Anda di halaman 1dari 18

MANAJEMEN NYERI

A. Pendahuluan
Setiap individu sangat membutuhkan rasa nyaman. Kebutuhan rasa
nyaman ini dipersepsikan berbeda setiap orang. Ada yang mempersepsikan
bahwa hidup terasa nyaman bila mempunyai uang. Ada juga yang
indikatornya bila tidak ada gangguan dalam hidupnya.
Kondisi yang menyebabkan ketidaknyamanan klien adalah nyeri.
Nyeri merupakan sensasi ketidaknyamanan yang bersifat individual. Klien
merespons terhadap nyeri yang dialaminya dengan beragam cara, misalnya
berteriak, meringis, dan lain-lain. Oleh karena nyeri bersifat subjektif, maka
perawat mesti peka terhadap sensasi nyeri yang dialami klien. Untuk itu,
diperlukan kemampuan perawat dalam mengidentifikasi dan mengatasi rasa
nyeri. Berikut ini akan diuraikan mengenai konsep nyeri dan intervensi
keperawatan yang didapat dilakukan untuk mengatasi rasa nyeri.

B. Definisi Nyeri
Nyeri merupakan sensasi yang rumit, unik, universal, dan bersifat
individual. Dikatakan bersifat individual karena respons individu terhadap
sensasi nyeri beragam dan tidak bisa disamakan satu dengan lainnya. Hal
tersebut menjadi dasar bagi perawat dalam mengatasi nyeri pada klien.
Nyeri diartikan berbeda-beda antar individu, bergabung pada
persepsinya. Walaupun demikian, ada satu kesamaan mengenai persepsi nyeri.
Secara sederhana, nyeri dapat diartikan sebagai suatu sensasi yang tidak
menyenangkan baik secara sensori maupun emosional yang berhubungan
dengan adanya suatu kerusakan jaringan atau faktor lain, sehingga individu
merasa tersiksa, menderita yang akhirnya akan mengganggu aktivitas sehari-
hari, psikis, dan lain-lain.

C. Etiologi Nyeri
Penyebab nyeri dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan yaitu
penyebab yang berhubungan dengan fisik dan berhubungan dengan psikis.
Secara fisik misalnya, penyebab nyeri adalah trauma (baik trauma mekanik,
termis, kimiawi, maupun elektrik), neoplasma, peradangan, gangguan sirkulasi
darah, dan lain-lain. Secara psikis, penyebab nyeri dapat terjadi oleh karena
adanya trauma psikologis.
Trauma mekanik menimbulkan nyeri karena ujung-ujung saraf bebas
mengalami kerusakan akibat benturan, gesekan, ataupun luka. Trauma termis
menimbulkan nyeri karena ujung saraf reseptor mendapat rangsangan akibat
panas, dingin. Trauma kimiawi teraji karena tersentuh zat asam atau basa yang
kuat. Trauma elektrik dapat menimbulkannyeri karena pengaruh aliran listrik
yang kuat mengenai reseptor rasa nyeri.
Neoplasma menyebabkan nyeri karena terjadinya tekanan atau
kerusakan jaringan yang mengandung reseptor nyeri dan juga karena tarikan,
jepitan atau metastase. Nyeri pada peradangan terjadi karena kerusakan ujung-
ujung saraf reseptor akibat adanya peradangan atau terjepit oleh
pembengkakan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa nyeri yang disebabkan
oleh faktor fisik berkaitan dengan terganggunyaserabut saraf reseptor nyeri.
Serabut saraf ini terletak dan tersebar pada lapisan kulit dan pada jaringan-
jaringan tertentu yang terletak lebih dalam.
Nyeri yang disebabkan faktor psikologis merupakan nyeri yang
dirasakan bukan karena penyebab organik, melainkan akibat trauma psikologis
dan pengaruhnya terhadap fisik. Kasus ini dapat dijumpai pada kasus yang
termasuk kategori psikosomatik. Nyeri karena faktor ini disebut pula
psychogenic pain.

