Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGAN DIAGNOSA POST PARTUM

Disusun oleh:

Hanif Furqon Mustofa

P27220018137

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS

PROGRAM SARJANA TERAPAN

POLTEKKES KEMENKES SURAKARTA

2020
LAPORAN PENDAHULUAN

DENGAN DIAGNOSA POST PARTUM

A. Definisi
Post partum adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan kembali
sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil. Lama masa nifas
ini yaitu 6 – 8 minggu (Mochtar, 1998). Akan tetapi seluruh alat genital
akan kembali dalam waktu 3 bulan. Selain itu masa nifas / purperium adalah
masa partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu (Dian S, 2012).

Post patum spontan adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan (37 s.d. 42 minggu), lahi spontan dengan presentasi
belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik
pada ibu maupun pada janin (Dian S, 2012).

Post portum / masa nifas dibagi dalam 3 periode :


1. Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri
dan berjalan-jalan.
2. Purperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia
yang lamanya mencapainya 6 – 8 minggu.
3. Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna terutama bila selama hamil / waktu persalinan mempunyai
komplikasi (Dian S, 2012).

B. Klasifikasi
Tahapan yang terjadi pada masa nifas adalah sebagai berikut (Hafifah,
2011).
1. Priode immediate post partum
Masa segera setelah plasenta lahir sampai 24 jam. Pada masa ini sering
terdapat masalah, misalnya perdarahan karena atonia uteri. Oleh karena
itu bidan harus teratur melakukan pemeriksaan kontraksi uterus,
pengeluaran lochea, teknan darah, dan suhu.
2. Priode early post partum antara 24 jam sampai 1 minggu
Pada fase ini dapat memastikan involasi uteri dalam keadaan normal,
tidak ada perdarahan, lochea tidak berbau busuk, tidak demam, ibu
cukup mendapatkan makan dan cairan, serta ibu dapat menyusui dengan
baik.
3. Periode late post partum antara 1 minggu sampai 5 minggu
Pada periode ini bidan tetap melakukan perawatan dan pemeriksaan
sehari-hari serta konseling keluarga berencana.

C. Etiologi
Penyebab persalinan belum pasti diketahui, namun beberapa teori
menghubungkan dengan faktor hormonal, struktur rahim, sirkulasi rahim,
pengaruh tekanan pada saraf dan nutrisi (Hafifah, 2011).
1. Teori penurunan hormone
1-2 minggu sebelum partus mulai, terjadi penurunan hormone
progesterone dan estrogen. Fungsi progesterone sebagai penenang otot
–otot polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah
sehingga timbul his bila progesterone turun.
2. Teori placenta menjadi tua
Turunnya kadar hormone estrogen dan progesterone menyebabkan
kekejangan pembuluh darah yang menimbulkan kontraksi rahim.
3. Teori distensi rahim
Rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan iskemik
otot-otot rahim sehingga mengganggu sirkulasi utero-plasenta.
4. Teori iritasi mekanik
Di belakang servik terlihat ganglion servikale(fleksus franterrhauss).
Bila ganglion ini digeser dan ditekan misalnya oleh kepala janin akan
timbul kontraksi uterus.
5. Induksi partus
Dapat pula ditimbulkan dengan jalan gagang laminaria yang dimasukan
dalam kanalis servikalis dengan tujuan merangsang pleksus
frankenhauser, amniotomi pemecahan ketuban), oksitosin drip yaitu
pemberian oksitosin menurut tetesan perinfus.

