Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) adalah unit usaha produktif yang

berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau Badan Usaha disemua

sektor ekonomi (Tambunan, 2012). Pada prinsipnya, pembedaan antara Usaha

Mikro (UMi), Usaha Kecil (UK), Usaha Menengah (UM) dan Usaha Besar (UB)

umumnya didasarkan pada nilai asset awal (tidak termasuk tanah dan bangunan),

omset rata-rata pertahun atau jumlah pekerja tetap. Namun definisi UMKM

berdasarkan ketiga alat ukur ini berbeda disetiap negara. Sriyana (2010) mencatat

bahwa usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mempunyai peranan penting

dalam perekonomian lokal daerah.

Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan UMKM dalam menggerakkan

aktivitas ekonomi regional dan penyediaan lapangan kerja. Namun, UMKM

masih menghadapi berbagai masalah mendasar, yaitu masalah kualitas produk,

pemasaran dan keberlanjutan usaha. Diperlukan berbagai kebijakan terobosan

untuk memotong mata rantai masalah yang dihadapi UMKM, khususnya untuk

mengatasi beberapa hal yang menjadi hambatan dalam bidang pengembangan

produk dan pemasaran. Adapun regulasi dari pemerintah yang diperlukan untuk

memberikan peluang berkembangnya UMKM meliputi perbaikan sarana dan

prasarana, akses perbankan dan perba1ikan iklim ekonomi yang lebih baik untuk
mend ukung dan meningkatkan daya saing mereka serta untuk meningkatkan

pangsa pasar.

Industri kerajinan di Indonesia merupakan industri yang banyak dilakukan

oleh usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Hal ini karena potensi pasar

industri kerajinan yang luas dan beragam membuat industri ini mampu terus

bertahan dan tumbuh disaat kondisi perekonomian tidak stabil. Faktor lain yang

membuat industri kerajinan menarik dicermati adalah kebanyakan industri ini

dilandasi hobi serta unsur tradisi dan budaya. Indonesia memiliki budaya yang

sangat beragam sehingga dapat menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya

industri kerajinan (Departemen Perdagangan, 2007).

Tabel Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto Kota


Semarang Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha, 2014─2018

Lapangan Usaha/Industry 2014 2015 2016 2017* 2018**


(1) (3) (4) (5) (6) (6)
A. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 1,01 0,98 0,94 0,88 0,84
B. Pertambangan dan Penggalian 0,20 0,19 0,18 0,18 0,17
C. Industri Pengolahan 27,52 27,48 27,81 27,65 27,88
D. Pengadaan Listrik dan Gas 0,10 0,10 0,11 0,12 0,12
E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,
0,09 0,08 0,08 0,08 0,07
Limbah dan Daur Ulang
F. Konstruksi 26,84 27,04 26,67 26,63 26,36
G. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi
14,39 14,12 13,91 13,87 13,78
Mobil dan Sepeda Motor
H. Transportasi dan Pergudangan 3,69 3,84 3,88 3,79 3,85
I. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 3,39 3,39 3,43 3,43 3,45
J. Informasi dan Komunikasi 7,21 7,07 7,02 7,15 7,22
K. Jasa Keuangan dan Asuransi 4,33 4,39 4,48 4,48 4,43
L. Real Estate 2,71 2,80 2,82 2,89 2,94
M, N. Jasa Perusahaan 0,59 0,61 0,64 0,67 0,71
O. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan
3,32 3,31 3,29 3,30 3,21
dan Jaminan Sosial Wajib
P. Jasa Pendidikan 2,75 2,74 2,82 2,87 2,92
Q. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 0,74 0,76 0,78 0,83 0,82
R,S,T,U. Jasa Lainnya 1,12 1,09 1,13 1,19 1,23
100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
* Angka sementara/Preliminary Figures
** Angka sangat sementara/Very Preliminary Figures
Peranan terbesar dalam pembentukan PDRB Kota Semarang pada tahun

2018 dihasilkan oleh lapangan usaha Industri Pengolahan, yaitu mencapai 27,88

persen (angka ini sedikit meningkat dari 27,52 persen di tahun 2014). Selanjutnya

lapangan usaha Konstruksi sebesar 26,36 persen (turun dari 26,84 persen di tahun

2014), disusul oleh lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi

Mobil, dan Sepeda Motor sebesar 13,78 persen (turun dari 14,39 persen di tahun

2014). Berikutnya lapangan usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 7,22 persen

(naik dari 7,21 persen di tahun 2014) dan lapangan usaha Jasa Keuangan dan

Asuransi sebesar 4,43 persen. Pada kategori ini termasuk sektor industri tekstil

dan industri pakaian jadi dengan contoh hasil produksi kain tenun ikat, benang,

kain, batik, rajutan pakaian jadi sesuai pesananan dan lain-lain.

Industri pakaian merupakan industri padat karya yang mampu menyerap

banyak tenaga kerja. Berdasarkan observasi oleh peneliti, tenaga kerja pada

industri pakaian jadi di wilayah Semarang Timur adalah ibu-ibu rumah tangga hal

ini disebabkan remaja (terutama remaja perempuan) yang mempunyai

produktivitas tinggi justru lebih memilih bekerja di luar subsektor industri pakaian

jadi. Jika hal ini dibiarkan terus maka tidak menutup kemungkinkan suatu saat

industri pakaian jadi yang ada di Semarang Timur akan menghilang karena tidak

ada generasi penerus untuk melanjutkan kegiatan usaha industri pakaian jadi

akibat dari rendahnya insetif/upah yang dihasilkan dari mempakaian jadi

dibandingkan dengan upah dibidang usaha lainnya. Berbagai tantangan yang

dihadapi industri pakaian jadi di Semarang Timur seperti ketatnya persaingan, dan

tingginya biaya produksi (karena naiknya harga bahan baku) yang pada akhirnya
akan mempengaruhi kinerja (keutungan) dari industri Pakaian jadi menurun.

