Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH BAHASA INDONESIA

KUTIPAN LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG

OLEH :

NAMA :

MAULIA RIZKI

VALENCIA TARA SITUMORANG

KELAS : 5 EGD

DOSEN PEMBIMBING : Edi Suryadi,M.Pd.

JURUSAN TEKNIK KIMIA

PRODI D.IV TEKNIK ENERGI

TAHUN AKADEMIK 2019 - 2020


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka kita pun dituntut untuk
selalu memngembangkan dan mempublikasikan hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi tersebut agar dapat dinikmati oleh masyarakat. Salah satu bentuk
pengembangan tersebut ialah dengan cara membuat karya tulis ilmiah, buku since, dan lain
sebagainya. Dalam pembuatan karya ilmiah maupun buku-buku since tentu tidak akan lepas
dari yang namanya sumber rujukan. Sumber rujukan dalam hal ini adalah teori – teori dari
berbagai sumber baik diambil dari kamus, ensiklopedi, artikel, laporan, buku, majalah,
internet, dan lain sebagainya yang mendukung argumen kita dalam pembuatan karya tulis
tersebut. Dalam pengambilan informasi tersebut tentu keterangan dari sumber tersebut harus
dicantumkan dalam karya tulis kita. Pencatuman tersebut biasa disebut kutipan.

Sungguh ironis jika sampai saat ini masih banyak para terpelajar yang kadang masih
salah dalam melakukan kutipan. Karena pentingnya mengutip dengan cara yang benar,
maka atas keprihatinan akan hal inilah yang mendorong kami untuk membuat makalah
mengenai kutipan. Dengan adanya makalah ini diharapkan bahwa nantinya dalam pembuatan
karya tulis mahasiswa dan para terpelajar lainnya dalam mengutip bisa mengutip dengan cara
yang benar berdasarkan sumber rujukan yang diambil.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa pengertian kutipan ?
2. Apa saja kah jenis – jenis kutipan ?
3. Bagaimana cara teknik mengutip yang benar ?

1.3 TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini, yaitu :
1. Untuk mengetahui pengertian dari kutipan
2. Untuk mengetahui jenis-jenis dari kutipan
3. Untuk mengetahui bagaimana cara teknik mengutip yang benar
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN KUTIPAN

Kutipan adalah upaya penulis untuk memperkuat gagasannya dengan mengutip pendapat ahli
di bidangnya atau upaya menyampaikan gagasannya dengan menyampaikan gagasan para ahli. Oleh
karena itu, kutipan didefinisikan sebagai pinjaman kalimat atau pendapat dari seorang pengarang atau
ucapan seorang pengarang yang terkenal baik dalam buku ataupun majalah (Keraf, 1994: 179).

Kutipan adalah salinan kalimat, paragraph, atau pendapat dari seorang pengarang atau
ucapan orang terkenal karena keahliannya, baik yang terdapat dalam buku jurnal, baik yang
melalui media cetak maupun elektronik.Kutipan ditulis untuk menegaskan isi uraian,
memperkuat pembuktian, dan kejujuran menggunakan sumber penulisan.

Kutipan merupakan salah satu hal yang sangat esensi dalam penulisan karya
ilmiah.Dalam penulisan kutipan ada aturan main yang harus diikuti oleh setiap penulis karya
ilmiah tanpa kecuali.Dengan menggunakan kutipan, seorang penulis tidak perlu membuang
waktu untuk menyelidiki suatu hal yang sudah dibuktikan kebenarannya oleh penulis lain,
penulis cukup mengutip karya orang lain tersebut.Di samping itu dalam keadaan tertentu
seorang penulis karya ilmiah tidak punya waktu untuk menyelidiki suatu segi kecil dari
tulisannya secara mendalam.Sebab itu hal hal yang penting dan yang sudah dikenal atau
sudah ditulis dalam buku buku tidak perlu diselidiki lagi.Penulis cukup mengutip pendapat
yang dianggapinya benar itu dengan menyebutkan dimana pendapat itu dibaca, sehingga
pembaca dapat mencocokan kutipan itu dengan sumber aslinya.

Walaupun kutipan atas pendapat seorang ahli itu diperkenangkan tidaklah berarti
bahwa sebuah tulisan seluruhnya dapat terdiri dari kutipan-kutipan.Penulis harus bisa
menahan dirinya untuk tidak terlalu banyak menggunakan kutipan supaya karangannya
jangan dianggap sebagai suatu himpunan dari berbagai macam pendapat.garis besar kerangka
karangan, serta kesimpulan-kesimpulan yang dibuat merupakan pendapat penulis sendiri,
sebaliknya kutipan-kutipan hanya berfungsi sebagai bahan bukti untuk menunjang
pendapatannya itu.
2.2 JENIS – JENIS KUTIPAN

1. Kutipan langsung

Kutipan langsung adalah pinjaman pendapat dengan mengambil secara


lengkap kata demi kata, kalimat demi kalimat dari sumber teks asli.

