Anda di halaman 1dari 25

Nama : Risma Alda Elfariani

NPM : 17-121-085
Kelas : A2 Akuntansi
Semester : 6 (enam)
Mata Kuliah : Akuntansi Keperilakuan
Dosen : Victor Pattiasina,

BAB I
1. Informasi perilaku yang bagaimanakah yang relevan bagi pengguna informasi? Bagi
karyawan? Bagi manajer? Bagi pemimpin serikat buruh? Bagaimana data ini digunakan?
Jawaban :
- Bagi Karyawan informasi yang relevan digunakan untuk mempelajari tentangproduk yang
mereka jual lebih mendalam lagi. Timbal balik dari para konsumenpengguna produk yang
mereka jual terdahulu, juga adalah sesuatu informasi mengapaproduk tersebut terjual laris
atau kurang lakunya di pasaran guna maju atau tidaknyaperusahaan tersebut.
- Bagi Para Manajer Informasi yang relevan bagi seorang manajer itu harus bisamenghandle
dalam mengambil keputusan. Selain harus menunjukaan keahliaan atauskills tentang sebuah
produk, mereka juga harus bisa memimpin teamnya dengan baikuntuk kemajuan perusahaan
tersebut.
- Bagi para pemimpin serikat buruh informasi yang digunakan denganmemperdalam gaya
kepemimpinan dan cara memotivasi bawahan.

2. Mengapa seharusnya akuntan berhubungan dengan diri mereka sendiri dan dengan pelaporan
informasi perilaku sebagaimana dilaporkan oleh jurnalistik, psikologi, atau hasil survey
peneliti?
Jawaban : Mereka berhubungan dengan mereka sendiri untuk mencari informasi yang akan
mereka laporkan pada laporan keuangan. Informasi ini meliputi keandalan, relevan dan
keakuratan informasi. Untuk pihak psikolog dapat dilihat dari ada sisi konsultan dalam
pemberian masukan dan saran mengenai pengambila keputusan dari seeorang akuntan dalam
melaporkan informasi keuangan yang ada. Tugas para peneliti inilah pada akhirya yang
menunjukkan pembuktian dari keterkaitan atau hubungan dari seorang akuntan dengan
menggunakan fakta maupun teori yang ada.

3. Berikan beberapa contoh mengenai pelaporan informasi perilaku dalam suatu bisnis pada
surat kabar ataupun majalah!
Jawaban : Salah satu faktor yang dapat menentukan berhasilnya suatu produk yaitu nama
brand atau merek. Disamping dengan menjual produk yang baik, penting juga untuk sebuah
produk memiliki nama brand yang bagus dan unik agar brand atau merek produk dapat selalu
diingat oleh para konsumen. Nama brand yang unik bisa menjadi salah satu faktor yang dapat
mempertahankan kelanggengan suatu produk atau bisnis ditengah kompetisi yang cukup
tinggi saat ini. Sesuaikanlah nama brand dengan target pasar yang sedang dibidik saat ini.

4. Bagaimana Anda melihat perkembangan akuntansi keperilakuan selama lebih dari 5 atau 10
tahun belakangan ini?
Jawaban : Riset akuntansi keperilakuan merupakan suatu bidang baru yang secara luas
berhubungan dengan perilaku individu, kelompok dan organisasi bisnis, terutama yang
berhubungan dengan proses informasi akuntansi dan audit. Riset akuntansi keperilakuan
merupakan suatu fenomena baru yang sebetulnya dapat ditelusuri kembali pada awal tahun
1960-an, walaupun sebetulnya dalam banyak hal riset tersebut dapat dilakukan lebih awal.
Awal perkembangan riset akuntansi keperilakuan menekankan pada aspek akuntansi
manajemen khususnya penganngaran (budgeting), namun domain dalam hal ini terus
berkembang dan bergeser ke arah akuntansi keuangan, sistem informasi akuntansi, dan audit.
Dalam audit, riset akuntansi keperilakuan telah berkembang,
tinjauan literatur telah menjadi spesialisasi dengan lebih memfokuskan diri pada atribut
keperilakuan spesifik seperti proses kognitif (Bonner dan Pennington, 1991), atau riset
keperilakuan pada suatu topik khusus seperti audit sebagai tinjauan analitis (analytical
review).
Sinyal ini merupakan awal terhadap pematangan dan pendewasaan riset
akuntansi keperilakuan. Sebagai bidang riset yang sering memberikan kontribusi yang
bermakna, riset akuntansi keperilakuan ini dapat membentuk kerangka dasar (framework)
serta arah riset di masa yang akan datang. Banyaknya volume riset atas
akuntansi keperilakuan dan meningkatnya sifat spesialisasi riset, serta tinjauan studi
secara periodik, akan memberikan manfaat untuk beberapa tujuan sebagai berikut ini (1)
memberikan gambaran state of the art terhadap minat khusus dalam bidang baru yang ingin
diperkenalkan; (2) membantu dalam mengidentifikasikan kesenjangan riset; (3) untuk
meninjau dengan membandingkan dan membedakan kegiatan riset melalui subbidang
akuntansi.
Sejarah akuntansi telah dimulai dari tahun 1749 dimana Luca Pacioli telah
membahas mengenai system pembukuan berpasangan. Kemudian pada tahun 1951,
Control Leadership Foundation of America mensponsori suatu riset untuk menyelidiki
dampak anggaran terhadap manusia. Pada tahun 1960, Steadry menggali pengaruh
anggaran motivasional dengan menggunakan suatu eksperimen analog. Dan riset-riset
ini terus berkembang sampai dengan saat ini. Pendekatan klasikal lebih menitikberatkan pada
pemikiran normatif yang mengalami kejayaannya pada tahun 1960-an. Pada tahun 1970-an,
terjadi pergeseran pendekatan dalam riset akuntansi. Alasan yang mendasari ini adalah
pendekatan normatif yang telah berjaya selama satu dekade ini tidak dapat menghasilkan
teori akuntansi yang siap digunakan dalam praktik sehari-hari. Pada kenyataannya, desain
sistem akuntansi yang dihasilkan dari riset normatif tidak dipakai dalam praktik.
Sebagai konsekuensinya, muncul anjuran untuk memahami berfungsinya system
akuntansi secara deskriptif dalam praktik nyata. Pendekatan normatif maupun positif masih
mendominasi riset akuntansi hingga saat ini. Hampir semua artikel yang terbit di jurnal The
Accounting Review maupun Journal of Accounting Research dan Journal of Business
Research menggunakan pendekatan utama (mainstream) dengan ciri khas penggunaan model
matematis dan pengujian hipotesis. Walaupun pendekatan utama masih mendominasi riset
manajemen dan akuntansi hingga saat ini, pendekatan ini pada dasarnya tidak memercayai
dasar filosofi yang digunakan oleh pengikut pendekatan utama. Sebagai gantinya,
pendekatan-pendekatan baru tersebut meminjam metodologi dari ilmu-ilmu social lainnya,
seperti filsafat, sosiologi, dan antropologi untuk memahami akuntansi

5. Binberg dan Sheids (1989) mengklasifikasi riset akuntansi keperilakuan dalam lima aliran.
Jelaskan kelima aliran tersebut!
Jawaban : 5 aliran riset akuntansi keperilakuan :
1. Pengendalian Manajemen (management control)
2. Pemrosesan informasi akuntansi ( accounting information processing)
3. Desain sistem informasi information system design)
4. Riset audit ( audit research)
5. Sosiologi organisasional ( organizational sociology )
6. Dapatkah organisasi perusahaan berfungsi secara efektif tanpa definisi yang jelas mengenai
otoritas dan bagaimana otoritas tersebut diterapkan?
Jawaban : Otoritas bisa diartikan kekuasaan resmi dan legal untuk menyurh pihak lain
bertindak dan taat kepada pihak yang memilikinya. Ketaaatan lahir bisa melalui persuasi,
sanksi-sanksi, permohonanan, paksaan dan kekuatan. Otoritas juga berkaitan dengan
kekuasaan sebagai suatu pengaruh yang kuat yang bersifat mengendalikan atas pengarahan
perilaku seseorang. Jadi, organisasi tidak akan dapat berfungsi efektif jika tidak memiliki
definisi otoritas yang jelas. Jika definisi otoritas sudah jelas dalam suatu organisasi, individu-
individu dalam organisasi dapat memberikan perannya dalam mencapai tujuan organisasi.

Agar otoritas bisa diterima oleh bawahan, pemimpin organisasi harus mampu
mendorong semangat kerja bawahan dengan alasan untuk mencapai tujuan organisasi.
Paculah keinginan bawahan untuk memberikan sumbangsih kepada suatu tujuan yang
dianggap berfaedah, guna menghindari diterapkannya tindakan disipliner, agar tindakan
sesuai dengan standar-standar moral yang berlaku selain untuk memperoleh balas jasa

7. Dapatkah kelompok berfungsi secara efektif tanpa suatu definisi atau hubungan otoritas?
Jawaban : Walaupun kerja kelompok/tim ini sangat diperlukan dalam rangka pencapaian
tujuan atau keberhasilan, namun bila tidak dikendalikan secara benar akan menimbulkan
suatu kondisi sebaliknya. Keadaan ini disebut dengan ―social loafing‖, yaitu suatu keadaan
dimana kualitas kerja tim lebih rendah bila dibandingkan dengan kerja individu, sehingga
hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kondisi yang dapat menimbulkan
keadaan ini antara lain karena kurang jelasnya identifikasi kontribusi dari setiap orang,
kurangnya keterikatan/kohesi diantara anggota kelompok, kurangnya tanggung jawab
terhadap hasil akhir dari tugas yang diberikan. Disinilah peran pentingnya sebuah definisi
atau hubungan otoritas dalam kelompok agar kelompok dapat berjalan dengan efektif.

