Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

IMPLEMENTASI METODE PPTQ SAFINDA


DALAM MENERJEMAH Al-QUR’AN

Dosen pengampung :

Fathiyaturrahmah, M. Ag

Disusun oleh :
 Husnul Hotimah Nuraini (T20181308)
 Maula Putri Min Ayatillah (T20181318)
 Lailatul qomariah (T20181342)
 Siti Humairoh (T20181346)

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER
TAHUN 2019/ 2020
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya
yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Implementasi Metode PPTQ Savinda
dalam Menerjemah al-Quran”. Atas dukungan moral dan materi yang diberikan
dalam meyusun makalah ini, maka kami mengucap banyak terima kasih.

Harapan kami, semoga makalah ini dapat membantu serta bermanfaat dan
memberikan inspirasi bagi para pembaca. Semoga dengan membaca makalah ini
pembaca dapat menambah pengetahuan atau memperbaiki isi makalah ini agar
menjadi lebih baik.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman, kami menyadari bahwa


makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik dari dosen
dan teman-teman sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan makalah ini.

Jember, 17 Maret 2020

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i

KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii

DAFTAR ISI ................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ................................................................................................. 4


B. Rumusan Masalah ............................................................................................ 5
C. Tujuan .............................................................................................................. 6

BAB II PEMBAHASAN

A. Metode Terjemah Al- Qur’an........................................................................... 7-9


B. Metode Penelitian ............................................................................................9-12

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ...................................................................................................... 13
B. Saran ................................................................................................................ 13

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 15

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mempelajari al-Quran tidak cukup hanya membaca saja, tetapi juga harus
memahami dan mentadabburi makna dari yang telah dibaca tersebut. Mempelajari
al-Qur’an membutuhkan metode untuk bisa memahaminya. Salah satu metode
yang diteliti oleh peneliti yakni metode PPTQ Safinda.

PPTQ Safinda (Program Pelatihan Terjemah al-Qur’an Safinda) merupakan suatu


program pelatihan terjemah al-Qur’an yang dikembangkan oleh pondok pesantren
Safinatul Huda Surabaya. Metode ini menggunakan cara menerjemahkan ayat al-
Qur’an kata per kata lalu merangkainya menjadikan satu kalimat, maka makna al-
Qur’an tersebut akan terasa jauh lebih mendalam.

Metode PPTQ Safinda ini bisa diajarkan sejak anak usia dini, sesungguhnya jika
usia dini sudah lancar membaca al-Qur’an dan mulai mempelajari maknanya serta
menanamkan kepada dirinya sendiri bahwa al-Qur’an adalah bacaan, lafadz dan
makna, maka akan terbentuk generasi Qur’ani.

Alasan dipilihnya metode PPTQ Safinda ini disebabkan karena materi dalam mata
pelajaran terjemah al-Qur’an mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi.
Selain itu metode PPTQ Safinda adalah model pembelajaran kooperatif yang
sangat sederhana sehingga cocok digunakan untuk mengaplikasikan dalam mata
pelajaran terjemah al- Qur‟an. Metode ini tidak hanya mempelajari makna dari
ayat al-Qur‟an saja akan tetapi mempelajari ilmu nahwu dan ilmu sharaf.

Metode PPTQ Safinda merupakan Program Pelatihan Terjemah al-Qur’an yakni


metode yang mempelajari terjemah al-Qur’an sekaligus tata bahasanya
langsung dari bahasa arabnya dengan cara sederhana, mudah dan praktis.

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Metode Terjemah al-Qur’an.

Secara etimologi, istilah metode berasal dari bahasa Yunani “metodos”. Kata
ini terdiri dari dua suku kata: yaitu “metha” yang berarti melalaui atau melewati
dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui
untuk mencapai tujuan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia “metode” adalah:
“Cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud ”.

Sementara menurut Surakhmat yang dikutip oleh Ahmad Tafsir, metode ialah
cara yang paling tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu.8 Kata “tepat” dan
“cepat” inilah yang sering diungkapkan dalam perkataan “efektif” dan “efisien”.