D. Manifestasi Klinis
1. Perubahan fisik
a. Involusi uterus
Adalah proses kembalinya alat kandungan uterus dan jalan lahir
setelah bayi dilahirkan sehingga mencapai keadaan seperti sebelum
hamil. Setelah plasenta lahir, uterus merupakan alat yang keras,
karena kontraksi ini menyebabkan rasa nyeri/mules-mules yang
disebut after pain post partum terjadi pada hari ke 2-3 hari.
b. Kontraksi uterus
Intensistas kontraksi uterus meningkat setelah melahirkan berguna
untuk mengurangi volume cairan intra uteri. Setelah 1 – 2 jam post
partum, kontraksi menurun stabil berurutan, kontraksi uterus
menjepit pembuluh darah pada uteri sehingga perdarahan setelah
plasenta lahir dapat berhenti.
c. After pain
Terjadi karena pengaruh kontraksi uterus, normal sampai hari ke
-3. After pain meningkat karena adanya sisa plasenta pada cavum
uteri, dan gumpalan darah (stoll cell) dalam cavum uteri .
d. Endometrium
Pelepasan plasenta dan selaput janin dari dinding rahim terjadi
pada stratum spunglosum, bagian atas setelah 2 – 3 hari tampak
bahwa lapisan atas dari stratum sponglosum yang tinggal menjadi
nekrosis keluar dari lochea. Epitelisasi endometrium siap dalam 10
hari, dan setelah 8 minggu endometrium tumbuh kembali.
Epitelisasi tempat plasenta + 3 minggu tidak menimbulkan jaringan
parut, tetapi endometrium baru, tumbuh di bawah permukaan dari
pinggir luka.
e. Ovarium
Selama hamil tidak terjadi pematangan sel telur. Masa nifa terjadi
pematangan sel telur, ovulasi tidak dibuahi terjadi mentruasi, ibu
menyusui mentruasinya terlambat karena pengaruh hormon
prolaktin.
f. Lochea
Adalah cairan yang dikeluarkan dari uterus melalui vagina dalam
masa nifas, sifat lochea alkalis sehingga memudahkan kuman
penyakit berkembang biak. Jumlah lebih banyak dari pengeluaran
darah dan lendir waktu menstruasi, berbau anyir, tetapi tidak busuk.
Lochea dibagi dalam beberapa jenis :
1) Lochea rubra
Pada hari 1 – 2 berwarna merah, berisi lapisan decidua, sisa-
sisa chorion, liguor amni, rambut lanugo, verniks caseosa sel
darah merah.
2) Lochea sanguinolenta
Dikeluarkan hari ke 3 – 7 warna merah kecoklatan bercampur
lendir, banyak serum selaput lendir, leukosit, dan kuman
penyakit yang mati.
3) Lochea serosa
Dikeluarkan hari ke 7 – 10, setelah satu minggu berwarna agak
kuning cair dan tidak berdarah lagi.
4) Lochea alba
Setelah 2 minggu, berwarna putih jernih, berisi selaput lendir,
mengandung leukosit, sel epitel, mukosa serviks dan kuman
penyakit yang telah mati.
g. Serviks dan vagina
Beberapa hari setelah persalinan, osteum externum dapat dilalui
oleh 2 jari dan pinggirnya tidak rata (retak-retak). Pada akhir
minggu pertama hanya dapat dilalui oleh 1 jari saja. Vagina saat
persalinan sangat diregang lambat laun mencapai ukuran normal
dan tonus otot kembali seperti biasa, pada minggu ke-3 post
partum, rugae mulai nampak kembali.
h. Perubahan pada dinding abdomen
Hari pertama post partum dinding perut melipat dan longgar karena
diregang begitu lama. Setelah 2 – 3 minggu dinding perut akan
kembali kuat, terdapat striae melipat, dastosis recti abdominalis
(pelebaran otot rectus/perut) akibat janin yang terlalu besar atau
bayi kembar.
i. Perubahan sistem urinaria
Fungsi ginjal normal, dinding kandung kemih memperlihatkan
oedema dan hiperemi karena desakan pada waktu janin dilahirkan.
Kadang-kadang oedema trigonum, menimbulkan obstruksi dari
uretra sehingga terjadi retensio urin. Pengaruh laserasi/episiotomi
yang menyebabkan refleks miksi menurun.
j. Perubahan sistem gastro intestina
Terjadi gangguan rangsangan BAB atau konstipasi 2 – 3 hari post
partum. Penyebabnya karena penurunan tonus pencernaan, enema,
kekakuan perineum karena episiotomi, laserasi, haemorroid dan
takut jahitan lepas.
k. Perubahan pada mammae
Hari pertama bila mammae ditekan sudah mengeluarkan colustrum.
Hari ketiga produksi ASI sudah mulai dan jaringan mammae
menjadi tegang, membengkak, lebut, hangat dipermukaan kulit
(vasokongesti vaskuler).
l. Laktasi
Pada waktu dua hari pertama nifas keadaan buah dada sama dengan
kehamilan. Buah dada belum mengandung susu melainkan
colustrum yang dapat dikeluarkan dengan memijat areola mammae.
Colustrum yaitu cairan kuning dengan berat jenis 1.030 – 1,035
reaksi alkalis dan mengandung protein dan garam, juga euglobin
yang mengandung antibodi bayi yang terbaik dan harus dianjurkan
jika tidak ada kontra indikasi.
m. Temperatur
Temperatur pada post partum dapat mencapai 38 0C dan normal
kembali dalam 24 jam. Kenaikan suhu ini disebabkan karena
hilangnya cairan melalui vagina ataupun keringat, dan infeksi yang
disebabkan terkontaminasinya vagina.
n. Nadi
Umumnya denyut nadi pada masa nifas turun di bawah normal.
Penurunan ini akibat dari bertambahnya jumlah darah kembali pada
sirkulasi seiring lepasnya placenta. Bertambahnya volume darah
menaikkan tekanan darah sebagai mekanisme kompensasi dari
jantung dan akan normal pada akhir minggu pertama.
o. Tekanan Darah
Keadaan tensi dengan sistole 140 dan diastole 90 mmHg baik saat
kehamilan ataupun post partum merupakan tanda-tanda suatu
keadaan yang harus diperhatikan secara serius.
p. Hormon
Hormon kehamilan mulai berkurang dalam urine hampir tidak ada
dalam 24 hari, setelah 1 minggu hormon kehamilan juga menurun
sedangkan prolaktin meningkat untuk proses laktasi.
2. Adaptasi psikologis ibu dalam menerima perannya sebagai orang tua.
Setelah melahirkan secara bertahap.
a. Fase Taking in
Terjadi pada hari pertama dan kedua setelah melahirkan, ibu
membutuhkan perlindungan dan pelayanan, memfokuskan energy
pada bayi yang menyebabkan persepsi penyempitan dan
kemampuan menerima informasi kurang.
b. Fase Taking hold
Mulai dari hari ketiga setelah melahirkan. Pada minggu keempat
sampai kelima ibu siap menerima peran barunya dalam belajar
tentang hal-hal baru.
c. Fase Letting go
Dimulai sekitar minggu kelima setelah melahirkan. Anggota
keluarga telah menyesuaikan diri dengan lahirnya bayi (Linda,
2010).

