidak ada lagi kaitannya dengan objek-objek. Anak mencapai transisi dari pengguanan
penyajian ikonik ke penggunaan penyajian simbolik yang didasarkan pada sistem berpikir
abstrak dan lebih fleksibel. Dalam penyajian suatu pengetahuan akan dihubungkan
dengan sejumlah informasi yang dapat disimpan dalam pikiran dan diproses untuk
mencapai pemahaman. Bruner berpendapat bahwa pengajaran dapat dianggap sebagai
A. hakikat seseorang sebagai pengenal
B. hakekat dari pengetahuan,
C. hakekat dari proses mendapatkan pengetahuan.

Manusia sebagai makhluk yang paling mulia diantara makhluk-makhluk lain


memiliki dua kekuatan yakni akal pikirannya dan kemampuan berbahasa. Dengan dua
kemampuan tersebut maka manusia dapat mengembangkan kemampuan yang ada
padanya. Dorongan dan hasrat ingin mengenal dan mengetahui dunia dan lingkungan
alamnya menyebabkan manusia mempunyai kebudayaan dalam bentuk konsepsi,
gagasan, pengetahuan, maupun karya-karyanya. Kemampuan yang ada dalam dirinya
mendorongnya untuk mengekspresikan apa yang telah dimilikinya.
Kondisi dan karakteristik tersebut hendaknya melandasi atau dijadikan dasar
dalam mengembangkan proses pengajaran. Dengan demikian guru harus memandang
siswa sebagai individu yang aktif dan memiliki hasrat untuk mengetahui lingkungan dan
dunianya bukan semata- mata makhluk pasif menerima apa adanya.
Selanjutnya bruner berpendapat bahwa teori pengajaran harus mencakup lima
aspek utama yakni:

A. Pengalaman optimal untuk mempengaruhi siswa belajar


Bruner melihat bahwa ada semacam kebutuhan untuk mengubah praktek mengajar
sebagai proses mendapatkan pengetahuan untuk membentuk pola-pola pemikiran
manusia. Kefektifan belajar tidak hanya mempelajari bahan-bahan pengajaran
tetapi juga belajar berbagai cara bagaimana memperoleh informasi dan
memecahkan masalah. Oleh sebab itu diskusi, problem solving, seminar akan
memperkaya pengalaman siswa dan mempengaruhi cara belajar.
B. Struktur pengetahuan untuk membentuk pengetahuan yang optimal
Tujuan terakhir dari pengajaran berbagai mata pelajaran adalah pemahaman
terhadap struktur pengetahuan. Mengerti struktur pengetahuan adalah memahami
aspe-aspeknya dalam berbagai hal dengan penuh pengertian. Tugas guru adalah
member siswa pengertian tentang struktur pengetahuan dengan berbagai cara
sehingga mereka dapat membedakan informasi yang berarti dan yang tidak berarti.
C. Spesifikasi mengurutkan penyajian bahkan pelajaran untuk dipelajari siswa
Mengurutkan bahan pengajaran agar dapat dipelajari siswa hendaknya
mempertimbangkan criteria sebagi berikut; kecepatan belajar, daya tahan untuk
mengingat, transfer bahwa yang telah dipelajari kepada situasi baru, bentuk
penyajian mengekspresikan bahan-bahan yang telah dipelajari, apa yang telah
dipelajarinya mempunyai nilai ekonomis, apa yang telah dipelajari memilii
kemampuan untuk mengembangkan pengetahuan baru dan menyusun hipotesis.
D. Peranan sukses dan gagal serta hakekat ganjaran dan hukuman
Ada dua alternative yang mungkin dicapai siswa manakala dihadapkan dengan
tugas-tugas belajar yakni sukses dan gagal. Sedangkan dua alternative yang
digunakan untuk mendorong perbuatan belajar adalah ganjaran dan hukuman.
Ganjaran penggunaannya dikaitkan dengan keberhasilan (sukses) hukuman
dikaitkan dengan kegagalan.
E. Prosedur untuk merangsang berpikir siswa dalam lingkungn sekolah
Pengajaran hendaknya diarahkan kepada proses menarik kesimpulan dari data
yang dapat dipercaya ke dalam suatu hipotesis kemudian menguji hipotesis dengan
data lebih lanjut untuk kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan sehingga siswa
diajak dan diarahkan kepada pemecahan masalah. Ini berarti belajar pemecahan
masalah harus dikembangkan disekolah agar para siswa memiliki ketrampilan
bagaimana mereka belajar yang sebenarnya. Melaui metode pemecahan masalah
akan merangsang berpikir siswa dalam pengertian luas mencakup proses mencari
informasi, menggunakan informasi, memanfaatkan informasi untuk masalah
pemecahan lebih lanjut.
TEORI PIAGET