8. Apakah aspek-aspek fungsional dan disfungsional dari organisasi birokrasi?


Jawaban :

a. Aspek Fungsional
 Teori birokrasi ini mempunyai kekuatannya yang tersendiri, walaupun teori ini sering
dikaitkan dengan pelbagai streotaip negatif, namun teori birokrasi ini juga banyak
memberikan sumbangan kepada teori dalam pengurusan sumber manusia.
 Hierarki dan definisi tanggungjawab adalah merupakan ciri penting birokrasi dalam
membantu pengurusan tempat kerja yang tersusun. Lakaran prinsipal terhadap semua tugas
haruslah jelas dan harus disusun dalam bentuk hierarki.
 Ada Aturan, Norma, dan Prosedur untuk Mengatur Organisasi.
b. Aspek Disfungsional
 Kecenderungan birokrat untuk menyelewengkan tujuan-tujuan organisasi.
 Usaha untuk memperbaiki penampilan birokrasi diajukan dalam bentuk teori birokrasi sistem
perwakilan. Asumsi yang dipergunakan adalah bahwa birokrat di pengaruhi oleh pandangan
nilai-nilai kelompok social dari mana ia berasal.
 Keengganan untuk mengakui adanya konflik di antara otoritas yang disusun secara hirarkis
dan sulit menghubungkan proses birokratisasi dengan modernisasi yang berlangsung di
negara-negara sedang berkembang.
 Salah satu kelemahan yang sering dikaitkan dengan birokrasi ialah ―redtape‖. Istilah ini
merujuk kepada satu peraturan birokrasi yang sangat berlebihan sehingga menyebabkan
kelewatan kepada sesuatu urusan ataupun proses.

9. Mengapa kelompok informal membangun standar perilaku? Apakah pengaruh standar ini
terhadap anggota kelompok?
Jawaban : Beberapa standar perilaku kelompok dirancang untuk melindungi para
anggotanya untuk menghadapi bahaya nyata atau yang masih dibayangkan dari luar
kelompok, terutama dari manajemen atasan mereka. Tetapi norma kelompok informal tidak
selalu negatif. Ada norma yang positif seperti tentang produktivitas yang tinggi, hubungan
kerja yang baik, dan kualitas. Dalam masalah ini tugas – tugas manajemen menjadi lebih
mudah. Kelompok informal, yang di satu sisinya disebut ―pembuat kesukaran‖, di sisi lain
membantu manajemen dalam menanamkan disiplin.

10. Buatlah sebuah contoh kasus yang terjadi pada perusahaan di Indonesia dari kaca mata teori
political economy of accounting!
Jawaban :
BAB II
1. Menurut pendapat Anda, apa saja aspek-aspek yang menguntungkan dari keberadaan struktur
dan apa saja aspek-aspek yang tidak menguntungkan dari hal tersebut?
Jawaban :

1) Aspek yang menguntungkan :

 Kejelasan Tanggung Jawab. Setiap anggota organisasi harus bertanggung jawab dan apa yang
harus dipertanggung jawabkan. Setiap anggota organisasi harus bertanggung jawab kepada
pimpinan atau atasan yang memberikan kewenangan, karena pelaksanaan kewenangan itu
yang harus dipertanggungjawabkan.
 Kejelasan Kedudukan. Kejelasan kedudukan seseorang dalam struktur organsisasi sebenarnya
mempermudah dalam melakukan koordinasi maupun hubungan karena adanya keterkaitan
penyelesaian suatu fungsi yang dipercayakan kepada seseorang.
 Kejelasan Uraian Tugas. Kejelasan uraian tugas dalam struktur organisasi sangat membantu
pihak pimpinan untuk melakukan pengawasan dan pengendalian, dan bagi bawahan akan
dapat berkonsentrasi dalam melaksanakan suatu pekerjaan karena uraiannya yang jelas.
 Kejelasan Jalur Hubungan. Dalam rangka pelaksaan tugas dan tanggung jawab setiap
karyawan atau pegawai dalam sebuah organisasi, maka dibutuhkan kejelasan hubungan yang
tergambar dalam struktur, sehingga jalur penyelesaian pekerjaan akan semakin efektif dan
dapat saling menguntungkan.

2) Aspek yang tidak menguntungkan :


 Perbedaan jenis kelamin (Gender) Dalam masyarakat, pria di pandang lebih tinggi derajatnya
dan cenderung menjadi lebih mobil daripada wanita. Perbedaan ini mempengaruh dala
mencapai prestasi, kekuasaan, status sosial, dan kesempatan-kesempatan dalam masyarakat.
 Faktor Pengaruh Sosialisasi yang Sangat Kuat. Sosialisasi yang sangat atau terlampau kuat
dalam suatu masyarakat dapat menghambat proses mobilitas sosial. Terutama berkaitan
dengan nilai-nilai dan adat yang berlaku.
 Perbedaan Kepentingan. Adanya perbedaan kepentingan antarindividu dalam sutu struktur
organisasi menyebabkan masing-masing individu saling bersaing untuk memperebutkan
sesuatu.

2. Apa yang Anda pahami mengenai aspek kepemilikan dan aspek entitas di bab ini?
Jawaban :

Konsep Kepemilikan

Mereka yang menganut konsep telah memahami perusahaan sebagai sesuatu yang
dimiliki oleh seorang pemilik tunggal, sekumpulan partner, dan sejumlah pemegang saham.
Asset perusahaan dilihat sebagai kepemilikan dari orang-orang tersebut dan kewajiban
(hutang) perusahaan sebagai kewajiban mereka. Total asset dikurangi dengan total kewajiban
sama dengan kekayaan bersih yang dimasukkan dalam perusahaan. Pos-pos pendapatan dan
biaya akan meningkatkan atau mengurangi kekayaan bersih.

Konsep Entitas
Penganut konsep ini melihat entitas sebagai sesuatu yang terpisah dan berbeda dari
pihak-pihak yang memberikan kontribusi modal kepada entitas tersebut. Mereka memandang
asset dan kewajiban sebagai milik dari entitas itu sendiri dan bukan milik dari pemegang
saham atau pemilik perusaahaan. Dalam pandangan para penganut konsep ini, keuntungan
yang tidak dibagi tetap milik entitas dan membentuk bagian dari ekuitas entitas sendiri

3. Mengapa konsep kepemilikan dalam perusahaan dikatakan sebagai awal perdebatan konsep
keperilakuan?
Jawaban : Munculnya Perbedaan Persepsi tentang konsep perusahaan didasarkan pada adanya
perdebatan yang cukup hangat mengenai pencatatan akuntansi dalam alur konsep kepemilikan dan
konsep entitas. Pecatatan akuntansi untuk perusahaan perseorangan yang menggunakan alur konsep
kepemilikan dan pencatatan akuntansi perusahaan bersama yang dilakukan dari perspektif
kepemilikan atas perusahaan tersebut.
Hal ini menandakan bahwa semua transaksi dan kejadian bisnis dianalisis dan dicatat sehubungan
dengan pengaruhnya terhadap pemiliknya. Pemilik memiliki semua aset dan tidak terbatas akan
hutang , obligasi serta kerugian mereka. Dalam sistem ekonomi kapitalis, sistem ekonomi didirikan
atas hak kepemilikan pribadi yang didasarkan pada situasi dimana pemilik memiliki tanggung jwab
yang tidak terbatas, dan tidak ada pemisahan kepemilikan, kewajiban / tanggung jawab dan
pengendalian. Oleh karena itu setiap konflik kepentingan antara pemangku kepentingan seperti anak
pemilik dan pelanggan, pemilik dan pemberi pinjaman atau kreditor, antara pemilik dan otoritas
pajak,atau antara pemilik perusahaan dan masyarakat umum akan selalu melibatkan pemilik yang
menanggung hukum dan tanggung jawab moral secara penuh serta tanggung jawab keuangan dalam
berurusan dengan pihak luar.