E. Patofisiologi
Dalam masa post partum atau masa nifas, alat-alat genetalia interna maupun
eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum
hamil. Perubahan-perubahan alat genetal ini dalam keseluruhannya disebut
“involusi”. Disamping involusi terjadi perubahan-perubahan penting lain
yakni memokonsentrasi dan timbulnya laktasi yang terakhir ini karena
pengaruh hormon laktogen dari kelenjar hipofisis terhadap kelenjar-kelenjar
mamae.

Otot-otot uterus berkontraksi segera post psrtum, pembuluh-pembuluh darah


yang ada antara nyaman otot-otot uretus akan terjepit. Proses ini akan
menghentikan pendarahan setelah plasenta lahir. Perubahan-perubahan yang
terdapat pada serviks ialah segera post partum bentuk serviks agak
menganga seperti corong, bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri terbentuk
semacam cincin. Peruabahan-perubahan yang terdapat pada endometrium
ialah timbulnya trombosis, degenerasi dan nekrosis ditempat implantasi
plasenta pada hari pertama endometrium yang kira-kira setebal 2-5 mm itu
mempunyai permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua dan selaput
janin regenerasi endometrium terjadi dari sisa-sisa sel desidua basalis yang
memakai waktu 2 sampai 3 minggu. Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis
serta fasia yang merenggang sewaktu kehamilan dan pertu setelah janin lahir
berangsur-angsur kembali seperti sedia kala (Hafifah, 2011).

F. Pathway

(Nitasari, 2015)

G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan post partum meliputi :
1. Pemerikasaan umum: tensi, nadi, keluhan dan sebagainya
2. Keadaan umum: TTV, selera makan, dll
3. Payudara: air susu, puting
4. Dinding perut, perineum, kandung kemih, rectum
5. Sekret yang keluar atau lochea
6. Keadaan alat kandungan
7. Hemoglobin, hematokrit, leukosit, ureum
8. Ultra sosografi untuk melihat sisa plasenta
(Hafifah, 2011).

H. Komplikasi Post Partum


1. Perdarahan
Perdarahan yaitu darah yang keluar lebih dari 500-600 ml dalam masa
24 jam setelah anak lahir. Perdarahan dibagi menjadi dua yaitu:
a. Perdarahan post partum primer yaitu pada 24 jam pertama akibat
antonia uteri, retensio plaseta, sisa plasenta, laserasi jalan lahir dan
involusio uteri.
b. Perdarahan post partum sekunder yaitu terjadi setelah 24 jam.
Penyebab perdarahan sekunder adalah sub involusio uteri, retensio
sisa plasenta, infeksi postpartum.

Pada trauma atau laserasi jalan lahir bisa terjadi robekan perineum,
vagina serviks, forniks dan rahim. Keadaan ini dapat menimbulkan
perdarahan yang banyak apabila tidak segera diatasi. Robekan jalan
lahir atau ruptur perineum sekitar klitoris dan uretra dapat menimbulkan
perdarahan hebat dan mungkin sangat sulit untuk diperbaiki. Episiotomi
dapat menyebabkan perdarahan yang berlebihan jika mengenai arteri
atau vena yang besar, episitomi luas, ada penundaan antara episitomi
dan persalinan, atau ada penundaan antara persalinan dan perbaikan
episitomi.