Akibat dari penurunan kinerja tersebut adalah banyak perusahaan-perusahaan

pakaian jadi yang gulung tikar atau beralih ke subsektor lainnya. Untuk alasan

tersebut maka penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi fenomena-

fenomena yang terjadi pada industri pakaian jadi di Semarang Timur dengan

pendekatan struktur-perilaku-kinerja. Dimana persaingan dan biaya produksi akan

mempengaruhi bentuk struktur pasar yang kemudian untuk bisa bertahan dalam

pasar maka perusahaan akan melakukan perilaku yang bisa membuatnya bertahan

dalam pasar untuk mempertahankan keutungannya. Oleh karena itu setiap pelaku

industri mempunyai pemahaman mengenai Kemampuan Jaringan(Relational

capabilities), Kompetensi Pengetahuan Pemasaran(Market Knowledge

Competence ) Penciptaan Nilai (Value Creation), serta Kiner ja Bisnis (Business

Performance) bagi pelaku industri kecil untuk meminimalisir kendala-kendala

tersebut, sehingga dapat terus berkembang dan memiliki daya saing.

Penciptaan nilai dari perspektif perusahaan adalah alat strategis utama untuk

mencapai keunggulan kompetitif dan kinerja perusahaan. Ini adalah konsep yang

menggambarkan upaya perusahaan untuk memberikan kinerja yang unggul, yang

diinginkan pelanggan, melalui inovasi. Inovasi memungkinkan perusahaan untuk

memperbarui produk mereka dengan atribut yang pada akhirnya memenuhi

kebutuhan pelanggan lebih dari produk yang sudah ada (O’Cass & Ngo, 2012;

O’Cass & Sok, 2013). Nuryakin,et.al (2018) menekankan bahwa penciptaan nilai

lebih dapat diperoleh melalui inovasi produk. Penciptaan nilai pelanggan

tercermin dalam pengiriman produk yang berkualitas, fleksibilitas untuk


kebutuhan pelanggan, dan kecepatan respons untuk mempertahankan loyalitas

pelanggan. Upaya untuk menarik pelanggan agar tetap loyal kepada perusahaan

pada gilirannya akan meningkatkan penjualan dan pertumbuhan pangsa pasar.

Kemampuan relasional merupakan faktor kunci untuk menciptakan nilai dan

inovasi pelanggan, (Thaghiegh, 2013, Nuryakin, et.al (2018), Guiteres, 2018)

yang pada akhirnya akan mencapai Kinerja Bisnis (Killa, 2017, Nuryakin, et.al,

2018). Gulati et al. (2000) membahas bahwa nilai yang diciptakan dalam jaringan

hubungan mempengaruhi perilaku dan kinerja suatu perusahaan. Ini dapat dicapai

ketika biaya koordinasi dan transaksi dilihat sebagai peristiwa yang terjadi dalam

hubungan yang bermakna dengan nilai, maka biaya transaksi dan koordinasi akan

rendah dan mengarah pada peningkatan kinerja perusahaan. Ngugi, Johnsen, dan

Erdélyi (2010) menyatakan bahwa kapabilitas relasional meningkatkan penciptaan

nilai-nilai pelanggan termasuk manfaat biaya, manfaat pendapatan, dan akuisisi

kompetensi baru sebagai penentu keberhasilan perusahaan. Dengan demikian

produsen dengan kualitas relasional yang baik dengan pelanggannya dapat

membangun organisasi untuk membangun kemampuan internal mereka untuk

mencapai keunggulan kompetitif. Selain itu, perusahaan akan berorientasi masa

depan, yang dihasilkan oleh sumber daya strategis mereka.

Kemampuan UKM dalam mengembangkan hubungan bisnis merupakan

sumber daya penting untuk mencapai kinerja di pasar internasional. Studi

sebelumnya telah menemukan bukti bahwa jaringan bisnis dan orientasi

pelanggan adalah faktor penting untuk meningkatkan Kinerja Bisnis . Kapabilitas

relasional mampu meningkatkan penciptaan nilai-nilai pelanggan termasuk


manfaat biaya, manfaat pendapatan, dan akuisisi kompetensi baru sebagai penentu

keberhasilan perusahaan. (Munawar, 2015, Sidiq dan Wijayanti (2018) dan

Choirunissa (2016).

Selain itu, organisasi memiliki kompetensi dalam pengetahuan dan sumber

daya untuk mengembangkan pengetahuan pelanggan, pesaing, dan pemasok

melalui koordinasi dan rantai pasokan. Kompetensi pengetahuan menggambarkan

suatu organisasi usaha dan informasi yang terstruktur mengenai pasar, pelanggan,

pesaing dan trend yang berkembang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa

kompetensi pengetahuan pemasaran erat kaitannya dengan konsep kewirausahaan

dan kapabilitas pemasaran yang dapat meningkatkan kinerja pemasaran. Upaya

untuk memahami sumber daya nilai pelanggan yang terkait dengan hubungan

pembeli-pemasok dianggap sebagai skala prioritas dan komponen kunci untuk

keuntungan jangka panjang organisasi. Hasil penelitian Nuryakin, et.al (2018)

disimpulkan bahwa terdapat kemampuan untuk mengintegrasikan pengetahuan

pelanggan, dapat menciptakan nilai yang unggul untuk membuka peluang

memperoleh keuntungan yang tinggi dan kemampuan dalam mengembangkan

hubungan pelanggan pada pengembangan Kinerja Bisnis ( Lestari, 2015, Charier,

2017 dan Mawu, et.al, 2016)

Berdasarkan ringkasan hasil tersebut menunjukan ketidakkonsistenan hasil

penelitian mengenai pengaruh variabel Kemampuan Jaringan (Relational

capabilities) terhadap Kiner ja Bisnis (Business Performance. Hasil penelitian

yang dilakukan oleh Munawar, (2015), Sidiq dan Wijayanti (2018) dan

Choirunissa (2016) didapati kapabilitas relasional mampu meningkatkan


penciptaan nilai-nilai pelanggan termasuk manfaat biaya, manfaat pendapatan,

dan akuisisi kompetensi baru sebagai penentu keberhasilan perusahaan. Namun

hasil yang berbeda ditemukan dalam penelitian Nuryakin, et.al (2018) dimana

Kemampuan Jaringan (Relational capabilities) tidak beengaruh terhadap Kinerja

Bisnis (Business Performance)

Hal tersebut yang mendasari dilakukannya penelitian ini. Penelitian ini

merupakan replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Nuryakin, et.al (2018)

yang meneliti tentang Kemampuan Jaringan(Relational capabilities), Kompetensi

Pengetahuan Pemasaran(Market Knowledge Competence ) Penciptaan Nilai

(Value Creation), terhadap Kiner ja Bisnis (Business Performance). Faktor yang

menjadi pembeda dalam penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah

dengan menggunakan sampel penelitian pada pengunjung di UMKM industri

pakaian dan dilaksanakan pada tahun 2019. Berdasarkan fenomena gap dan

Research gap tersebut peneliti mengangkat topik, “Kemampuan Jaringan

(Relational capabilities), Kompetensi Pengetahuan Pemasaran (Market

Knowledge Competence ) Penciptaan Nilai (Value Creation), terhadap Kinerja

Bisnis (Business Performance)”


1.2. Rumusan masalah

Berdasarkan fenomena yang ada maka muncul permasalahan yang akan di

bahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh Kemampuan Jaringan (Relational capabilities)

terhadap Penciptaan Nilai (Value Creation) UMKM industri pakaian

Semarang ?