D. Klasifikasi Nyeri
Nyeri dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa golongan berdasarkan pada
tempat, sifat, berat ringannya nyeri, dan waktu lamanya serangan.
1. Nyeri berdasarkan tempatnya:
a) Pheriperal pain, yaitu nyeri yang terasa pada permukaan tubuh.
Misalnya pada kulit, mukosa.
b) Deep pain, yaitu nyeri yang terasa pada permukaan tubuh yang lebih
dalam atau organ-organ tubuh viseral.
c) Refered pain, yaitu nyeri dalam yang disebabkan karena penyakit
organ/struktur dalam tubuh yang ditransmisikan ke bagian tubuh di
daerah yang berbeda, bukan daerah asal nyeri.
d) Central pain, yaitu nyeri yang terjadi karena perangsangan pada sistem
saraf pusat, spinal cord, batang otak, talamus, dll.
2. Nyeri berdasarkan sifatnya:
a) Incidental pain, yaitu nyeri yang timbul sewaktu-waktu lalu
menghilang.
b) Steady pain, yaitu nyeri yang timbul dan menetap serta dirasakan
dalam waktu yang lama.
c) Paroxymal pain, yaitu nyeri yang dirasakan berintensitas tinggi dan
kuat sekali. Nyeri tersebut biasanya menetap ± 10-15 menit, lalu
menghilang, kemudian timbul lagi.
3. Nyeri berdasarkan berat ringannya:
a) Nyeri ringan, yaitu nyeri dengan intensitas rendah
b) Nyeri sedang, yaitu nyeri dengan intensitas sedang
c) Nyeri berat, yaitu nyeri dengan intensitas tinggi
4. Nyeri berdasarkan waktu lamanya serangan:
a) Nyeri akut, yaitu nyeri yang dirasakan dalam waktu yang singkat dan
berakhir kurang dari enam bulan, sumber dan daerah nyeri diketahui
dengan jelas. Rasa nyeri mungkin sebagai akibat dari luka, seperti
luka operasi, ataupun pada suatu penyakit arteriosclerosis pada arteri
koroner.
b) Nyeri kronis, yaitu nyeri yang dirasakan lebih dari enam bulan. Nyeri
kronis ini polanya beragam dan berlangsung berbulan-bulan bahkan
bertahun-tahun. Ragam pola tersebut ada yang nyeri timbul dengan
periode yang diselingi interval bebas dari nyeri lalu timbul kembali
lagi nyeri, dan begitu seterusnya. Ada pula pola nyeri kronis yang
konstan, artinya rasa nyeri tersebut terus-menerus terasa makin lama
makin meningkat intensitasnya walaupun telah diberikan pengobatan.
Misalnya, nyeri pada neoplasma.

Tabel. Perbedaan nyeri akut dan kronis


Nyeri akut: Nyeri kronis:
 Waktu: kurang dari enam bulan  Waktu: lebih dari enam bulan
 Daerah nyeri terlokalisir  Daerah nyeri menyebar
 Nyeri terasa tajam seperti  Nyeri terasa tumpul seperti ngilu,
ditusuk, disayat, dicubit, dll. linu, dll.
 Respons sistem saraf simpatis:  Respon sistem saraf parasimpatis:
takikardia, peningkatan penurunan tekanan darah,
respirasi, peningkatan tekanan bradikardia, kulit kering, panas,
darah, pucat, lembab, dan pupil konstriksi
berkeringat, dan dilatasi pupil.  Penampilan klien tampak depresi
 Penampilan klien tampak dan menarik diri.
cemas, gelisah, dan terjadi
ketegangan otot.

E. Respon Terhadap Nyeri


Respon terhadap nyeri meliputi respon fisiologis dan respon perilaku
1. Nyeri akut meliputi:
a) Respon fisiologis
1) Peningkatan tekanan darah (awal)
2) Peningkatan denyut nadi
3) Peningkatan pernapasan
4) Dilatasi pupil
5) Keringat dingin
b) Respon perilaku
1) Gelisah
2) Ketidakmampuan berkonsentrasi
3) Ketakutan
4) Disstress
2. Nyeri kronis meliputi:
a) Respon fisiologis
1) Tekanan darah normal
2) Denyut nadi normal
3) Respirasi normal
4) Pupil normal
5) Kulit kering
b) Respon perilaku
1) Imobilisasi atau ketidakaktifan fisik
2) Menarik diri
3) Putus asa
Karena tidak ditemukan gejala dan tanda yang mencolok dari nyeri
kronis ini maka tugas tim kesehatan tidak mudah untuk dapat
mengidentifikasinya.
F. Mekanisme Nyeri
Nyeri merupakan suatu fenomena yang penuh rahasia dan menggugah rasa
ingin tahu para ahli. Begitu pula untuk menjelaskan bagaimana nyeri tersebut
terjadi masih merupakan suatu misteri. Namun demikian ada beberapa teori
yang menjelaskan mekanisme trasmisi nyeri. Teori tersebut di antaranya
adalah the specificity theory, the intensity theory, dan the gate control theory.
1. The Specificity Theory (Teori Spesifik)
Otak menerima informasi mengenai objek eksternal dan struktur
tubuh melalui saraf sensoris. Saraf sensoris untuk setiap indra perasa
bersifat spesifik. Artinya, saraf sensoris dingin hanya dapat dirangsang
oleh sensasi dingin, bukan oleh panas. Begitu pula dengan saraf sensoris
lainnya.
Ada dua tipe serabut saraf yang menghantarkan stimulus nyeri
yaitu serabut saraf tipe delta A dan serabut saraf tipe C.

