Anda di halaman 1dari 32

UJI EFEKTIFITAS SEDIAAN ANTISEPTIK ALAMI DARI

EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifhera L.)

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

OLEH

CANDRA ISKANDAR
1748402012

PROGRAM STUDI DIII ANALIS FARMASI DAN MAKANAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ABDURRAB
PEKANBARU
2019

1
Proposal Karya Tulis Ilmiah Dengan Judul

UJI EFEKTIFITAS SEDIAAN GEL EKSTRAK ETANOL


DAUN KELOR (Moringa oleifhera L.) SEBAGAI
SEDIAAN ANTISEPTIK

Diseminarkan
Oleh

CANDRA ISKANDAR
1748402012

Proposal Karya Tulis Ilmiah Ini Akan Diseminarkan di Hadapan Para Penguji
Seminar Program Studi D III Anafarma Universitas Abdurrab

Disetujui Oleh
Dosen Pembimbing Karya Tulis Ilmiah

Pembimbing I Pembimbing II

(Asiska Permata Dewi, M.Farm., Apt) (Isna Wardaniati, M.Farm.,Apt)

2
KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah

meberikan rahmad serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

Proposal karya tulis ilmiah ini yang berjudul “Uji Efektifitas Sediaan Gel Ekstrak

Etanol Daun Kelor (Moringa oleifhera L.) Sebagai Sediaan Antiseptik”.

ProposalKarya tulis ilmiah ini merupakan salah satu persyaratan untuk

menyelesaikan Program Studi Diploma III Analis Farmasi dan Makanan di

Universitas Abdurrab.Dalam proses penulisan Proposalkarya tulis ilmiah ini,

penulis telah banyak mendapat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, baik

berupa materi, moril, informasi maupun dari segi administrasi. Oleh karena itu,

penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Ibu Asiska Permata Dewi, M. Farm, Apt. Selaku pembimbing I yang telah

banyak memberikan masukan dan kritikan sehingga Proposalkarya tulis

ilmiah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

2. Ibu Isna wardaniati, M. Farm, Apt. Selaku pembimbing II yang telah banyak

memberikan masukan dan kritikan sehingga Proposalkarya tulis ilmiah ini

dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

3. Karyawan dan Staf Dosen Analis Farmasi dan Makanan Universitas

Abdurrab Pekanbaru.

4. Ayah dan ibunda tercinta, dan adik-adikku yang tersayang, atas segala do’a

dan bantuannya, baik moril maupun materi demi keberhasilan penulis.

iii
5. Teman-teman seperjuangan yang memberikan masukan dan dorongan selama

proses penulisan Proposalkarya tulis ilmiah.

Semoga allah SWT memberikan pahala yang sebesar-besarnya atas segala

bantuan yang telah diberikan. Penulis menyadari bahan Proposal karya tulis

ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan walaupun demikian penulis

mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan

karya tulis ilmiah ini. Semoga Proposalkarya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat

bagi kita semua.

Pekanbaru, November 2019

penulis

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
LEMBAR PERSETUJUAN
KATA PENGANTAR ............................................................................. iii
DAFTAR ISI ............................................................................................ v
DAFTAR TABEL ................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................... viii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ....................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................. 2
1.3 Tujuan Penelitian.................................................................... 3
1.4 Manfaat Penelitian.................................................................. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................. 4
2.1 Daun Kelor (Morinaga oeifera L.) ......................................... 4
2.1.1 Klasifikasi Daun Kelor ................................................ 5
2.1.2 Morfologi ..................................................................... 5
2.1.3 Kandungan Kimia dan Manfaat Daun Kelor ............... 7
2.2 Antiseptik ............................................................................... 8
2.3 Simplisia ................................................................................ 9
2.4 Ekstraksi ................................................................................. 10
2.5 Maserasi ................................................................................ 11
2.6 Sterilisasi ................................................................................ 12
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ............................................. 13
3.1 Desain Penelitian ................................................................... 13
3.2 Sampel .................................................................................... 13
3.3 Tempat dan Waktu Penelitian ................................................ 13
3.4 Alat dan Bahan ...................................................................... 13
3.4.1 Alat................................................................................ 13
3.4.2 Bahan ............................................................................ 14
3.5 Prosedur Kerja ........................................................................ 14

