Anda di halaman 1dari 13

STEP 2:

1. Apa Hubungan pekerjaan dan Lifestyle dengan infertilitas ?


2. Apakah yang dimaksud dengan infertilitas dan sterilitas?
3. Bagaimana batasan – batasan dalam infertilitas?
4. Macam macam infertilitas ?
5. Factor factor kesuburan ?
6. Faktor – faktor apa sajakah yang dapat menjadi penyebab infertilitas pada laki – laki dan
bagaimanakah mekanisme faktor tersebut menyebabkan infertilitas pada laki – laki ?
7. Faktor – faktor apa sajakah yang dapat menjadi penyebab infertilitas pada wanita dan
bagaimanakah mekanisme faktor tersebut menyebabkan infertilitas pada wanita ?
8. Bagaimana cara mendiagnosis infertilitas pada laki-laki ?
9. Bagaimana cara mendiagnosa inferlilitas pada wanita?
10. Bagaimana Cara pencegahan infertilitas ?
11. Bagaimana cara melakukan penatalaksanaan infertilitas pada laki-laki dan perempuan?

STEP 3 :

1. Apa Hubungan pekerjaan ( tukang sate ) dan Lifestyle dengan infertilitas ?


Faktor lingkungan yang berbahaya atau beracun. Pekerjaan kaum pria sering terpaksa
berhubungan dengan hal-hal yang berbahaya. Misalnya pekerja tambang, instalasi listrik, bahan-
bahan kimia dan lain-lain. Jika sering terkena zat yang berbahaya seperti merkuri, pestisida,
logam berat, radio aktif, sinar X dan lain-lain dapat menyebabkan infertilitas pada pria, karena
zat-zat tersebut dapat berakibat buruk bagi jumlah maupun kualitas sperma
Tinggal atau berkantor di sekitar pabrik yang mengolah bahan kimia tentu berisiko
menyebabkan mengalami mandul. Produksi sperma yang optimal membutuhkan suhu di
bawah temperature tubuh, Spermagenesis diperkirakan kurang efisien pada pria dengan jenis
pekerjaan tertentu, yaitu pada petugas pemadam kebakaran dan pengemudi truk jarak jauh
( Henderson C & Jones K, 2006 : 89)
2. Apakah yang dimaksud dengan infertilitas dan sterilitas?
Infertilitas:
Infertilitas adalah keadaan dimana tidak adanya tanda-tanda kehamilan pada pasangan suami-
istri meski telah menjalani hubungan intim tanpa kontrasepsi selama 1 sampai 2 tahun. 
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

Ketidakmampuan istri untuk menjadi hamil dan melahirkan anak hidup atau
ketidakmampuan suami untuk menghamili istrinya.
Sumber : Keluarga Berencana dan Kontrasepsi; dr. Hanafi Hartanto

Infertilitas (pasangan mandul) adalah pasangan suami istri yang telah menikah
selama satu tahun dan sudah melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan
alat kontrasepsi, tetapi belum memiliki anak.(Sarwono, 2000).

Infertilitas adalah pasangan yang telah kawin dan hidup harmonis serta berusaha
selama satu tahun tetapi belum hamil.(Manuaba, 1998).

Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil dalam waktu satu


tahun.Infertilitas primer bila pasutri tidak pernah hamil dan infertilitas sekunder
bila istri pernah h-amil.(Siswandi, 2006).

 STERIL : terilitas/ste·ri·li·tas/ /stérilitas/ n Bio 1 keadaan tidak terdapatnya kemampuan


untuk berkembang biak secara kawin; 2 kemandulan

Sterilitas
a. Definisi : Ketidakmampuan untuk hamil lagi secara permanen
b. Apakah sterilitas hanya pada kontrasepsi mantap?
 Tindakan medis : misalanya Adanya atonia uteri, Pengambilan ovarium
 Alamiah : bias dari ovarium atau uterus yang tidak terbentuk, dari testis yang tidak
turun
 Buku Acuan Nasional Pelayanan KB, 2007

3. Bagaimana batasan – Batasan / macam macam dalam infertilitas?


Infertilitas primer :
 Istri belum pernah hamil walaupun bersenggama dan
dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12
bulan
Infertilitas sekunder :
 Istri pernah hamil, akan tetapi kemudian tidak terjadi
kehamilan lagi walaupun bersenggama dan dihadapkan
kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan
Sumber : Ilmu Kandungan; Prof. dr. Hanifa Wiknjosastro,
SpOG