Secara umum atau luas metode atau metodik berarti ilmu tentang jalan yang
dilalui untuk mengajar kepada anak didik supaya dapat tercapai tujuan belajar dan
mengajar. Prof. Dr.Winarno Surachmad mengatakan bahwa metode mengajar
adalah cara-cara pelaksanaan dari pada murid-murid di sekolah. Pasaribu dan
Simanjutak mengatakan bahwa metode adalah cara sistematik yang digunakan
untuk mencapai tujuan.

Metode adalah prosedur atau cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan
tertentu. Kemudian ada satu istilah lain yang erat kaitannya dengan dua istilah ini,
yakni teknik yaitu cara yang spesifik dalam memecahkan masalah tertentu yang
ditemukan dalam melaksanakan prosedur.

“Bagi segala sesuatu itu ada metodenya, dan metode masuk surga adalah ilmu”
(HR. Dailami)

5
1. Gambaran Umum Terjemah al-Qur’an
a. Pengertian dan Pembagiannya

Sudah menjadi keinginan setiap manusia baik muslim ataupun non muslim
untuk mengetahui apa yang terkandung dalam al-Qur’an, sementara al-Quran
turun dalam bahasa Arab (Qur’anan ‘arobiyyan), padahal tidak semua orang dapat
mengerti apalagi menguasai bahasa Arab, maka dengan alasan itulah
penerjemahan al-Quran sangat dibutuhkan hingga ke dalam berbagai bahasa di
dunia.

Terjemah menurut bahasa adalah salinan dari satu bahasa ke bahasa lain atau
mengganti, menyalin, memindahkan kalimat dari satu bahasa ke bahasa
lain.Sedangkan yang dimaksud dengan terjemah al-Qur’an adalah seperti yang
dikemukakan oleh Ash-Shabuni memindahkan al-Qur’an ke bahasa lain yang
bukan bahasa arab dan mencetak terjemah dalam beberapanaskah untuk dibaca
orang yang tidak mengerti bahasa arab, sehingga ia dapat memahami kitab Allah.

Kata Tarjamah, yang dalam bahasa Indonesianya biasa kita sebut dengan
Terjemah, secara etimologi mempunyai beberapa arti:

1) Menyampaikan suatu ungkapan pada orang yang tidak tahu.


2) Menafsirkan sebuah ucapan dengan ungkapan dari bahasa yang sama.
3) Menafsirkan ungkapan dengan bahasa lain.
4) Memindah atau mengganti suatu ungkapan dalam suatu bahasa ke dalam
bahasa yang lain, dan pengertian yang keempat ini, yang akan kita bahas
lebih lanjut, mengingat pengertian inilah yang biasa dipahami oleh banyak
orang (‘Urf), dari kata Tarjamah.
b. Perbedaan antara Tarjemah Tafsiriyah dan Tafsir

Ada beberapa titik perbedaan antara Tarjamah Tafsiriyah

dan Tafsir dari dua segi:

6
1) Perbedaan bahasa, bahasa Tafsir terkadang atau kebanyakan memakai
bahasa yang sama, sementara bahasa Tarjamah Tafsiriyah harus dengan
bahasa yang berbeda.
2) Bagi pembaca Tafsir, bisa memperhatikan rangkaian dan susunan teks asli
beserta arti yang di tunjukan, di samping teks terjemahanya, sehingga dia
bisa menemukan kesalahan kesalahan yang ada, sekaligus meluruskanya.
Andaikan dia tidak menangkap kesalahan itu, makapembaca yang lain
akan menemukannya. Sedangkan pembaca terjemah, tidak sampai ke situ,
karena dia tidak tahu susunan al-Qur’an dan arti yang ditunjukanya,
bahkan kesan yang ada, bahwa apa yang ia bacadan ia pahami dari
terjemah tersebutadalah Tafsir atau arti yang benar terhadap al-Qur’an,
sedangkan pengecekan terhadap teks aslinya dan membandingkan dengan
teks terjemahan, itu sudah di luar batas kemampuanya, selama dia tidak
tahu bahasa al-Qur’an.
2. Syarat-syarat Penerjemah

Seorang penerjemah al-Qur’an harus memenuhi syarat-syarat berikut:

1) Penerjemah haruslah seorang muslim, sehingga tanggung jawab keislamannya


dapat dipercaya.