v
3.5.1 Ekstrak Bahan (daun kelor ........................................... 14
3.5.2 Sterilisasi Alat ............................................................... 14
3.5.3 Antiseptik Tangan ......................................................... 14
3.5.4 Desinfektan Tempat Kerja ............................................ 15
3.5.5 Pembuatan Gel Antiseptik ............................................ 15
3.5.6 Pembuatan Media Nutrient Agar (NA) ........................ 16
3.5.7 Evaluasi Fisik Sediaan ................................................. 16
3.5.8 Pengujian Antiseptik ..................................................... 18
3.6 Analisis Data.. ........................................................................ 19
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 20
LAMPIRAN ............................................................................................ 21

vi
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel I.Pembuatan Gel Antiseptik ............................................................. 16

vii
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Daun Kelor ......................................................................................... 5

viii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia sangat kaya dengan berbagai spesies flora, yang telah di

manfaatkan sebagai obat herbal oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad

yang lalu. Indonesia sudah mulai membudidayakan lebih dari 940 jenis

spesies dari flora sebagai tanaman obat. Pengembangan produksi tanaman

obat semakin pesat, dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat tentang manfaat

tanaman obat (Dhalimartha, 1999). Masyarakat semakin sadar akan

pentingnya obat-obat alami karena efek samping relatif lebih rendah

dibanding obat kimia (Djauhariya, 2004).

Salah satu tanaman obat yang banyak dimanfaatkan adalah daun kelor

(Moringa oleifera L.). Daun kelor memiliki manfaat sebagai antimikroba,

antibakteri, anti inflamasi (anti radang), infeksi virus, cacingan, gangguan

hati, dan lainnya (Wiguna, 2018). Daun kelor mengandung vitamin A,B dan

C, kalsium, kalium, besi, dan protein dalam jumlah yang sangat tinggi yang

mudah dicerna dan diasimilasi oleh tubuh manusia.Daun kelor juga

mengandung senyawa polifenol yang terdiri dari nonflavonoid dan

flavonoid (Wiguna, 2018). Selain itu daun kelor mengandung fenol,

flavonoid, tanin, saponin, alkaloid dan triterpenoid (Rizkia, 2014).

Menurut Retno didalam jurnal Stany Titaley menytakan bahwa

dengan manfaat yang dimiliki oleh daun kelor sebagai antimikroba. Maka

1
dapat dimanfaatkan untuk sediaan farmasi, salah satunya adalah sebagai

antiseptik. Antiseptik adalah zat yang digunakan untuk menghambat

pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme yang hidup dipermukaan

tubuh. Antiseptik digunakan untuk membunuh mikroba pothogen yang

terdapat pada jarngan tubuh untuk mencegah terjadinya sepsis atau infeksi

(Entjang, 2003). Keunggulan antiseptik dibanding sediaan lain adalah lebih

praktis, lebih sederhana dan dapat digunakan tanpa menggunakan air (Brian,

2019).

Penelitian yang dilakukan oleh Elza Safitri at al (2018) menyatakan

bahwa ekstrak etanol daun kelor mampu menghambat pertumbuhan bakteri

Staphylococcus aureus pada konsentrasi 20%, dan 40% dan kategori kuat

pada konsentrasi 60% dan 80%. Selain itu, penelitian yang dilakukan Dima

at al (2016) menyatakan bahwa ekstrak daun kelor memiliki aktivitas

antibakteri pada konsentrasi minimum 5% terhadap E.coli sebesar 13 mm

dan terhap Staphylococcus aureus sebesar 12 mm.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis melakukan penelitian

tentang uji efektifitas ektrak daun kelor sebagai sediaan antiseptik.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas penulis merumuskan masalah

apakah sediaan antiseptik dari ekstrak kelor mampu menghambat

pertumbuhan bakteri pada konsentrasi 5%, 10% dan 15%.

2
1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sediaan antiseptik daun kelor

mampu mengahambat pertumbuhan bakteri.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat ilmiah adalah untuk menambah pengetahuan dalam suatu

penelitian khususnya dalam bidang penelitian mikrobiologi dan sebagai

bahan acuan bagi penelitian selanjutnya. Manfaat praktis untuk

memberikan informasi kepada masyarakat dan pembaca tentang khasiat

daun kelor sebagai antiseptik.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Daun Kelor (Moringa oleifera L.)

Kelor moringa oleifera adalah tanaman berumur panjang dengan

tinggi tanaman bisa mencapai 7 sampai 12 meter. Kelor memiliki batang

berkayub yang tegak dengan warna kayu putih kusam, berkulit tipis, dan

permukaan kulit kayu yang kasar. Kelor memiliki percabangan simpodial,

yaitu percabangan tumbuhan dimana batang pokok dengan percabangannya

sulit dibedakan atau ditentukan.

