Anda di halaman 1dari 11

BAB I

    PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang


Bahasa merupakan sistem bunyi yang konvensional. Bahasa merupakan alat
komunikasi sehari-hari. Dalam berkomunikasi kadang kita menggunakan singkatan
dan akronim agar mempermudah komunikasi baik komunikasi langsung maupun
komunikasi tak langsung (SMS, email, dan sebagainya). Namun hal ini justu
menimbulkan masalah dalam penstrukturan singkatan dan akronim dlam bahasa.
Makalah ini akan memabahas permasalahan-permasalahan tersebut.
1.2         Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari pembuatan makalah ini adalah
a.       Apa pengertian dari singkatan?
b.      Apa pengertian dari akronim?
c.       Permasalahan dalam penggunaan singkatn dan akronim?
1.3         Tujuan
Tujuan dari pembuatan makaalah ini selain untuk memenuhi tugas mata kuliah
morfoligi juga untuk:
a.       Mengetahui pengertian dari singkatan
b.      Mengetahui pengertian dari akronim
c.       Mengetahui permasalahan dalam penggunaan singkatan dan akronim

BAB II
1
PEMBAHASAN

2.1  Singkatan
Istilah singkatan ialah bentuk istilah yang tulisannya dipendekkan. Yang
bermaksud untuk mempermudah. Menurut tiga cara sebagai berikut:

         Istilah yang bentuk tulisannya terdiri atas satu huruf atau lebih, tetapi yang
bentuk lisannya sesuai dengan bentuk istilah lengkapnya.

Misalnya:
m yang dilisankan menter
ml yang dilisankan mililiter
cos yang dilisankan cosinus

         Istilah yang bentuk tulisannya terdiri atas satu huruf atau lebih yang lazim
dilisankan huruf demi huruf.
Misalnya:
DDT (diklorodifeniltrikloroetana) yang dilisankan d-d-t
kV Ikilovolt-ampere) yang dilisankan k-v-a
TL (tube luminescent) yang dilisankan t-l

         Istilah yang dibentuk dengan menanggalkan sebagian unsurnya.


Misalnya:
Ekspres (yang berasal dari kerta api ekspres)
Harian (yang berasal dari surat kabar harian)
Kawat (yang berasal dari surat kawat)
Lab (yang berasal dari laboratorium)

Singkatan adalah bentuk yang dipendekkan yang terdiri dari satu huruf atau
lebih.

2
      Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda
titik.Contoh: Dr. Bambang

    Singkatan nama resmi lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan,


badan/organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata
ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Contoh :DPR, PGRI

Singkatan umum yang terdiri dari tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.
Tetapi, singkatan umum yang terdiri hanya dari dua huruf diberi tanda titik
setelah masing-masing huruf. Contoh :dll.

         Lambang kimia, singkatan satuan ukur, takaran, timbangan, dan mata uang asing
tidak diikuti tanda titik. Contoh : Cu(kuprum)

2.2              Akronim
Istilah akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan
suku kata, ataupun gabungan kombinasi huruf dan suku kata dari deret kata yang
diperlakukan sebagai kata.
1.      Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis
seluruhnya dengan huruf kapital. Contoh: ABRI(Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia)

2.      Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan
suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital. Contoh:
Akabri(Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).

3.      Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun
huruf dan suku kata dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kecil.
Contoh: pemilu( pemilihan umum)

Contoh lain dari akronim yaitu:


laser (light amplification by stimulated emission of radiation)
radar (radio detectiang and ranging)

3
sonar (sound navigation ranging)
tilang (bukti pelanggaran)

