Anda di halaman 1dari 19

MATA KULIAH : KEPERAWATAN MATERNITAS II

DOSEN : TUTIK AGUSTINI S.KEP NS M.KEP

INFEKSI TRAKTUS GENITALIS

DI SUSUN OLEH:

NURMALA [142 2016 0002]

SRIDINA D. HUKOM [142 2016 0006]

KHALIFAH MAULDINI [142 2016 0013]

CITRA ARISTA [142 2016 0027]

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

MAKASSAR

2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Radang atau infeksi pada alat-alat genetal dapat timbul secara akut dengan
akibat meninggalnya penderita atau penyakit bisa sembuh sama sekali tanpa
bekas atau dapat meninggalkan bekas seperti penutupan lumen tuba. Penyakit
ini bisa juga menahun atau dari permulaan sudah menahun. Salah satu dari
infeksi tersebut adalah pelviksitis, serviksitis, adneksitis dan salpingitis.
Sebagian besar wanita tidak menyadari bahwa dirinya menderita infeksi
tersebut. Biasanya sebagian besar wanita menyadari apabila infeksi telah
menyebar dan menimbulkan berbagai gejala yang mengganggu.
Keterlambatan wanita memeriksakan dirinya menyebabkan infeksi ini
menyebar lebih luas dan akan sulit dalam penanganannya.
Dengan memperlihatkan saluran yang berkelanjutan, alat genetalia wanita
berhubungan langsung dengan dunia luar melalui saluran tuba menuju
peritonieum, saluran dan kavum uteri, kanalis servikal dan vagina dan vulva.
Melalui saluran tersebut diperkirakaan infeksi pada bagian luar vulva dan
vagina dapat berkelanjutkan menuju kavum peritoneum, sehingga terjadilah
peritonitis local maupun umum. Infeksi perkontinuitatum dapat dicegah
karena adanya mekanisme pertahanan. Vulva dengan kulit dan epitel yang
berlapis merupakan hambatan utama untuk terjadinya infeksi vulvitis. Vagina
dengan bakteri doderlein yang mampu membuat suasana asam dapat
menghindari terjadinya infeksi vaginitis. Serviks uteri yang selalu
mengeluarkan lendir dan dapat mengental dibagian bawah, menghalangi
masuknya bakteri menuju kavum uteri. Akhirnya saluran telur wanita dengan
rambut silianya dapat mengalirkan cairan menuju kavum uteri yang
merupakan upaya untuk menghalangi infeksi. [CITATION Sar17 \l 2057 ]
B. RUMUSAN MASALAH
1. Jelaskan bagaimana konsep medis dari Infeksi Traktus Genetalis?
2. Jelaskan bagaimana konsep keperawatan dari Infeksi Traktus
Genetalis?
3. Jelaskan bagaimana sistem pelayanan kesehatan pada pasien Infeksi
Traktus Genetalis?
C. TUJUAN
1. Mengetahui dan memahami konsep medis dari Infeksi Traktus
Genetalis
4. Mengetahui dan memahami keperawatan dari Infeksi Traktus
Genetalis
5. Mengetahui dan memahami sistem pelayanan kesehatan pada pasien
Infeksi Traktus Genetalis
BAB II
KONSEP MEDIS