2. Infeksi
Infeksi masa postpartum (puerpuralis) adalah infeksi pada genitalia
setelah persalinan, ditandai dengan kenaikan suhu hingga mencapai
38ºC atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan
dengan mengecualikan 24 jam pertama. Infeksi postpartum mencakup
semua peradangan yang disebabkan oleh masuk kuman-kuman atau
bakteri ke dalam alat genetalia pada waktu persalinan dan postpartum.
Infeksi postpartum dapat disebabkan oleh adanya alat yang tidak steril,
luka robekan jalan lahir, perdarahan, pre-eklamsia, dan kebersihan
daerah perineum yang kurang terjaga. Infeksi masa postpartum dapat
terjadi karena beberapa faktor pemungkin, antara lain pengetahuan yang
kurang, gizi, pendidikan, dan usia.
a. Pengetahuan
Pengetahuan adalah segala apa yang diketahui berdasarkan
pengalaman yang didapatkan oleh setiap manusia. Pengalaman
yang didapat dapat berasal dari pengalaman sendiri maupun
pengalaman yang didapat dari orang lain.
b. Pendidikan
Tingkat pendidikan ibu yang rendah akan mempengaruhi
pengetahuan ibu karena ibu yang mempunyai latar
belakangpendidikan lebih rendah akan sulit untuk menerima
masukan dari pihak lain.
c. Usia
Usia berpengaruh terhadap imunitas. Penyembuhan luka yang
terjadi pada orang tua sering tidak sebaik pada orang yang muda.
Hal ini disebabkan suplai darah yang kurang baik, status nutrisi
yang kurang atau adanya penyakit penyerta seperti diabetes
melitus. Sehingga penyembuhan luka lebih cepat terjadi pada usia
muda dari pada usia tua.
d. Gizi
Proses fisiologi penyembuhan luka perineum bergantung pada
tersedianya protein, vitamin (terutama vitamin A dan C), dan
mineral renik zink dan tembaga. Kolagen adalah protein yang
terbentuk dari asam amino yang diperoleh fibroblas dari protein
yang dimakan. Vitamin C dibutuhkan untuk mensintesis kolagen.
Vitamin A dapat mengurangi efek negatif steroid pada
penyembuhan luka (Siska S, 2019)

