Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

PERAN DAN FUNGSI PERAWAT SERTA FUNGSI ADVOKASI PADA


KASUS KEPERAWATAN KRITIS

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Kritis


Dosen Pengampu : Ns. Ari Febru Nurlaily, M.Kep

Disusun oleh :

Kelompok 6

1 Alfi Winardiyanto (ST182001)


.
2 Aris Subyantoro (ST182005)
.
3 Ferryda Leyla Mariana Widyastuti (ST182017)
.
4 Guntur Setiawan (ST182018)
.
5 Indah Adhitama Chrisnanda (ST182020)
.
6 Niken Prima Astuti (ST182026)
.
7 Nur Arifin (ST182031)
.

1
2

8 Winda Fitriani (ST182052)


.

PROGRAM TRANSFER PRODI SARJANA KEPERAWATAN


UNIVERSITAS KUSUMA HUSADA SURAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2019/ 2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, yang mana atas berkat
rahmat dan karunianNya kami dapat menyelesaikan tugas makalah dengan judul
“Peran dan Fungsi Perawat serta Fungsi Advokasi pada Kasus Keperawatan
Kritis” sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Makalah ini kami susun guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Keperawatan Kritis. Dengan tersusunya makalah ini, kami sadar bahwa dalam
menyusunnya, penulis mendapat banyak bantuan dan bimbingan dari beberapa
pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Ns. Ari Febru Nurlaily, M.Kep, selaku dosen mata kuliah Keperawatan
Kritis yang telah memberikan tugas makalah ini dan memberi pengarahan
kepada kami.
2. Teman-teman kelas transfer sarjana Keperawatan angkatan XI Universitas
Kusuma Husada Surakarta telah membantu dan memberikan dorongan untuk
menyusun makalah ini.
3. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu
tersusunnya makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka
dari itu kami meminta maaf kepada para pembaca dan mengharapkan kritik dan
saran ataupun masukan dari para pembaca. Akhir kata, kami ucapkan terima
kasih.
Surakarta, April 2020
Kelompok 6

iii
iv

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..................................................................................
...........................................................................................................1
B. Rumusan Masalah.............................................................................
...........................................................................................................2
C. Tujuan Penulisan.................................................................................
.............................................................................................................3
D. Manfaat Penulisan...............................................................................
.............................................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Peran dan Fungsi Perawat................................................... 4
B. Tujuan Peran Perawat Sebagai Advokasi.......................................... 4
C. Jenis-jenis Peran dan Fungsi Perawat............................................... 4
D. Landadan Hukum Penerapan Peran Advokasi Perawat.................... 5
E. Definisi Peran Advokasi Perawat...................................................... 6
F. Penerapan Peran Advokasi Perawat dalam Kasus Keperawatan ..... 7

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan........................................................................................
...........................................................................................................17
B. Saran..................................................................................................
...........................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
v

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perawat adalah sebagai salah satu aset penting bagi sebuah rumah sakit.
Perawat menjadi garda terdepan rumah sakit yang berhubungan langsung
dengan pasien dalam waktu 24 jam. Kualitas asuhan sebagaimana seharusnya
dituntut penuh dalam peran penting perawat. Salah satunya peran perawat
sebagai advokat pasien dimana seorang perawat membutuhkan perlindungan
dari perawat dari setiap tindakan medis yang diberikan kepada pasien dalam
proses kolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya (Afidah & Madya, 2013).
Sebagai contoh peran perawat pada tindakan pemasangan ventilator peran
perawat pada situasi ini adalah bagaimana perawat memberikan penjelasan
secara detail tentang tindakan yang diberikan dan peran sebagai advokat dalam
pemberian informed consent sebagai persetujuan pasien dengan tindakan yang
diberikan dan pasien atau keluarga sudah memahami secara jelas tindakan yang
akan dilakukan (Kandar, et al, 2015).
Peran advokasi perawat dalam pemberian asuhan keperawatan dilakukan
untuk menghindari terjadinya kesalahan pemberian asuhan keperawatan. Hal
ini juga mencegah terjadinya malpraktik yang akibatnya merugikan pasien
bahkan kematian pasien (Suryani, et al, 2013). Selama berada dalam masa
perawatan dirumah sakit sangat mungkin terjadinya human error oleh tenaga
kesehatan yang mampu merugikan pasien. Sebagai satu – satunya yang
berhubungan langsung dengan pasien, seorang perawat dituntut untuk lebih
hati – hati dan teliti dalam setiap tindakan yang di lakukannya, baik itu dalam
kolaborasi dengan dokter dalam instruksi pemberian obat – obatan oral,
tindakan injeksi, bahkan sampai tindakan pemberian transfusi. Perawat harus
vi