2. Kutipan tidak langsung

Kutipan tidak langsung adalah pinjaman pendapat yang mengambil inti


sarinya saja.

Dari kedua jenis kutipan tersebut dapat disampaikan bahwa kutipan langsung dan
tidak langsung memiliki karakteristik yang berbeda berdasarkan cara mengutipnya, kutipan
langsung secara utuh mengutip teks yang akan dijadikan rujukan, sedangkan kutipan tidak
langsung hanya mengambil pokok pikiran atau inti sarinya saja.

2.3 CARA TEKNIK MENGUTIP YANG BENAR

Teknik mengutip digolongkan menjadi teknik mengutip berdasarkan bentuknya dan


ternik mengutip berdasarkan penulisan sumbernya.

1. Teknik Mengutip Berdasarkan Bentuknya

a. Kutipan Langsung
Secara mekanisme, kutipan langsung memiliki dua pola penulisan yang masing-
masing pola ditentukan oleh banyaknya teks yang dikutip. Untuk teks yang tidak
lebih dari 4 baris, maka dapat melakukan langkah-langkah berikut.

 Kutipan terintegarasi dengan teks


 Kutipan diawali dan diakhiri oleh tanda kutip
 Jika teks utama ditulis dengan 2 atau 1,5 spasi, maka kutipan pun ditulis 2 atau
1,5 spasi. Hal ini yang sama terjadi jika teks utama 1 spasi, maka ditulis 1
spasi
 Mencantumkan sumber referensi.

Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut.

Pembelajaran sebagai suatu yang bersifat sistematis tersebut, dinyatakan pula oleh
Dimyati dan Mudjono (1999: 297) yang menyatakan bahwa, “pembelajaran merupakan
kegiatan guru secara terprogram dalam desain intruksional untuk membuat siswa belajar
secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.“
Adapun kutipan yang lebih dari empat baris memiliki cara penulisan sebagai berikut.
 Kutipan dipisahkan dari teks utama;
 Kutipan tidak diawali dengan tanda kutip;
 Kutipan ditulis 1 spasi walaupun teks utama 2 atau 1,5 spasi.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut:


Strategi pembelajaran bahasa Indonesia menurut Iskandarwassid dan Sunendar (2009:
8) memiliki pengertian,
Pola keterampilan pembelajaran yang dipilih pengajar untuk melaksanakan program
belajar keterampilan berbahasa Indonesia. Program tersebut dirancang dapat diciptakan
situasi pembelajar yang memungkinkan peserta didik melakukan aktivitas mental dan
intelektual secara optimal untuk mencapai tujuan keterampilan berbahasa indonesia yang
terdiri atas keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan
keterampilan menulis.
Selanjutnya, hal lain yang perlu diperhatikan dalam pengutipan langsung adalah teknik
menghilangkan bagian yang tidak perlu. Dalam kutipan seringkali justru gagasan yang ingin
dikutip terletak di akhir atau bahkan di tengah. Menulis semua teks tersebut tentu dapat
menggangu konsentrasi pembaca selain juga akan membuat halaman lebih banyak. Untuk
menyiasati hal ini, maka yang harus dilakukan adalah memberikan titik elipsis atau tiga titik
(...) pada bagian yang akan dihilangkan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut:
Ciri pembelajaran yang efektif dalam proses belajar menurut Aunurrahman (2009:34)
adalah,’’ditandai dengan terjadinya proses belajar dalam diri sendiri. Seorang dikatakan telah
mengalami proses belajar apabila di dalam dirinya telah terjadi perubahan dari tidak tahu
menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti.”
Karena ada bagian yang tidak terlalu penting untuk karangan tersebut, maka dilakukan
penghilangan seperti ini:
Ciri pembelajaran yang efektif dalam proses belajar belajar menurut Aunurrahman
(2009:34) adalah, “... telah terjadi perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti
menjadi mengerti.”

b. Kutipan tidak langsung

Karakteristik kutipan tak langsung berbeda dengan kutipan langsung. Hal ini bisa
dilihat dari teknis penulisannya berikut.