I. Penatalaksanaan
1. Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang
selama 8 jam pasca persalian. Kemudian boleh miring-miring ke kanan
dan kiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan tromboembloli. Pada
hari ke 2 diperbolehkan duduk, hari ke 3 jalan-jalan dan hari ke 4
sampai sudah diperbolehkan pulang.
2. Diet
Makanan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori, sebaiknya makan-
makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan
buah-buahan
3. Miksi
Hendaknya kencing akan dilakukan sendiri akan secepatnya. Bila
kandung kemih panuh dan sulit tenang, sebaiknya dilakukan katerisasi.
Dengan melakukan mobilisasi secepatnya tak jarang kesulitan miksi
dapat diatasi.
4. Defekasi
Buang air besar harus dilakukan 3 sampai 4 hari pasca persalinan. Bila
terjadi opstipasi dan timbul koprostase hingga skibala tertimbun di
rectum, mungkin terjadi febris. Lakukan klisma atau berikan laksan per
oral atatupun per rektal. Dengan melakukan mobilisasi sedini mungkin
tidak jarang kesulitan defekasi dapat diatasi.
5. Perawatan payudara
a. Dimulai sejak wanita hamil supaya puting susu lemas, tidak keras
dan kering sebagai persiapan untuk menyusui bayi.
b. Jika puting rata sejak hamil ibu dapat menarik-narik puting susu.
Ibu harus tetap menyusui agar puting selalu sering tertarik.
6. Puting lecet
Puting lecet dapat disebabkan cara menyusui atau perawatan payudara
tidak benar dan infeksi monilia. Penatalaksanaan dengan tekhnik
menyusui yang benar, puting harus kering saat menyusui, puting diberi
lanolin. Monilia diterapi dengan menyusui pada payudara yang tidak
lecet. Bila lecetnya luas menyusuinya ditunda 24 jam sampai 48 jam air
susu ibu dikeluarkan dengan atau pompa.
7. Payudara bengkak
Payudara bengkak disebabkan pengeluaran air susu yang tidak lancar
karena bayi tidak cukup sering menyusui atau terlalu cepat disapih.
Penatalaksanaan dengan menyusui lebih sering dan kompres hangat.
Susu dikeluarkan dengan pompa dan pemberian analgesic.
8. Mastitis
Payudara tampak edema, kemerahan dan nyeri yang biasanya terjadi
beberapa minggu setelah melahirkan. Penatalaksanaan dengan kompres
hangat atau dingin, pemberian antibiotik dan analgesic, menyusui tidak
dihentikan.
9. Abses payudara
Pada payudara dengan abses air susu ibu dipompa, abses dinsisi,
diberikan antibiotik dan analgesic
10. Laktasi
Umumnya produksi air susu ibu berlansung betul pada hari kedua dan
ketiga pasca persalinan. Pada hari pertama air susu mengandung
kolostrum yang merupakan cairan kuning lebih kental daripada susu,
mengandung banyak protein dan globulin (Hafifah, 2011).
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas
a. Identitas pasien
Berisi nama pasien, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan,
agama, suku, alamat, no. RM, tanggal masuk, tanggal
pengkajian dan diagnosa medis.
b. Identitas penanggungjawab
Berisi nama penanggung jawab pasien dan hubungan dengan
pasien.
2. Status kesehatan
a. Status kesehatan saat ini
1) Keluhan utama (saat masuk RS dan saat ini)
Keluhan yang paling dasar atau utama yang pasien
katakan
2) Alasan masuk RS dan perjalanan penyakit saat ini
Perjalanan penyakit dan alasan saat pasien masuk Rumah
Sakit yang dimulai dari pasien masuk IGD, kemudian
masuk bangsal sampai saat dilakukan pengkajian.
b. Riwayat Haid
Umur Menarche pertama kali, lama haid, jumlah darah yang
keluar, konsistensi, siklus haid, perkiraan tanggal partus.
c. Riwayat Perkawinan
Kehamilan
d. Riwayat Obstetri
1) Riwayat kehamilan
Berapa kali dilakukan pemeriksaan ANC, hasil
laboratorium : USG, darah, urine, keluhan selama
kehamilan termasuk situasi emosional dan impresi, upaya
mengatasi keluhan, tindakan, dan pengobatan yang
diperoleh.
2) Riwayat persalinan
a) Riwayat persalinan lalu : jumlah gravid, jumlah patal,
dan jumlah abortus, umur kehamilan saat bersalin, jenis
persalinan, penolong persalinan, BB bayi, kelainan
fisik, kondisi anak saat ini.
b) Riwayat nifas pada persalinan lalu : pernah mengalami
demam, keadaan lochea, kondisi perdarahan selama
nifas, tingkat aktivitas setelah melahirkan, keadaan
perineal, abdominal, nyeri pada payudara, kesulitan
eliminasi, keberhasilan pemberian ASI, respon, dan
