Anda di halaman 1dari 15

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Fertilitas didefinisikan sebagai kemampuan untuk menghasilkan keturunan. 1 Sementara


infertilitas merupakan kelainan yang ditandai dengan kegagalan untuk mengalami kehamilan
setelah 12 bulan melakukan hubungan seksual secara regular tanpa menggunakan kontrasepsi.1

Diperkirakan lebih dari 186 juta orang di dunia mengalami infertilitas, yang sebagian besar
merupakan warga negara berkembang.1 Salah satu faktor utama yang menyebabkan infertilitas
adalah meningkatnya usia wanita, dan faktor lain, meliputi gaya hidup dan faktor lingkungan.1

Walaupun semakin berjalannya waktu overpopulasi menjadi masalah di dunia, infertilitas


pada manusia tetap menjadi suatu masalah pada masyarakat.2 Infertilitas bukan merupakan suatu
penyakit, namun infertilitas dan pengobatannya dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan
pada penderitanya, terutama dari sisi psikologis, termasuk ansietas, keputusasaan, rasa bersalah
dan tidak berguna..3 Pemeriksaan dan penatalaksanaan infertilitas merupakan hal yang kompleks
dan melibatkan berbagai disiplin ilmu, serta dapat mempengaruhi kualitas hidup penderita.1

1.2 Tujuan Penulisan


Makalah ini bertujuan untuk menambah pengetahuan penulis dan pembaca mengenai
infertilitas.

1.3 Batasan Penulisan


Batasan penulisan makalah ini mengenai infertilitas.

1.4 Metode Penulisan


Metode penulisan makalah ini berupa tinjauan kepustakaan yang merujuk ke berbagai
literatur.

1
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Reproduksi merupakan suatu proses penting dalam kehidupan manusia.4 Infertilitas


adalah suatu gangguan yang ditandai dengan kegagalan untuk mencapai kehamilan setelah 12
bulan melakukan hubungan seksual secara regular tanpa menggunakan kontrasepsi. 1 Infertilitas
harus dibedakan dari subfertilitas dan sterilitas. Subfertilitas adalah istilah yang didefinisikan
sebagai berkurangnya fertilitas, sementara sterilitas adalah istilah yang digunakan pada keadaan
infertile yang permanen.1

Infertilitas terbagi atas dua jenis, yaitu primer dan sekunder. 1 infertilitas primer yaitu
infertilitas pada perempuan yangbelum pernah mengalami kehamilan sebelumnya, sementara
infertilitas sekunder merupakan infertilitas yang terjadi pada perempuan yang pernah hamil
sebelumnya.1 Infertilitas primer dan sekunder juga berlaku pada laki-laki.1

2.2 Epidemiologi

Diperkirakan kejadian infertilitas pada pasangan usi reproduktif di dunia mencapai 8-


12%, yaitu lebih dari 186 juta orang di dunia, yang mayorias adalah warga dari negara
berkembang.1 Laki-laki berkontribusi secara independent pada 20-30% kasus infertilitas, namun
mencapai 50% secara kolektif.1 Infertilitas sekunder adalah bentuk infertilitas pada perempuan
yang paling sering ditemukan di dunia, umumnya disebabkan karena infeksi traktus reproduksi.1

2.3 Etiologi

2.3.1 Faktor yang Mempengaruhi Kedua Gender

2.3.1.1 Hipogonadotropik Hipogonadisme

Hipogonadotropik hipoginadisme yang terjadi pada seseorang dapat menimbulkan


insufisiensi stilmulasi gonad (LH dan FSH), baik yang disebabkan karena sekresi GnRH yang
kurang atau gangguan pada pituitary.1 Penyebab utama terjadinya insufisiensi GnRH adalah
kegagalan migrasi neuron sekretorik GnRH.1 Hal ini dapat berkaitan dengan anosmia (Kallman

2
syndrome) atau tidak.1 Dapat juga teradi hipogonadisme sentral genetic, yang lebih sering
ditemukan pada laki-laki dibadingkan dengan perempuan; terutama Kallman syndrome (1 per
5000 orang dengan predominansi laki-laki).1