4. Ciri Ciri Infertilitas ?


     Ciri Ciri kemandulan

Untuk Pria

-       Oligozoospermia (jumlah spermatozoa yang dihasilkan kurang dari 15 juta)

-       Astenozoospermia (gerakan spermatozoa tidak normal, zigzag atau melengkung)

-       Teratozoospermia (jumlah spermatozoa yang normal jauh di bawah 30 persen)

-       Azoospermia (sperma yang dikeluarkan hanya berupa cairan sehingga tidak mengandung
spermatozoa)

-       Aspermia (tidak ada sperma yang dikeluarkan).

Untuk wanita

Haid yang tidak teratur atau tidak muncul sama sekali, nyeri haid yang diluar kebiasaan, penyakit
radang panggul dan keguguran lebih dari sekali.

Listyorini, A. M. 2005
5. Factor factor kesuburan ?
-          Gaya hidup sehat

-          Kondisi lingkungan sekitar

-          Menjaga berat badan

-          Olah raga teratur

-          Keadaan psikologis


Al-Ghazali, I. 1997
6. Faktor – faktor apa sajakah yang dapat menjadi penyebab infertilitas pada laki – laki dan
bagaimanakah mekanisme faktor tersebut menyebabkan infertilitas pada laki – laki ?
1.        Merokok

Pada kenyataannya merokok dapat mengurangi kemampuan sperma laki-laki dalam berenang
mendekati sel telur wanita.

2.      Minum alkohol. Alkohol bisa menyebabkan infertilitas pria. Alkohol berdampak buruk pada
menurunnya jumlah dan kualitas sperma laki-laki, dalam jangka panjang malahan bisa membuat
organ vital pria tidak bisa ereksi.

3.      Narkoba. Kualitas dan jumlah sperma laki-laki bisa turun sebanyak 50 % jika yang
bersangkutan biasa mengkonsumsi narkoba. 

4.      Faktor lingkungan yang berbahaya atau beracun. Pekerjaan kaum pria sering terpaksa
berhubungan dengan hal-hal yang berbahaya. Misalnya pekerja tambang, instalasi listrik, bahan-
bahan kimia dan lain-lain. Jika sering terkena zat yang berbahaya seperti merkuri, pestisida,
logam berat, radio aktif, sinar X dan lain-lain dapat menyebabkan infertilitas pada pria, karena
zat-zat tersebut dapat berakibat buruk bagi jumlah maupun kualitas sperma.  

5.      Obat tanpa resep dokter. Jangan suka minum obat tanpa resep dokter karena obat-obatan
tertentu bisa berdampak buruk pada produksi sperma.

6.      Organ vital sering terkena panas. Ini masukan buat yang hobby spa. Jangan sering-sering
sauna, berlama-lama di ruang uap, mandi air panas dll. Karena bisa mengganggu produksi
sperma. Demikian pula para pria yang bekerja dengan lebih banyak duduk, seperti pekerja
kantoran, penjahit, sopir dan lain-lain.

  

7.      Faktor penyakit tertentu. Beberapa penyakit seperti diabetes, infeksi kelamin, operasi
hernia, kanker testis bisa berdampak pada infertilitas pria. 

8.      Faktor usia. Pria berusia diatas 40 tahun umumnya kurang subur dibanding pria yang
berusia lebih muda.

Mengubah gaya hidup yang dari tidak sehat menuju yang lebih sehat adalah kunci untuk
meningkatkan kualitas sperma atau kesuburan pria. Jika kualitas sperma laki-lakinya oke, tentu
pembuahan yang menjadi prasyarat terjadinya kehamilan akan lebih mudah terlaksana.

( Henderson C & Jones K, 2006 : 89).


7. Faktor – faktor apa sajakah yang dapat menjadi penyebab infertilitas pada wanita dan
bagaimanakah mekanisme faktor tersebut menyebabkan infertilitas pada wanita ?
1. Sumbatan Pada Saluran Telur Atau Rahim

Logikanya, kalau saluran menuju sel telur tersumbat, sperma tidak akan bisa lewat. masalah
sumbatan ini cukup sering mempengaruhi kesuburan seorang wanita. Penyebab terjadinya
sumbatan pada saluran telur atau rahim ini ada bermacam-macam.