support keluarga.
c) Riwayat persalinan saat ini : kapan timbul his,
pembukaan, bloody show, kondisi ketuban, lama
pesalinan, dengan episiotomy atau tidak, kondisi
perineum dan jaringan sekitar vagina, dilakukan
anastesi atau tidak, panjang tali pusat, lama
pengeluaran plasenta, kelengkapan plasenta, jumlah
perdarahan.
d) Riwayat new born : apakah bayi lahir spontan atau
dengan induksi/tindakan khusus, kondisi bayi saat lahir
(langsung menangis atau tidak), apakah membutuhkan
resusitasi, nilai APGAR, jenis kelamin bayi, BB,
panjang badan, kelainan konginetal, apakah dilakukan
bonding attachment secara dini dengan ibunya, apakah
langsung diberikan ASI atau susu formula.
e. Riwayat KB dan perencanaan keluarga
Kaji pengetahuan klien dan pasangannya tentang kontrasepsi,
jenis kontrasepsi yang pernah digunakan, kebutuhan kontrasepsi
yang akan datang atau rencana penambahan anggota keluarga di
masa mendatang.
f. Status kesehatan masa lalu
Berisikan riwayat kesehatan pasien, apakah sebelumnya pasien
pernah dirawat di rs atau tidak, dan riwayat alergi terhadap
makanan atau obat-obatan. Serta kebiasaan merokok, kopi,
alkohol dan lain sebagainya.
g. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang
diturunkan secara genetic, menular, konginetal, atau gangguan
kejiwaan yang pernah diderita oleh keluarga.
3. Pola kebutuhan dasar ( data Bio-Psiko-Sosio-Kultural-Spiritual)
a. Aktifitas
Kemampuan mobilisasi beberapa saat setelah melahirkan,
kemampuan merawat diri, dan melakukan eliminasi, serta pola
berpakaian.
b. Istirahat dan Tidur
Waktu (lama, kapan), nyaman atau tidak, penggunaan lampu atau
tidak.
c. Nutrisi
Menu makan yang dikonsumsi, jumlah, jenis makanan (kalori,
protein, vitamin, tinggi serat), frekuensi, nafsu makan, pola minum,
jumlah, frekuensi.
d. Eliminasi
Apakah terjadi dieresis, adakah inkontinensia atau retensi urine
karena takut luka episiotomy, apakah perlu bantuan saat BAK. Pola
BAB, frekuensi, konsistensi, rasa takut BAB karena luka perineum.
e. Personal Hygiene
Pola mandi, kebersihan mulut dan gigi, penggunaan pembalut dan
kebersihan genetalia, pola berpakaian.
f. Persepsi-sensori (nyeri atau ketidaknyamanan)
Ketidaknyamanan berkenaan dengan pembesaran payudara,
episiotomi, trauma perineal, hemoriod, kontraksi kuat (afterpain)
kuat dan teratur dalam periode 24 jam pertama dan akan berkurang
setiap hari.
4. Pemeriksaan fisik
Status generalis dan head to toe.
a. Tanda-tanda vital
Kaji tekanan darah, nadi, pernafasan dan suhu pada Ibu. Periksa
tanda-tanda vital tersebut setiap 15 menit selama satu jam pertama
setelah melahirkan atau sampai stabil, kemudian periksa setiap 30
menit untuk jam-jam berikutnya. Nadi dan suhu diatas normal
dapat menunjukan kemungkinan adanya infeksi. Tekanan darah
mungkin sedikit meningkat karena upaya untuk persalinan dan
keletihan. Tekanan darah yang menurun perlu diwaspadai
kemungkinan adanya perdarahan post partum.
1) Tekanan darah, normal yaitu < 140/90 mmHg. Tekanan
darah tersebut bisa meningkat dari pra persalinan pada 1-3
hari post partum.
2) Suhu, suhu tubuh normal yaitu kurang dari 38 C. Pada hari
ke 4 setelah persalinan suhu Ibu bisa naik sedikit
kemungkinan disebabkan dari aktivitas payudara. Bila
kenaikan mencapai lebih dari 38 C pada hari kedua sampai
hari-hari berikutnya, harus diwaspadai adanya infeksi atau
sepsis nifas.
3) Nadi, nadi normal pada Ibu nifas adalah 60-100. Denyut
Nadi Ibu akan melambat sampai sekitar 60 x/menit yakni
pada waktu habis persalinan karena ibu dalam keadaan
istirahat penuh. Ini terjadi utamanya pada minggu pertama
post partum. Pada ibu yang nervus nadinya bisa cepat, kira-
kira 110x/mnt. Bisa juga terjadi gejala shock karena infeksi
khususnya bila disertai peningkatan suhu tubuh.
4) Pernafasan, pernafasan normal yaitu 20-30 x/menit. Pada
umumnya respirasi lambat atau bahkan normal. Mengapa
demikian, tidak lain karena Ibu dalam keadaan pemulihan
atau dalam kondisi istirahat.Bila ada respirasi cepat post
partum (> 30 x/mnt) mungkin karena adanya ikutan dari
tanda-tanda syok.
b. Kepala dan wajah
1) Rambut, melihat kebersihan rambut, warna rambut, dan
kerontokan rambut.