2. Bagaimana pengaruh Kompetensi Pengetahuan Pemasaran (Market

Knowledge Competence ) terhadap Penciptaan Nilai (Value

Creation)UMKM industri pakaian Semarang ?

3. Bagaimana pengaruh Kemampuan Jaringan (Relational capabilities)

terhadap Kinerja Bisnis (Business Performance)UMKM industri pakaian

Semarang ?

4. Bagaimana pengaruh Penciptaan Nilai (Value Creation)terhadap Kinerja

Bisnis (Business Performance)UMKM industri pakaian Semarang ?

5. Bagaimana pengaruh Kompetensi Pengetahuan Pemasaran (Market

Knowledge Competence ) terhadap Kinerja Bisnis (Business

Performance)UMKM industri pakaian Semarang ?


1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan dari rumusan masalah tersebut maka tujuan penelitian ini

adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui dan menganalisis pengaruh Kemampuan Jaringan (Relational

capabilities) terhadap Penciptaan Nilai (Value Creation)UMKM industri

pakaian Semarang

2. Mengetahui dan menganalisis pengaruh Kompetensi Pengetahuan

Pemasaran (Market Knowledge Competence ) terhadap Penciptaan Nilai

(Value Creation)UMKM industri pakaian Semarang

3. Mengetahui dan menganalisis pengaruh Kemampuan Jaringan (Relational

capabilities) terhadap Kinerja Bisnis (Business Performance)UMKM

industri pakaian Semarang

4. Mengetahui dan menganalisis pengaruh Penciptaan Nilai (Value

Creation)terhadap Kinerja Bisnis (Business Performance)UMKM industri

pakaian Semarang

5. Mengetahui dan menganalisis pengaruh Kompetensi Pengetahuan

Pemasaran (Market Knowledge Competence ) terhadap Kinerja Bisnis

(Business Performance) UMKM industri pakaian Semarang


1.4. Manfaat Penelitian

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada

berbagai pihak, diantaranya sebagai berikut:

a. Manfaat Teoritis

Bagi industri dapat mempelajari apa saja yang dapat mempengaruhi

Kinerja Bisnis sehingga pelaku industri dapat meningkatkan Kemampuan

Jaringan (Relational capabilities), Kompetensi Pengetahuan Pemasaran

(Market Knowledge Competence ) Penciptaan Nilai (Value Creation) agar

usaha mereka mampu bersaing di tengah perkembangan pasar yang

semakin kompleks.

b. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi tambahan dalam daftar

pustaka serta memberikan informasi khususnya mengenai Kemampuan

Jaringan (Relational capabilities), Kompetensi Pengetahuan Pemasaran

(Market Knowledge Competence ) Penciptaan Nilai (Value Creation)

dalam meningkatkan kinerja pemasaran. Selain itu penelitian ini

diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam persoalan berdasarkan

teori yang telah diperoleh di bangku kuliah dengan kenyataan.


BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Kinerja Bisnis (Business Performance)

Menurut Mangkunegoro (2011) kinerja didefinisikan sebagai hasil kerja

secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan

tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Kinerja

merupakan catatan outcome yang dihasilkan dari fungsi suatu pekerjaan atau

kegiatan tertentu selama waktu tertentu. Simamora (2013) mengemukakan bahwa

kinerja adalah tingkat pada tahap mana karyawan mencapai persyaratan-

persyaratan pekerjaan. Kinerja merupakan catatan outcome yang dihasilkan dari

fungsi suatu pekerjaan atau kegiatan tertentu selama periode waktu tertentu..

Kinerja berhubungan erat dengan sikap dari karyawan terhadap pekerjaannya,

situasi kerja, kerjasama antara pimpinan dengan karyawan, dan antar sesama

karyawan.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja

merupakan hasil yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugasnya, baik

secara kualitas maupun kuantitas. Kinerja sangat dipengaruhi oleh perilaku

individu yang didasarkan pada faktor intern yaitu motivasi dan kecakapan serta

faktor ekstern yaitu faktor situasi atau kondisi lingkungan kerja. Untuk

menghasilkan kinerja yang baik, maka suatu organisasi membutuhkan sistem yang

baik pula. Sistem ini bukan hanya peraturan atau baku yang ada melainkan juga

melibatkan pihak-pihak yang terkait langsung yaitu sumber daya manusianya.


Salah satu sistem manajemen yang menawarkan suatu disiplin yang

memerlakukan intelektual sebagai aset yang dikelola adalah KM (Honeycutt,

2005).

Sedangkan pendapat Ferdinand (2000) ada tiga indikator yang di gunakan

untuk mengukur kinerja pemasaran yaitu pertama, volume penjualan, yaitu

volume atau jumlah penjualan produk yang berhasil di capai oleh perusahaan.

Kedua, pertumbuhan pelanggan, yaitu tingkat pertumbuhan pelanggan yang

berhasil di capai oleh perusahaan. Ketiga, kemampulabaan, yaitu besarnya

keuntungan penjualan produk yang berhasil di peroleh oleh perusahaan.

Penelitian ini melakukan pengukuran kinerja pemasaran menggunakan

indikator (Nuryakin, et.al, 2018)

a. volume penjualan,

b. pertumbuhan penjualan,

c. profitabilitas dan

d. pangsa pasar

2.1.2. Penciptaan Nilai (Value Creation)

Perusahaan harus mempunyai kompetensi yang istimewa (distinctive

competence), yang tidak dipunyai perusahaan lain Agar memperoleh keunggulan

bersaing,. Kompetensi tersebut diperoleh dari dua sumber utama, yaitu sumber

daya (resources) dan kemampuan-kemampuan (capabilities) tertentu (Udaya,

2013). Suatu perusahaan baru dapat memiliki keunggulan bersaing bila

perusahaan tersebut berhasil merancang dan mengimplementasikan strategi

penciptaan nilai atau value. Penciptaan value yang menimbulkan keunggulan


bersaing, dapat terjadi apabila para pesaing tidak menggunakan atau melakukan

strategi yang sama (Sofyan, 2013:1). Senada dengan pendapa tersebut Spulber

(2004) mengungkapkan keunggulan bersaing dapat diraih dengan penciptaan nilai

ekstra oleh perusahaan.