2. Gagal Matang Sel Telur (Kegagalan Ovulasi)

Secara normal, sel telur akan mengalami pematangan (ovulasi). Tapi dalam kondisi ini sel telur
gagal mengalami ovulasi dan mengakibatkan gangguan haid. Pada keadaan ini,
ketidakseimbangan hormon adalah faktor yang paling banyak berperan dalam mempengaruhi
kesuburan wanita.
8. Bagaimana cara mendiagnosis infertilitas pada laki-laki dan wanita?

I. Tahap wawancara (anamnesis)

Tahap awal merupakan wawancara untuk pengumpulan data-data pasien tentang


jatidiri, riwayat kesehatan, riwayat perkawinan terdahulu dan sekarang, riwayat
infertilitas, riwayat hubungan seksual, dan riwayat reproduksi.

II. Tahap pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik baik suami maupun istri meliputi :

Keadaan fisik secara umum, seperti tinggi, berat, sebaran rambut, dll.
Keadaan alat-alat reproduksi, seperti testis, vagina, klitoris, rahim, dll.
A. Pemeriksaan sperma
Untuk menilai sperma maka dilakukan pemeriksaan atas jumlah
spermatozoa, bentuk dan pergerakannya.
Sebaiknya sperma yang diperiksa, ditampung setelah pasangan tidak
melakukan coitus sekurang2nya selama 3 hari dan sperma tersebut
hendaknya diperiksa pada 1 jam setelah keluar.
Ejakulat yang normal sifatnya sbb:
 Volume 2-5 cc
 Jumlah spermatozoa 100-120 juta per cc
 Pergerakan 60% dari spermatozoa masih bergerak selama 4
jam setelah dikeluarkan
 Bentuk abnormal  25%
 Pria yang infertile spermatozoanya 60 juta per cc atau lebih
Subfertil 20-60 juta per cc
Steril 20 juta per cc atau kurang
Untuk pennilaian lebih lanjut perlu diperiksa 17 ketosteroid,
gonadotrofin dalam urin, dan biopsy dari testis.
B. Pemeriksaan ovulasi
Terjadinya ovulasi dapat kita ketahui dengan berbagai pemeriksaan:
1. Pencatatan suhu basal kalau siklus ovulatoar, maka suhu basal
bersifat bifasis. Sesudah ovulasi terjadi kenaikan suhu basal
disebabkan pengaruh progesterone

2. Dengan pemeriksaan vaginal smear; pembentukan progesterone


menimbulkan perubahan2 sitologi pada sel2 superfisial
3. Pemeriksaan lendir serviks adanya progesterone menimbulkan
perubahan sifat lender serviks ialah lendir tersebut menjadi kental,
juga gambaran fern (daun pakis) yang terlihat pada lendir yang
telah dikeringkan hilang
4. Pemeriksaan endometrium kuretase pada hari pertama haid haid
atau pada fase premenstrual menghasilkan endometrium dalam
stadium sekresi dengan gambaran histoogi yang khas
5. Pemeriksaan hormone seperti estrogen, ICSH, pregnadiol
C. Pemeriksaan lendir serviks
Keadaan dan sifat lendir serviks sangat mempengaruhi keadaan
spermatozoa:
1. Kentalnya lendir serviks
Lendir serviks yang cair lebih mudah dilalui spermatozoa
Pada stadium proliferasi lendir serviks agak cair karena pengaruh
estrogen, sebaliknya pada stadium sekresi lendir serviks lebih
kentak karena pengaruh progesteron
2. pH lendir serviks
lendir serviks bersifat alkalis dengan pH ± 9
pada suasana yang alkalis spermatozoa dapat hidup lebih lama.
Suasana menjadi asam pada cervisitis
3. enzim proteolitik
tripsin, kemotripsin mempengaruhi viskositas lendir serviks
4. dalam lendir serviks juga ditemukan Ig yang dapat menimbulkan
aglutinasi dari spermatozoa
5. berbagai kuman2 dalam lendir serviks dapat membunuh
spermatozoa
biasanya baik tidaknya lendir serviks diperiksa dengan:
SIMS HUHNER TEST
Pemeriksaan lendir serviks dilakukan post coitum sekitar waktu
ovulasi
Dianggap baik jika terdapat 5 spermatozoa yang motil per high
powerfield
Sims huhner test yang baik menandakan:
- teknik koitus baik
- lendir serviks normal
- estrogen ovarial cukup
- sperma cukup baik
KURZROCK MILLER TEST
Dilakukan pada pertengahan siklus kalau hasil sims huhner test kurang
baik
Satu tetes lendir serviks diletakkan berdampingan dengan tetes sperma
pada obyek glass; dilihat apakah ada penetrasi spermatozoa. Kalau
tidak ada invasi spermatozoa, lendir serviks kurang baik.
D. Pemeriksaan tuba
Untuk mengetahui keadaan tuba dapat dilakuakan:
- Pesturbasi (insuflasi)  rubin test (utuh tidaknya tuba)
- Histerosalpingografi bentuk cavum uteri, bentuk liang tuba,
sumbatan nampak jelas
- Kuldoskopi keadaan tuba dan ovarium
- Laparoskopi dapat diketahui genitalia interna dan sekitarnya
E. Pemeriksaan endometrium
Pada stadium premenstrual atau pada hari pertama haid dilakukan
mikrokuretase.
Endometrium yang normal harus memperlihatkan hambaran histologik
yang khas untuk stadium sekresi. Kalau tidak ditemukan stadium
sekresi maka:
- Endometrium tidak bereaksi dengan progesterone
- Produksi progesterone kurang
Sumber : Ginekologi, FK UNPAD

