Anda di halaman 1dari 69

BAB III

LANDASAN TEORI

1
3.1 Postur Kerja

Posisi tubuh dalam kerja sangat ditentukan oleh jenis pekerjaan yang

dilakukan. Masing-masing posisi kerja mempunyai pengaruh yang berbeda-beda

terhadap tubuh. Grandjean (1993) berpendapat bahwa bekerja dengan posisi

duduk mempunyai keuntungan antara lain:

1. Pembebanan pada kaki

2. Pemakaian energi dapat dikurangi

3. Keperluan untuk sirkulasi darah dapat dikurangi

Kerja dengan sikap duduk terlalu lama dapat menyebabkan otot perut

melembek dan tulang belakang akan melengkung sehingga cepat lelah. Mengingat

posisi duduk mempunyai keuntungan dan kerugian, maka untuk mendapatkan

hasil kerja yang lebih baik tanpa pengaruh buruk pada tubuh, perlu

dipertimbangkan pada jenis pekerjaan apa saja sesuai diterapkan posisi duduk.

Untuk maksud tersebut, Pulat (1992) memberikan pertimbangan tentang

pekerjaan yang paling baik dilakukan dengan posisi duduk. Pekerjaan tersebut

antara lain:

1. Pekerjaan yang memerlukan kontrol dengan teliti pada kaki

2. Pekerjaan utama adalah menulis atau memerlukan ketelitian pada tangan

3. Tidak diperlukan tenaga dorong yang besar


1 Nurmianto Eko. 2004. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Edisi Kedua.
Surabaya:Penerbit Guna Widya.
1. Objek yang dipegang tidak memerlukan tangan bekerja pada ketinggian

lebih dari 15 cm dari landasan kerja

5. Diperlukan tingkat kestabilan tubuh yang tinggi

6. Pekerjaan dilakukan pada waktu yang lama

7. Seluruh objek yang dikerjakan atau disuplai masih dalam jangkauan dengan

posisi duduk

Selain posisi kerja duduk, posisi berdiri juga banyak ditemukan di

perusahaan. Seperti halnya posisi duduk, posisi kerja berdiri juga mempunyai

keuntungan maupun kerugian. Menurut Sutalaksana (2000) bahwa sikap berdiri

merupakan sikap siaga baik fisik maupun mental, sehingga aktivitas kerja yang

dilakukan lebih cepat, kuat dan teliti. Pada dasarnya, berdiri lebih lelah daripada

duduk dan energi yang dikeluarkan untuk berdiri lebih banyak 10-15%

dibandingkan dengan duduk. Untuk meminimalkan pengaruh kelelahan dan

keluhan subyektif maka pekerjaan harus didesain agar tidak terlalu banyak

menjangkau, membungkuk, atau melakukan gerakan dengan posisi kepala yang

tidak alamiah. Untuk maksud tersebut, Pulat (1992) dan Clark (1996) memberikan

pertimbangan tentang pekerjaan yang paling baik dilakukan dengan posisi berdiri

antara lain:

1. Tidak tersedia tempat untuk kaki dan lutut

2. Harus memegang objek yang berat (lebih dari 4,5 kg)

3. Sering menjangkau ke atas, ke bawah dan ke samping.

2. Sering melakukan pekerjaan dengan menekan ke bawah

3. Memerlukan mobilitas tinggi


Clark (1996) mencoba mengambil keuntungan dari posisi kerja duduk dan

berdiri kemudian mengkombinasikan desain stasiun kerja untuk posisi duduk dan

berdiri. Kemudian disimpulkan bahwa pemilihan posisi kerja harus sesuai dengan

jenis pekerjaan yang dilakukan seperti pada Tabel 3.1 berikut ini.

Tabel 3.1 Pemilihan Sikap Kerja Terhadap Jenis Pekerjaan yang Berbeda

Jenis Pekerjaan Sikap Kerja yang Dipilih

Pilihan Pertama Pilihan Kedua

Mengangkat beban > 5kg Berdiri Duduk – Berdiri


Bekerja di bawah tinggi siku Berdiri Duduk – Berdiri

Menjangkau horizontal di luar Berdiri Duduk – Berdiri

daerah jangkauan optimum

Pekerjaan ringan dengan Duduk Duduk – Berdiri

pergerakan berulang

Pekerjaan perlu ketelitian Duduk Duduk – Berdiri

Inspeksi dan monitoring Duduk Duduk – Berdiri

Sering berpindah-pindah Duduk – Berdiri Berdiri

Sumber: Helander (1995:60). A Guide to the Ergomic of Manufacturing.

2
3.2 Gangguan Musculoskeletal

Gangguan musculoskeletal yang sering juga disebut Work-related

Musculoskeletal Disorder (WMSD) adalah rasa sakit yang mempengaruhi tulang,

otot, dan persendian tubuh yang diderita oleh seseorang. Gangguan

2 Serge, simoneau,”Work related musculoskeletal disorders (WMSDs): A better


understanding for more effective prevention”. Ch 1 pg 3.
musculoskeletal pada umumnya disebabkan pemberian beban kerja yang melebihi

kemampuan tubuh (overuse) untuk melakukan pemulihan, pada proses kerja yang

berulang, dan dalam waktu yang lama.

3.2.1 Penyebab Gangguan Muskuloskeletal

Gangguan muskuloskeletal memiliki banyak penyebab, pekerjaan yang

repetitive, yang paling sering menjadi penyebab gangguan ini, adalah salah satu

faktor dari faktor risiko (risk factor) yang dimiliki oleh stasiun kerja. Faktor risiko

dapat menjadi penyebab langsung dari masalah kesehatan, adanya faktor risiko

bukan berarti merupakan salah satu faktor penyebab. Faktor risiko merupakan

suatu kondisi yang menunjukkan tingkat risiko yang dimiliki suatu pekerjaan

terhadap masalah kesehatan yang mungkin muncul di stasiun kerja.

Faktor risiko yang dapat menjadi penyebab gangguan muskuloskeletal

diantaranya:

1. Pekerjaan repetitif

Pekerjaan repetitif memberikan beban kerja pada bagian tubuh secara konstan.

Apabila pekerjaan ini dilakukan dalam waktu yang lama dan melebihi

kemampuan bagian tubuh untuk melakukan pemulihan, maka risiko terjadi

gangguan muskuloskeletal sangat tinggi.

2. Postur tubuh

Berdasarkan karakteristik stasiun kerja dan metode kerja yang digunakan,

pekerja sering menggunakan postur yang tidak baik. Postur tubuh yang tidak

baik biasanya terjadi saat otot yang digunakan berada pada posisi yang sulit
sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik dan menyebabkan rasa rasa sakit,

seperti pada saat peregangan maksimum.Apabila postur tubuh yang tidak baik

ini dibiarkan dan dilakukan dalam waktu yang lama, maka resiko terjadi

gangguan muskuloskeletal sangat tinggi.

3. Tingkat kekuatan pekerjaan akan membutuhkan tingkat kekuatan (force) saat

menggunakan peralatan atau saat mendorong dan menahan. Tingkat kekuatan

akan memberikan beban kerja berlebih pada bagian tubuh. Kemampuan

bagian tubuh untuk dapat menahan beban kerja dalam waktu tertentu sangat

menentukan tingkat kekuatan yang dikeluarkan, risiko terjadi gangguan

muskuloskeletal semakin tinggi.

4. Kerja otot statis

Kerja otot statis adalah pada saat otot berkontraksi tanpa adanya jeda/imtrupsi.

Otot membutuhkan darah yang lebih banyak saat berkotraksi daripada saat

relaksasi. Pada saat otot dalam kondisi kerja statis, otot memberikan tekanan

yang konstan pada saluran darah sehingga darah yang dibutuhkan dalam

jumlah besar terhambat, akibat otot cepat lelah dan akan merasakan rasa sakit.

Apabila kerja otot statis ini dibiarkan dan dilakukan dalam waktu yang lama,

maka risiko terjadi gangguan muskuloskeletal sangat tinggi.

5. Lingkungan kerja

Lingkungan kerja seperti suhu yang dingin mempengaruhi kekuatan otot

sehingga memerlukan tingkat kekuatan yang lebih besar dalam melakukan

pekerjaan. Penggunaan sarung tangan yang tidak baik dapat menguarangi

kemampuan tangan dalam memegang peralatan atau bahan, sehingga


memerlukan tingkat kekuatan yang lebih besar. Peralatan yang bergetar

memerlukan tingkat kekuatan yang lebih besar untuk digunakan, getaran juga

dapat mengganggu peredaran darah pada bagian otot.

3
3.3 Standard Nordic Questionnaire (SNQ)

Standard Nordic Questionnaire (SNQ) merupakan salah satu alat ukur

yang biasa digunakan untuk mengenali sumber penyebab keluhan kelelahan otot.

Melalui Standard Nordic Questionnaire dapat diketahui bagian-bagian otot yang

mengalami keluhan dengan tingkat keluhan mulai dari rasa tidak sakit sampai

sangat sakit. Dengan melihat dan menganalisis peta tubuh seperti Gambar 2.8.

maka diestimasi jenis dan tingkat keluhan otot skeletal yang dirasakan oleh

pekerja.

Dimensi-dimensi tubuh tersebut dapat dibuat dalam format Standard

Nordic Questionnaire. Standard Nordic Questionanire dibuat atau disebarkan

untuk mengetahui keluhan-keluhan yang dirasakan pekerja akibat pekerjaanya.

Standard Nordic Questionnaire bersifat subjektif, karena rasa sakit yang

dirasakan tergantung pada kondisi fisik masing-masing individu. Keluhan rasa

sakit pada bagian tubuh akibat aktivitas kerja tidaklah sama antara satu orang

dengan orang lain.

3 Kuorinka, I., Jonsson, B., Kilbom, A., Vinterberg, H., Biering-Sorensen, F.,
Andersson, G., Jorgensen, K, Standardised Nordic Questionnaores (Applied Ergonomics, 1987).
Gambar 3.1 Peta Tubuh
Keterangan:

0. leher bagian atas 16. tangan kiri

1. leher bagian bawah 17. Tangan Kanan


2. bahu kiri 18. Paha Kiri
3. bahu kanan 19. Paha Kanan
4. lengan atas kiri 20. Lutut Kiri
5. punggung 21. Lutut Kiri
6. lengan atas kanan 22. Betis Kiri
7. pinggang 23. Betis Kanan
8. bokong 24. Pergelangan Kaki Kiri
9. pantat 25. Pergelangan Kaki Kanan
10. siku kiri 26. Kaki Kiri
11. siku kanan 27. Kaki Kanan
12. lengan bawah kiri
13. lengan bawah kanan
14. pergelangan tangan kiri
15. pergelangan tangan kanan
4
3.6 Antropometri

3.7.3 Defenisi Antropometri

Istilah antropometri berasal dari “anthro” yang berarti manusia dan “metri”

yang berarti ukuran. Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai satu

studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Antropomeetri

menurut Sevenson (1989) dan Nurmianto (1991) adalah satu kumpulan data

numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia ukuran,

bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah

desain.

3.7.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengukuran Antropometri 5

Manusia pada umumnya akan berbeda-beda dalam hal bentuk dan dimensi

ukuran tubuhnya. Di sini ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi ukuran

tubuh manusia, sehingga sudah semestinya seorang perancang produk harus

memperhatikan faktor-faktor tersebut yang antara lain adalah:

1. Umur. Secara umum dimensi tubuh manusia akan tumbuh dan bertambah

besar,seiring dengan bertambahnya waktu, yaitu seejak awal kelahiranya

sampai dengan umur sekitar 20 tahunan. Dari suatu penelitian yang dilakukan

olehA.F.Roche dan G.H.Davila (1972) di USA diperoleh kesimpulan bahwa

laki-laki akan tumbuh dan berkembang naik sampai dengan usia 21,2 tahun,

sedangkan wanita 17,3 tahun;meskipun ada sekitar 10 % yang masih terus

bertambahtinggi sampai usia23,5 tahun (laki-laki) dan 21,1 tahun (wanita).

4 Eko Nurmianto.2008.Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya.Hal:54


5 Sritomo Wignjosoebroto.2008.Ergonomi Studi Gerakan dan Waktu.Hal:60
Setelah itu, tidak akan terjadi pertumbuhan bahkan akan cendrung berubah

menjadi penurunan ataupun penyusutan yang dimulai sekitar umur 40 tahunan.

