Anda di halaman 1dari 14

TUGAS KEPERAWATAN MATERNITAS

KELUARGA BERENCANA

Pengampu : Tina Mawardika, S. Kep., Ns., M. Kep., Sp. Mat.

KELOMPOK 10

Binti Rohmatus S. 010117A014

Dini Unita Sari 010117A019

Eva Noviyanti 010117A027

Irfan Soni N. 010117A041

Mega Widiawati O. 010117A019

Miftakhul Vivi B. 010117A058

PRODI S1 KEPERAWATAN

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

UNGARAN

TA. 2018/2019
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………….. 1

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG ……………………………………………………………… 2


B. TUJUAN ……………………………………………………………………………. 2

BAB II PEMBAHASAN

A. DEFINISI …………………………………………………………………………… 3
B. TUJUAN …………………………………………………………………………….. 4
C. SASARAN PROGAM KB ………………………………………………………….. 5
D. SYARAT-SYARAT KONTRASEPSI ……………………………………………… 5
E. MANFAAT KB ……………………………………………………………………… 6
F. RUANG LINGKUP PROGAM KB …………………………………………………. 6
G. MACAM-MACAM METODE KONTRASEPSI ……………………………………. 7

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN ………………………………………………………………………………. 11

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………… 12


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat, Taufiq dan
Hidayat-Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini mengenai Keluarga
Berencana

Dalam penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan pihak yang mendorong atau
memotivasi pembuatan makalah ini supaya lebih baik dan lebih efisien. Kami menyadari bahwa
dalam penyusunan makalah ini masih banyak yang kurang sempurna dalam pembahasan ini, oleh
karena itu bagi pihak yang membaca makalah ini bisa memberikan kritik dan saran untuk
mengembangkan serta dalam penyempurnaan makalah ini. Semoga penyusunan makalah ini
dapat bermanfaat dan berguna bagi para pembaca.

Ungaran, 29 Oktober 2018

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif
yang utama bagi wanita. Keluarga Berencana menurut WHO (World Health
Organization) adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk menghindari
kelahiran yang tidak diinginkan, mengatur jarak kelahiran, dan menentukan jumlah anak
dalam keluarga. Tujuan program KB adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan
kekuatan sosial ekonomi (Rismawati, 2012).
Program keluarga berencana memberikan kesempatan untuk mengatur jarak
kelahiran atau mengurangi jumlah kelahiran dengan menggunakan metode kontrasepsi
hormonal atau non hormonal. Upaya ini dapat bersifat sementara ataupun permanen,
meskipun masing-masing jenis kontrasepsi memiliki tingkat efektifitas yang berbeda dan
hampir sama (Gustikawati, 2014).
Usia produktif perempuan pada umumnya adalah 15-49 tahun. Maka dari itu
perempuan atau pasangan usia subur ini lebih diprioritaskan untuk menggunakan
kontrasepsi atau cara KB. Tingkat pencapaian pelayanan KB dapat dilihat dari cakupan
peserta KB yang sedang atau pernah menggunakan kontrasepsi, tempat pelayanan KB,
dan jenis kontrasepsi yang digunakan oleh akseptor (Depkes, 2010).

B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui apa itu Keluarga Berencana
2. Untuk mengetahui apa itu Kontrasepsi
3. Untuk mengetahui sasaran program Keluarga Berencana
4. Untuk mengetahui manfaat Keluarga Berencana
5. Untuk mengetahui Ruang Lingkup Program Keluarga Berencana
6. Untuk mengetahui macam – macam metode Kontrasepsi
BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI
1. Pengertian Keluarga Berencana
Keluarga berencana merupakan usaha untuk mengukur jumlah anak dan jarak
kelahiran anak yang diinginkan. Maka dari itu, Pemerintah mencanangkan program atau
cara untuk mencegah dan menunda kehamilan (Sulistyawati, 2013).
Menurut UU RI Nomor 52 Tahun 2009, Keluarga Berencana adalah upaya
mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan melalui
promosi, perlindungan, serta bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan
keluarga yang berkualitas.
Keluarga Berencana merupakan upaya peningkatan kepedulian dan peran serta
masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran,
pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesehatan keluarga kecil, bahagia dan
sejahtera (Arum dan Sujiyatini, 2011).

