Anda di halaman 1dari 25

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Hipertensi

2.1.1 Definisi

Hipertensi merupakan penyakit dengan berbagai kausa. Berbagai penelitian

telah membuktikan berbagai faktor risiko yang berpengaruh terhadap timbulnya

hipertensi. Hasil studi sebelumnya menyebutkan faktor pemicu hipertensi dapat

dibedakan menjadi yang tidak dapat dikontrol seperti riwayat keluarga, jenis kelamin,

dan usia, serta faktor yang dapat dikontrol seperti pola konsumsi makanan yang

mengandung natrium, lemak, perilaku merokok, obesitas, dan kurangnya aktivitas

fisik.

Hipertensi merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan peningkatan

tekanan darah di atas normal, dengan nilai istolik > 140 mmHg dan sistolik >90

mmHg. (kowalski, 2010). Hipertensi sering disebut sebagai silent killer (pembunuh

gelap), karena merupakan penyakit yang mematikan, kadang tanpa disertai gejala-

gejalanya terlebih dahulu (Sustrani, 2005).

Hipertensi merupakan suatu keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik

lebih dari sama dengan 140 mmHg dan diastolik lebih dari sama dengan 90 mmHg.

Hipertensi dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu hipertensi primer atau

esensial yang penyebabnya tidak diketahui dan hipertensi sekunder yang dapat

disebabkan oleh penyakit ginjal, penyakit endokrin, penyakit jantung, dan gangguan

anak ginjal. Hipertensi seringkali tidak menimbulkan gejala, sementara tekanan darah

6
yang terus-menerus tinggi dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan komplikasi.

Oleh karena itu, hipertensi perlu dideteksi dini yaitu dengan pemeriksaan tekanan

darah secara berkala (Depkes, 2006)

Hipertensi adalah suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam pembuluh

darah arteri secara terus-menerus lebih dari suatu periode. Hal ini terjadi bila

arteriole-arteriole konstriksi. Kontriksi arteriole membuat darah sulit mengalir dan

meningkatkan tekanan melawan dinding arteri. (Udjianti, 2011).

2.1.2 Etiologi

Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan kondisi medis yang beragam.

Pada kebanyakan pasien etiologi patofisiologi-nya tidak diketahui (essensial atau

hipertensi primer). Hipertensi primer ini tidak dapat disembuhkan tetapi dapat di

kontrol. Kelompok lain dari populasi dengan persentase rendah mempunyai penyebab

yang khusus, dikenal sebagai hipertensi sekunder. Banyak penyebab hipertensi

sekunder; endogen maupun eksogen. Bila penyebab hipertensi sekunder dapat

diidentifikasi, hipertensi pada pasien-pasien ini dapat disembuhkan secara potensial.

a. Hipertensi primer (essensial)

Lebih dari 90% pasien dengan hipertensi merupakan hipertensi essensial

(hipertensi primer).2 Literatur lain mengatakan, hipertensi essensial merupakan 95%

dari seluruh kasus hipertensi.

Beberapa mekanisme yang mungkin berkontribusi untuk terjadinya hipertensi

ini telah diidentifikasi, namun belum satupun teori yang tegas menyatakan

7
patogenesis hipertensi primer tersebut. Hipertensi sering turun temurun dalam suatu

keluarga, hal ini setidaknya menunjukkan bahwa faktor genetik memegang peranan

penting pada patogenesis hipertensi primer. Menurut data, bila ditemukan gambaran

bentuk disregulasi tekanan darah yang monogenik dan poligenik mempunyai

kecenderungan timbulnya hipertensi essensial. Banyak karakteristik genetik dari gen-

gen ini yang mempengaruhi keseimbangan natrium, tetapi juga di dokumentasikan

adanya mutasi-mutasi genetik yang merubah ekskresi kallikrein urine, pelepasan

nitric oxide, ekskresi aldosteron, steroid adrenal, dan angiotensinogen.

b. Hipertensi sekunder

Kurang dari 10% penderita hipertensi merupakan sekunder dari penyakit

komorbid atau obat-obat tertentu yang dapat meningkatkan tekanan darah (lihat tabel

1). Pada kebanyakan kasus, disfungsi renal akibat penyakit ginjal kronis atau penyakit

renovaskular adalah penyebab sekunder yang paling sering.