4. Bagaimana Anda menjelaskan tentang konsep tanggung jawab dalam makna responsibility
dan dalam makna liability?
Jawaban :
1. Konsep Tanggung Jawab dalam Makna Responsibility
Burhanuddin Salam, dalam bukunya ―Etika Sosial‖, memberikan pengertian bahwa
responsibility is having the character of a free moral agent; capable of determining one‘s acts;
capable deterred by consideration of sanction or consequences. (Tanggung jawab itu
memiliki karakter agen yang bebas moral; mampu menentukan tindakan seseorang; mampu
ditentukan oleh sanki/hukuman atau konsekuensi). Setidaknya dari pengertian tersebut, dapat
kita ambil 2 kesimpulan : a)harus ada kesanggupan untuk menetapkan suatu perbuatan; dan
b)harus ada kesanggupan untuk memikul resiko atas suatu perbuatan. Kemudian, kata
tanggung jawab sendiri memiliki 3 unsur : 1)Kesadaran (awareness). Berarti tahu,
mengetahui, mengenal. Dengan kata lain, seseorang(baca : perusahaan) baru dapat dimintai
pertanggungjawaban, bila yang bersangkutan sadar tentang apa yang dilakukannya;
2)Kecintaan atau kesukaan (affiction). Berarti suka, menimbulkan rasa kepatuhan, kerelaan
dan kesediaan berkorban. Rasa cinta timbul atas dasar kesadaran, apabila tidak ada kesadaran
berarti rasa kecintaan tersebut tidak akan muncul. Jadi cinta timbul atas dasar kesadaran, atas
kesadaran inilah lahirnya rasa tanggung jawab; 3)Keberanian (bravery). Berarti suatu rasa
yang didorong oleh rasa keikhlasan, tidak ragu-ragu dan tidak takut dengan segala rintangan.
Jadi pada prinsipnya tanggung jawab dalam arti responsibility lebih menekankan pada suatu
perbuatan yang harus atau wajib dilakukan secara sadar dan siap untuk menanggung segala
resiko dan atau konsekuensi apapun dari perbuatan yang didasarkan atas moral tersebut.
Dengan kata lain responsibility merupakan tanggung jawab dalam arti sempit yaitu tanggung
yang hanya disertai sanksi moral. Sehingga tidak salah apabila pemahaman sebagian pelaku
dan atau perusahaan terhadap CSR hanya sebatas tanggung jawab moral yang mereka
wujudkan dalam bentuk philanthropy maupun charity .
2. Konsep Tanggung Jawab dalam Makna Liability
Berbicara tanggung jawab dalam makna liability, berarti berbicara tanggung jawab dalam
ranah hukum, dan biasanya diwujudkan dalam bentuk tanggung jawab keperdataan. Dalam
hukum keperdataan, prinsip-prinsip tanggung jawab dapat dibedakan sebagai berikut :
1)Prinsip tanggung jawab berdasarkan adanya unsure kesalahan (liability based on fault);
2)Prinsip tanggung jawab berdasarkan praduga(presumption of liability); 3)Prinsip tanggung
jawab mutlak (absolute liability or strict liability). Selain ketiga hal tersebut, masih ada lagi
khusus dalam gugatan keperdataan yang berkaitan dengan hukum lingkungan ada beberapa
teori tanggung jawab lainnya yang dapat dijadikan acuan, yakni : 1)Market share liability;
2)Risk contribution; 3)Concert of action; 4)Alternative liability; 5)Enterprise liability.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan perbedaan antara tanggung jawab dalam
makna responsibility dengan tanggung jawab dalam makna liability pada hakekatnya hanya
terletak pada sumber pengaturannya.

5. Bagaimana penjelasan Anda atas dampak struktur kepemilikan terhadap kinerja perusahaan?
Jawaban : untuk menjelaskan dampak struktur kepemilikan terhadap kinerja perusahaan
dapat dijelaskan melalui dua teori, yaitu :
 CLASSICAL THEORY OF MANAGERIAL FIRM
Teori ini menjelaskan bahwa terjadinya perbedaan kinerja perusahaan yang dikendalikan oleh
manajemen jika dibandingkan dengan perusahaan yang dikendalikan oleh pemilik perusahaan
disebabkan karena adanya perbedaan kepentingan diantara keduanya. Untuk perusahaan yang
dikendalikan oleh manajemen, fungsi dari tujuan memaksimalkan utilitas dari kombinasi
yang mungkin terdapat pada fungsi O1A1 adalah pilihan kombinasi antara Rm dengan Sm.
Apabila diperhatikan, perbedaan pada tingkat pengembalian perusahaan yang terjadi karena
pilihan terhadap ukuran perusahaan. Perusahaan yang dikendalikan oleh keluarga lebih
memilih untuk menggunakan ukuran perusahaan yang lebih kecil karena tujuannya adalah
memaksimalkan nilai pasar perusahaan.
 AGENCY THEORY
Teori keagenan ini bertujuan untuk menyelesaikan: (1) masalah agensi yang muncul ketika
adanya konflik tujuan antara pemilik perusahaan dan manajemen serta kesulitan pemilik
perusahaan melakukan verivikasi pekerjaan manajemen, (2) masalah pembagian resiko yang
muncul ketika pemilik perusahaan dan manajemen memiliki perilaku yang berbeda terhadap
resiko.

6. Jelaskan apa konsekuensi dari sudut pandang yang berbeda terhadap kinerja perusahaan?
Jawaban : sebagai akibat dari terjadinya perbedaan dalam memahami dan memandang
keuntungan perusahaan menimbulkan konsekuensi dari sudut pandang yang berbeda.
Beberapa cara berbeda dalam melihat penanganan kepentingan individual, dividen, dan pajak
perusahaan dalam proses penentuan keuntungan menjadi pembahasan yang hangat
diperbincangkan. Dari penjelasan di atas, timbulnya pemahaman yang berbeda mengenai
konsep kepemilikan dan konsep entitas dapat dilihat dari perbedaan cara dalam memahami
dan memandang keuntungan perusahaan.

7. Bagaimana usaha kita untuk merekonsiliasi konsep entitas terhadap konsep kepemilikan?
Jawaban : usaha yang akan kita lakukan adalah dengan menerapkan beberapa teori untuk
membantu merekonsiliasi konsep kepemilikan tersebut yaitu, teori akuntansi dana dan teori
komando.

8. Apa yang dapat Anda simpulkan mengenai Teori Komando?


Jawaban : Teori komando ini merupakan garis wewenang tidak terputus yang
menghubungkan semua orang dalam koordinasi organisasi dan menunjukkan posisi dimana
orang yang bertanggung jawab, hal dikaitkan dengan dua prinsip dasar. Tapi sayangnya, toeri
komando tidak memberikan rekonsiliasi antara konsep kepemilikan dengan konsep entitas
dalam teori akuntansi.
BAB III

1. Dalam lingkungan yang bagaimana orang-orang berperilaku secara berbeda, dan karakter
seperti apa yang dapat memprediksi hal tersebut?
Jawaban : Orang-orang dapat berperilaku secara berbeda apabila berada pada lingkungan
yang baru, seperti pada lingkungan kerja/organisasi dan perlu diingat bahwa sikap dapat
berubah tanpa dibentuk. Jika mereka merasa nyaman maka karakter yang terbentukpun akan
bersifat positif dan begitu sebaliknya apabila dalam suatu lingkungan kerja/organisasi baru
mereka merasa tidak nyaman maka karakter yang terbentukpun akan bersifat negatif, seperti
raut wajah yang kusut, berpresepsi buruk terhadap sesama, dsb.

2. Apakah sikap yang menentukan perilaku atau perilaku yang menentukan sikap?
Jawaban : Sikap (attitude) adalah suatu hal yang mempelajari mengenai seluruh tendensi
tindakan, baik yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan, tujuan manusia,
objek, gagasan, atau situasi perilaku yg di miliki oleh seseorang dan tertanam sejak dini, yang
mana perilaku tersebut berbeda-beda, sedangkan perilaku adalah respon seseorang terhadap
lingkungan sekitar dan kejadiannya atau bisa dikatakan perilaku adalah cerminan sikap
seseorang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sikap yang menentukan perilaku bukan
perilaku yang menentukan sikap.

3. Bagaimana Anda dapat mempelajari teori yang digunakan dalam motivasi?


Jawaban : Dengan mempelajari teori tersebut dan membandingkannya dengan kejadian yang
pernah terjadi lalu menerapkannya langsung dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat
diketahui mana yang benar dari teori tersebut dan mana yang salah.

4. Bagaimana teori mengenai perubahan sikap dapat diterapkan pada masalah keuangan dan
masalah produksi dalam suatu organisasi?
Jawaban :
Teori perubahan sikap :
a. Teori pembelajaran (learning theory), teori ini melihat perubahan sikap sebagai suatu proses
pembelajaran. Teori ini tertarik pada ciri-ciri dan hubungan antara stimulus dan respon dalam
suatu proses komunikasi.
b. Teori fungsional (functional theory), teori fungsional beranggapan bahwa manusia
mempertahankan sikap yang sesuai dengan kepentingannya. Perubahan sikap terjadi dalam
rangka mendukung suatu maksud atau tujuan yang ingin dicapai. Menurut teori ini, sikap
merupakan alat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, untuk menubah sikap seseorang,
terlebih dahulu harus dipelajari dan diketahui kepentingan atau tujuan yang ingin dicapai oleh
seseorang.
c. Teori pertimbangan sosial (social judgement theory), teori ini menganut pendekatan yang
lebih bersifat kognitif tentang perubahan sikap. Teori ini memberikan penekanan pada
persepsi dan pertimbangan individu tentang objek, orang, atau ide yang dievaluasinya.
d. Teori konsistensi (consistency theory), teori konsistensi dikembangkan berdasarkan suatu
asumsi umum, bahwa manusia akan berusaha untuk mewujudkan keadaan yang serasi dalam
dirinya. Jika terjadi keadaan yang tidak serasi, misalnya terjadi pertentangan antara sikap dan
tingkah laku, maka manusia akan berusaha untuk menghilangkan realita tersebut dengan
merubah salah satu: sikap atau tingkah laku.
5. Bagaimana seorang manajer dapat memotivasi karyawan yang pada dasarnya puas dengan
pekerjaan dan gaji mereka?
Jawaban : Manajer dapat memotivasi karyawannya memberikan reward apabila sanggup
menyelesaikan tugasnya dengan tepat waktu dan kreatif. Manajer juga bisa memotivasi
dengan menggunakan teori Maslow pada lima hierarchy kebutuhan yaitu dengan
meningkatkan kebutuhan fisiologisnya (mendasar), kebutuhan rasa aman (safety needs) di
tempat kerja, meningkatkan kebutuhan sosial (social needs) yaiu dengan menumbuhkan rasa
kekeluargaan, kebersamaan, dan rasa saling membutuhkan satu sama lain, meningkakan
kebutuhan yang mencerminkan harga diri (esteem needs) yaitu memuaskan kebutuhan yang
mencerminkan pengakuan atas harkat, martabat, dan harga diri para karyawan, dan yang
terakhir meningkatkan kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization needs).
BAB IV