memastikan apakah hal tersebut dapat berdampak baik kepada pasien. Bukan
malah merugikan atau sampai mengakibatkan kematian pasien. Dalam
penelitiannya Felle (2018) menuliskan bahwa ada beberapa contoh kelalaian
perawat yang merugikan pasien salah satunya adalah seorang bayi menjadi
hangus dalam incubator karena kelalaian perawat dalam mengontrol suhu
incubator. Sebagai dasar seorang perawat adalah menghargai hak – hak pasien
sebagai pengguna layanan kesehatan. Ada tiga komponen perawat sebagai
advokat bagi pasien yaitu pelindung penentuan diri pasien, mediator, dan
sebagai pelaku. Perawat juga harus melindungi pasien sebagai manusia yang
utuh sesuai dengan hukum yang berlaku (Suyanti, dkk, 2014). Perawat sebelum
memberikan tindakan tidak menjelaskan informasi tentang tindakan prosedur
pemberian terapi yang akan dilakukan, dalam hal ini pasien berhak
memutuskan tindakan terapi tersebut ditolak atau diterima oleh pasien
(Simamora, 2013).
Berdasarkan permasalahan di atas kami tertarik untuk menulis makalah
tentang “Peran dan Fungsi Perawat serta Fungsi Advokasi pada Kasus
Keperawatan Kritis”.

B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang di atas, maka diambil rumusan masalah
sebagai berikut.
1. Apakah definisi peran dan fungsi perawat?
2. Apakah tujuan peran perawat sebagai advokasi?
3. Apakah jenis-jenis peran dan fungsi perawat?
4. Apa landasan hukum penerapan peran advokasi perawat?
5. Apakah definis peran advokasi perawat?
6. Bagaimana penerapan peran advokasi perawat dalam kasus keperawatan
kritis?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui definisi peran dan fungsi perawat?
vii

2. Untuk mengetahui tujuan peran perawat sebagai advokasi?


3. Untuk mengetahui jenis-jenis peran dan fungsi perawat?
4. Untuk mengetahui landasan hukum penerapan peran advokasi perawat?
5. Untuk mengetahui definis peran advokasi perawat?
6. Untuk mengetahui penerapan peran advokasi perawat dalam kasus
keperawatan kritis?

D. Manfaat Penulisan
1. Bagi Penulis
Untuk menambah wawasan tentang peran dan fungsi perawat serta fungsi
advokasi pada kasus keperawatan kritis.
2. Bagi Pembaca
Memberikan wawasan tentang peran dan fungsi perawat serta fungsi
advokasi pada kasus keperawatan kritis serta sebagai bahan referensi dalam
pemenuhan tugas tugas yang terkait dengan peran dan fungsi dalam
keperawatan kritis.
viii

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Peran dan Fungsi Perawat


Dalam dunia keperawatan modern respons manusia sebagai pengalaman
dan respon orang terhadap sehat dan sakit juga merupakan suatu fenomena
perhatian perawat (Sudarman, 2016). Sesuai dengan Kepmenkes RI No. 1239
tahun 2001 tentang Registrasi dan Praktik perawat, perawat adalah seseorang
yang telah lulus pendidikan perawat, baik di dalam maupun di luar negeri
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Praktik
keperawatan harus senantiasa meningkatkan mutu pelayanan profesinya,
dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui
pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya. Dalam melaksanakan
praktik keperawatan, perawat juga dituntut melakukan peran dan fungsi
sebagaimana yang diharapkan oleh profesi dan masyarakat sebagai pengguna
jasa pelayanan keperawatan.
Peran merupakan seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang
lain terhadap seseorang, sesuai kedudukannya dalam suatu sIstem (Kusnanto,
2013) Dalam melakukan peran, seseorang diharapkan memiliki pemahaman
dasar yang diperlukan mengenai prinsip, dalam menjalankan tanggungjawab
secara efisien dan efektif dalam suatu sistem tertentu (Bastable, 2012). Peran
perawat dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar
profesi keperawatan dan bersifat konstan. Dalam menjalankan perannya,
perawat akan melaksanakan berbagai fungsi diantaranya fungsi independent,
fungsi dependen, dan fungsi interdependen (Potter dan Perry, 2010).