2.1.3 Klasifikasi Tekanan Darah

Tekanan darah
Klasifikasi Tekanan Tekanan darah
diastolik
Darah sistolik mm/Hg
mm/Hg
Normal <120 Dan <80
Prehipertensi 120-139 atau 80-89
Hipertensi stage 1 140-159 Atau 90-99
Hipertensi stage 2 >160 atau >100
Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah

Klasifikasi tekanan darah untuk pasien dewasa (umur ≥ 18 tahun) berdasarkan

rata-rata pengukuran dua tekanan darah atau lebih pada dua atau lebih kunjungan

klinis2 (Tabel 2). Klasifikasi tekanan darah mencakup 4 kategori, dengan nilai normal
8
pada tekanan darah sistolik (TDS) < 120 mm Hg dan tekanan darah diastolik (TDD)

< 80 mm Hg. Prehipertensi tidak dianggap sebagai kategori penyakit tetapi

mengidentifikasi pasien-pasien yang tekanan darahnya cendrung meningkat ke

klasifikasi hipertensi dimasa yang akan datang. Ada dua tingkat (stage) hipertensi ,

dan semua pasien pada kategori ini harus diberi terapi obat (Smeltzer, 2012).

Krisis hipertensi merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai oleh tekanan

darah yang sangat tinggi yang kemungkinan dapat menimbulkan atau telah terjadinya

kelainan organ target. Biasanya ditandai oleh tekanan darah >180/120 mmHg;

dikategotikan sebagai hipertensi emergensi atau hipertensi urgensi.8 Pada hipertensi

emergensi tekanan darah meningkat ekstrim disertai dengan kerusakan organ target

akut yang bersifat progresif, sehingga tekanan darah harus diturunkan segera (dalam

hitungan menit – jam) untuk mencegah kerusakan organ target lebih lanjut. Contoh

gangguan organ target akut: encephalopathy, pendarahan intrakranial, gagal ventrikel

kiri akut disertai edema paru, dissecting aortic aneurysm, angina pectoris tidak stabil,

dan eklampsia atau hipertensi berat selama kehamilan (Smeltzer, 2012).

Hipertensi urgensi adalah tingginya tekanan darah tanpa disertai kerusakan

organ target yang progresif. Tekanan darah diturunkan dengan obat antihipertensi oral

ke nilai tekanan darah pada tingkat 1 dalam waktu beberapa jam s/d beberap hari

(Smeltzer, 2012).

2.1.4 Manifestasi Klinis

9
Pada pemeriksaan fisik, mungkin tidak dijumpai kelainan apapun selain

tekanan darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti

perdarahan, eksudat (kumpulan cairan), penyempitan pembuluh darah, dan pada

kasus berat edema pupil (edema pada diskus optikus ) (Brunner & Suddart, 2015).

Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakkan gejala sampai

bertahun – tahun.Gejala, bila ada, biasanya menunjukkan adanya kerusakan vaskuler,

dengan manifestasi yang khas sesuai system organ yang divaskularisasi oleh

pembuluh darah bersangkutan.Penyakit arteri koroner dengan angina adalah gejala

yang paling menyertai hipertensi.Hipertrofi ventrikel kiri terjadi sebagai respons

peningkatan beban kerja ventrikel saat dipaksa berkontraksi melawan tekana sistemik

yang menigkat.Apabila jantung tidak mampu lagi menahan peningkatan beban kerja,

maka dapat terjadi gagal jantung kiri (Brunner & Suddart, 2015).

Crowin (2000) dalam Wijaya & Putri (2013), menyebutkan bahwa sebagian

besar gejala klinis timbul :

a. Nyeri kepala saat terjaga, kadang – kadang disertai mual dan muntah akibat

peningkatan tekana intracranial.

b. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi.

c. Ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat,

d. Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus.

e. Edama dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler.

2.1.5 Patofisiologi Hipertensi

10
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak

dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf

simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla
Obesitas
spinalisUmur
ganglia simpatis diJenis dan abdomen. Gaya
kelamin
toraks hidup
Rangsangan pusat vasomotor

dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf
Elastisitas menurun

simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan


HIPERTENSI
asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah,
Kerusakan vaskuler pembuluh darah
dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh

darah. Medulla adrenal Perubahan struktur


mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi.

Vasokonstriksi yangPenyumbatan pembuluhpenurunan


mengakibatkan darah aliran ke ginjal, menyebabkan

pelepasan rennin. Renin merangsang


vasokonstriksi pembentukan angiotensin I yang kemudian

diubah menjadi angiotensin II, suatu


Gangguan sirkulasivasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya

merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan

Otak
retensi natrium dan air oleh tubulusGinjal Pembuluh darah
ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra Retina

Resistensivaskuler.
pembuluh Semua faktor
Suplai ini cenderung
O2 otak mencetuskan
Vasokonstriksi keadaan hipertensi (Padila,2013).
Sistemik Koroner Spasme
darah otak meningkat menurun pembuluh darah arteriole
ginjal
vasokonstriksi Iskemi
Nyeri kepala Gangg. Sinkop miocard Diplopis
Blood flow
Pola tidur Afterload
menurun
meningkat Nyeri dada
Resti injury
Gangguan
Respon RAA
perfusi jaringan
Penurunan
Rangsang curah Fatique
aldosteron jantung
2.1.6 Pathway
Intoleransi
Retensi Na 11
aktifitas