2) Penerjemah haruslah seorang yang adil dan tsiqah. Karenanya, seorang fasiq
tidak diperkenankan menerjemahkan alQur’an.

3) Menguasai bahasa sasaran dengan teknik penyusunan kata. Ia harus mampu


menulis dalam bahasa sasaran dengan baik.

4) Berpegang teguh pada prinsip-prinsip penafsiran al-Qur’an dan memenuhi


kriteria sebagai mufasir, karena penerjemah pada hakikatnya adalah seorang
mufasir.

Selain syarat di atas, shighat terjemahan harus benar jika diletakkan pada
tempat aslinya dan terjemahan haruslah cocok benar dengan makna-makna dan
tujuan-tujuan aslinya, dan penerjemah harus memberikan keterangan pendahuluan

7
yang menyatakan bahwa terjemah al-Qur‟an tersebut bukanlah alQur‟an,
melainkan tafsir al-Qur‟an.

3. Cara menerjemahkan al-Qur’an dengan baik

1) Mengetahui huruf-huruf tambahan padaawal dan akhir kalimat, seperti huruf


wawu atau ya‟ dan nun pada jama‟ mudzakar salim, atau alif dan ta‟ pada jama‟
muannassalim. Untuk mengetahui hal tersebut, kita harus mengetahui bentuk
tsulasi mujarot pada setiap kalimat. Contoh pada kata ‫ يفتحو‬huruf tambahannya
adalah ya‟ dan wawu, dengan demikian akar katanya adalah ‫فتح‬. Yang perlu
diketahui adalah apa arti huruf tambahan dan akar kata tersebut.

2) Mengetahui makna kata sambung, apakah huruf athaf, huruf jer, amil nawasib,
amil jawazim, bentuk dlomir, atau bentuk lainnya. Untuk mengetahui makna dari
huruf atau kalimat penghubung tersebut, kita bisa lihat pada kitab-kitab nahwu,
dan kata penghubung tersebut harus dihafalkan atau di ketahui masing-masing.

3) Memperhatikan bentuk kalimat apakah fi’il madhi, mudhori’ atau amr, kata
jadian masdar, isim zaman, isim makan, isim alat, isim maf’ul, isim fa’il atau
lainnya.

4) Mengetahui arti akar kata pada setiap kalimat, sedangkan akar kata yang perlu
dilihat adalah akar kata yang ada pada surah al-Baqarah. Kita bisa memulai
dengan melihat arti setiap kalimat yang ada pada surah al-Baqarah satu persatu,
kalimat baru perlu diketahui dan dihafalkan dengan diberi coret bawah, kemudian
jika kalimat yang sudah diketahui artinya terulang lagi, tidak perlu digaris bawah,
dan begitu seterusnya.

4. Manfaat Terjemah Al-Qur’an

Adapun manfaat lainnya banyak sekali, diantaranya :

8
1) Membantu dalam menghafal al-Qur‟an. Karena salah satu metode menghafal
yang paling efektif dan sudah teruji (diakui oleh para penghafal al-Qur‟an) adalah
dengan memahami terlebih dahulu arti ayat yang akan dihafal.

2) Mempelajari bahasa arab terutama dalam menambah kosa kata yang bersumber
dari al-Quran.

3) Membantu dalam menyampaikan ceramah, kultum, dan pengajian.

5. Adab dan Syarat Menerjemahkan al-Qur’an

1) Terjemahan itu tidak boleh dijadikan sebagai pengganti alQur’anyang cukup


dengannya tanpa kitab al-Qur’an. Berdasarkan hal ini, maka harus ditulis dahulu
teks al-Qur’an dalam bahasa Arabnya, kemudian di sampingnya teks terjemahan
tersebut agar menjadi semacam tafsir terhadapnya.

2) Hendaknya penerjemah adalah orang yang mengetahui betul arahan-arahan


lafadz di dalam kedua bahasa tersebut dan hal-hal yang dituntut di dalam
redaksinya.

3) Hendaknya penerjemah adalah orang yang mengetahui benar makna-makna


lafadz-lafadz syari’at didalam al-Quran.