2. Jenis kelamin (sex). Dimensi ukuran tubuh laki-laki umunya akan lebih besar

dibandingkan dengan wanita,terkecuali untuk beberapa bagian tubuh tertentu

seperti pinggul, dan sebagainya.

3. Suku/bangsa (ethnic). Setiap suku,bangsa ataupun kelompok etnik akan

memilki karakteristik fisik yang akan berbeda satu dengan yang lainya.

4. Jenis pekerjaan. Beberapa jenis pekerjaan tertentu menuntut adanya

persyaratan dalam seleksi karyawan/stafnya. Sepertinya misalnya: buruh

dermaga/pelabuhan adalah harus mempunyai postur tubuh yang relatif lebih

besar dibandingkan dengan karyawan perkantoran pada umumnya. Apalagi

dibandingkan dengan jenis pekerjaan militer.

5. Cacat tubuh, dimana data antropometri disini akan diperlukan untuk

perancaangan produk bagi orang-orang cacat (kursi roda, kaki/tangan palsu,

dan lain-lain).

6. Tebal/tipisnya pakain yang harus dikenakan, dimana faktor iklim yang berbeda

akan memberikan variasi yang berbeda-beda pula dalam pula dalam bentuk

rancangan dan spesifikasi pakaian. Dengan demikian dimensi tubuh orangpun

akan berbeda dari satu tempat dengan tempat yang lain.

7. Kehamilan (pregnancy), dimana kondisi semacam ini jelas akan

mempengaruhi bentuk daan ukuran tubuh (khusus perempuan). Hal tersebut

jelas memerlukan perhatian khusus terhadap produk-produk yang dirancang

bagi segmentasi seperti ini.


3.7.5 Prinsip-prinsip Penggunaan Data Antropometri

Data antropometri yang menyajikan data ukuran dari berbagai macam

anggota tubuh manusia dalam percentile tertentu akan sangat besar manfaatnya

pada saat suatu rancangan produk ataupun fasilitas kerja akan dibuat. Agar

rancangan suatu produk nantinya bisa sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang

akan mengoperasikannya, maka prinsip-prinsip apa yang harus diambil di dalam

aplikasi data antropometri tersebut harus ditetapkan terlebih dahulu seperti

diuraikan berikut ini:

1. Prinsip perancangaan produk bagi individu dengan ukuran yang ekstrim.

Di sini rancaangan produk dibuat agar bisa memenuhi 2 sasaran produk,

yaitu: bisa sesuai untuk ukuran tubuh manusia yang mengikuti klasifikassi

ekstrim daalaam arti terlalu besar atau kecil bila dibandingkan dengan rata-

ratanya dan tetap bisa digunakan untuk memenuhi ukuran tubuh yang lain

(mayoritas dari populasi yang ada). Agar bisa memenuhi sasaran pokok

tersebut maka ukuran yang diaplikasikaan ditetapkan dengan cara: untuk

memenuhi yang harus ditetapkan ddari suatu rancangan produk umumnya

didaasarkaan pada nilai percentile yang tersebar seperti 90-th, 95-th, atau 99-

th percentile.contoh konkrit pada kasus ini dapat dilihat pada penetapan

ukuran minimal dari lebar dan tinggi dari pintu darurat. Untuk dimensi

maksimum yang harus ditetapkan diaambil berdasarkan nilai percentile yang

paling rendah (1-th, 5-th, 10-th percentile) dari distribusi data antropometri
yang ada. Sebagai contoh penetapan jarak jangkauan dari suatu mekaanisme

kontrol yang harus dioperasikan oleh seorang pekerja.

2. Prinsip perancaangan produk yang bisa dioperasikan diantara rentang ukuran

tertentu.

Di sini rancaangan bisa dirubah-ubah ukuranya sehingga cukup fleksibel

dioperasikan oleh setiap orang yang memiliki berbagai macam ukuran tubuh.

Contoh yang paling umum dijumpai adalah perancaangan kursi mobil yang

mana dalam hal ini letaknya bisa digeser maju/mundur dan sudut sandaranya

pun bisaa berbah-ubah sesuai dengan yang diinginkan. Dalam kaitannya

untuk mendapatkan rancangan yang fleksibel, semacaam ini maka data

antropoometri yang umum diaplikasikan adalah daalam rentang niali 5-th

sampai dengan 95-th percentile.

3. Prinsip perancaangan produk dengan ukuran rata-rata

Dalam hal ini rancangan produk didasarkan pada rata-rata ukuran manusia.

Problem pokok yag dihadapi dalam hal ini justru sedikit sekali mereka yang

berbeda dalam ukuran rata-rata. Di sini produk dirancang dan dibuat untuk

mereka yang berukuran sekitar rata-rata, sedangkan bagi mereka yang

memilki ukuran ekstrim akan dibuat rancangan tersendiri.

3.7.6 Dimensi Tubuh Pengukuran Data Antropometri

Berikut ini adalah beberapa dimensi tubuh yang umum diukur dalam

antropometri:

1. Dimensi tinggi tubuh dalam posisi tegak (dari lantai s/d ujung kepala)
2. Tinggi mata dalam posisi berdiri tegak

3. Tinggi bahu posisi berdiri tegak

4. Tinggi siku dalam posisi berdiri tegak (siku tegak lurus)

5. Tinggi kepalan tangan yang terjulur lepas dalam dalam posisi berdiri tegak

6. Tinggi tubuh dalam posisi duduk (diukur dari atas tempat duduk/pantat

sampai dengan kepala

7. Tinggi mata dalam posisi duduk

8. Tinggi bahu dalam posisi duduk

9. Tinggi siku dalam posisi duduk (siku tegak lurus)

10. Tebal atau lebar paha

11. Panjang paha yang diukur dari ujung pantat sampai dengan ujung lutut

12. Panjang paha yang diukur dari pantat sampai dengan bagian belakang dari

lutut/betis

13. Tinggi lutut yang bisa diukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk

14. Tinggi tubuh dalam posisi duduk yang diukur dari lantaisampai dengan paha

15. Lebar dari bahu (bisa diukur dalam posisi berdiri ataupun duduk)

16. Lebar pinggang/pantat

17. Lebar dari dada dalam keadaan membusung

18. Lebar perut

19. Panjang siku yang diukur dari pergelangan sampai dengan ujung jari-jari

dalam posisi tegak

20. Lebar kepala


21. Panjang tangan diukur dari pergelangan sampai dengan ujung jari-jari dalam

posisi tegak

22. Lebar telapak tangan

23. Lebar tangan dalam posisi tangan terbentang lebar-lebar kesamping kiri-kana

24. Tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak, diukur dari lantai sampai

dengan telapak tangan yang terjangkau harus keatas (vertikal)

25. Tinggi jangkauan tangan dalam posisi duduk tegak, diukur seperti no.24

tetapi dalam posisi duduk

26. Jarak tangan yang terjulur kedepan diukur dari bahu sampai ujung jari tangan

3.7.7 Aplikasi Distribusi Normal dalam Penetapan Data Antropometri

Data anthropometri sangat diperlukan agar rancangan suatu produk dapat

sesuai dengan orang yang akan mengoperasikannya. Ukuran tubuh yang

diperlukan pada hakikatnya tidak sulit diperoleh dari pengukuran secara

individual, seperti halnya yang dijumpai untuk produk yang dibuat berdasarkan

pesanan (job order).

Situasi menjadi berubah jika lebih banyak lagi produk standar yang harus

dibuat untuk dioperasikan oleh banyak orang. Permasalahan yang timbul adalah

ukuran siapakah yang digunakan sebagai acuan untuk mewakili populasi yang

ada. Karena pastinya ukuran setiap individu akan bervariasi satu dengan populasi

yang menjadi target sasaran produk yang akan dirancang.

Agar permasalahan yang terdapat adanya variasi ukuran sebenarnya akan

lebih mudah dipecahkan jika dapat merancang produk yang memiliki fleksibilitas
dan adjustabel dengan suatu rentang ukuran tertentu. Gambar 3.9. menjelaskan

dalam anthropometi, angka 95 th akan menggambarkan ukuran tubuh manusia

yang terbesar dan 5 th menggambarkan ukuran tubuh manusia yang terkecil.

Gambar 3.10 Kurva Distribusi Normal dengan Persentil 95-th

Tabel 3.12 menunjukkan pemakaian nilai-nilai persentil yang

diaplikasikan dalam perhitungan data antropometri.

Tabel 3.12 Tabel Persentil dan Cara Perhitungan Dalam Distribusi Normal

Persentil Perhitungan
1-st Χ - 2.325 σX
2.5-th Χ - 1.96 σX

5-th Χ - 1.645 σX

10-th Χ - 1.28 σX
50-th Χ
90-th Χ + 1.28 σX

95-th Χ + 1.645 σX

97.5-th Χ + 1.96 σX

99-th Χ + 2.325 σX
3.7.8 Aplikasi Antropometri dalam Perancangan Produk

Antropometri menyajikan data ukuran dari berbagai macam anggota

tubuh manusia dalam percentiler tertentu akan sangat besar manfaatnya

pada saat tertentu dalam merancang suatu produk. Agar rancangan tersebut

nantinya bisa disesuaikan dengan ukuran tubuh manusia yang akan

mengoperasikan, maka prinsip-prinsip apa yang harus diambil di dalam aplikasi

data antropometri tersebut harus ditetapkan terlebih dahulu seperti diuraikan

berikut ini :

1. Prinsip Perancangan Produk Bagi Individual Dengan Ukuran Yang Ekstrim.

Di sini rancangan produk dibuat agar bisa memenuhi 2 (dua) sasaran produk,

yaitu :

a. Bisa sesuai untuk ukuran tubuh manusia yang mengikuti klasifikasi

ekstrim dalam arti terlalu besar atau terlalu kecil bila dibandingkan dengan

rata-ratanya.

b. Tetap bisa digunakan untuk memenuhi ukuran tubuh yang lain (mayoritas

dari ada).

Agar bisa digunakan untuk memenuhi sasaran pokok tersebut maka

ukuran tubuh yang diaplikasikan ditetapkan dengan cara :

a. Dimensi minimum yang harus ditetapkan dari suatu rancangan produk

umumnya didasarkan pada nilai percentile yang terbesar seperti 90-th, 95-

th atau 99-th persentil. Contoh konkrit pada kasusu ini bisa dilihat pada

penetapan ukuran miinimal dari lebar dan tinggi dari pintu darurat, dll.
b. Dimensi maksimum yang harus ditetapkan diambil berdasarkan nilai

percentile yang paling rendah (1-th, 5-th atau 10-th percentile) dari

distribusi data antropometri yang ada. Hal ini diterapkan untuk sebagai

contoh dalam penerapan jarak jangkau dari suatu mekanisme kontrol yang

harus dioperasikan oleh seorang pekerja.

Aplikasi data antropometri umumnya digunakan untuk perancangan

produk ataupun fasilitas kerja akan menetapkan nilai 5-th percentile untuk

dimensi maksimum dan 95-th percentile untuk dimensi minimumnya.

2. Prinsip Perancangan Produk Yang Bisa Dioperasikan Di antara Rentang

Ukuran Tertentu.

Rancangan bisa dirubah-rubah ukurannya sehingga cukup fleksibel

dioperasikan oleh setiap orang yang memiliki berbagai macam ukuran tubuh.

Contoh yang paling umum dijumpai adalah perancangan kursi mobil yang

mana dalam hal ini letaknya bisa digeser maju atau mundur dan sudut

sandarannya pun bisa berubah-ubah sesuai dengan yang diinginkan. Dalam

kaitannya untuk mendapatkan rancangan yang fleksible, semacam ini maka

data antropometri yang umum diaplikasikan adalah dalam rentang nilai 5-th

s/d 95-th percentile.

3. Prinsip Perancangan Produk dengan Ukuran Rata-Rata.

Rancangan produk didasarkan terhadap rata-rata ukuran manusia. Problem

pokok yang dihadapi dalam hal ini justru sedikit sekali mereka yang berbeda

dalam ukuran rata-rata. Di sini produk dirancang dan dibuat untuk mereka
yang berukuran sekitar rata-rata, sedangkan bagi mereka yang memiliki

ukuran ekstrim akan dibuatkan rancangan tersendiri.