Perbedaan serabut saraf nyeri tipe delta A dan C


Serabut saraf tipe Delta A: Serabut saraf tipe C:
 Daya hantar sinyal relatif cepat.  Daya hantar sinyal lebih lambat.
 Bermielin halus bermielin halus  Tidak bermielin dengan
dengan diameter 2-5 mm. diameter 0,4 – 1,2 mm.
 Membawa rangsangan nyeri  Membawa rangsangan nyeri
yang menusuk. terbakar dan tumpul
 Serabut saraf tipe ini berakhir di  Serabut saraf tipe ini berakhir di
kornu dorsalis dan lamina I. lamina II, III, dan IV

Menurut teori spesifik ini, timbulnya sensasi nyeri berhubungan


dengan pengaktifan ujung-ujung serabut saraf bebas oleh perubahan
mekanik, rangsangan kimia, atau temperatur yang berlebihan. Persepsi
nyeri yang dibawa oleh serabut saraf nyeri diproyeksikan oleh
spinotalamik ke spesifik pusat nyeri talamus.
2. The Intensity Theory (Teory Intensitas)
Nyeri adalah rangsangan yang berlebihan pada reseptor. Setiap rangsangan
sensori punya potensi untuk menimbulkan nyeri jika intensitasnya cukup
kuat.
3. The Gate Control Theory (Teori Kontrol Pintu)
Teori ini menjelaskan mekanisme transmisi nyeri. Kegiatannya
bergantung pada aktivitas serat saraf aferen berdiameter besar atau kecil
yang dapat memengaruhi sel saraf di substansia gelatinosa. Aktivitas serat
yang berdiameter besar menghambat transmisi yang artinya “pintu
ditutup”, sedangkan serat saraf yang berdiameter kecil mempermudah
transmisi yang artinya “pintu dibuka”.
Tetapi menurut penelitian terakhir, tidak ditemukan hambatan
presinaptik. Hambatan oleh presinaptik pada serat berdiameter besar
maupun kecil hanya terjadi bila serat tersebut dirangsang secara berturut-
turut. Oleh karena tidak semua sel saraf di substansia gelatinosa menerima
input konvergen dari sel saraf besar maupun kecil baik yang
membahayakan atau tidak, maka peranan control pintu ini menjadi tidak
jelas.
G. Upaya Mengatasi Ketidaknyamanan (Nyeri)
Metode dan teknik yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri antara lain
sebagai berikut:
1. Distraksi
Distraksi adalah mengalihkan perhatian klien dari nyeri. Teknik distraksi
yang dapat dilakukan di antaranya:
a) Bernafas lambat dan berirama secara teratur.
b) Menyanyi berirama dan menghitung ketukannya
c) Mendengarkan musik
d) Mendorong untuk mengkhayal (guided imagery) yaitu melakukan
bimbingan yang baik kepada klien untuk mengkhayal. Tekniknya
sebagai berikut:
1) Atur posisi yang nyaman pada klien
2) Dengan suara yang lembut, minta klien untuk memikirkan hal-hal
yang menyenangkan atau pengalaman yang membantu penggunaan
semua indra.
3) Mintakan klien untuk tetap berfokus pada bayangan yang
menyenangkan sambil merelaksasikan tubuhnya.
4) Bila klien tampak relaks, perawat tidak perlu bicara lagi
5) Jika klien menunjukkan tanda-tanda agitasi, gelisah, atau tidak
nyaman, perawat harus menghentikan latihan dan memulainya lagi
ketika klien siap.
e) Massage (pijatan). Ada beberapa teknik massage yang dapat dilakukan
untuk distraksi.
1) Remasan  Usap otot bahu yang dikerjakan secara bersama.
2) Selang seling tangan  Memijat punggung dengan tekanan
pendek, cepat, dan bergantian tangan
3) Gesekan  Memijat punggung dengan ibu jari, gerakannya
memutar sepanjang tulang punggung dari sakrum ke bahu
4) Eflurasi  Memijat punggung dengan kedua tangan, tekanan lebih
halus dengan gerakan ke atas untuk membantu aliran balik vena
5) Petriasi  Menekan punggung secara horizontal. Pindah tangan
anda, dengan arah berlawanan, menggunakan gerakan meremas.
6) Tekanan menyikat  Secara halus, tekan punggung dengan ujung-
ujung jari untuk mengakhiri pijatan.
2. Teknik relaksasi
Teknik ini didasarkan kepada keyakinan bahwa tubuh berespons
pada ansietas yang merangsang pikiran karena nyeri atau kondisi
penyakitnya. Teknik relaksasi dapat menurunkan ketegangan fisiologis.
Teknik ini dapat dilakukan dengan kepala ditopang dalam posisi berbaring
atau duduk di kursi. Hal utama yang dibutuhkan dalam pelaksanaan teknik
relaksasi adalah klien dengan posisi yang nyaman, klien dengan pikiran