Memperkuat pendapat sebelumnya, Kanazawa (2006:) menemukan bahwa

penciptaan nilai (value creation) merupakan sumber yang sangat penting untuk

keunggulan bersaing. penciptaan nilai (value creation) di definisikan sebagai

manfaat yang dapat diciptakan melalui interaksi antara perusahaan dan konsumen,

pemegang saham, pegawai, supplier, distributor, dan masyarakat. Penciptaan nilai

(value creation) menurut Mckinnon, Gowland, & Worzel (200) merupakan suatu

transformasi dari hasil kreativitas dan inovasi melalui penemuan atau

pengembangan dalam menghasilkan suatu produk atau jasa di suatu perusahaan.

keunggulan bersaing dapat diraih dengan penciptaan nilai ekstra oleh perusahaan.

Udaya, et.al (2018) mengatakan bahwa keunggulan bersaing yang berkelanjutan

(sustainable competitive advantage) berkaitan dengan jumlah nilai yang

diciptakan perusahaan bagi para stakeholder, khususnya yang paling penting

konsumen. Menurut Porter, perusahaan menciptakan nilai yang unggul dari

pelanggannya melalui penawaran produk atau pelayanan dasar yang dihasilkan

dengan biaya paling rendah atau penawaran produk atau jasa dengan harga sedikit

lebih tinggi, sehingga nilai tambah diperoleh melebihi biaya tambahan yang

diperlukan untuk membuat produk atau jasa tersebut. Tindakan-tindakan strategis

ini dilakukan pada tingkat bisnis dalam bentuk strategi generic (generic strategis).
Pada dasarnya, ada tiga strategi generik, yaitu strategi untuk menjadi

pemimpin dalam biaya rendah; strategi untuk menciptakan produk-produk yang

unik untuk berbagai kelompok pelanggan atau melakukan diferensiasi; strategi

untuk menargetkan segmen yang sempit dalam pasar tertentu. Strategi bisnis yang

menekankan upaya untuk mempertahankan keunggulan bersaing berkelanjutan,

hanya mungkin dapat dilakukan bila perusahaan dapat diarahkan pada

pendiferensiasian produk atau jasa yang ditawarkan (Assauri, 2013)

Penciptaan nilai pelanggan dapat diukur dengan 2 dimensi yaitu hubungan

pelanggan dan inovasi Pemasaran. Kemampuan hubungan manajerial terdiri dari

indikator

e. kemampuan untuk mengidentifikasi kebutuhan pelanggan dalam hubungan

mereka dengan perusahaan,

f. memahami faktor-faktor yang terkait dengan hubungan pelanggan,

menyesuaikan hubungan dengan kebutuhan pelanggan dan

g. mengambil keuntungan dari hubungan untuk mengidentifikasi peluang

bisnis baru.

Sedangkan dimensi inovasi Pemasaran dibangun dari tiga indikator yaitu

a. penekanan yang menekankan adaptasi produk atau layanan ke preferensi

pelanggan,

b. produk dengan nilai tambah tinggi bagi pelanggan

c. penyelarasan kapabilitas perusahaan dengan kapabilitas produk karyawan

(Charir,et.al, 2017).
Pada penelitian ini indikator yang digunakan adalah sebagai berikut :

a. nilai tambah dari kualitas produk,

b. efisiensi biaya,

c. jaminan layanan produk, dan

d. respon pelanggan (Nuryakin,et.al, 2018).

2.1.3. Kemampuan Jaringan (Relational capabilities)

Jaringan pemasaran berperan sebagai perekat yang mengikat semua orang

atau kelompok dalam masyarakat atau organisasi untuk mengakses sumbersumber

keuangan, mendapatkan informasi, menentukan pekerjaan, merintis usaha, dan

meminimalkan biaya transaksi. Adanya jaringan pemasaran, kpercayaan dan

norma sosial memungkinkan terjalinnya kerja sama antar aktor pasar (Nirfadhilah,

2016). Jaringan pemasaran terdiri dari tiga dimensi utama, antara lain kepercayaan

(trust), norma dan jaringan (network) (Nirfadhilah, 2016). Rasa percaya adalah

dasar dari perilaku moral dimana modal sosial dibangun. Moralitas menyediakan

arahan bagi kerja sama dan koordinasi sosial dari semua aktivitas sehingga

manusia dapat hidup bersama dan berinteraksi satu dengan lainnya. Norma adalah

nilai bersama yang mengatur perilaku individu dalam suatu masyarakat atau

kelompok. Modal sosial sebagai norma informal yang bersifat instan yang dapat

mengembangkan kerja sama antar dua atau lebih individu. Sedangkan Hakansson

(1997) dalam menjelaskan bahwa jaringan pemasaran dapat diukur antara lain

dengan melakukan hubungan baik dan dekat, saling memberi informasi dan

memperluas jaringan pemasaran.


Parida, et al. (2017) mengemukakan lima komponen kemampuan jejaring

yang terdiri dari

1. kemampuan perusahaan mengatur/mengoordinir rekanan-rekanan yang

berkolaborasi dengan kita,

2. kemampuan relasi interpersonal perusahaan untuk mempengaruhi

rekanan,

3. memiliki informasi atau pengetahuan tentang rekanan perusahaan dan

kompetitor,

4. kemampuan komunikasi internal perusahaan dalam menyalurkan

pengetahuan yang didapatkan dari rekanan,

5. serta kemampuan perusahaan membangun hubungan baru.

Lima komponen kemampuan jejaring dari (Parida, et al. 2017) merupakan

pengembangan dari empat komponen yang ditawarkan oleh Walter, et al. (2006)

yaitu koordinasi, keahlian relasi, pengetahuan rekanan, dan komunikasi internal.