A. DEFINISI
Radang atau infeksi pada alat-alat genetal dapat timbul secara akut dengan
akibat meninggalnya penderita atau penyakit bisa sembuh sama sekali tanpa
bekas atau dapat meninggalkan bekas seperti penutupan lumen tuba. Penyakit
ini bisa juga menahun atau dari permulaan sudah menahun. Salah satu dari
infeksi tersebut adalah pelviksitis, serviksitis, adneksitis dan salpingitis.
[ CITATION Har05 \l 2057 ]
B. MACAM – MACAM INFEKSI TRAKTUS GENETALIA
1. Servisitis
2. Adnexitis
3. Endometrisis
4. Parametritis
C. SERVITIS
1. DEFINISI
Servisitis merupakan infeksi pada serviks uteri. Infeksi uteri sering
terjad karena luka kecil bekas persalinan yang tidak dirawat dan infeksi
karena hubungan seks. Servisitis yang akut sering dijumpai pada
sebagian besar wanita yang pernah melahirkan. Servisitis ialah radang
dari selaput lendir canalis cervicalis. Karena epitel selaput lendir
cervicalis hanya terdiri dari satu lapisan sel silindris maka mudah terkena
infeksi dibandingkan dengan selaput lendir vagina.[ CITATION Pra08 \l
2057 ]
2. ETIOLOGI
Servisitis disebabkan oleh kuman-kuman seperti : trikomonas
vaginalis, kandida dan mikoplasma atau mikroorganisme aerob dan
anaerob endogen vagina seperti streptococcus, enterococus, e.coli, dan
stapilococus . Dapat juga disebabkan oleh robekan serviks terutama yang
menyebabkan ectropion, alat-alat atau alat kontrasepsi, tindakan
intrauterine seperti dilatasi, dan lain-lain. [ CITATION Pra08 \l 2057 ]
3. MANIFESTASI KLINIS
a. Terdapatnya keputihan (leukorea)
b. Mungkin terjadi kontak berdarah (saat hubungan seks terjadi
perdarahan)
c. Pada pemeriksaan terdapat perlukaan serviks yang berwarna merah
d. Pada umur diatas 40 tahun perlu waspada terhadap keganasan
serviks. [ CITATION Pra08 \l 2057 ]
4. PENATALAKSANAAN
Kauterisasi radial. Jaringan yang meradang dalam dua mingguan
diganti dengan jaringan sehat. Jika laserasi serviks agak luas perlu
dilakukan trakhelorania. Pinggir sobekan dan endoserviks diangkat, lalu
luka baru dijahit. Jika robekan dan infeksi sangat luas perlu dilakukan
amputasi serviks. [ CITATION Pra08 \l 2057 ]
5. FAKTOR RESIKO
Beberapa faktor yang mempengaruhi insiden kanker serviks yaitu:
a. Usia.
b. Jumlah perkawinan
c. Hygiene dan sirkumsisi
d. Status sosial ekonomi
e. Pola seksual
f. Terpajan virus terutama virus HIV
g. Merokok
6. PENCEGAHAN
Terhadap kanker serviks dapat dilakukan dengan program skrinning
dan pemberian vaksinasi. Di negara maju, kasus kanker jenis ini sudah
mulai menurun berkat adanya program deteksi dini melalui pap smear.
Vaksin HPV akan diberikan pada perempuan usia 10 hingga 55 tahun
melalui suntikan sebanyak tiga kali, yaitu pada bulan ke nol, satu, dan
enam.
D. ADNEXITIS
1. DEFINISI
Adnexitis adalah radang pada tuba fallopi dan ovarium yang biasanya
terjadi bersamaan. Adnexitis adalah suatu radang pada tuba fallopi dan