Aplikasi data antropometri yang diperlukan dalam proses perancangan produk

ataupun fasilitas kerja. Maka adapun beberapa saran/rekomendasi yang bisa

diberikan sesuai dengan langkah - langkah seperti berikut :

a. Pertama kali terlebih dahulu harus ditetapkan anggota tububh yang mana

yang nantinya akan difungsikan untuk mengoperasikan rancangan

tersebut.

b. Tentukan dimensi tubuh mana yang penting dalam proses perancangan

tersebut, dalam hal ini juga perlu diperhatikan apakah harus menggunakan

data structural body dimension ataukah functional body dimension.

c. Selanjutnya tentukan populasi terbesar yang harus diantisipasi,

diakomodasikan dan menjadi target utama pemakai rancangan produk

tersebut. Hal ini lazim dikenal sebagai “Market Segmentation” seperti

produk mainan untuk anak-anak, peralatan rumah tangga untuk wanita, dll.

d. Tetapkan prinsip ukuran yang harus diikuti semisal apakah rancangan

terebut untuk ukuran individual yang ekstrim, rentang ukuran yang

fleksible (adjustabel) atau ukuran rata-rata.

e. Pilih presentase populasi yang harus diikuti: 90-th, 95-th, 99-th ataukah

nilai percentile yang lain yang dikehendaki.

Untuk setiap dimensi tubuh yang telah didefinisikan selanjutnya

pilih/tetapkan nilai ukurannya dari tabel data antropometri yang sesuai.

Aplikasikan data tersebut dan tambahkan faktir kelonggaran (allowance)


bila diperlukan seperti halnya tambahan ukuran akibat faktor tebalnya

pakaian yang harus dikenakan oleh operator, pemakaian sarung tangan

(gloves), dan lain lain.

3.7.9 Uji Keseragaman Data6

Uji keseragaman data dimaksudkan untuk menentukan bahwa populasi

data sampel yang digunakan memiliki penyeimbangan yang normal dari rata-

ratanya pada tingkat kepercayaan/signifikansi tertentu. Pengujian terhadap

keseragaman data dilakukan untuk mengetahui apakah data-data yang diperoleh

telah berada dalam keadaan yang terkendali atau belum. Suatu data yang berada di

dalam batas kendali yaitu BKA (Batas Kendali Atas) dan BKB (Batas Kendali

Bawah) dapat dikatakan dalam keadaan terkendali, sebaliknya jika suatu data

berada di luar BKA dan BKB, maka data tersebut dikatakan berada dalam

keadaan tidak terkendali.

Nilai batas kontrol atas dan batas kontrol bawah dapat dihitung apabila

nilai standar deviasi telah diketahui. Berikut ini merupakan rumus untuk

menghitung standar deviasi dari suatu kumpulan data.

∑(X -x)2
σ=� i

Berikut merupakan rumus yang digunakan untuk menghitung BKA dan

BKB dari suatu kumpulan data.

6 http://www.its.ac.id/personal/files/pub/2850-m_sritomo-ie-
akalahRancanganVulkanisi Ban A.Pawennari.pdf
BKA = x + kσ
BKB = x − kσ

dimana :

σ = standar deviasi Xi

= Data pengamatan
= Nilai rata-rata data
N = banyak data

BKA = batas kendali atas

BKB = batas kendali bawah

k = tingkat kepercayaan

Setelah nilai batas kontrol atas dan batas kontrol bawah diketahui, maka

data harus diperiksa untuk mengetahui apakah seluruh nilai data berada di antara

BKB dan BKA. Apabila terdapat data yang lebih kecil dari BKB ataupun data

yang lebih besar dari BKA, maka data tersebut tidak boleh diikut sertakan dalam

proses perhitungan (dieliminasi).

3.7.1 Proses-Proses dalam Perancangan Produk

Perancangan produk menurut Nigel Cross terbagi atas tujuh langkah yang

masing-masing mempunyai metode tersendiri. Ketujuh langkah tersebut diuraikan

pada sub bab berikutnya.

7
3.7.3.1 Klarifikasi Tujuan

Klarifikasi tujuan (clarifying objectives) ini dilakukan untuk menentukan

tujuan perancangan. Metode yang digunakan adalah pohon tujuan (objectives

7 Ibid., h. 97-113.
Trees). Dengan pohon tujuan, kita akan dapat mengidentifikasikan tujuan dan sub

tujuan dari perancangan suatu produk beserta hubungan antara keduanya yaitu

dalam bentuk diagram yang menunjukkan hubungan yang hierarki antara tujuan

dengan sub tujuannya. Percabangan pada pohon tujuan merupakan hubungan yang

menunjukkan cara untuk mencapai tujuan tertentu.

Titik awal sebuah rancangan adalah sebuah masalah atau sesuatu yang

masih kabur sangat jarang bagi perancang untuk memberikan pernyataan lengkap

dan jelas tentang objek yang harus dipenuhi. Langkah pertama dalam perencanaan

adalah mencoba mengklasifikasikan tujuan perencanaan. Dalam kenyataannya,

akan sangat membantu pada semua tahap mencapai akhir yang diinginkan. Akhir

ini adalah rangkaian tujuan dimana benda yang dirancang harus dapat dipenuhi.

Metode pohon tujuan memberikan format yang jelas dan bermanfaat bagi

beberapa tujuan. Ini memperlihatkan tujuan dan cara umum untuk mencapainya

dan masih harus dipertimbangkan. Ini akan memperlihatkan bentuk diagramatik

dimana tujuan yang berbeda akan saling berhubungan satu sama lain, dan pola

hirarki tujuan dan sub tujuan. Prosedur untuk pencapaian pohon tujuan ini akan

membantu memperjelas tujuan dan mencapai kesepakatan di antara klien,

manajer, dan anggota tim desain.

Langkah-langkah yang ditempuh dalam tahap klarifikasi tujuan adalah

sebagai berikut:

1. Membuat daftar tujuan perancangan.

2. Susun daftar dalam urutan tujuan dari higher-level kepada lower-level.


3. Gambarkan sebuah diagram pohon tujuan, untuk menunjukkan hubungan-

hubungan yang hierarki.

Metode pohon tujuan memberikan bentuk dan penjelasan dari pernyataan

tujuan. Metode ini menunjukkan sasaran yang akan dicapai dengan berbagai

pertimbangan.

1. Prosedur

Prosedur untuk menggunakan metode pohon tujuan membantu memperjelas

tujuan dan mendapatkan persetujuan dari klien, manajer, dan anggota tim

perancangan. Klien sangat peduli terhadap dengan apa yang diinginkan, atau

mungkin klien berpendapat bahwa pengacara sangat memahami yang

diinginkannya. Alternatif lain adalah berharap klien memberikan kebebasan.

Hal ini kedengarannya seperti keuntungan tersendiri bagi perancang tetapi

bisa juga menjadi bencana kalau klien memutuskan bahwa proposal

rancangan akhir sama sekali tidak sesuai dengan keinginannya. Pada kasus

lain perancang akan sangat membutuhkan pengembangan ide-ide awal

menjadi pernyataan yang jelas tentang tujuan perancangan.

Tujuan perancangan bisa juga disebut persyaratan klien, keinginan pemakai

atau kegunaan produk. Beberapa tujuan perancangan berisi ringkasan yang

lengkap sementara yang lainnya harus diperoleh dari pernyataan yang

diajukan pada klien atau mendiskusikannya dengan anggota tim yang lainnya.

Salah satu cara untuk membuat pertanyaan yang masih samara-samar menjadi

lebih spesifik adalah melalui literatur, mencoba menspesifikasikan


apa yang dimaksud dengan sasaran antara. Sebagai contoh, suatu tujuan

untuk peralatan mesin adalah harus aman, hal ini dapat diperluas menjadi:

a. Tidak mencederai operator.

b. Mengurangi tingkat kesalahan operator.

c. Mengurangi kerusakan peralatan.

d. Pengurangan beban yang berlebihan.

Daftar ini dapat disimpulkan dengan sederhana dan sembarang hal-hal apa

saja yang dapat dianggap sebagai tujuan atau mendiskusikannya dengan

anggota tim perancang lainnya. Dapat juga dilakukan dengan menanyakan

pada klien secara lebih spesifik tentang tujuan termasuk dalam rancangan

singkat.

Jenis pertanyaan yang dapat digunakan dalam memperluas dan memperjelas

tujuan adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana

misalnya, “Kenapa”, “Bagaimana” atau “Apa”. Untuk singkatnya

mengajukan pertanyaan apa yang ingin kita cari dari tujuan-tujuan ini.

Setelah mengembangkan daftar tujuan menjadi jelas dan menyusun tingkat

yang lebih tinggi dari level yang lainnya. Untuk memperjelas jenis tingkatan

yang muncul, tulis kembali daftar umum sasaran menjadi tersusun.

Kelompokkan tujuan menjadi sekumpulan tujuan dengan memperhatikan

tingkatan yang paling tinggi dari tujuan tersebut. Misalnya: kelompok produk

yang aman, sementara yang lainnya membutuhkan daya tahan dan

sebagainya. Tiap kelompok, susun sub tujuan dalam susunan menjadi hirarki,
sehingga tingkatan paling bawah terpisah dengan tingkatan tujuan yang

lainnya, contohnya sebagai berikut:

a. Mesin yang dibuat harus aman,

b. Mengurangi tingkat,

c. Mengurangi kesalahan kesalahan peralatan,

d. Mengurangi beban berlebih.

Daftar kini tersusun menjadi 3 tingkatan hirarki. Terkadang sangat sulit untuk

membedakan antar tingkatan tujuan atau orang lain dalam tim perancangan

tidak setuju dengan tingkatan relatif beberapa tujuan.

Aspek untuk memilih tujuan menjadi beberapa tingkatan membantu

perancang untuk berpikir lebih jelas tujan dan hubungan antar sasaran tujuan

akhir. Gambarkan diagram pohon tujuan untuk menunjukkan hubungan

hirarki dan hubungan diantaranya. Diagram ini menunjukkan hubungan

hirarki diantara beberapa tujuan dan subtujuan; diagram ini merupakan awal

suatu pohon yang menggambarkan pola hubungan diantara tujuan dan

subtujuan.

Orang lain mungkin membuat pohon tujuan yang berbeda untuk persoalan

yang sama atau bahkan dari kumpulan tujuan yang sama. Diagram ini secara

sederhana menyajikan satu persepsi pada struktur persoalan. Diagram pohon

membantu untuk menajamkan dan memperbaiki persepsi perancang tentang

persoalan atau mencapai kasamaan pandangan tentang tujuan dengan anggota

tim yang lainnya. Bentuk ini merupakan pola sementara yang biasa saja

berubah dalam proses perancangan berikutnya. Melalui suatu proyek tujuan


perancangan harus dinyatakan secara jelas dan transparan dan memuat

informasi yang dibutuhkan, dan pohon tujuan menyediakan kebutuhan ini.

2. Fungsi Perancangan

Dari metode pohon tujuan kita melihat maksud permasalahan dapat

mempunyai banyak tingkatan-tingkatan yang umum maupun secara rinci.

Dengan nyata, setiap tingkat permasalahan memberi arti sangat penting bagi

perancang. Ada perbedaan besar antara mempertanyakan “Merancang sebuah

telepon gengam” dan “Merancang sebuah telekomunikasi”. Perancang dapat

menyajikan tingkatan pada merancang pintu atau merancang jalan masuk dan

jalan keluar dan menemukan penyelesaian yang tak memerlukan tombol pintu

sama sekali, tetapi hal ini tidak bermamfaat bagi kita yang membuat tombol

pintu. Pilihan lain perancang dapat menurunkan beberapa tingkatan,

menyelidiki hubungan antara manusia dengan lingkungan kerjanya dari

perancangan atau macam-macam gerakan dari pergerakan palang pintu. Jadi

hal ini dapat bermanfaat dalam mempertimbangkan tingkat permasalahan

dimana seseorang perancang atau regu perancang bekerja. Itu sangat

bermanfaat jika kita dilakukan dalam tahap pertimbangan tidak pada jenis

potensi dari penyelesaian, tahap fungsi penting untuk bebas untuk

mengembangkan pilihan perencanaan penyelesaian yang memuaskan.

Metode analisis fungsi menawarkan seperti mempertimbangkan fungsi

esensial alat, hasil/produk atau system yang dirancang harus memuaskan.

Tidak masalah komponen fisik apa yang seharusnya digunakan. Tingkat


permasalahan diputuskan dengan mendirikan “Perbatasan” disektor peletakan

pengganti yang saling berkaitan dari fungsi.