2.3              Permasalahan penggunaan singkatan dan akronim dalam bahasa

Singakatan dan akronim sering kita gunakan dalam berkomunikasi hal ini
dipengaruhi oleh pola pikir yang semakin maju dan adanya bahasa gaul, bahasa yang
digunakan pada sinetron di TV, dan bahasa SMS. Namun bahasa sekarang telah
dirusak oleh adanya sinetron. Hal ini akan kita bahas pada makalah ini.
Sebelum kita berajak kepermasalahan-permasalahan tersebut mari kita bahas
sedikit mengenai akronim yang sering digunakan dan dibuat oleh masyarakat.
Penggunaan akronim memang sah-sah saja digunakan dalam sebuah tulisan,
asalkan pembaca bisa memahami arti dari akronim tersebut, karenanya banyak orang
menyarankan agar akronim tidak diletakkan pada judul kecuali untuk akronim yang
memang sering digunakan.
Selama masa kampanye sering kali Akronim seakan menjadi trademark yang
memudahkan masyarakat mengenal pasangan calon pemimpin mereka. Contoh:
pasangan Hade dalam Pilgub Jawa Barat beberapa waktu lalu. Satu yang menarik dari
penggunaan akronim ini adalah penggunaan akronim yang berarti baik atau bagus.
Mungkin semua itu terkait sukses Hade yang berarti baik atau bagus dalam bahasa
Sunda seakan menjadi akronim yang paling banyak dipakai para pasangan calon.
Begitu juga dengan Polemik soal iklan Pemilu satu putaran terus bergulir.
Eskalasi polemik makin menguat menyusul diungkitnya iklan-iklan itu oleh Jusuf
Kalla dalam seri terakhir Debat. Tak hanya itu, polemik akhirnya berujung pada
munculnya kembali istilah lama yang dulu pernah beraura mengerikan: GESTAPU!
Akronim Gestapu dengan mudah membangkitkan ingatan kolektif masyarakat
tentang peristiwa 1965. Dan, dalam struktur kolektif bangsa Indonesia, segala hal
yang tersangkut dengan komunisme, PKI dan 1965 masih menyisakan problem yang
belum tuntas, stigma yang mengerikan, dan kadang fobia yang menakutkan, juga
4
berlebihan. 15. NB: Istilah G30S/PKI atau kadang disingkat Gestapu sendiri
sebenarnya keliru karena penculikan dan pembunuhan para jenderal itu terjadi pada
dini hari, sehinga tanggal sudah berganti menjadi 1 Oktober 1965. Itu sebabnya
Soekarno keukeuh menggunakan istilah Gestok, bukan Gestapu. Orde Baru yang
³mengabsahkan´ akronim Gestapu.

Bahasa Nasional Indonesia Dirusak Sinetron


Bahasa yang diucapkan oleh artis-artis sinetron dilayar kaca merusak bahasa
nasional Indonesia. Sebab banyak kata yang diucapkan bercampur dengan bahasa
asing terutama Inggris. Hal itu diungkapkan dua mahasiswa Univeristas Gadjah
Mada (UGM), Dhinar Arga Dumadi dan Analisa Widyaningrum kepada wartawan di
kampus UGM Bulaksumur Yogyakarta, Jumat (12/12/2008).
Dua mahasiswa jurusan Sastra Perancis angkatan 2008 dan Psikologi angkatan 2007
berhasil meraih juara pertama sebagai Duta Bahasa Indonesia tingkas Nasional 2008
yang diikuti wakil generasi muda berusia antara 18-25 tahun itu.
"Salah satu contohnya adalah bahasa yang diucapkan oleh artis Cinta Laura," kata
Widyaningrum
Menurut Widya, gaya dan ucapan berbahasa Cinta Laura itu sudah salah.
Namun justru banyak masyarakat yang senang dan kemudian menirukannya. Selain
bahasa yang campur-campur, ada banyak ungkapan bahasa atau cara tutur kata yang
seharusnya tidak ditayangkan dalam acara tersebut.
"Ucapan yang patah-patah dan sengau itu justru banyak orang yang senang kemudian
meniru, tapi itu salah dan dapat merusak bahasa kita," ungkap Widya.
Widya dan Dhinar berhasil mengalahkan 25 peserta lain yang berasal dari berbagai
daerah di Indonesia. Dalam lomba yang digelar 20-27 Oktober itu, keduanya harus
melalui berbagai tahapan ujian seperti kemampuan bahasa Indonesia, bahasa asing
dan daerah. Mereka juga harus membuatan makalah serta penyajiannya di hadapan
dewan juri dari Pusat Bahasa.