 Terintegarasi dengan teks utama;


 Tidak diapit oleh tanda kutip;
 Teks kutipan sesuai dengan teks utama. Jika 1 spasi, maka 1 spasi, begitupun jika
1,5 atau 2 spasi;
 Mencantumkan sumber kutipan.
Jika dibandingkan dengan kutipan langsung, maka terlihat perbedaannya.
Perhatikan contoh berikut.

Nurgiyantoro menyatakan bahwa, “permajasan (figure of thought) merupakan teknik


pengungkapan bahasa, penggaya bahasa yang maknanya tidak menunjuk pada makna harfiah
kata-kata yang mendukung, melainkan pada makna yang ditambah, makna yang tersirat.”

2. Teknik Mengutip Berdasarkan Sumbernya


a. Catatan dalam Tubuh Karangan (Body Note)

Penggunaan body note dalam menyampaikan sumber rujukan digunakan pada


artikel atau karangan yang dimuat di koran ataupun majalah yang tidak
memungkinkan penulisan rujukan dengan pola catatan kaki. Semua itu dilakukan
karena body note memudahkan dalam proses tata letak baik pada koran, majalah
maupun buku. Hal ini karena body note memiliki pola pengutipan yang
terintegrasi dengan teks.

Dalam body note terdiri dari tiga unsur: Unsur tersebut yakni, nama
pengarang, tahun terbit, dan halaman. Untuk nama pengarang cukup ditulis nama
akhirnya saja dan ditulis tanpa gelar. Untuk tahun terbit yang ditulis adalah tahun
terbit yang ada pada katalog buku yang lazim ada pada awal sebuah buku.
Adapun halaman yang ditulis di sini adalah halaman teks yang kita jadikan
rujukan bukan halaman karangan kita sendiri.

Selain tiga unsur tadi, cara penulisan body note selalu menggunakan tanda
kurung dan tahun serta halaman serta halaman yang dipisah dengan dengan titik
dua. Adapun, jika nama di dalam, maka didalam tanda kurung tersebut berisi
nama ditambah koma, untuk kemudian ditulis tahun serta halaman yang dijeda
dengan titik dua. Perhatiakan contoh berikut: Haryanto (2009: 15) dan Ismail
(2008; 5).

Adapun variasi lain bisa yang bisa digunakan adalah sumber kutipan bisa
diletakkan di awal kutipan maupun di akhir kutipan. Bergantung pada bagaimana
penulis menetapkan sumber kutipan tersebut.

b. Catatan Kaki (Foot Note)

Catatan kaki lebih sering digunakan dalam tugas-tugas perkuliahan seprti


pembuatan makalah, skripsi, tesis, maupun desertasi. Namun, ada juga beberapa
peneitian ilmiah yang menggunakan catatan kaki daam menyampaikan sumber
rujukannya.

Pengunaan catatan kaki pada dasarnya memudahkan pembaca untuk


mngetahui secara cepat sumber referensi yang digunakan oleh seorang penulis.
Hal ini dikarenakan, unsur yang ada dicacatan kaki menyerupai unsur dalam
daftar pustaka dan bahkan ditambah dengan nomer petunjuk dan halaman.
Perhatikan unsur catatan kaki dengan penjelasannya sebagai berikut.
1) Nomer petunjuk
Nomer petunjuk letaknya di awal dengan bentuk angka arab yang
menggantung diatas dan berurutan secara berkesinambungan. Dalam perurutan
ini, ada dua cara yang mengabaikan bab sehingga nomor petunjuk berurutan
dari bab 1 sampai bab terakhir. Ada juga yang nomor petunjuknya setiap
berganti bab dimulai dari nomor satu.

2) Nama pengarang
Nama pengarang ditulis seperti baiasa, tidak dibalik dan dengan gelar yang
tidak dicantumkan.

3) Judul karangan
Judul juka besumber dari buku, maka judul tersebut diceak miring dan jika
bersumber dari majalah, koran, atau internet maka diapit dengan tanda kutip.

4) Data kepustakaan
Data kepustakaan meliputi kota terbit, penerbit dan tahun terbit. Ketiga hal
itu berada didalam tanda kurung dengan nama kota diawal yang diikuti dengan
titik dua untuk kemudian ditulis nama penerbitanya. Setelah nema penerbit,
barulah tahun terbit dengan nama penerbit yang dipisah dengan koma. Hal ini
berbeda dengan sumber yang berasal dari jurnal, majalah atau koran yang
dalam catatan kaki ini nama jurnal, majalah, atau koran tersebut dicetak
miring diikuti oleh tanggal penerbitan. Khusus untuk internet, hal yang
disampaikan adalah nama laman ( website) diikuti tanggal pengaksessan.