Edema

Kelebihan
volume cairan
(Sumber: Nic Noc, 2015)

2.1.7 Faktor-Faktor Resiko Hipertensi

12

Blood flow
Sinkop Respon RAA
menurun
Faktor-faktor resiko hipertensi yang tidak dapat diubah dan yang dapat diubah

oleh penderita hipertensi menurut Black & Hawks (2014) adalah sebagai berikut :

1. Faktor-faktor resiko yang tidak dapat diubah

1) Riwayat keluarga

Hipertensi dianggap poligenik dan multifaktorial yaitu, pada seseorang

dengan riwayat keluarga, beberapa gen berinteraksi dengan yang lainnya

dan juga lingkungan yang dapat menyebabkan tekanan darah naik dari

waktu ke waktu. Klien dengan orang tua yang memiliki hipertensi berada

pada risiko hipertensi yang lebih tinggi pada usia muda.

2) Usia

Hipertensi primer biasanya muncul antara usia 30-50 tahun. Peristiwa

hipertensi meningkat dengan usia 50-60 % klien yang berumur lebih dari

60 tahun memiliki tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg. Diantara

orang dewasa, pembacaan tekanan darah sistolik lebih dari pada tekanan

darah diastolic karena merupakan predictor yang lebih

baik untuk kemungkinan kejadian dimasa depan seperti penyakit jantung

koroner, stroke, gagal jantung, dan penyakit ginjal.

3) Jenis kelamin

13
Hipertensi lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan wanita sampai

kira-kira usia 55 tahun. Resiko pada pria dan wanita hamper sama antara

usia 55 sampai 74 tahun, wanita beresiko lebih besar.

4) Etnis

Peningkatan pravelensi hipertensi diantara orang berkulit hitam tidaklah

jelas, akan tetapi penigkatannya dikaitkan dengan kadar rennin yang lebih

rendah, sensitivitas yang lebih besar terhadap vasopressin, tinginya

asupan garam, dan tinggi stress lingkungan. Baik untuk kemungkinan

kejadian dimasa depan seperti penyakit jantung koroner, stroke, gagal

jantung, dan penyakit ginjal.

2. Faktor-faktor resiko yang dapat diubah


1) Diabetes mellitus
Hipertensi telah terbukti terjadi lebih dua kali lipat pada klien diabetes
mellitus karena diabetes mempercepat aterosklerosis dan menyebabkan
hipertensi karena kerusakan pada pembuluh darah besar.
2) Stress
Stress meningkat resistensi vaskuler perifer dan curah jantung serta
menstimulasi aktivitas saraf simpatis. Stress adalah permasalahan
persepsi, interpretasi orang terhadap kejadian yang menciptakan banyak
stressor dan respon stress.
3) Obesitas
Obesitas terutama pada tubuh bagian atas, dengan meningkatnya jumlah
lemak disekitar diafragma, pinggang dan perut, dihubungkan dengan
pengembangan hipertensi. Kombinasi obesitas dengan faktor- faktor lain

14
dapat ditandai dengan sindrom metabolis, yang juga meningkatkan
resiko hipertensi.
4) Nutrisi
Kelebihan mengosumsi garam bias menjadi pencetus hipertensi pada
individu. Diet tinggi garam menyebabkan pelepasan hormone natriuretik
yang berlebihan, yang mungkin secara tidak langsung menigkatkan
tekanan darah. Muatan natrium juga menstimulasi
2.1.8 Komplikasi

Hipertensi yang tidak ditanggulangi dalam jangka panjang akan menyebabkan

kerusakan arteri didalam tubuh sampai organ yang mendapat suplai darah dari arteri

tersebut. Komplikasi hipertensi dapat terjadi pada organ-organ tubuh menurut Wijaya

& Putri (2013), sebagai berikut :

1. Jantung

Hipertensi dapat menyebab terjadinya gagal jantung dan penyakit jantung

koroner. Pada penderita hipertensi, beban kerja jantung akan meningkat, otot

jantung akan mengendor dan berkurang elastisitasnya, yang disebut

dekompensasi. Akibatnya, jantung tidak lagi mampu memompa sehingga

banyaknya cairang yang tetahan diparu maupun jaringan tubuh lain yang

dapat menyebabkan sesak nafas atau oedema. Kondisi ini disebut gagal

jantung.

2. Otak
15
Komplikasi hipertensi pada otak, menimbulkan resiko stroke, apabila tidak

diobati resiko terkena stroke 7 kali lebih besar.

