Anda di halaman 1dari 11

ASISTEN PROCESS DAN LABORATORIUM

Nama Jabatan           :  Assisten Process & Laboratorium.


Golongan                  :  H/G
Departemen/Divisi    :  Engineering/Operations.
Lokasi Kerja              :  Pabrik.
Atasan Langsung       :  Asisten Kepala.
Rekan Sederajat        :  Assisten Maintenance (Mechanical & Electrical)
Bawahan Langsung    :  Karyawan Process & Laboratorium
Hubungan Kerja        :  (selain dengan atasan langsung)
Kedalam:  Rekan Sederajat
Keluar:
URAIAN JABATAN

1. U m u m

Mengusahakan tercapainya sasaran pengolahan dengan memperhatikan mutu, efisiensi dan hasil
analisa laboratorium, hasil pengolahan air, pengolahan limbah serta biaya produksi.

1. Tugas-tugas Pokok

2.1    Perencanaan

1. Merencanakan jadwal pengolahan sesuai dengan estimasi buah yang akan diterima dari
kebun.
2. Merencanakan penggunaan jumlah tenaga kerja yang diperlukan dalam proses produksi.
3. Merencanakan ketersediaan sumber daya yang ada dengan memperhatikan :
4. Cadangan buah yang tersedia
5. Cadangan bahan baku Boiler (Fibre & Shell)
6. Cadangan bahan baku Diesel Genset (BBM Solar)
7. Kondisi kesiapan unit mesin pengolahan
8. Bahan-bahan penunjang lainnya ; tali manila, angkong, kain majun dan lain-lain.

2.2    Koordinasi
1. Melakukan koordinasi dengan bagian maintenance, agar mesin pengolahan selalu dalam
keadaan baik.
2. Melakukan koordinasi dengan pihak kebun dan Riset dalam hubungannya dengan
pemanfaatan limbah Pabrik.
3. Melakukan koordinasi dengan pihak kebun dan CCD-CQC dalam hal pemeriksaan mutu
buah di loading ramp.
4. Melakukan koordinasi dengan pihak kebun (bagian traksi) untuk mengatur penggunaan
alat berat dalam Pabrik.
5. Melakukan koordinasi dengan kepala unit-unit kerja (Mandor Pabrik) dalam hal
pengaturan jumlah tenaga kerja, start olah Pabrik dan hal-hal yang terkait lainnya.

2.3    Pelaksanaan

1. Melaksanakan program pengolahan Pabrik sesuai dengan ketentuan buku pedoman


Engineering dan petunjuk atasan.
2. Melaksanakan pemeriksaan mesin-mesin pengolahan Pabrik secara rutin dan teratur.
3. Melaksanakan seluruh petunjuk/instruksi atasan yang menyangkut aspek teknis dan non
teknis Pabrik.
4. Melaksanakan rapat kerja secara berkala dengan Mandor pengolahan.
5. Melaksanakan pembinaan karyawan pengolahan/laboratorium, baik melalui pengawasan
pekerjaan maupun pelatihan di tempat lokasi kerja atau ditempat latihan khusus.
6. Memberi instruksi-instruksi kepada bawahan agar pelaksanaan kerja sesuai dengan
program yang telah disusun.
7. Memeriksa persediaan suku cadang atau bahan pembantu guna kelancaran operasional
Pabrik.
8. Melaksanakan program keselamatan kerja, kebersihan lingkungan dan keamanan Pabrik
9. Melaksanakan proses produksi secara teratur, effisien, guna mencapai produktivitas dan
mutu yang tinggi.
10. Menyusun rencana anggaran pengolahan tahunan.
11. Menyusun laporan produksi harian dan bulanan.

2.4    Pengawasan

1. Mengawasi pekerjaan karyawan yang ada dibawah pengawasannya.


2. Mengawasi secara langsung pengoperasian mesin-mesin pengolahan.
3. Mengawasi kebersihan, keselamatan kerja dan keamanan di dalam lingkungan Pabrik.
4. Mengawasi  kerugian (losses) yang terjadi selama proses produksi, guna meningkatkan
effisiensi hasil pengolahan.
5. Mengawasi pengangkutan/pengiriman hasil produksi dari dalam Pabrik.
6. Mengawasi pelaksanaan pengangkutan janjang kosong produksi abu janjang dan solid
serta pengolahan air limbah.
7. Mengawasi kegiatan laboratorium Pabrik dengan memastikan bahwa pengambilan
sampling dilakukan secara teratur dan ketelitian didalam  pemeriksaan.
8. Mengawasi pemakaian sumber daya (tenaga kerja, bahan & alat) seoptimal mungkin.
9. Mengawasi limbah buangan pabrik dengan memastikan bahwa buangan tersebut dibawah
nilai ambang batas yang telah ditetapkan.
10. Mengawasi/mengendalikan faktor biaya (cost) yang menyangkut pengendalian :
11. Penggunaan alat dan bahan.
12. Lembur proses/laboratorium (Overtime).