2.3.1.2 Hiperprolaktinemia

Prolaktin bekerja untuk menginhibisi sekresi gonadotropin, yang pada akhirnya


menimbulkan anovulasi, namun mekanismenya masih belum diketahui secara pasti. 5 Pada laki-
laki, hiperprolaktinemia dapat menyebabkan level testosterone yang rendah pada serum,
infertilitas, dan disfungsi seksual.1

Gambar 2.1 Mekanisme Infertilitas Hiperprolaktinemia5

3
2.3.1.3 Gangguan Fungsi Silier

Tuba fallopi berperan sebagai jalur bagi sperma dan ovum untuk bertemu, dan berkaitan
erat dengan efektifitas aktivitas siliari.1 Pada perempuan, diskinesia siliari pada tuba fallopi dapat
menimbulan gangguan transport ovum, yang pada akhirnya mengganggu proses konsepsi.6

Pada laki-laki, dapat terjadi Primary Cliary Dyskinesia (PCD) yaitu kelainan pada
struktur dan/atau fungsi siliar.1 Kebanyakkan laki-laki dengan PCD biasanya mengalami
infertilitas sekunder sebagai akibat dari defek gerak sperm-flagella. 1 PCD cukup jarang terjadi,
dengan angka kejadian 1 dari 10.000-40.000.1

2.3.1.4 Fibrosis Kistik

Fibrosis kistik adalah keadaan yang ditandai dengan sekresi mucus yang abnormal. 1
Penyakit ini paling dihubungkan dengan subfertilitas pada perempuan yang diakibatkan oleh
efek langsung dari sel epitel pada traktus reproduksi.1 Mucus serviks yang kental dapat
mengganggu penetrasi sperma.1 Dapat juga terjadi gangguan pada kavum uterus dan tuba fallopi
yang fungsinya akan menurun walau tidak terlalu signifikan, namun dapat berpengaruh pada
metabolisme bikarbonat, yang dapat menyebabkan gangguan kapitasi sperma pada tuba fallopi.1

Laki-laki yang enderita fibrosis kistik biasanya datang dengan absans vas deferens
kongenital. Hypoplasia atau aplasia vas deferens dan vesikula seminalis dapat terjadi baik
unilateral maupun bilateral. Namun perkembangan testis dan spermatogenesis tetap normal.
Sebagian besar (98%) laki-laki dengan fibrosis kistik mengalami CBAVD dan infertile.7

2.3.1.5 Infeksi

Infeksi yang terjadi pada laki-laki dapat menyebabkan kerusakan organ, kerusakan sel via
mediator inflamasi, menimbulkan obstruksi atau dapat mengikat spermatozoa.1

Pada perempuan, agen mikroba yang paling sering menimbulkan infertilitas adalah
Chlamydia trachomatis.1 Agen lainnya yang dapat menyebabkan infertilitas adalah N.
gonorrhoeae.1

4
2.3.1.6 Gangguan Sistemik

Gangguan sistemik, seperti sepsis atau gangguan ginjal berat, diduga berhubungan
dengan kegagalan implantasi embrio.1 Penyakit sepertu diabetes yang tidak terkontrol, penyakit
jantung yang tidak terkontrol, insufisiensi vitamin D, kondisi autoimun, dan hipotiroid juga
dihubungkan dengan menurunnya kemungkinan konsepsi.1

Diabetes yang tidak terkontrol (HbA1c ≥ 7%) diduga berkaitan erat dengan
berkuranganya motilitas sperma, morfologi sperma yang abnormal (dua kepala, sperma yang
cenderung lebih bulat).1 Selain diabetes, sindrom metabolic lainnya, seperti hipertensi yang tidak
terkontrol, juga dapat menyebabkan infertilitas.1 Hipertensi yang tidak terkontrol dapat
menyebabkan disfungsi ereksi, baik secara direk mau pun indirek melalui efek samping obat
antihipertensi.1