5
Widya menyampaikan makalah judul, 'Bahasa Sinetron Sebagai Pemicu
Rusaknya Jati Diri Bangsa.' Dalam makalahnya itu mereka menyoroti dampak dari
penggunaan bahasa Indonesia terhadap perilaku/kesopanan dan psikologis bagi
masyarakat dan anak pada khususnya.
"Bahasa sinetron kita banyak yang salah digunakan pada tempatnya. Akibatnya
masyarakat banyak yang meniru dengan berbagai motif seperti sekedar gaya atau
kepingin dikatakan modern," katanya.
Selain itu, ungkapan-ungkapan bahasa dalam sinetron itu banyak pula yang
dipraktekkan di masyarakat. Padahal banyak ungkapan-ungkapan bahasa yang
cendrung kasar dalam tayangan itu. Efek yang paling parah banyak anak kecil yang
menirukannya setelah melihat tayangan itu.
"Hal ini secara psikologis menyebabkan efek negatif bagi anak karena bahasanya
yang kasar dan tidak sopan," imbuh Dhinar.

Bahasa sinetron
Dalam berkomunikasi melalui media bahasa, verbal maupun non verbal.
Terkadang kita terjebak pada pemahaman tentang membahasakan gerak kita, kalimat
selau disamakan dengan bahasa, bibir dan lidah dijadikan symbol penguatan terhadap
pengungkapan satu maksud. Perlu dipertanyakan ³bagaimana kabarnya kata hati?´
terkadang hal-hal yang tidak diungkapkan dengan lidah merupakan suatu kejujuran
dari kejujuran itu sendiri. Dalam satu kutipan puisi
dituliskan; Lidah ini terlalu sering menzalaimi hati, Ampuni kami Tuhan, kami lupa,
Bermimpipun kami memerlukan Bahasa´.
Mengenai bahasa, ada satu peristiwa yang terekam saat penulis mendengar
seorang berbicara kepada dosen, tiba-tiba di tengah perbincangan terdengar satu
kalimat yang sebenarnya sangat populer tetapi ganjil juga didengar “so what gitu lho,
Pak”. Pergeseran-pergeseran dari segi berbahasa ini, sesungguhnya mampu menjadi
motor penggerak perubahan, baik pada sikap prilaku dalam pergaulan sehari-hari,
menjadi identitas seseorang (Anak Gaul, Funky, Supel, dll), karena bahasa adalah
6
salah satu dari komponen perubahan. Jika diteliti lebih mendalam, kaitannya dengan
pengkombinasian bahasa ini, banyak ide-ide kreatif yang mampu dimunculkan.
Seperti lahirnya Kamus Gaul ala Debby sahartian. Yang
beberapa tahun belakangan ini begitu populer kita dengar. Hal ini diyakini tidak
semata-mata lahir dari ruang kosong belaka. Seorang Debby telah mampu
membentuknya tidak sekadar menjadi bahasa yang layak praktik, namun bahasa gaul
sendiri telah mampu memberikan suatu identitas bagi komunitas yang kita sebuat
sebagi ‘komunitas gaul´. Merambah, membentuk suatu tatanan kelas sendiri. Bahkan
dikota-kota besar pada umumnya seperti jakarta bahasa gaul
telah menjadi bahasa wajib bagi mereka yang menyebut dirinya ‘Anggota Komunitas
gaul´ Dalam karyanya Humain Trop Humain, Nietzsche mengatakan ’bahasa
menjadi penting dalam perkembangan peradaban, karena manusia menemukan di
dalamnya dunia bagi dirinya,suatu tempat yang dianggapnya cukup kokoh untuk
dijadikan tumpuan manakala ia membebaskan unsur-unsur duniawi lainnya dari
kungkungan dan menguasainya´.
Maka, kesimpulannya setiap orang berhak untuk mengkreasikan bahasa
menjadi sepopuler mungkin. Tanpa harus selalu latah meniru bahasa populer sinetron
atau bahasa gaul ala Debby. Karena perbendaharaan bahasa daerah kitapun kaya
untuk di kombinasikan menjadi bahasa slank yang nyaman untuk di ekspresikan
dalam pergaulan sehari-hari. Sehingga kita tidak selalu kehilangan identitas personal
dalam laju kemajuan teknologi dan peradaban global.