2.5    Penyampaian

1. Menyampaikan laporan secara periodik mengenai keadaan Pabrik dan aspek lainnya
kepada atasan.
2. Menyampaikan segala hasil, kondisi, prestasi seluruh kegiatan dibawah pengawasannya
kepada atasan.
3. Menyampaikan petunjuk penggunaan/pengoperasian mesin-mesin pengolahan yang telah
disetujui atasan kepada bawahan.

2.6    Menerima

1. Menerima instruksi lisan maupun tulisan dari atasan.


2. Menerima informasi dari Departemen/Divisi lain yang dibutuhkan.

2.7    Mengusulkan

1. Mengusulkan perubahan sistem teknis karyawan dan aspek kerja sesuai dengan
perkembangan perubahan kemajuan teknis kepada atasan.
2. Mengusulkan sasaran dan perubahan target anggaran pengolahan.
3. Mengusulkan pelatihan, promosi, mutasi dan jumlah kompensasi untuk karyawan yang
berada dibawah pengawasannya.
2.8    Evaluasi

1. Mengevaluasi hasil produksi baik secara kualitas maupun kuantitas.


2. Kinerja karyawan yang berada di bawah pengawasannya.
3. Mengevaluasi biaya yang timbul selama pengolahan.

2.9    Menandatangani

1. Surat Perintah Kerja lembur bagi karyawan dibawah pengawasan.


2. Menandatangani catatan jam operasi alat berat.
3. Menandatangani bon permintaan barang.
4. Menandatangani laporan harian produksi.
5. Menandatangani surat teguran kepada bawahan langsung.

1. Tanggungjawab

Bertanggung jawab atas kelancaran proses produksi dengan memperhatikan semua sasaran, target
dan anggaran.
Bertanggungjawab atas ketepatan analisa produk yang dihasilkan oleh pabrik.

1. Wewenang

4.1    Memutuskan Sendiri


Mengatur pekerja bagian pengolahan & laboratorium
4.2    Memutuskan dengan persetujuan Atasan

1. Menghentikan mesin pengolahan bila terjadi kelainan untuk menghindari kerusakan.


2. Mengambil tindakan disipliner/PHK atas pelanggaran dari karyawan di bawah
pengawasannya.

1. Hubungan Antar Departemen

1. Membina kerjasama dengan bagian Maintenance di lingkungan pabrik, guna kelancaran


proses produksi dan mempertahankan mutu hasil produksi.
2. Melakukan pengawasan atas pelayanan Departemen lain.
3.
1. Kriteria Keberhasilan

1. Tercapainya kapasitas produksi


2. Kelancaran proses produksi
3. Menekan biaya pengolahan dengan mencapai target produksi optimal.
4. Terciptanya suasana kerja yang harmonis dan serasi.

Analisa Laboratorium Untuk Menentukan Kualitas Mutu CPO Pada Palm OIl  Mill
Posted on Juni 18, 2013 by ivanemmoy
Pendahuluan

analytical balance

Tujuan analisa ini adalah untuk menilai mutu minyak yang disimpan. Pengambilan contoh/sampel dilakukan setiap
hari, pada pagi hari dengan volume berkisar 200 ml.
Jenis analisa   :

1. Penentuan kandungan asam lemak bebas (FFA)


2. Penentuan kadar air dalam minyak (Moisture)
3. Penentuan kadar kotoran dalam minyak (Dirty)
4. Penentuan bilangan peroksida

Alat-alat     :

1. Timbangan elektronik cap. 200 gr


2. Water Bath
3. Piring kristal
4. Oven
5. Desikator
6. Kertas saring GF/B
7. Gooch crucible
8. Batang pengaduk
9. Pompa vacuum
10. Automatic burrete cap. 25 ml
11. Erlenmeyer
12. Pipet
13. Plat Pemanas (Hot Plate)

Bahan reaksi   :

 Hexane
 Larutan Penolphthalein AR (analitical reagent) 1%. Cara membuat : timbang 1 gram dari penolpthalein dan
campurkan dengan 100 ml ethanol.
 Sodium hydroxide AR 0,1 N lihat bagian lain-lain (seksi 7.4) mengenai standarisasi dari sodium hydroxide.
 Iso propil alkohol (IPA) yang telah dinetralkan lebih dahulu dengan menggunakan indikator pp dan larutan
NaOH.