3. Ginjal

Hipertensi juga menyebabkan kerusakan ginjal, hipertensi dapat menyebabkan

kerusakan system penyaringan didalam ginjal akibat lambat laun ginjal tidak

mampu membuang zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh yang masuk melalui

aliran darah dan terjadi penumpukan di dalam tubuh.

4. Mata

Hipertensi dapat mengakibatkan terjadinya retinopati hipertensi dan dapat

menimbulkan kebutaan.

2.1.9 Penatalaksanaan

Tujuan tiap program penanganan bagi setiap pasien adalah mencegah

terjadinya morbiditas dan mortalitas penyerta dengan mencapai dan mempertahankan

tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. Efektivitas setiap program ditentukan oleh

derajat hipertensi, komplikasi, biaya perawatan dan kualitas hidup sehubungan

dengan terapi (Brunner & Suddart, 2015).

a. Terapi nonfamakologis

Wijaya & Putri (2013), menjelaskan bahwa penatalaksanaan non

farmakologis terdiri dari berbagai macam cara modifikasi gaya hidup sangat

penting dalam mencegah tekanan darah tinggi. Penatalaksanaan hipertensi

dengan non farmakologis terdiri dari berbagai macam cara modifikasi gaya

16
hidup untuk menurunkan tekanan darah yaitu :

1) Mempertahankan berat badan ideal

Radmarsarry, (2007) dalam Wijaya & Putri (2013), mengatasi obesitas juga

dapat dilakukan dengan melakukan diet rendah kolesterol namun kaya

dengan serat dan protein, dan jika berhasil menurunkan berat badan 2,5 – 5

kg maka tekanan darah diastolik dapat diturunkan sebanyak 5 mmHg.

2) Kurangi asupan natrium

Radmarsarry (2007) dalam Wijaya & Putri (2013), penguramgan konsumsi

garam menjadi ½ sendok the/hari dapat menurunkan tekanan sistolik

sebanyak 5 mmHg dan tekanan diastolic sebanyak 2,5 mmHg.

3) Batasi konsumsi alkohol

Radmarsarry (2007) dalam Wijaya & Putri (2013), konsumsi alkohol harus

dibatasi karena konsumsi alcohol berlebihan dapat meningkatkan tekanan

darah.Para peminum berat mempunyai resiko mengalami hipertensi empat

kali lebih besar dari pada mereka yang tidak meminum berakohol.

4) Diet yang mengandung kalium dan kalsium

Kaplan, (2006) dalam Wijaya & Putri (2013), Pertahankan asupan diet

potassium ( >90 mmol (3500 mg)/hari) dengan cara konsumsi diet tinggi

buah dan sayur seperti : pisang, alpukat, papaya, jeruk, apel kacang-

kacangan, kentang dan diet rendah lemak dengan cara mengurangi asupan

lemak jenuh dan lemat total. Sedangkan menurut Radmarsarry (2007) dalam

17
Wijaya & Putri (2013), kalium dapat menurunkan tekanan darah dengan

meningkatkan jumlah natrium yang terbuang bersama urin.Dengan

mengonsumsi buah-buahan sebanyak 3- 5 kali dalam sehari, seseorang bisa

mencapai asupan potassium yamg cukup.

5) Menghindari merokok

Dalimartha (2008) dalam Wijaya & Putri (2013), merokok memang tidak

berhubungan secara langsung dengan timbulnya hipertensi, tetapi merokok

dapat menimbulkan resiko komplikasi pada pasien hipertensi seperti penyakit

jantung dan stroke, maka perlu dihindari rokok karena dapat memperberat

hipertensi.

6) Penurunan Stress

Sheps (2005) dalam Wijaya & Putri ( 2013), stress memang tidak

menyebabkan hipertensi yang menetap namun jika episode stress sering

terjadi dapat menyebabkan kenaikan sementara yang sangat tinggi.

7) Terapi pijat

Dalimartha (2008) dalam Wijaya & Putri (2013), pada prinsipnya pijat yang

dikukan pada penderita hipertensi adalah untuk memperlancar aliran energy

dalam tubuh sehingga gangguan hipertensi dan komplikasinya dapat

diminalisir, ketika semua jalur energi tidak terhalang oleh ketegangan otot.

b. Terapi farmakologis

18
Penatalaksanaan farmakologis menurut Saferi & Mariza (2013) merupakan

penanganan menggunakan obat-obatan, antara lain :

1) Diuretik (Hidroklorotiazid)

Diuretik bekerja dengan cara megeluarkan cairan berlebih dalam tubuh

sehingga daya pompa jantung menjadi lebih ringan.

2) Penghambat simpatetik (Metildopa, Klonidin dan Reserpin)

Obat-obatan jenis penghambat simpatetik berfungsi untuk menghambat

aktifitas saraf simpatis.