Moringa dapat tumbuh baik didaerah dataran rendah hingga dataran

tinggi berketinggian 1.000 meter diatas permukaan laut (m dpl). Masyarakat

biasanya menanam kelor sebagai tapal batas atau pagar di hadapan rumah

atau ladang. Kelor tergolong tanaman yang mamapu beradaptasi di berbagai

lingkungan. Oleh sebab itu kelor mudah tumbuh didaerah yang berkondisi

ekstrim seperti temperatus yang sangat tinggi dibawah naungan, bahkan

didaerah bersalju, kelor juga mampu hidup dimusim kering panjang atau

didaerah bercurah hujan tahunan 250- 1.500 mm.

Kelor merupakan tanaman asli kaki bukit Himalaya, Asia Selatan, dari

timur laut Pakistan, sebelah utara Bengala Barat di India dan timur laun

Bangladesh. Disana kelor ditemukan hingga ketinggian 1.400 m dari atas

permukaan laut, bertanah eluvia baru, atau di dekat aliran sungai. Kini kelor

dibudidayakan dan mampu beradaptasi dengan baik meski jauh dari daerah

asalnya (Wiguna, 2018: 17-18).

4
2.1.2 Klasifikasi Daun Kelor

Menurut klarifikasi Wiguna (2018), daun kelor dapat diklarifikasi

sebagai berikut:

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Treachecobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : spermatophyta (menghhasilkan biji)

Devisi : magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : magnoliopsida (berkeping dua/ dikotil)

Sub kelas : Dilleniidae

Ordo : Capparales

Famili : Maringaccae

Genus : Maringa

Speises : Maringa oleifera lam

Gambar 1 Daun Kelor

2.1.1 Marfologi

Daun kelor berupa daun majemuk, bertangkai panjang dengan

susunan daun berseling (alternate) helai daun kelor saat muda berwarna

5
hijau muda, makin dewasa warna hijau semakin tua. Bentuk helai daun

berbentuk menyerupai bulat telur dengan panjang 1-2 cm dan lebar sampai

2 cm. Ujung dan pangkal daun tumpul (obetusus dan bettepi rata) tulang

daun kelor tersusun menyirin (pinnate).

Batang daun kelor bia mncapai 7-12 meter. Batang kelor termasuk

jenis batang berkayu sehingga batangnya keras dan kuat. Jika dipotong

melintang, batang moribnga berbentuk bulat dengan permukaan batang

berkulit kasar. Arah tumbuh batang cenderung tegak lulus keatas (erectus).

Namun percabangan batang kelor tergolong bercabangan simpodial.

Bunga kelor biasanya muncul diketiak daun (axillaris). Bertangklai

panjang dengan lima mahkota berwarna putih agak crem dan kelopak

berwarna hijau. Mahkota mengelilingi lima tangkai benang sari dan lima

staminolia. Bunga beraroma khas. Oleh sebab itu berbunga tercium aroma

semerbak. Mulai bunga terkulai dengan panjang mulai panjang berkisar

10-15 cm. Kelor berbunga sepanjang tahun.

Akar kelor berupa akal tunggang berwarna putih dengan bagian kayu

berwarna coklat muda. Akar yang berasal dari biji berkembang menjadi

bonggol dan membengkak sehingga membentuk menyerupai umbi. Akar

kelor memiliki bau tajam yang khas dan berasa pedas saat ditumbuk.

Jaringan akar berwarna kuning pucat, bergaris halus terang dan melintang.

Buah kelor mulai btumbuh pada umur 12-18 tahun. Buah kelor

berupa polong dengan panjang 20-60 cm jika dipotong melintang buah

kelor berbentuk segi tiga. Buah kelor mudah berwarna hijau. Masyarakat

6
beberapa daerah biasanya mengosuymsi buah muda sebagai bsayuran,

ketika tua warna buah berubah menjadi coklat kehitaman dasn mengering.

Saat kering polong pecah dan membuka menjadi tiga bagian.

Biji kelor berbentuk bulat dengan kulit biji berwarna kecoklatan. Biji

kelor memiliki tiga sayap putih yang mengelilingi biji. Setiap pohon dapat

menghasilkan antara 15.000 – 25.000 biji pertahun. Bobot rata-rata biji

kelor 0,3 gram (Wiguna, 2018: 19-21).

