Anda di halaman 1dari 3

Analisis implementasi dari kesepuluh pilar demokrasi itu dalam berbagai bidang

kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan serta ihwal tingkat
keberhasilannya. Adakah kesenjangan antara yang normatif dengan praktiknya?

1. Demokrasi yang Berketuhanan Yang Maha Esa

Sistem penyelenggaraan Negara harus mematuhi nilai – nilai maupun kaidah dasar
ketuhanan yang maha esa. Dalam pelaksanaannya, dikehidupan politik, ekonomi, sosial,
budaya serta pertahanan keamanan Negara, harus berdasarkan norma yang sesuai dengan
ketuhanan yang maha esa. Maka diharapkan, kita semua jauh dari tindakan maupun pola
pikir yang tercela. Sehingga dapat mengurangi munculnya permasalahan. Contoh
dibidang politik, kita tidak akan berbuat melakukan korupsi serta melakukan kecurangn –
kecurangan lainnya. Contoh di bidang ekonomi, kita bersikap adil dan tidak merugikan
sesama. Sedangkan didalam kehidupan bersosial, apabila kita mengikuti prinsip ini, maka
kita akan lebih menghargai sesama dan tidak bertindak semena – mena ataupun sesuka
hati.

Dalam praktiknya, tentu banyak sekali terjadi kesenjangan yang menyimpang maupun
tidak sesuai dengan norma, aturan dan ketentuan – ketentuan yang berlaku. Masih
banyaknya terjadi ketimpangan. Korupsi masih merajalela. Kecurangan banyak terjadi
dimana – mana.

2. Demokrasi dengan Kecerdasan

Penyelenggaraan demokrasi yang sesuai dengan UUD 1945. Dalam pelaksanaannya,


mengedepankan kecerdasan akal dan rohani. Tidak mengedepankan kekuatan massa
ataupun kekerasan. Dengan kepala dingin serta pola pikir yang baik, maka dalam
melakukan suatu tindakan, ataupun mengambil suatu keputusan, kita tetap rasional.

Dalam praktiknya, masih banyak masyarakat yang kurang mengedepankan kecerdasan


serta kurang dapat menahan emosi sehingga sampai sekarang ini masih banyak terjadi
kekerasan.

3. Demokrasi yang Berkedaulatan Rakyat

Kekuasaan tertinggi ada ditangan rakyat. Pada prinsipnya, rakyatlah yang memiliki
kedaulatan. Suara serta aspirasi rakyat ditampung, untuk kemudian disampaikan melalui
wakil rakyat, yaitu MPR (DPR/DPD) dan DPRD.

Dalam praktiknya, rakyat masih banyak yang sulit. Aspirasi hanya ditampung tapi banyak
yang tidak dilaksanakan.

4. Demokrasi dengan Rule Of Law

Kekuasaan Negara harus menlindungi kebenaran hukum (legal truth), bukan demokrasi
yang dilaksanakan sesukahati maupun manipulatif. Kekuasaan Negara memberikan
keadilan hukum (legal justice), bukan demokrasi yang pura – pura ataupun sekedar
formalitas saja. Kekuasaan Negara itu menjamin kepastian hukum (legal security), bukan
demokrasi yang membiarkan terjadinya anarki. Kekuasaan Negara itu mengembangkan
manfaat atau kepentingan hukum (legal interest), seperti pembangunan serta kedamaian,
bukan demokrasi yang menciptakan perpecahan, permusuhan maupun kerusakan. Ini
semua berlaku dibidang manapun, baik politik, ekonomi, sosial, maupun budaya.
Dalam praktiknya, keadilan masih tidak ditegakkan, banyak hal – hal yang dimanipulasi,
kepastian dan keamanan hukum tidak terjamin, dan masih banyaknya terjadi perpecahan

5. Demokrasi dengan Pemisahan Kekuasaan Negara

Demokrasi pancasila menurut UUD 1945, mengalami pembagian dan pemisahan


kekuasaan (division and separation of power) dengan system pengawasan dan
perimbangan (check and balance). Kekuasaan tidak dipegang penuh pada satu pihak, agar
pengawasan lebih mudah untuk dijalankan.

Dalam praktiknya, banyak pihak – pihak yang tidak transparan. Juga terkadang, bidang
pengawas yang tidak adil dalam melakukan pengawasan, sehingga masih banyak
penyelewengan yang terjadi.