3) Betabloker (Metoprolol, propanolol dan atenolol)

Fungsi dari obat jenis betabloker adalah untuk menurunkan daya pompa

jantung, dengan kontraindikasi pada penderita yang mengalami gangguan

pernafasan seperti asma bronkhial.

4) Vasodilator (Prasosin, Hidralisin)

Vasodilator bekerja secara langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi

otot polos pembuluh darah.

5) Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibitor (Captopril)

Fungsi utama adalah untuk menghambat pembentukan zat angiotensin II

dengan efek samping penderita hipertensi akan mengalami batuk kering,

pusing, sakit kepala dan lemas.

6) Penghambat angiotensin II (Valsartan)

19
Daya pompa jantung akan lebih ringan ketika jenis obat-obat penghambat

reseptor angiotensin II diberikan karena akan menghalangi penempelan zat

angiotensin II pada resptor.

7) Angiotensin kalsium (Diltiasem dan Verapamil)

Kontraksi jantung (kontraktilitas) akan terhambat.

2.1.10 Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri (akut), sakit kepala berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga

merawat anggota keluarga yang sakit hipertensi.

2. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakmampuan

keluarga mengenal masalah hipertensi.

3. Resiko injury (jatuh) berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga

mengenal penyakit hipertensi.

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat

anggota keluarga yang sakit.

5. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga

merawat anggota keluarga yang sakit hipertensi.

2.1.11 Intervensi Keperawatan

20
NO DIAGNOSA TUJUAN DAN INTERVENSI
KEPERAWATAN KRITERIA HASIL
1 Nyeri (akut), sakit Tujuan umum : nyeri 1) Ajarkan keluarga cara
kepala berhubungan hilang. perawatan bagi penderita
dengan hipertensi khususnya yang
ketidakmampuan Tujuan khusus: keluarga mempunyai nyeri.
keluarga merawat mampu merawat anggota 2) Gunakan teknik dan
anggota keluarga yang keluarga yang sakit peralatan yang diketahui
sakit hipertensi. hipertensi. atau yang ada dirumah untuk
membantu perawatan nyeri.
3) Ajarkan teknik relaksasi
bagi keluarga yang
menderita hipertensi.
4) Pantau keluarga dalam
melakukan perawatan nyeri.

2 Resiko penurunan Tujuan umum : keluarga 1) Berikan lingkungan


curah jantung mampu berpartisipasi yang tenang, nyaman,
berhubungan dengan dalam aktifitas yang kurangi aktifitas/ keributan
ketidakmampuan menurunkan tekanan lingkungan.
keluarga mengenal darah atau beban kerja 2) Pertahankan pembatasan
masalah hipertensi . jantung. aktifitas, seperti istirahat
ditempat tidur/kursi.
Tujuan khusus : keluarga 3) Lakukan tindakan tindakan
mampu mengenal yang nyaman, seperti pijatan
hipertensi khususnya punggung dan leher,
untuk mempertahankan meninggikan kepala di tempat
tekanan darah dalam tidur.
rentang individu yang 4) Anjurkan teknik relaksasi,
dapat diterima. panduan imajinasi, aktifitas
pengalihan.

3 Resiko injury (jatuh) Tujuan umum : 1) Beri informasi tentang


berhubungan dengan keluarga mampu mencegah pengertian, penyebab, tanda
ketidakmampuan resiko injury (jatuh). gejala dan perawatan
keluarga mengenal hipertensi.
penyakit hipertensi. Tujuan khusus: 2) Kaji ulang visus klien,
keluarga mampu mengenal tanyakan keluhan terhadap
hipertensi khususnya pada pandangan kabur.
masalah resiko injury 3) Dorong sikap emosi yang
(jatuh). sehat dalam menghadapi
penyakit hipertensi.
4) Pantau keluarga dalam
melakukan perawatan dalam
mengatasi masalah hipertensi.

4 Intoleransi aktifitas Tujuan Umum : agar tidak 1) Ajarkan keluarga cara


berhubungan dengan terjadi intoleransi aktivitas. perawatan bagi penderita
ketidakmampuan hipertensi khususnya yang
21
keluarga merawat Tujuan Khusus : keluarga mempunyai masalah
anggota keluarga yang mampu merawat anggota intoleransi aktivitas.
sakit hipertensi. keluarga yang sakit 2) Gunakan teknik dan peralatan
hipertensi. yang ada dirumah untuk
membantu perawatan
intoleransi aktivitas.
3) Pantau keluarga dalam
melakukan perawatan dalam
mengatasi masalah intoleransi
aktivitas.
4) Instruksikan dan bantu
memilih makanan yang tepat,
hindari makanan dengan
kejenuhan lemak tinggi,
5 Kelebihan volume Tujuan Umum : 1) Ajarkan keluarga cara
cairan berhubungan volume cairan kembali perawatan bagi penderita
dengan normal. hipertensi khususnya yang
ketidakmampuan mempunyai masalah
keluarga merawat Tujuan Khusus : intoleransi aktivitas.
anggota keluarga keluarga mampu merawat 2) Gunakan teknik dan peralatan
yang sakit anggota keluarga yang yang ada dirumah untuk
hipertensi . sakit hipertensi. membantu perawatan
intoleransi aktivitas.
3) Pantau keluarga dalam
melakukan perawatan dalam
mengatasi masalah intoleransi
aktivitas.