1. Jelaskan factor-faktor dalam model Big five! Buatlah evaluasi factor-faktor yang
menunjukkan nilai yang telah lebih besar dalam memprediksi perilaku?
Jawaban :
Teori Sifat Kepribadian Lima Besar (Big Five Personality)
– Untuk menempatkan orang yang tepat pada suatu pekerjaan, kita perlu memperhatikan sifat
kepribadian orang tersebut apakah sesuai dengan pekerjaan yang akan diembannya.
Ketidaksesuaian kepribadian seseorang terhadap pekerjaan yang ditugaskan akan
mengakibatkan kerugian bagi perusahaan ataupun karyawan itu sendiri. Kerugian-kerugian
tersebut dapat berupa rendahnya produktivitas kerja, karyawan yang sering absen kerja dan
meningkatnya kerugian biaya serta waktu untuk melakukan pelatihan ulang terhadap
karyawan baru ketika karyawan tersebut mengundurkan diri. Salah satu contoh
ketidaksesuaian penempatan karyawan yang tepat pada pekerjaannya seperti seseorang yang
sifat kepribadiannya adalah pemalu, namun perusahaan menempatkannya di bagian
pemasaran (marketing) ataupun layanan pelanggan (customer service) yang harus selalu
menghadapi konsumen baik melalui tatap muka maupun telepon.

2. Apa prediksi keperilakuan yang membuat Anda mengetahui bahwa seseorang memiliki a)
locus of control eksternal, b) skor low mach, c) penghargaan diri yang rendah, d) jenis
kepribadian?
Jawaban :

a. Locus of Control Eksternal, yaitu mereka percaya bahwa kehidupan mereka diatur oleh
kekuatan dari luar diri. Karyawan yang memiliki lokus kendali eksternal kurang puas dengan
pekerjaan mereka, merasa terasingkan dari suasana kerja, dan kurang terlibat dalam pekerjaan
daripada orang-orang yang lokus kendalinya cenderung internal. Seorang manajer juga bisa
memperkirakan bahwa orang-orang eksternal menyalahkan evaluasi kinerja mereka yang
buruk akibat prasangka atasan, rekan kerja, atau pristiwa lain di luar kendali mereka.
Kalangan internal akan menjelaskan evaluasi serupa berdasarkan tindakan mereka sendiri.
b. Skor Low Mach, yaitu ukuran terhadap kadar dimana orang-orang bersifat pragmatis,
memelihara jarak emosi, dan percaya bahwa hasil akhir bisa membenarkan
caranya.Karyawan yang memiliki mach yang rendah cenderung memiliki emosi yang tinggi
dan kurang percaya diri terhadap kemampuannya sendiri. Mereka akan cepat emosi apabila
apa yang dikerjakannya tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya, mereka juga dapat
emosi apabila hasil yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Mereka juga merasa kurang percaya diri terhadap kebisaan mereka dalam melakukan
pekerjaan. Mereka menganggap cara yang mereka pakai untuk mencapai hasil yang
diiinginkan adalah cara yang salah.
c. Penghargaan Diri Yang Rendah, yaitu kadar dimana seseorang menyukai dirinya atau
tidak. Mereka yang memiliki harga diri yang rendah meyakini bahwa mereka tidak memiliki
kemampuan yang diperlukan untuk meraih sebuah kesuksesan karier. Individu dengan tingkat
harga diri yang rendah rawan untuk terkena pengaruh eksternal daripada individu yang
meiliki harga diri yang tinggi. Mereka akan bergantung pada penilaian positif dari orang lain.
Akibatnya, mereka akan cenderung mencari pengakuan dari orang lain dan cenderung untuk
menyesuaikan diri dari keyakinan dan perilaku orang-orang yang mereka hargai
dibandingkan dengan orang-orang dengan harga diri yang tinggi.
d. Jenis Kepribadian, keterlibatan secara agresif dalam perjuangan terus-menerus untuk
mencapai lebih banyak dalam waktu yang lebih sedikit dan melawan upaya-upaya yang
menentang dari orang atau hal lain. karakteristik ini cenderung dihargai dan dikaitkan secara
positif dengan ambisi dan perolehan barang-barang material yang berhasil.

3. Lingkup kepribadian apa yang dipersepsikan untuk memengaruhi orang?


Jawaban :

 Faktor Pembawaan : Segala sesuatu yang telah dibawa oleh seseorang sejak lahir baik
yang bersifat fisik maupun kejiwaan.
 Faktor Lingkungan : Situasi lingkungan dan budaya yang ada pada lingkungan tempat
tinggal seseorang.

4. Apa emosi tenaga kerja dan mengapa penting untuk memahami OB?
Jawaban : Tenaga kerja emosional ialah situasi yang di dalamnya keryawan
mengungkapkan emosi yang di harapkan organisasi transaksi interpersonal. Mengapa penting
untuk memahami OB, karena dengan memahami OB kita dapat mempertimbangkan maupun
mengetahui peran emosi pada perilaku di tempat kerja, baik pada sisi positif dan negatifnya.
Serta mempelajari bagaimana pengetahuan tentang emosi dapat membantu anda memperbaiki
kemampuan kita untuk menjalaskan dan memperkirakan proses seleksi dalam organisasi,
pengambilan keputusan, motivasi, kepemimpinan, konflik interpersonal, dan perilaku
menyimpang di tempat kerja.
5. Apa inteligensi emosional dan mengapa menjadi penting?
Jawaban : Kecerdasan emosional sangat penting untuk membangun kehidupan yang
seimbang. Dalam segala aspek kehidupanmu, memiliki kecerdasan emosional yang tinggi
akan membantumu hidup lebih seimbang dan bahagia. Kamu akan tahu bagaimana cara
menempatkan diri, memproses suatu kejadian dan mengontrol emosi.

6. Dalam lingkungan yang bagaimana orang-orang berperilaku secara berbeda dan karakter
yang bagaimana yang dapat meprediksi hal tersebut?
Jawaban : Orang-orang dapat berperilaku secara berbeda apabila berada pada lingkungan
yang baru, seperti pada lingkungan kerja/organisasi dan perlu diingat bahwa sikap dapat
berubah tanpa dibentuk. Jika mereka merasa nyaman maka karakter yang terbentukpun akan
bersifat positif dan begitu sebaliknya apabila dalam suatu lingkungan kerja/organisasi baru
mereka merasa tidak nyaman maka karakter yang terbentukpun akan bersifat negatif, seperti
raut wajah yang kusut, berpresepsi buruk terhadap sesama, dsb.

7. Apakah sikap yang menentukan perilaku atau perilaku yang menentukan sikap?
Jawaban : Sikap (attitude) adalah suatu hal yang mempelajari mengenai seluruh tendensi
tindakan, baik yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan, tujuan manusia,
objek, gagasan, atau situasi perilaku yg di miliki oleh seseorang dan tertanam sejak dini, yang
mana perilaku tersebut berbeda-beda, sedangkan perilaku adalah respon seseorang terhadap
lingkungan sekitar dan kejadiannya atau bisa dikatakan perilaku adalah cerminan sikap
seseorang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sikap yang menentukan perilaku bukan
perilaku yang menentukan sikap.

8. Bagaimana Anda dapat mempelajari teori yang digunakan dalam motivasi?


Jawaban : Dengan mempelajari teori tersebut dan membandingkannya dengan kejadian yang
pernah terjadi lalu menerapkannya langsung dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat
diketahui mana yang benar dari teori tersebut dan mana yang salah.

9. Bagaimana teori mengenai perubahan sikap dapat diterapkan pada masalah keuangan dan
masalah produksi dalam suatu organisasi?
Jawaban : Teori perubahan sikap :
a. Teori pembelajaran (learning theory), teori ini melihat perubahan sikap sebagai suatu proses
pembelajaran. Teori ini tertarik pada ciri-ciri dan hubungan antara stimulus dan respon dalam
suatu proses komunikasi.
b. Teori fungsional (functional theory), teori fungsional beranggapan bahwa manusia
mempertahankan sikap yang sesuai dengan kepentingannya. Perubahan sikap terjadi dalam
rangka mendukung suatu maksud atau tujuan yang ingin dicapai. Menurut teori ini, sikap
merupakan alat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, untuk menubah sikap seseorang,
terlebih dahulu harus dipelajari dan diketahui kepentingan atau tujuan yang ingin dicapai oleh
seseorang.
c. Teori pertimbangan sosial (social judgement theory), teori ini menganut pendekatan yang
lebih bersifat kognitif tentang perubahan sikap. Teori ini memberikan penekanan pada
persepsi dan pertimbangan individu tentang objek, orang, atau ide yang dievaluasinya.
d. Teori konsistensi (consistency theory), teori konsistensi dikembangkan berdasarkan suatu
asumsi umum, bahwa manusia akan berusaha untuk mewujudkan keadaan yang serasi dalam
dirinya. Jika terjadi keadaan yang tidak serasi, misalnya terjadi pertentangan antara sikap dan
tingkah laku, maka manusia akan berusaha untuk menghilangkan realita tersebut dengan
merubah salah satu: sikap atau tingkah laku.