5) Halaman
Halaman ditulis diakhir catatan kaki. Ada yang menyingkat kata halam ini
dengan hlm. Atau hal., yang kemudian diikuti oleh halaman referensi yang
dirujuk. Setelah itu, barulah kemudian diakhiri dengan tanda titik.

1) Contoh dari buku


1
Henry Guntur Tarigan, Menulis: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa,
(Bandung: Angkasa, 2008), hlm. 5.

2) Contoh non buku


1
Syarif Hidayatullah, “Apa Itu Bahasa: Sepuluh Pengertian Bahasa Menurut
Para Ahli,”Dikutip dari http://Wismasastra. wordpress.com pada 5 januari
2013.
2
Arifin. “ Bahasa kita Bhasa Indonesia.’’ Republika, 12 Desember 2013.

Kasus lain yang sering terjadi dalam ketika melakukan pengutipan dari internet adalah
nama pengarang dalam laman yang di kunjungi tidak ada. Jika tetap ingin dijadikan sebagai
sumber rujukan, maka pada nama pengarang cukup ditulis dengan istilah anonim
Dalam penulisan catatan kaki tidak selamanya sumber rujukan mencantumkan seluruh
unsur catatan kaki. Hal ini akan terjadi jika sumber kutipan yang dikutip lebih dari sekali.
Maka, kutipan-kutipan selanjutnya cukup diwakili dengan istilah ibid.,loc. Cit, dan op. Cit.

Ibid. Merupakan singkatan dari ibidem yang memiliki arti pada tempat yang sama.
Penulisan ibid. Dilakukan jika kutipan yang telah dikutip berasal dari sumber rujukan yang
sama tanpa dijeda oleh kutipan lain.

Penulisan Ibid. Di atas menggunakan halaman karena halaman tersebut berbeda. Jika
halamannya sama, maka cukup ditulis dengan Ibid.
Selanjutnya adalah Op. Cit. Yang memiliki arti pada karya yang telah dikutip. Sedangkan
Loc. Cit. Berarti pada tempat yang telah dikutip. Dengan demikian jelas secara harfiah bahwa
Op. Cit. Diunakan jika ada kutipan yang berasal dari buku dengan sumber yang sama, akan
tetapi akan dijeda oleh kutipan lain. Adapun Loc. Cit. Digunakan jika ada kutipan yang sama
dan berasal dari bukan buku yakni bisa jurnal, majalah, koran, maupun internet, akan tetapi
telah dijeda oleh kutipan lain.
Perhatikan contoh berikut:
1. Isjoni, Cooperative Learning Ejektifitas Pembelajaran Kelompok, (Bandung:
Alfabeta,2009) hlm. 17.
2. Kiranawati, “Coopertive Integrated Reading and (CIRC)”diunduh dari
http://gurupkn.wordpress.com pada tanggal 10 Januari 2013.
3. Isjoni, Op, Cit, hlm. 19.
4. Kiranawati, Loc. Cit.

Dari contoh tersebut, nomor 3 merupakan rujukan yang bersumber dari buku dan
merujuk pada buku Isjoni. Nama dalam Op. Cit. Maupun Loc. Cit. Harus ada agar tidak
tertukar dengan rujukan lain. Sebab bisa saja hal ini trjadi pada kutipan kedua puluh lima,
maka jika dituis hanya Op. Cit. Atau Loc. Cit. Saja tentu pembaca akan kebingungan.
Adapun Loc. Cit. Mengapa tidak ada halamannya, ini disebabkan karena memangdalam
internet tidak ada jumlah halaman. Hal yang sama bisa saja terjadi pada Op. Cit. Jika halaman
yang dirujuk ternyata sama dengan kutipan sebelumnya.

C. Kiat-Kiat Mengutip Sebuah Kutipan

Membuat karangan bukan hanya menyampaikan beberapa pendapat ahli untuk


kemudian digabungkan antara satu pendapat dengan pendapat lain. Hal ini bila dilakukan,
maka karya tersebut akan terlihat dangkal, Sebab, dengan demikian apa bedanya dengan guru
yang menugaskan siswanya untung mengkliping? Hal inilah yang sering terjadi pada
mahasiswa yang sedang menyusun skripsinya atau menulis pemula.