III.Tahap pemeriksaan laboratorium

Pria

Analisis sperma untuk mengetahui mutu air mani dan spermatozoanya, meliputi
jumlah sperma/ml, bentuk, gerakan, jumlah dan persentase yang hidup serta
pencairan air mani.

Wanita

Pemantauan ovulasi, untuk menentukan apakah ovarium menghasilkan sel telur


yang matang. Pemantauan ovulasi ini dapat dilakukan dengan beberapa cara :
 Riwayat siklus haid: siklus haid yang teratur dan normal, nyeri per-tengahan
siklus, perdarahan atau peningkatan luah atau cairan va-gina (vaginal
discharge), mastalgia prahaid menandakan ovulasi telah terjadi.
 Uji pakis: pemeriksaan pada hari ke-23-28 siklus haid, istri diminta datang
untuk pengambilan getah serviks dari kanal endoserviks ke-mudian
dikeringkan pada gelas objek dan diperiksa pengaruh estro-gen. Jika tidak
terdapat pola daun pakis dan kristal getah serviks berarti ovulasi telah terjadi.
 Suhu Basal Badan (SBB): SBB diperiksa setiap bangun pagi hari se-belum
melakukan aktivitas apapun. Nilainya ditandai pada kertas grafik. Jika wanita
berovulasi, grafik akan memperlihatkan pola bifasik dengan tukik pada
pertengahan siklus.
 Sitologi vagina atau sitologi endoserviks: memantau perubahan pada sel-sel
yang tereksfoliasi selama fase luteal (pengaruh progesteron).
 Biopsi endometrium (mikrokuretase): dapat dilakukan secara poliklinis
dengan pembiusan ringan atau tanpa pembiusan. Dengan memakai kuret kecil.
Dilakukan pada 5-7 hari sebelum hari haid berikutnya.
 Laparoskopi diagnostik : melihat secara langsung adanya bintik ovu-lasi atau
korpus luteum sebagai hasil ovulasi.
 Peneraan hormon: menentukan kadar hormon dalam darah, urin mau-pun liur
(saliva). Kadar normal dalam satu siklus :

Jenis Satuan Fase siklus haid


hormon Praovulasi Ovulasi Pasca ovulasi
FSH mUI/ml 5-20 15-45 5-12
LH mUI/ml 5-15 30-40 5-15
PRL ng/ml - 5-25 -
E2 pg/ml 25-75 200-600 100-300
P ng/ml <5 5-8 10-30