Dalam penelitian ini kemampuan jaringan diukur menggunakan indikator yang

sebelumnya digunakan dalam penelitian Nuryakin, et.al (2018) : diantaranya

adalah

1. Ikatan pribadi dengan pembeli,

2. Informasi tentang kualitas produk dengan standar internasional,

3. Hubungan jangka panjang berorientasi,

4. Hubungan saling menguntungkan dengan pelanggan.


2.1.4. Kompetensi Pengetahuan Pemasaran (Market Knowledge Competence)

Kompetensi pengetahuan merupakan suatu karakteristik yang mendasari

dari seseorang bagian dari kepribadian seseorang yang telah tertanam dan

berlangsung lama dan dapat memprediksi perilaku dalam berbagai tugas dan

situasi kerja. Penyebab terkait (casually related) berarti kompetensi menyebabkan

atau memprediksi perilaku dan kinerja (performance) (Spencer & Spencer, 2011).

Hatta, (2014) Kompetensi pengetahuan merupakan pengetahuan, sikap dan

ketrampilan yang terhubung satu dengan yang lainnya yang diperlukan pengusaha

untuk dilatih dan dikembangkan agar mampu menghasilkan kinerja terbaik dalam

mengelola usahannya agar sesuai dengan target pasar. Sedangkan menurut Mawu,

et.al (2018) manajemen pengetahuan pemasaran adalah sekumpulan proses yang

menciptakan, memisahkan dan menyimpan pengetahuan tentang pelanggan dan

pilihannya, pesaing, produk, saluran distribusi dan tren. Berdasarkan pengertian

para ahli maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan pemasaran merupakan

sekumpulan proses yang menciptakan, memisahkan dan menyimpan pengetahuan

tentang pelanggan dan pilihannya, pesaing, produk, saluran distribusi dan tren.

Kompetensi pengetahuan pasar juga sangat erat kaintannya dengan konsep

orientasi pasar dan kapabilitas pemasaran. Marketing know-how lebih pada aspek

prosedural, maka manajemen pengetahuan lebih mengarah pada pengertian

kondisi deklaratif. Pengetahuan deklaratif sendiri, lebih fokus pada pernyataan

fakta ataupun informasi, sedangkan pengetahuan prosedural lebih digambarkan

sebagai mengetahui bagaimana mengerjakan sesuatu. Istilah manajemen


pengetahuan pemasaran mengarah pada perpindahan, penyebaran, dan

penyimpanan pengetahuan pemasaran (Mawu, et.al, 2018).

Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur Kompetensi

Pengetahuan Pemasaran menurut penelitian yang dilakukan oleh Nuryakin, et.al

(2018) diantaranya adalah :

a. informasi pasar,

b. kecepatan respon dengan kondisi pasar,

c. ekspansi masuk pasar baru

d. pelanggan pendekatan untuk prestasi pasar

2.2. Pengembangan Hipotesis

2.2.1. pengaruh Kemampuan Jaringan (Relational capabilities) terhadap


Penciptaan Nilai (Value Creation)
Kemampuan relasional juga mempengaruhi pada penciptaan nilai produk

apa keinginan pelanggan melalui jaringan bisnis (Zohdi et al 2013;. Ngugi et al

2010;. Lee et al, 2001;.. Fazli et al 2013; Elango dan Pattnaik 2007). Kemampuan

relasional menurut penelitian yang dilakukan oleh Ngugi et al. (2010) dapat dibuat

dalam model kemampuan manusia relasional, kemampuan relasional teknologi,

manajerial kemampuan sistem relasional, dan kemampuan relasional budaya.

Menurut Lamprinopoulou dan Tregear (2011) kemampuan relasional adalah

bagian penting dari aset sosial.

Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan Thaghieh (2013)

menjelaskan adanya pengaruh positif dan signifikan antara kemampuan produsen

dalam menciptakan nilai produk dalam usaha bersaing dengan produk kompetitor.

Penelitan yang sejalan dikemukakan oleh Gutierez dan Cabanelas (2018) serta
Nuryakin, et.al (2018) dimana semakin luas jaringan pemasaran (networking),

maka akan sangat membantu perusahaan memahami produk apa yang diinginkan

konsumen. Oleh sebab itu, hipotesis yang diajukan adalah:

H1: kemampuan jaringan berpengaruh positif signifikan terhadap Penciptaan


Nilai (Value Creation)
2.2.2. pengaruh Kompetensi Pengetahuan Pemasaran (Market Knowledge
Competence ) terhadap Penciptaan Nilai (Value Creation)
Wirausahawan yang ingin bersaing dengan kompetitor perlu mengelola

kompetensi pengetahuan dengan baik agar mampu memaksimalkan ide dalam

usaha pengembangan produk baru. Hal ini menunjukan wirausahawan yang

mampu mengeksplorasi pengetahuan inovasi dapat menciptakan nilai yang unggul

dari pelanggannya melalui penawaran produk atau pelayanan dasar yang

dihasilkan dengan biaya paling rendah atau penawaran produk atau jasa dengan

harga sedikit lebih tinggi, sehingga nilai tambah diperoleh melebihi biaya

tambahan yang diperlukan untuk membuat produk atau jasa tersebut.

Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan Nuryakin, et.al

(2018) dimana semakin baik pengelolaan pengetahuan yang dimiliki produsen

makaa kan semakin baik strategi bisnis yang diciptakan sebagai bentuk penciptaan

nilai dalam upaya untuk mempertahankan keunggulan bersaing berkelanjutan.

Oleh sebab itu, hipotesis yang diajukan adalah:

H1: kemampuan jaringan berpengaruh positif signifikan terhadap Penciptaan


Nilai (Value Creation)
2.2.3. pengaruh Penciptaan Nilai (Value Creation)terhadap Kinerja Bisnis
(Business Performance)
O'Cass dan Sok (2013) menjelaskan bahwa kemampuan inovasi merupakan

kemampuan yang mendasari kemampuan penciptaan nilai, gaya manajemen,


perilaku karyawan dan pemasaran mendukung kemampuan inovasi. Wu dan Choi

(2004) menguji peran timbal balik nilai-nilai manajerial pada peningkatan

persaingan dan kinerja bisnis. Organisasi yang mempunyai kemampuan dalam

menciptakan nilai dapat dibentuk dari kemampuan organisasi dalam proses

kegiatan pemasaran. Sebuah organisasi yang melakukan orientasi pasar, dan

memiliki kemampuan untuk memimpin pasar memberikan efek yang kuat pada

kinerja yang unggul.

Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan Nuryakin, et.al

(2018) menjelaskan adanya pengaruh positif dan signifikan antara penciptaan nilai

terhadap Kinerja Bisnis . Penelitian yang sejalan dikemukakan oleh Killa (2017)

dimana Organisasi yang mampu menciptakan nilai yang terbentuk dari

kemampuan organisasi dalam proses kegiatan pemasaran akan berdampak positif

pada kinerja bisnis. Oleh sebab itu, hipotesis yang diajukan adalah:

H5: kemampuan jaringan berpengaruh positif signifikan terhadap Kinerja Bisnis

2.2.4. pengaruh Kompetensi Pengetahuan Pemasaran (Market Knowledge


Competence ) terhadap Kinerja Bisnis (Business Performance)
UKM dapat meningkatkan kemampuan daya saingnya melalui kompetensi

pengetahuan pemasaran dan orientasi kewirausahaan. Kompetensi pengetahuan

merupakan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang terhubung satu dengan

lainnya yang diperlukan pengusaha untuk dilatih dan dikembangkan agar mampu

menghasilkan kinerja terbaik dalam mengelola usahanya agar sesuai dengan target

pasar. Kompetensi pada aspek pengetahuan dan keterampilan mampu mendorong

pengusaha untuk menggunakan pengetahuan yang diterima untuk menghasilkan


produk berkualitas yang didukung dengan penggunaan teknologi dalam proses

pengerjaannya sehingga produk yang dihasilkan lebih banyak dan berkualitas.

Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan Charir, et.al (2017)

menjelaskan adanya pengaruh positif dan signifikan antara Kompetensi

Pengetahuan Pemasaran (Market Knowledge Competence ) terhadap Kinerja

Bisnis (Business Performance. Penelitan yang sejalan dikemukakan oleh

Nuryakin, et.al (2018) dimana pengetahuan pasar mampu menciptakan performa

bisnis yang positif . Oleh sebab itu, hipotesis yang diajukan adalah:

H4: kompetensi pengetahuan pasar berpengaruh positif signifikan terhadap


Kinerja Bisnis
2.2.5. Hubungan Kemampuan Jaringan terhadap Kinerja Bisnis

Jejaring pemasaran yang baik dan luas akan sangat membantu perusahaan

dalam memasarkan produknya bahkan hingga ke luar negeri. Hal tersebut mampu

membuat kinerja pemasaran ekspor menjadi meningkat. Jejaring pemasaran yang

dibentuk oleh perusahaan, dapat membantu perusahaan untuk lebih dapat

mengenal pasar dan mebentuk sebuah saluran distribusi. Dengan begitu,

perusahaan mampu memasarkan produk melalui jaringan kerjanya. Semakin luas

jejaring pemasaran sebuah perusahaan, semakin luas pula kesempatan perusahaan

memasarkan produk dan meningkatkan pemasaran ekspornya. Perusahaan akan

lebih mudah mengenali pasar dan saluran distribusinya melalui jejaring pemasaran

yang telah diciptakan oleh perusahaan tersebut. Dengan begitu, perusahaan

tersebut dapat dengan mudah memanfaatkan jejaring kerjanya dalam proses

pemasaran produk. Dengan semakin luas jejaring yang dimiliki oleh perusahaan
maka semakin besar kesempatan perusahaan dalam memasarkan produknya dan

meningkatkan ekspornya (Rohmaniyah dan Nurhayati 2017).

Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan Sidiq dan

Wijayanti (2018) menjelaskan adanya pengaruh positif dan signifikan antara

jaringan pemasaran terhadap Kinerja Bisnis . Penelitan yang sejalan dikemukakan

oleh Rohmaniyah dan Nurhayati (2017) dimana semakin luas jaringan pemasaran

(networking), maka akan sangat membantu perusahaan dalam memasarkan

produknya sehingga akan berdampak pada tingginya Kinerja Bisnis tersebut.

Oleh sebab itu, hipotesis yang diajukan adalah:

H5: kemampuan jaringan berpengaruh positif signifikan terhadap Kinerja Bisnis


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah

Explanatory research atau penelitian yang bersifat menjelaskan. Metode ini

berusaha untuk menjelaskan suatu kedudukan variabel variabel yang diteliti serta

pengaruh dari variabel satu dengan yang lain (Sugiyono, 2015). Tujuan penelitian

ini adalah untuk menguji adanya hubungan antar variabel independent maupun

dependent serta mengidentifikasi masalah. Hubungan yang dijelaskan mencakup

variabel Kemampuan Jaringan (X1), Market Knowledge Competence (X2), Value

Creation (Y1), dan Kinerja Bisnis (Y2).

3.2. Populasi dan Sampel

3.2.2. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2010).Dalam

penelitian ini yang menjadi populasi adalah produsen industri UMKM industri

pakaian Semarang.

3.2.3. Sampel

Menurut Sugiyono, (2013) “sample adalah bagian dari jumlah dan

karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Metode pengambilan

sampelnya menggunakan accidental sampling yaitu metode pengambilan sampel


secara kebetulan yang dijumpai dimana dan kapan saja tetapi responden sesuai

kriteria sebagai sampel. Jadi teknik sampling yang digunakan penelitian ini adalah

Non Probability Sampling dimana sampel secara acak pengambilannya, tidak

semua anggota populasi dalam posisi yang sama-sama memiliki peluang untuk

dipilih menjadi sampel.

Sampel pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus

proporsional, karena jumlah populasi yang tidak menentu dan tidak dapat di

prediksi setiap harinya (Lemeshow, 1997). Berikut rumus perhitungan sampel

yang digunakan dalam penelitian ini.

Dimana :

n = jumlah sampel

Z21-α/2 = Z score pada 1 – α/2 tingkat kepercayaan (1,96)

p = estimasi proporsi (0,5)

d = presisi (0,01 dengan tingkat kepercayaan 95%)

Maka perhitungan sampel penelitian ini adalah sebagai berikut :

1,96 2 x 0,5 x 0,5


n=
0.102

= 0,9604
0,01

= 96,01

(dibulatkan menjadi 100 agar


penelitian lebih fit)
Sampel yang didapat dari perhitungan diatas maka jumlah sampel dalam

penelitian adalah 100 responden. Jumlah responden sudah mempresentasikan

populasi dan memenuhi standar minimum dari alat statistik yang digunakan dalam

penelitian ini.

3.3. Sumber dan Jenis Data

Penelitian ini memperoleh sumber data penelitian dari data primer yaitu

data yang dikumpulkan oleh peneliti sendiri dan data sekunder yaitu data yang

dikumpulkan oleh peneliti lain atau organisasi.