yang beristirahat, dan lingkungan yang tenang.
Teknik relaksasi banyak jenisnya, salah satunya adalah relaksasi
autogenik. Relaksasi ini mudah dilakukan dan tidak berisiko. Prinsipnya
klien harus mampu berkonsentrasi sambil membaca mantra/doa/zikir
dalam hati seiring dengan ekspirasi udara paru.
Langkah-langkah relaksasi autogenik:
a) Persiapan sebelum latihan
1) Tubuh berbaring, kepala disanggaj dengan bantal, dan mata
terpejam.
2) Atur nafas hingga nafas menjadi lebih terartur.
3) Tarik nafas sekuat-kuatnya lalu buang secara perlahan-lahan
sambil katakan dalam hati ’saya damai dan tenang’.
b) Langkah 1: Merasakan berat
1) Fokuskan perhatian pada lengan dan bayangkan kedua lengan
terasa berat. Selanjutnya, secara perlahan-lahan bayangkan kedua
terasa kendur, ringan hingga terasa sangat ringan sekali sambil
katakan ’saya merasa damai dan tenang sepenuhnya’.
2) Lakukan hal yang sama pada bahu, punggung, leher, dan kaki.
c) Langkah 2: Merasakan kehangatan
1) Bayangkan darah mengalir ke seluruh tubuh dan rasakan hawa
hangatnya aliran darah, seperti merasakan minuman yang hangat,
sambil mengatakan dalam diri ’saya merasa senang dan hangat’.
2) Ulangi enam kali.
3) Katakan dalam hati ’saya merasa damai, tenang’
d) Langkah 3: Merasakan denyut jantung
1) Tempelkan tangan kanan pada dada kiri dan tangan kiri pada perut
2) Bayangkan dan rasakan jantung berdenyut dengan teratur dan
tenang. Sambil katakan ’jantungnya berdenyut dengan teratur dan
tenang’.
3) Ulangi enam kali.
4) Katakan dalam hati ’saya merasa damai, tenang’
e) Langkah 4: Latihan pernafasan
1) Posisi kedua tangan tidak berubah
2) Katakan dalam diri ’ nafasku longgar dan tenang’.
3) Ulangi enam kali.
4) Katakan dalam hati ’saya merasa damai, tenang’
f) Langkah 5: Latihan abdomen
1) Posisi kedua tangan tidak berubah
Rasakan pembuluh darah dalam perut mengalir dengan teratur dan
terasa hangat
2) Katakan dalam diri ’darah yang mengalir dalam perutku terasa
hangat’.
3) Ulangi enam kali.
4) Katakan dalam hati ’saya merasa damai, tenang’
g) Langkah 6: Latihan kepala
1) Kedua tangan kembali pada posisi awal.
2) Katakan dalam hati ”kepala saya terasa benar-benar dingin”.
Ulangi enam kali
3) Katakan dalam hati: ’saya merasa damai dan tenang’.
h) Langkah 7: Akhir latihan
Mengakhiri latihan relaksasi autogenik dengan melekatkan
(mengepalkan) lengan bersamaan dengan nafas dalam, lalu buang
nafas pelan-pelan sambil membuka mata.
3. Hipnotis
Hipnotis adalah suatu teknik yang menghasilkan suatu keadaan tidak sadar
diri yang dicapai melalui gagasan-gagasan yang disampaikan oleh
pehipnotisan.
4. Obat analgesik
Obat analgesik mengurangi persepsi seseorang tentang rasa nyeri, terutama
lewat daya kerjanya atas sistem saraf sentral dan mengubah respons
seseorang terhadap rasa sakit. Pemberian obat analgesik dilakukan guna
mengganggu atau memblok transmisi stimulus nyeri agar terjadi
perubahan persepsi dengan cara mengurangi kortikal terhadap nyeri. Jenis
analgesiknya adalah narkotika dan bukan narkotika. Jenis narkotika
digunakan untuk menurunkan tekanan darah dan menimbulkan depresi
pada fungsi vital, seperti respirasi. Jenis bukan narkotik yang paling
banyak dikenal masyarakat adalah aspirin, asetaminofen, dan bahan
antiinflamasi non steroid. Golongan aspirin (asetysalicylic acid) digunakan
untuk memblok rangsangan sentral dan perifer, kemungkinan menghambat
sintesis prostaglandin yang memiliki khasiat setelah 15-20 menit dan
memuncak 1-2 jam. Aspirin juga menghambat agregasi trombosit dan
antagonis lemah terhadap vitamin K, sehingga dapat meningkatkan waktu
perdarahan dan protrombin bila diberikan pada dosis tinggi. Golongan
asetaminofen sama seperti aspirin, akan tetapi tidak menimbulkan
perubahan kadar protombin dan jenis nonsteroid anti inflamantory drug
(NSAID) juga dapat menghambat prostaglandin dan dosis rendah dapat
berfungsi sebagai analgesik. Kelompok obat ini meliputi ibuprofen,
mefenamic acid, fenoprofen, naprofen, zomepirac, dll.