Di dalam penerjemahan al-Qur’an al-Karim, hanya orangorang yang amanah


saja yang boleh diterima, yaitu seorang Muslim yang lurus di dalam dirinya.

B. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu penelitian yang


hasilnya berupa data deskriptif melalui pengumpulan fakta- fakta dari kondisi
alami sebagai sumber langsung dengan istrumen dari kondisi alami sebagai
sumber langsung instrumen dari penelitian sendiri

Dalam hal ini menggunakan pendekatan kualitatif, Nana Syaodih


Sukmadinata menjelaskan penelitian kualitatif ( qualitative research ) sebagai
suatu penelitian yang di tunjukkan untuk mendeskripsikan dan menganalisi

9
fenomena peristiwa , aktifitas social, sikap, kepercayaan ,persepsi pemikiran
orang secara individual maupun secara kelompok. Ada beberapa deskripsi
tersebut di gunakan untuk menemukan suatu prinsip- prinsip dan suatu penjelasan
yang menunjukkan pada suatu kesimpulan

Penelitian kualitatif bersifat indukatif, maksudnya dalam suatu penelitian


membiarkan suatu permasalahan – permasalahan muncul dari suatu data atau
membiarkan terbuka untuk suatu interprestasi. Kemudian data di himpun dengan
engamatan yang seksama ,meliputi suatu deskripsi yang mendetail disertai suatu
catatan – catatan hasilwawancarayang mendalam ( interview ),serta hasil analisis
dokumen dan suatu catatan – catatan yang berdasarkan uraian di atas penggunaan
pendekatan kualitatif dapat menghasilkan data deskriptif tentang suatu
implementasi metode PPTQ Safinda dalam menerjemahkan Al- Qur’an

Jenis yang di gunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian yaitu studi
kasus.dalam hal ini Nana Syaodih Sukmadinata menjelaskan bahwa studi kasus
(case study ) merupakan suatu hal penelitian yang di lakukan terhadap suatu
kesatuan sistem.kesatuan ini dapat berupa suatu program,kegiatan, peristiwa, atau
suatu kelompok individu yang terikat oleh suatu tempat.waktu atau ikatan tertentu
. secara singkatnya,studi kasusadalah suatu penelitian yang merupakan suatu
penelitian yang mengarahkan atau di arahkanuntuk menghimpun data ,mengambil
makna , dan memperoleh pemahaman dari suatu kasusu tersebut .

Dalam penelitian ini,peneliti meneliti suatu kasusu yang terjadi di Madrasah


Hidayatul Mubtadiin sidomulyo batu yang merupakan tentang suatu implementasi
metode PPTQ safinda dalam menerjemah Al- Qur’an. Dengan adanya studi kasus
ini di harapkan seorang peneliti dapat mengumpulkan data- data yang di peroleh
dalam studi kasus yang sudah di teliti , kemudian menganalisis dan
menyimpulkan hasil dari penelitian . sehingga peneliti mendaptkan pemahaman
yang nantinya akan memperjelaskantentang bagaimana implementasi metode
PPTQ safinda dalam menerjemahkan Al-Qur’an di Madrasah Diniyah
Hidayatullah Mubtadiin Sidomulyo batu.

10
C. Faktor pendukung dan Penghambat Implementasi Metode PPTQ Safinda
dalam Menerjemahkan al-Qur‟an di Madrasah DiniyahHidayatul
Mubtadiin

Dalam rangka mewujudkan pembelajaran yang kondusif dan efektif maka


diperlukan adanya faktor pendukung yang bisa memaksimalkan metode
pembelajaran PPTQ Safinda.

Adanya siswa dituntut untuk menghafal itu karena dengan menghafal dan
memahami makna maka siswa akan lebih mudah untuk menerjemahkan ayat-ayat
al-Qur’an, banyak nya persamaan lafadz antara ayat satu dengan ayat yang lain
membuat siswa menghafalkan kosakata yang hanya sedikit. Seperti contoh lafadz
“‫” اللذين‬dalam al-Qur‟an lafadz ini diulang-ulang kurang lebih sebanyak 815 kali.