B. Tujuan Peran Perawat Sebagai Advokasi


Advokasi (pembelaan) secara sederhana dapat didefinisikan sebagai
ix

proses bertindak untuk, atau atas nama orang lain yang tidak mampu bertindak
untuk diri mereka sendiri (Basford & Slevin, 2016). Murphy dan Hunter dalam
Basford & Slevin (2016) mengatakan bahwa peran perawat dalam
mengeksplorasi konsep pembelaan terangkum dalam pernyataan, “Tujuan
perawat bukan untuk mendapatkan kepuasaan dari professional kesehatan lain
tetapi lebih untuk membantu pasien mendapatkan asuhan yang terbaik, bahkan
jika itu berarti pasien masuk ke rumah sakit dan mencari professional asuhan
kesehatan lain”. Oleh karena itu, fokus utama dari peran advokasi perawat bagi
pasien adalah menghargai keputusan pasien dan meningkatkan otonomi pasien
(Blais, et al, 2012).

C. Jenis-Jenis Peran dan Fungsi Perawat


1. Peran Perawat
Peran perawat dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari
luar profesi keperawatan dan bersifat konstan (Doheny, 2012)
mengidentifikasi beberapa elemen peran perawat professional, meliputi:
a. Care Giver, sebagai pemberi asuhan keperawatan; Sebagai pelaku/
pemberi asuhan keperawatan dapat memberikan pelayanan keperawatan
secara langsung dan tidak langsung kepada klien, menggunakan
pendekatan proses keperawatan yang meliputi: melakukan pengkajian
dalam upaya mengumpulkan data dan informasi yang benar, menegakkan
diagnosa keperawatan berdasarkan hasil analisa data, merencanakan
intervensi keperawatan sebagai upaya mengatasi masalah yang muncul
dan membuat langkah/ cara pemecahan masalah, melaksanakan tindakan
keperawatan sesuai dengan rencana yang ada, dan 10 melakukan evaluasi
berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan dan melakukan
evaluasi berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang
telah dilakukannya.
b. Client Advocate, sebagai pembela untuk melindungi klien. Sebagai
advokat klien, perawat berfungsi sebagai penghubung antara klien
dengan tim kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien,
x

membela kepentingan klien dan membantu klien memahami semua


informasi dan upaya kesehatan yang diberikan oleh tim kesehatan dengan
pendekatan tradisional maupun professional.
c. Counsellor, sebagai pemberi bimbingan/ konseling klien;Berfungsi untuk
memberikan konseling kepada klien, keluarga dan masyarakat tentang
masalah kesehata sesuai prioritas.
d. Educator, sebagai pendidik klien ; Sebagai pendidik klien, membantu
klien meningkatkan kesehatannya melalui pemberian pengetahuan yang
terkait dengan keperawatan dan tindakan medik yang diterima sehingga
klien/ 11 keluarga dapat menerima tanggung jawab terhadap hal-hal yang
diketahuinya.
e. Collaborator, sebagai anggota tim kesehatan yang dituntut untuk dapat
bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain dalam menentukan rencana
maupun pelaksanaan asuhan keperawatan guna memenuhi kebutuhan
kesehatan klien.
f. Coordinator, sebagai coordinator agar dapat memanfaatkan sumber-
sumber dan potensi klien Perawat berfungsi untuk mengkoordinasi,
mengatur, mengembangkan, memberikan informasi untuk perkembangan
pelayanan kesehatan.
g. Change agent, sebagai pembaru yang selalu dituntut untuk mengadakan
perubahan-perubahan; Sebagai pembaharu, perawat mengadakan inovasi
dalam cara berfikir, bersikap, bertingkah laku dan meningkatkan
ketrampilan klien/ keluarga agar menjadi sehat (Kustanto,2003).
h. Consultat, sebagai sumber informasi yang dapat membantu memecahkan
masalah
2. Fungsi Perawat
Dalam menjalankan perannya, perawat akan melaksanakan berbagai fungsi
diantaranya:
a. Fungsi Independen Tindakan keperawatan bersifat mandiri, berdasarkan
pada ilmu keperawatan. Oleh karena itu, perawat bertanggung jawab
terhadap akibat yang timbul dari tindakan yang diambil.
xi