Tabel jenis obat analgesik narkotik


Nama Generik Nama Dosis Cara Serangan Puncak Lamanya
Dagang Pemberian Khasiat
Morphine sulfate - 5-20 mg sc, im 5-10 menit 60 menit 4-6 jam
Per 3-4 jam
Codein sulfate - 15-60 mg sc, po 5-30 menit 30-60 3-4 jam
Per 3-4 jam menit
Hydromorphone Dilaudid 2-4 mg iv, im, sc, 5-15 menit 1 jam 4-6 jam
hydrocloride Per 4-6 jam po
Meperidine Demeral 50-150 mg iv, im, sc, 10-15 30-60 2-4 jam
hydrocloride Per 3-4 jam po menit menit
Methadone Dolophine 2.5-10 mg im, sc, po 10 menit 1-2 jam 4-6 jam
Per 3-4 jam
Pentazocine Talwin 50-100 mg po 0.5-2 jam 3-4 jam
Per 3-4 jam

5. Pemberian stimulator listrik


Pemberian stimulator listrik, yaitu dengan memblok atau mengubah
stimulus nyeri dengan stimulus yang kurang dirasakan. Bentuk stimulator
metode stimulus listrik meliputi:
a) Transcutaneus elektrical nerve stimulator (TENS)
Digunakan untuk mengendalikan stimulus manual daerah nyeri
tertentu dengan menempatkan beberapa electrode luar.
b) Percuteneus implanted spinal cord epidural stimulator
Merupakan alat stimulator yang diimplan dibawah kulit dengan
transistor timah penerima pada daerah epidural dan columna vertebrae.
c) Stimulator columna vertebrae
Sebuah stimulator dengan stimulus alat penerima transistor yang
dicangkok melalui kantong kulit intraclavicula atau abdomen, yakni
electrode yang ditanam dengan cara bedah pada dorsum sumsum
tulang belakang.
6. Prosedur invasif
Prosedur invasif yang biasanya dilakukan adalah dengan memasukan
opioid ke dalam ruang epidural atau subarakhnoid melalui intraspinal, cara
ini dapat memberikan efek analgesik yang kuat tetapi dosisnya lebih
sedikit. Prosedur invasif yang lain adalah blok saraf, stimulasi spinal,
pembedahan (rhizotomy,cordotomy) teknik stimulasi, stimulasi columna
dorsalis.
KOMPRES

Suhu tubuh yang optimum sangat penting untuk kehidupan sel agar dapat
berfungsi secara efektif. Perubahan suhu tubuh yang ekstrim dapat
membahayakan bagi tubuh. Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk dapat
memelihara suhu tubuh klien agar tetap normal. Ada beberapa tindakan yang
dapat dilakukan untuk memelihara suhu tubuh diantaranya adalah melalui
kompres.

A. Pengertian
Kompres adalah metode pemeliharaan suhu tubuh dengan menggunakan
cairan atau alat yang dapat menimbulkan hangat atau dingin pada bagian
tubuh yang memerlukan.

B. Jenis Kompres
1. Kompres panas
2. Kompres dingin

C. Tujuan
1. Kompres panas
a) Memperlancar sirkulasi darah
b) Mengurangi rasa sakit
c) Memberi rasa hangat, nyaman, dan tenang pada klien
d) Memperlancar pengeluaran eksudat
e) Merangsang peristaltik usus
2. Kompres dingin
a) Menurunkan suhu tubuh
b) Mencegah peradangan meluas
c) Mengurangi kongesti
d) Mengurangi perdarahan setempat
e) Mengurangi rasa sakit pada suatu daerah setempat

D. Indikasi
1. Kompres panas
a) Klien yang kedinginan (suhu tubuh yang rendah/hipotermia)
b) Klien dengan perut kembung
c) Klien yang mempunyai penyakit peradangan, seperti radang
persendian
d) Spasme otot
e) Adanya abses, hematoma
2. Kompres dingin
a) Klien dengan suhu tubuh yang tinggi
b) Klien dengan batuk atau muntah darah
c) Pascatonsillectomy
d) Radang, memar
E. Efek Fisiologis Kompres Panas dan Dingin
1. Kompres Panas
a) Vasodilatasi
b) Meningkatkan permeabilitas kapiler
c) Meningkatkan metabolisme seluler
d) Merelaksasi otot
e) Meningkatkan inflamasi: meningkatkan aliran darah ke suatu area
f) Meredakan nyeri dengan merelaksasi otot
g) Efek sedatif
h) Mengurangi kekakuan sendi dengan menurunkan viskositas cairann
sinovial
2. Kompres dingin
a) Vasokonstriksi
b) Menurunkan permeabilitas kapiler
c) Menurunkan metabolisme seluler
d) Merelaksasi otot
e) Memperlambat pertumbuhan bakteri, mengurangi inflamasi
f) Meredakan nyeri dengan membuat area menjadi mati rasa,
memperlambat aliran impuls nyeri, dan ambang nyeri
g) Efek anastesi lokal
h) Meredakan perdarahan