Menyampaikan materi tata bahasa dan sastra bahasa Arab secara bartahap
sangat memudahkan siswa untuk menghafal dan memahami pelajaran tafsir
dengan sempurna. Hal itu sesuai dengan proses diturunkannya al-Qur‟an yang
secara berangsur-angsur juga tidak sekaligus diturunkan 30 juz. Sehingga
memudahkan para sahabat nabi (umat Islam) untuk mempelajari dan
menghafalnya.

Alat peraga juga merupakan faktor pendukung dalam pembelajaran metode


PPTQ Safinda. Dalam cetakan terdapat 2 warna yang berbeda yakni warna merah
dan warna hitam. Warna merah menandakan bahwa lafadz tersebut belum pernah
dipelajari sedangkan warna hitam menandakan bahwa lafadz tersebut sudah
pernah disampaikan. Jika cetakan warna hitam siswa sudah lupa maknanya maka
siswa dituntut untuk menghafalkannya lagi.

Manfaat lain dari cetakan yang berbeda warna yaitu mempermudah guru
untuk meringankan tugasnya karena materi yang disampaikan semakin sedikit
ditandai dengan semakin sedikitnya lafadz yang bercetak warna merah. Selain itu,
cetakan yang berbeda warna juga mempermudah siswa untuk langsung
menerjemahkan ayat al-Qur‟an tanpa dipandu oleh guru karena semua lafadz

11
sudah pernah dipelajari dan dihafalkan sehingga guru hanya mengoreksi susunan
yang kurang sempurna.

Faktor pendukung yang tidak kalah penting yaitu pelayanan intensif untuk
guru pengajar metode PPTQ Safinda, karena hal itu sebagai salah satu bentuk
usaha madrasah menghasilkan tenaga pengajar yang profesional dan berkompeten
dalam bidangnya.

Tidak hanya guru saja yang diberikan pelayanan intensif akan tetapi juga
disediakan jam tambahan bagi siswa yang ingin mempelajari lebih dalam,
sehingga diadakannya jam tambahan diluar jam pelajaran bagi siswa yang
berminat.

Selain faktor pendukung yang sudah dipaparkan diatas didalam suatu metode
juga terdapat faktor penghambat yang menjadikan kendala bagi berlangsungnya
penerapan metode PPTQ Safinda.

Durasi waktu yang singkat merupakan kendala bagi berlangsungnya proses


belajar mengajar secara maksimal hal ini dikarenakan dalam waktu seminggu
proses pembelajaran hanya berlangsung 2x jam pelajaran akan tetapi waktu
tersebut dalam waktu 1 hari. Seharusnya materi pembelajaran tidak ada masalah
jika dilaksanakan dalam waktu yang singkat akan tetapi sesering mungkin materi
tersebut disampaikan. Karena dengan waktu yang sering meskipun dengan durasi
yang hanya sedikit akan mempermudah siswa untuk menghafal. Daya ingat anak-
anak sering kali lemah jika materi tersebut diberikan jarang sekali maka siswa
akan lebih sulit untuk menghafal dan menjadikan beban bagi siswa untuk
menghafalkannya lagi. Teori pendidikan bahwa 2x5 tidak sama dengan 5x2 yang
dimaksud dari hal tersebut adalah materi yang disampaikan 2 jam selama 5 hari
hasilnya akan lebih maksimal siswa untuk memahami materi tersebut, berbeda
jika dengan menyampaikan materi dengan durasi 5 jam selama 2 hari hal itu akan
memberatkan siswa dalam memahami materi pembelajaran.

SDM seorang guru mutlak dibutuhkan karena faktor keberhasilan


pembelajaran tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi siswa akan tetapi peranan guru

12
dalam penyampaian materi sangat berpengaruh terhadap psikologi siswa. Model
pembelajaran guru yang seharusnya diterapkan yakni dengan model pembelajaran
yang tidak membosankan (menyenangkan) karena dengan menerapkan model
pembelajaran yang lama siswa akan merasa bosan dan sulit untuk menerima
materi pembelajaran. Seringkali jika dengan model pembelajaran yang kuno guru
akan memberikan sanksi pada siswa yang tidak mampu menyerap materi dengan
baik.