2.1.2 Kandungan Kimia dan Manfaat Daun Kelor

Daun kelor (Moringa oleifera) mengandung beberapa senyawa kimia

dalam bentuk metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, alkaloid

dan triterpenoid, senyawa polifenol dan memiiki antioksidan (Kurniawan,

2015). Daun kelor memiliki banyak manfaat diantaraya sebagai

antimikroba, antibakteri, antiinflamasi, infeksi, Virus Ebstein Barr (EBV),

HIV/AIDS, cacingan, bronchitis, gangguan hati, anti tumor, demam,

kangker prostat, kanker kulit, anemia, diabetes, tiroid, gangguan sarat, kolik

di saluran pencernaan, rematik sakit kepala, antioksidan, sumber nutrisi

(protein dan mineral) (Wiguna, 2018: 71).

Secara tradisonal daun kelor dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai

pengobatan untuk penyakit kulit, gangguan pernafasan, infeksi telinga dan

infeksi mulut, hipertensi diabetes dan anemia (Gaffar, 2018).

7
2.2 Antiseptik

Menurut Retno didalam jurnal Stany Titaley menytakan bahwa

antiseptik merupakan zat yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan

atau membunuh mikroorganisme yang hidup dipermukaan tubuh.Antiseptik

digunakan untuk membunuh mikroba pothogen yang terdapat pada jaringan

tubuh untuk mencegah terjadinya sepsis atau infeksi (Entjang, 2003).

Keunggulan antiseptik lebih praktis, lebih sederhana dan tanpa

menggunakan air (Brian, 2019).

Antiseptik digunakan sebagai bagian dari prosedur atau tindakan

media atau perawatan untuk mengobati pengobatan lokal seperti pada kulit,

mulut atau tenggorokan, untuk iritasi daerah-daerah tubuh yang terinfeksi,

mencuci luka terutama pada luka kotor, mencegah infeksi pada perawatan

luka, menyuci hamakan kulit sebelum operasi untuk mencegah infeksi,

mencuci tangan sebelum operasi untuk mencegah infeksi silang.

Dalam garis besar antiseptik dibagi dalam beberapa golongan,

alkohol, halogen dan senyawanya, iodium, povidon iodine (polyfine),

iodoforom (obat kuning), klorheksidin, oksidansial, kalium permanganat

dan parhidrol, logam berat dan garamnya, merkuri klorida (sublimet),

merkuro krom (obat merah). Asam turunan fenol, basa amonium kuarterner

(Darmadi, 2008)

8
2.3 Simplisia

Simplisia atau herbal adalah bahan alam yang telah dikeringkan yang

digunakan untuk pengobatan dan belum mengalami suatu pengolahan

apapun, kecuali dinyatakan lain suhu pengeringan simplisia tidak lebih dari

60oC. Simplisia segar adalah bahan alam segar yang belum dikeringkan.

Simplisia dapat berupa simplisia nabati yaitu simplisia yang berupa

simplisia tanaman utuh, bagian tumbuhan atau eksudat tumbuhan. Eksudat

tumbuhan adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tumbuhan atau

dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya atau zat nabati lain yang

dengan cara tertentu dipisahkan dari tumbuhannya.

Serbuk simplisa nabati tidak boleh mengandung fragmen jaringan dan

benda asing yang bukan merupakan komponen asli dari simplisia yang

bersangkutan antara lain telur nematoda, bagian dari serangga dan hama

serta sisa tanah (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008: 5).

Simplisiamerupakan proses awal dalam pembuatan ekstrak. Serbuk

simplisia dibuat dari simplisia utuh atau potongan-potongan halus simplisia

yang sudah dikeringkan melalui proses pembuatan serbuk dengan suatu alat

tanpa mengakibatkan kerusakan atau kehilangan kandungan kimia yang

dibutuhkan dan diayak hingga diperoleh serbuk dengan derajat kehalusan

tertentu. Derajat kehalusan simplisia terdiri dari serbuk sangat kasar, kasar,

agak kasar, halus dan sangat halus. Kecuali dinyatakan lain, derajat

kehalusan serbuk simplisia untuk pembuatan ekstrak merupakan serbuk

halus. (DepartemenKesehatanRepublikIndonesia, 2008).

9
2.4 Ekstraksi

Ekstraksi adalah suatu proses penyarian zat aktif dari bagian tanaman obat

yang bertujuan untuk menarik komponen kimia yang terdapat dalam bagian

tanaman obat tersebut dengan menggunakan pelarut tertentu yang sesuai (Marjoni,

2016: 15). Tujuan ekstraksi adalah menarik atau memisahkan senyawa dari

campurannya atau simplisia. Pemilihan metode ekstraksi dilakukan dengan

memperhatikan antara lain sifat senyawa, pelarut yang digunakan, dan alat

tersedia. Struktur untuk setiap senyawa, suhu dan tekanan merupakan faktor yang

perlu diperhatikan dalam melakukan ekstraksi (Hanani, 2016: 11).