F. Cara Pemberian Kompres


1. Cara pemberian kompres panas
a) Kompres panas basah
1) Persiapan alat:
 Kom berisi cairan hangat sesuai kebutuhan (40-160C)
 Bak steril pinset dua buah, kasa beberapa potong dengan
ukuran yang sesuai
 Kasa perban atau kain segitiga
 Pengalas
 Sarung tangan bersih di tempatnya
 Bengkok dua buah (satu kosong, satu berisi larutan Lysol 3%)
2) Prosedur
 Dekatkan alat-alat ke klien.
 Perhatikan privacy klien.
 Cuci tangan.
 Atur posisi yang nyaman.
 Pasang pengalas dibawah daerah yang akan dikompres.
 Kenakan sarung tangan, lalu buka balutan perban bila diperban.
Kemudian, buang bekas balutan ke dalam bengkok kosong.
 Ambil beberapa potong kasa dengan pinset dari bak steril, lalu
masukkan ke dalam kom yang berisi cairan hangat.
 Kemudian ambil kasa tersebut, lalu bentangkan dan letakkan
pada area yang akan dikompres.
 Bila klien menoleransi kompres hangat tersebut, lalu
ditutup/dilapisi dengan kasa kering. Selanjutnya dibalut dengan
kasa perban atau kain segitiga.
 Lakukan perasat ini selama 15-30 menit atau sesuai program
dengan anti balutan kompres tiap 5 menit.
 Lepaskan sarung tangan.
 Atur kembali klien dengan posisi yang nyaman
 Bereskan semua alat-alat untuk disimpan kembali
 Cuci tangan
 Dokumentasikan tindakan beserta responnya.
3) Hal yang perlu diperhatikan
 Kain kasa harus diganti pada waktunya dan suhu kompres
dipertahankan tetap hangat
 Cairan jangan terlalu panas, hindarkan agar kulit jangan sampai
terbakar.
 Kain kompres harus lebih besar dari pada area yang akan
dikompres
 Untuk kompres hangat pada luka terbuka, peralatan harus steril.
Pada luka tertutup seperti memar atau bengkak, peralatan tidak
perlu steril karena yang penting bersih.
b) Kompres panas kering
1) Persiapan alat:
 Buli-buli panas dan sarungnya
 Termos berisi air panas
 Termometer air panas (bila perlu)
 Lap kerja
2) Prosedur:
 Siapkan peralatan
 Cuci tangan
 Lakukan pemanasan pendahuluan pada buli-buli panas dengan
cara: mengisi buli-buli dengan air panas, kencangkan
penutupnya, kemudian membalik posisi buli-buli berulang-
ulang, lalu kosongkan isinya.
 Siapkan dan ukur suhu air yang diinginkan (50-600C)
 Isi buli-buli dengan air panas sebanyak ± ½ bagian dari ukuran
buli-buli tersebut. Lalu keluarkan udaranya dengan cara:
i. Letakkan atau tidurkan buli-buli diatas meja/tempat datar.
ii. Bagian atas buli dilipat sampai kelihatan permukaan air
dileher buli-buli.
iii. Kemudian penutup buli-buli ditutup dengan rapat.
 Periksa apakah buli-buli bocor atau tidak. Lalu keringkan
dengan lap kerja dan masukkan kedalam sarung buli-buli.
 Bawa buli-buli tersebut kedekat klien.
 Atur posisi yang nyaman pada klien
 Letakkan/pasang buli-buli pada area yang memerlukan.
 Kaji secara teratur kondisi klien untuk mengetahui kelainan
yang timbul akibat pemberian kompres dengan buli-buli panas,
seperti kemerahan, ketidaknyamanan, kebocoran, dan
sebagainya.
 Ganti buli-buli panas setelah 20 menit dipasang dengan air
panas lagi, sesuai yang dikehendaki.
 Bereskan alat-alat bila sudah selesai.
 Cuci tangan
 Dokumentasikan.
3) Hal yang perlu diperhatikan:
 Buli-buli panas tidak boleh diberikan pada klien perdarahan
 Pemakaian buli-buli panas pada bagian abdomen, tutup buli-
buli mengarah keatas atau ke samping.
 Pada bagian kaki, tutup buli-buli mengarah ke bawah atau ke
samping.
 Buli-buli harus diperiksa dulu, ada tidak cincin karet pada
penutupnya.
2. Cara pemberian kompres dingin
a) Kompres dingin basah dengan larutan obat antiseptik
1) Persiapan alat:
 Mangkok bertutup steril
 Bak steril berisi pinset anatomis dua buah, beberapa potong
kain kasa sesuai kebutuhan
 Cairan antiseptik yang digunakan dapat berupa PK 1:4000,
Rivanol 1:1000 sampai 1:3000 dan seterusnya sesuai
kebutuhan, larutan betadine
 Pembalut bila perlu
 Perlak dan pengalas
 Sampiran bila perlu
2) Prosedur:
 Dekatkan alat-alat ke klien.
 Pasang sampiran.
 Cuci tangan.
 Pasang perlak dan alas pada area yang akan di kompres.
 Mengocok obat atau larutan bila terdapat endapan.
 Tuangkan cairan kedalam mangkok steril.
 Masukkan beberapa potong kasa ke dalam mangkok tersebut.
 Peras kain kasa tersebut dengan menggunakan pinset.
 Bentangkan kain kasa diatas area yang dikompres lalu di balut.
 Rapihkan posisi pasien.
 Cuci tangan.
 Dokumentasikan.
3) Hal yang perlu diperhatikan:
 Kain kasa harus sering dibasahi agar tetap basah.
 Pada luka kotor, kasa diganti tiap 1-2jam.
 Perhatikan kulit setempat/sekitarnya. Bila terjadi iritasi segera
laporkan.
 Pada malam hari, agar kelembapan kompres bertahan lama,
tutupi dengan kapas berlemak.