radang ovarium yang biasanya terjadi bersamaan. Radang ini kebanyakan
akibat infeksi yang menjalar keatas dari uterus, walaupun infeksi ini bisa
datang dari tempat ekstra vaginal lewat jalan darah atau menjalar dari
jaringan sekitarnya.Adnex tumor ini dapat berupa pyosalpinx atau
hidrosalpinx karena perisalpingitis dapat terjadi pelekatan dengan alat alat
disekitarnya ( ginekologi unpad bandung). [ CITATION Ham15 \l 1033 ]
2. ETIOLOGI
Peradangan pada adneksa rahim hampir 90 persen disebabkan oleh
infeksi beberapa organisme, biasanya adalah Neisseria gonorrhoeae dan
Chlamydia trachomatis.
Melakukan aktifitas seks tanpa menggunakan kondom
a. Ganti-ganti pasangan seks
b. Pasangan seksnya menderita infeksi Chlamidia ataupun gonorrhea
(kencing nanah)
c. Sebelumnya sudah pernah terkena pelvic inflammatory disease
d. Dengan demikian penyakit ini termasuk penyakit yang ditularkan
melalui aktifitas seksual. Meskipun tidak tertutup kemungkinan
penderitanya terinfeksi lewat cara lain. [ CITATION Ari14 \l 1033 ]
3. MANIFESTASI KLINIS
a. Kram atau nyeri perut bagian bawah yang tidak berhubungan dengan
haid (bukan premenstrual syndrome)
b. Keluar cairan kental berwarna kekuningan dari vagina
c. Nyeri saat berhubungan intim
d. Demam
e. Nyeri punggung
f. Keluhan saat buang air kecil. [ CITATION Gus17 \l 1033 ]
4. PENATALAKSANAAN
Pengobatan penyakit ini disesuaikan dengan penyebabnya. Misalnya
akibat chlamydia, maka pengobatannya pun ditujukan untuk membasmi
chlamydia. Secara umum, pengobatan adnexitis ini umumnya berupa
terapi antibiotik. Jika dengan terapi ini tidak terjadi kemajuan, maka
penderita perlu dibawa ke rumah sakit untuk diberikan terapi lainnya.
Rawat inap menjadi sangat diperlukan apabila:
a. Keluar nanah dari tuba fallopi
b. Kesakitan yang amat sangat (seperti: mual, muntah, dan demam
tinggi)
c. Penurunan daya tahan tubuh. [ CITATION Sar17 \l 1033 ]
5. PENCEGAHAN
Pencegahan tidak hanya dari pihak wanita saja, pihak laki - laki juga
perlu membantu agar pasangan tidak tertular.
Penangan ini antara lain dapat dilakukan dengan :
a. Setia pada pasangan, penyakit ini sebagian besar ditularkan melalui
hubungan seks bebas.
b. Segera hubungi dokter apabila gejala - gejala penyakit ini muncul
c. Rutin memriksakan diri dan pasangan ke dokter ahli kandungan
d. Penggunaan kondom saat berhubungan seksual
e. Menjaga kebersihan organ genital. [ CITATION Pra08 \l 1033 ]
E. ENDOMETRITIS
1. DEFINISI
Endometritis adalah infeksi pada endometrium (lapisan dalam dari
rahim). Infeksi ini dapat terjadi sebagai kelanjutan infeksi pada serviks
atau infeksi tersendiri dan terdapat benda asing dalam rahim. Endometritis
adalah peradangan pada dinding uterus yang umumnya disebabkan oleh
partus. Dengan kata lain endometritis didefinisikan sebagai inflamasi dari
endometrium. [ CITATION Del16 \l 1033 ]
2. ETIOLOGI