Bahasa SMS
Apakah Short Message Service atau yang biasa disingkat dan dilafalkan SMS
merupakan sebuah pesan singkat atau sebuah pesan yang ditulis dengan singkatan-
singkatan? Selanjutnya apakah 'bahasa' SMS yang demikian itu: penuh singkatan-
singkatan, kaya simbol, selipan bahasa asing (Inggris) dan ketidaklengkapan tanda
baca dapat merusak bahasa Indonesia yang baik dan benar?
Untuk menjawab pertanyaan ini cerpenis dan novelis Naning Pranoto
7
dalam bukunya yang berjudul Creative Writing, jurus-jurus menulis kreatif dan
efektif. Bahwa bahasa SMS adalah sebuah model penulisan dengan materi yang aneh,
yang hanya ditangkap dan dimengerti oleh 'kalangan sendiri', yakni antara mereka
(mungkin saya dan anda) yang mengerti singkatan-singkatan, simbol-simbol tersebut.
Saya memberi satu contoh bahasa SMS yang malam tadi masuk kehandphone saya:
“ u ge pa? Dah bo2 lumz”
(kamu lagi apa? Sudah bobo belum)
Kekayaan simbol, bentuk penulisan yang menggunakan banyak singkatan justru
menunjukkan sebuah keunikan dan kekhasan bahasa SMS dan bagi saya sama sekali
tidak bertentangan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Toh...pesan yang mau disampaikan jelas terbaca, kendatipun untuk mencerna agak
sulit dan butuh waktu. Kendati demikian, jawaban tersebut masih mentah buat
seorang murid yang masih mau belajar. Dan bagi saya merupakan sebuah tantangan
untuk memperlajarinya lebih lanjut. Dan saya berpikir para pembaca punya
pandangan dan gagasan yang 'jitu' untuk menjawab dua pertanyaan ini?

Di kalangan remaja, pemakaian campuran kata bahasa Inggris dengan bahasa


Indonesia sering ditemukan. Masalah menjadi bertambah ketika penulisan kata
bahasa Inggris yang belum secara resmi dibahasaindonesiakan ditulis dengan
ejaannya pada lafal bahasa Indonesia. Remaja melakukan ragam dalam penulisan
tersebut sebab memiliki beberapa dorongan seperti agar dikatakan memiliki
kreatifitas, gaul, dan berpengetahuan luas. Para remaja juga sering mengombinasikan
huruf abjad dengan angka. Hal ini jelas dapat menimbulkan kesulitan pada penerima
pesan. Sebagi contoh berikut ini:
“5af ganggu, u ge d mana?????????”( maaf ganggu, kamu lagi di mana?)
“ Q ge OTW k HumZ”(Aku lage on the way ke Home)
“ yasud TT DJ yach, C U”(ya sudah hati-hati di jalan ya)

8
Contoh bahasa sms di atas sangat membingungkan jika yang membaca tidak
paham arti dari penyimbolan, singkatan-singkatan pada sms”
Contoh dari akronim dan singkatan lainnya:
MBA : Merrid By Accident
NOKIA : Nikah Ogah Kawin Ia
TTDJ : Hati-hati di jalan
RCTI : Rasa Cinta Tapi Isin
Salah satu dari singkatan tersebut ada yang salah dalam pembuatannya seperti
pada NOKIA dan TTDJ serta RCTI karena dalam penyingkatannya tidak sesuai
dengan kaidah, sedang pada RCTI adanya sisipan bahasa asing.
Dan masih banyak lagi akroim dan singkatan dalam kehidupan sehari-hari
yang biasanya terpengaruh oleh bahasa gaul orang zaman sekarang.

BAB III
KESIMPULAN

Akronim dan singkatan digunakan untuk mempermudah komuikasi, namun


dalam kehidupan sehari-hari baik dalam komunikasi langsung, sms, atau FB,
9
penyingkatan sering terpengaruh oleh bahasa gaul yang menimbulkan kesalahan
dalam penstrukturan.
Yang perlu diperhatikan adalah dalam pembuatan akronim dan singkatan kita
harus tetap memperhatikan kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia.

10
DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan., Soenjono Dardjowidjojo, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa
Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Hajar, Ibnu. Ikhtisar Bahasa dan Sastra Indonesia
http://www.scribd.com/doc/41363475/topik-debat
http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Pedoman_penulisan_singkatan_dan_akronim

11