b) Kompres dingin basah dengan air biasa/air es


1) Persiapan alat:
 Kom kecil berisi air biasa/air es
 Perlak pengalas
 Beberapa buah waslap atau kain kasa dengan ukuran tertentu.
 Sampiran bila perlu
 Busur selimut bila perlu
2) Prosedur:
 Dekatkan alat-alat ke klien.
 Pasang sampiran bila perlu.
 Cuci tangan.
 Pasang perlak dan alas pada area yang akan di kompres.
 Masukkan waslap atau kain kasa ke dalam air biasa/air es lalu
diperas sampai lembap.
 Letakkan waslap atau kain kasa tersebut pada area yang
dikompres.
 Ganti waslap/kain kasa tiap kali dengan waslap/kain kasa yang
sudah terendam dalam air biasa/air es. Diulang-ulang sampai
suhu tubuh turun.
 Rapihkan klien dan bereskan alat-alat bila perasat ini telah
selesai.
 Cuci tangan.
 Dokumentasikan.
3) Hal yang perlu diperhatikan:
 Bila suhu tubuh 390C atau lebih, tempat kompres dilipatan paha
dan ketiak.
 Pada pemberian kompres dilipat paha, selimut diangkat dan
dipasang busur selimuy diatas dada dan perut klien agar sprei
atas tidak basah.
c) Kompres dingin kering dengan kirbat es (es kap)
1) Persiapan alat:
 Kirbat es atau eskap dengan sarungnya
 Kom berisi potongan-potongan kecil es dan satu sendok teh
garam agar es tidak cepat mencair.
 Air dalam kom
 Lap kerja
 Perlak pengalas.
2) Prosedur:
 Bawa alat-alat kedekat klien.
 Cuci tangan.
 Masukkan potongan es kedalam kom air supaya pinggir es
tidak tajam.
 Isi kirbat es dengan ptotngan es sebanyak ± ½ bagian dari
kirbat tersebut.
 Keluarkan udara dari eskap dengan melipat bagian yang
kosong, lalu ditutup rapat.
 Periksa eskap, adakah kebocoran atau tidak.
 Keringkan eskap dengan lap, lalu masukkan kedalam
sarungnya.
 Buka area yang akan dikompres dan atur posisi yang nyaman
pada klien.
 Pasang perlak pengalas pada bagian yang memerlukan
kompres.
 Letakkan eskap pada bagian yang memerlukan kompres.
 Kaji keadaan kulit setiap 20 menit terhadap nyeri, mati rasa,
dan suhu tubuh. Angkat eskap bila sudah selesai.
 Atur posisi klien kembali pada posisi yang nyaman.
 Bereskan alat-alat setelah selesai perasat ini.
 Cuci tangan.
 Dokumentasikan.
3) Hal yang perlu diperhatikan
 Bila klien kedinginan/sianosis, kirbat es harus segera diangkat.
 Selama pemberian kirbat es, perhatikan kulit klien terhadap
keberadaan iritasi, dll.
 Pemberian kirbat es untuk menurunkan suhu tubuh, maka suhu
tubuh klien harus dikontrol setiap 30-60 menit. Bila suhu tubuh
sudah turun, kompres dihentikan.
 Bila tidak ada kirbat es, bisa menggunakan kantong plastik.
 Bila es dalam kirbat es sudah mencair, harus segera diganti
(bila perlu).
EPIDURAL

Epidural  termasuk dalam anestesi regional, yaitu pembiusan yang hanya


diberikan di bagian tubuh tertentu saja. Tujuannya untuk menghalau rasa sakit di
bagian tubuh tertentu, daripada harus melakukan pembiusan total. Suntikan
diberikan dengan cara mengebaskan bagian bawah perut dan kaki. Akibatnya,
kontraksi yang dirasakan ibu bersalin tak lagi terasa.

Untuk siapa?
Pada persalinan spontan, kebanyakan ibu memilih untuk memperoleh tindakan
epidural saat bukaannya sudah mencapai 4 sampai 5 cm. Bila persalinan
dilakukan dengan operasi Caesar, epidural dilakukan sebelum operasi. Dengan
epidural, Anda akan tetap terjaga, dan meringankan rasa sakit saat pemulihan
sehingga calon ibu merasa lebih santai.

Apa keuntungannya?
Lebih dari 90% wanita yang mendapatkan epidural terbebas total dari rasa sakit.
Selain membuat tenang dan lebih nyaman, epidural juga memungkinkan Anda
untuk fokus dan memberikan kekuatan untuk ikut aktif dalam pengalaman
bersalin Anda Pikiran Anda akan jauh lebih tenang. Sekarang ini epidural lebih
umum dilakukan karena kaki dan paha tidak kebas sepenuhnya, sehingga mama
merasa lebih nyaman.

Apa kerugiannya?
Terkadang Anda merasa hanya kebas pada satu sisi badan, atau merasa ada
sebagian kecil dari perut yang tidak terbius. Mungkin dapat membuat Anda
menggigil atau gemetar. Epidural dapat memperlama waktu persalinan, terlebih
saat mengejan karena tak bisa menentukan tekanan. Beberapa perempuan
mengalami kesulitan buang air kecil setelah diberikan epidural.
Kapan Epidural tak boleh diberikan?
Bila calon ibu menggunakan pengencer darah. Bila calon ibu mengalami infeksi
punggung. Berbahaya karena epidural disuntikkan pada bagian belakang tubuh.
Calon ibu mengalami infeksi darah. Bila calon ibu mengeluarkan terlalu banyak
darah. Bila bukaan kurang dari 4 cm. Bila proses persalinan berjalan terlalu cepat,
sehingga tidak cukup waktu untuk memasukkan obat. Bukaan sudah diatas 5 cm,
karena tidak lama lagi bayi sudah akan keluar.