3. Metode Analisis Fungsi

Menunjukkan fungsi keseluruhan untuk rancangan masa proses perubahan

dari pemasukan kepada pegeluaran. Titik pangkal untuk metode ini adalah

memusatkan pada apa saja yang diperoleh dengan rancangan baru, dan tidak

mementingkan bagaimana diperolehnya yang paling sederhana dan cara yang

sangat mendasar dari penunjukan penggantian produk atau alat digambarkan

secara sederhana sebagai kotak hitam yang mengubah bentuk khusus

pemasukan kepada pengeluaran yang diinginkan. Kotak hitam meliputi

keseluruhan fungsi yang diperlukan untuk mengubah bentuk permasalahan

kepada pengeluaran.

4. Perincian fungsi-fungsi keseluruhan kedalam sekumpulan sub-sub fungsi

penting.

Biasanya, perubahan dari kumpulan input dari kumpulan input kedalam

kumpulan output/produk adalah tugas yang kompleks disamping Kotak

hitam. Disini tidak ada sasaran yang pasti, cara yang sistematis untuk

melakukan ini. Pemeriksaan kedalam sub-sub fungsi dapat bergantung pada

faktor-faktor seperti jenis dari komponen-komponen bernilai untuk tugas-

tugas yang spesifik, kepentingan atau keutamaan alokasi dari fungsi-fungsi

mesin atau untuk operatornya, pengalaman desainer dan lain-lain. Dalam

spesifikasi sub-sub fungsi ini sangat membantu untuk memastikan bahwa

mereka semua dinyatakan dengan dengan cara yang sama. Masing-masing


hanya menjadi pernyataan dan sebuah keterangan kerja tanpa sebuah kata

benda “menjelaskan sinyal” menghitung tujuan-tujuan. Setiap sub-sub fungsi

mempunyai inputnya sendiri dan outputnya, dan kesesuain antara ini

semuanya seharusnya diperiksa. Disana mungkin ada sub fungsi pembantu

yang harus ditambahkan tapi yang tidak dikontribusikan langsung pada

fungsi keseluruhan seperti perpindahan sisa-sisa.

5. Menggambar sebuah diagaram yang menunjukkan hubungan industri antara

sub- sub fungsi.

Sebuah blok diagram terdiri dari semua sub-sub fungsi yang secara terpisah

diidentifikasikan dengan melampirkan mereka dalam kotak-kotak dan

berhubungan satu sama lain dengan imput-input dan output mereka sehingga

memberi penjelasan fungsi dari produk atau perlengkapan yang sedang

dirancang. Dengan kata lain, keaslian kotak blok dari keseluruhan fungsi

digambar kembali menjadi sebuah kotak transparan yang dalam kepentingan

sub-sub fungsi. Dalam penggambaran diagram ini kita akan dapat

menemukan bagaimana bagian dalam input dan output-output dari sub-sub

fungsi yang dikaitkan bersama sedemikian rupa untuk membuat kemudahan

dalam bekerjanya suatu sistem.

6. Gambar sistem batas

Dalam penggambaran blok diagram butuh sekali untuk membuat keputusan-

keputusan tentang luas yang dapat dan lokasi dari system batas, sebagai

contoh tidak ada input atau output yang lepas dalam diagram kecuali yang

berasal dari sistem dasar.


Bentuk stang Melengkung

Bentuk tempat Segitiga Lengkung


duduk

Bentuk Pedal Pedal Persegi

Tinggi tempat Duduk


Desain
50 cm

Dimensi Jari-jari roda 20 cm

Tinggi stang 45 cm

Warna Merah Hitam

Sepeda Mini
Hiasan Stiker

Rangka yang Ringan dan Kuat Besi

Bahan

Tempat duduk yang nyaman Busa

Fungsi Utama Alat transportasi

Multifungsi

Fungsi Tambahan Tempat tas

Gambar 3.12 Diagram Pohon Tujuan Sepeda Mini

3.7.3.2 Penetapan Fungsi

Dari metode pohon tujuan kita melihat maksud permasalahan yang

mempunyai banyak tingkatan perbedaan yang umum maupun secara rinci.

Perancang selalu mungkin untuk menaikkan dan menurunkan tingkatan dalam

permasalahan dan juga dapat menurunkan beberapa tingkatan.

Penetapan fungsi-fungsi (Establishing Functions) ini bertujuan untuk

menentukan fungsi-fungsi yang terjadi dalam suatu rancangan. Metode yang

dipakai adalah Analisis Fungsional. Langkah-langkah yang dilalui adalah

pembuatan model system “black box” yaitu menyatakan fungsi keseluruhan dari

perancangan produk dalam bentuk konversi input menjadi output, kemudian

memecahkan fungsi keseluruhan ke dalam serangkaian sub-sub fungsi tersebut ke

dalam suatu diagram blok yang menunjukkan interaksi antara sub-sub fungsi

tersebut kedalam suatu diagram blok.


Tujuan dari metode analisis fungsi adalah untuk menetapkan fungsi-

fungsi yang diperlukan dan batas-batas sistem rancangan produk yang baru.

Untuk itu dengan menggunakan Metode Analisis Fungsi (Analysis Function

Method) maka kita dapat menggambarkan System input-output dari proses

pembuatan produk.

Adapun metode analisa fungsi menawarkan sejumlah pertimbangan

fungsi pokok dan level dimana sebuah masalah dialamatkan. Fungsi pokok adalah

perlengkapan, produk atau sistem yang didesain harus memuaskan dan menjadi

kompenen fisik dari produk yang akan digunakan. Level masalah ditentukan

dengan menetapkan sub set fungsi yang secara logis.

Titik pangkal untuk metode ini adalah untuk rancangan masa proses

memusatkan pada apa yang diperoleh perubahan dari pemasukan kepada

rancangan baru dan tidak mementingkan bagaimana diperolehnya yang paling

sederhana dan cara yang sangat mendasar dari perancangan produk, yang

digambarkan secara sederhana dalam Gambar 3.13

Gambar 3.13 Black Box

Metode analisis fungsi bertujuan untuk menetapkan fungsi-fungsi yang

diharapkan dan batas sistem dari rancangan baru. Prosedurnya berupa:

1. Mengekspresikan keseluruhan fungsi.


2. Membagi keseluruhan fungsi menjadi sekumpulan sub-sub fungsi.

3. Gambar blok diagram yang menunjukkan interaksi antar sub-sub fungsi.

4. Menggambarkan batas sistem.

5. Batas sistem menyatakan batas-batas fungsional untuk produk

6. Penyelidikan untuk komponen yang cocok untuk menunjukkan sub-sub

fungsi

1. Perincian fungsi-fungsi keseluruhan ke dalam sekumpulan sub-subfungsi.

Cara yang dilakukan adalah: pemeriksaan kedalam sub-sub fungsi dapat

bergantung pada faktor seperti jenis dari komponen, kepentingan alokasi dari

fungsi mesin, pengalaman desainer dan lain-lain. Setiap sub fungsi

mempunyai input sendiri dan kesesuaian antara input dan output harus

diperiksa. Disana mungkin ada sub fungsi pembantu yang harus

ditambahkan.

2. Menggambarkan sebuah diagram yang menunjukkan hubungan fungsi antara

sub-sub fungsi.

Sebuah blok diagram terdiri dari semua sub fungsi yang secara terpisah

diidentifikasikan dengan melampirkan mereka dalam kotak-kotak dan

berhubungan satu sama lain dengan input dan output.

3. Gambar sistem batas.

Batasannya harus digambarkan mengelilingi kumpulan sub-sub dari fungsi

yang telah diidentifikasi dengan maksud untuk menegakkan sebuah produk

yang mudah. Jika sub fungsi telah cukup dijelaskan pada level yang tepat,
kemudian itu seharusnya dapat diidentifikasi kesesuaian komponen untuk

setiap sub fungsinya.

Pengidentifikasian komponen akan bergantung pada kealamian dari

produk. Metode fungsi analisa adalah bantuan yang sangat berguna dalam keadaan

itu karena ia berfokus pada fungsi-fungsi dan meninggalkan peralatan-peralatan

fisik dan pencapaian fungsi pada tingkat berikutnya dari proses perancangan

3.7.3.3 Penetapan Kebutuhan8

Setelah penetapan fungsi, maka langkah selanjutnya adalah menetapkan

spesifikasi kebutuhan. Langkah ini bertujuan untuk membuat spesifikasi

pembuatan yang akurat bagi desain atau rancangan.

Dalam menetapkan batasan-batasan tentang apa yang harus dicapai

seorang perancang, spesifikasi performansi membatasi luasnya solusi yang

mungkin diterima. Karena itu, maka seorang perancang harus membuat batasan

target yang akan dicapai, tetapi batasan tersebut sebaiknya tidak terlalu sempit. Di

lain pihak, spesifikasi yang terlalu luas, dapat memberikan perancang sedikit ide

yang sesuai dengan tujuannya. Spesifikasi yang terlalu luas akan mengarah

kepada solusi yang tidak tepat.

Performansi suatu metode spesifikasi dimaksudkan untuk membantu

dalam mendefinisikan suatu masalah desain, meninggalkan kesesuaian sejumlah

kebebasan sehingga perancang mempunyai ruang untuk mengarahkan melewati

8 Nigel Cross, Engineering Design Methods: Strategies for Product Design, (1996 )h.
77-
82.
jalan itu dan berarti pencapaian dari keberhasilan suatu solusi disain yang

memuaskan. Spesifikasi berarti suatu performansi yang diperlukan, dan bukan

produk yang diperlukan. Oleh karena itu, metode ini menekankan pencapaian

performansi suatu solusi desain, dan bukan komponen fisik tertentu manapun

dimana itu mungkin berarti menuju pencapaian keberhasilan itu.

Adapun prosedur dari penentuan performansi yang akurat dari suatu

spesifikasi produk adalah:

1. Mempertimbangkan level berbeda yang sifatnya umum dari solusi tersebut

yang mungkin dapat diusulkan. Mungkin bisa dipilih satu pilihan diantara

level-level berikut yakni:

a) Atribut alternatif,

b) Type jenis produk,

c) Ciri- ciri produk.

2. Menentukan level yang sifatnya umum yang mana akan digunakan dalam

operasi. Keputusan ini biasanya dibuat oleh pelanggan.

3. Mengidentifikasi atribut pembuatan yang perlu.

4. Menguraikan syarat-syarat pembuatan secara ringkas dan jelas untuk setiap

atribut.

Kemungkinan yang ada, spesifikasi sebaiknya dalam syarat-syarat yang

dapat dijangkau, dan mengidentifikasi perbedaan/tingkatan diantara batasan-

batasan.masalah perancangan selalu disertai dengan batasan-batasan tertentu.

Salah satu batasan yang sangat penting ialah sebagai contoh dalam masalah biaya,

apa yang disiapkan oleh klien untuk menghabiskan mesin baru, atau apa yang
diharapkan oleh para pelanggan dalam pembayaran sebagai harga pembelian

produk. Masalah umum lainnya adalah dapat diterimanya ukuran dan berat dari

mesin. Beberapa masalah akan ditampilkan dalam persyaratan, seperti penilaian

power mesin uap, apakah mesin sesuai dengan UU resmi atau persyaratan

keamanan lainnya.

Kumpulan persyaratan ini terdiri dari dari spesifikasi penampilan produk

atau mesin. Persyaratan rancangan dari suatu objek atau fungsi kadang-kadang

memperlihatkan spesifikasi performance tetapi ini belum tentu benar. Objective

dan function adalah persyaratan, apakah sebuah desain harus mencapai sukses

atau tidak. Dalam kumpulan batasan bagaimana disain dapat mencapai sukses,

spesifikasi performance karena itu dibatasi oleh masalah-masalah yang dapat

direrima. Oleh karena itu dikumpulkan target perancangan produk, hal ini hampir

tidak dapat dijelaskan, jika itu terjadi. Banyak solusi-solusi yang dapat diterima

yang ternyata tidak dibutuhkan. Sebaliknya dengan pengkhususan ini terlalu

umum atau sama-sama dapat berubah seorang designer dengan sedikit ide yang

pantas untuk disyahkan. Bahan spesifikasi yang dikumpulkan terlalu luas dapat

juga menjadi solusi yang tidak sah yang kemudian diubah atau dimodifikasi saat

itu dilakukan benar-benar menjadi batasan yang dapat diterima.