Pada penderita sindroma metabolic, pada perempuan ditemukan endahnya kadar


estradiol. Selain itu, kadar LH dan FSH juga menurun, hal ini sangat berhubungan dengan
rendahnya kadar insulin.4 Gangguan sistemik lainnya, yaitu adanya antibody tiroid, terutama
pada perempuan, diduga berhubungan dengan gagalnya konsepsi, kegagalan implantasi embrio
yang rekuren, dan keguguran pada awal kehamilan, yang kemungkinan disebabkan karena
defisiensi hormone tiroid atau autoimun.1

2.3.1.7 Gangguan yang Berkaitan dengan Gaya Hidup

Frekuensi Koitus

Hubungan seksual yang regular, dua hingga tiga kali per minggu yang dimulai segera
setelah menstruasi berakhir merupakan faktor yang penting untuk meningkatkan kemungkinan
terjadinya konsepsi.1

Restriksi diet dan Over-Exercise

Restriksi kalori dan olahraga yang berlebihan dapat menimbulakn berkurangnya


frekuensi ovulasi, perkembangan endometrium yang buruk dan amenorea.1

5
Terdapat juga bukti yang menyatakan bahwa olahraga yang berlebihan dapat
menyebabkan penurunan kualitas semen.1 Pada atlet rekreasional, penelitian menunjukkan
adanya efek positif terhadap fertilitas, namun pada atlet professional, ditemukan bukti bahwa
latihan yang berlebihan dapat menurunkan konsentrasi sperma, persentase spermatozoa yang
motil, dan persentase spermatozoa dengan morfologi normal. Selain itu, sebagian laki-laki yang
aktiv berolahraga mengkonsumsi steroid anabolic, yang dapat menginhibisi aksis HPA, yang
pada akhirnya dapat menyebabkan hipogonadotropik hipogonadisme.1

Stress

Stress dihubungkan dengan menurunnya kualitas semen. Selain itu, depresi juga
berhubungan dengan menurunnya level testosterone, yang berpengaruh pada spermatogenesis.1

Obesitas

Obesitas yang terjadi, terutama pada perempuan, akan menurunkan kemungkinan untuk
ovulasi dan kemungkinan terjadinya konsepsi spontan.1 Jika terjadi konsepsi, perempuan dengan
obesitas memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami keguguran.1

Merokok

Merokok merupakan salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan infertilitas. 1 Pada
perempuan yang merokok, seluruh stadium pada proses fungsi reproduksi, mulai dari
folikulogenesis, steroidogenesis, transport embrio, kemampuan implantasi pada endometrium,
angiogenesis endometrial, aliran darah uterus dan muyometrium mengalami gangguan.1 Hal ini
berhubungan dengan zat yang terhirup yang mengandung hidrokarbon.1 Pada laki-laki, merokok
dapat berpengaruh buruk terhadap produksi, motilitas dan morfologi sperma, dan juga berkaitan
dengan meningkatnya risiko kerusakan DNA.1

Konsumsi marijuana

Pada perempuan yangmengonsumsi marijuana, terjadi gangguan siklus menstruasi, dan


juga didapatkan bukti terjadinya berkurangnya hitung jumlah oosit, dan meningkatnya risiko
terjadinya prematuritas.1 Pada laki-laki, konsumsi marijuana dapat menimbulkan reduksi volume
cairan semen, berkurangnya jumlah spermatozoa, juga perubahan morfologi dan motilitas
sperma, yang pada akhirnya menurunkan angka kemungkinan terjadinya konsepsi.1

6
Konsumsi alcohol

Alkohol sudah dikenal sebagai zat teratogen dan harus dihindari pada kehamilan, ternyata
alcohol juga memiliki efek negative terhadap fertilitas.1 Diduga konsumsi alcohol dapat
menimbulkan peningkatan esterogen yang akan menyebabkan penurunan produksi FSH dan
gangguan ovulasi.1 Pada laki-laki yang mengonsumsi alkohol juga menunjukkan gangguan
spermatogenesis dan reduksi jumlah sperma serta level testosterone.1