10. Bagaimana seorang manajer dapat memotivasi karyawan yang pada dasarnya puas dengan
pekerjaan dan gaji mereka?
Jawaban : Manajer dapat memotivasi karyawannya memberikan reward apabila sanggup
menyelesaikan tugasnya dengan tepat waktu dan kreatif. Manajer juga bisa memotivasi
dengan menggunakan teori Maslow pada lima hierarchy kebutuhan yaitu dengan
meningkatkan kebutuhan fisiologisnya (mendasar), kebutuhan rasa aman (safety needs) di
tempat kerja, meningkatkan kebutuhan sosial (social needs) yaiu dengan menumbuhkan rasa
kekeluargaan, kebersamaan, dan rasa saling membutuhkan satu sama lain, meningkakan
kebutuhan yang mencerminkan harga diri (esteem needs) yaitu memuaskan kebutuhan yang
mencerminkan pengakuan atas harkat, martabat, dan harga diri para karyawan, dan yang
terakhir meningkatkan kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization needs).
BAB V

1. Menurut pendapat Anda, bagaimanakah peran pihak luar (without) dalam perkembangan
bidang akuntansi keperilakuan?
Jawaban : Menurut saya, pihak luar atau biasa disebut eksternal dapat mempengaruhi dalam
hal pengambilan keputusan untuk perkembangan akuntansi keperilakuan.

2. Bagaimanakah Anda memandang tinjauan yang dikembangkan Burgstahler dan Sundem,


yang berbeda dari pendapat ahli lainnya, seperti Binberg dan Shields serta Hopwood?
Jawaban : Yaitu, terdapat banyak peneliti nonkeperilakuan yang mempunyai ketidakpastian
yang cukup kuat dalam tinjauannya. Sebagian ketidakpastian tidak dapat dibenarkan
berdasarkan kekhawatiran dan perhatian terhadap metodologi khusus, formulasi konseptual,
dan studi. Juga sering kali dipandang menimbulkan frustasi dan kegelisahan.

3. Hopwood sendiri bersimpati terhadap ajakan Caplan dan para peneliti lainnya untuk meneliti
akuntansi secara apa adanya. Jelaskan dasar pemikiran ini!
Jawaban : Dalam riset akuntansi misalnya, Hopwood menyatakan bahwa sekarang adalah
waktu yang tepat untuk memperluas fokus riset keperilakuan dari perhatian terhadap isu
keputusan kepada pembahasan mengenai komponen keperilakuan dan akuntansi lainnya dari
tugas auditing. Tidak disebutkan bahwa riset yang ada tentang keputusan tidak mencapai
sesuatu yang besar. Yang terjadi adalah kebalikannya. Sampai sekarang fokusnya masih
parsial. Namun, Hopwood mengatakan ia tidak sependapat dengan Caplan. Hopwood
berpikir bahwa teks akuntansi sekarang menjadi penekanan utama dari pengembangan
analisis organisasi dan keperilakuan dalam akuntansi.

4. Bagaimanakah Anda memandang kondisi pasang surut dalam aliran akuntansi keperilakuan?
Jawaban : Menurut saya, walaupun banyak penemuan-penemuan riset oleh beberapa tokoh.
Pendekatan khusus yang dikemukakan juga menghasilkan sejumlah observasi tentang cara
bidang tersebut bisa bermanfaat bagi pengembangan selanjutnya.
BAB VI
1. Bagaimana Anda melihat perkembangan riset akuntansi keperilakuan saat ini sehingga dapat
memengaruhi pengambilan keputusan manajer?
Jawaban : Menurut kami, perkembangan riset akuntansi keperilakuan saat ini memengaruhi
pengambilan keputusan manajer bahwa melalui riset akuntansi keperilakuan digunakan
informasi akuntansi yang dirancang untuk berfungsi sebagai suatu dasar bagi pengambilan
banyak keputusan penting di dalam maupun di luar perusahaan. Sistem informasi
dimanfaatkan untuk membantu dalam proses perencanaan, berhubungan untuk memotivasi
orang-orang pada semua tingkatan di dalam perusahaan. Umumnya, prosedur akuntansi
digunakan untuk melaksanakan banyak fungsi penting organisasional yang sudah menjadi
sangat teknis secara mendasar.

2. Coba diskusikan seberapa jauh arah pergeseran riset bidang akuntansi keperilakuan saat ini
dibandingkan dengan tiga dasawarsa sebelumnya!
Jawaban : Riset akuntansi keperilakuan merupakan suatu bidang baru yang secara luas
berhubungan dengan perilaku individu, kelompok dan organisasi bisnis, terutama yang
berhubungan dengan proses informasi akuntansi dan audit. Riset akuntansi keperilakuan
merupakan suatu fenomena baru yang sebetulnya dapat ditelusuri kembali pada awal tahun
1960-an, walaupun sebetulnya dalam banyak hal riset tersebut dapat dilakukan lebih awal.
Awal perkembangan riset akuntansi keperilakuan menekankan pada aspek akuntansi
manajemen khususnya penganngaran (budgeting), namun domain dalam hal ini terus
berkembang dan bergeser ke arah akuntansi keuangan, sistem informasi akuntansi, dan audit.
Dalam audit, riset akuntansi keperilakuan telah berkembang, tinjauan literatur telah menjadi
spesialisasi dengan lebih memfokuskan diri pada atribut keperilakuan spesifik seperti proses
kognitif (Bonner dan Pennington, 1991), atau riset keperilakuan pada suatu topik khusus
seperti audit sebagai tinjauan analitis (analytical review). Sinyal ini merupakan awal terhadap
pematangan dan pendewasaan riset akuntansi keperilakuan. Sebagai bidang riset yang sering
memberikan kontribusi yang bermakna, riset akuntansi keperilakuan ini dapat membentuk
kerangka dasar (framework) serta arah riset di masa yang akan datang. Banyaknya volume
riset atas akuntansi keperilakuan dan meningkatnya sifat spesialisasi riset, serta tinjauan studi
secara periodik, akan memberikan manfaat untuk beberapa tujuan sebagai berikut ini (1)
memberikan gambaran state of the art terhadap minat khusus dalam bidang baru yang ingin
diperkenalkan; (2) membantu dalam mengidentifikasikan kesenjangan riset; (3) untuk
meninjau dengan membandingkan dan membedakan kegiatan riset melalui subbidang
akuntansi.
Sejarah akuntansi telah dimulai dari tahun 1749 dimana Luca Pacioli telah membahas
mengenai system pembukuan berpasangan. Kemudian pada tahun 1951, Controllership
Foundation of America mensponsori suatu riset untuk menyelidiki dampak anggaran terhadap
manusia. Pada tahun 1960, Steadry menggali pengaruh anggaran motivasional dengan
menggunakan suatu eksperimen analog. Dan riset-riset ini terus berkembang sampai dengan
saat ini.
Pendekatan klasikal lebih menitikberatkan pada pemikiran normatif yang mengalami
kejayaannya pada tahun 1960-an. Pada tahun 1970-an, terjadi pergeseran pendekatan dalam
riset akuntansi. Alasan yang mendasari ini adalah pendekatan normatif yang telah berjaya
selama satu dekade ini tidak dapat menghasilkan teori akuntansi yang siap digunakan dalam
praktik sehari-hari. Pada kenyataannya, desain sistem akuntansi yang dihasilkan dari riset
normatif tidak dipakai dalam praktik. Sebagai konsekuensinya, muncul anjuran untuk
memahami berfungsinya sistem akuntansi secara deskriptif dalam praktik nyata.
Pendekatan normatif maupun positif masih mendominasi riset akuntansi hingga saat ini.
Hampir semua artikel yang terbit di jurnal The Accounting Review maupun Journal of
Accounting Research dan Journal of Business Research menggunakan pendekatan utama
(mainstream) dengan ciri khas penggunaan model matematis dan pengujian hipotesis.
Walaupun pendekatan utama masih mendominasi riset manajemen dan akuntansi hingga saat
ini, pendekatan ini pada dasarnya tidak memercayai dasar filosofi yang digunakan oleh
pengikut pendekatan utama. Sebagai gantinya, pendekatan-pendekatan baru tersebut
meminjam metodologi dari ilmu-ilmu sosial lainnya, seperti filsafat, sosiologi, dan
antropologi untuk memahami akuntansi.