Maka terdapatlah banyak alasan yang disertai usaha spesifikasi

performance yang akurat dalam desain proses, hal itu dapat dikumpulkan menjadi

solution pace dengan penyelidikan designer. Kemudian dalam proses

performance specification biasanya dievaluasi permasalahannya, untuk mengecek

apakah mereka termaksud pada batasan-batasan yang dapat diterima.


3.7.3.4 Penentuan Karakteristik dengan QFD9

QFD adalah suatu cara untuk meningkatkan kualitas barang dan jasa

dengan memahami kebutuhan konsumen kemudian menghubungkannya dengan

ketentuan teknis untuk menghasilkan suatu barang atau jasa pada setiap tahap

pembuatan barang dan jasa yang dihasilkan. Penyebaran fungsi mutu (Quality

Function Deployment) adalah alat perencanaan yang dibutuhkan untuk membantu

bisnis memusatkan perhatian pada kebutuhan para pelanggan mereka ketika

menyusun spesifikasi desain dan fabrikasi. Manfaat-manfaat utama QFD sebagai

berikut :

1. Memusatkan rancangan produk dan jasa baru pada kebutuhan pelanggan.

Memastikan bahwa kebutuhan pelanggan dipahami dan proses desain

didorong oleh kebutuhan pelanggan yang objektif dan teknologi.

2. Mengutamakan kegiatan-kegiatan desain. Hal ini memastikan bahwa proses

desain dipusatkan pada kebutuhan pelanggan yang paling berarti.

3. Menganalisis kinerja produk perusahaan yang utama untuk memenuhi

kebutuhan para pelanggan utama.

4. Dengan memfokuskan pada upaya perancangan, hal tersebut akan mengurangi

lamanya waktu yang diperlukan untuk daur ulang rancangan secara

keseluruhan sehingga dapat mengurangi waktu untuk memasarkan produk-

produk baru.

5. Mengurangi banyaknya perubahan desain setelah dikeluarkan dengan

memastikan upaya yang difokuskan pada tahap perancangan.

9 Rosnani Ginting, op. cit., h. 135-179.


6. Mendorong terselenggarakannya tim kerja dan menghancurkan rintangan antar

bagian dengan melibatkan pemasaran, rencana teknik, dan fabrikasi sejak awal

proyek.

7. Menyediakan suatu cara untuk membuat dokumentasi proses dan

menyediakan suatu dasar yang kukuh untuk mengambil keputusan rancangan.

Penentuan karakteristik bertujuan untuk mengetahui selera konsumen

terhadap produk. Hal ini dapat dilakukan dengan metode (Quality Function

Deployment), yaitu menerjemahkan selera konsumen dalam bentuk atribut-atribut

produk yang sesuai dengan karakteristik teknis. QFD adalah suatu matriks yang

sistematis, menggambarkan pendekatan yang dilakukan untuk merancang produk

yang berkualitas. Dasar dari QFD adalah filosofi TQM (Total Quality

Management). Dalam QFD menggunakan suatu matriks yang disebut sebagai

House of quality, dimana matriks ini dapat menerjemahkan keinginan konsumen

ke dalam karakteriatik desain. Bentuk dan keterangan dari setiap bagian matriks

House of quality dapat dilihat pada Gambar 3.14.


Derajat Hubungan: X
V = Hubungan Kuat =4 v X
v = Hubungan Sedang =3 Persepsi Konsumen
x = Hubungan Lemah =2 v XVXv XX
X = Tidak Ada Hubungan =1 v
X x V X 5 = Sangat baik
x x

KetelitianPenggerindaan
v X x V 4 = Baik

KetelitianPengeboran

KualitasPengecatan
KetepatanBentukMa
TemperaturPenuangan
3 = Cukup

l
2 = Tidak baik

Kepadatan Cetakan
KARAKTERISTIKTEKNIK

Komposisi Bahan
MODUS
1 = Sangat tidak baik
Persepsi Konsumen

5 4 3 2 1
Bentuk gantungan pintu pajangan 5 V V
VXVVXIIA,BC,D- -
natal bulat
Panjang gantungan pintu pajangan 5 X v
natal 10 cm
x X V V X II,C A,B D - -
Lebar gantungan pintu pajangan x X V V X II A B, C, - -
5 X v
natal 10 cm D
Tebal gantungan pintu pajangan 3 X v x X V V X D A II, B, - -
natal 1 cm C
Warna dasar gantungan pintu 3 X X X X X X V - A, B, II, C - -
pajangan natal biru D
Warna tulisan gantungan pintu 4 X X X X X X X - II, C A, B, - -
pajangan natal merah D
Motif gantungan pintu pajangan 5 X X XXXXXII A,B, D- -
natal pohon natal C
Bahan tambahan gantungan pintu 5 X X - A II, B, - -
X v X X V
pajangan natal tripleks C, D
Fungsi tambahan gantungan pintu 24 X X X V X X X II - A,B, - -
pajangan natal tempat surat C,D
Warna fungsi tambahan gantungan 3 X X X X X X V A II, B, - - -
pintu pajangan natal hijau C, D
Tingkat kesulitan 3 3 3 3 3 3 3 Kelompok II

Derajat kepentingan(%) 10 15 13 12 18 18 15 II
A Pesaing 1
Perkiraan biaya (%) 14 14 14 14 14 14 14 B PesaingD 2

C Pesaing 3
Tingkat Kesulitan Perkiraan biaya
Derajat Kepentingan
1 = mudah = 1-20%
D Pesaing 4
1 - 15 = Cukup penting
3 = cukup mudah = 21-40% 1-15 = Murah
16 – 30 = Penting
5 = sulit = 41-60% 16-30 = Sedang
31 – 45 = Sangat penting
7 = sangat sulit = 61-80% 31-45 = Mahal
9 = mutlak sulit = 81-100%

Gambar 3.14 House Of Quality

Dalam menggunakan matriks House of quality harus melalui prosedur

sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi keinginan konsumen ke dalam atribut-atribut produk.

Pada tahap ini akan diuji sampai sejauh mana tingkat kepuasan konsumen

terhadap suatu produk. Umumnya konsumen menyatakan pendapatnya

mengenai suatu produk di dalam atribut-atribut yang sangat umum, sehingga


yang terpenting dalam tahap ini adalah mengidentifikasi pernyataan konsumen

dengan baik untuk menghindari kesalahan interpretasi.

2. Menentukan tingkat kepentingan relatif dari atribut-atribut.

Penentuan peringkat atribut ini dapat dilakukan dengan memberikan bobot

persentase pada masing-masing atribut dengan menggunakan skala prioritas.

3. Mengevaluasi atribut-atribut dari produk pesaing.

Performansi dari pesaing dianalisis, keterangan mengenai atribut

diprioritaskan dan dikaji.

4. Membuat matriks perlawanan antara atribut produk dengan karakteristik.

Atribut-atribut yang telah diterjemahkan ke dalam karakteristik teknis pada

tahap di atas dimasukkan ke dalam suatu matriks, dimana atribut diletakkan

horizontal ada tepi atas. Karakteristik yang dipilih harus nyata dan dapat

diukur.

5. Mengidentifikasi hubungan antara karakteristik teknis dan atribut produk.

Untuk menyatakan hubungan yang terjadi antara karakteristik teknis dan

atribut, biasanya menggunakan skor, dimana skor yang tertinggi menyatakan

tingkat kemudahan yang tinggi bagi tim perancang untuk mengidentifikasi

karakteristik teknis ynag paling berpengaruh pada kepuasan konsumen dan

sebaliknya.

6. Mengidentifikasi interaksi yang relevan di antara karakteristik teknis

Dalam House of quality, besaran diletakkan pada bagian roof. Bekerja dengan

mariks roof seperti ini dapat memudahkan dalam memeriksa interaksi yang

terjadi pada setiap pasangan karakteristik teknis.


7. Menentukan gambaran target yang ingin dicapai untuk karakteristik teknis.

Pada tahap ini tim perancang menentukan target yang ingin dicapai dalam

karakteristik teknis.
BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di UKM Tani Bersama yang beralamat di Jalan

Sipahutar, Desa Lobu Siregar I Kecamatan Siborong-siborong, Kabupaten

Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Waktu penelitian dilakukan mulai bulan Juni

2015 sampai Agustus 2015.

4.2 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah action research merupakan penelitian yang

bertujuan untuk mendapatkan solusi yang akan diaplikasikan pada badan usaha

sebagai bentuk perbaikan dari system semula.

4.3 Objek Penelitian

Objek penelitian yang diamati adalah operator yang bekerja pada stasiun

penggilingan buah kopi di UKM Tani Bersama dengan kegiatan mengangkat buah

kopi dan menggiling buah kopi.

4.5 Metode dan Instrumen Penelitian

Metode dan instrument/alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Wawancara

Instrumennya adalah checklist pertanyaan kepada operator.


2. Standard Nordiq Questioner

Instrumennya adalah checklist keluhan yang dialami operator.

3. Pengamatan Langsung/Observasi

Instrumennya adalah kamera untuk melihatkondisi postur kerja operator pada

proses penggilingan.

4. Pengukuran Langsung

a. Dimensi tubuh, instrumennya adalah Human Body Martin dan jangka

sorong

b. Dimensi fasilitas kerja, instrumennya adalah meteran.

c. Dimensi sudut tubuh, instrumennya adalah goniometer.

4.6 Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer

dan sekunder.

1. Data Primer

Data primer diperoleh dari pengamatan di lapangan dan wawancara langsung

dengan operator bagian penggilingan.

Data primer yang dibutuhkan adalah:

a. Data operator

b. Data mengenai keluhan rasa sakit pada bagian tubuh karyawan dengan

menggunkan Standard Nordic Questioner (SNQ). Data ini berisi keluhan

karyawan berdasarkan kategori sangat sakit diberi bobot 3, sakit diberi

bobot 2, agak sakit diberi bobot 1 dan tidak sakit diberi bobot 0.
c. Data postur kerja tiap elemen gerakan pada proses penggilingan.

d. Data dimensi fasilitas kerja aktual yang diperoleh dengan menggunakan

meteran untuk mengukur mengukur dimensi tubuh operator dan

goniometer untuk mengukur sudut tubuh operator.

e. Data rincian kegiatan pada proses penggilingan.

f. Antropometri operator yang terdiri dari:

1) Tinggi siku berdiri (TSB)

2) Jangkauan tang (JT)

3) Tinggi Polipteal (TPO)

Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat Human Body Martin dan

meteran serta jangka sorong fungsinya untuk mengukur dimensi tubuh

operator.

g. Data atribut untuk alat rancangan QFD (Quality Function Deployment)

diperoleh dengan menyebarkan kuisioner terbuka, kuisioner tertutup

• Kuesioner terbuka

Kuesioner terbuka digunakan sebagai instrumen untuk mengumpulkan

informasi mengenai berbagai atribut-atribut produk penggiling buah kopi

yang diinginkan operator.

• Kuesioner tertutup

Kuesioner tertutup digunakan untuk mengetahui tingkat kepentingan dari

atribut-atribut yang telah didapatkan dari kuesioner terbuka dan kuisioner

antara sebelumnya.
Dalam penelitian ini, teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling

karena sampel yang diambil dalam penelitian adalah anggota populasi yang sudah

menggunakan alat digunakan sebagai sampel.

• Kuesioner Karakteristik

Kuisioner pembuatan alat digunakan untuk mengetahui apakah alat yang

diinginkan konsumen bisa dibuat oleh operator/tukang pembuatan

penggiling buah kopi yang sesuai dari hasil kuisioner tertutup.

Dalam pembagian kuisioner ini diberikan kepada operator atau tukang

yang ahli dalam pembuatan penggiling buah kopi yang sesuai dengan hasil

keinginan konsumen.

2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari data dokumentasi yang diperoleh dari UKM Tani

Bersama yaitu data proses produksi, sejarah perusahaan dan struktur organisasi,

uraian proses produksi, jumlah operator. Selain itu penambahan data dimensi

tubuh dari laboratorium E dan APK.

Dalam penelitian ini, teknik pengambilan sampel purposive sampling karena

sampel yang diambil dalam penelitian adalah sampel yang ahli atau terampil

dalam proses penggilingan. Seluruh operator pada proses penggilingan sebanyak

10 orang, maka kuisioner diisi oleh 10 orang operator untuk menentukan keluhan

yang dilami operator.