Kurangnya inovasi guru dalam menyampaikan materi pembelajaran juga


berdampak pada siswa yang bosan berada dikelas untuk menerima materi
pelajaran.

Keberhasilan pembelajaran selain dari faktor guru juga terdapat faktor dari
murid yakni tentang keaktifan kehadiran disaat jam pelajaran berlangsung. Jika
siswa sering absen (membolos) dalam kegiatan belajar mengajar maka dampak
yang terjadi berimbas pada materi pelajaran yang akan diterima siswa akan
ketinggalan materi yang diberikan guru pada saat jam pelajaran. Semakin banyak
absen yang dilakukan siswa maka semakin banyak juga tanggungan materi yang
harus dihafalkan oleh siswa.

Kemampuan siswa yang berfariasi dalam menerima pembelajaran terkadang


sering menyulitkan guru untuk menyampaikan materi yang selanjutnya akan
diajarkan. Siswa yang mempunyai kemampuan lebih dalam menerima materi
pembelajaran (cerdas) sering merasa bosan jika guru terus mengulang materinya,
akan tetapi disisi lain juga terdapat juga siswa yang kurang tanggap dalam
menerima materi pembelajaran sehingga menjadikan guru terus menerus
mengulang-ulang materi tersebut. Idealnya jika menemukan masalah yang seperti
ini maka perlu dilakukan pemisahan antara siswa yang tanggap dan yang kurang
tanggap dalam menerima pembelajaran. Yang tidak kalah penting dari kendala-
kendala yang sudah disampaikan diatas, yakni siswa yang mempunyai
imagebahwa pelajaran tafsir merupakan pelajaran yang sulit untuk dipelajari dan
pelajaran yang membosankan.

13
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian dan memperhatikan pada rumusan


masalah, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Cara pengajaran yang diterapkan untuk mata pelajaran tafsir dengan


metode PPTQ Safinda adalah sebagai berikut:
a) Guru membacakan kata per kata diikuti oleh siswa.
b) Guru dan siswa membaca kata per kata serta nahwu sharafnya.
c) Siswa membaca kata per kata, guru yang mengartikannya.
d) Siswa mengartikan keseluruhan ayat yang sudah dibaca
bersama-sama.
e) Siswa membaca satu per satu, kemudian guru memberikan kesempatan
pada siswa yang belum faham untuk bertanya.
f) Guru menjelaskan semua ayat yang sudah dipelajari bersama- sama.
2. Secara umum ada beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam
pelaksanaan pembelajaran metode PPTQ Safinda dalam menerjemahkan
al-Qur‟an di Madrasah Diniyah Hidayatul Mubtadiin sebagai berikut:

Faktor Pendukung:

a) Siswa menghafalkan makna yang tidak terlalu banyak karena lafadz yang
sudah dipelajari maknanya tidak diulang kembali.
b) Penyampaian materi tata bahasa arab dan sastra bahasa arab yang
disampaikan secara bertahap.
c) Cetakan warna pada alat peraga yang berbeda, warna merah pada lafadz
yang belum pernah dipelajari dan lafadz yang sudah dipelajari bercetak
warna hitam.

14
d) Dengan cetakan yang berwarna juga mempermudah tugas guru karena
semakin banyak juz-juz yang sudah dipelajari maka semakin sedikit juga
materi yang akan disampaikan oleh guru pada murid.
e) Pelayanan intensif bagi pengajar metode PPTQ Safinda untuk
mendapatkan tenaga yang berkompeten pada bidangnya.
f) Jam tambahan bagi siswa yang ingin memperdalam materi diluar jam
pelajaran.
g) Media pembelajaran yang menunjang.
h) Guru dituntut untuk memahami karakteristik siswa.

Faktor Penghambat:

a) Materi yang disampaikan seharusnya sesering mungkin agar tidak


membebani hafalan siswa.
b) Kurangnya SDM seorang guru yang inovatif dalam
penyampaian materi pembelajaran.
c) Keaktifan siswa dalam pembelajaran.
d) Kemampuan siswa yang berfariasi dalam menerima materi.
e) Siswa mempunyai image bahwa pelajaran tafsir merupakan pelajaran yang
sangat membosankan.
f) Alokasi waktu pembelajaran yang sedikit.

15