3.3.1. Primer

Menurut Sugiyono (2015) Data primer yaitu data yang diperoleh secara

langsung melalui sekumpulan data yang dirangkum khusus dan berhubungan

langsung dengan permasalahan yang diteliti. Sumber data primer merupakan data

yang diperoleh dari responden. Responden dalam penelitian ini adalah produsen

yang menjalankan usaha pada UMKM industri pakaian Semarang.

3.3.2. Sekunder

Menurut Nasution (2009) Data Sekunder adalah data yang diperoleh

melalui data yang telah diteliti dan dikumpulkan oleh pihak peneliti sebelumnya

dan berkaitan dengan permasalahannya. Data sekunder diperoleh dari jurnal-jurnal

penelitian, artikel-artikel, majalah, buku ilmiah, serta web organisasi tersebut yang

ada hubungannya dengan penelitian.

3.4. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah menggunakan

kuisioner .yang didalamnya berisi daftar pertanyaan- pertanyaan yang ditujukan


kepada seseorang yang dituju. Cara penyebaran kuisioner ini melalui Google form

yang akan ditujukan kepada mahasiswa unissula secara tidak langsung. Kelebihan

menggunakan google form adalah dapat menjangkau responden lebih luas, selain

itu juga dapat menghemat biaya, dan efektif . Skala pengukuran yang digunakan

untuk menyatakan tanggapan dari para responden menggunakan skala Likert.

Kriteria pengisian kuesioner dengan skala Likert adalah sebagai berikut:

a. Sangat Setuju (SS)

b. Setuju (S)

c. Netral (N)

d. Tidak Setuju (TS)

e. Sangat Tidak Setuju (STS)

Setiap poin jawaban memiliki skor yang berbeda – beda, yaitu untuk jawaban

SS memiliki skor 5, jawaban S memiliki skor 4, jawaban N memiliki skor 3,

jawaban TS memiliki skor 2, jawaban STS memiliki skor 1. Metode ini

digunakan agar peneliti dapat mengetahui dan memiliki data mengenai penilaian

yang diberikan oleh setiap responden dan nantinya dapat ditarik kesimpulan.

3.5. Variabel dan Indikator

Tabel 3. 1.
Variabel dan Indikator
No Variabel Indikator Skala
1. Kemampuan Jaringan a. informasi pasar, 1-5
merupakan perekat yang b. kecepatan respon dengan Keterangan :
mengikat semua orang atau kondisi pasar, Skor 1 : Sangat Tidak Setuju
kelompok dalam c. ekspansi masuk pasar (STS)
masyarakat untuk baru Skor 2 : Tidak Setuju (TS)
mengakses sumber d. pelanggan pendekatan Skor 3 : Netral (N)
keuangan, mendapatkan untuk prestasi pasar Skor 4 : Setuju (S)
informasi, menentukan Nuryakin, et.al (2018) Skor 5 : Sangat Setuju (SS)
pekerjaan, merintis usaha,
dan meminimalkan biaya
transaksi
2 Market Knowledge a. informasi pasar, 1–5
Competence merupakan b. kecepatan respon Keterangan :
sekumpulan proses yang dengan kondisi pasar, Skor 1 : Sangat Tidak Setuju
menciptakan, memisahkan c. ekspansi masuk pasar (STS)
dan menyimpan Skor 2 : Tidak Setuju (TS)
baru
pengetahuan tentang Skor 3 : Netral (N)
d. pelanggan pendekatan
pelanggan dan pilihannya, Skor 4 : Setuju (S)
pesaing, produk, saluran untuk prestasi pasar Skor 5 : Sangat Setuju (SS)
distribusi dan tren Nuryakin, et.al (2018)

4 Value Creation adalah suatu e. nilai tambah dari 1–5


transformasi dari hasil kualitas produk, Keterangan :
kreativitas dan inovasi melalui f. efisiensi biaya, Skor 1 : Sangat Tidak Setuju
penemuan atau pengembangang. jaminan layanan (STS)
dalam menghasilkan suatu Skor 2 : Tidak Setuju (TS)
produk, dan
produk atau jasa di suatu Skor 3 : Netral (N)
perusahaan
h. respon pelanggan Skor 4 : Setuju (S)
(Charir,et.al, 2017).
Skor 5 : Sangat Setuju (SS)

5 Kinerja Bisnis adalah hasil a. volume penjualan, 1–5


yang dicapai seseorang b. pertumbuhan Keterangan :
dalam melaksanakan penjualan, Skor 1 : Sangat Tidak Setuju
tugasnya, baik secara c. profitabilitas dan (STS)
kualitas maupun kuantitas Skor 2 : Tidak Setuju (TS)
d. pangsa pasar
Skor 3 : Netral (N)
(Nuryakin, et.al, 2018) Skor 4 : Setuju (S)
Skor 5 : Sangat Setuju (SS)
3.6. Teknik Analisis

Program yang dilakukanuntuk menganalisis data denganmenggunakan

program software SPSS 22.Penggunaan software ini mempermudah peneliti untuk

mengetahui apakah hipotesis yang dibuat dalam penelitian dapat diterima atau

ditolak.

3.6.1. Uji Instrumen

1. Uji Validitas

Menurut Heale dan Twycross (2015) Uji Validitas digunakan untuk

mengetahui sejauh mana suatu konsep diukur secara akurat dalam studi

kuantitatif. Selain itu Uji validitas dilakukan untuk mengukur sah atau

tidak validnya suatu kuesioner. Uji validitas dilakukan denggan

menggunakan program SPSS. Teknik yang digunakan dalam pengujian

adalah korelasi Bivariate Pearson  (Produk Momen Pearson). Analisis ini

dilakukan dengan cara mengkorelasikan atau menghubungkan masing-

masing skor item dengan skor total. Skor total merupakan penjumlahan

dari semua item. Item-item pertanyaan yang berkorelasi signifikan dengan

skor total menunjukkan item-item tersebut mampu memberikan dukungan

dalam mengungkap apa yang ingin diungkap. Jika r hitung ≥ r tabel (uji 2

sisi dengan sig. 0,05) maka instrumen atau item-item pertanyaan

menghasilkan nilai signifikan terhadap skor total (dikatakan valid).