Piaget mengembangkan teori perkembangan kognitif yang cukup dominan selama


beberapa dekade. Dalam teorinya Piaget membahas pandangannya tentang bagaimana
anak belajar.
Menurut Jean Piaget, dasar dari belajar adalah aktivitas anak bila ia berinteraksi
dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. Pertumbuhan anak merupakan suatu
proses sosial. Anak tidak berinteraksi dengan lingkungan fisiknya sebagai suatu individu
terikat, tetapi sebagai bagian dari kelompok sosial. Akibatnya lingkungan sosialnya
berada diantara anak dengan lingkungan fisiknya.
Interaksi anak dengan orang lain memainkan peranan penting dalam
mengembangkan pandangannya terhadap alam. Melalui pertukaran ide-ide dengan orang
lain, seorang anak yang tadinya memiliki pandangan subyektif terhadap sesuatu yang
diamatinya akan berubah pandangannya menjadi obyektif. Aktivitas mental anak
terorganisasi dalam suatu struktur kegiatan mental yang disebut ”skema” atau pola
tingkah laku.
Dalam perkembangan intelektual ada tiga hal penting yang menjadi perhatian Piaget yaitu
struktur, isi dan fungsi
1. Struktur, Piaget memandang ada hubungan fungsional antara tindakan fisik,
tindakan mental dan perkembangan logis anak-anak. Tindakan (action) menuju pada
operasi-operasi dan operasi-operasi menuju pada perkembangan struktur-struktur.
2. Isi, merupakan pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respon yang
diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya.
3. Fungsi, adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektual.
Menurut Piaget perkembangan intelektual didasarkan pada dua fungsi
yaitu organisasi dan adaptasi.
1. Organisasi memberikan setiap organisme kemampuan untuk mengestimasikan atau
mengorganisasi proses-proses fisik atau psikologis menjadi sistem-sistem yang teratur
dan berhubungan.
2. Adaptasi, terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan
akomodasi.

Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi,


konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam
pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan
mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses
asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian
skemata melainkan perkembangan skemata. Asimilasi adalah salah satu proses individu
dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru pengertian
orang itu berkembang.
Akomodasi. Dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak
dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skema yang telah dipunyai.
Pengalaman yang baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah
ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi tejadi
untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau
memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu.
Bagi Piaget adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi.
Bila dalam proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap
lingkungannya maka terjadilah ketidakseimbangan (disequilibrium). Akibat
ketidakseimbangan itu maka terjadilah akomodasi dan struktur kognitif yang ada akan
mengalami perubahan atau munculnya struktur yang baru.
Pertumbuhan intelektual ini merupakan proses terus menerus tentang keadaan
ketidakseimbangan dan keadaan setimbang (disequilibrium–equilibrium). Tetapi bila
terjadi kesetimbangan maka individu akan berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada
sebelumnya.

1. Metode pembelajaran Tugas guru yang didasarkan pada teori Piaget meliputi 2 hal:
A. Mendiagnosa perkembangan siswa saat ini, dimana program yang dibuat
dirancang untuk meningkatkan perkembangan kognitif anak.
B. Menciptakan kegiatan belajar yang dapat menantang anak mencapai tahap
perkembangan berikutnya. Guru bertugas untuk menyediakan alatalat, perlengkapan
dan lingkungan yang menyenangkan anak untuk melakukan eksplorasi terhadap
obyek-obyek. Eksplorasi merupakan kesempatan bagi anak untuk memperoleh
pengalaman langsung dari lingkungan untuk membentuk skema baru dalam struktur
kognitifnya

TEORI ROBERT GAGNE

Robert M. Gagne adalah seorang ahli psikologi pendidikan . ia telah banyak


memperkenalkan berbagai pandangan tentang pembelajaran salah satunya adalah teori
pembelajaran yang didasarkan pada pemprosesan informasi . Dalam penelitiannya ia banyak
menggunakan materi matematika , sebagaai medium untuk menguji penerapan teorinya . Di
dalam teorinya Gagne juga mengemukakan suatu klasifikasi dari objek-objek yang dipelajari di
dalam matematika

Menurut Gagne belajar matematika terdiri dari objek langsung dan objek tak
langsung.objek tak langsung antara lain kemampuan menyelidiki, kemampuan memecahkan
masalah,ketekunan, ketelitian, disiplin diri, bersikap positif terhadap matematika. Sedangkan
objek taklangsung berupa fakta, keterampilan, konsep, dan prinsip.
Fakta adalah konvensi (kesepakatan) dalam matematika seperti simbol-
simbolmatematika. Fakta bahwa 2 adalah simbol untuk kata ”dua”, simbol untuk operasi
penjumlahanadalah ”+” dan sinus suatu nama yang diberikan untuk suatu fungsi trigonometri.
Fakta dipelajaridengan cara menghafal, latihan, dan permainan.
Keterampilan (Skill) adalah suatu prosedur atau aturan untuk mendapatkan
ataumemperoleh suatu hasil tertentu. Contohnya, keterampilan melakukan pembagian bilangan
yangcukup besar, menjumlahkan pecahan dan perkalian pecahan desimal. Para siswa dinyatakan
telahmemperoleh keterampilan jika ia telah dapat menggunakan prosedur atau aturan yang ada
dengancepat dan tepat. Keterampilan menunjukkan kemampuan memberikan jawaban dengan
cepat dan tepat.
A. Memberikan bimbingan kepada siswa
Seyogyanya guru harus membimbing siswa dalam proses belajarnya. Sehingga
siswa dapatterarah dalam pembelajarannya.
Contoh: dalam proses penghitungan/pemberian soal yang diberikan oleh guru, siswa satu
kelompok diminta untuk menghitungnya sembari guru menunjukkan jumlah
bilangantersebut.
B. Memancing Kinerja
Memantapkan apa yang dipelajari dengan memberikan latihan-latihan untuk
menerapkanapa yang telah dipelajari itu.
Contoh: guru memancing kinerja berupa mengajak berhitung siswa satu kelas tentang
hasil penghitungan yang dilakukan oleh kelompok lain.7.
C. Memberikan balikan
Memberikan feedback atau balikan dengan memberitahukan kepada murid apakah
hasil belajarnya benar atau tidak
Contoh: guru menanyakan kepada siswa sudah benar atau belum. Hal ini juga
semakinmemantapkan hasil penghitungan yang dilakukan oleh siswa.