BAB V

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

5.1 Pengumpulan Data

5.1.1 Data Standard Nordic Questionnaire (SNQ)

Standard Nordic Questionnaire (SNQ) adalah metode yang digunakan

untuk mengetahui keluhan yang dirasakan oleh operator saat melakukan aktivitas

penggilingan buah kopi. Penilaian dengan Standard Nordic Questionnaire

dilakukan dengan pemberian bobot nilai, yaitu:

1. Untuk tidak ada keluhan diberikan nilai 0

2. Untuk keluhan agak sakit diberikan nilai 1

3. Untuk keluhan sakit diberikan nilai 2

4. Untuk keluhan sangat sakit diberikan nilai 3.

Kategori keluhan yang dirasakan operator saat bekerja adalah sebagai

berikut:

1. Tidak sakit (skor 0) apabila operator tidak merasakan keluhan yang berarti

terhadap bagian tubuh.

2. Rasa agak sakit (skor 1) apabila operator hanya merasakan rasa nyeri sesekali

saja ataupun kesemutan.

3. Rasa sakit (skor 2) apabila operator sering merasakan rasa nyeri terhadap

bagian tubuh mereka ataupun pegal.


4. Rasa sangat sakit (skor 3) apabila operator mengalami rasa pegal dan nyeri

yang lama (masih dirasakan walaupun operator sudah selesai atau sudah

sampai dirumah).

Hasil rekapitulasi data SNQ dapat dilihat pada Tabel 5.1.

5.1.2 Data Postur Kerja

Postur kerja dari elemen kegiatan penggilingan buah kopi yang dilakukan
oleh operator bagian penggilingan sebagai berikut:
1. Operator melakukan penggilingan buah kopi

Operator melakukan penggilingan buah kopi dengan posisi origin, kegiatan

penggilingan buah kopi dapat dilihat pada gambar 5.1

Gambar 5.1 Kegiatan Penggilingan Buah Kopi


2. Operator melakukan proses penggilingan buah kopi

Operator melakukan penggilingan buah kopi pada posisi destination,

kegiatan penggilingan buah kopi dapat dilihat pada Gambar 5.2

Gambar 5.2 Kegiatan Penggilingan Buah Kopi

3. Operator melakukan pengangkatan buah kopi

Operator melakukan pengangkatan buah kopi untuk dimasukkan kedalam

penggiling buah kopi. Kegiatan pengangkatan buah kopi dapat dilihat pada

Gambar 5.3
V-77

Tabel 5.1 Rakapitulasi Standar Nordic Questioner (SNQ)

Nama Umur Pengalaman Nomor Dimensi Tubuh


No Kerja
Karyawan (Tahun) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27
(Tahun)
1 Operator 1 53 18 0 2 1 3 1 1 3 2 0 0 0 1 0 3 0 2 1 2 0 1 0 0 0 1 0 0 1 1
2 Operator 2 47 13 0 2 1 2 1 2 3 2 0 0 0 1 1 3 0 2 1 2 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1
3 Operator 3 49 12 0 1 0 3 0 2 2 2 0 0 1 2 1 2 0 1 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1
4 Operator 4 50 20 0 1 2 3 2 2 3 1 0 0 0 2 0 3 1 2 2 2 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0
5 Operator 5 38 11 1 2 1 3 1 1 3 2 0 0 0 2 0 2 1 2 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1
6 Operator 6 48 7 0 2 2 2 1 1 3 2 0 0 0 1 0 2 0 1 2 2 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0
7 Operator 7 48 14 0 1 1 3 1 2 3 2 0 0 1 1 0 3 0 2 1 2 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0
8 Operator 8 50 22 0 1 1 3 1 1 2 1 0 0 0 2 0 3 0 2 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
9 Operator 9 27 7 0 2 0 3 1 1 3 2 0 0 0 2 0 2 0 2 1 2 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0
10 Operator 10 41 15 0 1 0 3 1 1 2 2 0 0 0 1 1 3 0 3 1 2 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0
Sumber: Pengumpulan Data
Keterangan Tabel:

0. Sakit kaku di leher bagian atas 10. Sakit pada siku kiri 20. Sakit pada lutut kiri
1. Sakit kaku di leher bagian bawah 11. Sakit pada siku kanan 21. Sakit pada lutut kanan
2. Sakit di bahu kiri 12. Sakit pada lengan bawah kiri 22. Sakit pada betis kiri
3. Sakit di bahu kanan 13. Sakit pada lengan bawah kanan 23. Sakit pada betis kanan
4. Sakit lengan atas kiri 14. Sakit pada pergelangan tangan kiri 24. Sakit pada pergelangan kaki kiri
5. Sakit di punggung 15. Sakit pada pergelangan tangan kanan 25. Sakit pada pergelangan kaki kanan
6. Sakit lengan atas kanan 16. Sakit pada tangan kiri 26. Sakit pada kaki
7. Sakit pada pinggang 17. Sakit pada tangan kanan 27. Sakit pada kaki kanan
8. Sakit pada bokong 18. Sakit pada paha kiri
9. Sakit pada pantat 19. Sakit pada paha kanan
V-78
5.1.3 Data Biomekanika

5.1.3.1 Data biomekanika yang diukur pada saat mengangkat buah kopi penelitian dapat dilihat pada Tabel 5.2.
Tabel 5.2 Operator Mengangkat Buah Kopi

Operator Kondisi Θ1(o) Θ2 (o) Θ3 (o) Θ4=ΘH (o) ΘT (o) PKT (cm) PLB PLA (cm) PP (cm) BB Wo
(cm) (kg) (kg)
O 56.3 64.6 85.7 12.3 14.1 18.2 29.6 30.2 72.4 68 20
1
D 25.5 14.2 79.3 82.1 83.4 18.2 29.6 30.2 72.4 68 20
O 58.2 64.3 87.3 12.7 16.6 16.7 28.5 31.5 70.6 72 20
2
D 27.1 15.1 79.5 83.2 85.1 16.7 28.5 31.5 70.6 72 20
O 55.4 66.3 84.9 12.9 14.9 17.9 29.7 29.4 70.8 66 20
3
D 28 14.3 80.2 80.9 84.7 17.9 29.7 29.4 70.8 66 20
O 57.5 64.7 85.4 11.8 15.1 17 28.4 30.7 73.6 81 20
4
D 24.8 16.2 78.6 85.4 82.4 17 28.4 30.7 73.6 81 20
O 60.1 65.8 86.5 13.4 16.4 18.4 30 31.1 73.8 63 20
5
D 25.9 15.7 78.9 83.2 83.8 18.4 30 31.1 73.8 63 20
O 54.7 63.9 85.9 13.6 13.9 19 30.2 33.6 73.7 79 20
6
D 27.6 16.4 79.4 82.9 85.3 19 30.2 33.6 73.7 79 20
O 59.9 64.3 85.4 12.8 15.3 18.6 30.7 30.8 71.4 68 20
7
D 26.4 15.8 80.3 84.7 82.7 18.6 30.7 30.8 71.4 68 20
O 55.4 65.1 86.1 13.1 16.7 17.4 29.3 30.6 70.9 80 20
8
D 27.1 14.4 81.1 83.3 85.7 17.4 29.3 30.6 70.9 80 20
O 56.7 68.1 85.4 14.3 16.9 18.3 30.2 32.3 71.2 79 20
9
D 28.2 15.2 82.2 80.8 83.9 18.3 30.2 32.3 71.2 79 20
O 58.1 67.6 87.1 12.9 17.8 17.7 28.9 30.9 70.2 82 20
10
D 25.8 13.5 81.1 81.9 84.2 17.7 28.9 30.9 70.2 82 20
5.1.3.2 Data biomekanika yang diukur pada saat menggiling buah kopi penelitian dapat dilihat pada Tabel 5.3.
Tabel 5.3 Operator Menggiling Buah Kopi

Operator Kondisi Θ1(o) Θ2 (o) Θ3 (o) Θ4=ΘH (o) ΘT (o) PKT (cm) PLB PLA (cm) PP (cm) BB Wo
(cm) (kg) (kg)
1 O 22.2 13.2 25.5 21.5 26.7 18.2 29.6 30.2 72.4 68 20
D 74.5 63.3 10.1 20.8 28.4 18.2 29.6 30.2 72.4 68 20
2 O 23.2 13.8 27.2 22.3 26.9 16.7 28.5 31.5 70.6 72 20
D 76.2 62.8 11.2 22.1 28.9 16.7 28.5 31.5 70.6 72 20
3 O 21.9 15.1 24.9 20.4 25.8 17.9 29.7 29.4 70.8 66 20
D 73.2 65.4 13.8 19.9 30.1 17.9 29.7 29.4 70.8 66 20
4 O 24.7 12.9 24.2 22.6 28.3 17 28.4 30.7 73.6 81 20
D 75.3 61.8 10.8 23.2 29.6 17 28.4 30.7 73.6 81 20
5 O 25.2 13.7 26.5 22.8 26.2 18.4 30 31.1 73.8 63 20
D 73.2 66.2 11.8 20.6 26.6 18.4 30 31.1 73.8 63 20
6 O 22.9 16.2 23.1 24.8 28.4 19 30.2 33.6 73.7 79 20
D 76.9 66.4 10.6 22.9 28.7 19 30.2 33.6 73.7 79 20
7 O 24.6 13.6 26.1 21.3 24.2 18.6 30.7 30.8 71.4 68 20
D 72.8 64.4 10.9 24.3 31.2 18.6 30.7 30.8 71.4 68 20
8 O 21.3 15.7 27.8 21.9 25.1 17.4 29.3 30.6 70.9 80 20
D 74.9 64.7 11.1 22.9 26.7 17.4 29.3 30.6 70.9 80 20
9 O 25.3 15.9 22.8 20.6 26.9 18.3 30.2 32.3 71.2 79 20
D 76.7 65.2 10.6 21.3 29.9 18.3 30.2 32.3 71.2 79 20
10 O 25.1 13.6 24.1 25.2 28.1 17.7 28.9 30.9 70.2 82 20
D 76.2 64.1 11.9 21.6 30.2 17.7 28.9 30.9 70.2 82 20
Ket: O (origin), D (Destination), Θ 1 (Sudut Tangan), Θ2 = (Sudut Lengan Bawah), Θ3 = (Sudut Lengan Atas), Θ4=ΘH (Sudut Punggung), ΘT (Sudut
Pinggang), PKT (Panjang Kepalan Tangan), PLB (Panjang Lengan Bawah), PLA (Panjang Lengan Atas), PP (Panjang Punggung), BB (Berat Badan), Wo
(Berat Beban Angkat)
5.1.4 Data Antropometri

Data antropometri operator yang diukur dalam penelitian didasarkan pada

perancangan Penggiling buah kopi yaitu:

1. Tinggi Polipteal (TPo)

Tinggi Polipteal diperlukan untuk menentukan tinggi dari penampungan bahan

baku agar proses pengambilan buah kopi operator tidak membungkuk.

2. Tinggi siku berdiri (TSB)

Tinggi penggiling buah kopi disesuaikan dengan tinggi siku berdiri karena

apabila tinggi penggiling buah kopi diatas tinggi siku berdiri maka beban akan

terasa lebih berat dan cepat menimbulkan keluhan, sedangkan jika penggiling

buah kopi terlalu pendek maka postur kerja operator akan membungkuk

3. Jangkauan tangan (JT)

Jarak terjauh penggunaan penggiling buah kopi dalam jangkauan operator

sehingga disesuaikan dengan jangkauan tangan operator.