Kuman-kuman memasuki endometrium, biasanya pada luka bekas
insersio plasenta, dan dalam waktu singkat mengikutsertakan seluruh
endometrium. Pada infeksi dengan kuman yang tidak seberapa pathogen,
radang terbatas pada endometrium. Jaringan desidua bersama-sama
dengan bekuan darah menjadi nekrotis dan mengeluarkan getah berbau
dan terdiri atas keeping-keping nekrotis serta cairan
Terjadinya infeksi endometrium pada saat :
a. Persalinan, dimana bekas implantasi plasenta masih terbuka, terutama
pada persalinan terlantar dan persalinan dengan tindakan.
b. Pada saat terjadi keguguran.
c. Saat pemasangan alat rahim (IUD) yang kurang legeartis. [ CITATION
Pra08 \l 1033 ]
3. KLASIFIKASI
a. Endometritis Akut
Terutama terjadi pada postpartum atau postabortum. Pada
endometritis postpartum, regenerasi endometrium selesai pada hari ke-
9, sehingga endometritis postpartum pada umumnya terjadi sebelum
hari ke-9.
Pada endometritis akuta endometrium mengalami edema dan
hiperemi, dan pada pemeriksaan mikroskopik terdapat hiperemi,
edema, dan infiltrasi leukosit berinti polimoni yang banyak, serta
perdarahan-perdarahan interstisial. Sebab yang paling penting ialah
infeksi gonorea dan infeksi pada abortus dan partus.
b. Endometritis Kronik
Kasusnya jarang ditemui oleh karena infeksi yang tidak dalam
masuknya pada miometrium, tidak dapat mempertahankan diri, karena
pelepasan lapisan fungsional dari endometrium pada waktu haid.
Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan banyak sel-sel plasma dan
limfosit. Penemuan limfosit saja tidak besar artinya karena sel itu
juga ditemukan dalam keadaan normal dalam endometrium. [ CITATION
Pra08 \l 1033 ]
4. MANIFESTASI KLINIS
a. Endometritis Akut
1) Demam
2) Lochia berbau, pada endometritis postabortum kadang-kadang
keluar fluor yang purulent.
3) Lochia lama berdarah, malahan terjadi metrorrhagi.
4) Jika radang tidak menjalar ke parametrium atau perimetrium tidak
ada nyeri.
5) Nyeri pada palpasi abdomen (uterus) dan sekitarnya.
b. Endometritis Kronik
1) Pada tuberculosis
2) Jika tertinggal sisa-sisa abortus atau partus
3) Jika terdapat korpus alienum di kavum uteri
4) Pada polip uterus dengan infeksi
5) Pada tumor ganas uterus
6) Pada salpingo-ooforitis dan sellulitis pelvik.
7) Fluor albus yang keluar dari ostium
8) Kelainan haid seperti metrorrhagi dan menorrhagi. [ CITATION
Pra08 \l 1033 ]
5. PENATALAKSANAAN
a. Endometritis Akut
Terapi:
1) Pemberian uterotonika
2) Istirahat, posisi/letak Fowler
3) Pemberian antibiotika
4) Endometritis senilis, perlu dikuret untuk mengesampingkan
diagnosa corpus carcinoma. Dapat diberi estrogen.
b. Endometritis Kronik
Terapi:
Perlu dilakukan kuretase untuk diferensial diagnosa dengan
carcinoma corpus uteri, polyp atau myoma submucosa. Kadang-
kadang dengan kuretase ditemukan emndometritis tuberkulosa.
Kuretase juga bersifat terapeutik. [ CITATION Pra08 \l 1033 ]