2.3.1 Faktor Perempuan

2.3.1.1 Insufisiensi Ovarium Prematur

Insufisiensi ovarium premature atau POI didefinisikan sebagai penurunan siklus


menstruasi sebelum usia 40 tahun dengan kadar FSH yang masih meningkat pada 2 pemeriksaan
yang berbeda.8 Penyebabnya sampai sekarang masih belum dapat dijelaskan, namun diduga
adanya kaitan dengan mutase genetik.8

2.3.1.2 PCOS

Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) merupakan kelainan endokrin pada perempuan. 1


PCOS dapat menimbulkan gangguan ovulasi dan menurunnya kemampuan embrio untuk
berimplantasi.1 PCOS dideskripsikan oleh Rotterdam criteria sebagai suatu sindrom yang
meliputi dua dari tiga kriteria; yaitu oligospaniomenorrhea, gejala hiperandrogenisme dan
polycystic ovaries.1

7
Gambar 2.2 Mekanisme Infertilitas PCOS9

2.3.1.3 Endometriosis

Endometriosis merupakan suatu proses patologi pada pelvis yang berkaitan dengan
infertilitas.1 Mekanisme terjadinya infertilitas yang berhubungan dengan endometriosis beragam,
meliputi gangguan anatomis akibat adesi dan fibrosis, serta kelaiann endokrin dan gangguan
imunologis. Kemampuan endometrium untuk menerima implantasi embrio juga berkurang.1

2.3.1.4 Uterine Fibroids

Leiomyoma merupakan tumor jinak yang paling sering ditemukan pada traktur genital
perempuan.1 Diduga infertilitas yang disebabkan karena tumor ini diakibatkan karena letak

8
anatomisnya.1 Selain itu, dapat juga terjadi gangguan aliran darah uterus dan kontraktilitas uterus
yang abnormal, serta gangguan implantasi embrio pada uterus.1

2.3.1.5 Polip Endometrium

Polip endometrium dapat menyebabkan kegagalan implantasi dan keguguran pada awal
kehamilan.1 Polip endometrium dapat menyebabkan infertilitas karena letak anatomisnya.
Walaupun lokasi paling sering terjadinya polip endometrium adalah pada dinding posterior,
namun infertilitas paling sering terjadi pada polip endometrium yang tumbuh pada uterotubal
junction.10

2.3.2 Faktor Laki-laki

2.3.2.1 Defisiensi Testikular

Disfungsi testicular merupakan kelainan yang paling sering ditemukan pada gangguan
spermatogenesis. Defisiensi testicular dapat berupa kongenital, didapat atau idiopatik. Kelainan
kongenital meliputi anorchia, disgenesis testis dan cryptorchidism.1

Sementara itu, kelainan yang didapat bisa merupakan akibat dari trauma, torsi tertikular,
orchitis, atau komplikasi yang didapatkan dari operasi yang menimbulkan gangguan pada
anatomi vascular testicular.1

2.3.2.2 Post-testicular Impairment

Gangguan post-testikular meliputi disfungsi ejakulasi atau obstruksi pada sperm


delivery.1 obstruksi pada epididymis merupakan kelainan yang paling sering ditemukan pada
post-testicular impairment. Hal ini kebanyakan disebabkan karena infeksi. Obstruksi vas
deferens juga dapat terjadi, bisa disebabkan karena infeksi, atau operasi vasektomi atau koreksi
hernia.1

2.4 Diagnosis Infertilitas

9
Pada anamnesis, ditanyakan riwayat pernikahan, meliputi lama menikah, usia menikah,
pekerjaan, frekuensi dan waktu melakukan hubungan seksual. Harus ditanyakan data mengenai
faktor risiko yang berhubungan dengan infertilitas, yaitu seperti riwayat infeksi, kebiasaan
merokok atau konsumsi alkohol. Ditanyakan juga apakah pasien memiliki penyakit sistemik
(hipertensi, diabetes), juga obat yang rutin dikonsumsi.11