2.2 Progressive Muscle Relaxation (PMR)

Teknik relaksasi otot progresif adalah memusatkan perhatian pada suatu

aktivitas otot, dengan mengidentifikasikan otot yang tegang kemudian menurunkan

ketegangan dengan melakukan teknik relaksasi untuk mendapatkan perasaan relaks

(Purwanto, 2013 dalam Tyani. Dkk, 2015). Respon relaksasi merupakan bagian dari

penurunan umum kognitif, fisiologis, dan stimulasi perilaku. Relaksasi dapat

merangsang munculnya zat kimia yang mirip dengan beta blocker di saraf tepi yang

dapat menutup simpul-simpul saraf simpatis yang berguna untuk mengurangi

22
ketegangan dan menurunkan tekanan darah (Hartono, 2007 dalam Tyani E.S. Dkk,

2015).

Progressive Muscle Relaxation (PMR) merupakan salah satu bentuk terapi

relaksasi dengan gerakan mengencangkan dan merelaksasikan otot–otot satu bagian

tubuh pada satu waktu untuk mendapatkan kontrol atas kecemasan yang merangsang

pikiran dan ketegangan otot (Keliat & Pasaribu, 2016 dalam Tyani E.S. Dkk, 2015).

Latihan relaksasi otot progresif memberikan dampak yang signifikan dalam

menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi esensial atau primer. Relaksasi

otot progresif bertujuan untuk menurunkan kecemasan, stres, otot tegang dan

kesulitan tidur. Pada saat tubuh dan pikiran rileks, secara otomatis ketegangan yang

seringkali membuat otot-otot mengencang akan diabaikan (Ramdhani & Putra 2009

dalam Tyani E.S. Dkk, 2015).

Relaksasi pada dasarnya berhubungan dengan sistem kerja saraf manusia,

yang terdiri dari sistem saraf pusat dan sistem saraf otonom (saraf simpatis dan saraf

parasimpatis). Menurut Murti (2011) keadaan rileks mampu menstimulasi tubuh

untuk memproduksi molekul yang disebut oksida nitrat (NO). Molekul ini bekerja

pada tonus pembuluh darah sehingga dapat mengurangi tekanan darah.

Relaksasi otot progresif dapat meningkatkan relaksasi dengan menurunkan

aktivitas saraf simpatis dan meningkatkan aktivitas saraf parasimpatis sehingga

terjadi vasodilatasi diameter arteriol. Sistem saraf parasimpatis melepaskan

neurotransmiter asetilkolin untuk menghambat aktivitas saraf simpatis dengan

23
menurunkan kontraktilitas otot jantung, vasodilatasi arteriol dan vena kemudian

menurunkan tekanan darah (Muttaqin, 2009).

Relaksasi otot progresif dilakukan dengan cara meregangkan dan merilekskan

otot secara sadar. Pada saat otot berkontraksi suatu impuls saraf tiba pada akson

terminal, terjadi pelepasan asetilkolin yang akan berdisfusi menyeberang sinaps.

Asetilkolin membuat sarkolema lebih permeabel terhadap ion Na+, yang akan segera

masuk kedalam sel. Sarkolema mengalami depolarisasi, menjadi bermuatan positif di

dalam dan bermuatan negatif diluar. Depolarisasi menstimulasi pelepasan ion Ca2+

dari retikulum sarkoplasma, ion Ca2+ akan terikat dengan kompleks troponin-

tropomiosin, yang akan menyebabkannya bergeser menjauh dari filamen aktin.