2. Pengertian Kontrasepsi
Kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai
akibat antara pertemuan sel telur matang dan sel sperma tersebut (BKKBN, 2009).
Kontrasepsi yaitu pencegahan terbuahinya sel telur oleh sel sperma (konsepsi),
atau pencegahan menempelnya sel telur yang telah dibuahi pada dinding rahim
(Manan, 2011).
Kontrasepsi ialah metode-metode untuk mencegah terjadinya kehamilan.
Metodemetode itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat permanen.
Kontrasepsi yang bersifat permanen bagi wanita dinamakan tubektomi dan bagi pria
dinamakan vasektomi.
Kontrasepsi yaitu pencegahan terbuahinya sel telur oleh sel sperma (konsepsi)
atau pencegahan menempelnya sel telur yang telah dibuahi ke dinding rahim
(Nugroho dan Utama, 2014).
B. TUJUAN
Tujuan dilaksanakan program KB yaitu untuk membentuk keluarga kecil sesuai
dengan kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak
agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan
hidupnya (Sulistyawati, 2013).
Menurut UU RI Nomor 52 Tahun 2009, kebijakan Keluarga Berencana diarahkan
untuk:
 Mengatur kelahiran yang diinginkan
 Menjaga kesehatan dan menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan anak
 Meningkatkan akses dan kualitas informasi, pendidikan, serta konseling
Keluarga Berencara dan Kesehatan Reproduksi
 Meningkatkan partisipasi dan kesertaan pria dalam praktek Keluarga
Berencana
 Mempromosikan penyusuan bayi sebagai upaya menjarangkan jarak
kehamilan.

Tujuan program KB lainnya yaitu untuk menurunkan angka kelahiran yang


bermakna, untuk mencapai tujuan tersebut maka diadakan kebijakaan yang dikategorikan
dalam tiga fase (menjarangkan, menunda, dan menghentikan) maksud dari kebijakaan
tersebut yaitu untuk menyelamatkan ibu dan anak akibat melahirkan pada usia muda,
jarak kelahiran yang terlalu dekat dan melahirkan pada usia tua.
C. SASARAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA
Menurut (Handayani, 2010) sasaran KB dibagi menjadi dua, tergantung tujuan yang ingin
dicapai :
1. Langsung
 PUS
Tujuannya untuk menurunkan tingkat kelahiran dengan cara penggunaan
kontrasepsi secara berkelanjutan.
2. Tidak Langsung
 Pelaksanaan dan Pengelolaan KB
Tujuannya menurunkan tingkat kelahiran dengan kebijaksanaan,
kependudukan terpadu dalam rangka mencapai keluarga yang berkualitas,
keluarga sejahtera.

D. SYARAT-SYARAT KONTRASEPSI
Menurut Prawirohardjo (2009: 534), kontrasepsi yang ideal itu harus memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut;
 Dapat dipercaya,
 Tidak menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan,
 Daya kerjanya dapat diatur menurut kebutuhan
 Tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus,
 Tidak memerlukan motivasi terus-menerus,
 Mudah pelaksanaannya,
 Murah harganya sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat,
 Dapat diterima penggunaannya oleh pasangan yang bersangkutan.
E. MANFAAT KELUARGA BERENCANA
Dalam penelitian Ekarini (2008), KB dapat mencegah munculnya bahaya-bahaya akibat :
a. Kehamilan terlalu dini
Perempuan yang sudah hamil dimana umurnya belum mencapai 17 tahun sangat
terancam oleh kematian sewaktu persalinan, karena tubuhnya belum sepenuhnya
tumbuh dan belum cukup matang atau siap untuk dilewati oleh bayi. Selain itu,
bayinya pun dihadang oleh resiko kematian sebelum usianya mencapai 1 tahun
b. Kehamilan terlalu “telat”
Perempuan yang usianya sudah terlalu tua untuk mengandung dan melahirkan
terancam berbagai bahaya, khususnya bila ia mempunyai problema-problema
kesehatan lain, atau sudah terlalu sering hamil dan melahirkan
c. Kehamilan yang terlalu berdekatan jaraknya
Kehamilan dan persalinan menuntut banyak energi dan kekuatan tubuh
perempuan. Kalau ia belum pulih dari satu persalinan tapi sudah hamil kembali,
tubuhnya tak sempat memulihkan kebugaran, sehingga timbul berbagai masalah
bahkan ancaman kematian yang mungkin terjadi
d. Terlalu sering hamil dan melahirkan
Perempuan yang sudah punya lebih dari 4 anak terancam bahaya kematian akibat
pendarahan hebat, serta macam-macam kelainan, apabila ia terus hamil dan bersalin
kembali.