3. Asumsi-asumsi filosofis apa saja yang membangun akuntansi keperilakuan? Jelaskan!


Jawaban : Asumsi-asumsi filosofis yang membangun akuntansi keperilakuan adalah sebagai
berikut.
Suatu pengetahuan (knowledge), termasuk bidang akuntansi keperilakuan, dibangun
berdasarkan asumsi-asumsi filosofis tertentu. Menurut Burrel dan Morgan (1979), asumsi-
asumsi tersebut adalah ontologi (ontology), epistemologi (epistemology), hakikat manusia
(human nature), dan metodologi (methodology).
 Ontologi berhubungan dengan hakikat atau sifat dari realitas atau objek yang akan
diinvestigasi dalam akuntansi keperilakuan.
 Epistemologi berhubungan dengan sifat ilmu pengetahuan, bentuk ilmu pengetahuan tersebut,
serta cara mendapatkan dan menyebarkannya.
 Pendekatan subjektivisme (anti-positivism) memberikan penekanan bahwa pengetahuan
bersifat sangat subjektif dan spiritual atau transendental yang didasarkan pada pengalaman
dan pandangan manusia.
 Pendekatan objektivisme (positivism) berpandangan bahwa pengetahuan itu berada dalam
bentuk yang tidak berwujud (intangible)
Burrel dan Morgan memandang bahwa filsafat ilmu harus mampu melihat keterkaitan
antara manusia dengan lingkungannya.
 Pendekatan voluntarisme (voluntarism) memberikan penekanan pada esensi bahwa manusia
berada di dunia ini untuk memecahkan fenomena sosial sebagai makhluk yang memiliki
kehendak dan pilihan bebas (free will and choice)
 Pendekatan determinisme memandang bahwa manusia dan aktivitasnya berpengaruh terhadap
metodologi yang akan digunakan.
 Metodologi dipahami sebagai suatu cara menentukan teknik yang tepat untuk memperoleh
pengetahuan.
 Pendekatan ideografik menjadi landasan pandangan bahwa seseorang akan dapat memahami
dunia sosial dan fenomena yang diinvestigasi, apabila ia memperolehnya atas dasar
pengetahuan pihak pertama.
 Pendekatan nomotetik (nomotethic) mempunyai sistem baku dalam melakukan penyelidikan
yang biasanya disebut sistem protokol dan teknik.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, Burrel dan Morgan (1979) mengelompokkan
pengetahuan dalam tiga paradigma, yaitu fungsionalis interpretif, radikal humanis, dan
radikal strukturalis.

4. Bagaimana Anda melihat perkembangan penulisan artikel bidang akuntansi keperilakuan


dalam jurnal international maupun nasional?
Jawaban : Pandangan saya dalam perkembangan penulisan artikel bidang akuntansi
keperilakuan di jurnal-jurnal internasioanal adalah sbb. Akuntansi keperilakuan sebenarnya
merupakan bagian dari ilmu akuntansi yang perkembangannya semakin meningkat dalam 25
tahun belakangan ini. Hal ini ditandai dengan lahirnya sejumlah jurnal dan artikel yang
berkenaan dengan keperilakuan (behavioral), dan semakin menjamurnya buku-buku teks
berbahasa asing yang membahas tentang akuntansi keperilakuan. Salah satu jurnal yang
begitu populer yang mengangkat permasalahan akuntansi keperilakuan adalah Behavior
Research in Accounting yang diterbitkan oleh American Accounting Association. Di Amerika
Serikat sendiri, mata kuliah mengenai akuntansi keperilakuan semakin banyak ditawarkan.
Perkembangan ini juga didukung oleh semakin bertumbuhnya riset-riset para mahasiswa
akuntansi dan pengajar mereka yang berfokus pada dimensi akuntansi keperilakuan.
Hampir semua artikel yang terbit di jurnal The Accounting Review maupun Journal of
Accounting Research dan Journal of Business Research menggunakan pendekatan utama
(mainstream) dengan ciri khas penggunaan model matematis dan pengujian hipotesis.
Walaupun pendekatan utama masih mendominasi riset manajemen dan akuntansi hingga saat
ini, pendekatan ini pada dasarnya tidak memercayai dasar filosofi yang digunakan oleh
pengikut pendekatan utama. Sebagai gantinya, pendekatan-pendekatan baru tersebut
meminjam metodologi dari ilmu-ilmu sosial lainnya, seperti filsafat, sosiologi, dan
antropologi untuk memahami akuntansi.

5. Petakan hasil riset akuntansi keperilakuan yang dipublikasikan pada Simposium Nasional
Akuntansi selama 15 tahun terakhir!
Jawaban :

- Jurnal Akuntansi Keuangan dan Pasar Modal


- Jurnal Akuntansi Manajemen
- Jurnal Akuntansi Sektor Publik
- Jurnal Akuntansi Syariah
- Jurnal Audit
- Jurnal Kelas Internasional
- Jurnal Pendidikan Akuntansi
- Jurnal Perpajakan
- Jurnal Kualitatif
- Jurnal Sistem Informasi Akuntansi

6. Menurut Anda, topic riset apa saja yang paling dominan mempengaruhi akuntansi
keperilakuan?
Jawaban : Menurut pendapat saya, topik riset yang paling dominan memengaruhi akuntansi
keperilakuan adalah sebagai berikut. Banyaknya diversifikasi dalam riset akuntansi
keperilakuan menyebabkan tidak mungkin suatu makalah dapat memberikan analisis yang
menyeluruh terhadap peluang riset dalam seluruh bidang. Untuk suatu tinjauan menyeluruh
dari topik khusus, suatu artikel harus ditujukan secara langsung pada tinjauan yang lebih
khusus. Menurut saya, di antara topik riset yang paling dominan memengaruhi akuntansi
keperilakuan adalah;
1. Audit
Riset ini menyarankan bahwa terdapat suatu peluang yang berhubungan dengan
pemahaman dan evaluasi hasil keputusan audit. Salah satu kesulitan dengan riset yang
berorientasi pada keputusan dalam audit adalah kurangnya kriteria variabel yang dapat
diamati terhadap penilaian kinerja auditor sehingga peneliti sering melakukan studi atas
konsensus penilaian dan konsistensi.
2. Akuntansi Keuangan
Secara jelas, pentingnya riset akuntansi keuangan yang berbasis pasar modal
dibadingkan dengan audit menunjukkan kurang kuatnya permintaan eksternal terhadap
riset akuntansi keperilakuan dalam bidang keuangan.
3. Akuntansi Manajemen
Awalnya ini merupakan pertimbangan yang lebih luas dibandingkan dengan riset
akuntansi keuangan, dan memungkinkan pencerminan tradisi yang lama yang berbeda
dari riset akuntansi keperilakuan dalam bidang audit.
4. Sistem Informasi Akuntansi
Keterbatasan riset akuntansi keperilakuan dalam bidang sistem informasi
akuntansi adalah kesulitan membuat generalisasi meskipun berdasarkan pada studi sistem
akuntansi yang lebih awal sekalipun.
5. Perpajakan
Riset akuntansi keperilakuan dalam bidang perpajakan telah memfokuskan diri
pada kepatuhan dengan melakukan pengujian variabel psikologi dan lingkungan.
6. Pertumbuhan Riset Perilaku
Indikasi penting dari pertumbuhan minat dalam pendekatan perilaku terhadap
akuntansi merupakan pengaruh dari paradigma perilaku riset. Hasil ini menyatakan
bahwa pengaruh terhadap literatur tersebut dapat diperkirakan berdasarkan jumlah
identifikasi staf dan minat perilaku.
BAB VII