  Histeroskopi: dapat memperlihatkan lukisan endometrium yang bening


kekuningan, yang sesuai dengan fase luteal.
 Ultrasonografi: dapat memantau perkembangan folikel dan menentukan saat
ovulasi. Pemeriksaan dilakukan secara serial.
Penilaian rahim dan saluran telur dapat dilakukan dengan beberapa cara :
 Biopsi endometrium: selain untuk penilaian ovulasi, juga dapat untuk
pemeriksaan histologik lain, misalnya biakan terhadap tuberkulosis, menilai
adanya hiperplasia endometrium. Terkadang dijumpai adanya hiperplasia
fokal meskipun siklus berovulasi berdasarkan peneraan homon P plasma pada
pertengahan fase luteal. Oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksan rasio
P/E2 dan PRL/E2 bersamaan dengan biopsi endometrium.
 Uji insuflasi/pertubasi: CO2 ditiupkan melalui kanal serviks dan dibuat
rekaman kymograf terhadap tekanan uterus, perubahan tekanan ber-arti tuba
Falloppii paten. Gas ini juga dapat didengar dengan stesto-skop atau dilihat
dengan sinar X.
 Hidrotubasi: prinsipnya sama dengan pertubasi hanya yang diguna-kan adalah
cairan yang mengandung antibiotika Kanamycin 1 gram, deksametason 5 mg
dan antipasmodik cair.
 Histerosalpingogram: dilakukan pada paro-pertama siklus haid, larutan
radioopak disuntikkan melalui kanal serviks ke dalam rahim dan saluran telur.
Perjalanan larutan tersebut dipantau di layar dengan penguat bayangan.
 Histeroskopi : melihat secara langsung keadaan permukaan endome-trium.
 Laparoskopi : melihat secara langsung dan menguji patensinya de-ngan
menyuntikkan larutan biru metilen atau indigokarmin, dan de-ngan melihat
pelimpahannya ke dalam rongga peritoneal. Laparoskopi juga dapat
memperlihatkan perlekatan pelvis, endometriosis, dan patologi ovarium tetapi
tidak dapat menggambarkan keadaan rongga uterus.
 Ultrasonografi atau endosonografi: menilai bentuk, ukuran, serta patologi
uterus maupun tebal endometrium.
Analisis infeksi TORSH-KM (toksoplasma, rubella, sitomegalus, herpes sim-
pleks, klamidia, mikoplasma).
Uji pasca-sanggama (UPS) untuk melihat apakah air mani sudah memancar
dengan baik ke puncak vagina selama sanggama. UPS dilakukan 2-3 hari sebelum
perkiraan ovulasi. Pasien diminta datang 2-8 jam setelah sangga-ma normal.
Getah serviks diisap dari kanal endoserviks dan diperiksa de-ngan mikroskop, jika
terdapat 20 spermatozoa per lapang pandang besar (LPB= x400) maka
kemungkinan hamil cukup besar, antara 1-20 spermatozoa per LPB sudah
memuaskan.

IV. Pemeriksaan Lanjutan

Pemeriksaan endoskopi adalah pemeriksaan dengan menggunakan alat teleskop


(teropong) yang dimasukkan ke dalam rongga tubuh melalui saluran alami (kanal
serviks: pada histeroskopi; kanal servik-rongga rahim, mulut saluran telur: pada
tuboskopi/Falloposkopi), suatu pembedahan kecil (di daerah pusar atau umbilikus:
pada laparoskopi; di puncak cekungan vagina belakang atau forniks posterior: pada
hidrolaparoskopi). Ada 4 (empat) macam endoskopi dalam bidang ginekologi:

Histeroskopi atau teropong rongga rahim


Laparoskopi atau teropong rongga perut
Tuboskopi/Falloposkopi atau teropong rongga salutan telur
Hidrolaparoskopi atau teropong rongga panggul disertai penggenangan
cairan

Histeroskopi digunakan untuk:

melihat keadaan saluran mulut rahim, rongga rahim, mulut dalam saluran
telur, besarnya rongga rahim, warna atau kejernihan selaput rahim,
untuk membedakan polip endometrium dan leiomiom submukosum;
untuk memastikan perlekatan dalam rahim dan kelainan bawaan dalam
rahim; untuk me-ngenali kelainan-kelainan pada histerogram;
untuk penatalaksanaan operasi pada sekat rahim yang menyebabkan
keguguran berulang. Laparoskopi digunakan untuk melihat berbagai
kelainan di dalam rongga panggul (pelvis) atau rongga perut (abdomen)
misalnya kista (tumor) indung telur (ova-rium), tumor rahim (miom uterus),
perlekatan di rongga panggul akibat infeksi atau endometriosis, bintil-bintil
(lesi) endometriosis yang tidak terlihat dengan alat ultrasonografi,
pembengkakan saluran telur (hidrosalpinks), dan juga bebe-rapa kelainan
bawaan rahim seperti rahim dua-tanduk (uterus bikornis) atau tiadanya
indung telur (agenesis ovarii).