Apakah proses pembiusan epidural menyakitkan?


Beberapa ibu merasa sedikit tidak nyaman pada area tertentu saat bagian belakang
tubuh terasa kebas. Pada beberapa ibu ada sedikit perasaan tertekan dan cemas
pada saat kateter dimasukkan.

Apakah epidural dapat berpengaruh pada bayi?


Dari penelitian yang sudah pernah dilakukan, efek epidural terhadap bayi yang
baru lahir masih ambigu. Ini karena banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan
bayi yang baru lahir. Seberapa besar efek dari pengobatan ini susah untuk
diperkirakan karena tergantung juga pada dosis obat yang diberikan dan lamanya
proses persalinan. Ditemukan pula kasus dimana detak jantung bayi yang baru
lahir akan lemah dan mempunyai masalah pernapasan. Walaupun begitu, hal ini
tidak perlu dikhawatirkan karena tidak membahayakan bayi. Percayakan bayi
pada dokter dan suster yang mengurusnya, agar pikiran Anda lebih tenang.

Apakah epidural selalu berhasil?


Pada kebanyakan ibu, epidural efektif untuk menghilangkan rasa sakit pada saat
proses melahirkan. Namun ada juga yang mengeluh sebagian tubuh tetap merasa
sakit. Ada juga yang merasakan obatnya berfungsi lebih baik di satu sisi tubuh
saja, dan tidak pada bagian tubuh lainnya. Pastikan Anda ditangani oleh tenaga
profesional,  sehingga Anda dan keluarga pun merasa lebih tenang dan nyaman
menjalani proses persalinan.
Bila Anda ingin mendapatkan epidural...
Tanyakan pada dokter apa kombinasi obat dan berapa dosis yang akan diberikan
pada Anda. Tanyakan pula efek yang mungkin terjadi pada Anda,  karena kondisi
kesehatan tiap orang berbeda-beda.  Begitu juga dengan daya tahan tubuh bayi
yang ada dalam kandungan. Sangat dianjurkan melakukan  kunjungan rutin ke
dokter kandungan untuk mengecek kondisi janin, agar kelainan atau penyakit
yang mungkin dialami janin dapat diperhitungkan sebelumnya dan orangtua pun
lebih siap dalam menanti si buah hati, bila memang ada masalah. Penting  juga
diperhatikan minuman dan makanan apa saja yang boleh dan aman dikonsumsi
sebelum dan sesudah proses persalinan.
Perubahan fisiologi yang terjadi pada tiga bulan terakhir kehamilan perlu
diperhitungkan untuk mencegah komplikasi yang tak diinginkan. Perubahan
tersebut meliputi : peningkatan volume darah, curah jantung dan kebutuhan
oksigen; penurunan kapasitas vital dan resistensi paru, fungsi hati, ginjal dan
aktivitas serum kolinesterase. Perubahan lain adalah timbulnya sindroma tekanan
darah rendah pada posisi telentang, meningkatnya kejadian mual-muntah, aliran
kembali isi lambung ke rongga mulut yang dapat masuk ke paru. Selain itu pada
banyak wanita, persalinan menghasilkan nyeri hebat dan cemas. Kondisi stress ini
berakibat te~adinya respons hormonal, yaitu meningkatnya kortisol, prolaktin,
TSH, ACTH, AOH, katekolamin dan beta-endorfin (hormon-hormon yang
mengendalikan fisiologi tubuh) yang menyebabkan perubahan metabolik dan
hemodinamik lebih buruk pada persalinan. Nyeri hebat dan cemas memang dapat
diatasi dengan pemberian opioid dan sedatif, tetapi obat-obat tersebut berpengaruh
buruk pada janin dan bayi yang dilahirkan karena memerlukan dosis besar secara
sistemik dan bersifat depresif. Anestesi epidural lumbar adalah salah satu cara di
bidang Anestesiologi untuk menghilangkan/mengurangi sensasi nyeri tersebut.
Cara ini lebih tepat dan menguntungkan karena hanya memerlukan obat dosis
kecil secara lokal. Di Inggris 25%, Amerika Serikat 66%, dan Belgia 33% dari
seluruh persalinan mendapatkan fasilitas bebas nyeri dengan anestesi epidural
lumbar. Di Indonesia telah dimulai sejak 1976 diawali oleh Jakarta, Semarang,
Bandung, Surabaya, Padang, Medan, Malang, Denpasar, Jogjakarta, Surakarta,
Makasar, namun dalam perkembangannya mengalami hambatan. Hal ini mungkin
karena masyarakat kita belum banyak tahu dan perlu sosialisasi, atau secara
kultural tidak semanja ibu hamil di negara maju dan beranggapan bahwa nyeri
persalinan adalah peristiwa kodrati yang harus dijalani oleh ibu melahirkan.