2) Wajah, adanya edema pada wajah atau tidak. Kaji adanya
flek hitam.
3) Mata, konjungtiva yang anemis menunjukan adanya anemia
kerena perdarahan saat persalinan.
4) Hidung, kaji dan tanyakan pada ibu, apakah ibu menderita
pilek atau sinusitis.
5) Mulut dan gigi, tanyakan pada ibu apakah ibu mengalami
stomatitis, atau gigi yang berlubang. Gigi yang berlubang
dapat menjadi pintu masuk bagi mikroorganisme dan bisa
beredar secara sistemik.
6) Leher, kaji adanya pembesaran kelenjar limfe dan
pembesaran kelenjar tiroid. Kelenjar limfe yang membesar
dapat menunjukan adanya infeksi, ditunjang dengan adanya
data yang lain seperti hipertermi, nyeri, dan bengkak.
7) Telinga, kaji apakah ibu menderita infeksi atau ada
peradangan pada telinga.
c. Pemeriksaan thorak
1) Inspeksi payudara
Kaji ukuran dan bentuk tidak berpengaruh terhadap produksi
asi, perlu diperhatikan bila ada kelainan, seperti pembesaran
masif, gerakan yang tidak simetris pada perubahan posisi
kontur atau permukaan. Kaji kondisi permukaan, permukaan
yang tidak rata seperti adanya retraksi atau ada luka pada
kulit payudara perlu dipikirkan kemungkinan adanya tumor.
Warna kulit, kaji adanya kemerahan pada kulit yang dapat
menunjukan adanya peradangan.
2) Palpasi Payudara
Pengkajian payudara selama masa post partum meliputi
inspeksi ukuran, bentuk, warna dan kesimetrisan serta palpasi
apakah ada nyeri tekan guna menentukan status laktasi. Pada
1 sampai 2 hari pertama post partum, payudara tidak banyak
berubah kecil kecuali sekresi kolostrum yang banyak. Ketika
menyusui, perawat mengamati perubahan payudara,
menginspeksi puting dan areola apakah ada tanda tanda
kemerahan dan pecah, serta menanyakan ke ibu apakah ada
nyeri tekan. Payudara yang penuh dan bengkak akan menjadi
lembut dan lebih nyaman setelah menyusui.
d. Pemeriksaan abdomen
1) Inspeksi Abdomen
Kaji adakah striae dan linea alba. Kaji keadaan abdomen,
apakah lembek atau keras. Abdomen yang keras menunjukan
kontraksi uterus bagus sehingga perdarahan dapat
diminimalkan. Abdomen yang lembek menunjukan
sebaliknya dan dapat dimasase untuk merangsang kontraksi.
2) Palpasi Abdomen
- Fundus uteri Tinggi : Segera setelah persalinan TFU 2
cm dibawah pusat, 12 jam kemudian kembali 1 cm diatas
pusat dan menurun kira-kira 1 cm setiap hari.
 Hari kedua post partum TFU 1 cm dibawah pusat
 Hari ke 3 - 4 post partum TFU 2 cm dibawah pusat
 Hari ke 5 - 7 post partum TFU pertengahan pusat-
symfisis
 Hari ke 10 post partum TFU tidak teraba lagi.
- Kontraksi, kontraksi lemah atau perut teraba lunak
menunjukan konteraksi uterus kurang maksimal sehingga
memungkinkan terjadinya perdarahan.
- Posisi, posisi fundus apakah sentral atau lateral. Posisi
lateral biasanya terdorong oleh bladder yang penuh.
- Uterus, setelah kelahiran plasenta, uterus menjadi massa
jaringan yang hampir padat. Dinding belakang dan depan
uterus yang tebal saling menutup, yang menyebabkan
rongga bagian tengah merata. Ukuran uterus akan tetap
sama selama 2 hari pertama setelah pelahiran, namun
kemudian secara cepat ukurannya berkurang oleh involusi.
- Diastasis rektus abdominis adalah regangan pada otot
rektus abdominis akibat pembesaran uterus jika dipalpasi.
e. Ekstremitas atas dan bawah
1) Varises, melihat apakah ibu mengalami varises atau tidak.
Pemeriksaan varises sangat penting karena ibu setelah
melahirkan mempunyai kecenderungan untuk mengalami
varises pada beberapa pembuluh darahnya. Hal ini
disebabkan oleh perubahan hormonal.
2) Edema, Tanda homan positif menunjukan adanya
tromboflebitis sehingga dapat menghambat sirkulasi ke organ
distal.
3) Perineum, kebersihan Perhatikan kebersihan perineum ibu.
Kebersihan perineum menunjang penyembuhan luka.
- REEDA (red, edema, echymosis, discharge, loss of
approximation)
- Lochea
Kaji jumlah, warna, konsistensi dan bau lokhia pada ibu
post partum. Perubahan warna harus sesuai. Misalnya Ibu
postpartum hari ke tujuh harus memiliki lokhia yang sudah
berwarna merah muda atau keputihan. Jika warna lokhia
masih merah maka ibu mengalami komplikasi postpartum.
Lokhia yang berbau busuk yang dinamankan Lokhia
purulenta menunjukan adanya infeksi disaluran reproduksi
dan harus segera ditangani.