Catatan    :
Pengambilan sampel dilakukan dengan mempergunakan alat pengambil sampel kapasitas 200 cc.
Satu sampel harus diambil dari bagian atas, satu dari tengah dan satu lagi dari dasar tangki (menyentuh plat).
A)   Penentuan Kandungan Asam Lemak Bebas (Free Fatty Acid) FFA.
Prosedur    :

1. Timbang 5 gram minyak sampai 0,0001 gram terdekat dalam tabung kerucut.
2. Ukur 50 ml IPA dan masukkan dalam gelas erlemeyer kapasitas 250 ml, tambahkan 4 tetes phenophtalein
dan digoyang hingga campur dengan baik.
3. Titrasi dengan 0,1 N Sodium hydroxide (NaOH) tetes demi tetes dengan buret sampai larutan menjadi
berwarna jingga yang lemah.
4. Pindahkan IPA yang telah dinetralisir kedalam erlemeyer yang berisi minyak.
5. Letakkan gelas erlemeyer dan isinya pada magnetic stirrer, biarkan campuran tersebut mendidih perlahan-
lahan. Sementara itu digoyang agar minyak pecah menjadi tetesan kecil-kecil.
6. Titrasi dengan larutan 0,1 N NaOH, goyang terus hingga timbul warna jingga yang tidak hilang selama 30
detik.

Kalkulasi    :
% FFA sebagai palmitic acid        = (25,6  x  t  x  N) / W
dimana :
t     =    Larutan NaOh dalam ml.
N   =    Normalitas Hydroxida
W   =    Berat minyak yang dipakai (gram)
B)   Penentuan Kadar Air (Moisture)
Pertama kali sebelum menganalisa harus diperhatikan suhu minyak tersebut ± 55 – 66 derajat dan sudah homogen
sebelum dilakukan sub sampling.
Prosedur    :

1. Keringkan piring kristal yang bersih dalam oven selama 15 menit pada 105ºC.
2. Biarkan menjadi dinginkan dalam desikator ± ½ jam
3. Timbang piring yang kering ini sampai 0,0001 gram terdekat. (W1)
4. Timbang sampel minyak kira-kira 20 gr ± 0,1 gr (W2)
5. Keringkan minyak dalam oven selama 6 jam pada temperatur 105ºC.
6. Dinginkan sampel tersebut didesikator selama ½ jam sebelum ditimbang kembali. (W3)

Kalkulasi    :
% Kadar air           =  ((W2  –  W1) – (W3-W1) / (W2  –  W1))  x  100
C)   Penentuan Kadar kotoran (Dirty)
Prosedur    :

1. Letakkan selembar kertas whatmant GF/B pada gooch crucible, cuci dengan hexana kira-kira 10 ml.
2. Keringkan pada 105ºC selama 30 menit
3. Dinginkan dalam desikator selama ½ jam dan timbang sampai 0,0001 gram terdekat. (W1)
4. Sebuah piring kristal yang telah dikeringkan dan dingin ditimbang sampai 0,0001 gram terdekat. (W2)
5. Ambil ± 20 gr sampel kedalam piring kristal. (W3)
6. Tambah 100 ml hexana dan aduk hingga homogen
7. Biarkan selama 5 menit sampai benda-benda yang tidak dapat larut mulai tenang.
8. Tuangkan cairan ini dengan hati-hati kedalam gooch crucible dengan dihisap oleh vacum pump.
9. Pergunakan hexana baru untuk memindahkan minyak dan benda yang tidak larut kedalam wadah gooch
dan cuci gelas erlemeyer tersebut hingga bersih sampai tidak ada minyak.
10. Bilamana semua pencucian telah selesai melewati filter, lepaskan vacuum.
11. Angkat wadah dan usap bagian luarnya dengan kertas tissue yang bersih.
12. Keringkan didalam oven pada 105ºC selama ½ jam.
13. Dinginkan dalam desikator selama ½ jam & timbang kembali wadah gooch dengan isinya sampai 0,0001
gram terdekat. (W4)

