Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PENDIDIKAN ANAK DI SD
HAKIKAT BIMBINGAN KONSELING DI SD

DISUSUN OLEH :

NAMA : DIMAS ANASTAGIATO (11308505190030)


NURRAMADIYANTI (11308505190119)
HASTA MUSAWIRNA (11308505190071)

KELOMPOK/MATERI : 11
DOSEN PENGAMPU : EVINNA CINDA HENDRIANA,S.PD,M.PD
PROGRAM STUDI : PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

SEMESTER/KELAS : 2/A02

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN


(STKIP) SINGKAWANG
TAHUN AKADEMIK

2020
KATA PENGANTAR

           Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat ,
karunia serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Hakikat Bimbingan Konseling di SD ini dengan baik. Tidak lupa juga kami mengucapkan
terima kasih pada Ibu Evinna Cinda Hendriana,S.Pd.,M.Pd selaku Dosen mata kuliah
Pendidikan Anak di SD, yang telah memberikan tugas ini kepada kami dan membimbing
kami dalam mengerjakan makalah ini. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna bagi
pembaca untuk menambah pengetahuan mengenai apa itu Hakikat Bimbingan Konseling di
SD. 
Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam makalah ini terdapat kekurangan
dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik , saran dan usulan
demi perbaikan makalah yang telah kami buat ini. Semoga makalah yang sederhana ini dapat
dipahami oleh para pembaca. Dan dapat berguna bagi kami sendiri dan juga para pembaca.
Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kata-kata yang kurang berkenan.

                                                                                           Sabtu, 11 April 2020

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................1
1. Latar Belakang Masalah.....................................................................................................1
2. Rumusan Masalah..............................................................................................................2
3. Tujuan.................................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................................3
1. Hakikat Bimbingan dan Konseling di SD..........................................................................3
2. Perlunya Bimbingan dan Konseling di SD.........................................................................3
3. Kriteria Masalah.................................................................................................................3
4. Jenis-Jenis Masalah Yang Sering Terjadi...........................................................................5
5. Peran Guru Kelas dalam Kegiatan BK di SD.....................................................................7
BAB III PENUTUP.................................................................................................................8
1. Kesimpulan.........................................................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................9

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Bimbingan Konseling adalah salah satu komonen penting dalam proses pendidikan
sebagai suatu sistem.Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional no.20 tahun 2003 pasal 3
dinyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional maka dirumuskan tujuan pendidikan dasar
yakni memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan kehidupannya
sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta
mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan menengah (pasal 3 PP nomor 28 tahun
1990 tentang Pendidikan Dasar).
Pendidikan dasar merupakan pondasi untuk pendidikan selanjutnya dan pendidikan
nasional. Untuk itu aset suatu bangsa tidak hanya terletak pada sumber daya alam yang
melimpah, tetapi terletak pada sumber daya alam yang berkualitas. Sumber daya alam yang
berkualitas adalah sumber daya manusia, maka diperlukan peningkatan sumber daya manusia
Indonesia sebagai kekayaan negara yang kekal dan sebagai investasi untuk mencapai
kemajuan bangsa.

1
2. Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud hakikat bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar?
2.      Mengapa perlunya bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar?
3.      Apa saja kriteria masalah yang ada di Sekolah Dasar?
4.      Apa saja jenis-jenis masalah yang sering terjadi?
5.      Bagaimana peran guru kelas dalam kegiatan BK di Sekolah Dasar?

3. Tujuan
1.      Untuk mengetahui hakikat bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar.
2.      Untuk mengetahui perlunya bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar.
3.      Untuk menjelaskan kriteria masalah yang ada di Sekolah Dasar.
4.      Untuk menjelaskan jenis-jenis masalah yang sering terjadi.
5.      Untuk mengetahui peran guru kelas dalam kegiatan BK di Sekolah Dasar.

2
BAB II
PEMBAHASAN

1. Hakikat Bimbingan dan Konseling di SD


Konseling adalah proses pemberian yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh
seorang ahli kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah yang bermuara pada
teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien.
Konseling merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada seseorang supaya dia
memperoleh konsep diri dan kepercayaan pada diri sendiri, untuk dimanfaatkan olehnya dan
memperbaiki tingkah lakunya pada masa yang akan dating.