Ekstrak adalah sedian cair, kental atau kering yang merupakan hasil proses

ekstraksi atau penyarian suatu matriks atau simplisia menurut cara yang sesuai.

Ekstrak cair diperoleh dari ekstraksi yang masih mengandung sebagian besar

cairan penyari. Ekstrak kental akan didapat apabila sebagian besar cairan penyari

sudah diuapkan, sedangkan ekstrak kering akan diperoleh jika sudah tidak

mengandung cairan penyari (Hanani, 2016: 13).

Proses ekstraksi pada dasarnya adalah proses perpindahan masa dari

komponen zat padat yang terdapat pada simplisia ke dalam pelarut yang

digunakan. Pelarut organik akan menembus dinding seldan selanjutnya akan

masuk kedalam rongga sel tumbuhan yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan

terlarut dalam pelarut organik pada bagian luar sel untuk selanjutnya berdifusi

masuk kedalam pelarut. Proses ini terus berulang sampai terjadi keseimbangan

antara konsentrasi zat aktif antara didalam sel dengan konsentrasi zat di luar sel

(Marjoni, 2016: 16).

10
2.5 Maserasi

Maserasi merupakan salah satu metoda ekstraksi yang dilakukan dengan

cara merendam simplisia menggunakan pelarut tertentu selama waktu tertentu

dengan sesekali dilakukan pengadukan atau pengojokan. Maserasi merupakan

metode ederhana dan paling banyak digunakan karena metoda ini sesuai dan baik

untuk skala kecil maupun skala industri. Prinsip kerja dari maserasi adalah proses

melarutnya zat aktif berdasarkan sifat kelarutannya dalam suatu pelarut (like

dissolved like) (Marjoni, 2016).

Ekstraksi zat aktif dilakukan dengan cara merendam simplisia dalam pelarut

yang sesuai selama beberapa hari pada suhu kamar dan terlindung dari cahaya.

Pelarut yang digunakan, akan menembus dinding sel dan kemudian masuk

kedalam sel tanaman yang penuh dengan zat aktif. Pertemuan antara zat aktif dan

pelarut akan mengakibat kan terjadinya proses pelarutan dimana zat aktif akan

terlarut dalam pelarut. Pelarut yang berada di dalam sel mengandung zat aktif

sementara pelarut yang berada di luar sel belum terisi zat aktif, sehingga terjadi

ketidak seimbangan antara konsentrasi zat aktif di dalam dengan konsentrasi zat

aktif yang ada di luar sel. Perbedaan konsentrasi ini akan mengakibatkan

terjadinya proses difusi, dimana larutan dengan konsentrasi tinggi akan terdesak

keluar sel dan digantikan oleh pelarut dengan kosentrasi rendah. Peristiwa ini

terjadi berulang-ulang sampai didapat suatu keseimbangan konsentrasi larutan

antara di dalam sel dengan konsentrasi larutan di luar sel (Marjoni, 2016).

11
2.6 Sterilisasi

Sterilisasi dalam mikrobiologi merupakan proses penghilangan semua jenis

organisme hidup, dalam hal ini adalah mikroorganisme (protoza, fungi, bakteri

mycoplasma, virus) yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. Sterilisasi

didesain untuk membunuh atau menghilangkan mikroorganisme.Target suatu

metode inaktivasi tergantung dari metode dan tipe mikroorganismenya, yaitu

tergantung dari asam nukleat, protein, atau membran mikroorganisme

tersebut.Metode sterilisasi dibagi menjadi dua, yaitu metode fisik dan metode

kimia (Pratiwi, 2008: 136-137).

Metode sterilisasi kimia dilakukan untuk bahan-bahan yang rusak bila

disterilisasikan pada suhu tinggi (misalnya bahan-bahan dari plastik) dengan

menggunakan bahan-bahan kimia. Sedangkan metode sterilisasi fisik dapat

dilakukan dengan cara panas baik panas kering maupun panas basah, radiasi, dan

filtrasi. Metode sterilisasi panas digunakan untuk bahan yang tahan panas. Metode

sterilisasi panas dengan penggunaan uap air disebut metode sterilisasi panas

lembab atau sterilisasi basah. Metode sterilisasi panas tanpa kelembaban (tanpa

penggunaan uap air) disebut metode sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering.