F. RUANG LINGKUP PROGRAM KELUARGA BERENCANA


a. Ibu, dengan jalan mengatur jumlah dan jarak kehamilan
b. Suami, dengan memberikan kesempatan kepada suami agar dapat melakukan,
memperbaiki kesehatan fisik, dan mengurangi beban ekonomi keluarga yang
ditanggungnya.
c. Seluruh Keluarga, dilaksanakannya program KB dapat meningkatkan kesehatan fisik,
mental, dan sosial setiap anggota keluarga, dan bagi anak dapat memperolah
kesempatan yang lebih besar dalam hal pendidikan dan kasih saying orang tuanya
(Sulistyawati, 2011).
G. MACAM-MACAM METODE KONTRASEPSI
1. Kontrasepsi Hormonal
Kontrasepsi hormonal adalah salah satu metode kontrasepsi yang paling efektif
dan reversible untuk mencegah terjadinya konsepsi. Jenis hormone yang terkandung
adalah estrogen dan progesterone.
a. Jenis-jenis Kontrasepsi Hormonal
 Kontrasepsi Pil
Kontrasepsi oral (pil) adalah cara kontrasepsi untuk wanita yang
berbentuk pil, didalam pil berisi gabungan dari hormone estrogen dan
progesterone atau hanya terdiri dari hormone progesterone saja. Cara
kerjanya menekan ovulasi, mencegah implantasi, mengentalkan lender
serviks ( Handayani, 2010)
 Kontrasepsi Suntik
Kontrasepsi suntik adalan obat pencegah kehamilan yang
pemakaiannya dilakukan dengan jalan menyuntikan obat tersebut pada
wanita subur. Obat ini berisi Depo Medroxi Progesterone Ecetate
(DMPA). Penyuntikan dilakukan pada otot Intra Muskular (IM), di pantat
(gluteus), atau pada pangkal lengan (deltoid).
 Kontrasepsi Implant
Kontrasepsi implant terdiri dari :
- Norplant
Terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga, dengan isi 36 mg
hormone Levonorgestrel dengan daya kerja 5 tahun
- Implanon
Terdiri dari 1 batang putih lentur berisi 68 mg Ketodesogestrel
dengan daya kerja 3 tahun
- Indoplant
Terdiri dari 2 batang berisi Levonorgestrel dengan daya kerja 3
tahun
b. Cara Kerja Kontrasepsi Hormonal
Pada dasarnya cara kerja dari kontrasepsi hormonal adalah hormone
estrogen dan progesterone telah sejak awal menekan sekresi gonadotropin. Akibat
adanya pengaruh progesterone sejak awal. Proses implantasi akan terganggu,
pembentukan lender serviks tidak fisiologis, dan motilitas tuba terganggu
sehingga transportasi telur degan sendirinya akan terganggu.

2. Kontrasepsi Non Hormonal


Kontrasepsi non hormonal adalah kontrasepsi yang tidak mengandung hormone,
baik esterogen maupun progesterone.
a. Jenis- jenis Kontrasepsi Non Hormonal
1) Metode Kontrasepsi Alamiah
- Senggama Terputus
Senggama terputus adalah mengeluarkan alat kemaluan
pria dari alat kelamin wanita menjelang ejakulasi. Dengan cara ini
diharapkan cairan sperma tidak akan masuk ke dalam rahin dan
mengecilkan kemungkinan bertemunya sel telur yang dapat
mengakibatkan terjadinya pembuahan (Proverawati, Islaely,
Aspuah, 2010)
- Pantang Berkala
Pantang berkala adalah tidak melakukan hubungan seksual
saat istri sedang dalam masa subur. System ini berdasarkan pada
siklus haid atau menstruasi wanita. Masa subur tidak selalu terjadi
tepat hari ke 14 sebelum menstruasi, tetapi dapat terjadi antara 12
atau 16 hari sebelum hari menstruasi berikutnya. (Proverawati,
Islaely, Aspuah, 2010)
- Metode Lendir Serviks
Metode lender serviks adalah metode kontrasepsi dengan
cara melihat lender yang ada di dalam vagina untuk mengetahui
masa subur pada seorang wanita, dilakukan pagi hari setlah bangun
tidur dan sebelum melakukan aktifitas lainnya. (Proverawati,
Islaely, Aspuah, 2010)