1. Apa masalah etika yang dihadapi riset keperilakuan?


Jawaban : Masalah-masalah etika yang dihadapi riset keperilakuan di antaranya adalah
sebagai berikut. Melakukan riset bukanlah hal yang mudah. Butuh tahapan-tahapan panjang
hingga akhirnya terwujudlah suatu hasil riset yang baik. Dan dalam penyusunannya pun juga
tidak sembarangan. Ada beberapa hal yang wajib untuk diperhatikan. Untuk itulah mengapa
sebelum melakukan riset, terlebih dahulu dimengerti tentang apa itu etika riset. Ini karena
dalam melakukan sebuah riset, banyak pihak yang terlibat dan etika riset digunakan sebagai
pedoman peneliti dalam bertindak terutama dengan orang lain yang notabene adalah subjek
penelitian. Selain itu, karena riset merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sebuah siklus
keilmuan dimana hal tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan dunia ilmu itu
sendiri, tentunya dalam perkembangan keilmuan tersebut, terdapat sebuah etika yang
melandasi seorang peneliti dalam melakukan riset. Hal ini telah memberikan sebuah penilaian
mengenai pentingnya etika dalam riset yang dapat dijadikan sebuah patokan sehingga
penelitian tersebut benar-benar berada dalam koridor siklus keilmuan.
Ketika mendengar kata ‗etika‘, yang terlintas dalam pikiran adalah suatu hal yang
berhubungan dengan sopan santun atau adat istiadat. Secara sederhana, Nicholas Walliman
menyatakan bahwa etika adalah aturan yang diperlukan dalam melakukan riset dan para
peneliti diharuskan untuk mengetahui sekaligus mengerti terlebih dulu tentang etika ini
sebelum melakukan penelitian. Sementara itu, David B. Resnik berpendapat bahwa etika
merupakan metode, prosedur, atau perspektif dalam memutuskan bagaimana melakukan dan
menganalisis isu atau problema yang kompleks dalam realitas sosial. Dalam hal ini, perlu
digarisbawahi bahwa apa yang dimaksud etika dalam penelitian bukan berbicara pada ranah
benar-salah (right and wrong) tapi lebih pada etis-tidaknya tindakan yang dilakukan peneliti
dalam setiap proses penelitiannya. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam melakukan
penelitian terdapat beberapa tata nilai yang harus dipegang dan dilaksanakan oleh peneliti,
karena dalam penelitian pun terdapat etika penelitian (etika research). Etika penelitian
merupakan hal yang sangat penting untuk menunjukkan kadar taat asas dalam setiap aspek
penelitian yang dilakukan. Menurut Resnik, setidaknya terdapat lima alasan mengenai
pentingnya etika penelitian, pertama, etika penting guna menunjang tujuan penelitian itu
sendiri, yaitu demi mencapai pengetahuan dan kesahihan. Hal ini akan meminimalisir
fabrikasi, falsifikasi, dan misrepresentasi data. Kedua, untuk menjamin adanya kegiatan
kolaboratif dalam penelitian baik antar maupun sesama peneliti dalam satu disiplin atau
lembaga tertentu. Ini memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap hasil karya orang
lain. Ketiga, menjamin akuntabilitas terhadap publik, hal ini terutama penelitian yang
dananya bersumber dari pendanaan public, seperti penelitian yang dilakukan oleh instansi
pemerintahan. Dengan demikian, etika yang ada dapat memberikan guidance bagi peneliti
untuk benar-benar akuntabel dalam penelitiannya. Keempat, dengan adanya etika maka
kualitas dan integritas peneliti sudah terkualifikasi sehingga akan sangat mudah dalam
memperoleh dukungan public, karena public yakin akan kualitas dan integritas peneliti
tersebut. Dan terakhir, etika dapat membangun dan memajukan tata nilai moral dan sosial
yang ada, seperti tanggung jawab social, taat hukum, dan hak asasi manusia. Dengan
demikian maka nilai tersebut akan tertanam di dalam diri peneliti dalam setiap proses
penelitian yang ia lakukan. Dinamika yang diharapkan adalah lahirnya tanggung jawab moral
akademik maupun non-akademik dari dalam diri peneliti untuk bisa
mempertanggungjawabkan apa yang ia tulis. Apa yang dinamakan etika research dalam ilmu
sosial, masih belum terkodifikasi secara jelas karena setiap disiplin ilmu memiliki standar
tersendiri, selain bahwa dunia sosial merupakan fenomena yang kompleks dimana manusia
merupakan subjek penelitian. Namun, setidaknya terdapat etika yang secara general dapat
dipakai sebagai prosedur atau patokan yang bisa diterima sebagai etika research pada
umumnya di dunia sosial, yaitu Kejujuran, peneliti harus menekankan aspek kejujuran
dalam penelitiannya, seperti dalam penggunaan metode, mengumpulkan dan menganalisis
data, dan menuliskan laporan penelitian. Jangan memfabrikasi dan falsifikasi data.
Objektifitas, peneliti harus objektif dalam setiap proses penelitian sehingga laporan yang
dihasilkan merupakan hasil interpretasi empiris terhadap data bukan interpretasi subjektif
peneliti. Sehingga ini dapat menghindarkan bias maupun self-deception. Integritas, peneliti
harus memiliki sifat konsekuen dalam setiap tindakan maupun pemikiran ketika meneliti.
Kehati-hatian, etika ini diperlukan untuk menghindarkan peneliti terjebak dalam kealpaan
dan kesalahan dalam penelitian, seperti mengumpulkan data, menulis hasil wawancara,
mencatat data dari korespondensi, dan lain-lain. Keterbukaan, peneliti harus memiliki sifat
terbuka terhadap kritik dan masukan mengenai penelitiannya. Penghormatan terhadap Hak
Kekayaan Intelektual, etika ini memberikan guidance agar peneliti menghormati dan
menghargai karya orang lain dengan tidak mengutip atau parafrase tanpa izin maupun
mencantumkan sumbernya, karena kalau tidak, peneliti telah melakukan plagiarisme.
Konfidensialitas, peneliti harus menjamin kerahasiaan data-data yang off the record, selain
menjaga kerahasiaan nara sumber yang tidak ingin dipublikasikan. Tanggung Jawab
Publikasi, penelitian selayaknya bukan merupakan ambisi pribadi atau untuk kepentingan
pribadi semata tapi penelitian selayaknya memberikan nilai manfaat bagi publik, dan untuk
itu harus dipublikasikan pada khalayak. Penghargaan pada Kolega, hormati kolega dan
perlakukan mereka sama dalam setiap proses penelitian. Tanggung Jawab Sosial, penelitian
selayaknya dilakukan untuk memajukan publik dan mencegah kekacauan sosial. Non-
Diskriminasi, hindari diskriminasi terhadap co-peneliti dan informan dalam basis seks, ras,
etnis, maupun faktor lain yang tidak berhubungan dengan kompetensi dan integritas keilmuan
mereka. Kompeten, peneliti harus memiliki kompetensi di bidangnya sehingga penelitian
tersebut membuahkan laporan yang kredibel dan maksimal. Kompetensi ini dapat dibangun
dengan terus belajar dan memperbanyak referensi yang berada dalam skop disiplinnya.
Legalitas, peneliti harus mengetahui aspek-aspek legal yang diatur dalam hukum dan
kebijakan pemerintah setempat. Perlindungan Terhadap Manusia, penelitian yang
dilakukan jangan sampai menimbulkan bahaya, resiko, dan side-effect terhadap populasi
manusia dimana peneliti mengambil sampel penelitian. Konflik Kepentingan, peneliti harus
bisa membatasi dan menghindari konflik kepentingan yang mungkin muncul dalam proses
penelitiannya, jadilah peneliti yang profesional. Permasalahan profesi akuntansi sekarang ini
banyak dipengaruhi masalah kemerosotan standar etika dan krisis kepercayaan. Krisis
kepercayaan ini seharusnya menjadi pelajaran bagi para akuntan untuk lebih berbenah diri,
memperkuat kedisiplinan mengatur dirinya dengan benar, serta menjalin hubungan yang
lebih baik dengan para klien atau masyarakat luas. Misal: skandal Enron yang melibatkan
Arthur Anderson, serta skndal Worldcom, Merck, dan Xerox, profesi akuntan di dunia
menjadi gempar. Cara yang lebih baik dan ideal dalan mengatasi dilema ini adalah dengan
mempertimbangkan kecukupan dari kesempatan yang ada selanjutnya memberikan reaksi
terhadap apa yng menjadi kekawatiran di dalamnya.

2. Bagaimana desain riset berhubungan dengan temuan masalah?


Jawaban :
Desain riset adalah kerangka kerja atau rencana untuk melakukan studi yang akan
digunakan sebagai pedoman dalam mengumpulkan dan menganalisis data. Desain riset
berhubungan dengan temuan masalah sebagai berikut. Desain penelitian/riset (research design)
merupakan suatu cetak biru (blue print) dalam hal bagaimana data dikumpulkan, diukur, dan
dianalisis. Melalui desain inilah peneliti dapat mengkaji alokasi sumber daya yang dibutuhkan. Desain
penelitian yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui,
mendeskripsikan, atau mengukur, maka desain penelitian masing-masing adalah desain eksploratif,
deskriptif, atau kausal.
Salah satu peranan penting dari riset akuntansi keperilakuan adalah membantu
merumuskan masalah yang harus diatasi. Riset hanya dapat dirancang secara sistematis untuk
memberikan informasi berharga jika masalah yang dihadapi telah dirumuskan secara jelas
dan akurat. Proses perumusan masalah meliputi pula spesifikasi tujuan riset yang dilakukan.
Pada tahapan penentuan desain riset ini dibuat kerangka untuk melaksanakan penelitian.
Di dalamnya memuat secara rinci prosedur untuk pengumpulan data, cara pengujian
hipotesis, kemungkinan jawab terhadap research questions samapi dengan model analisis
yang dipergunakan.