b. Fungsi Dependen Perawat membantu dokter memberikan pelayanan


pengobatan dan tindakan khusus yang menjadi wewenang dokter dan
seharusnya dilakukan dokter, seperti pemasangan infus, pemberian obat,
dan melakukan suntikan
c. Fungsi Interdependen Tindakan perawat berdasar pada kerja sama
dengan tim perawatan atau tim kesehatan. Perawat berkolaborasi
mengupayakan kesembuhan pasien bersama tenaga kesehatan lainnya.
Perawat bertanggung jawab lain terhadap kegagalan pelayanan kesehatan
terutama untuk bidang keperawatannya (Potter dan Perry, 2010).

D. Landasan Hukum Penerapan Peran Advokasi Perawat


Untuk menjamin pelindungan terhadap masyarakat sebagai penerima
Pelayanan Keperawatan dan untuk menjamin pelindungan terhadap Perawat
sebagai pemberi pelayanan keperawatan, diperlukan pengaturan mengenai
keperawatan secara komprehensif yang diatur dalam undang-undang. Selain
sebagai kebutuhan hukum bagi perawat, pengaturan ini juga merupakan
pelaksanaan dari mutual recognition agreement mengenai pelayanan jasa
Keperawatan di kawasan Asia Tenggara. Ini memberikan peluang bagi perawat
warga negara asing masuk ke Indonesia dan perawat Indonesia bekerja di luar
negeri untuk ikut serta memberikan pelayanan kesehatan melalui Praktik
Keperawatan. Ini dilakukan sebagai pemenuhan kebutuhan Perawat tingkat
dunia, sehingga sistem keperawatan Indonesia dapat dikenal oleh negara tujuan
dan kondisi ini sekaligus merupakan bagian dari pencitraan dan dapat
mengangkat harkat martabat bangsa Indonesia di bidang kesehatan.
Atas dasar itu, maka dibentuk Undang-Undang tentang Keperawatan
untuk memberikan kepastian hukum dan pelindungan hukum serta untuk
meningkatkan, mengarahkan, dan menata berbagai perangkat hukum yang
mengatur penyelenggaraan Keperawatan dan Praktik Keperawatan yang
bertanggung jawab, akuntabel, bermutu, dan aman sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Undang-Undang ini memuat
pengaturan mengenai jenis perawat, pendidikan tinggi keperawatan, registrasi,
xii

izin praktik, dan registrasi ulang, praktik keperawatan, hak dan kewajiban bagi
perawat dan klien, kelembagaan yang terkait dengan perawat (seperti
organisasi profesi, kolegium, dan konsil), pengembangan, pembinaan, dan
pengawasan bagi perawat, serta sanksi administratif. Latar belakang
disahkannya UU Nomor 38 tahun 2014 tentang Keperawatan adalah :
1. Bahwa untuk memajukan kesejahteraan umum sebagai salah satu tujuan
nasional sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 perlu diselenggarakan
pembangunan kesehatan;
2. Bahwa penyelenggaraan pembangunan kesehatan diwujudkan melalui
penyelenggaraan pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan keperawatan;
3. Bahwa penyelenggaraan pelayanan keperawatan harus dilakukan secara
bertanggung jawab, akuntabel, bermutu, aman, dan terjangkau oleh perawat
yang memiliki kompetensi, kewenangan, etik, dan moral tinggi;
4. Bahwa mengenai keperawatan perlu diatur secara komprehensif dalam
Peraturan Perundang-undangan guna memberikan pelindungan dan
kepastian hukum kepada perawat dan masyarakat;
5. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a,
huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu membentuk Undang-Undang tentang
Keperawatan;
Dasar hukum pengesahan UU Nomor 38 tahun 2014 tentang
Keperawatan adalah Pasal 20, Pasal 21, dan Pasal 28C Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