F. PARAMETRITIS
1. DEFINISI
Parametritis adalah radang dari jaringan longgar di dalam lig.latum.
Radang ini biasanya unilatelar. Parametritis adalah infeksi jaringan pelvis
yang dapat terjadi beberapa jalan.
Secara rinci penyebaran infeksi sampai ke parametrium memalui 3
cara yaitu:
a. Penyebaran melalui limfe dari luka serviks yang terinfeksi atau dari
endometritis
b. Penyebaran langsung dari luka serviks yang meluas sampai ke dasar
ligamentum
c. Penyebaran sekunder dari tromboflebitis pelvika.
Proses ini dapat tinggal terbatas pada dasar ligamentum latum atau
menyebar ekstraperitoneal ke semua jurusan. Jika menjalar ke atas , dapat
diraba pada dinding perut sebelah lateral di atas ligamentum inguinalis,
atau pada fossa iliaka. [ CITATION Cim18 \l 1033 ]
2. ETIOLOGI
Parametritis dapat terjadi:
a. Dari endometritis dengan 3 cara :
1) Per continuitatum : endometritis → metritis → parametitis.
2) Lymphogen.
3) Haematogen : phlebitis → periphlebitis → parametritis
b. Dari robekan serviks
c. Perforasi uterus oleh alat-alat ( sonde, kuret, IUD). [ CITATION Cim18 \l
1033 ]
3. MANIFESTASI KLINIS
a. Suhu tinggi dengan demam tinggi
b. Penderita tampak sakit, nadi cepat, dan perut nyeri.
c. Nyeri unilateral tanpa gejala rangsangan peritoneum, seperti muntah. [
CITATION Cim18 \l 1033 ]
4. PENATALAKSANAAN
a. Pencegahan
1) Selama kehamilan
Oleh karena anemia merupakan predisposisi untuk infeksi
nifas, harus diusahakan untuk memperbaikinya. Keadaan gizi
juga merupakan factor penting, karenanya diet yang baik
harusdiperhatikan. Coitus pada hamil tua sebaiknya dilarang
karena dapat mengakibatkan pecahnya ketuban dan terjadinya
infeksi.
2) Selama persalinan
Usaha-usaha pencegahan terdiri dari membatasi sebanyak
mungkin kuman-kuman dalam jalan lahir, menjaga supaya
persalinan tidak berlarut-larut, menyelesaikan persalinan dengan
trauma sedikit mungkin, dan mencegah terjadinya perdarahan
banyak. Semua petugas dalam kamar bersalin harus menutup
hidung dan mulut dengan masker, alat-alat, kain-kain yang
dipakai dalam persalinan harus suci hama. Pemeriksaan dalam
hanya boleh dilakukan jika perlu, terjadinya perdarahan harus
dicegah sedapat mungkin dan transfusi darah harus diberikan
menurut keperluan.
3) Selama nifas
Sesudah partus terdapat luka-luka dibeberapa tempat pada
jalan lahir. Pada hari pertama postpartum harus dijaga agar luka-
luka ini tidak dimasuki kuman-kuman dari luar. Tiap penderita
dengan tanda-tanda infeksi nifas jangan dirawat bersama dengan
wanita-wanita dalam nifas sehat.
b. Pengobatan
Antibiotika (antibiotik seperti benzilpenisilin ditambah
gentamisin dan metronidazol) memegang peranan yang sangat
penting dalam pengobatan infeksi nifas. Karena pemeriksaan-
pemeriksaan ini memerlukan waktu, maka pengobatan perlu dimulai
tanpa menunggu hasilnya. Terapi pada parametritis yaitu dengan
memberika antibiotika berspektrum luas. Dalam hal ini dapat
diberikan penicillin dalam dosis tinggi atau antibiotika dengan
spectrum luas, seperti ampicillin dan lain-lain. [ CITATION Cim18 \l
1033 ]
BAB II
KONSEP KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Identitas Klien
2. Keluhan Utama
a. Nyeri
b. Luka
c. Perubahan fungsi seksual
3. Riwayat Penyakit
a. Sekarang : Keluhan Klien menderita infeksi alat kelamin
b. Dahulu : Riwayat keluarga mempunyai penyakit serupa, gangguan
reproduksi
4. Riwayat Penyakit
a. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang
pernah dialami oleh klien misalnya DM, jantung, hipertensi, masalah
ginekologi/urinaria, penyakit endokrin, dan penyakit-penyakit lainnya.
b. Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan
dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan
dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.
c. Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus
menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya
dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan
yang menyertainya. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas : Kaji
bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga
saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.
d. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis
kontrasepsi yang digunakan serta keluhan yang menyertainya.
e. Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatan
kontrasepsi oral, obat digitalis, dan jenis obat lainnya.
f. Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit,
eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan,
baik sebelum dan saat sakit.
5. Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan Bagian Luar