Kalkulasi    :
% Kotoran             = ((W4  –  W1) / (W3  –  W2)) x 100
Catatan     :     Hasilnya harus dinyatakan dalam 3 desimal.
D)   Penentuan Bilangan Peroksida (Volatile Matter)
Alat-alat     :
1.   Pipet berskala 2  x  1 ml.
2.   Labu bulat 150 atau 250 ml
3.   Gelas Ukur 100 ml
4.   Buret Automatis 25 ml pembagian 0,05 ml
5.   Neraca analitis, mampu menimbang sampai 0,1 mg
6.   Stop Watch, clock atau timer
Bahan-bahan   :

 Pelarut asam cuka : khloroform 3:2 (AR-grade)


 Larutan Kalium Iodida jenuh
 Natrium Tiosulfat standard N/500 atau N/100
 Indikator kanji

Persiapan  :
Sediakan larutan Kalium Iodida jenuh dengan menambahkan Kalium Iodida (AR) dengan 25 ml air suling yang
barusan dididihkan, sampai tidak ada lagi kristal Kalium Iodida yang melarut.
Indikator kanji baru dibuat, yaitu timbanglah ± 0,5 gram pasta kanji kedalam gelas piala 100 ml. Tambahkan 50 ml air
suling. Tempatkan gelas piala dan isinya diatas hot-plate, didihkan sambil diaduk. Kanji akan larut segera setelah
pendidihan yang singkat. Angkat dari hot-plate.
Prosedur    :

1. Tempatkan contoh minyak dalam oven yang suhu sekitar 45 – 50ºC sampai jernih seluruhnya.
2. Timbanglah dengan seksama 5 gr minyak kedalam labu.
3. Tambahkan 30 ml pelarut asam cuka-khloroform dan goyang-goyang hingga semua minyak tadi larut.
4. Tambahkan 0,5 ml larutan kalium iodida jenuh dengan mempergunakan pipet berskala dan goyang sampai
semua ikut tercampur. Diamkan larutan selama 1 menit ditempat gelap dan selama detik-detik ini labu dapat
digoyang-goyang, lalu setelah satu menit berlalu tambahkan 30 ml air suling.
5. Tambahkan 0,5 ml larutan kanji dan selanjutnya titrasi dengan larutan natrium tiosulfat, sambil titrasi sambil
digoyang. Titik akhir dari titrasi ialah saat warna biru kehitam-hitaman (dibentuk oleh complex kanji iodida)
hilang.

Kalkulasi    :
PV meq      = (t  x  N  x  1000) / B
dimana      :
t     =    Volume titrasi (ml)ml.
N   =    Normalitas dari Natrium Thiosulphate
B          =          Berat contoh minyak (gr)

KELISTRIKAN PABRIK KELAPA SAWIT


Posted on November 29, 2013 by ivanemmoy

Pendahuluan
Proses pengolahan kelapa sawit menjadi CPO melalui beberapa tahapan yang memerlukan konsumsi energi listrik.
Semakin besar kapasitas produksi, kompleksitas proses dan automation, konsumsi energi listrik yang di perlukan
semakin tinggi. Parameter umum konsumsi energi listrik  (power consumption) di pabrik pengolahan kelapa sawit
yakni sebesar 17-19 kWh/ton TBS.
Penggunaan konsumsi energi listrik yang tinggi otomatis mempengaruhi biaya operasional yang semakin tinggi. Bila
biaya operasional terhadap pemenuhan energi listrik yang tinggi lantas tidak diimbangi dengan peningkatan produksi
dan kapasitas pabrik, maka bakal menimbulkan kerugian yang besar. Olehkarenanya  perlu dilakukan upaya guna
mengindentifikasi penyebab tingginya penggunaan energi listrik di PKS. Dampak dari nilai konsumsi listrik yang
diatas standar bisa mengindikasikan adanya pemborosan energi atau penggunaan beban yang besar, tetapi perlu
pula ditinjau terlebih dahulu dari pembebanan yang ada, selain itu konsumsi listrik yang tinggi bisa menyebabkan
tingginya biaya operasional jika penyumbang energi listrik banyak ditanggung dari Generator.
Power Plant
Idealnya pabrik kelapa sawit mampu mandiri memenuhi kebutuhan energinya. Limbah serabut (fiber) dan cangkang
(shell) sawit digunakan untuk bahan bakar boiler sebagai penghasil uap yang digunakan untuk penggerak turbin
pembangkit tenaga listrik juga sumber uap untuk proses perebusan dan pengolahan.