Tabel 5.4 Dimensi Tubuh Operator

No Nama Dimensi Tubuh


TPo TSB JT
1. Operator 1 48.2 105.7 72.5
2. Operator 2 46.8 104 74.5
3. Operator 3 56.7 100 65.1
4. Operator 4 57 110.4 80
5. Operator 5 50 101 65.5
6. Operator 6 46 105.5 78.3
7. Operator 7 57.5 111.5 70
8. Operator 8 41 99.7 63
Tabel 5.4 Dimensi Tubuh Operator (Lanjutan)

No Nama Dimensi Tubuh


TPo TSB JT
9. Operator 9 46 108.3 78.7
10. Operator 10 57.4 101.7 75
Sumber: Pengumpulan Data

5.2. Pengumpulan Data Kuisoner

5.2.1 Pengumpulan Data Kuesioner Terbuka

Kuisioner terbuka ini disebarkan kepada 10 responden (pengguna

penggiling buah kopi). Atribut dari penggiling buah kopi yang ditanyakan pada

kuisioner adalah:

1. Bahan

2. Desain

3. Dimensi

4. Fungsi

5. Atribut tambahan

Hasil yang diperoleh dari pembagian kuisioner adalah data penilaian

atribut pengiling buah kopi dapat dilihat pada Tabel 5.5

Tabel 5.5 Rekapitulasi Kuesioner Terbuka


Atribut No Pertanyaan Jawaban Jumlah Modus
Responden Kuesioner
Bahan 1 Bahan Utama Besi 7 Besi
Kayu 3
Jumlah 10
2 Bahan Pelapis Cylinder Fiberglass 6 Fiberglass
Karet 4
Jumlah 10
Kayu 5
3 Bahan Penampung Biji Besi 3 Kayu
Kopi Aluminium 2
Jumlah 10
Kayu 6
4 Bahan Penampung Kulit Besi 3 Kayu
Kopi Aluminium 1
Jumlah 10
Desain 5 Penggunaan Penggiling Otomatis 9 Otomatis
Manual 1
Jumlah 10
200rpm 7
6 Putaran Penggiling 100rpm 2 200rpm
50rpm 1
Jumlah 10
Pesegi 4
7 Penampung Biji Kopi Persegi Panjang 3 Persegi
Bulat 3
Jumlah 10
Persegi Panjang 5
8 Penampung Kulit Kopi Persegi 4 Persegi Panjang
Bulat 1
Jumlah 10
Dimensi 40x40x40 cm 7
9 Penampung Buah Kopi 50x40x30 cm 2 40x40x40 cm
30x30x30 cm 1
Jumlah 10
10 Tinggi Kaki Penggiling 120 cm 6 120 cm
110 cm 2
Tabel 5.5 Rekapitulasi Kuesioner Terbuka (Lanjutan)

Atribut No Pertanyaan Jawaban Jumlah Modus


Responden Kuesioner
100 cm 2
Jumlah 10
Tempat bahan 10 Tempat Bahan
Fungsi 11 Tambahan baku
10 Baku
Jumlah
Atribut 12 Warna Biru 8 Biru
Hitam 2
Tambahan
Jumlah 10
Sumber: Pengumpulan Data

5.2.2 Pengumpulan Data Kuesioner Terbuka

Penyusunan kuesioner tertutup dilakukan setelah mengetahui rekapitulasi


kuisioner terbuka. Kuesioner tertutup disusun dengan memberi penilaian atas
atribut-atribut dari produk penggiling buah kopi dengan menggunakan metode
penilaian dengan skala Likert, di mana nilai tersebut diartikan sebagai berikut : E
= 1 : menunjukkan performansi tersebut sangat buruk
D=2 : menunjukkan performansi tersebut buruk
C=3 : menunjukkan performansi tersebut cukup
B=4 : menunjukkan performansi tersebut baik
A=5 : menunjukkan performansi tersebut sangat baik
Atribut–atribut yang akan dinilai responden pada Tabel 5.5 sebagai

berikut:

Tabel 5.6 Atribut Penggiling Buah Kopi


Primer Sekunder Tersier
Bahan Utama Besi
Bahan Bahan Pelapis Cylinder Fiberglass
Bahan Penampung Biji Kopi Kayu
Bahan Penampung Kulit Kopi Kayu
Desain Penggunaan Penggiling Otomatis
Putaran Penggiling 200rpm
Tabel 5.6 Atribut Penggiling Buah Kopi (Lanjutan)
Primer Sekunder Tersier
Penampung Biji Kopi Persegi
Penampung Kulit Kopi Persegi Panjang
Dimensi Penampung Buah Kopi 40x40x40cm
Tinggi Kaki Penggiling 120cm
Fungsi Tambahan Tempat Bahan Baku
Atribut Warna Biru
Tambahan
Sumber: Pengumpulan Data

Rekapitulasi kuesioner tertutup atribut untuk kinerja dapat dilihat pada

Tabel 5.7

Tabel 5.7 Data Hasil Kuesioner Tertutup untuk Kinerja Atribut


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
3 2 3 2 3 2 2 2 3 3 3 4
3 3 4 2 2 2 1 2 3 2 3 2
3 3 3 2 1 3 2 3 4 3 4 4
3 4 1 3 3 3 2 2 2 3 2 3
3 3 2 3 3 3 2 2 3 3 3 4
5 3 5 3 4 4 3 3 3 2 2 3
4 4 3 3 3 3 2 4 3 3 3 3
3 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2
4 2 1 3 3 2 3 3 2 2 3 3
2 3 2 3 2 3 2 1 2 3 3 3
Sumber: Pengumpulan Data

Rekapitulasi kuesioner tertutup atribut untuk harapan dapat dilihat pada

Tabel 5.8

Tabel 5.8 Data Hasil Kuesioner Tertutup untuk Harapan Atribut


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
4 5 5 5 5 3 4 4 4 4 5 3
3 5 4 5 4 4 4 4 4 3 4 3
3 4 5 4 4 4 3 3 3 4 3 3
4 5 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4
3 5 4 5 5 5 4 4 4 3 4 3
4 4 4 5 5 3 3 3 4 4 4 3
Tabel 5.8 Data Hasil Kuesioner Tertutup untuk Harapan Atribut (Lanjutan)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
3 5 5 4 4 4 3 4 4 5 5 3
4 4 4 4 4 5 4 4 3 4 3 4
5 4 4 5 5 5 4 3 5 5 5 3
5 4 5 5 4 4 3 4 3 5 5 3
Sumber: Pengumpulan Data

5.4. Pengolahan Data

5.4.1 Keluhan Operator Berdasarkan Kuisioner SNQ pada Stasiun

Penggilingan

Keluhan yang dirasakan oleh operator di stasiun penggilingan didapatkan

dari pengolahan kuesioner SNQ. Masing-masing operator mengalami keluhan

yang berbeda-beda.

Operator I merasakan agak sakit pada sakit di bahu kiri, lengan atas kiri,

punggung, siku kanan, sakit, tangan kiri, paha kanan, betis kanan, kaki, kaki

kanan. Operator I merasakan sakit pada bahu kiri, lengan atas kanan, pinggang,

pergelangan tangan kanan, tangan kanan. Operator I merasakan sangat sakit pada

bahu kanan, lengan atas kanan, lengan bawah kanan. Gambar 5.5 menunjukkan

keluhan yang dirasakan oleh Operator 1. Histogram untuk Operator 2 sampai

Operator 10 dapat dilihat pada Lampiran.


Data Musculoskeletal Operator I
3

Keluhan 2

Tingkat
Kelelahan
1

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112131415161718192021222324252627
Dimensi Tubuh

Gambar 5.5 Data Keluhan Musculuskeletal Operator I

Berdasarkan keluhan musculoskletal disorders diatas dapat dihitung


persentasi keluhan segmen tubuh sebagai berikut:

% Keluhan = Skor resiko bagian tubuh operator X 100% Jumlah


skor resiko bagian tubuh operator
% Leher Bagian Atas = 1 X 100%
240

= 0,4167%

Berdasarkan perhitungan diatas maka persentasi keluhan setiap segmen

dapat dilihat pada Tabel 5.9


Tabel 5.9 Persentase Keluhan Operator

No Jenis Keluhan Persentase (%)

0 Sakit kaku di leher bagian atas 0.4167


1 Sakit kaku di leher bagian bawah
6.2500
2 Sakit di bahu kiri
3.7500
3 Sakit di bahu kanan
11.6667
4 Sakit lengan atas kiri
4.1667
5 Sakit di punggung
5.8333
6 Sakit lengan atas kanan
11.2500
7 Sakit pada pinggang
7.5000

8 Sakit pada bokong 0


9 Sakit pada pantat 0

10 Sakit pada siku kiri


0.8333
11 Sakit pada siku kanan
6.2500
12 Sakit pada lengan bawah kiri
1.2500
13 Sakit pada lengan bawah kanan
10.8333
14 Sakit pada pergelangan tangan kiri
0.8333
15 Sakit pada pergelangan tangan

kanan 7.9167
16 Sakit pada tangan kiri 5,0000
17 Sakit pada tangan kanan 7.5000

18 Sakit pada paha kiri


0.4167
19 Sakit pada paha kanan
1.6667
Tabel 5.9 (Lanjutan)

No Jenis Keluhan Persentase (%)

20 Sakit pada lutut kiri


0
21 Sakit pada lutut kanan
0.4167
22 Sakit pada betis kiri
0
23 Sakit pada betis kanan
0.8333
24 Sakit pada pergelangan kaki kiri
0.8333
25 Sakit pada pergelangan kaki kanan
0.4167
26 Sakit pada kaki kiri
2.5000
27 Sakit pada kaki kanan
1.6667

Persentase Keluhan MSDs Operator Bagian Sortasi


14,00

12,00

10,00
Persentase
8,00

6,00

4,00

2,00

0,00
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112131415161718192021222324252627
Jenis Keluhan Bagian Tubuh

Gambar 5.6 Persentasi Keluhan MSDs Operator Bagian Penggilingan

Berdasarkan Gambar 5.6 diatas, dapat dilihat bahwa keluhan

musculoskletal disorders secara kumulatif yang paling banyak mengalami keluhan


rasa sakit adalah jenis keluhan nomor 1,3,5,6,7,11,13,15,16 dan 17 yaitu sakit

kaku di leher bagian bawah, sakit di bahu kanan, sakit di punggung, sakit lengan

atas kanan, sakit pada pinggang, sakit pada lengan bawah kanan, sakit pada

pergelangan tangan kanan, sakit pada tangan kiri, sakit pada tangan kanan.
BAB VI

ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

6.1. Analisis Musculoskletal Disorders Berdasarkan SNQ

Hasil pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan penyebaran

kuisioner SNQ terhadap 10 operator diperoleh rasa sakit pada semua segmen

tubuh, tetapi rasa sakit yang paling menonjol ditunjukkan : sakit kaku di leher

bagian bawah, sakit di bahu kanan, sakit di punggung, sakit lengan atas kanan,

sakit pada pinggang, sakit pada lengan bawah kanan, sakit pada pergelangan

tangan kanan, sakit pada tangan kiri, sakit pada tangan kanan. .

Hasil rekapitulasi bobot pada kuisioner SNQ persentase keluhan rasa sakit

pada operator penggiling buah kopi adalah:

1. Sakit kaku di bagian bawah ( 6,25%)

2. Sakit di bahu kanan ( 11,67%)

3. Sakit di punggung ( 5,83%)

4. Sakit lengan atas kanan (11,25%)

5. Sakit pada pinggang ( 7,50%)

6. Sakit pada lengan bawah kanan (10,83%)

7. Sakit pada pergelangan tangan kanan (7,92%)

8. Sakit pada tangan kiri (5,00%)

9. Sakit pada tangan kanan ( 7,5%)

Rasa sakit yang dialami operator pada saat menggunakan alat hasil

rancangan sebelumnya sangat berakibat fatal bagi kesehatan operator, maka


dilakukan perancangan ulang alat penggiling buah kopi yang sesuai dengan

ukuran tubuh antropometri operator penggiling buah kopi.

6.2. Analisis Postur Kerja Operator dengan Metode REBA

Hasil penilaian postur kerja memperlihatkan bahwa keluhan otot yang

dialami oleh seluruh operator, yaitu pada bagian lengan atas, lengan bawah,

pinggang serta punggung. Hal ini disebabkan oleh sikap kerja operator pada saat

melakukan pekerjaannya yang kurang ergonomis. Beban kerja dan fasilitas kerja

yang kurang baik menambah keluhan otot tersebut. Hal ini dapat dilihat dari hasil

penilaian postur kerja operator bagian sortasi yang memiliki risiko sangat tinggi.

Hasil penilaian postur kerja aktual dengan metode REBA dapat dilihat pada Tabel

6.1.

Tabel 6.1. Hasil Penilaian Postur Kerja Aktual dengan Metode REBA
No Elemen Kegiatan Bagian Skor Tindakan Perbaikan
Tubuh
1 Mengangkat buah kopi Kanan 8 Perlu tindakan secepatnya
Kiri 8 Perlu tindakan secepatnya
2 Menuangkan buah kopi Kanan 6 Perlu tindakan
Kiri 5 Perlu tindakan
3 Menggiling buah kopi Kanan 11 Perlu tindakan sekarang juga
Kiri 10 Perlu tindakan secepatnya
4 Menggiling buah kopi Kanan 11 Perlu tindakan sekarang juga
Kiri 10 Perlu tindakan secepatnya
Sumber: Pengumpulan Data

Pada hasil penilain REBA pada Tabel 6.1. dapat dilihat bahwa terdapat

beberapa keluhan yang terjadi pada beberapa elemen kegiatan. Hal ini disebabkan

karena:

1. Pada elemen mengangkat buah kopi terdapat penilaian perlu tindakan

secepatnya untuk bagian kanan dan bagian kiri, hal ini disebabkan tubuh yang
membungkuk dan mengangkat beban yang berat sehingga diperlukan tenaga

besar untuk mengangkat beban.