Karangan yang baik adalah ketika seorang penulis mengutip suatu pendapat ahli
mengenai suatu hal, yang lalu kemudian kutipan tersebut diinterpretasi berdasarkan cara
pandangnya. Dengan demikian, maka ada semacam dialog intelektual anatara sumber rujukan
dengan penulis. Berikut ini akan disampaikan beberapa kiat yang akan dijabarkan sebagai
berikut.
1. Menerangkan Kutipan
Dalam menerangkan kutipan ini, penulis dituntut untuk membahas kembali
kutipan yang telah ia kutip dengan pandangannya atau dengan mengkaaitkan antara
kutipan dengan pembahasan yang dibahasnya. Perhatikan contoh berikut.
Menurut Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1), memberikan dua pengertian bahasa.
Pengertian pertama menyatakan bahwa sebagai alat komunikasi antara anggota
masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua,
bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi
ujaran) yang bersifat arbitrer. Dari pendapat ini jelas bahwa bahasa merupakan
alat komunikasi primer yang ditandai dengan bunyi dan itu hanya dihasilkan oleh
alat ucap manusia, bukan hewan. Adapun bunyi itu bersifat arbitrer. Artinya tidak
ada hubungan antara bhasa dengan benda yang disimbolkannya.

2. Memperkuat Gagasan dengan Kutipan


Jika menerangkan kutipan, letak kutipan berada di awal, maka sebaliknya dalam
memperkuat gagasan ini, kutioan diletakkan setelah pendapat penulis. Sehingga
kutipan tersebut seakan-akan menjadi dall pembenaran atas pendapat penulis. Sebagai
contoh, perhatika paragraf ini:
Bahasa merupakan alat berkomunikasi. Manusia akan mengalami kesulitan dalam
berkomunikasi tanpa adanya bhasa. Dapat dilihat bagi mereka yang tunarungu dan
wicara. Mereka hanya bisa menggerakkan tangan untuk memberikan bahasanya.
Dari sini, dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan alat primer untuk
berkomunikasi. Hal ini senada dengan pendapat Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1),
yang memberikan pengertian bahasa menjadi dua. Pengertian pertama menyatakan
bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang
perpergunakan simol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.

3. Menyimpulkan Beberapa Kutipan


Dalam menyimpulkan beberapa kutipan, syarat utamanya adalah kutipan-
kutipan tersebut harus satu satu konsep atau sederajat sehigga
memungkinkanpenyampulan. Hal ini terjadi pada penjabaran mengenai definisi yang
biasanya tidak cukup dengan satu kutipan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh
berikut:

Pengertian bahasa menurut Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1), dibagi menjadi


dua. Pengertian pertama menyatakan bahwa sebagai alat komunikasi antara anggota
masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa
adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang
bersifat arbitrer. Adapun menurut Santoso (1990:1), bahasa adalah rangkaian bunyi yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar. Dari sini dapat disimpulkan bahwa bahasa
merupakan alat komunikasi yang dilakukan oleh masyarakat dengan menggunakan alat ucap
manusia yang dilakukan secara sadar dengan simbol-simbol yang bersifat arbitrer.
3. Membandingkan Beberapa Kutipan
Untuk membandingkan beberapa kutipan sebetulnya hampir sama dengan
menyimpulkan yakni konsep sama. Namun dalam membandingkan beberapa kutipan
ini, dari kesamaan tersebut penulis dituntut untuk mengidentifikasikan perbedaan
yang ada antara satu kutipan dengan kutipan lain. Jadi yang dibandingkan adalah
persamaan dan perbedaan. Perhatikan contoh berikut:

Pengertian bahasa menurut Santoso (1990:1), bahasa adalah rangkaian bunyi yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar. Hal ini sedikit berbeda dengan yang
disampaikan oleh Wibowo (2001:3), yang menyampaikan definisi bahasa sebagai sebagai
sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang
bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok
manusia untuk melahirkan perasa bunyi yang yang dihasilkan oleh perasaan dan pikiran.
Pendapat Wibowo senada dengan Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1), yang
memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat
komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap
manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol
vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Kutipan adalah upaya penulis untuk memperkuat gagasannya dengan mengutip pendapat
ahli di bidangnya atau upaya menyampaikan gagasannya dengan menyampaikan gagasan
para ahli. Kutipan dibagi menjadi kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Teknik
mengutip dalam kutipan diantaranya teknik mengutip berdasarkan bentuknya dan teknik
mengutip berdasarkan penulisan sunbernya yang didalamnya terdapat body note dan foot
note. Kiat-kiat dalam mengutip diantaranya menerangkan kutipan, memperkuat gagasan
dengan kutipan, menyimpulkan beberapa kutipan, dan membandingkan beberapa kutipan.