1) Inspeksi

a) Rambut pubis, distribusi, bandingkan sesuai usia


perkembangan klien
b) Kulit dan area pubis, adakah lesi, eritema, visura, leokoplakia
dan eksoria
c) Labia mayora, minora, klitoris, meatus uretra terhadap
pemebengkakan ulkus, keluaran dan nodul

b. Pemeriksaan Bagian Dalam


1) Inspeksi

Serviks: ukuran, laserasi, erosi, nodula, massa, keluaran dan


warnanya

2) Palpasi

a) Raba dinding vagina: Nyeri tekan dan nodula,


b) Serviks: posisi, ukuran, konsistensi, regularitas, mobilitas
dan nyeri tekan
c) Uterus: ukuran, bentuk, konsistensi dan mobilitas
d) Ovarium: ukuran, mobilitas, bentuk, konsistensi dan nyeri
tekan
B. DIAGNOSA

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis


2. Resiko tinggi infeksi penyebaran infeksi berhubungan dengan pemajanan
terhadap patogen
3. Kerusakan integritas kulit berhubugan dengan infeksi lesi abses episiotomi
4. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kesalahan interpretasi
informasi.

C. INTERVENSI

1. Dx 1: tujuan: rasa nyaman nyeri dapat teratasi

Kriteria: a. Mampu mengontrol nyeri

b. Mampu menggunakan tekhnik non farmakologi untuk


mengurangi nyeri

c. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

Intervensi :

a. Kaji lokasi nyeri dan sifat ketidaknyamanan nyeri


b. Berikan instruksi mengenal nyeri (skala, intensitas, frekuensi)
c. Instruksikan klien dalam melakukan tekhnik relaksasi.
d. Kurangi faktor prepisitasi nyeri
e. Kolaborasi analgetik antipiretik
f. Evaluasi kefektifan kontrol nyeri
g. Tingkatkan istirahat
2. Dx 2: tujuan : klien akan mengambil tindakan untuk mencegah
menurunkan resiko penyebaran
Kriteria: a. suhu tubuh dalam batas normal
b. leukosit dalam batas normal
c. pengetahuan meningkat mengenai resiko dan pencegahannya.
Intervensi :
a. Kaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi
b. awasi suhu sesuai indikasi
c. pertahankan kebijakan mencuci tangan dengan ketat untuk staf, klien
dan pengunjung.
d. anjurkan demonstrasikan pembersihan perineum yang benar setelah
berkemih, defekasi dan sering ganti balutan.
e. demonstrasikam masase fundus yang tepat
f. monitor TTV
g. observasi tanda infeksi lain
h. kolaborasi pantau pemeriksaan laboratorium.
3. Dx 3: tujuan; integritas kulit baik bisa dipertahankan
Kriteria : a. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan
b. Tidak ada luka/lesi pada kulit perfusi jaringan yang baik
mampu melindungi kulit dan memprtahankan kelembapan
kulit dan perawatan alami.
Intervensi :
a. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian longgar
b. hindari kerutan pada daerah yang lesi
c. jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
d. monitor status nutrisi pasien
e. membersihkan memantau dan meningkatkan proses penyembuhan
pada luka yang ditutupi dengan jahitan.
4. Dx 4: tujuan: pasien dan keluarga paham tentang penyakit, kondisi,
prognosis dan program pengobatan.
Kriteria: a. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang
dijelaskan dengan benar.
b. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali yang
dijelaskan perawat.
Intervensi :
a. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses
penyakit yang spesifik
b. jelaskan patofisiologis dari penyakit
c. gambarkan tanda dan gejala yang bisa muncul pada penyakit dengan
cara yang tepat
d. identifkasi kemungkinan penyebab dengan cara yang tepat
e. sediakan informasi pada pasien tentang kondisi.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Radang atau infeksi pada alat-alat genetal dapat timbul secara akut
dengan akibat meninggalnya penderita atau penyakit bisa sembuh sama
sekali tanpa bekas atau dapat meninggalkan bekas seperti penutupan
lumen tuba. Penyakit ini bisa juga menahun atau dari permulaan sudah
menahun. Salah satu dari infeksi tersebut adalah pelviksitis, serviksitis,
adneksitis dan salpingitis.
Pada umumnya penyakit penyakit yang terjadi memiliki tanda dan
gejala serta penanganan masing masing , untuk mencegahnya diperlukan
kebersihan diri dari setiap masing masing individu.

B. SARAN

Disarankan agar pembaca dapat memahami materi ini dengan


menggunakan referensi-referensi lain dan jadikan semua buku sebagai
jendela ilmu.
DAFTAR PUSTAKA

Sari, I. A., & Sari , L. P. (2017). Makalah Keperawatan Maternitas “Infeksi


Tractus Genetalia”. Blitar: Stikes Patria Husada.

Arizka, A. R. (2014, Juni 29). Adnexitis. Retrieved From Scribd:


Https://Www.Scribd.Com/

Cimeng, O. R. (2018, Januari 10). Parametritis. Retrieved From Scribd:


Https://Www.Scribd.Com/

Delima, I. (2016, April 10). Endometritis. Retrieved From Slide Share:


Https://Www.Slideshare.Net/

Gustiya , R. (2017, November 11). Kelompok Ginekologi. Retrieved From


Scribd: Https://Www.Scribd.Com/

Hamid. (2015, Oktober 18). Makalah Adnexitis. Retrieved From Scribd:


Https://Www.Scribd.Com/

Hardjo, S. P. (2005). Ilmu Kandungan. Jakarta: Ybp-Sp.

Prawirohardjo, S. (2008). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Pt. Bina Pustaka .