Pemeriksaan fisik yang penting untuk dilakukan dimulai dari penukuran IMT, yaitu berat
dan tinggi badan, apakah terjadi obesitas. Selain itu, dilakukan pemeriksaan fisik menyeluruh,
seperti tiroid, tanda hirsutism, juga tanda-tanda infeksi, terutama infeksi pada genital.11

2.4.1 Pemeriksaan pada Perempuan

Pada perempuan, ditanyakan riwayat haid, termasuk menarche, lama siklus, durasi dan
jmlah perdarahan, serta dysmenorrhea. Riwayat penyakit infeksi seperti PID, noninfeksi seperti
polip juga ditanyakan, serta riwayat gangguan hormonal (seperti PCOS, hiperprolaktinemia) juga
dapat menjadi petunjuk diagnosis.12

Pemeriksaan pada perempuan dapat berupa pemeriksaan ovulasi, pemeriksaan terhadap


infeksi, penilaian kelainan uterus dan tuba, dan penilaian lender serviks pasca senggama.
Pemeriksaan ovulasi meliputi frekuensi dan keteraturan menstruasi, pemeriksaan kadar
progesterone serum, pemeriksaan FSH dan LH, serta kadar prolaktin.12

Pemeriksaan terhadap infeksi, terutama dengan pemeriksaan kultus Chlamydia


trachomatis. Dilakukan juga pemeriksaan untuk menilai adanya kelainan anatomis, terutama
pada uterus dan tuba. Pemeriksaan yang dapat dilakuakn berupa histerosalphingography, yaitu
dengan menggunakan kontras. Dapat juga dlakukan histeroskopi. Penilaian lender serviks pasca
senggama juga dapat dilakukan dengan menggunakan tes fern dan tes Spinnbarkeit.12

2.4.2 Pemeriksaan pada Laki-laki

Pada anamneis, perlu ditanyakan riwayat penyakit kongenital, infeksi, dan trauma pada
genital. Riwayat penyakit sistemik seperti diabetes, juga kelainan neurologis yang dapat

10
menimbukan gangguan ereksi. Perlu juga ditanyakan riwayat operasi sebelumnya, seperti hernia,
vasektomi dan prostatektomi.12

Pada pemeriksaan fisik, dinilai keadaan keseluruhan. Pada toraks, dinilai apakah ada
ginekomastia, yang dapat dicurigai adanya gangguan hormone (peningkatan esterogen). Pada
genital, dilakukan inspeksi, apakah ada kelainan anatomis, seperti hipospadia, hernia skrotalis,
varikokel, juga perlu diperhatikan turunnya testis ke dalam skrotum.12

Pemeriksaan penunjang yang paling umum dilakukan yaitu pemeriksaan analisis sperma.
Dinilai secara makroskopis dan mikroskopis. Penilaian makroskopis meliputi warna yang
normalnya putih atau agak keruh, volume yaitu 2-6 ml pada umumnya, bau yang khas, pH untuk
mengetahui keasaman semen dengan menggunakan kertas lakmus (normalnya 7,2-7,8), dan
viskositas. Penilaian mikroskopis meliputi jumlah spermatozoa per ml (normalnya 20-60 juta),
persentase spermatozoa motil per ml (50% atau lebih bergerak maju), kecepatan gerak sperma,
dan morfologi sperma (minimal 50% dengan morfologi normal). Komponen lain seperti leukosit
dan eritrosit juga dinilai. Leukosit yang tinggi menandakan adanya infeksi pada ductus, dan
normalnya eritrosit tidak ditmeukan pada pemeriksaan semen. Hasil analisis semen yaitu12:

a. Golongan sangat fertile lebih dari 185x106 spermatozoa per ejakulat


b. Golongan relative fertile 80x106-185x106 spermatozoa motil per ejakulat
c. Golongan subfertil 1-80x106 spermatozoa motil per ejakulat