2. Uji Reliabilitas

Menurut Heale dan Twycross (2015) Uji Reliabilitas berkaitan dengan

konsistensi ukuran. Pengujian reliabilitas digunakan untuk menilai


konsistensi pada objek dan data, apakah instrument yang digunakan

beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data

yang sama. Peneliti menggunakan uji reabilitas alpha Cronbach’s dengan

SPSS.

3.6.2. Uji Asumsi Klasik

Uji Asumsi klasik digunakan untuk mengenali dan mengetahui

penyimpangan data yang didapatkan sebagai berikut:

1. Uji Multikolinieritas

Uji Multikolinearitas muncul ketika ditemukan adanya korelasi antar dua

variabel bebas (Vatcheva, 2016). Kegunaan Uji Multikolinearitas adalah

untuk melihat ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik

multikolinearitas yaitu adanya hubungan linear antar variabel independen

dalam model regresi.

Prasyarat yang harus dipenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya

multikolinearitas. untuk mengetahuiada tidaknya multikolinieritas dapat

dilakukan dengan menganalisis nilai toleransi serta nilai variance Inflation

factor (VIF). JIka Nilai toleransi rendah dan nilai VIF tinggi maka

menunjukkan adanya kolinieritas atau hubungan yang tinggi, jika VIF <10

maka tidak terjadi multikolinieritas, tetapi jika nilai VIF>10 maka terjadi

multikolinieritas.

2. Uji Heterokedastisitas

Menurut Greene (2002) Kegunaan Uji heteroskedastisitas adalah untuk

melihat apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari


residual untuk semua pengamatan pada model regresi linier.Salah satu

asumsi yang utama dari regresi adalah bahwa varian dari kesalahan adalah

konstan di seluruh pengamatan. Biasanya, residu diplot untuk menilai

asumsi ini. Jika varians dari residual berbeda disebut heteroskedastisitas

atau memiliki varian tidak konstan Heteroskedastisitas bisa dilihat melalui

grafik plot dan uji statistik. Idealnya, residu secara acak tersebar di sekitar

nol (garis horizontal) menyediakan distribusi merata. Artinya, jika

menunjukan tidak ada pola yang jelas serta titik titiknya menyebar di atas

dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka terbukti tidak terjadi

heterokedastisitas (Osborne & Waters, 2002).Uji statistik yang digunakan

pada penelitian adalah uji glejser.Uji glejser dilakukan dengan

meregresikan nilai absolut residual terhadap variabel independen. Apabila

sig kurang dari 0,05 maka terjadi heteroskedastisitas. Sedangkan jika sig

lebih dari 0,05 maka disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas.

3. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah model regresi yang

digunakan terdapat gangguan atau tidak. Tujuan dari Uji normalitas adalah

untuk menguji apakah suatu data berdistribusi normal atau tidak.Model

yang baik dalam regresi adalah memiliki distribusi yang normal(Osborne &

Waters, 2002).Uji normalitas adalah bagian penting yang diperlukan untuk

mengamati distribusi data.Uji normalitas memiliki dua kondisi yang

tergantung pada distribusi data baik normal atau tidak normal.Uji

normalitas dalam penelitian ini menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov


(K-S), yang digunakan untuk menunjukkan kategori distribusi data

tergantung pada signifikansi p-value (Sig.).Fungsi p-value (Sig.) adalah

untuk membandingkan antara distribusi kumulatif dengan distribusi normal

kumulatif yang diharapkan dari data.Apabila angka Sig. lebih besar atau

sama dengan 0,05 maka data tersebut berdistribusi normal akan tetapi

apabila kurang dari 0,05 maka data tersebut tidak berdistribusi normal (Ito,

2014)

3.6.3. Uji Hipotesis

1. Analisis Regresi Linier Berganda

Pada penelitian ini, uji regresi linier berganda digunakan untuk menguji

pengaruh Kemampuan Jaringan, Market Knowledge Competence , , Value

Creation, Kinerja Bisnis pada Mahasiswa Manajemen FE Unissula

Angkatan 2016.

Model Matematis Penelitian adalah sebagai berikut :

Y1 = b1.X1 + b3.X2 +b5.X3 +e1

Y2 = b2.X1 + b4.X2 +b6.X3Y1 +b7.Y1.+ e2

Keterangan :
Y2 : Kinerja Bisnis
Y1 : Value Creation
X2 : Market Knowledge Competence
X1 : Kemampuan Jaringan
b1,b2,b3,b4,b5 : Koefisien variabel
e1, e2 : error
2. Uji t

Uji t dilakukan untuk menguji hubungan secara parsial untuk mengukur

tingkat signifikan antara variable bebas terhadap variable terikat, rumusan

hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :


Ho : artinya tidak ada pengaruh yang signifikan secara parsial

antara variable bebas terhadap variable terikat

Ha :artinya ada pengaruh yang signifikan secara parsial antara

variable bebas terhadap variable terikat

Pengambilan keputusan : apabila sig t < 0,05 maka Ho ditolak(Ha

diterima).

3. Uji F (Uji Model Regresi)

Uji F dilakukan untukmengetahui model estimasi yang kita gunakan layak

atau tidak. Kata layak yaitu untuk dapat menjelaskan variabel independen

terhadap dependen.

Ho : artinya tidak ada pengaruh yang signifikan secara bersama-

sama antara variable bebas terhadap variable terikat

Ha :artinya ada pengaruh yang signifikan secara bersama-sama

antara variable bebas terhadap variable terikat

Pengambilan keputusan : jika sig F < 0,05 ; dikatakan model tersebut

layak, maka Ho ditolak(Ha diterima).

4. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R²) digunakan untuk mengukur dan melihat

seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi dependent

variable.Nilai koefisien determinasi adalah antara nol sampai satu

(0<R²<1).Nilai R² yang kecil berarti kemampuan independent variable

dalam menjelaskan variasi dependent variable sangat terbatas.Nilai yang

mendekati satu maka berarti independent variable memberikan hampir


semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi dependent

variable.

5. Uji Sobel Test

Uji sobel test merupakan uji yang digunakan untuk mengetahui apakah

pakah hubungan yang melalui sebuah variabel mediasi  secara signifikan

mampu sebagai mediator dalam hubungan tersebut. . Uji ini dikembangkan

oleh sobel (1982) yang kemudian dikenal dengan uji sobel (Sobel test).

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan uji sobel test online. Variabel

mampu dikatakan intervening jika test statistiknya pada two tailed

profitability nilai signifikan < 0,05.