E. Definis Peran Advokasi Perawat


Nelson dalam Blais et al (2012) menjelaskan tujuan utama dari advokat
pasien adalah melindungi hak-hak pasien. Peran advokat pasien memiliki tiga
komponen utama, yaitu sebagai pelindung, mediator, dan pelaku tindakan atas
nama pasien. Dari ketiga komponen utama peran perawat sebagai advokat,
maka dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Sebagai pelindung, peran yang dilakukan perawat memiliki tujuan utama
xiii

yaitu untuk membantu pasien dalam membuat keputusan. Peran perawat


dalam hal ini ditekankan untuk menyerahkan segala keputusan tentang
perawatan yang akan dijalankan oleh pasien kepada pasien itu sendiri,
sesuai dengan nilai-nilai yang dianut pasien. Tindakan perawat yang
termasuk di dalamnya yaitu perawat memberikan alternatif pilihan kepada
pasien saat akan mengambil keputusan tentang terapi yang akan diambil,
menyediakan format persetujuan tindakan penjelasan atas pemulangan dini
pasien dari perawatan, serta memutuskan dokter yang akan merawatnya.
b. Sebagai mediator, peran yang dilakukan perawat memiliki tujuan untuk
menjembatani komunikasi antara pasien dengan tim kesehatan lain di rumah
sakit. Tindakan perawat yang termasuk di dalamnya yaitu perawat
menemani pasien saat kunjungan dokter, menentukan menu diet bersama
ahli gizi, dan juga memberikan penjelasan kepada pasien mengenai
pengobatan yang diterimanya;
c. Sebagai pelaksana tindakan, peran yang dilakukan perawat memiliki tujuan
utama untuk melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan yang
dibutuhkan pasien. Tindakan perawat yang termasuk didalamnya yaitu
dengan memberikan lingkungan yang sesuai dengan kondisi pasien,
melindungi pasien dari tindakan yang dapat merugikan pasien, dan
memenuhi semua kebutuhan pasien selama dalam perawatan.
d. Perannya sebagai advokat, perawat diharapkan mampu untuk bertanggung
jawab dalam membantu pasien dan keluarga menginterpretasikan informasi
dari berbagai pemberi pelayanan yang diperlukan untuk mengambil
persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya serta
mempertahankan dan melindungi hak–hak pasien. Hal ini harus dilakukan,
karena pasien yang sakit dan dirawat di rumah sakit akan berinteraksi
dengan banyak petugas kesehatan.

F. Penerapan Peran Advokasi Perawat dalam Kasus Keperawatan Kritis


Perawat yang berada di area keperawatan kritis memberikan pelayanan
secara langsung dan intensif kepada pasien yang berada pada kondisi kritis atau
xiv

mengancam jiwa yang berada pada ruang perawatan khusus (ruang intensif). 
Selain memiliki keterampilan untuk melakukan kaji cepat terhadap perubahan
kondisi yang dapat berisiko mengancam jiwa pasien dan kemampuan untuk
menggunakan peralatan yang spesifik di ruangan kritis, perawat kritis juga
diharapkan mampu untuk bekerja sama dengan dokter dan anggota tim
kesehatan lainnya maupun keluarga pasien. Perawat kritis diharapkan harus
kompeten secara fisik, mental, dan emosional dalam bekerja menangani pasien
yang berada dalam berada pada kondisi yang tidak stabil sehingga
membutuhkan peralatan untuk memonitor jantung dan paru begitu juga dengan
pengobatan lainnya. Perawat kritis yang ideal mempunyai komunikasi
interpersonal, jiwa kepemimpinan, perencanaan strategis, berpikir kritis, dan
pengambilan keputusan yang baik.
Perawat kritis diharapkan mampu berperan sebagai mediator, fasilitator
yang baik antara pasien, keluarga, maupun tim kesehatan lain. Perawat kritis
bisa membela hak dan nilai pasien dan keluarganya, mengkomunikasikan
harapan dan keinginan pasien dan keluarganya kepada anggota tim kesehatan
lainnya begitu pula sebaliknya. Contoh kasus penerapan peran advokasi
perawat dalam kasus keperawatan kritis yaitu sebagai berikut :
Peran perawat saat orientasi pasien dan keluarga masuk ke ruang ICU.
Perawat melakukan orientasi dan edukasi kepada  keluarga pasien yang baru
masuk. Perawat memberikan informasi tentang jam berkunjung, dokter
penanggungjawab (DPJP), hak pasien dan keluarga, alur layanan, rencana
terapi, perencanaan, keperluan yang diperlukan oleh pasien, mengajarkan cuci
tangan, pengenalan peralatan dalam perawatan, dll. Perawat juga menjawab
semua pertanyaan keluarga/kakak pasien dan melakukan evaluasi terhadap
tindakan yang dilakukan. Perawat mengarahkan dan langsung menunjukkan
ruangan atau alat, perlu untuk diorientasian nama perawat, ruangan, waktu dan
tempat apabila pasien berada dalam kondisi kesadaran penuh (composmentis),
penggunaan gelang identitas harus ada dimulai saat pasien masuk ke rumah
sakit. Kelompok sudah menjelaskan dengan baik semua informasi saat
orientasi dan melakukan edukasi pada keluarga pasien yang masuk ke ruang
xv

intensif.
Peran perawat saat edukasi pada pasien dan keluarga tentang penggunaan
peralatan hemodinamik di ICU.  Perawat melakukan penjelasan tentang fungsi
alat ke pasien dan keluarga, penjelasan kondisi kepada keluarga, penjelasan
oksimetri, alat elektrokardiogram (EKG) dan interpretasinya, nadi, nilai
normalnya, saturasi oksigen dan perlunya untuk pemberian oksigen,
pemantauan tekanan darah, pernapasan, suhu tubuh dan ooordinasi dengan
keluarga apabila akan diberikan tindakan perawat memberikan inform consent
untuk ditandatangani keluarga.
Peran perawat ketika advokasi kondisi pasien kritis saat ronde
multidisiplin tentang rencana perawatan pasien. Dalam kasus ronde
multidisiplin ini perawat hendaknya berfungsi sebagai penyelia, mediator,
fasilitator antara pasien, keluarga, dan tim kesehatan. Advokasi perawat dalam
ronde multidisiplin adalah dimana perawat dapat menyampaikan keinginan dan
harapan keluarga, begitu pula sebaliknya perawat dapat menjelaskan kondisi
dan keputusan tim kesehatan saat ronde. Perawat dapat memfasilitasi keluarga
untuk pengambilan keputusan dalam keluarga. Perawat diharapkan untuk tidak
mengarahkan keluarga untuk mengambil keputusan tertentu.
Peran perawat saat memberikan kabar tidak baik untuk keluarga pasien.
Pada situasi ini perawat memberikan edukasi kepada pada salah seorang
anggota keluarga yang dapat bertanggung jawab dan mengambil keputusan
dalam situasi yang kritis. Perawat dapat memfasilitasi keluarga untuk dapat
mendampingi pasien dalam fase terminal sehingga pasien dapat meninggal
dengan bermartabat.
xvi