3. Sebagai seorang peneliti, bagaimana Anda menangani temuan masalah?


Jawaban : Sebagai seorang peneliti, sikap saya dalam menangani temuan masalah adalah
sebagai berikut. Ketika berada dalam proses menemukan masalah, peneliti sering mengalami
kendala maupun hambatan-hambatan. Kendala ini terkadang mengakibatkan stres yang dapat
menurunkan motivasi saya sebagai seorang peneliti untuk melanjutkan riset/penelitian. Jika
ditelusuri lebih terperinci, terdapat berbagai kesalahan yang saya lakukan sebagai seorang
peneliti dalam menemukan masalah, karena itu saya harus menghindari dan/atau menangani
masalah-masalah/beberapa kesalahan umum yang dapat saya lakukan sebagai berikut.
 Peneliti mengumpulkan data tanpa rencana atau tujuan riset yang jelas
 Peneliti memperoleh sejumlah data dan berusaha merumuskan masalah riset sesuai
dengan data yang tersedia
 Peneliti merumuskan masalah riset dalam bentuk yang terlalu umum dan ambigu
sehingga menyulitkan interpretasi hasil dan pembuatan kesimpulan riset
 Peneliti menemukan masalah tanpa terlebih dahulu menelaah hasil-hasil riset sebelumnya
dengan topik sejenis sehingga masalah riset tidak didukung oleh kerangka teoretis yang
baik
 Peneliti memilih masalah riset yang hasilnya kurang memberikan kontribusi terhadap
pengembangan teori atau pemecahan masalah praktis.
Kemudian peneliti harus mengetahui nilai-nilai dan teori. Peneliti harus mengetahui apa
yang harus dipahami, dijelaskan, dan gejala apa yang diprediksi dalam temuan masalah.
4. Bagaimana data sekunder dan data primer dapat dikatan valid?
Jawaban : Sumber data riset merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan dalam
penentuan metode pengumpulan data.
Data sekunder adalah sumber data riset yang diperoleh peneliti secara tidak langsung
melaui media perantara. Data sekunder pada umumnya berupa bukti, catatan, atau laporan
historis yang telah tersusun dalam arsip baik yang dipublikasikan dan yang tidak
dipublikasikan. Manfaat dari data sekunder adalah lebih meminimalkan biaya dan waktu,
mengklasifikasikan permasalahan-permasalahan, menciptakan tolok ukur untuk
mengevaluasi data primer, dan memenuhi kesenjangan-kesenjangan informasi. Jika informasi
telah ada, pengeluaran uang dan pengorbanan waktu dapat dihindari dengan menggunakan
data sekunder. Manfaat lain dari data sekunder adalah bahwa seorang peneliti mampu
memperoleh informasi lain selain informasi utama.
Data primer adalah sumber data riset yang diperoleh secara langsung dari sumber asli
atau pihak pertama. Data primer secara khusus dikumpulkan oleh peneliti untuk menjawab
pertanyaan riset. Data primer dapat berupa pendapat subjek riset (orang) baik secara individu
maupun kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian, atau kegiatan, dan
hasil pengujian. Manfaat utama dari data primer adalah bahwa unsur-unsur kebohongan
tertutup terhadap sumber fenomena. Oleh karena itu, data primer lebih mencerminkan
kebenaran yang dilihat. Bagaimanapun, untuk memperoleh data primer akan menghabiskan
dana yang relatif lebih banyak dan menyita waktu yang relatif lama. Misalnya, pengumpulan
data melalui cara mengamati perilaku, melakukan survei, atau eksperimen laboratorium.
Dalam menjamin validitas data primer dan sekunder, hanya informasi-informasi esensial
yang seharusnya diharapkan dari responden. Para peneliti seharusnya menentukan dasar dari
keinginan informasi dan memilih suatu format pertanyaan yang akan menyediakan informasi
dengan sedikit pembatasan terhadap responden. Pertanyaan-pertanyaan dapat bersifat terbuka
(open ended) atau sudah ditentukan kemungkinan-kemungkinan jawabannya (close ended).
Suatu pertanyaan open-ended diminta untuk suatu jawaban yang bebas. Pertanyaan close-
ended menawarkan bermacam-macam pilihan jawaban kepada responden. Responden
diminta untuk memilih satu atau lebih pilihan jawaban. Manfaat dari format pertanyaan ini
termasuk memudahkan jawaban dari para responden dan memudahkan tabulasi dan
penjelasan dari peneliti.

5. Apakah seharusnya alat ukur riset valid dan andal?


Jawaban : Alat ukur riset valid dan andal akan dijelaskan sebagai berikut. Tinggi fisik
seseorang dapat diukur dengan menggunakan inci atau meter. Hanya ada sedikit keraguan
mengenai apakah alat ukur yang digunakan sudah memadai ketika kita mengacu pada tinggi
dan berat badan seseorang. Namun, ketika kita tertarik untuk mengukur sifat dan perilaku
seseorang, alat ukur apa yang akan kita gunakan? Tidak ada ukuran ataupun skala untuk
mengukur sikap kerja atau untuk mengidentifikasikan suatu organisasi atau keberhasilan
secara tepat. Oleh karena itu, seorang peneliti harus mengembangkan instrumen risetnya
untuk mengukur fenomena-fenomena perilaku tersebut.
Terdapat dua hal penting yang berhubungan dengan perencanaan riset perilaku, yang
pertama adalah yang diukur berkaitan dengan hal-hal yang sah (validitas) dan yang kedua
adalah yang diukur berkaitan dengan hal-hal yang tidak representatif (andal). Dua hal
tersebut dinilai dengan validitas dan keandalan.
Validitas mengacu pada lingkup apa yang diukur pada kenyataannya. Peneliti ingin
melakukan pengukuran dan apa yang diukur seharusnya berkaitan dengan masalah risetnya.
Keandalan berkaitan dengan apakah suatu teknik khusus jika digunakan di lapangan dan
waktu yang berbeda akan menghasilkan sesuatu yang sama. Dalam hal itu, peneliti mengacu
pada konsistensi dari suatu alat ukur. Peneliti tergantung pada ukuran keandalan tetapi tidak
tergantung pada alat ukur yang tidak andal.
Validitas ada beberapa jenis, yaitu (1) validitas isi—konsep masalah yang diukur; (2)
validitas prediktif—pengujian prediksi perilaku; (3) validitas konkuren—alat ukur kruteria
sekarang atau masa lalu; dan (4) validitas konstruksi—pengukuran sesuai dengan teori atau
tidak. Reliabilitas mengacu pada suatu instrumen alat ukur yang andal akan menghasilkan
alat ukur yang stabil di setiap waktu. Aspek lain dari keandalan adalah akurasi dari instrumen
pengukuran.
Hanya informasi-informasi esensial yang seharusnya diharapkan dari responden. Para
peneliti seharusnya menentukan dasar dari keinginan informasi dan memilih suatu format
pertanyaan yang akan menyediakan informasi dengan sedikit pembatasan terhadap
responden. Pertanyaan-pertanyaan dapat bersifat terbuka (open ended) atau sudah ditentukan
kemungkinan-kemungkinan jawabannya (close ended). Suatu pertanyaan open-ended diminta
untuk suatu jawaban yang bebas. Pertanyaan close-ended menawarkan bermacam-macam
pilihan jawaban kepada responden. Responden diminta untuk memilih satu atau lebih pilihan
jawaban. Manfaat dari format pertanyaan ini termasuk memudahkan jawaban dari para
responden dan memudahkan tabulasi dan penjelasan dari peneliti.
BAB VIII

1. Definisi pengendalian mengutamakan ―kepercayaan‖ dan ―probabilitas‖. Bagaimana


keutamaan ini berbeda dari keutamaan ―kenyataan‖ dan ―kapasitas‖?
Jawaban : Karena, misalkan penyusunan standar yang tinggi pada sistem akuntansi tidak
dapat menjamin bahwa karyawan akan lebih produktif. Demikian pula pada penerapan atas
sistem akuntansi pertanggungjawaban tidak dapat menjamin bahwa para manajer akan lebih
bertanggung jawab dan efektif dalam mengalokasikan sumber daya yang berada dalam
kekuasaan mereka. Dalam memilih pengendalian keuangan, manajer akan mendasarkan
pilihan mereka pada kepercayaan dan pengalaman-pengalaman masa lalu, sehingga ini
berbeda dari kenyataan dan kepastian.

2. Bedakan antara pengendalian dalam perilaku dan pengendalian yang bukan perilaku!
Jawaban : Menurut saya pengendalian dalam perilaku pasti perilaku yg kurang baik harus
dikendalikan perilaku lebih ketindakan kita. Kalau pengendalian bukan perilaku itu
sepertinya pengendalian dlm kata-kata kita yg kurang baik dan sopan apalagi sekarang
banyak orang yg menggunakan kata-kata tidak sopan dengan tidak sengaja maka kita harus
bisa lebih mengendalikan bukan perilaku kita tapi ke perkataan kita.

3. Bedakan antara pendekatan formal dan informal dalam pengendalian dan berikan contohnya!
Jawaban : Pendekatan Formal
Pendekatan formal adalah suatu pendekatan yang dilakukan dengan cara membuat logika
yang disusun secara sistematis terlebih dahulu.

Pendekatan informal merupakan kebalikan dari pendekatan formal. Jika pembahasan suatu
bagian dari sebuah sistem formal menyimpang dari cara formal, maka pembahasan itu
disebut menggunakan pendekatan informal (tidak formal).
 Sebagai contoh,misalnya seorang guru ingin mengenalkan suatu rumus dan
menggunakannya untuk menyelesaikan soal-soal tanpa menurunkannya atau
membuktikannya terlebih dahulu kebenarannya.

4. Tunjukkan bagaimana hubungan antara perencanaan, operasi, dan kegiatan umpan balik
dalam organisasi dapat menghasilkan hasil yang tidak konsisten dengan potensi nyata yang
ada pada organisasi!
Jawaban : perencanaan, operasi dan umpan balik telah diidentifikasi sebagai tiga aspek
proses administrasi yang sangat didukung oleh rencangan pengendalian terpadu. Ketika
setiap dimensi ini dibahas, dimensi tersebut bukan merupakan aktivitas yang terkait. Desain
system perencanaan untuk jangka waktu pendek dan panjang, penciptaan dukungan
pengendalian bagi operasi, dan keputusan untuk menekankan ukuran umpan balik tertentu
guna mengidentifikasi keberhasilan dan kegagalan yang berhubungan dengan masalah yang
ada adalah beberapa contoh hubungan. Hubungan ini dapat ditata untuk menciptakan
kumpulan yang besar jika suatu organisasi dapat menghubungkan subsistem pengendalian
secara baik guna mendukung perencanaan, operasi dan fungsi umpan balik.

5. Untuk menggambarkan pengendalian dalam sector laba dan nirlaba, tunjukan beberapa alat
kunci evaluasi kinerja yang dapat bermanfaat pada pusat administrasi dalam pencapaian
pengendalian!
Jawaban : Yang menggambarkan pengendalian dalam sektor laba dan nirlaba yaitu
pengendalian keuangan dalam kerangka pemberdayaan perusahaan dalam beberapa alat kunci
evaluasi kinerja yaitu membangun sistem, sistem yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1) Membangun sistem pengendalian diagnostic,


2) Membangun sistem kepercayaan,
3) Membangun sistem batasan,
4) Membangun sistem pengendalian interaktif, dan
5) Melakukan penyeimbangan pemberdayaan dan pengendalian

Anda mungkin juga menyukai