Metode sterilisasi dengan penyaringan digunakan untuk bahan yang sensitif

terhadap panas, misalnya enzim. Pada proses ini digunakan membran filter yang

terbuat dari selulosa asetat. Pada metode sterilisasi dengan menggunakan radiasi

dilakukan dengan menggunakan sinar UV ataupun dengan metode ionisasi.

Penggunaan sterilisasi dengan sinar UV antara lain untuk sterilisasi kabinet dan

ruangan (Pratiwi, 2008: 137-141).

12
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium

dengan menghitung jumlah koloni yang masih tumbuh setelah

menggunakan sedian antiseptik.

3.2 Sampel Penelitian

Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah daun kelor yang

segar diambil di sekitar Jl. Riau Tampan Kecamatan Payung Sekaki

Pekanbaru.

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Universitas

Abdurrab pada bulan Desember 2019- Januari 2020.

3.4 Alat dan Bahan

3.4.1 Alat

Timbangan analitik, aluminium foil, corong pisah, erlenmeyer, batang

pengaduk, spatula, gelas ukur, gelas piala, pot gel, cawan porselin, hot plate,

pH meter universal, kaca preparat, cawan petri, pipet tetes, mikropipet,

13
tabung reaksi, autoklaf, Laminar Air Flow, inkubator, centrifugal, lemari

pendingin, sarung tangan, alat desitilasi uap, colony counter.

3.4.2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun kelor, CMC-

Na, Gliserin, Propilenglikol, Aquadest, Alkohol 70%, Nutrient Agar (NA),

Na2SO4 anhidrat.

3.5 Prosedur Kerja

3.5.1 Ekstrak Bahan (daun kelor)

Daun kelor yang sudah dicuci bersih, dikeringkan kemudian dipotong-

potong Sebanyak 200 gram daun kelor kemudian ditambah dengan aquadest

panas sebanyak 200 mL, kemudian dipanaskan di atas penangas air selama

15 menit. Ekstrak disaring dengan kertas saring sampai didapat ekstrak

jernih.(sari retno dan dewi isadiartuti).

3.5.2 Sterilisasi Alat

Alat yang digunakan dicuci dengan bersih lalu dikeringkan.Selanjutnya

alat yang tidak memiliki ukuran dibungkus dengan kertas padi, dimasukkan

kedalam oven pada suhu 170°C selama 1 jam. Setelah cukup waktu

dikeluarkan dari dalam oven (Pratiwi, 2008: 138).

3.5.3 Antiseptik Tangan

Antiseptik tangan dilakukan dengan cara tangan dicuci bersih dengan

menggunakan sabun. Selanjutnya tangan disemprot dengan alkohol

14
70%.Kemudian menggunakan glove steril untuk melakukan penelitian

(Tietjen, 2004: 6).

3.5.4 Desinfektan Tempat Kerja

Meja dibersihkan dari debu, kemudian disterilisasikan dengan alkohol

70%, lingkungan kerja harus tenang dan bebas angin, napas sedapat

mungkin dihembuskan menjauhi biakan yang dipindahkan. (Irianto, 2006:

76).

3.5.5 Pembuatan Gel Antiseptik

Tabel 1 Pembuatan Gel Antiseptik

Komponen Kosentrasi Konsentrasi Konsetrasi

5% 10% 15%

Duan kelor 0,5 mL 1 mL 1,5 mL

CMC_Na 0,25 g 0,25 g 0,25 g

Gliserin 1 mL 1 mL 1 mL

Propilenglikol 0,5 mL 0,5 mL 0,5 mL

Aquadest 10 mL 10 mL 10 mL

Ditimbang terlebih dahulu semua bahan sesuai dengan formulasi.

Pembuatan gel antiseptik tangan dari ektrak daun kelor dengan konsentrasi

5% ditimbang CMC-Na sebanyak 0,25 g, dikembangkan di cawan porselin

dengan sedikit aquadest panas, kemudian dilakukan pengadukan secara

terus-menerus sehingga terdispersi sempurna dan terbentuk basis gel.