2. Perlunya Bimbingan dan Konseling di SD


Jika ditinjau secara mendalam, setidaknya ada tiga hal utama yang melatar belangi
perlunya bimbingan yakni tinjauan secara umum, sosio kultural dan aspek psikologis. Secara
umum, latar belakang perlunya bimbingan berhubungan erat dengan pencapaian tujuan
pendidikan nasional, yaitu: meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yaitu
manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur,
berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan
terampil serta sehat jasmani dan rohani.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut sudah barang tentu perlu mengintegrasikan seluruh
komponen yang ada dalam pendidikan, salah satunya komponen bimbingan.
Bila dicermati dari sudut sosio kultural, yang melatar belakangi perlunya proses
bimbingan adalah adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat
sehingga berdampak disetiap dimensi kehidupan. Hal tersebut semakin diperparah dengan
laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, sementara laju lapangan pekerjaan relatif menetap.
Menurut Tim MKDK IKIP Semarang (1990:5-9) ada lima hal yang melatarbelakangi
perlunya layanan bimbingan di sekolah yakni:
(1)   Masalah perkembangan individu,
(2)   Masalah perbedaan individual,
(3)   Masalah kebutuhan individu,
(4)   Masalah penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku, dan
(5)   Masalah belajar
3. Kriteria Masalah
Pada dasarnya, masalah ditandai oleh adanya kesenjangan antara harapan dan
kenyataan. Namun, tidak semua masalah perlu ditangani melalui pendekatan konseling. Suatu

3
masalah perlu ditangani melalui konseling, bila memenuhi kriteria tertentu. Pada dasarnya,
masalah tersebut berasal dari suatu masalah yang cukup serius, cukup mengguncangkan
pribadi konseli, masalah tersebut senantiasa mencekam sehingga pikiran dan perasaan konseli
tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Bahkan berpengaruh terhadap perubahan
fisiologik tubuh. Disisi lain, masalah tersebut sudah berada diluar jangkauan konseli untuk
mereda, menghalau ataupun untuk menyelesaikannya sendiri. Sementara itu, bila masalah
tersebut tidak diatasi maka akan merugikan diri sendiri maupun pihak lain, terjadinya
hambatan perkembangan, penyimpangan sikap dan perilaku, salah perilaku dan inadekuat
lain.
Selanjutnya, secara sadar konseli butuh bantuan dari orang lain untuk menghadapi,
mengatasi, dan memecahkan masalahnya yang berada di luar kemampuannya. Jadi, masalah
tersebut perlu digarap dengan cara-cara khusus, cara-cara yang memadai. Dengan kata lain,
masalah tersebut diatasi dengan bantuan orang lain yang memiliki kompetensi atau keahlian
sesuai dengan karakteristik dan kadar permasalahanya perlu penanganan secara profesional.
Meski masalah tersebut cukup serius dan sifatnya spesifik, menimbulkan ketegangan,
kecemasan, ketakutan, frustasi ataupun konflik namun masalah tersebut masih dalam
jangkauan profesi bimbingan dan konseling, masih dalam kategori “normal”, belum termasuk
“abnormal”. Bila masalah konseli mencapai kadar yang sangat berat, neuosus, diluar
jangkauan konselor, maka perlu di “referal” kepada psikologis klinis. Terlebih-lebih bila
diagnosa masalah mengidentifikasi adanya simtoma abnormalitas atau psikosis, maka
merupakan kewenangan psikiater untuk menanganinya.
Berikut ini adalah kriteria masalah dalam konseling secara prinsip, antara lain:
1.      Masalah sebagai kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang tergolong serius,
sifatnya khas dan cukup mengguncangkan kehidupan secara sosial maupum pribadi dari
konseli. Masalah yang dihadapi oleh konseli itu mempengaruhi kehidupan pribadi
maupun sosial dari konselinya.
2.      Masalah yang cukup serius itu, selalu mengganggu pikiran dan perasaan, serta masalah
tersebut diluar jangkauan subjek untuk mangatasi atau menyelesaikan sendiri. Masalah
tersebut adalah suatu masalah dimana konseli sudah merasa tidak mampu untuk
menyelesaikan masalah tersebut dengan dirinya sendiri. Maka, disini konseli
membutuhkan bantuan dari konselor untuk membantu salam upaya pemecahan
masalahnya tersebut.
3.      Bila masalah tersebut tak terpecahkan ataupun tak terselesaikan, maka akan
mengakibatkan kerugian bagi subjek maupun pihak lain yang boleh jadi berdampak