Miosin memecah ATP untuk melepaskan energinya, jembatan pada miosin kemudian

melekat pada filamen aktin dan menariknya menuju ketengah sarkomer, yang akan

menyebabkan sarkomer menjadi lebih pendek. Seluruh sarkomer pada serabut otot

akan memendek sehingga terjadi kontraksi pada seluruh serabut otot. Pada saat

sarkolema mengalami repolarisasi kembali, ion K+ meninggalkan sel,

mengembalikan muatan positif diluar sel dan muatan negatif di dalam sel. Pompa ini

kemudian akan mngembalikan ion Na+ keluar dan ion K+ ke dalam sel. Kolineterase

dalam sarkolema akan menonaktifkan asetilkolin. Kemudian, impuls saraf akan

memperpanjang kontraksi (asetilkolin dilepaskan lebih banyak). Apabila sudah tidak

ada impuls lagi, serabut otot akan relaksasi dan kembali kepanjangnya semula

(Scanlon & Sanders, 2007 dalam Tyani E.S. Dkk, 2015)

24
Asetilkolin membantu mengatur memori di otak dan memepengaruhi tindakan

otot rangka dan otot polos di sistem saraf perifer. Neurotransmitter asetilkolin yang

dibebaskankan oleh neuron kedinding pembuluh darah akan merangsang sel-sel

endothelium pada pembuluh tersebut untuk mensintesis dan memebebaskan NO, NO

akan memberikan sinyal kepada sel-sel otot polos disekitarnya untuk berelaksasi,

sehingga pembuluh berdilatasi (membesar) (Aaronson & Ward, 2008).

Relaksasi otot progresif dapat memicu aktivitas memompa jantung berkurang

dan arteri mengalami pelebaran, sehingga banyak cairan yang keluar dari sirkulasi

peredaran darah. Hal tersebut akan mengurangi beban kerja jantung karena pada

penderita hipertensi mempunyai denyut jantung yang lebih cepat untuk memompa

darah akibat dari peningkatan darah (Ramdhani & Putra, 2009). Setelah mengalami

relaksasi maka aktivitas memompa jantung berkurang, arteri mengalami pelebaran,

dan banyak cairan keluar dari sirkulasi.

Synder dan Lynquist (2002) menegaskan bahwa dengan melakukan terapi

PMR maka akan dapat memberikan dampak langsung pada respon fisik sehingga

kemampuan relaksasi pasien dapat meningkat. Prosedur terapi PMR bertujuan untuk

mendapatkan kondisi relaks pada otot melalui dua langkah, yakni dengan

memberikan tegangan pada suatu kelompok otot, dan dengan menghentikan tegangan

tersebut kemudian memusatkan perhatian terhadap bagaimana otot tersebut menjadi

relaks, merasakan sensasi relaks secara fisik sehingga ketegangan yang dirasakan

menghilang (Richmond, 2007). Keadaan otot yang rileks akan menyebarkan stimulus

25
ke hipotalamus sehingga akan menekan sistem saraf simpatis sehingga terjadi

penurunan produksi hormon epinefrin dan norepinefrin. Penurunan hormone tersebut

akan menyebabkan penurunan kecepatan denyut jantung, volume sekuncup juga akan

menurun, serta terjadi vasodilatasi arteriol dan venula. Selain itu curah jantung,

resistensi perifer total juga menurun sehingga tekanan darah juga akan turun.

Modifikasi gaya hidup dan teknik relaksasi dapat menormalkan tekanan darah pada

klien dengan hipertensi (Black & Hawk, 2005 dalam Tyani. E.S Dkk, 2015).

RELAKSASI OTOT
PROGRESIF

Meningkatkan
relaksasi

Menurunkan aktifitas meningkatkan aktifitas


saraf simpatis saraf parasimpatis

Melepaskan
neurotransmiter
asetilkolin

Menghambat aktifitas
saraf simpatis

2.3 Skema Progressive Muscle Relaxation


Menurunkan
kontraktilitas otot vasodilatasi arteriol
jantung dan vena

26

MENURUNKAN
TEKANAN DARAH
(Muttaqin, 2009 dalam Tyani. E.S Dkk, 2015)

2.4 Hasil Penelitian (Jurnal)

Tabel 2.3 Hasil Penelitian Jurnal

Keterangan Jurnal 1 Jurnal 2 Jurnal 3


27
Progressive Muscle Relaxation Pengaruh Progressive Efektifitas
(PMR) terhadap penurunan Muscle Relaxation Progressive Muscle
tekanan darah pada lansia terhadap penurunan Relaxation (PMR)
Hipertensi di Panti Sosial tekanan darah pada terhadap penurunan
Tresna Werdha Palembang peserta prolanis. tekanan darah pada
Judul Provinsi Sumatera Selatan peserta penderita
Tahun 2018 Hipertensi

(Akhriyansyah. M, 2018) (Rusnoto. Dkk, 2016)


(Rahmawati. Dkk,
2018)
Desain pre-
Quasy Experimental Pre-test Quasi Experimen eksperiment dengan
post test with control grup. dengan pre test dan post rancangan one group
Metode test two group. pre test post test
dengan menggunakan
consecutive sampling.