Selanjutnya, ditambahkan gliserin 1 mL, propilenglikol 0,5 mL dan sisa

aquadest hingga bobot gel menjadi 10 mL dengan cara terus dilakukan

15
pengadukan hingga terbentuk gel dan ditambahkan ektrak daun kelor

dengan konsentrasi 5%. Untuk pembuatan gel dengan konsentrasi 10% dan

15% dilakukan dengan cara yang sama dengan pembuatan gel antiseptik

ekstak daun kelor. Setelah itu, ketiga formulasi gel disimpan pada tempat

yang gelap dan dingin selama semalaman.( Manus et.al, 2016)

3.5.6 Pembuatan Media Nutrient Agar (NA)

Pembuatan media dilakukan dengan cara, bahan-bahan untuk media

disiapkan. Sebanyak 1.3 g Nutrient Agar (NA) ditimbang kemudian

dilarutkan dengan aquadest sebanyak 100 mL dalam Erlenmeyer 250 mL

kemudian ditutup dengan kapas. Selanjutnya dipanaskan sambil diaduk

menggunakan

3.5.7 Evaluasi Fisik Sedian

1. Pengujian Organoleptik

Pengamatan dilihat secara langsung bentuk, warna dan bau

dari gel yang dibuat. Gel biasanya jernih dengan konsistensi

setengah padat (Ansel, 1989).

2. Pengujian pH

Penentuan pH sediaan dilakukan dengan menggunakan stik

pH Universal yang dicelupkan e dalam sampel gel yang telah

diencerkan.Setelah tercelup dengan sempurna, pH Universal

tersebut dilihat perubahan warnanya dan dicocokkan dengan

standar pH Universal.pH sediaan gel harus sesuai dengan pH kulit

yaitu 4,5-6,5 (Tranggono et al., 2007).

16
3. Pengujian Homogenitas

Pengujian homogenitas dilakukan dengan cara sampel gel

dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang

cocok, sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan

tidak terlihat adanya butiran kasar.

4. Pengujian Daya Sebar

Sebanyak 0,5 g sampel gel diletakkan di atas kaca bulat

berskala, kaca lainnya diletakkan di atasnya dan dibiarkan selama

1 menit. Diameter sebar gel diukur.Setelahnya ditambahkan 150 g

beban tambahan dan didiamkan selama 1 menit lalu diukur

diameter yang konstan. Menurut Garg et al. (2002), daya sebar 5-

7 cm menunjukkan konsistensi semisolid yang sangat nyaman

dalam penggunaan.

5. Pengujian Konsistensi

Dilakukan dengan mengamati perubahan konsistensi dari

sediaan gel yang dibuat apakah terjadi pemisahan antara bahan

pembentuk gel dengan pembawanya yaitu air. Pengujian

konsistensi menggunakan pengujian centrifugal test dimana

sampel gel disentrifugasi pada kecepatan 3800 rpm selama 5 jam

kemudian diamati perubahan fisiknya (Djajadisastra, 2009).

17
3.5.8 Pengujian Antiseptik

1. Kontrol Positif dan Negatif

Telapak tangan dicuci bersih dengan air yang mengalir,

kemudian dikeringkan. Dipipet sebanyak 1 mL handsanitizer

Carex® (kontrol positif) yang diteteskan pada jari telunjuk,

kemudian diratakan secara zig-zag di atas media padat Nutrient

Agar (NA) dan didiamkan selama 1 menit. Selanjutnya media

diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Setelah diinkubasi,

jumlah koloni bakteri dihitung menggunakan colony counter.

Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali ulangan. Untuk kontrol

negatif dilakukan dengan cara yang sama menggunakan basis gel.

2. Sediaan Uji

Telapak tangan dicuci bersih dengan air yang mengalir,

kemudian dikeringkan. Dipipet sebanyak 1 mL gel dengan

konsentrasi 5% yang diteteskan pada jari telunjuk, kemudian

diratakan secara zig-zag di atas media padat Nutrient Agar (NA)

dan didiamkan selama 1 menit. Selanjutnya media diinkubasi

pada suhu 37°C selama 24 jam. Setelah inkubasi, jumLah koloni

bakteri dihitung menggunakan colony counter. Perlakuan yang

sama dilakukan terhadap gel dengan konsentrasi 10% dan 15%.

Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali ulangan pada masing-masing

konsentrasi.(Manus et.al, 2016)

18
3.6 Analisa Data

Data yang diperoleh pada penelitian akan disajikan dalam bentuk tabel

dan dijelaskan secara deskriptif.

19
DAFTAR PUSTAKA

Darmadi. 2008. Infeksi nosokomial. Jakarta: salemba medika.