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari penjelasan serta uraian tentang peran dan fungsi perawat serta fungsi
advokasi pada kasus keperawatan kritis tersebut, maka dapat diambil berbagai
kesimpulan antara lain sebagai berikut.
1. Peran perawat dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun
dari luar profesi keperawatan dan bersifat konstan. Dalam
menjalankan perannya, perawat akan melaksanakan berbagai fungsi
diantaranya fungsi independent, fungsi dependen, dan fungsi
interdependen.
2. Tujuan peran perawat advokadi bukan untuk mendapatkan kepuasaan dari
professional kesehatan lain tetapi lebih untuk membantu pasien
mendapatkan asuhan yang terbaik.
3. Peran perawat dibedakan menjadi : care giver, client advocate, counsellor,
educator, collaborator, coordinator, change agent,consultat, fungsi
perawat dibedakan menjadi :fungsi independen, fungsi dependen, dan
fungsi interdependen.
4. Landasan hukum penerapan peran advokasi perawat UU Nomor 38 tahun
2014 tentang Keperawatan
5. Tujuan utama dari advokat pasien adalah melindungi hak-hak pasien.
Peran advokat pasien memiliki tiga komponen utama, yaitu sebagai
pelindung, mediator, dan pelaku tindakan atas nama pasien.
6. Perawat yang berada di area keperawatan kritis memberikan pelayanan
secara langsung dan intensif kepada pasien yang berada pada kondisi kritis
atau mengancam jiwa yang berada pada ruang perawatan khusus (ruang
xvii

intensif). 

B. Saran
Diharapkan kepada seluruh perawat agar mampu menjadi advokator yang
baik dan handal, yang berkerja secara profesional, yang tidak hanya menjadi
advokator pasien/klien, tapi juga menjadi pembela kelayakan untuk keluarga
pasien, baik itu dari segi kenyamanan, kelayakan dan juga pelayanan-
pelayanan keperawatan lainnya, selain itu sebagai sejawat yang berhubungan
langsung dengan pasien perlu saling mengingatkan untuk meningkatkan
kualitas pelayanan, meskipun banyak kesenjangan, konflik, dan latarbelakang
yang berbeda, sebagai suatu tim harus bekerjasama dalam memberikan
pelayanan yang berkualitas dan berintegritas.
xviii

DAFTAR PUSTAKA

Afidah, E.N., & Madya, S. (2013). Gambaran Pelaksanaan Peran Advokat


Perawat Di Rumah Sakit Negeri di Kabupaten Semarang, Vol.1, No.2.
Diakses dari https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/JMK/article/view/1008
Basford, L. dan Slevin. (2016) Teori & Praktek Keparawatan. Pendekatan
Integral pada Asuhan Pasien. Jakarta: EGC
Bastable. (2012). Perawat Sebagai Pendidik: Prinsip Pengajaran. Jakarta: EGC.
Blais, K. K., Hayes, J. S., & Kozier, B. (2012). Praktek keperawatan professional.
Jakarta: EGC
Doheny. (2012). Peran Perawat Sebagai Pemberi Asuhan Keperawatan. Diakses
dari http://www.kajianpustaka.com/2012/10/peran-perawatasuhan-
keperawatan.html#.Ul84iKI8PhY
Felle, Z.R. (2018). Gambaran Tingkat Pengetahuan Perawat Tentang Advokat
Bagi Pasien Di Rumah Sakit Umum Abepura, Jurnal Tropis Papua Vol.1,
No.1, ISSN: 2654 – 5756.
Kandar, Maria S., & Tofi’ah. (2015). Pelaksanaan Peran Perawat Sebagai
Advokad Dalam Pemberian Informed Concent Tindakan ECT Premedikasi
Di RSJD Dr. Amino Gondhoutomo Provinsi Jawa Tengah. Diakses dari
https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/psn12012010/article/view/1602/1654
Kusnanto. 2013. Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta : EGC
Potter, Perry. (2010). Fundamental Of Nursing: Consep, Proses and Practice.
Edisi 7. Vol. 3. Jakarta : EGC
Simamora, R.H. (2013). Upaya Pembinaan Perawat di Rumah sakit Ngesti
Waluyo Parakan Temanggung Jawa Tengah. Jurnal keperawatan soedirman,
xix

Vol. 8, No.2. Diakses dari


http://jks.fikes.unsoed.ac.id/index.php/jks/article/view/482/249
Sudarman, M. (2016). Sosiologi Untuk Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika
Suryani, M., Setyowati, & Luknis, S. (2013). Pemahaman Dan Perilaku Perawat
Dalam Melaksanakan Peran Advokat Pasien Di Rumah Sakit. Diakses dari
http://182.253.197.100/ejournal/index.php/ilmukeperawatan/article/view/15
6/180
UU Nomor 38 tahun 2014 tentang Keperawatan