2) Metode Kontrasepsi Sederhana


- Kondom
Kondom adalah selubung atau sarung karet yang terbuat
dari berbagai bahan diaantaranya lateks (karet), plastic (vynil), atau
bahan alami (produksi hewani) yang di pasang pada penis saat
berhubungan. Standar kondom dilihat dari ketebalannya, yaitu 0,02
mm (Lusa, 2010)
- Spermisida
Spermisida adalah zat-zat kimia yang kerjanya
melumpuhkan spermatozoa di dalam vagina sebelum spermatozoa
bergerak kedalam traktus genetalia interna. Cara kerjanya
menyebabkan sel sperma terpecah , memperlambatkan pergerakan
sperma dan menurunkan kemampuan pembuahan sel telur.
- Diafragma
Merupakan kap berbentuk bulat cembung, terbuat dari
lateks (karet) yang di inersikan kedalam vagina sebelum
berhubungan seksual sehingga menutup serviks. Cara kerjanya
menahan sperma agar tidak mendapat akses mencapai alat
reproduksi bagian atas (uterus dan tuba falopi) dan sebagai alat
tempat spermisida.
- Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
Alat kontrasepsi dalam rahim adalah alat kontrasepsi yang
dimasukkan dalam rongga rahim wanita yang bekerja menghambat
sperma untuk masuk kedalam tuba falopi. Penggolongan AKDR :
 IUD (Intra Uterine Devices) yang mengandung hormone
esterogen dan progesterone
 Cu IUD yang mengandung logam
3) Metode Kontrasepsi Mantap
- Tubektomi
Tubektomi adalah setiap tindakan yang dilakukan pada
kedua saluran telur wanita yang mengakibatkan orang yang
bersangkutan tidak akan mendapat keturunan lagi. Kontrasepsi ini
digunakan untuk jangka panjang walau kadang masih dapat
dipulihkan kembali seperti semula. Cara tubektomi dapat dibagi
atas beberapa bagian antara lain saat operasi, cara menapai tuba,
dan cara penutupan tuba. (Sulistyawati, 2011).
- Vasektomi
Vasektomi adalah cara kontrasepsi mantap pria atau
vasektomi merupakan suatu metode operatif minor pada pria yang
sangat aman, sederhana dan sangat efektif, memakan waktu
operasi yang sangat singkat, dan tidak memerlukan anastesi umum.
b. Cara Kerja Kontrasepsi Non Hormonal
Pada dasarnya cara kerja kontrasepsi non hormonal dengan metode
sederhana adalah menghindari senggama selama kurang lebih 718 hari, termasuk
masa subur dari setiap siklus. Sedangkan kondom menghalangi spermatozoa ke
dalam traktus genitalia interna wanita. MOW dan MOP adalah dengan mengikat
dan memotong saluran ovum atau sperma sehingga sperma tidak bertemu dengan
ovum.
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Ada 2 macam metode kontrasepsi yang dapat digunakan yaitu :

1. Kontrasepsi Hormonal
2. Kontrasepsi Non Hormonal

Kemudian ada berbagai macam pilihan untuk jenis alat kontrasepsi yaitu dimulai
dari kondom, pil, suntik, inflat bahkan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR). Semua
dapat disesuaikan dengan kebutuhan kemampuan dan juga kemauan dari pihak klien.
Karena untuk diketahui bahwa semua alat kontrasepsi ini dengan cara penggunaan
apapun pasti memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing.
DAFTAR PUSTAKA

http://eprints.ums.ac.id/35879/6/BAB%20II.pdf

http://repository.ump.ac.id/3599/3/A%27AS%20PRASTIANI%20BAB%20II.pdf

http://digilib.unila.ac.id/15406/17/17.%20BAB%20II.pdf

https://bidannada.wordpress.com/2016/03/29/makalah-alat-kontrasepsi-kb/