Dima., l.,R.,H.,l, Fatimawali, dan Widya.,A.,L. 2016. Uji aktivitas antibakteri
ekstrak daun kelor (moringa oleifera l.) terhadap bakteri escherichia coli
dan staphylacoccus aureus. Jurnal imiah farmasi. Volume 5(2): 283.
Entjang, I. 2001. Mikrobiologi dan Parasitologi Untuk Akademi Keperwatan dan
Sekolah Tenaga Kesehatan yang Sederajat. Edisi 1. Bandung. Pt. Citra
Aditya Bakti.
Manus., N, Paulia., V., Y.,Y, dan Novel., S., K. 2016. Formulasi sediaan gel
minyak atsiri daun sereh (cymbopogon citratus) sebagi antiseptik tangan.
Jurnal ilmiah farmasi. Volume 5(3): 87.
Irianto, K. 2006. Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme. Bandung:
Penerbit Yrama Widya.

Agnes.,P., B., H., Imron., C., W., Khoirul., H., H, dan muhammad., m., r. 2019.
Pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak daun kelor pada sediaan gel hand
sanitizer terhadap aktivitas antibakteri. Jurnal prosiding SNST.
Pratiwi, S. T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Erlangga

Sari., R, dan Dewi., I. 2006. Studi efektivitas sediaan gel antiseptik tangan ekstrak
daun sirih (piper betle l.) jurnal farmasi indonesia. Volume 17 (4):
Savitri., A, Fakhrurrazi., dan Abdul.,H. 2018. Uji antibakteri ekstrak daun kelor
(moringa oleifera l.) terhadap pertumbuhan bakteri staphylacoccus aureus.
Jimvet e-issn. Volume 2 (3): 374.
Tialey., S, Fatimawali, dan Widya., A., I. 2014. Formulasi dan uji efektivitas
sediaan gel ekstrak etanol daun mangrove api-api (avicennia merina)
sebagai antiseptik tangan. Jurnal ilmiah farmasi.volume 3(2): 100.
Wiguna, I. 2018. Pasar dan khasiat kelor. Edisi 1. Jakarta Pusat. Pt. Trubus
Swadaya

20
Lampiran 1. Skema prosedur kerja

Daun Kelor

Dipotong – potong Sebanyak 200


gram

Ditambahkan Aquadest sebanuak 200 mL

Dipanaskan Selama 15 menit

Disaring

Didapatkan Ekstrak Jernih

Sterilisasi

Antiseptik Dan Desinfektan

Pembuatan Gel Antiseptik

Pembuatan Media NA

Evaluasi Fisik Sediaan

Pengujian Pengujian Pengujian Pengujian


Organoleptik PH Homogenitas Daya Sebar

Pengujian Antiseptik

21
Lampiran 2. Pembuatan Media NA (Nutrient Agat)

x 100 mL

= 1.3 gram

Pembuatan media dilakukan dengan cara, bahan-bahan untuk media

disiapkan. Sebanyak 1.3 g Nutrient Agar (NA) ditimbang kemudian

dilarutkan dengan aquadest sebanyak 100 mL dalam erlenmeyer 250

mL kemudian ditutup dengan kapas. Selanjutnya dipanaskan sambil

diaduk menggunakan batang pengaduk hingga mendidih. Kemudian

disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit.

Kemudian dituang ke dalam cawan petri.

22
Lampiran 3. Perhitungan dan cara pembuatan konsentrasi ekstrak daun kelor

dengan kosentrasi 5%, 10% dan 15%

1. Konsentrasi 15 % sebanyak 10 mL

= 1,5 gram

Cara kerja:

Ekstrak daun kelor ditimbang sebanyak 1,5 g kemudian

dimasukkan dalam labu ukur 10 mL dan ditambahkan etanol

96% sampai tanda batas.

2. Konsentrasi 10% sebanyak 10 mL

Dibuat dengan pengenceran dari konsentrasi 15%

V1 x C1 = V2 x C2

V1 x 15% = 10 mL x 10%

V1 =

V1 = 6,67 mL

Cara kerja:

Ekstrak daun kelor konsetrasi 15% dipipet sebanyak 6,67 mL

kemudian dimasukkan dalam labu ukur 10 mL dan ditambahkan

etanol 96%sampai tanda batas.

3. Konsentrasi 5% sebanyak 10 mL

Dibuat dengan pengenceran dari konsentrasi 10%

V1 x C1 = V2 x C2

V1 x 10% = 10 mL x 5%

23
V1 =

V1 = 5 mL

Cara kerja:

Ekstrak daun kelor kosentrasi 10% dipipet sebanyak 5 mL

kemudian dimasukkan dalam labu ukur 10 mL dan ditambahkan

etanol 96%sampai tanda batas.

24