6. Demokrasi dengan Hak Asasi Manusia

Untuk mempertahankan serta meningkatkan martabat dan serajat manusia seutuhnya. Hak
asasi manusia bersifat universal dan dimiliki oleh siapapun. Contoh di bidang politik,
Indonesia mengikuti perjanjian ICCPR (International Covenant on Civil and Political
Right). Yang mana, disana dilakukan beberapa perubahan dalam peraturan perundang –
undangan mengenai HAM dibidang politik dan sipil. Adanya Komnas HAM juga
bertujuan untuk mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi
manusia. Sedangkan dalam bidang sosial, ekonomi serta budaya, kita dapat menegakkan
HAM dengan mengetahui batas – batas hak kita dengan hak orang lain, untuk saling
menjaga satu sama lain.

Dalam praktiknya, dalam di kehidupan sosial kita sehari – hari, masih banyak terjadi
pelanggaran HAM, dalam hal kecil misalnya terjadinya bullying. Yang pada saat ini
sering terjadi, yaitu semakin sempitnya kebebasan berpendapat.

7. Demokrasi dengan Pengadilan yang Merdeka

Menghendaki diberlakukannya sistem pengadilan yang independen, serta memberi


kesempatan yang seluasnya untuk mendapatkan hukum yang adil. Semua orang dari
pihak manapun memiliki hak yang sama dalam dalam hukum. Pengadilan seharusnya
bersifat netral serta tidak memihak kemanapun dalam menjalankan hukum, tanpa
membeda – bedakan status sosial dan ekonomi tiap individu.

Dalam praktiknya, hukum masih banyak yang tidak adil. Kasus – kasus dijalur hukum
dapat diselesaikan dengan cara suap. Contoh kecil didalam kehidupan sosial kita sehari –
hari, yang lemah takut akan yang lebih berkuasa. Kesenjangan dan ketidakadilan tersebut
masih banyak terjadi entah karena perbedaan status sosial maupun golongan ekonomi.

8. Demokrasi dengan Otonomi Daerah

Prinsip otonomi dimana pemerintahan membentuk daerah – daerah otonom pada propinsi
dan kabupaten/kota, guna menyesuaikan peraturan yang ada terhadap budaya dan kultural
yang ada di daerah masing – masing. Tuujan dari otonomi daerah yaitu, supaya tiap
daerah bias mengatur dan menyelenggarakan urusna – urusan pemerintah sebagai urusan
rumah tangganya sendiri, yang kemudian pertanggungjawabannya diserahkan kepada
pemerintah pusat. Hal tersebut, berfungsi untuk menggali potensi (potensi tiap – tiap
daerah pasti berbeda) untuk kemudian dikembangkan di daerah itu sendiri.
Dalam praktiknya, masih terjadi beberapa permasalahan dalam otonomi daerah. Dengan
keleluasaan yang diberikan, bukan berarti dapat berlaku sesukahati dan menyimpang dari
hukum yang berlaku.

9. Demokrasi dengan Kemakmuran

Prinsipnya, agar dapat membangun Negara yang makmur, oleh rakyat dan untuk rakyat,
mencakup semua aspek, baik hak dan kewajiban, kedaulatan rakyat, pembagian
kekuasana, otonomi daerah, ataupun keadlian hukum. Berdampak pada menekannya
tingkat konflik agama maupun antar ras menjadi lebih kecil.

Dalam praktiknya, sekarang ini semakin banyak terjadi permasalahan antar agama
maupun antar ras. Masih banyaknya individu yang mengedepankan agama ataupun
rasnya sendiri, tanpa mempertimbangkan kedamaian bersama, sehingga terjadilah
perpecahan.

10. Demokrasi yang Berkeadilan Sosial

Semua masyarakat mendapat perlakuan yang sama, tanpa melihat tingkat sosial maupun
golongan ekonomi tertentu.

Dalam praktiknya, status sosial dapat mempengaruhi mudah atau sulitnya kita saat
mndapatkan keadilan didepan hukum. Banyak orang kaya yang terjerat korupsi
mendapatkan sanksi tidak setimpal dengan orang susah yang hanya mencuri buah
dikebun tetangganya karena tuntutan ekonomi.