4
memunculkan masalah baru. Jika suatu masalah yang dihadapi oleh konseli tidak segera
terpecahkan atau terselesaikan, maka masalah tersebut dapat memunculkan suatu
masalah yang baru dan akan mengganggu kehidupan dari konseli. Oleh sebab itu, suatu
masalah yang dihadapi oleh konseli harus secepatnya dapat terselesaikan dengan baik.
4.      Pada gilirannya, konseli butuh bantuan pertolongan untuk memecahkan masalahnya
secara memadai, sehingga dapat mengembangkan pribadi yang “balance”, produktif dan
sehat. Konseli akan selalu membutuhkan pertolongan bantuan dari seorang konselor
dalam upaya pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Setelah memperoleh  bantuan
dari konselor, maka diharapkan konseli mampu mengembangkan potensi yang
dimilikinya secara optimal, serta dapat hidup dengan seimbang, produktif, dan sehat.
5.      Dengan kata lain, masalah tersebut perlu ditangani secara profesional oleh figur yang
kompeten dan berwenang. Dalam menangani suatu permasalahan yang dihadapi oleh
konseli memang sudah seharusnya ditangani oleh orang yang profesional dan sudah ahli
dalam bidang bimbingan dan konseling. Jika dalam menangani suatu masalah itu tidak
ditangani oleh orang yang sudah profesional, maka akan menjadi ketakutan, apabila
pemecahannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh konseli atau tidak sesuai
dengan tugas perkembangan dari konseli yang bersangkutan.
6.      Akhirnya, masalah yang dimaksud berada dalam ruang lingkup kewenangan konselor
yaitu masalah-masalah melanda pada orang-orang normal. Seorang konselor hanya akan
membantu memecahkan masalah dari konseli yang masih dalam keadaan normal, atau
tidak sedang mengalami gangguan jiwa (abnormal). Jika konseli sudah berada dalam
suatu keadaan yang abnormal, maka hal itu sudah tidak menjadi kewenangan dari
seorang konselor. Dengan kata lain, masalah itu bisa dialih tangankan kasus ke orang
yang lebih ahli, misalnya seorang psikiater.
4. Jenis-Jenis Masalah Yang Sering Terjadi
Berikut ini ada beberapa masalah yang dialami oleh para remaja di sekolah menengah,
antara lain:
a. Masalah Emosi
Secara tradisional, masa remaja dianggap sebagai periode badai dan tekanan suatu masa
dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Emosi
remaja seringkali sangat kuat, tidak terkendali, dan kadang kurang tampak irasional. Hal ini
dapat dilihat dari gejala yang nampak pada mereka, misalnya mudah marah. Keadaan seperti
ini sering kali menimbulkan berbagai permasalahan khususnya dalam kaitannya dengan
penyesuaian diri di lingkungannya.

5
b. Masalah Penyesuaian Diri
Salah satu tugas yang paling sulit pada masa remaja adalah yang berhubungan dengan
penyesuaian sosial. Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis baik dengan sesama
remaja maupun dengan orang-orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah. Pada
fase ini remaja lebih banyak di luar rumah bersama dengan teman-temannya sebagai
kelompok, maka dapatlah dipahami jika pengaruh teman sebaya dalam segala pola perilaku,
sikap, minat, dan gaya hidupnya lebih besar daripada pengaruh dari keluarga. Perilaku remaja
sangat bergantung pada pola-pola perilaku kelompok. Yang menjadi masalah apabila mereka
salah dalam bergaul.
c. Masalah Perilaku Seksual
Tugas perkembangan yang harus dilakukan oleh remaja sehubungan dengan kematangan
seksualitasnya adalah pembentukan hubungan yang lebih matang dengan lawan jenis dan
belajar memerankan peran seks yang diakuinya. Pada masa ini, remaja sudah mulai tertarik
pada lawan jenis, mulai bersifat romantis, yang diikuti oleh keinginan yang kuat untuk
memperoleh dukungan dan perhatian dari lawan jenis. Sebagai akibatnya, remaja memiliki
minat yang tinggi terhadap seks.
d. Masalah Perilaku Sosial
Tanda-tanda masalah perilaku sosial pada remaja dapat dilihat dari adanya diskriminasi
terhadap mereka yang berlatar belakang ras, agama, atau sosial ekonomi yang berbeda.
Dengan perilaku-perilaku sosial seperti ini, maka akan dapat melahirkan geng-geng atau
kelompok-kelompok remaja, yang pembentukannya berdasarkan atas kesamaan latar
belakang, agama, suku, dan sosial ekonomi. Pembentukan kelompok atau geng pada remaja
tersebut dapat memicu terjadinya permusuhan antar kelompok atau geng.
e. Masalah Moral
Masalah moral yang terjadi pada remaja ditandai oleh adanya ketidakmampuan remaja
dalam membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hal tersebut dapat disebabkan
oleh ketidakkonsistenan dalam konsep benar dan salah yang ditemukan dalam kehidupan
sehari-hari. Misalnya antar sekolah, keluarga, ataupun dalam kelompok remaja.
Ketidakmampuan membedakan mana yang benar dengan mana yang salah dapat membawa
masalah bagi kehidupan remaja pada khususnya dan pada semua orang pada umumnya.
Untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah yang demikian, maka sekolah sebaiknya
menyelenggarakan berbagai kegiatan-kegiatan keagamaan dan meningkatkan budi pekerti.
Contoh dari masalah moral ini adalah mencontek saat ujian.