Tabel12

Kriteria Jumlah
Volume 2 ml atau lebih
PH 7,2-7,8
Jumlah sperma/ml 20 juta sperma/ml atau lebih
Jumlah sperma total/ejakulat 40 juta sperma/ejakulat atau lebih
Motilitas 50% atau lebih bergerak maju atau 25% lebih bergerak

maju dengan cepat dalam waktu 60 menit setelah

ditampung
Morfologi 50% atau lebih bermorfologi normal
Viabilitas 50% atau lebih hidup, yaitu tidak terwarna dengan

pewarnaan supravital
Sel leukosit Kurang dari 1 juta/ml
11
Seng (total) 2,4 mikromol atau lebih setiap ejakulat
Asam sitrat (total) 52 mikromol (10 mg) atau lebih setiap ejakulat
Fruktosa (total) 13 mikromol atau lebih setiap ejakulat
Uji MAR Perlekatan pada kurang dari 10% sperma
Uji butir imun Perlekatan butir imun pada kurang dari 10% sperma

2.5 Tatalaksana Infertilitas

2.5.1 Tatalaksana pada Perempuan

Tatalaksana yang dilakukan bergantung pada penyebab infertilitas, dengan


pengelompokkan diagnostic meliputi gangguan ovulasi, gangguan tuba, endometriosis, faktor
pasangan dan unexplained infertility (table 2.1)

Tabel 2.1 Pilihan terapi sesuai dengan diagnosa utama infertilitas


Kelompok diagnostik Pilihan terapi
Gangguan ovulasi Klomifen sitrat (6 siklus)
Gonadotropin (3 siklus)
Metformin-klomifen (3 siklus)
Laparoscopic ovarian diathermy
In vitro fertilization (3 siklus)
Gangguan tuba Tubal surgery
In vitro fertilization (3 siklus)
Endometriosis Laparoscopic ablations for stages I &
II
Operasi untuk stadium III & IV
Klomifen sitrat dan IUI (6 siklus)
Gonadotropin dan IUI (3 siklus)
Faktor Suami In vitro fertilization (3 siklus)
IUI (6 siklus)
Unexplained infertility In vitro fertilizationandICSI (3 siklus)
Klomifen sitrat dan IUI (6 siklus)
Gonadotropin dan IUI (3 siklus)
In vitro fertilization (3 siklus)

12
2.5.2 Tatalaksana pada Laki-laki

Tatalaksana pada laki-laki juga bergantung pada etiologi kausatif. Jika penyebabnya
adalah faktor anatomi, dapat dilakukan koreksi anatomi untuk melancarkan sperm delivery. Jika
pada hasil analisis sperma ditemukan kelainan, terapi yang diberikan bergantung pada
penyebabnya.12

Jika pada volume semen ditemukan hipospermia, dapat dilakuakn modifikasi penyabab,
yaitu stress, retrograde ejaculation dan frekuensi senggama. Dilakukan manajemen stress,
pencucian sperma dari urin pada kasus retrograde ejaculation, dan pengurangan frekuensi
ejakulasi. Jika ditemukan hiperspermia, tidak diperlukan pengobatan spesifik.12

Pada pemeriksaan jumlah spermatozoa dengan polizoospermia, dapat dilakukan


peningkatan frekuensi koitus atau AIH. Jika ditemukan oligozoospermia, dapat diberikan terapi
medikamentosa berupa klomifen sitrat 1 x 50 mg selama 90 hari.12

2.5.3 Teknologi Khusus dalam Penanganan Infertilitas

2.5.3.1 Inseminasi Buatan

Inseminasi buatan adalah proses peletakan sperma ke dalam vagina. Sperma dapat
diletakkan di folikel ovarian (inseminasi intrafolikuler), uterus (inseminasi intrauterine), serviks
(inseminasi intraservikal) atau tuba fallopi (inseminasi intratubal), dengan menggunakan cara
buatan.12

Inseminasi yang palings erring dilakukan adalah inseminasi intrauterine dan intraservikal.
Inseminasi intauterin (ICI) merupakan prosedur yang relative cepat dan tidak menyakitkan.
Sperma dari donor langsung dimasukkan ke dalam serviks sehingga memungkinan sperma
berjalan menuju uterus dan tuba fallopi. Pada inseminasi intrauterine (IUI), sperma donor
langsung dimasukkan ke dalam tuba fallopi sehingga dapat langsung bertemu dengan ovum.
Prosedur ini memiliki angka efektivitas yang tinggi.12