2. Pada elemen menuangkan buah kopi terdapat penilaian perlu tindakan untuk

tubuh bagian kanan dan kiri, kegiatan ini dilakukan dengan mengangkat buah

kopi dan menuangkannya ke penggiling buah kopi.

3. Pada elemen menggiling buah kopi terdapat penilaian perlu tindakan sekarang

juga untuk tubuh bagian kanan, dan perlu tindakan secepatnya untuk tubuh

bagian kiri kegiatan ini dilakukan dengan membungkuk dan tangan kanan

yang berputar-putar dan berulang-ulang sampai semua buah kopi selesai

digiling. Kegiatan ini sangat beresiko tinggi karena beban buah kopi yang

digiling sangat berat dan dilakukan secara berulang – ulang.

6.3. Analisis dan Evaluasi Biomekanika Maximum Permisible Limit (MPL)

Perhitungan yang dilakukan pada penentuan nilai biomekanika diperoleh

nilai dari operator 1 sampai dengan nilai operator 10 memiliki nilai gaya kompres

pada L5/S1 lebih besar daripada nilai Maximum Permisible Limit (MPL) sehingga

dapat dikategorikan dengan “Berbahaya” (standard NIOSH). Penilaian

biomekanika untuk metode MPL untuk situasi origin dan destination mengangkat

buah kopi sebesar 3132317,06 dan 3753275,76 Newton untuk menggiling buah

kopi 1328844,44 dan 928739,27 Newton dengan kategori berbahaya. Faktor

utama yang mempengaruhi besarnya MPL seseorang adalah posisi tubuh operator

saat sebelum melakukan pengangkatan maupun melakukan penggilingan. Posisi

tersebut menyebabkan sudut yang dibentuk pada segmen tubuh akan bernilai
maksimum. Oleh karena itu, sebaiknya saat sebelum atau melakukan

pengangkatan dan penggilingan, besar sudut kepada segmen tubuh dibuat

o
membentuk sudut yang bernilai 90 atau tegak lurus dengan segmen tubuh lainya

sehingga gaya yang akan dikeluarkan juga tidak maksimum dari kekuatan otot

tersebut.

6.4. Analisis Perancangan QFD

Perancangan dengan metode QFD adalah sebagai berikut:

1. Klarifikasi Tujuan (Clarifying Objectives)

Klarifikasi tujuan dilakukan untuk menentukan tujuan perancangan produk

dan sub-sub tujuan dengan menggunakan metode pohon tujuan (Objectives

Tree Methode). Dari klarifikasi tujuan diperoleh tujuan perancangan tojok

sebagai berikut:

a. Bahan Penggiling Buah Kopi

b. Desain Penggiling Buah Kopi

c. Dimensi Penggiling Buah Kopi

d. Fungsi Penggiling Buah Kopi

e. Kualitas Penggiling Buah Kopi

Untuk sub tujuan perancangan kerja adalah sebagai berikut:

a. Bahan utama : Besi


b. Bahan pelapis Cylinder : Fiberglass

c. Bahan penampung biji kopi : Kayu

d. Bahan penampung kulit kopi : Kayu


e. Penggunaan penggiling : Otomatis
f. Putaran penggiling : 200 rpm

g. Penampung Biji Kopi : Persegi

h. Penampung Kulit Kopi : Persegi panjang

i. Penampung Buah Kopi :40x40x40 cm

j. Tinggi Kaki penggiling :120 cm

k. Fungsi Tambahan : Tempat bahan baku

l. Warna : Biru

2. Penetapan fungsi (Establishing Function)

Penetapan fungsi-fungsi (Establishing Functions) ini bertujuan untuk

menentukan fungsi-fungsi yang terjadi dalam suatu rancangan. Fungsi

perancangan produk penggiling buah kopi adalah

a. Sub fungsi pengukuran

Sub fungsi pengukuran dimulai dengan mengukur besi dan kayu untuk

penggiling, kaki tempat bahan baku, tempat biji dan kulit kopi sesuai

ukuran.

b. Sub fungsi pemotongan

Besi dan kayu dipotong sesuai dengan ukuran yang akan dibuat dengan

menggunakan gerinda pemotong dan gergaji.

c. Sub fungsi pengelasan

Pengelasan di lakukan unuk menyambungkan antara besi yang satu dengan

besi yang lain untuk pembentukan rangka.


d. Sub fungsi perakitan

Perakitan dilakukan untuk merakit komponen-komponen menjadi satu

bagian untuk membentuk penggiling buah kopi otomatis.

e. Sub fungsi finishing

Penghalusan Penggiling buah kopi tahap akhir dilakukan dengan

menggunakan kertas pasir. Tahap ini juga dilakukan proses pengecatan.

3. Penyusunan Kebutuhan (Setting Requirement)

Langkah ini bertujuan untuk membuat spesifikasi pembuatan yang akurat bagi

desain atau rancangan. Spesifikasi produk rancangan di tentukan berdasarkan

data “demands” yang berasal dari konsumen dan data “wishes” dari

perancang. Dimana dalam perancangan terdapat 3 atribut yang merupakan

demand yaitu: bahan penampung biji kopi, bahan penampung kulit kopi,

warna.

4. Penentuan Karakteristik (Determing Characteristics)

Tujuan dari penentuan karakteristik ini adalah untuk mengetahuai rancangan

yang di inginkan atau yang dibutuhkan oleh konsumen. QFD (Quality

Function Deployment) dengan hasil akhir berupa rumah mutu. Analisis dari

rumah mutu produk tojok adalah :

a. Tingkat kesulitan : Karakteristik teknik lama perakitan, ketepatan bentuk,

ketahanan bahan, kekuatan las, kualitas pemotongan dan kualitas pelapisan

memiliki tingkat kesulitan yang mutlak sangat sulit. Sedangkan untuk

karakteristik teknik usia pakai memiliki tingkat kesulitan sangat

sulit.hampir semua karakteristik teknik tingkat.


b. Tingkat kepentingan : Semua karakteristik teknik memilki derajat

kepentingan yang penting.

c. Perkiraan biaya : Semua karakteristik teknik memiliki perkiraan

biaya yang murah.

6.5. Analisis Rancangan Fasilitas Kerja Aktual dan Usulan

Pada perancangan fasilitas kerja rancangan sebelumnya dan rancangan

usulan ada beberapa perbedaan, yaitu pada fasilitas kerja rancangan sebelumnya

terbuat dari bahan dasar kayu, sedangkan fasilitas kerja rancangan usulan besi.

Kemudian cara penggunaan sebelumnya manual sedangkan fasilitas kerja

rancangan usulan otomatis. Fasilitas kerja usulan yang digunakan sudah sesuai

dengan dimensi tubuh operator bagian pemanenan. Fasilitas kerja yang dirancang

yaitu penggiling buah kopi otomatis yang digunakan untuk memudahkan operator

pada saat melakukan penggilingan buah kopi.

Dimensi hasil perancangan diperoleh dari data antropometri operator

pemanenan, dimensi yang digunakan adalah tinggi polipteal (Tpo), tinggi siku

berdiri (TSB) dan jangkauan tangan (JT).

Tinggi polipteal (TPo) digunakan untuk menentukan tinggi tempat bahan

baku, tinggi siku berdiri (TSB) digunakan untuk menentukan tinggi penggiling,

dan jangkauan tangan digunakan agar jarak bahan baku dengan penggiling buah

kopi masih dalam jangkauan operator sehingga disesuaikan dengan jangkauan

tangan operator.
Perbandingan fasilitas kerja alat Rancangan 1 dengan fasilitas kerja usulan

dapat dilihat pada Tabel 6.2.

Tabel 6.2.PerbandinganFasilitas Kerja Aktual dan Fasilitas Kerja Usulan

No Dimensi Aktual Usulan


Bahan Utama Kayu Besi
Bahan Pelapis Cylinder Tidak ada Fiberglass
1. Bahan Penampung Biji Plastik Kayu
Kopi
Bahan Penampung Kulit Plastik Kayu
Kopi
Penggunaan Penggiling Manual Otomatis
2. Putaran Penggiling 80rpm 200rpm
Desain Penampung Biji Bulat Persegi
Kopi
Desain Penampung Biji Tidak ada Persegi Panjang
Kopi
Dimensi Penampung Buah 25x25x25 cm 30x30x30 cm
3. Kopi
Tinggi Kaki Penggiling 100 cm 120 cm
4. Fungsi Tambahan Tidak Ada Tempat Bahan Baku
5. Warna Tidak Ada Biru

6.6. Analisis Perhitungan Efisiensi Produksi menggunakan Alat

penggiling Buah Kopi Ergonomi

Perhitungan yang dilakukan pada efisiensi waktu produksi diperoleh nilai

efisiensi waktu produksi sebesar 80%. Perhitungan efisiensi scarp ada 2 yaitu

perhitungan scrap kulit kopi dengan nilai efisiensi sebesar 46 % dan perhitungan

efisiensi biji pecah sebesar 60%.


BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

Hasil pengolahan data dan analisis pembahasan memberikan beberapa

kesimpulan sebagai berikut:

1. Hasil identifikasi dari kuesioner SNQ menunjukkan bahwa keluhan yang

paling banyak dirasakan operator bagian penggilingan buah kopi sakit pada

bahu kanan (11,67%), Sakit pada lengan atas kanan (11,25%), sakit pada

lengan bawah kanan ( 10,83%), sakit pada pergelangan tangan kanan (7,92%),

sakit pada tangan kanan (7,50%), sakit pada pinggang (7,50%), sakit kaku di

bagian bawah (6,25%), sakit pada tangan kiri (5,00%)

2. Hasil penilaian postur kerja dengan metode REBA menunjukkan bahwa

kegiatan mengangkat buah kopi pada bagian kanan dan kiri memilki skor

penilaian 8 dengan kategori perlu tindakan secepatnya, untuk aktivitas

menuangkan buah kopi pada bagian kanan memiliki skor 6 dengan kategori

perlu tindakan, sedangkan untuk bagian kiri memiliki skor penilaian 5 dengan

kategori perlu tindakan. Begitu juga dengan menggiling buah kopi pada

bagian kanan memiliki skor 11 dengan kategori perlu tindakan sekarang juga,

sedangkan pada bagian kiri memiliki skor penilian 10 dengan kategori perlu

tindakan secepatnya.

3. Penilaian biomekanika untuk metode MPL pada aktivitas pengangkatan buah

kopi untuk situasi origin dan destination berturut-turut sebesar 3132317,06


Newton dan 3753275.76 Newton dengan kategori berbahaya dan penilaian

biomekanika untuk metode MPL pada aktivitas penggilingan buah kopi untuk

situasi origin dan destination berturut-turut sebesar 1328844.44 Newton dan

928739.27 Newton dengan kategori berbahaya.

4. Hasil perhitungan efisiensi produktivitas diperoleh nilai efisiensi waktu

produksi sebesar 80%. Perhitungan scrap kulit kopi dengan nilai efisiensi

sebesar 46 % dan perhitungan efisiensi biji pecah sebesar 60%.

7.2. Saran

Saran yang diusulkan dari hasil penelitian ini adalah:

1. Diharapakan kepada perusahaan atau UKM agar dapat mempertimbangkan

dalam penerapan rancangan usulan penggiling buah kopi untuk mereduksi

keluhan MSDs pada operator penggilingan buah kopi dan memudahkan

dalam proses pengangkatan dan penggilingan buah kopi.

2. Diharapkan pada penelitiaan selanjutnya, alat penggiling buah kopi diukur

produktivitas kerja dengan membandingkan penggunaan alat penggiling buah

kopi aktual dan alat penggiling buah kopi usulan.

3. Diharapkan pengembangan rancangan alat penggiling buah kopi yang lebih

efektif dan efisien pada penelitian selanjutnya pada penerapan di bagian

penggilingan buah kopi.

Anda mungkin juga menyukai