6
5. Peran Guru Kelas dalam Kegiatan BK di SD
Implementasi kegiatan BK dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi sangat
menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar. Oleh karena itu peranan guru kelas dalam
pelaksanaan kegiatan BK sangat penting dalam rangka mengefektifkan pencapaian tujuan
pembelajaran yang dirumuskan.
Sardiman (2001:142) menyatakan bahwa ada sembilan peran guru dalam kegiatan BK, yaitu:
a.       Informator, guru diharapkan sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium,
studi lapangan, dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum.
b.      Organisator, guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal pelajaran dan
lain-lain.
c.       Motivator, guru harus mampu merangsang dan memberikan dorongan serta
reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya
(aktivitas) dan daya cipta (kreativitas) sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses
belajar-mengajar
d.      Director, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai
dengan tujuan yang dicita-citakan.
e.       Inisiator, guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar-mengajar.
f.       Transmitter, guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan dalam pendidikan dan
pengetahuan.
g.      Fasilitator, guru akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar-
mengajar.
h.      Mediator, guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.
i.        Evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang
akademik maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak
didiknya berhasil atau tidak.

7
BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Bimbingan dan konseling yang melibatkan lembaga konseling, konselor dan konselee
ini, tentu tidak lepas dari pengaruh dinamisasi ruang dan waktu kehidupan yang senantiasa
menawarkan perubahan. Oleh karenanya, agar bimbingan dan konseling ini senantiasa efektif
dan berkembang lebih baik, maka ke tiga unsur yang ada dalam konseling tersebut harus
senantiasa ditinjau ulang, baik secara teori maupun praktik. Hal ini dimaksudkan untuk
meminimalisir kesalahpahaman pemaknaan yang tentu saja akan berdampak pada praktiknya.
Banyaknya problem yang terjadi dalam konseling, problematika konselor dan konselee
kebanyakan lahir dari ketidakpahaman yang mendalam tentang konseling. Oleh karena
itu, image ketiga unsure konseling harus benar-benar dibangun kembali menjadi lembaga
yang benar-benar nyaman untuk sharing yang solutif berbagai macam masalah yang dihadapi
peserta didik.
Ketiga unsur di atas bukanlah hal yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling terkait
antara satu dan yang lain. Maka, semuanya harus dipahami secara utuh agar pelaksanaanya
bisa optimal.

8
DAFTAR PUSTAKA
http://makalah-di.blogspot.com/2009/11/makalah-peran-guru-kelas-dalam.html
http://astipurwanti.blogspot.com/2013/03/masalah-dan-kriteria-masalah-dalam-bk.html
https://teraskita.wordpress.com/2009/03/30/problematika-bimbingan-dan-konseling/
Mugiarso, Heru. 2011. Bimbingan dan Konseling. Semarang: Pusat Pengembangan
MKU/MKDK-LP3 UNNES.
Supriyo dkk. 2003. Bimbingan dan Konseling. Semarang: Perc. Swadaya
Manunggal Semarang.