Gambar 1. Diesel Engine Generator (Genset)


Sumber energi yang terpasang pada parik kelapa sawit kapasitas 30 ton per jam ditunjukkan Gamabr 1 terdiri dari 2
(dua) buah genset 400 kW, 1 (satu) buah genset 200 kW dan 1 (satu) buah steam turbine generator 1200 kW yang
dapat beroperasi secara bergantian maupun bersama-sama. Genset dengan kapasitas 200 kW dioperasikan untuk
mensuplay kebutuhan domestik dan penerangan ketika pabrik dalam kondisi belum aktif dan turbine belum bisa
bekerja. Genset dengan kapasitas 2 x 400 kW dioperasikan untuk penyalaan dan proses pertama pabrik hingga
pabrik menghasilkan fiber dan shell untuk bahan bakar boiler dan boiler mampu menghasilkan steam dengan
kapasitas yang diharapkan untuk menggerakkan steam turbine hingga menghasilkan energi listrik secara continue.

Gambar 2. Steam Turbine Generator


Gambar 2 menunjukkan Turbine yang terpasang pada Pabrik Kelapa Sawit (Palm Oil Mill). Turbine dapat beroperasi
normal jika tekanan steam berkisar 18 – 21 bar. Jika tekanan kerja boiler menunjukkan tren penurunan hingga 15 bar
maka turbine tidak mampu di bebani untuk proses pabrik dan akan terjadi trib sehingga untuk menjaga proses tidak
berhenti secara mendadak, maka operator engine room segera mengaktifkan genset 400 kw untuk di sinkron dengan
turbine.
Jika keadaan ini sering terjadi konsekuensinya adalah naiknya biaya operasional akibat pemakaian solar dan
menambah kecapekan operator boilller karena harus segera menyekrop bahan bakar ke dalam tungku boiler untuk
meningkatkan panas pembakaran dan meningkatkan kembali tekanan steam yang seharusnya cukup di supplay dari
fuel feedeng konveyor.
Distribution System
System distribusi tenaga listrik pada pabrik kelapa sawit digambarkan secara sederhana dengan mengirimkan
sumber power yaitu genset dan turbine pada Main Switchboard. Main Switchboard ini terhubung menjadi satu
dengan Main Distribution Board yang dilengkapi dengan pengaman berupa OCR, UVR, EFR, RPR dan peralatan
sinkron dan switching dan juga capasitor bank untuk perbaikan factor daya. Kemudian melalui Main Distribution
Board (MDB) akan di distribusikan menuju Motor Control Centre (MCC) dan Sub Distribution Board (SDB) pada
masing-masing Station proses untuk kemudian mensuplay listrik pada beban berupa gear motor, pompa, fan. untuk
beban penerangan, Office dan domestic akan di supplay dari Sub Distribution Board (SDB). Untuk beban yang
letaknya jauh dari sumber yaitu Raw Water Pump dan Effluent Treatment Plant, drop voltage tegangan lebih dari 5 %
maka dipasang trafo Step-Up dan Step-Down untuk perbaikan tegangan.
Distribution System Diagram

Power Consumption
Untuk mengetahui karakteristik dan pemakaian beban listrik dapat dibaca dengan alat ukur yang terpasang dipanel
kamar mesin berupa kW-meter dan amperemeter. Sedangkan energi listrik yang terpakai terukur melalui kWh-meter
yang terdapat dipanel masing-masing pembangkit. Beban bakal mengalami fluktuasi dan menyesuaikan kebutuhan
daya terhadap mesin atau listrik yang digunakan masing-masing unit. Penggunaan daya listrik untuk proses
pengolahan lebih dominan sebesar 77,62 %. Beban domestik menempati urutan kedua mencapai 16,75 %.
Sedangkan beban lain berupa head office, kantor PKS, Workshop KB,  dan penerangan jalan memiliki nilai yang kecil
berkisar 0,5-3%. Sehingga penggunaan untuk beban ini tidak terlalu berpengaruh besar terhadap daya yang
ditanggung terhadap pembangkit.
No. STATION Terpasang Beroperasi Demand
Factor
Df (%)
Power In I Terukur Power

kW A A kW

1. Reception & 147 279 175 92  63


Sterilizer

2. Threshing 149 283 88 46  31


3. Pressing 240 456 200 105  44
4. Clarification 171 325 30 16  9
5. Oil Storage 23 44 12 6  27
6. Depericarper & 281 534 280 147  52
Kernel