Hasil penelitian menunjukkan Tekanan darah sistolik Terdapat petbedaan


bahwa rata-rata tekanan darah 0,0001 dan diastolic yang signifikan pada
sistolik dan diastolic lansia pada 0,0002 ( <0,05) yang tekanan darah baik
kelompok yang mendapat berarti terdapat sistol dan diastole
intervensi terapi PMR pengaruh terapi responden sebelum
Hasil mengalami penurunan lebih Pengaruh Progressive dan sesudah diberikan
besar secara bermakna Muscle terhadap terapi PMR.
dibandingkan dengan kelompok penurunan tekanan
control. darah di Puskesmas
Welahan I Jepara
Tahun 2016.
Pemberian terapi Progressive Ada pengaruh terapi terapi Progressive
Muscle Relaxation (PMR) Progressive Muscle Muscle Relaxation
menurunkan tekanan darah terhadap penurunan signifikan menurunkan
sistolik dan diastolik secara tekanan darah di tekanan darah pada
bermakna dari tingkat hipertensi Puskesmas Welahan I penderita hipertensi
derajat 1 menjadi tingkat Jepara Tahun 2016. sehingga terapi ini
Kesimpulan
prehipertensi. dapat dijadikan salah
satu alternative terapi
sebagai terapi non
farmakologis dalam
menurunkan tenkanan
darah.

2.5 SPO Terapi Progressive Muscle Relaxation

Tabel 2.4 Terapi Progressive Muscle Relaxation

SPO (STANDAR SPO TERAPI PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION


PROSEDUR UNTUK MENGATASI MENURUNKAN TEKANAN
28
OPRASIONAL) DARAH
Progressive Muscle Relaxation (PMR) merupakan salah satu
bentuk terapi relaksasi dengan gerakan mengencangkan dan
merelaksasikan otot–otot satu bagian tubuh pada satu waktu untuk
Pengertian
mendapatkan kontrol atas kecemasan yang merangsang pikiran
dan ketegangan otot (Keliat & Pasaribu, 2016 dalam Tyani E.S.
Dkk, 2015).
Menurunkan ketegangan otot, kecemasan nyeri leher, sakit kepala,
sakit punggung, frekuensi jantung, frekuensi pernapasan laju
metabolic, menurunkan denyut nadi, menurunkan tekanan darah
Tujuan
sistolik dan diastolic serta mengurangi stress pada lansia,
menurunkan kecemasan dan depresi dengan meningkatkan control
diri (Ramdhani & Putra 2009 dalam Tyani E.S. Dkk, 2015).
Relaksasi otot progresif dapat memicu aktivitas memompa jantung
berkurang dan arteri mengalami pelebaran, sehingga banyak cairan
yang keluar dari sirkulasi peredaran darah. Hal tersebut akan
mengurangi beban kerja jantung karena pada penderita hipertensi
mempunyai denyut jantung yang lebih cepat untuk memompa
Manfaat
darah akibat dari peningkatan darah. Setelah mengalami relaksasi
maka aktivitas memompa jantung berkurang, arteri mengalami
pelebaran, dan banyak cairan keluar dari sirkulasi. (Ramdhani &
Putra, 2009 dalam Rahmawati. Dkk, 2018)

 Manajemen stres dan ansietas dengan menentukan tanda


dan gejala ansietas.
 Manajemen nyeri pada gangguan fisik dengan
Indikasi meningkatkan betha endorpin dan berfungsi meningkatkan
imun seluler
 Manajemen insomnia dengan menurunkan gelombang alpa
otak.
 Cidera akut atau ketidaknyamanan muskuloskeletal,
Kontra Indikasi infeksi, inflamsi, dan penyakit berat atau akut.
 PMR tidak dilakukan pada otot yang sakit.
Prosedur a. Alat & Bahan
 Tensi Meter
 Musik terapi.
 Diri terapis dan kemampuan untuk dapat melakukan
PMR.
 Tempat duduk atau tempat tidur
 Leaflet.
 Lembar balik

b. Langkah-Langkah
 PMR atau relaksasi otot progresif merupakan kontraksi

29
dan relaksasi berbagai kelompok otot mulai dari kaki
atas atau dari kepala kearah bawah
 Pelaksanaan terapi diberikan 2 kali setiap hari selama 2
hari berturut-turut dan total pelaksanaan adalah
sebanyak 4 kali.
 Pelaksanaan gerakan PMR terdiri dari 14 gerakan
seperti yang dikembangkan Supriati (2010)
 Pertemuan pertama terapis melakukan role play terlebih
dulu dan bimbingan kepada reponden/ konseli sampai
konseli memahami dan mampu melakukan 14 gerakan
dalam PMR.
 Setiap gerakan terdiri dari role model, role play,
feedback dan transfer training. Pertemuan kedua sampai
keempat, terapais tidak melakukan secara langsung,
tetapi reponden/konseli mengikuti gerakan terapi dengan
panduan Video Petunjuk yang sudah disiapkan oleh
terapis.

30