Tuboskopi atau Falloposkopi digunakan untuk melihat bagian dalam saluran telur,
baik permukaannya maupun rongganya, misalnya adakah perlekatan akibat infeksi,
penyempitan bawaan, dan hilangnya bulu getar (silia) selaput lendir (mu-kosa)
saluran telur.

Hidrolaparoskopi merupakan suatu teknik mutakhir untuk melihat suatu gangguan


fungsi dan anatomik ujung saluran telur atau cekungan di belakang rahim (kavum
Douglas), misalnya perlekatan ujung saluran telur (fimbria), endometriosis, miom
uterus subserum di bagian belakang rahim atau kista ovarium.

Pemeriksaan endoskopi tidak dilakukan begitu saja pada semua wanita, melainkan
harus dengan dasar yang jelas, misalnya pada wanita infertil yang telah melaku-kan
pemeriksaan infertilitas dasar sebelumnya tetapi belum diketahui penyebab
infertilnya, dan pada wanita yang diduga adanya endometriosis, miom, tumor atau
kanker rahim.

Sumber :http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/07/19/kesuburan-fertilitas/
9. Bagaimana Cara pencegahan infertilitas ?
1. Periksa gaya hidup.

Kebiasaan tertentu seperti merokok atau minum alkohol memiliki


efek yang merugikan kesehatan reproduksi. Bahkan tingkat stres
yang tinggi dan kurang tidur secara konsisten atau dalam jangka
waktu yang lama dapat meningkatkan potensi mengalami
kemandulan.

2. Cek kondisi lingkungan sekitar tempat  biasa beraktifitas sehari-


hari untuk mengetahui bahaya lingkungan yang mungkin tidak
sadari.

Tinggal atau berkantor di sekitar pabrik yang mengolah bahan kimia


tentu berisiko menyebabkan mengalami mandul.

3. Menjaga berat badan yang sehat dan melakukan diet dan


olahraga secara teratur.

Obesitas diketahui sebagai salah satu penyebab infertilitas pada


pria. Pada pria, obesitas akan menurunkan jumlah sperma dan pada
wanita membuat pembuahan terlambat.

4. Cek kesehatan secara periodik setahun sekali.

Dengan melakukan tindakan deteksi/mencari tahu dan pengobatan


terhadap penyakit menular seksual yang mungkin diderita dapat
membantu menjaga tingkat kesuburan.

5. Pelajari tubuh dan siklus reproduksi.

Pelajari literatur mengenai kesehatan reproduksi dan panduan-


panduan agar cepat dapat anak, dan lain-lain. Pemahaman yang
baik akan memberi cara pandang yang benar terhadap proses
reproduksi dan kemandulan.

Kasdu, D. 2002. Kiat Sukses Pasangan Memperoleh Keturunan.

3)      Pemeriksaan laboratorium

suami

pemeriksaan dan analisis sperma , syaratnya tidak berhubungan selama


3-5 hari , bahan yang ditampung harus mencapai lab dalam waktu 30
menit-1 jam, pemeriksaan setelah ejakulasi 2 jam di lab. Jumlah
spermatozoa minimal 20 juta. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui
volume, viscositas, bau, rupa, fruktosa, kemampuan menggumpal dan
mancair kembali dari sperma

Isteri

- Pemeriksaan dalam

Diharapkan mendapat gambaran alat kelamin wanita secara umum,


yaitu liang senggama, kelainan mulut rahim, kelainan rahim,
pemeriksaan untuk menentukan dalamnya rahim, kelainan fungsi alat
reproduksi(perlekatan dengan sekitarnya, adanya tumor di ovarium,
arah mulut rahim abnormal, sehingga dinasihatkan tentang teknik
hubungan seksual).Uji lendir serviks dan sitologi vagina (Dilakukan untuk
mempelajari pengaruh progesteron dan estrogen pada lendir serviks
dan vagina. Lendir serviks menjelang ovulasi menjadi lebih jernih, daya
membenang bertambah)

- Biopsi lapisan dalam rahim (endometrium)

- Pemeriksaan terhadap saluran telur (Gangguan fungsi saluran telur


akan menyebabkan pasangan infertilitas, gangguan perjalanan hasil
konsepsi dapat menimbulkan kehamilan diluar kandungan).Menurut
Harkness (1987)

10. Bagaimana cara melakukan penatalaksanaan infertilitas pada laki-laki dan perempuan?

STEP 4 :