7. Boiler Control 230 437 320 168  73


8. WTP 193 367 63 33  17
9. Boiler Demint 76 144 20 11  14
10. Effluent Treatment 60 114 45 24  31
11. Factory Lighting 75 142 50 26  35
12. Domestic Lighting 50 95 40 21  42
Total 1695 705  42
Tabel 1. Power Consumtion for Palm Oil Mill Capacity 30 Ton FFB/Hour [1]
Beban listrik untuk domestik cukup besar dalam menyumbang penggunaan daya listrik. Penggunaan daya listrik dari
beban domestik ini ditanggung oleh PKS sehingga perhitungan konsumsi energi listrik terhadap kWh/ton TBS juga
akan terpengaruh.
No. STATION Terpasang Beroperasi Demand
Factor
Df
Power In I Terukur Power

kW A A kW

1. Reception & 198 376 25 13 7


Sterilizer

2. Threshing 121 229 95 50 42


3. Pressing Line 1 293 556 130 68 23
4. Preassing Line 2 293 556 140 74 25
5. Clarification 143 270 200 105 74
6. Oil Storage 33 63 12 6 19
7. Kernel Line 1 239 455 300 158 66
8. Kernel Line 2 240 456 225 118 49
9. Boiler Control 330 627 300 158 48
10. WTP 120 227 125 66 55
11. Boiler Demint 170 323 55 29 17
12. Effluent Treatment 66 125 40 21 32
13. Factory Lighting 75 142 50 26 35
14. Domestic Lighting 40 76 40 21 53
Total 2360 915 39
Tabel 2. Power Consumtion for Palm Oil Mill Capacity 60 Ton FFB/Hour Two (2) Line [2].
Kondisi pabrik, dalam keadaan mengolah dengan menggunakan operasional 2 line. Berdasarkan pengamatan yang
dilakukan untuk beban Head Office, Workshop Kantor Besar, Office DB (PKS), Oil storage, Workshop DB (PKS),
daya tidak secara terus menerus terhadap beban yang digunakan selama proses pengolahan berlangsung. Pada
kondisi aktual untuk beban domestik, tingginya penggunaan listrik tercatat rata-rata pada pukul 17.30-21.00. Ini
terjadi lantaran waktu tersebut adalah waktu istirahat dan kebanyakan masyarakat cenderung menggunakan listrik
guna menyalakan lampu rumah, menonton televisi atau perangkat lain yang membutuhkan listrik. Sedangkan untuk
proses pengolahan di pabrik kondisi operasional tetap  stabil. Adapun perbedaan daya listrik  di pabrik digunakan
untuk beban lampu penerangan. Pengaman  pada panel domestik digunakan untuk memenuhi beban seluruh
domestik. Saat satu jalur distribusi listrik dilakukan terhadap kantor dan perumahan, otomatis  panel domestik tidak
boleh dimatikan.
Asumsi untuk beban domestik jika kebutuhan daya listrik untuk kantor tetap, sedangkan untuk beban perumahan
dimatikan maka memberikan pengaruh terhadap konsumsi aktual. Asumsi ini tidak terikat terhadap penerapan waktu
jika listrik perumahan dimatikan karena penggunaan listrik di PKS untuk domestik selama 24 jam. Dan asumsi ini
bisa diterapkan jika hanya jalur distribusi listrik atau pengaman untuk perumahan dan kantor dipisahkan.
Referensi.
[1] I, Susanto, 2012. Maintenance Data Record (MDR) Proyek Pembangunan Pabrik Minyak Kelapa Sawit 30 TPH
ext 60 TPH Sangatta – Kutai Timur, Boma Bisma Indra, Surabaya.
[2] I, Susanto, 2013. Maintenance Data Record (MDR) Proyek Pembangunan Pabrik Minyak Kelapa Sawit 2×30 TPH
(60 TPH) Pangkalan Bun – Kalimantan Tengah, Boma Bisma Indra, Surabaya.