13
2.3.5.2 Assisted Reproductive Technologies

a. In Vitro Fertilization (IVF)

Pada IVF, proses fertilisasi dilakukan dengan mengambil mengambil ovum dari ovarium
dengan cara laparoscopy, kemudian sperma diinseminasikan ke dalam media biak. Setelah
terjadi pembuahan pada masa embrio stadium 2-4 sel, lalu di transfer ke dalam rahim. Dalam hal
ini peranan tuba tidak diperlukan, indikasi IVF adalah untuk pasien yang mengalami kerusakan
pada saluran telur.12

b. Gamet Intra Fallopian Transfer (GIFT)

Proses fertilisasi ini dilakukan dengan cara mengambil ovum dari ovarium dengan cara
laparoscopy, kemudian bersama spermayang telah diolah (washed sperm) dimasukkan kedalam
tuba pada saat itu juga. Dalam kondisi ini salah satu tuba pasien harus dalam keadaan normal. Indikasi GIFT ini
adalah untuk pasien yang mengalami endometriosis dan unexplained infertility.12

c. Zygote Intra Fallopian Transfer (ZIFT)

Proses fertilisasi dengan cara mengambil ovum dari ovarium dengan cara laparoscopy,
kemudian sperma diinseminasikan kedalam media biak. Setelah terjadi fertilisasi pada fase
zygote, hasilpembuahan ini dimasukkan kedalam tuba dengan cara laparoscopy. Proses ini
hampir sama dengan IVF, hanya perbedaannya jika pada IVF hasil pembuahannya pada masa
embrio lalu di transferkan ke dalam rahim tetapi pada ZIFT hasil pembuahan sebelum di
transferkannya dalam bentuk zygote dan di transferkan ke dalam tuba. Indikasi ZIFT ini adalah
untuk pasien yang mengalami oligozoospermi.12

14
TINJAUAN PUSTAKA

1. Vander B, Wyns C. Fertility and infertility: Definition and epidemiology. Clin Biochem.
2018;62:2–10.

2. Henkel R. Infection in Infertility. Male Infertil. 2020;409–24.

3. Hasanpoor-Azghydy S, Simbar M, Vedadhir A. The emotional-psychological


consequences of infertility among infertile women seeking treatment: Results of a
qualitative study. Iran J Reprod Med. 2014;12(2):131–8.

4. Al Awlaqi A, Alkhayat K, Hammadeh M. Metabolic syndrome and infertility in Women.


Int J Women’s Heal Reprod Sci. 2016;4(3):89–95.

5. Kaiser U. Hyperprolactinemia and infertility: new insights. J Clin Invest.


2012;122(10):3567–3468.

6. Halbert S, Patton D, Zarutski P. Function and structure of cilia in the Fallopian tube of an
infertile woman with Kartagener’s syndrome. Hum Reprod. 2014;12(1):55–8.

7. Yoon J, Casella J, Litvin M, Dobs A. Male reproductive health in cystic fibrosis. J Cyst
Fibros. 2019;18(2):105–10.

8. Touraine P. Premature ovarian insufficiency: step-by-step, genetics bring new insights.


Am Soc Reprod Med. 2019;

9. Rocha A, Oliveira F, Gomes K. Recent advances in the understanding and management of


polycystic ovary syndrome. Res Open Sci. 2019;

10. Yanaihara A, Yorimitsu T, Motomoya H, Iwasaki S, Kawamura T. Location of


endometrial polyp and pregnancy rate in infertility patients. Fertil Sterlity.
2008;90(1):180–2.

11. Speroff L, Fritz M. Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility. 2006. 425–431 p.

12. Hestiantoro A. Tatalaksana Pemeriksaan Dalam Infertilitas. J Cermin Dunia Kedokt.


2009;36(41).

15