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan menurut SDKI 2016 :
1. Nyeri akut b.d agen pencedera fisik, luka episiotomy post partum
spontan
2. Perubahan pola eliminasi BAK (disuria) b.d trauma perineum
3. Perubahan pola eliminasi BAB (konstipasi) b.d trauma persalinan
4. Resiko defisit volume cairan b.d perdarahan
5. Resiko infeksi b.d luka episiotomy post partum spontan
6. Gangguan pola tidur b.d tanggung jawab member asuhan pada bayi
7. Resiko gangguan parenting b.d kurangnya pengetahuan tentang cara
merawat bayi
8. Ketidakefektifan menyusui b.d suplai ASI tidak cukup.

C. Intervensi Keperawatan

No Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

1 Setelah dilakukan tindakan keperawatan - pengkajian nyeri secara


selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri komprehensif
pasien berkurang dengan kriteria hasil : - monitor tanda-tanda vital
- Melaporkan bahwa nyeri berkurang - Berikan teknik
- Mampu mengontrol nyeri dengan nonfarmakologis berupa
menggunakan teknik non kompres dingin (Efektivitas
farmakologi kompres hangat dan kompres
- Mampu mengenali nyeri (skala, dingin terhadap intensitas
intensitas, frekuensi, dan tanda nyeri luka perineum pada ibu
nyeri) post partum dib pm Siti
- Menyatakan rasa nyaman setelah Julaeha Pekanbaru) (Elly S. &
nyeri berkurang Wita R., 2019)
- Tanda vital dalam rentang normal - Ajarkan latihan relaksasi nafas
dalam
- Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian analgetik
2 Setelah dilakukan tindakan keperawatan -Kaji dan catat cairan masuk dan
selama 3 x 24 jam diharapkan pasien keluar tiap 24 jam.
tidak mengalami gangguan eliminasi -Anjurkan berkemih 6-8 jam post
(BAK) dengan kriteria hasil: partum
-Berikan teknik merangsang
- Ibu dapat berkemih sendiri dalam 6-8
berkemih seperti rendam duduk,
jam post partum tidak merasa sakit
alirkan air keran.
saat BAK, jumlah urine 1,5-2
-Kolaborasi pemasangan kateter
liter/hari.
3 Setelah dilakukan tindakan keperawatan - Kaji pola BAB, kesulitan BAB,
selama 3 x 24 jam diharapkan konstipasi warna, bau, konsistensi, dan
tidak terjadi pada pasien dengan kriteria jumlah. Kaji bising usus setiap 8
hasil : jam
- Pasien dapat BAB maksimal hari ke 3 - Anjurkan pasien untuk
post partum, feses lunak dan warna melakukan ambulasi sesuai
khas feses, bau khas feses, tidak ada toleransi dan meningkatkan
kesulitan BAB secara progresif.
- Pertahankan diet reguler dengan
kudapan diantara makanan,
tingkatkan makan buah dan
sayuran
- Anjurkan ibu BAB pada WC
duduk
- Kolaborasi pemberian laksantia
supositoria.
4 Setelah dilakukan tindakan keperawatan - Monitor tanda-tada vital (Nadi,
selama 3 x 24 jam diharapkan pasien Suhu, dan RR). Periksa ulang
tidak kekurangan volume cairan dengan kadar Hb/Ht
kriteria hasil : - Monitor status hidrasi (turgor
- Cairan masuk dan keluar seimbang, kulit)
Hb/Ht dalam batas normal (12,0-16,0 - Catat intake output dan hitung
gr/dL) balance cairan dalam 24 jam.
- Kolaborasi pemberian diuretic,
jika perlu.
5 Setelah dilakukan tindakan keperawatan - Monitor tanda dan gejala infeksi
selama 3x24 jam resiko infeksi teratasi serta TTV
dengan kriteria hasil: - Kaji luka perineum, keadaan
- Tanda-tanda vital dalam batas jahitan
normal - Memberikan Vulva hygiene
TD : 120/80 mmHg (hubungan vulva hygiene
N : 60-100 x/menit dengan pencegahan infeksi luka
RR : 20 x/menit perineum pada ibu post partum
S : 36,5-37,5˚C di RS Pancaran Kasih GMIM
- Bebas dari tanda dan gejala Manado) (Yolanda B, dkk,
infeksi 2015)
- Menunjukkan kemampuan untuk - Lakukan perawatan luka pada
mencegah timbulnya infeksi area luka dengan teknik aseptic
- Jumlah leukosit dalam batas - Ajarkan pasien membasuh vulva
normal (5000-10.000) dengan cara yang benar
Sarankan pada pasien agar
mengganti pembalut tiap 4 jam.
- Kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian antibiotic, jika perlu
6 Setelah dilakukan tindakan keperawatan - Dikaji rutinitas tidur yang biasa
selama 3x24 jam Gangguan pola tidur dilakukan klien
teratasi dengan kriteria hasil: - Berikan perawatan petang hari
- Kuantitas dan kualitas tidur misalnya : personal hygiene
meningkat - ajarkan teknik nonfarmakologis
(distraksi)
- Kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian analgetik
7 Setelah dilakukan tindakan keperawatan - Kaji tingkat pengetahuan pasien
selama 3x24 jam resiko gangguan proses dan suaminya.
parenting teratasi dengan kriteria hasil: - Dorongan untuk menceritakan
- Pasien dapat merawat bayi secara kesulitan menjadi orang tua
mandiri (memandikan, menyusui, dan - Beri kesempatan pasien untuk
merawat tali pusat) melakukan perawatan bayi
secara mandiri
- Latih ibu untuk perawatan
payudara secara mandiri dan
teratur
- Libatkan suami dan keluarga
dalam membantu pasien
merawat bayinya.
8 Setelah dilakukan tindakan keperawatan - Pantau pembengkakan payudara
selama …x24 jam diharapkan yang berhubungan dengan
keberhasilan menyusui bayi meningkat ketidaknyamanan atau sakit
dengan kriteria hasil: - Lakukan pijat oksitosin untuk
- Pengeluaran ASI cukup adekuat memperlancar ASI
- Ajarkan pasien mengenai
langkah-langkah pijat oksitosin
- Libatkan keluarga untuk
membantu dan memberikan
dukungan pada pasien.
D. Implementasi Keperawatan
Implementasi adalah langkah keempat dalam tahap proses keperawatan
dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan (tindakan keperawatan)
yang telah direncanakan dalam rencana tindakan keperawatan. Beberapa
petunjuk pada implementasi adalah sebagai berikut:
1. Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan
validasi.
2. Keterampilan interpersonal, intelektual, teknikal dilakukan dengan
cermat dan efisien pada situasi yang tepat.
3. Keamanan fisik dan psikologis dilindungi.
4. Dokumentasi intervensi dan respon klien.

E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan tahap dimana proses penilaian dicapai meliputi
pencapaian tujuan dan kriteria hasil. Pelaksanaan evaluasi
didokumentasikan dalam bentuk catatan perkembangan dengan
menggunakan metode SOAP (Subjektif, Objektif, Assesment, dan
Planning).

DAFTAR PUSTAKA
Dina, S. 2012. Laporan Pendahuluan Post Partum Spontan. Diakses pada tanggal
10 Juni 2020 pukul 10.10 WIB.
Elly S. & Wita R., 2019. Efektivitas Kompres Hangat dan Kompres Dingin
terhadap Intensitas Nyeri Luka Perineum pada Ibu Post Partum di BPM
Siti Julaeha Pekanbaru. Journal Of Midwifery Science. 3(1):7-14.
Hafifah. 2011. Laporan Pendahuluan pada Pasien dengan Persalinan Normal.
Diakses pada tanggal 10 Juni 2020 pukul 10.00 WIB.
Linda, R. 2010. “Asuhan Keperawatan pada Ny. D dengan Post Partum Nomal di
Wilayah Kerja Puskesmas Delanggu Klaten”. Karya Tulis Ilmiah. Fakultas
Ilmu Kesehatan, Ilmu Keperawatan, Universitas Muhammadiyah
Surakarta, Surakarta.
Nitasari. 2015. Pathway Post Partum. Diakses pada tanggal 10 Juni 2020 pukul
10.10 WIB.
Siska, S. 2019. “Laporan Pendahuluan Post Partum”. Asuhan Keperawatan.
Jurusan Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
Yolanda B, dkk,. 2015. Hubungan Vulva Hygiene dengan Pencegahan Infeksi
Luka Perineum pada Ibu Post Partum di RS Pancaran Kasih GMIM
Manado. Jurnal Keperawatan. 3(2).

North American Nursing Diagnosis Association. 2015. Aplikasi Asuhan


keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc.
Jogjakarta: Media Action.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
(SDKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia
(SLKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
(SIKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai